Wednesday, September 30, 2020

Regret

BAB 1

Seorang wanita duduk di sebuah kursi roda, dia hanya memandangi bunga didepannya dengan tatapan kosong, lalu seorang lelaki datang menghampirinya.
“Hey kenapa kau melamun? Apa ada masalah?”
“Oh tidak, apa sudah selesai?”
“Sudah mari kita pulang”
“Boleh aku mampir sebentar di supermarket?”
“Boleh, mau beli apa?”
“Hanya beberapa camilan”
“Yasudah kita berangkat sekarang”
Rafa Derano dan Aldara Nevira, mereka sudah bersahabat sejak kecil, Rafa selalu merawat Aldara sedari dulu,  Aldara mengalami paralisis permanen yaitu kelumpuhan yang bersifat permanen,yang disebabkan kecelakaan saat Aldara berumur 14 tahun. Kini mereka tinggal di sebuah apartemen, Rafa lah yang mengajak Aldara untuk tinggal di apartemen, awalnya Aldara menolak karna bisa menimbulkan salah paham dan terlebih orang tua Rafa sangat membenci Aldara karna Rafa sering mengurus Aldara terus menurus, sehingga Rafa kurang peduli terhadap dirinya sendiri dan Rafa pun jadi sangat jarang pulang kerumah.
Aldara kecelakaan disaat berumur 14 tahun, waktu itu Aldara sedang berada didalam mobil bersama kedua orang tuanya, mereka sedang berkendara menuju jalan pulang kerumah, tetapi dipertengahan jalan tiba-tiba rem mobil macet dan tidak terkendali, lalu mobil yang dinaiki Aldara pun hilang kendali dan jatuh ke jurang, di kecelakaan tersebut hanya Aldara lah yang selamat, kedua orang tuanya tidak, karna itu Aldara dititipkan ke panti asuhan bunga pelita.
Awal pertemuan mereka yaitu di saat Aldara bersekolah kelas 12 dan Rafa sudah berkuliah. Saat itu Rafa menyelamatkan Aldara yang hampir tertabrak motor di saat dia akan menyeberang lalu Rafa pun dengan bergegas menyelamatkan Aldara. Setelah itu Rafa mengantarkan pulang Aldara ke panti asuhan. Mulai dari situ dia mulai mencari tahu siapa Aldara, dan dia sering menjenguk Aldara ke panti asuhan, suatu hari Rafa berencana untuk mengajak Aldara pindah ke apartemen nya, karna Rafa sudah menganggap Aldara sebagai sahabatnya, ia sangat menyayangi Aldara dan ingin melindungi nya. Tanpa persetujuan kedua orang tua Rafa, Aldara pun kini sudah lama tinggal di apartemen Rafa. Untungnya apartemen yang Rafa miliki mempunyai 3 kamar kosong, jadi mereka tidur secara terpisah agar tidak timbul salah paham

“Raf kesini sarapan dulu”
“Bentar aku sedang siap-siap”
Pagi-pagi Aldara membuat sarapan untuk mereka berdua sebelum berangkat beraktifitas, sekarang Aldara berkuliah di kampus yang sama dengan Rafa. Aldara mengambil jurusan seni rupa karna dia sangat senang melukis, Rafa mengambil jurusan manajemen bisnis. Setelah lulus nanti dia akan berencana untuk membangun bisnisnya sendiri.
“Pagi, maaf lama”
“Gapapa, yu sarapan dulu masih pagi ini”
“Oh ya hari ini kamu ada kelas sampai jam berapa Dar?”
“Kayanya sampai jam 3, memangnya kenapa?”
“Tidak, apakah pulang dari kampus kamu ingin mengunjungi suatu tempat?”
“Suatu tempat? Hem aku bingung”
“Iya siapa tau mau kemana gitu atau ada tempat yang kamu rindukan”
“Oh iya, Raf aku ingin ke makam Ayah dan Ibu aku rindu dengan mereka”
“Baik, nanti saat pulang kita mampir dulu ke toko bunga, kita beli bunga yang paling indah untuk Ayah dan Ibumu”
“Terima kasih Rafa aku selama ini selalu saja merepotkanmu”
“Hey bicara apa kau ini, selama ini aku tidak merasa direpotkan olehmu. Ingat kita ini sahabat, sebagai sahabat harus saling membantu kan?”
“Aku tidak tahu lagi harus berbalas budi kepada mu seperti apa, aku sangat berterima kasih kepadamu”
“Aku ingin kau sehat selalu dan bahagia sudah cukup sebagai balas budi mu kepadaku, sudah ayok kita berangkat”
“Ayok”
“Ada barang yang tertinggal tidak?”
“Sepertinya tidak”
“Yakin nih??”
“Iya, yasudah ayo berangkat”
“Baiklah”

Akhrinya mereka pun sampai di kampus. Rafa dengan sigap langsung menyiapkan kursi roda dan membantu Aldara untuk menaikinya. Awalnya Aldara ingin memakai tongkat saja karna jika memakai kursi roda akan susah kemana-mana dan pastinya dia akan terus-terusan merepotkan Rafa, tetapi Rafa bilang dia tidak keberatan sama sekali dan jika Aldara memakai tongkat bisa berbahaya, lebih baik memakai kursi roda saja, akhirnya Aldara pun mengalah.
“Seperti biasa, terimakasih Rafa”
“Seperti biasa juga, sama-sama Aldara”
“Hahahahaha” mereka berdua pun tertawa

Disaat diperjalanan menuju kelas Aldara tiba-tiba tiga perempuan mencegat mereka, Fany Atmaja, Lena Afira dan Dina Mitama. Mereka adalah cewe-cewe popular di kampus, tak jarang mereka selalu membully orang.
“Hey teman-teman lihat lah dua pasangan sejoli ini yang selalu menempel seperti prangko berjalan Hahahaha” ejek Fany dan antek-anteknya
“Ada urusan apa kau hah?!”
“Wow pawangnya marah, hey Rafa apa kau tidak lelah terus menerus mengurus perempuan cacat ini? Bukankah merepotkan?”
“Jaga ucapan mu!! Mengapa kau tiba-tiba datang dan menghina Dara? Apakah dia membuat masalah kepadamu hah?? Tidak kan, lalu mengapa kau terus mengganggunya!!”
“Itu memang kenyataan Rafa, hahh sudahlah jijik aku melihat perempuan cacat ini, sampai jumpa Rafa”
“Hey apa maksudmu!!! Kemari kau!!!!”
“Rafa sudah cukup ayo abaikan saja dia’
“Tetapi dia sudah keterlaluan Dar!”
“Sabar Rafa, nanti juga dia lelah sendiri’
“Ya tuhan. Kalau ada yang mengganggumu kau harus segera bilang kepada ku ya Dar”
“Ya Rafa tenang saja, aku akan jaga diri dengan baik, percayalah’
“Sudah sampai, belajarlah yang benar, jika mau pulang kabari aku”
“Baiklah, kau pun belajar yang benar, aku kedalam dulu sampai jumpa”
“Sampai jumpa”

Ditengah pembelajaran Aldara merasa ingin buang air, lalu dia meminta izin kepada dosen lalu bergegas pergi ke kamar mandi sendiri, tetapi disaat akan masuk kekamar mandi Aldara malah bertemu dengan Fany dan kedua temannya
“Menabjubkan! Lihat siapa yang datang”
“Wow si cacat, berani sekali dia bepergian sendiri tanpa ditemani pawangnya”
“Maaf bisakah aku lewat? Aku ingin ke kamar mandi”
“Berani sekali kau berbicara padaku”
“Maaf”
“Lagian ko bisa ya perempuan cacat ini masuk ke universitas ini”
“Memang nya orang cacat tidak boleh kuliah?”
“Ya boleh sih, tapi kau ini tidak pantas’
“Tidak pantas?  Apa hanya kalian saja yang pantas”
“Hey berani-beraninya kau membalas perkataanku”  kata Fany membentak sembari menjambak rambut Aldara
“Arghh sakit Fany lepaskan, apa salah ku kepadamu Fany lepaskan’
"Aku jijik melihatmu ada disini, aku benci padamu"
"Maaf Fany tolong lepaskan, ini sangat menyakitkan"
"Fany kurasa sudah cukup, kita dilihat banyak orang"
"Awas saja kau, akan kubuat kau tidak betah di kampus ini!!" Lalu Fany pergi meninggalkan Aldara yang tengah kesakitan karna sekarang dia merasa pusing
"Aldara apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Dinda yang merupakan teman dekat nya Aldara. Hanya Dinda yang mau berteman dengan Aldara
"Tidak apa apa, tolong jangan beritahu Rafa soal ini, jika dia tahu bisa marah besar"
"Tapi ini keterlaluan Dara, kepala mu sampai sakit karna dijambak oleh perempuan itu"
"Sudah tidak apa apa, bisa bantu aku Dinda untuk ke kamar mandi?"
"Mari aku bantu"
"Terimakasih banyak ya"
"Santai saja, kau pun suka membantu ku"

Kelas Aldara sudah berakhir, dia pun langsung menghubungi Rafa
"Halo Rafa, kelas ku sudah berakhir dimana kamu?"
"Sebentar aku akan menyusul mu kesana"
"Baiklah"
Tak lama dari itu Rafa sudah tiba di tempat Aldara
"Hai, kita langsung saja pergi ke toko bunga, bagaimana?"
"Baiklah"
Selama diperjalanan
"Dar apa tadi ada yang ganggu kamu?"
"Eum engga Raf, memang nya kenapa?"
"Serius kamu jangan bohong Aldara"
"Iya Rafa aku tidak berbohong"
Aldara berbohong, karna jika Rafa tau bahwa tadi Fany dan teman teman nya mem bully dia bisa bisa Rafa akan marah besar. 
Tak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah toko bunga.
"Ayok kita sudah sampai"
"Oke"
Lalu mereka pun masuk ke dalam toko tersebut
"Permisi bisa siapkan dua ikat bunga lily?”
"Bisa, ingin yang ukuran besar atau kecil mas?"
"Yang besar saja mbak"
"Baik, ditunggu sebentar ya"
"Dar nanti pulang dari makam, bisa kita mampir sebentar ke cafe galaksi?"
"Boleh, memang nya ada keperluan apa?"
"Aku akan menemui teman kampus ku sebentar, ya sekalian kita makan malam saja bagaimana?"
"Baik kalau begitu"

Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai, Aldara dan Rafa pun langsung menuju ke pemakaman ayah dan ibu Aldara
“Ayah, ibu hari ini aku datang bersama Rafa”
“Apa kabar om dan tante? Semoga tenang disana”
“ Ayah dan ibu aku merindukan kalian, apakah kalian juga merindukan Aldara? Aku sangat berterimakasih kepada tuhan yang telah mempertemukanku dengan Rafa, karna dia selalu menjaga dan melindungi ku dengan setulus hati, dia sangat menyayangiku, aku sangat bersyukur karna telah bertemu dengannya, jika tidak maka tidak tahu seperti apa kehidupan ku sekarang.” Perlahan Aldara mulai menitikkan air matanya
“Hey jangan bersedih, jika mereka melihatmu bersedih bagaimana? Kau tidak ingin mereka ikut bersedih juga kan?”
“Iya”
“Yasudah apakah mau pergi sekarang?”
“Iya, ayah ibu Aldara pamit ya, semoga ayah dan ibu tenang dan bahagia disana, Aldara menyayangi kalian”
Lalu mereka pun melanjutkan perjalanan menuju café galaksi
“Apakah kau masih bersedih?”
“Sedikit, aku selalu merindukan mereka, mengapa takdir ku seperti ini, aku selalu kehilangan orang yang berharga bagi hidupku”
“Kau tak bisa menyalahkan takdir, ini semua rencana tuhan. Sudah jangan bersedih lagi karna aku akan selalu berada di sisimu?”
“Bagaimana jika kamu pun meninggalkanku?”
“Tidak akan, aku berjanji”
“Benarkah?”
“Ya. Ayok turun sudah sampai”
Aldara menganggukan kepalanya. Lalu mereka pun masuk ke dalam café. Disana sudah ada lelaki yang duduk menunggu Rafa, dia adalah Dion, teman kampus nya Rafa.
“Hey kau sudah datang ternyata, mari duduk”
“Terimakasih”
“Oh ngomong-ngomong siapa yang datang bersamamu?”
“Perkenalkan ini Aldara, dia sahabatku”
“Apakah benar hanya sekedar sahabat?” 
“Iya kau ini aneh-aneh saja, memangnya kita terlihat seperti apa?”
“Hahaha maaf aku hanya bergurau”
“Yayaya terserah kau saja. Jadi ada apa kau mengajakku kesini?”
“Emm begini, aku ingin meminta bantuan mu, jadi  belakangan ini keluarga ku sedang krisis ekonomi, jadi aku ingin mencari pekerjaan, apakah kau bisa merekomendasikan dimana aku bisa bekerja?”
“Bagaimana jika kau magang di perusahaan ayah ku? Tetapi aku tidak bisa membantu mu secara langsung, karna hubugan ku dengan ayahku tidak baik, kau tahu itu”
“Ya aku mengerti , tak apa kau sudah merekomendasikan kan pun aku sangat berterima kasih, doakan saja semoga aku diterima disana”
“Baiklah, jika kau ada kendala, langsung saja hubungi aku, aku akan membantu mu sebisa mungkin”
“Terimakasih Rafa, kalau begitu aku pamit terlebih dahulu”
“Hati-hati”  setelah berpamitan Dion langsung keluar Café
“Mau makan apa?” Tanya Rafa pada Aldara
“Aku ingin makan dengan nasi goreng seafood dan minumnya air putih saja”
“Mau pesan yang lain?”
“Sudah itu saja” lalu Rafa memanggil pelayan untuk memesan 
“Mbak saya pesan satu nasi goreng seafood, air putih dan kopi panas segelas”
“Baik, mohon ditunggu pesanannya”
Setelah pesanan datang, mereka langsung menyantap makanan tersebut dan setelah selesai mereka pulang menuju apartemen
“Dara maaf aku harus pergi sebentar, tidak apa apa?”
“Mau kemana memangnya?”
“Orang tuaku menyuruh aku datang kerumah”
“Apakah ada masalah?”
“Tidak, kau tenang saja , kalau begitu aku pergi dulu kau jaga diri baik baik”
“Baiklah hati-hati” lalu Rafa pun pergi berpamitan kepada Aldara
“Yatuhan semoga tidak terjadi masalah” Aldara berdoa semoga Rafa baik-baik saja, karna jika orang tuanya sudah memanggilnya pasti selalu saja terjadi masalah.

Dirumah orang tua Rafa
“Papah ada urusan apa memanggilku kesini?”
“Tidak ada urusan apa-apa, memangnya tidak boleh orang tua meminta anaknya datang kerumah sendiri? Ibumu merindukanmu Rafa”
“Aku hanya malas, karna kalian selalu mencari masalah dengan ku”
“Yang sopan jika berbicara dengan papahmu Rafa”
“Lah kan memang benar seperti itu, Rafa lebih baik pulang saja”
“Mau kemana kau?? Ini rumah mu Rafa!”
“Pasti karna si Aldara itu kau menjadi berubah seperti ini kan?!!”
“Ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan Aldara, kalian jangan pernah membawa bawa Aldara kedalam masalah keluarga kita. Karna kalian sendiri lah aku menjadi berubah! Kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan kalian”
“Tapi kami bekerja demi kamu juga Rafa”
“Benar apa kata papah mu, kamu terlalu sibuk mengurusi perempuan itu, dia selalu menyusahkan mu, dia bukan siapa-siapa Rafa! Dia hanya orang asing yang tiba-tiba masuk ke kehidupanmu!”
"Dia bukan orang asing, Aldara adalah orang yang paling berharga bagi hidup Rafa, karna dia yang selalu ada di sisi Rafa, karna dia yang selau membuat Rafa bahagia!!"
"Kenapa dia?! Seharusnya yang harus kau anggap sebagai orang berharga bagi hidupmu itu kami orang tuamu Rafa!"
"Terserah,Rafa sudah lelah menghadapi kalian." Lalu Rafa pun langsung pergi tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya
"Rafa jangan pergi kamu!!"
"Aku harus memberi pelajaran kepada perempuan itu"
















BAB 2

Aldara sedang menunggu kepulangan Rafa dia khawatir akan terjadi apa apa padanya, karna setahu Aldara jika Rafa dipanggil oleh orang tuanya pasti selalu ada masalah, mungkin itu menyangkut dirinya. Aldara sadar bahwa dia hanya orang asing yang tiba-tiba datang ke kehidupan Rafa. Orang tua Rafa sangat benci kepadanya dirinya karna mereka berfikir sikap Rafa berubah disebabkan oleh dirinya. Sudah dua bulan Rafa tidak pulang kerumah, Aldara tidak tahu kenapa, padahal dirinya selalul menyuruh Rafa untuk pulang kerumah, tetapi Rafa selalu beralasan bahwa dia khawatir jika meninggalkan Aldara sendirian di apartemen. Aldara selalu berfikir bahwa dirinya hidup hanya menjadi beban orang lain.
“Aku pulang..”
“Mengapa lama sekali? Aku khawatir padamu”
“Maaf tadi dijalan macet, dan aku mampir dulu untuk memebeli eskrim, coklat dan beberapa camilan kesukaanmu, ini” kata Rafa sembari menyodorkan kantong yang berisikan makanan
“Terimakasih. Tapi apakah benar tidak terjadi masalah?”
“Apakah kau melihat wajahku ini bermasalah?”
“Wajahmu terlihat sangat kusam”
“Benarkah? Bukankah wajahku terlihat tampan walaupun kusam”
“Cihh pede sekali kau ini, lebih baik kau segera mencuci wajah mu agar terlihat segar”
“Baiklah, pasti setelah mencuci wajah ketampanan ku akan bertambah dua kali lipat”
“Cepatlah berseka agar kesadaranmu itu kembali”
“Hahahaha baiklah nyonya saya permisi dulu” gurau Rafa.
Aldara sudah merasa tenang, sepertinya memang tidak terjadi masalah pada mereka. 
“Syukurlah sepertinya hubungan mereka mulai membaik” gumam Aldara
“Kau bicara dengan siapa?”
“Tidak, aku hanya diam sedari tadi”
“Ohh kukira otak mu sudah tidak beres”
“Beraninya kau bicara seperti itu!!”
“HAHAHAHA maaf maaf kau sangat lucu ternyata jika sedang marah”
“Apanya yang lucu, berhentilah tertawa suaramu sangat mengganggu telinga ku, bisa bisa gendang telinga ku pecah karna suaramu”
“Sembarangan’
“Oh iya Dar beneran kan gaada yang ganggu kamu di kampus?”
“Iya beneran Rafaaa”
“Awas saja kalau ketahuan bohong, aku khawatir jika kau terus di tindas oleh si Fany, aku tidak akan segan segan untuk membalasnya”
“Jangan..biarkan saja, aku tak apa kok”
“Biarkan?? Dia itu selalu menindas mu tanpa alasan!”
“Rafa aku cukup sabar dengan mereka memperlakukan ku seperti itu, walaupun aku tak tahu mengapa mereka selalu mem bully ku padahal aku tidak pernah mencari masalah dengan mereka, mungkin mereka berfikir bahwa perempuan cacat sepertiku memang tidak pantas jika berkuliah apalagi di kampus sebagus itu, seharusnya aku berdiam diri saja tidak kemana mana agar tidak selalu merepotkan orang lain, aku sadar memang hidupku ini sangat menyusahkan, jadi aku fikir mereka berlaku padaku seperti itu adalah hal yang wajar”
“Hey kau ini bicara apa? Ini bukan tentang fisik dan kekurangan, kau pun berhak merasakan bahagia, kita semua itu sama tidak ada yang berbeda. Aldara dengar, kau berhak melakukan dan mencapai apa pun yang kau mau, apapun itu yang bisa membuatmu bahagia. Ingat ini”
“T-tapi memang benar aku ini merepotkan”
“Aldara cukup! Sudah kubilang kau tidak merepotkan!”
“Kau membentak ku?”
“Yatuhan…maaf aku tidak bermaksud seperti itu, maaf Aldara maaf…”  lalu Rafa langsung memeluk Aldara
“Dengar..aku menyayangi mu, aku tulus membantu mu, aku tulus menjaga mu Aldara, aku melakukan ini karna kemauan diriku sendiri, karna kau aku selalu merasakan kebahagiaan”
“Terimakasih…terimakasih Rafa aku sangat bersykur bertemu dengan mu” kata Aldara sembari menangis didalam pelukan Rafa
“Hey sudah jangan bersedih lagi nanti baju ku penuh dengan ingusmu”
“KAU!!! Bisa bisanya kau bercanda disaat aku sedang bersedih”
“Maka dari itu aku bercanda agar kau tidak bersedih, sudah sudah kau segera bergegas tidur ini sudah malam”
“Hm baiklah, selamat malam Rafa”
“Selamat malam Dara” lalu mereka pun masuk kedalam kamarnya masing masing.

Keesokan pagi
“Rafaa..Rafaa” Aldara terus mengetuk pintu kamar Rafa
“Sebentar lagi pakai baju dulu”
“Cepat lihat kulitku!!”
“Ada apa kau ini masih pagi sudah ribut sekali” lalu Rafa keluar dan terkejut melihat semua kulit Aldara merah merah
“Apa yang terjadi??”
“Akupun tak tahu saat bangun kulit ku sudah merah merah dan gatal”
“Ayo cepat kita ke rumah sakit” mereka pun segera bergegas pergi ke rumah sakit

Dirumah sakit
“Aldara memiliki alergi, apakah kau kemarin memakan sesuatu yang mengandung ikan atau semacamnya?”
“Kemarin saya makan nasi goreng seafood dok”
“Sepertinya itu penyebab alergi mu, hindari makan ikan, seafood, kurangi makan telur”
“Baik dok”
“Ini obat yang harus kau minum 3 hari sekali diminum sampai habis”
“Baik terimakasih dokter”
“Ya sama sama, semoga lekas sembuh ya”
“Baik, kami pamit dulu” lalu mereka pergi ke mobil dan pulang menuju apartemen
“Tadi kita belum sempat sarapan, mau sarapan dengan apa?”
“Terserah kau saja”
“Bubur?”
“Boleh”
“Yasudah tunggu sebentar aku akan ke depan membeli bubur”
“oke hati hati” Rafa pun pergi ke depan untuk membeli bubur
Rafa pun kembali dengan membawa dua porsi bubur
“Nih cepat makan kau harus minum obat”
“Terimakasih” lalu mereka pun menyantap sarapan dan Aldara meminum obatnya
“Sejak kapan kau punya alergi?”
“Hmm aku pun tak tahu sejak kapan aku punya alergi”
“Kau harus berhati hati mulai sekarang jika ingin makan sesuatu oke?”
“Okayyy, Rafa kulitku masih gatal gatal”
“Lebih baik kau sekarang mandi gunakan air hangat agar gatal di tubuhmu berkurang, mungkin obat nya belum bereaksi”
“Baiklah yasudah aku mau mandi dulu”
“Ayo ku antar” Aldara pun pergi mandi 
Drrt..drtt Dinda is calling
“Daraa hp mu berbunyi seperti nya ada yang menelfon”
“Mana?”
“ini” Rafa pun memberikan nya pada Aldara
“Hallo Dinda ada apa?”
“Hey mengapa kau tidak masuk, apa kau bolos?”
“Maaf aku lupa memberitahumu, tadi pagi aku pergi ke rumah sakit”
“Hahh! Kau kenapa, apa baik baik saja”
“Ya aku tidak apa apa hanya alergi saja karna aku kemarin makan nasi goreng yang ada seafood nya”
“Kenapa dimakan kalau sudah tahu ada alergi kau ini aneh aneh saja”
“Masalahnya itu aku pun tidak tahu bahwa aku memiliki alergi”
“Yasudah cepat sembuh, besok kau akan masuk kan?”
“Kenapa? Kau kangen ya padaku”
“Pede sekali kau ini, aku hanya kesepian karna tak ada kau”
“Ya ya ya terserah kau saja, yasudah aku matikan ya”
“Baiklah” Aldara pun mematikan telefon nya
“Siapa yang menelefon Dar?”
“Dinda”
“Ohhh, apakah badan mu masih gatal gatal?”
“Lumayan sudah berkurang”
“Syukurlah kalau begitu, lebih baik kau istirahat hari ini”
“Iya, maaf karna ku kau jadi ikut bolos”
“Tak masalah, sana istirahat”
“Kalau begitu aku masuk ke kamar dulu”
“Iya”
Drrtt..drrtt..  Hp Rafa berbunyi, lalu dia pun melihat siapa yang menelfon nya
Drrt...drrtt..Papa is calling…
“Ngapain papa nelfon” gumam Rafa
“Hallo pah kenapa?”
“Kudengar kau membolos, kenapa?”
“Dara alergi jadi aku membawanya ke rumah sakit”
“Perempuan itu lagi?! Lebih baik kau tinggalkan saja dia selalu menyusahkan mu!!”
“Dia sakit pah masa harus ku diamkan!”
“Biarkan saja mengapa itu jadi urusanmu”
“Cukup pah, papah gausah ikut campur”
“Papah berhak ikut campur karna kamu anak papah Rafa!!”
“Terserah Rafa ga peduli, pokoknya papah gausah ikut campur urusan Rafa apalagi sampai bawa bawa Aldara”
“Kurang ajar kamu! Ini semua gara gara si cacat itu!!!”
“CUKUP PAH!”
“Liat saja papah akan buat perempuan itu menderita”
“Jangan pernah sentuh dan ganggu Aldara sekalipun, kalau tidak Rafa gak akan sudi buat bertemu dengan kalian lagi!” lalu Rafa pun langsung mematikan telefon nya secara sepihak.
“Ada apa Raf? Papah kamu?”
“Loh ko ga tidur huh?”
“Aku terbangun karna kamu tadi lagi telfon,apa kalian bertengkar lagi?”
“Maaf aku berisik, tidak kami baik baik saja jangan dipikirkan oke?”
“Baiklah, tapi jikka ada masalah ceritakan lah padaku ya?”
“Iya tenang saja, sana lanjutkan tidur mu kembali”
“Aku tidak mengantuk”
“Lalu apakah ada yang kau inginkan?”
“Aku hanya bosan”
“Mau berjalan jalan?”
“Memangnya boleh?”
“Cepat pergi bersiap siap”
“Siap komandan!!” lalu mereka pun bersiap siap untuk pergi jalan jalan

Di mobil
“Mau jalan jalan kemana?”
“Ke mall?”
“Boleh juga, aku ingin ke gramedia”
“Membeli novel?”
“Iya, eum Raf apakah lebih baik aku ganti saja memakai tongkat untuk berjalan? Agar tidak ribet”
“Sudah kukatakan tidak boleh”
“Tapi kenapa? Kupikir jika memakai kursi roda itu ribet”
“Jangan, kursi roda saja jika kau ingin pergi kemana pun tinggal bilang padaku lalu aku antarkan”
“Maka dari itu lebih baik memakai tongkat agar aku bisa mandiri dan gampang jika ingin kemana mana, boleh yaaa?”
“Yasudah,nanti kita ke rumah sakit”
“Benarkaah?? Kapankita ke rumah sakit??”
“Nanti saja”
“Yahhh”
“Sudah sudah ayok turun, yang penting nanti kau tak akan memakai kursi loda lagi, sekarang ayo bersenang senang” mereka pun turun dari mobil dan langsung pergi menuju gramedia
“Mau membeli novel apa?”
“Aku tidak tahu, bolehkah lihat lihat dulu?”
“Yasudah, aku pun mau melihat lihat di sekitar”
Disaat Rafa sedang berkeliling, dia melihat seorang perempuan yang sedang mencoba menggapai buku yang berada di rak atas,lalu dia pun langsung menghampiri nya
“Butuh bantuan?”
“Eh? Oh iya nih, bisakah kau mengambilkan novel itu?” katanya sambil menunjuk kearah novel yang dia inginkan, Rafa pun langsung membantu mengambil novel tersebut dan langsung memberikan nya kepada perempuan itu
“Terimakasih banyak ya”
“Sama sama, oh perkenalkan nama ku Rafa dan kau?” 
“Emm namaku Anastasha”
“Rafa aku sudah selesai” tiba tiba Aldara memanggil
“Sebentar, Anastasha aku pergi dulu ya, semoga kita bertemu lagi sampai jumpa”
“Sampai jumpa kembali” Rafa langsung menghampiri Aldara dan meninggalkan Anastasha
“Hm ganteng juga”

Setelah dari gramedia mereka menuju ke  restoran untuk makan
“Tadi kau berbicara dengan siapa?”
“Ah namanya Anastasha, tadi aku membantu nya karna dia tidak sampai untuk mengambil buku dari rak atas”
“Kau mengajaknya kenalan?”
“Yap betul”
“Tumben sekali seorang Rafa mengajak kenalan duluan dengan seorang perempuan”
“Biasa saja sih”
“Eummm aku tau, kau menyukainya ya!!”
“Jangan mengarang kau, kita duduk disini saja?”
“Boleh”
“Mau pesan apa? Asal jangan yang mengandung ikan, seafood semacamnya dan telur”
“Iya aku tahu, aku ingin kentang goreng, chicken beef teriyaki dan minumnya ingin milkshake coklat”
“Oke aku pesankan sebentar” lalu Rafa pergi memesan makanan
“Sebentar lagi makanan nya akan disiapkan”
“Rafa ayo ceritakan tentang perempuan tadi”
“Apa yang mau diceritakan, lagian kami hanya bertemu sekali, dan itupun baru”
“Apakah dia tipe mu?”
“Aku tidak tahu dan tidak terlalu memikirkannya”
“Terus kenapa kau mengajak nya berkenalan, aneh sekali kau ini”
“Aku hanya tertarik saat melihatnya”
“Itu tandanya kau suka padanya”
“Tidak, sudahlah berhenti membahas itu makanan nya sudah mau datang”
“Menyebalkan! Padahal aku sangat senang jika ada perempuan yang kau suka, aku akan sangat mendukungmu”
“Aku tidak mau menyukai siapapun, aku hanya ingin bersama mu dan melindungi mu sampai kapanpun”
“Hey jangan jadikan aku sebagai alasan mu untuk menyukai seseorang, aku tidak apa apa, aku bisa mandiri”
“Tapi tetap saja aku selalu khawatir padamu”
“Tenang saja, pokoknya aku akan selalu mendukung semua keputusan mu, asalkan perempuan yang kamu sukai itu baik”
“Terimakasih kau memang yang terbaik”
“Tentu saja, sudah ayo kita makan dulu” 













BAB 3
Rafa tidak pernah berfikir untuk menyukai atau mengencani seseorang, yang dia pikirkan sekarang hanyalah Aldara, bahkan jika dia disuruh menikah yang akan di pilih untuk dinikahi nya nanti hanyalah Aldara, walaupun status mereka sebatas sahabat tetapi Rafa sangat menyayangi Aldara yang dia pikirkan hanya ingin menjaga, ,melindungi dan membuat Aldara bahagia, jika Aldara bahagia maka dia pun ikut bahagia. Ya hanya itu yang dia pikirkan sekarang.

“Daraaa cepat bangun nanti kita terlambat”
“Aku sudah bangun daritadi, tunggu sebentar”
“Cepat, langsung sarapan dan minum obat”
“Iya tunggu” 
Mereka pagi ini sedang bersiap siap untuk pergi ke kampus, karna kemarin mereka membolos
"Selamat pagi Rafa"
"Ayo cepat sarapan sesudah itu minum obat"
"Waw sup ayam, apakah kau yang memasak ini?" Kata Aldara sembari mencicipi masakan Rafa
"Iya apakah enak?"
"Menakjubkan ini sangat enak"
"Siapa dulu yang memasaknya"
"Uuuu lelaki idamannn"
"Hahaha kau ini ada ada saja, cepat habiskan nanti kita telat"
"Okay" mereka pun melanjutkan sarapan dan pergi menuju kampus
"Belajar yang benar, aku pergi dulu ya"
"Kamu juga, dadah" Rafa pun pergi ke kelas nya
"Aldaraa kemana saja kau" Aldara kaget ternyata Dinda yang memanggil nya
"Yatuhan kau ini mengagetkan saja"
"Hehe maaf, kukira kau akan bolos lagi"
"Tidak, aku bosan jika hanya diam di apart, kau merindukanku ku ya??"
"Iya aku kesepian karna gaada kamu"
"Ulululu ayo kita masuk"
"Ayo" mereka pun masuk ke kelas karna dosen pun telah datang
 Ditempat Rafa
"Hey Raf kemana kau kemarin?" Tanya Dion
"Kemarin aku ke rumah sakit karna Aldara kena alergi"
"Ohh begitu"
"Mau ke kantin?"
"Yoi, bareng?"
"Duluan saja aku akan menjemput Aldara dulu"
"Oke bro duluan"
"Duluan saja aku akan menjemput Aldara dulu"
"Oke bro duluan" setelah itu Rafa langsung ke menghampiri Aldara
"Dara ayo ke kantin"
"Sebentar aku lagi menunggu Dinda, dia sedang ke toilet"
"Oke" tak lama setelah itu Dinda datang
“Maaf baru datang, apakah aku lama?”
“Tidak, ayo ke kantin”
“Ayo” lalu mereka pun pergi menuju kantin
“Rafa! Kemari” kata Dion sembari melambaikan tangan, lalu mereka pun menghampiri Dion dan duduk bersama
“Hai Aldara kita bertemu lagi” sapa Dion pada Aldara
“Hai juga Dion”
“Eh kalau ini satu lagi siapa?”
“Ini temanku Dinda”
“Halo Dinda salam kenal”
“Salam kenal” tiba- tiba Fany dan kedua temannya datang dan langsung ikut duduk bergabung
“Eh ini mak lampir ngapain duduk disini?” kata Dion sengaja memanggil Fany dengan nama mak lampir

Saturday, September 26, 2020

Geulis 161 Project

 1. Rancangan dies natalis yang berbeda

Dies natalis secara makna sepadan dengan peringatan hari kelahiran. Beragam cara dilakukan untuk memperingati hari kelahiran yang dipandang sebagai hari dimana sebuah kehidupan dimulai. Tujuannya tiada lain adalah untuk mensyukuri anugerah hidup yang menyebabkan berbagai peluang dan kesempatan terbuka. 

Friday, September 25, 2020

salsabilla syaida

Fiksi : 

Main pair : 
Mike Lee as Alpha 
Chankyuck as Omega

Mengambil ramuan seorang witcher terkuat. 
Laki-laki (alpha).
Seorang alpha laki2 ingin mengambil ramuan seorang witcher terkenal di forks, namun banyak sekali org yang tidak setuju dengan keinginan alpha tersebut. Akhirnya, dia mendapatkan ide licik untuk mendapaktkan ramuan tersebut. 

Menjelaskan asal muala adanya alpha, beta, dan omega, lalu menjelaskan latar belakang seorang alpha laki2 yg ingin mengambil ramuan witcher

Tokoh ada elder, alpha, beta, omega, karakter sesuai dengan cerita 

Konflik kecil muncul, yaituu tempat atau letak witcher itu berada sulit ditemukan, karena penjagaan gg sangat ketat di kota forks 

Keluarga atau klan dari sang alpha tidak setuju dengan rencana tersebut, mereka mengusulkan untuk tidak mengambil ramuan witcher tersebut, karna menurut mereka klan merekaa sudahh tidak perlu ramuan untuk menambah kekuatan karna sudah banyak witcher witcher yg punya ramuan walaupun tidak sebanding dengan witcher yg ada di forks. 

Si alpha tidak mendengarkan pendapat dari klan nya, dia hanya memikirkan diri sendiri.

Witcher yg ada di forks, memiliki mate atau pasangan yaitu seorang elder, maka dari itu klan dari alpha yg ingin mengambil ramuan si witcher tidak menyetujui keingin sang alpha, karena kekuatan alpha berbanding jauh dengan kekuatan elder 

draft 1

 

hari itu hari pertama  aku menjalakan UN (ujian nasional ) aku bangun di pagi hari pukul 05:30  sarapan dengan nasi goreng putih dan telor mata ayam, aku lebih suka menyebutnya itu karena kalau di bilang mata sapi, kasian ayamnya kehilangan salahsatu produk yang dibuatnya, jika kalian tanya siapa yang membuatnya untuk ku tentu saja dia lah bundaku tercinta , aku bergegas menuju sekolah dan membawa alat tulis , penghapus dan perlengkapan lainnya , tidak membawa tas pada hari itu karena hanya melingkari saja dan aku tidak mau repot rept tentunya, meski halnya tidak merepotkan sih

Thursday, September 24, 2020

bagian 3

keesokan harinya hari pertama di mana Sheila mulai bekerja titik dia datang tepat waktu dan segera menemui manajernya. 
"Selamat siang pak saya Sahila yang kemarin diterima sebagai pekerja paruh waktu di sini. "
"Oh iya jadi saya akan Jelaskan sekali lagi Kamu bagian menjaga kasir dan mendata menu yang dipesan oleh para pembeli kemudian, nanti kamu berikan pesanannya kepada yang ada di dapur. "
"Baik Pak "

Monday, September 21, 2020

--

Tempat Pulang

 

BAB I

1. IJUL

            Kicauan burung di pagi hari yang membuat hangatnya suasana pekarangan rumah. Alarm yang sudah ia setting sejak tadi malam berbunyi tepat pada pukul 06.20. Lagi lagi ia tidak sholat subuh karena bangun kesiangan. Mata tajamnya menuju jam dinding yang terpasang di pojok kanan atas kamarnya, baru ia sadari bahwa hari ini adalah hari Senin yang mana masuk sekolah lebih awal karena adanya upacara pengibaran bendera. Ia langsung bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka yang lusu dan merapihkan rambut yang kusut. Sekitar tujuh menit berlalu, ia keluar dari kamar mandiny dan langsung berganti pakaian seragam putih biru dan atribut yang lengkap. Seusainya ia merapihkan rambut dan seragamnya di depan cermin kamarnya, ia langsung menuju ruang makan yang sudah tersedia beberapa makanan yang dibuat ibunya tadi shubuh. Akan tetapi ia menghiraukan semua makanan yang ada dimeja itu, ia hanya mengambil nasi yang sudah disiapkan ibunya dalam wadah 

Bagian 2

Salsabila 

Bagian 2:

Sheila pun terbangun dari tidurnya yang sudah lama titik diam perlahan membuka matanya kemudian dia berusaha memfokuskan pandangannya yang pertama dia lihat adalah langit-langit yang berwarna putih kemudian dia menatap dinding ruangan tersebut berwarna biru tua selang kecil menempel pada tangan kirinya yang menghubungkannya dengan infusan di kirinya. bau obat-obatan pun tercium dia berusaha menembak Di manakah ini.

Bagian 1 : Ulangtahun

Salsabila

Bagian 1 : Ulang tahunku

Di tengah malam yang sunyi dan gelap. Maria dan Fredi berdiri di depan pintu kamar yang bernuansa pink. Maria membawa kue berbentuk hati berwarna coklat, diatasnya menyala lilin berbentuk angka 20. Kemudian Maria dan Fredi memasuki sebuah kamar yang gelap bernuansa pink itu. Mereka berjalan sambil mengendap-ngendap dan bernyanyi lagu ulang tahun kemudian mereka membangunkan perempuan  yang tidak lain adalah anaknya  sedang tertidur nyenyak di atas kasur warna pink itu.

Sunday, September 20, 2020

The Imaginator

  Part 0 : Who Am I?

Namanya Koraya, seorang murid SMA terpadu di Tokyo. Dia tinggal seorang diri, Kedua orang tuanya bekerja di luar kota dan hanya kembali beberapa bulan sekali. Rambutnya yang hitam sedikit gondrong menutupi sebagian matanya yang hitam pekat. Posturnya bias dibilang ideal di kalangannya, tidak terlalu pendek, dan tidak tinggi juga. Ia sering berpergian ke sekolahnya dengan sepeda, dan biasa kembali dengan kedua sahabat dekatnya. Namun di samping hal biasa tadi, Koraya mempunyai passion bear terhadap pembuatan karakter imajinatif yang suka disebut OC (Original Character), Dia berharap bisa mencurahkan semua hasil karyanya ke sebuah media, seperti novel maupun komik. Namun hal yang terjadi melampaui itu. Koraya dipertemukan dengan salah satu karakter buatannya di dunia nyata. Mengapa bisa? Dan petualangan apa yang menanti Mereka bersama?


Kerangka Puisi Dera Faris Dz

 

Nama : Dera Faris Dzullfiqar

Tema Puisi

1. maaf

2. cinta

3. politik

4. kemanusiaan

5. alam 

Lukisan mimpi

1. Ariana

 

     Pada tahun 2010 bulan Maret tanggal 21 lahirlah seorang anak perempuan berambut hitam mempunyai hidung mancung berkulit putih dari keluarga miskin. Dia bernama Arian Putri Khusnul,sungguh indah dan cantik namanya seperti rupanya. Ariana adalah gadis yang pandai dan taat beribadah keluarganya selalu mengajarkan dia untuk baik kepada orang lain,sopan,santun,saling membantu. Ariana adalah gadis desa, tempat tinggal dia di desa Waruh Batu. Keadaan alamnya masih sangat asri dan segar pepohonan tergelar indah dari bukit desa,sungguh indahnya ciptaan sang ilahi.  Ariana adalah sosok tangguh dan tak pernah putus asa.

 

     Suatu hari Ariana sedang tertidur dipangkuan ibunya, "anakku maaf ibu mu nak yang tidak bisa membahagiakan mu secara materi," kalimat itu terucap dari bibir lembutnya sang ibu. Karena mereka miskin ibu dan bapaknya tidak bisa menyekolahkan Ariana apalagi Ariana 5 bersaudara tentu saja itu hal yang berat. Mereka semua hidup serba pas-pasan malah mungkin kurang. Kadang kala mereka makan hanya dengan nasi dan garam saja,malah jika dia tidak mempunyai nasi mereka tidak makan. Sungguh tragis dan mengharukan kehidupan Ariana.

   

Namun Ariana selalu tegar dan sabar berpikir bahwa semua yang sedang dialaminya sekarang pasti akan ada balasannya,yaitu sesuatu kebahagiaan yang lebih dari apapun.Ariana tidak memiliki teman di kampung karena seluruh teman-temannya adalah kalangan yang punya atau orang kaya.  Walaupun di kampung kehidupan di sana seperti kehidupan di kota, namun Ariana bukanlah orang yang memang seperti mereka yang memiliki uang banyak dan fasilitas yang mewah.Ariana selalu sabar dan berdoa kepada kepada tuhan semoga apapun  yang dia punya sekarang atau apapun yang dia tidak punya se
karang adalah anugerah dari tuhan.

 

      Pada suatu hari Ariana sedang berpergian ke kebun milik Paman Henry, yaitu seorang pemilik kebun yang sangat besar di desanya. Paman Henry menyuruh dia untuk memanen jagung di kebunnya.  Paman Hendri berkata  "Hai anak pungut Cepatlah kau panen semua jagung-jagung itu dan berikan kepada saya," ujar sang Paman Henry."Ya Paman saya akan melakukannya baik paman," balas Ariana dengan ketakutannya.Yah memang Paman Henry itu adalah seorang pemilik kebun terkaya di desanya yang juga terkenal pemarah kepada orang-orang miskin. Ariana tidak bisa apa-apa karena ini adalah satu-satunya jalan agar dia bisa makan dan minum dan juga untuk membantu keluarganya.

         

    Sungguh sulit perjalanan Ariana ini di saat dia masih umur 10 tahun, namun dia harus menanggung beban yang besar untuk menghidupi keluarganya dan juga dirinya. Bukan ayahnya tak mampu untuk menafkahinya,namun ayahnya sekarang sedang sakit dan kakak-kakaknya pun entah kemana adanya. Ariana lima bersaudara Dia mempunyai dua orang Kakak dan dua orang adik.Namun sekarang dia harus menafkahi ibunya, ayahnya ,dan adik-adiknya.Ibunyapun sudah dari dulu mengidap penyakit mata yaitu katarak. Sulit untuk dia menafkahi keluarganya yang sedang sangat terpuruk. Memang latar belakangnya sudah miskin namun pada saat ini Ayahnya sakit ibunya sakit kakaknya entah kemana dan dia harus menafkahi kekuarganya seorang diri.

      "Oh Tuhan Mengapa kau membuat diriku begitu sengsara Apakah ini balasanmu atas semua ketaatanku dalam beribadah ingin rasanya aku enyah dari bumi ini," ujar Ariana di dalam hati.Bukan tanpa sebab dia menyesalkan dirinya sendiri dan benci pada dirinya sendiri atas apa yang terjadi,ya tentu semua orang pasti akan berpikir demikian bila ada di posisi Ariana.

 

       Yah memang Ariana bukan sosok yang sangat tangguh pasti ada sisi dia akan terpuruk dan dia akan kesal pada kehidupannya.Kehidupan Ariana pun semakin hari semakin terpuruk dan eiring berjalannya waktu ternyata penyakit yang diidap oleh ayahnya semakin memburuk dan tidak dapat lagi untuk melakukan aktivitas lainnya. Ayahnya hanya bisa tidur dan duduk saja tanpa bisa berjalan. Bahkan sekedar untuk ke toilet saja tidak mampu.Kakaknya pun tidak pernah pulang. Entah harus bagaimana lagi kehidupan Ariana pada saat ini ibunya pun tak kuasa apa-apa hanya bisa membantu saja di rumah untuk memasak  dan mengurus urusan rumah.

 

     Namun hari demi hari mungkin adik-adiknya berpikir agar tidak selalu memberatkan Ariana lalu ada satu adiknya yang berumur 8 tahun dialah yang membantu Ariana. Adiknya itu bernama Arya dia tidak bersekolah, tentu saja karena tidak ada uang untuk menyekolahkannya.Arya adalah seorang anak laki-laki yang memiliki raut wajah seperti orang Belanda.Karena sebelum mereka miskin seperti ini dahulu kakek dari Ariana dan Arya adalah sosok tentara Belanda, yang pada saat dahulu menjajah Indonesia dan beristrikan orang Indonesia yaitu neneknya Aryana dan Arya.Pantas saja Ariana dan Arya mempunyai wajah seperti orang Belanda yaitu putih,hidungnya mancung,dan matanya sedikit beda dengan yang lain.Namun memang salah keluarganya sendiri waktu itu paman-pamannya, bibinya,dan ayahnya menggunjingkan tentang warisan dan hingga pada akhirnya jatuh ke tangan pamannya yang bernama Anji.Ya harta dan semua warisan milik kakeknya Ariana jatuh ke tangan pamannya yang bernama Anji. Namun bukan digunakan untuk hal yang baik pamannya malah menggunakan uang itu sebagai uang taruhan di dalam judi.Habislah uang dari warisan kakeknya Ariana.Dan inilah yang membuat keluarga Ariana jatuh terpuruk dan miskin.

 

      Di Suatu hari Arya bekerja di salah satu pasar di desa nya. Dia bekerja sebagai tukang angkut barang dan juga sebagai penjual kantong kresek yang menawar kan kantongnya kepada para pembeli di pasar tersebut.Sungguh kasihan nasib Arya bocah kecil berusia 8 tahun yang harus menanggung hirup pikuk beban besar di dalam kehidupannya untuk menafkahi keluarganya.Bukan hal mudah untuk menjalani hidup seperti mereka, namun Arya dan Ariana selalu tegar dan tetap tabah untuk bisa menafkahi keluarganya. Mereka yakin bahwa selalu ada Tuhan di samping mereka yang akan membuat mereka bangkit dari keterpurukannya.

 

     Mereka selalu taat beribadah walaupun dalam kondisi apapun itu saat ia bekerja saat ia bermain tetap mereka selalu ingat untuk taat beribadah dan selalu berdoa kepada tuhannya.Sungguh anak-anak yang cerdas dan berakhlak mulia. Sulit di zaman ini menemukan anak-anak yang pintar, cerdas, sopan,santun, dan taat beribadah.Namun mereka adalah anak-anak yang cerdas, sopan, santun, taat beribadah, dan tak mudah mengeluh. Bukan hal mudah untuk menjadi sosok seperti Ariana dan Arya yang selalu tangguh menghadapi cobaan apapun.

 

     Pada suatu hari adik terkecil Ariana yaitu Amran merengek karena lapar. Iya saat itu Ariana dan Arya tidak mendapatkan pekerjaan yang hingga memaksa keluarganya tidak dapat makan karena tidak adanya uang.Sungguh miris dan sakit sekali hidup Ariana,dengan susah payah Ariana dan Arya pergi mencari-cari pekerjaan agar adiknya bisa makan hari ini.Bukan hal mudah untuk mencari pekerjaan apalagi di usia mereka yang masih sangat belia, banyak orang yang tidak percaya akan kerja mereka hanya sekedar mengangkat ngangkat barang pun banyak yang tidak percaya Kak Ariana dan Arya kuat bekerja seperti itu." Kak Bagaimana ini kasihan Amran,ibu, dan ayah di rumah. Aku si tidak apa-apa kalau tidak makan tetapi jangan adik dan orang tuaku, " Arya berbicara demikian kepada Ariana.Jawab Ariana,"Iya dik sedang kakak usahakan dan sedang kakak pikirkan untuk kita bisa mendapatkan pekerjaan." Dengan susah payah mereka mencari pekerjaan dan akhirnya mereka mendapatkan pekerjaan sebagai tukang penjual kerupuk keliling. Memang hasilnya tidak sebesar sebagai tukang angkat berat,walaupun keringat yang akan dikucurkan sama saja seperti kerja angkat berat.

 

      Namun apa daya yang ada sekarang pekerjaan hanya itu dan adik ibu serta ayah mereka sedang kelaparan di rumah.Berkelilinglah mereka menyusuri rumah-rumah di tiap desa di tiap kampung hingga kerupuk itu terjual dan habis.Uang yang didapat dari hasil penjualan mereka akan disetorkan kepada tuan mereka atau bos mereka untuk selanjutnya dihitung dan dan 15% dari hasil penjualan kerupuk itu akan menjadi upah mereka.Hasil yang didapat hari ini hanya Rp100.000 berarti 15% dari hasil hari ini = Rp15.000 untuk mereka.Sangat tidak cukup memang untuk membeli beras saja sudah Rp10.000 dan 5000 nya lagi entah akan dibelikan apa karena  tidak cukup Rp5.000 untuk membeli makanan.Mungkin untuk hari ini ini garam adalah teman lauk makan mereka.Pergilah Ariana dan Arya untuk membeli beras dan garam.

 

      Setibanya di rumah Arya dan Ariana cepat-cepat memasak beras yang tadi dia beli di warung untuk mereka makan hari ini." Ibu maaf Ariana dan Arya hari ini hanya bisa membeli beras dan garam saja tidak bisa membeli tempe ataupun tahu untuk kita makan," ujar Ariana kepada ibunya. Ibunya pun menjawab, " tidak apa-apa nak ibu sudah cukup makan nasi dan garam saja." Akhirnya mereka makan dengan lauk hanya garam saja dan di tengah rumah yang reot tanpa beralaskan lantai atau keramik.Sungguh sangat menyedihkan kehidupan mereka,rumah yang hampir hancur,keuangan yang tidak ada, orang tua yang sakit entah apa yang terjadi bila Ariana memutuskan untuk menyerah pada kehidupan ini.

 

      Ariana memang tidak bersekolah,namun bukan putus juga untuk dia tetap belajar. Ariana selalu belajar di rumah ketika sudah pulang kerja, mereka diajarkan oleh orang tuanya membaca,menulis,dan menggambar. Walaupun hanya dengan peralatan seadanya yaitu buku bekas dan pensil-pensil yang sudah kecil yang dia temukan di tempat sampah. Ariana tak malu untuk mengambil barang-barang seperti itu di tempat sampah,karena dia yakin itu bukan sesuatu yang harus dia jadikan malu namun menjadi motivasi bagi dirinya sendiri. Sungguh anak yang cerdas dan mulia. Sulit menemukan seorang anak yang rajin seperti Ariana. Orang tuanya pun bangga memiliki seorang anak seperti Ariana karena bukan hanya Ariana membantu keluarga  dalam ekonomi saja, namun Ariana juga bisa belajar tanpa harus bersekolah. Sungguh tekad yang sangat tangguh dan mulia.

 

     Tak lupa dia juga mengajari adik-adiknya untuk membaca menulis dan menghitung. Ariana pun berkata kepada adik-adiknya, " ayok ade kau pasti bisa untuk membaca,menulis, serta berhitung kakak tahu semua adik,kakak itu itu bisa dan pintar." " Iya Kak... " Jawab adik-adiknya. Mereka pun belajar dengan giat dan tekun selepas bekerja setiap harinya. Minimal Ariana menyempatkan waktu untuk mereka belajar satu jam sebelum tidur. Selalu teratur setiap harinya. Hingga akhirnya Ariana,

 

Arya, dan Amran menjadi bocah-bocah kecil yang pintar,walaupun dengan segala keterbatasan ekonominya. Dia selalu berpikir tak ada waktu yang terlambat dan tak ada hambatan untuk belajar jika dia yakin dan punya tekad yang besar untuk bisa menjadi seseorang yang cerdas dan pintar walaupun dengan segala keterbatasan. Sungguh sosok seorang anak yang sangat bijak dan pintar. Orang tuanya pun bangga kepada anaknya karena dia dapat belajar dan pintar tanpa harus bersekolah.

 

      Semakin hari Ariana Semakin menjadi sosok yang sudah dewasa, bukan karena umurnya yang  menjadi semakin tua namun karena pola pikirnya dan kebijakannya dalam menindak dan mengambil suatu keputusan,membuat dia menjadi pribadi yang dewasa dan dapat bertanggung jawab.

 

     Setiap Ariana memiliki masalah dia tidak pernah mengeluh dan tidak pernah mengadu kepada orangtuanya,Ariana selalu menyelesaikan masalahnya sendiri dan tidak pernah bergantung kepada orang lain. Seberat apapun masalahnya dia selalu menyelesaikannya dengan penuh tanggung jawab. Ketika dia mempunyai masalah dia selalu memikirkannya sendiri untuk mencari jalan tengah dari masalahnya. Sungguh anak yang penuh tanggung jawab dan kebijaksanaan.

 

      Bukan hal mudah bagi bocah sekecil Ariana menyelesaikan masalah tanpa melibatkan siapapun. Kalaupun dia minta pertolongan pasti dia akan meminta pertolongannya kepada tuhan yang menciptakan dia karena bagi dia,jika meminta pertolongan kepada sesama manusia belum tentu manusia itu dapat membantu kita dan tentu kita tahu bahwa semua orang pasti memiliki permasalahannya masing-masing.

 

      Oleh karena itu,Ariana berpikir keras sendiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Tanpa harus melibatkan orang lain karena dia juga tidak ingin merepotkan orang lain. Sungguh Ariana adalah anak yang baik, tangguh, penuh tanggung jawab, dan bijaksana. Dengan keadaan yang sangat sulit seperti ini dia tidak pernah bergantung kepada orang lain maupun kepada orang tuanya karena dia tahu orangtuanya juga tidak bisa apa-apa. Yang bisa dia lakukan saat menghadapi masalah atau cobaan adalah selalu berdoa dan mencari jalan keluarnya sendiri. Arya pun memiliki sifat seperti Ariana yang bertanggung jawab bijaksana dan tidak pernah mengeluh dalam kehidupannya. Mereka adalah anak-anak yang sangat pintar dan cerdas. Mereka memiliki kepribadian yang sangat tidak terduga bagi seorang anak miskin. Tak ayal

 

     Ariana pun selalu bersyukur atas segala yang dia punya hari ini,dan berdoa supaya dia mendapatkan yang lebih dari apa yang dia punya sekarang kepada tuhannya. Bagi Ariana tidak ada masalah yang sangat sulit bila dihadapi dengan penuh rasa tanggung jawab dan selalu berdoa kepada tuhan. Anak tangguh,anak yang bertanggung jawab adalah anak yang bisa menjadi seorang bijaksana yang cerdas. Dan semua itu terdapat di dalam diri Ariana. Dialah putri yang cantik,anggun dan bijaksana di dalam kehidupan nyata. Dialah Ariana Putri Khusnul.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ariana

oleh: yasmin nurul

 

Di zaman itu...

Di tahun itu...

Di hari itu...

Di detik itu...

 

Lahir seorang gadis rupawan,ayu,dan cantik

Wajahnya sangat putih dan tertawanya menggeletik

Membuat riuh sorak di ruang sempit

Dengan lelaki yang tertawa lalu menangis

 

Putri cantik berhati suci

Putri cantik berkulit putih

Tangguh dan tegar

Bijaksana dan bertanggung jawab

 

Kuat dalam segala hal

Tidak mudah putus asa

Berani berkorban

Bekerja keras

Dialah Ariana Putri Khusnul

***


Chamy Manikara Gumilang

Fiksi

Judul: 

Bella ingin mendapatkan kesempatan ke dua sebelum ibunya meninggal. Namun Bella tidak memiliki kekuatan yang akan bisa hal tersebut tercapai. Akhirnya saat dia memasukki dunia SMA dia bertemu dengan teman yang bisa membuat keinginannya tercapai.

1.aku yang ditinggalkan

Bella yang selalu bermimpi tentang kejadian dimana bundanya meninggalkan dia seorang diri bahkan bella tidak mengetahui keberadaan ayahnya yang bertepatan ibunya yang meninggalkan bella

2. Pertemuan kita

Di sekolah Bella berkenalan dengan beberapa teman sekelas namun ada satu orang yang dari awal pembukaan mpls hingga selesai dia diam diam memandangi Bella dan Bella merasakanny.Namun siapa dia?

3. Aku yang berusaha

Setelah Mikal  yang tiba tiba saja dia membantu Bella dan memberikan beberapa informasi yang memberikan harapan untuk Bella mencapai harapannya tapi kemana Mikal yang menghilang ia tidak hadir di rumah ataupun di sekolah apakah aku harus berjuang sendiri?

4. Kau yang sudah bahagia

Setelah Bella berhasil memecahkan misteri surat dari Mikal dan dia bisa menjelajah kehidupannya dahulu dan waktu 8 jam dia merasa semua beban semua rasa dendam semua rasa penasaran terbayarkan dengan melihat kembali kejadian dahulu. Dan mengetahui semua alasan keluarganya terpecah.

5. kita yang sekarang

Setelah misi Mikal berhassil yaitu untuk membantu Bella dalam mencari rasa penasarannya di masa lalu akhirnya Mikal bisa kembali ke masa depan yang dimana disanalah kehidupan aslinya begitupun dengan Bella yang sudah bisa memulai hari hari dengan ringan tanpa beban untuk menjadi remaja sma sesungguhnya.

Saturday, September 19, 2020

Penakluk Galaksi

Genre : Fiksi

Judul : Penakluk Galaksi


4 Acts of Lies

 

Aulia Shafa Kamila

Outline
Genre : Fiksi (Drama, Misteri, Psychologycal Thriller)
Judul : 4 Acts of Lies
Amaia (Maia) seorang perempuan dengan penuh ambisi dalam hidupnya, yang nyaris sempurna. Ia berusaha mencari arti kehidupan, mimpi dan cinta. Namun dia menemukan bahwa orang disekitarnya menyimpan kebohongan yang dapat menghancurkan dirinya sendiri. Ketika hidupnya perlahan terasa hancur akibat kebohongan tersebut, ia mencoba bangkit dan melakukan apapun untuk membalas semua kebohongan.

Lukisan Mimpi

Genre: Masalah sosial/keluarga
Fiksi. 
Judul: Lukisan Mimpi

Seorang anak perempuan yang ingin menjadi pelukis,namun dia tidak memiliki biaya untuk membeli peralatannya pada akhirnya dia dibelikan alat-alat untuk melukis oleh seseorang. 

Kerangka:
1. Ariana.
Ariana Putri Khusna seorang anak perempuan yang tinggal di desa,berumur 10 tahun,keluarganya adalah keluarga miskin namun taat ibadah.
2. Hinaan tetangga.
Karena Ariana adalah anak miskin hampir semua teman dan tetangganya mengejek dia.
3. Mimpi
Ariana pintar menggambar dan melukis dia bermimpi untuk menjadi seorang pelukis handal dan terkenal.
4. Keadaan yang rumit
Namun Ariana tidak memiliki uang untuk membeli peralatan melukis karena keluarganya yang miskin.
5. Datangnya kebaikan
Datang seorang pria gagah bernama Khusen Sastra Olah,dia pandai menulis dan melukis dan ialah yang memberikan dukungan moral serta materil kepada Ariana.
6. Tercapainya mimpi
Ariana menjadi seorang pelukis handal memiliki banyak karya dan dikenal banyak orang.

Awal

Salsabila 

Genre : Fiksi 
Judul : 
Sheyla yang ingin mencari keluarga kandungnya. Namun, dia hanya memiliki satu petunjuk yaitu Restoran Ramen Dwi. Akhirnya dia menemukan keluarga kandungnya yang tak pernah disangka olehnya.

Bagian 1 
Perempuan itu merayakan ulangtahun bersama keluarganya secara sederhana.
Ketika ulang tahun, perempuan itu diberi tahu ibunya bahwa dia bukan anak kandungnya dan dia disuruh ibunya untuk mencari keluarga kandungnya.

Bagian 2 
Perempuan itu mencari keluarganya dengan satu petunjuk yaitu Restoran Ramen Dwi dan nama dari kakaknya yaitu Jevian

Bagian 4 
Firly, kakak angkatnya dan Alvin ingin membantunya tetapi mereka memiliki maksud lain.

Kematian Sosial

Genre: Fiksi
Judul: ....
Excel menujalani kehidupan remaja namun semua berubah ketika korona menimpa negeri tempat dia tinggal. Excel mencoba survive.

Aku, ibu dan sejuta Mimpi

Genre : Fiksi
Judul: Aku, ibu dan sejuta Mimpi

Disaat hatimu mulai merasa lelah, disitulah sosok seorang ibu selalu berusaha untuk menguatkanmu. 
Bagiku, ibu itu seperti tinta yang tak pernah habis, selalu menemaniku dalam merangkai cerita.

Sinopsis : 
Tentang Seorang anak bernama Denisa yang menjalani kehidupannya dengan ikhlas dan penuh kesabaran, hingga suatu hari ia mendapatkan cahaya dari do'a seorang ibu.

glow in the dark

Genre:fiksi

Judul:

Shei seorang wanita yang tengah mencari sumber kebahagiaannya dan senyumnya yang telah hilang selama bertahun-tahun.

  Shei ingin memiliki sebuah kehidupan yang bisa membuatnya bahagia seperti manusia pada umumnya namun takdir berkata lain.

  Sampai ia menemukan sumber kebahagiaannya sendiri dengan caranya sendiri

  1.awal kisah

 Agtha Sheila,gadis kecil yang harus menghadapi permasalahan keluarganya,yang melihat dan mendengar secara langsung perdebatan dan pertengkaran orang tuanya,tidak cukup hanya itu dia harus berpisah dengan sang kakak yang menjadi sumber kekuatannya selama ini

 2.pertemuan dan kehilangan

 Shei yang sudah cukup dewasa memilih untuk tinggal bersama sang ayah,dengan tujuan bertemu sang kakak,namun takdir memisahkannya dengan sosok yang menjadi alasannya untuk tinggal dengan sang ayah

  3.raja Abraham

  Di saat berada di titik paling bawah dalam hidupnya,tuhan mengirimkan sosok pelindung untuknya,mungkin ini imbalannya karna ia telah merelakan kepergian sang kakak

  4. Pohon kehidupan

 Shei menemukan kebahagiaannya,ia pergi untuk menemui sang kakak di sisi tuhannya

                     

1.awal kisah

Ini kisahku,aku tak tahu apa ini bisa di sebut dengan kisah atau bukan,tapi setidaknya ini layak untukku bagi dengan kalian,sebuah jeritan hati yang tidak seorangpun bisa mendengarnya,sebuah keinginan untuk menjadi lebih baik tapi tak ada yang mendukungnya,ini tentang seorang wanita yang hatinya telah di patahkan berkali kali,seorang wanita yang lupa dengan sebuah kata 'kebahagian' bahkan cara untuk tersenyum tanpa menyembunyikan apapapun ia tak tau,seseorang yang sangat pintar bermain peran, menyembunyikan semua rasa sakit dan kecewanya hanya dengan sebuah lengkungan atau bahkan gelak tawa yang nyaring,tapi apakah kalian menyadari apa yang sebenarnya terjadi?.

  Malam itu,suara teriakan bergema di seisi rumah,suara tangis bocah bocah kecil itu kian nyaring,tak ada yang bisa mereka lakukan selain mendengarkan secara langsung orang tuanya bertengkar dan saling mengeluarkan sumpah serapah tersebut.

   Tangan mungil itu memelukku seraya berkata "gapapa kok dek,mami sama papi cuman lagi ngobrol doang kok",ia berkata seakan akan memberi ketenangan pada adiknya yang sedang menangis,kata katanya memang menguatkan adiknya tapi lihat sorot matanya,ia benar benar ketakutan,tangannya bergetar hebat tapi dengan sisa tenaganya ia menguatkan sang adik.

   Suara keras itu akhirnya redup,entah pergi kemana.kedua anak itu mulai reda dari tangisnya."kak,mami sama papi pasti udah maafan,ayo samperin kak!"seru bocah perempuan itu sambil menarik tangan sang kakak,langkah kecil mereka semakin cepat seiring dengan anak tangga yang mereka naiki,tak peduli dengan keadaan sekitar yang benar benar berantakan.kaca kaca pecah berserakan di lantai tak menggentarkan mereka untuk tetap menemui kedua orang tuanya.hingga kedua bocah kecil itu menemukan pintu tujuannya,tangan kecil bocah perempuan itu akan menggapai daun pintu kamar kedua orang tuanya tapi tiba tiba sang kakak menariknya sambil berkata "tunggu dek,biar kakak aja yang buka" gerak tangannya menarik sang adik untuk mundur perlahan,ia tak mau jika orang tuanya ternyata masih berdebat di dalam sana dengan melempar lemparkan barang seperti yang sudah terjadi seblumnya lalu mengenai adik kesayangannya.

   Dibukanya pintu itu dengan perlahan,sorot matanya menyapu seluruh ruangan tersebut dan berhenti ketika menemukan sosok sang ibu yang tengah mengeluarkan semua pakaiannya dengan tergesa gesa.ia tak mengerti mengapa sang ibu mengeluarkan semua bajunya dari dalam lemarinya,lalu untuk apa tas besar itu?pikir bocah laki laki itu,sang adik yang melihat itu dari balik bahu kakaknyapun terheran heran "kak,mami ngapain ngeluarin baju bajunya?" Bisik sang adik tepat di dekat kuping sang kakak."mungkin baju yang mau di laundry dek" ucapnya,tapi ia berfikir apakah semua baju sang ibu akan di cuci nya? kenapa? Pikirnya.

Shean,nama anak laki laki itu,isi kepalanya sedang bertengkar hebat dengan isi hatinya,rasa penasaran kian menjadi saat tangan sang ibu kian cepat memasukan baju bajunya ke dalam tas besar di sampingnya,tanpa berniat melanjutkan langkahnya.anak itu masih menatap heran ke arah sang ibu yang tak menyadari keadaan dua bocah tersebut.lamunannya buyar ketika sang adik menepuk bahunya."kak,kok bajunya mami di laundry semuanya sih?nanti mami pake baju apa kalo bajunya di laundry semua".

  Isi kepalanya kian menjadi,dengan segenap keberanian yang ia miliki ia langkahkan kakinya ke depan,menelusuri kamar orang tuanya yang cukup luas namun keadaanya sangat berantakan.tak mau di tinggal oleh sang kakak,shei si adik kecil nya mulai mengikuti langkah kaki kakaknya dan mulai mensejajarkan langkahnya dengan sang kakak.

   Dengan suara yang bergetar shean melontarkan pertanyaannya kepada sang ibu,"mi,mami mau kemana kok bajunya di masukin semua?",lama tak mendengar jawaban sang ibu,shei si adik kecil menanyakan kembali hal yang sama kepada ibunya.

Wanita itu maria,wanita muda yang memiliki kulit putih,rahang tegas dan wajah yang sangat tenang,ia adalah ibu dari dua bocah kecil di hadapannya, perlahan lahan ia mulai mengangkat kepalanya,memberanikan diri menatap anak anaknya,matanya sembab,terlihat jelas wanita itu telah menangis,"mami harus pergi" hanya itu yang ia katakan namun mampu membuat air muka kedua bocah itu berubah seketika,"mami mau kemana?kita ikutkan mi?papi juga ikutkan mi?"tanya shei bertubi-tubi,"mami harus pulang ke rumah Oma kalian,shei kamu sekarang pergi ke kamar kamu,beresin semua barang barang kamu"perintah sang ibu,"kak shean ayo!" Seru shei yang tengah kegirangan karena perintah orang tuanya tersebut.

  Langkah kecil mereka baru saya di ayunkan beberapa pijakan,terdengar suaranya pintu terbuka.respek kedua bocah tersebut langsung melihat ke arah pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut,dari sana keluar sosok sang ayah yang tidak kalah berantakannya dari sang ibu,dengan rahang yang mengeras,tangannya yang mengepal kuat dan sorot mata yang tajam sang ayah menatap ke arah ibunya,seakan akan mengibarkan bendera peperangan kembali.

    Suara Maria memecahkan keheningan yang terjadi beberapa saat tersebut,"shei cepet beresin barang barang kamu" shei yang melihat perubahan wajah sang ibu yang jadi terlihat marah langsung menarik lengan kakak nya sambil berkata "ayo kak!","shean kamu berhenti di situ,kamu tetep tinggal sama papi biar shei yang ikut sama wanita murahan ini" ujar sang ayah sambil menatap ibu mereka dengan tatapan seakan akan ingin membunuhnya."tapi pih,kak shean juga harus ikut sama shei!"seru bocah itu dengan segala ke kukuhannya,ia tak mau berpisah dengan sang kakak yang bisa di sebut teman satu satunya.

  "Shean kamu pilih,kamu yang ikut papi atau shei yang ikut papi?" Tegas sang ayah,shean yang mendengar hal itu langsung membeku,tak tahu apa yang harus ia lakukan,bahkan untuk berkatapun ia tak tahu harus berkata apa,ia tak mau berpisah dengan sang adik.'tuhan bisa kah aku tidak memilih,aku ingin tetap bersama dengan adikku' jerit shean dalam hatinya,setelah hening beberapa saat akhirnya sang ayah memecahkan kembali keheningan tersebut "shei kamu yang ikut wanita murahan ini,setidaknya aku tidak usah melihat wajahmu yang mirip dengan wanita murahan itu"

   Shei yang mendengar sang ayah berbicara dengan suara yang sangat tinggi langsung menguatkan genggaman tangannya kepada sang kakak.kasian bocah kecil itu,dia tak mengerti ada permasalahan apa di antara kedua orang tuanya sampai sampai ia harus berpisah dengan sang kakak."cepet shei!" Teriak sang ibu,shei yang masih kekeuh dengan keinginannya untuk tidak berpisah dengan sang kakak langsung membantah perintah sang ibu "ga mau!shei ga mau pisah sama kak shean,kalo kak shean ga ikut shei juga ga mau ikut mami'.

Mendengar hal itu Bram sang ayah langsung menarik tangan mungil shei,menyeretnya tanpa belas kasih,membawanya ke arah pintu keluar.shean yang melihat adiknya diperlakukan seperti itu langsung berupaya mengejar langkah besar sang ayah sambil berteriak berharap sang ayah mau melepaskan cengkraman nya pada tangan sang adik.namun nihil,sang ayah sekan menutup telinganya rapat rapat,tak mengelak bahkan menggubris permintaan shean.

  Dengan penuh harap shean memutar kepalanya ke arah sang ibu,berharap sang ibu mau membantunya untuk memohon kepada sang ayah untuk melepaskan cengkraman tangannya dari tangan sang adik.seolah olah tak melihat apa apa sang ibu hanya memberikan tatapan kosongnya kepada shean."pih,shean mohon lepasin tangannya shei" ujarnya sambil terus mengejar langkah besar sang ayah,sampai tibalah di penghujung pintu,sang ayah memutarkan kepalanya,menatap shean dalam dalam,sambil berkata "mulai sekarang dia bukan mami mu lagi,dan anak ini bukan adikmu lagi" sambil menunjuk sang ibu dan sang adik bergantian.

   Tangis shei yang di sebabkan cengkraman sang ayah mulai keluar,ia yang sedari tadi mencoba untuk tidak menangis dan menahan rasa sakit akibat cengkraman sang ayah."pi,s-ssakit pi" ujarnya sambil berharap iba dari sang ayah.namun nihil,cengkraman sang ayah malah semakin menjadi,menyeretnya tanpa iba hingga berhenti tepat di depan pintu kayu.dibukanya dengan paksa pintu tersebut lalu didorong nya shei kedalam ruangan tersebut "kalo kamu lama beresin barang barang kamu papi ga segan segan buat berlaku kasar lebih dari tadi'".

Shean yang melihat perlakuan sang ayah yang tidak manusiawi langsung meneriaki ayahnya "papi jahat,shei ga masih kecil Pi,tapi papi malah nyakitin dia,papi jahat!" Serunya sambil memukuli sang ayah dengan membabi buta tanpa menghentikan tangisnya yang kian menjadi.Sang ayah yang di pukuli oleh lengan mungil shean hanya terdiam seolah olah tidak terjadi apa apa.dilihatnya ke dalam kamar si kecil shei yang masih menangis sesegukan dengan kaki yang di tekuk dan lengan yang memeluk lututnya membuat amarahnya kian memuncak.

Dipukul nya pintu kayu tersebut dengan kasar yang sontak membuat shei dan shean terkejut."papi bilang cepet beresin barang barang kamu.kamu denger ga apa yang papi omongin?dasar anak bodoh" makinya dengan lantang.

Dengan kaki yang gemetar shei mulai membuka pintu lemarinya,memasuka satu demi satu baju yang ia miliki kedalam sebuah koper yang terletak di pinggir lemarinya,tangis yang tak kunjung reda,dengan tangan yang memar akibat cengkraman sang ayah shei berusaha untuk tidak mengeluarkan desak tangisnya,ia berusaha terlihat tegar di depan sang kakak.shean yang merasa tak ingin sang adik pergi meninggalkannya mencoba untuk masuk ke dalam kamar sang adik untuk mencegah sang adik pergi namun nihil,badan gagah sang ayah menghalangin aksesnya untuk masuk ke dalam kamar sang adik,hanya tangis dan tatapan nanar yang bisa ia berikan kepada sang adik.setelah semua pakaiannya ia masukan sang ayah tak segan segan langsung menariknya laluenyeretnya menuruni anak tangga,langkahnya yang kecil tak dapat mengimbangi langkah sang ayah,alhasil badannya terseret oleh langkah sang ayah.

Shean yang mengikuti langkah cepat sang ayah dan mencoba memukul mukul punggung sang ayah berharap cengkraman sang ayah dapat lepas dari tangan mungil adik kecil nya itu.jeritan demi jeritan shean keluarkan agar sang ayah menggubris kata katanya tetap di abaikan oleh sang ayah

Hingga tiba di penghujung tangga shean menemukan sosok sang ibu dengan sebuah koper besar di sampingnya dan sebuah tas besar digenggamannya.wajah tenang sang ibu berubah menjadi tak berekspresi,menatap putri kecilnya yang menangis dalam diam.diraihnya lengan kecil sang putri yang dengan lembut,menarik nya dengan perlahan lalu menyembunyikannya di belakan badannya.tubuh kecil shei yang hanya setinggi paha sang ibu membuatnya tertutup oleh kaki jenjang sang ibu.

Maria menatap ke arah shean,mengusap rambutnya sambil berkata "kakak jangan nakal ya,mami sama shei pergi dulu" diiringi dengan lengkung senyum yang menghiasi wajah tenangnya itu,di raihnya tangan sang putri lalu berkata "ayo shei,pegang kopernya kita pergi" sambil menarik gandengan sang anak untuk pergi dari dalam rumah tersebut.

Shean yang melihat sang adik membalikan kepalanya dan menatapnya seolah meminta pertolongan pun berusaha untuk mengejarnya,namun lengannya di cekal oleh sang ayah "biarin dua wanita murahan itu pergi dari rumah ini,kita ga butuh mereka,mereka hanya sampah,dan mulai saat ini kamu tidak punya mami,anggap saja mamimu sudah meninggal",tangisnya kian menjadi mendengar kedua sosok wanita kesanga nya direndahkan seperti itu

Pandangan membenci di berikannya kepada sang ayah,dalam dirinya ia berjanji akan mencari kedua wanitanya yang hilang itu,ia bertekad akan untuk menemukan kedua wanitanya di manapun mereka berada.shean melepaskan cengkraman sang ayah dengan brutal,lalu segera berlari ke dalam kamar adik nya,mengunci dirinya di dalam kamar tersebut sambil terus berdoa agar sang adik dan sang ibu cepat kembali.

                              ..........                                      Di luar rumah matahari menyembunyikan sinarnya,membalut dirinya dengan awan.mungkin sebentar lagi akan turun hujan pikir shei,langkanya terus mengikuti langkah sang ibu sedari menuruni taxi tadi,ia tak tahu di mana ia sekarang,yang ia tahu ini adalah sebuah stasiun kereta api di kotanya, matanya yang sembab melirik ke kanan dan kiri berharap bisa mengetahui di mana keberadaannya sekarang.matanya menangkap sesosok anak kecil yang tengah memilin ujung baju yang ia kenakan, ingatannya kembali kepada shean sang kakak yang juga memiliki kebiasaan serupa,ah tapi sudahlah semuanya hanya membuatnya semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi kepada keluarga kecilnya.

Shei memutuskan untuk menundukkan wajahnya,lalu berusaha mencerna apa yang terjadi kepada keluarganya namun usianya yang baru menginjak 6 tahun tidak bisa mencerna apa apa,yang ia tau hanya ibu dan ayahnya yang bertengkar lalu memutuskan untuk memisahkannya dengan sang kakak dan notabenenya adalah satu satunya teman bermain untuknya.

Brukkk~

Shei menabrak kaki sang ibu yang berjalan di depannya,ia menggondakan kepalanya lalu menatap sang ibu sambil bertanya "kok berhenti mi?kita udah sampe di urah oma?".kerutan tercipta di dahi munggilnya,matanya yang sembab bertanya tanya kenapa ibu nya tak kunjung menjawab pertanyaannya?ada apa dengan ibunya?kenapa ibunya tiba tiba menjadi pendiam seperti ini?

Matanya menyapu seisis stasiun,keadaan yang ramai membuat badannya yang kecil membuatnya tersenggol oleh orang orang yang berlalu-lalang,dengan sisa tenaga yang ia punya shei memegang kuat kopernya yang tidak begitu besar,namun untuk ukurannya itu sangat besar dengan kuat agar tidak terjatuh atau tergeser oleh orang yang sedang berlalu-lalang.

"Mami pergi beli tiket,kamu diem di sini sebentar" ucap sang ibu sambil membalikan badan dan meninggalkannya bersama sebuah koper dan tas besar milik ibunya tersebut.matanya mungilnya memerhatikan orang orang yang tengah berjalan kesana kemari yang di balas anggukan kecil olehnya.Dari sebrang sana ia melihat seorang wanita tua yang sudah renta tengah memperhatikannya,lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum simpul ke arahnya.

Arah pandangannya langsung ia alihkan ke objek lain,sebab ia tak tahu harus membalasnya apa,biasanya jika ada seseorang yang menyapanya atau hanya menebarkan senyum sang kakak yang akan membalas sapaannya atau senyumannya itu,tapi sekarang ia harus berpisah dengan kakaknya,ntah sebabnya apa.mungkin jika ia sudah dewasa ia akan memahaminya pikirnya.

Kaki jenjang sang ibu kembali terlihat oleh ujung matanya,ia itu maminya sudah kembali dengan dua buah tiket di tangannya.lihat betapa cantiknya sang ibu berjalan bak model di atas catwalk,matanya terpena kepada wajah tenang sang ibu,hingga tiba tiba "shei pegang kopernya,pegang cardigan mami kuat kuat" perintah sang ibu,dengan segera ia menggerakkan tangan kirinya untuk memegang erat cardigan sang ibu dan tangan kanannya yang memegang kopernya.

Tak lama orang orang mulai berkumpul di sekelilingnya,mengerumuninya.tubuhnya yang kecil tak terlihat bagaikan sebuah kerikil yang di lemparkan ke dalam laut.shei makin menguatkan genggaman tangannya kepada sang ibu,tubuh mungilnya terhimpit oleh kaki kaki orang yang ada di sekitarnya.terdengan suara gemuruh rel yang tergesek sebuah besi,matanya menangkap sebuah kereta api yang tengah melaju ke arahnya dan memberhentikan sebuah gerbong di hadapannya,orang orang kian mendesak tubuhnya tapi karena langkah sang ibu yang otomatis menarik tangannya tersebut ia berhasil masuk ke dalam kereta.

Masih dengan genggamannya pada cardigan sang ibu,ia menelusuri lorong kereta tersebut.mungkin ibunya tengah mencari kursi untuk mereka duduk pikirnya,sampai pada kursi di ujung gerbong,ibunya masuk ke dalam kursi kursi tersebut,dengan sigap shei mengitu ibunya untuk masuk ke dalam celah yang ada akibat dua kursi tersebut,dia menarik kopernya tapi lengan sang ibu menahannya, menutup kebawah gagang kopernya lalu mengangkat nya dan memasukannya ke dalam celah yang ada di atas mereka,hal itu ia lakukan dengan kopernya dan juga tas besarnya.

Ibunya menariknya pelan dan mengisyaratkan nya untuk duduk di terlebih dahulu,shei memutuskan untuk duduk di dekat jendela,ia ingin melihat pemandangan dari dalam kereta pikirnya,namun hasilnya nihil,ia teringat kembali kepada sosok sang kakak yang berada di rumahnya,sekarang kakaknya ini pasti sedang menangisinya,sejak lahir mereka memang tak pernah di pisahkan lama,mungkin mereka berpisah ketika sang kakak pergi untuk sekolah saja.

Suara nyaring itu terdengar di telinga shei,ia bertanya tanya suara apa itu? seperti suara peluit yang dialunkan namun apakah benar itu suara peluit?.ia ingin sekali bertanya pada sang ibu,suara aneh apa itu, tapi melihat wajah sang ibu yang tengah tenggelam di dalam pikirannya ia mengundurkan niatnya.tak mau berpikir panjang ia beranggapan bahwa itu memang suara peluit yang mungkin di mainkan oleh seseorang di gerbong depan sana.

Tak lama terdengar suara berdecit nyaring,suara apa lagi itu pikirnya.diiringi dengan suara itu gerbong yang ia naiki melaju dengan perlahan.pikirannya kembali pada sang kakak,apakah benar kali ini ia akan meninggalkan sang kakak,tanyanya dalam hati.ia ingin melompat keluar dari dalam kereta ini namun melihat kondisi sang ibu ia mengurungkan niatnya.ibunya sedang bersedih,mungkin karna pertengkaran nya dengan sang ayah.apa yang harus ia lakukan agar ibunya kembali seperti semula? menghiburnya? ah bagaimana caranya?ia tak pandai menghibur,jika saja di sampingnya ada sang kakak ia sudah pasti akan meminta bantuan sang kakak untuk membangunnya menghibur sang ibu kembali.

Shei memutuskan untuk mengalihkan pandangannya ke jendela,hanya pepohonan dan yang dapat ia lihat sekarang,ia merebahkan punggung mungilnya di kursi kereta,berharap kantuknya segera datang.sambil terus menghayal bahwa saat ia sampai di rumah sang nenek kakak laki-laki nya itu ada di sana,berharap semua ini hanya tipu daya orang tuanya saja.Dua tangan munggil itu saling berpautan,seolah olah lengan kanan memberi sedikit kekuatan pada lengan kirinya yang sedikit lebam akibat cengkraman sang ayah yang amat kuat.

Ia benar benar bosan,apa yang harus ia lakukan sekarang,kenapa kantuknya tak kunjung datang?,badannya lelah,matanya yang sembab membutuhkan istirahat,tapi dengan menyebalkannya kantuknya tak datang datang.

Matanya menengok kembali pada sang ibu yang ternyata sudah terlelap dalam mimpinya.mungkin ini saatnya untuk dia memberikan istirahat walau hanya memejamkan matanya, perlahan-lahan mata kecil yang semmbab itu menutup,tapi sebenarnya ia tak tertidur, telinganya masih dengan jelas mendengar laju nya kereta yang ia naiki,tapi tak apa mungkin dengan lama lama ia menutup matanya ia akan tertidur.


Kotak Adhikari Asmara

  Bagian 1               “Halo? Apa ada orangkah di sini?”             Aku coba melangkah lebih dekat ke arah pohon itu. Pohon yang cu...