BAB I
1.
IJUL
Kicauan burung di pagi hari yang membuat hangatnya suasana pekarangan rumah. Alarm yang sudah ia setting sejak tadi malam berbunyi tepat pada pukul 06.20. Lagi lagi ia tidak sholat subuh karena bangun kesiangan. Mata tajamnya menuju jam dinding yang terpasang di pojok kanan atas kamarnya, baru ia sadari bahwa hari ini adalah hari Senin yang mana masuk sekolah lebih awal karena adanya upacara pengibaran bendera. Ia langsung bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka yang lusu dan merapihkan rambut yang kusut. Sekitar tujuh menit berlalu, ia keluar dari kamar mandiny dan langsung berganti pakaian seragam putih biru dan atribut yang lengkap. Seusainya ia merapihkan rambut dan seragamnya di depan cermin kamarnya, ia langsung menuju ruang makan yang sudah tersedia beberapa makanan yang dibuat ibunya tadi shubuh. Akan tetapi ia menghiraukan semua makanan yang ada dimeja itu, ia hanya mengambil nasi yang sudah disiapkan ibunya dalam wadah
kecil. Ia langsung menghampiri ibunya yang sedang makan di ruang tv untuk berpamitan pergi kesekolah. Mungkin sebagian orang tua bingung dan khawatir karena anaknya tidak sarapan terlebih dahulu, apalagi dihari senin yang diawali dengan adanya upacara bendera. Tapi berbeda dengan ibu yang satu ini sudah tidak heran lagi jika anaknya tidak sarapan dahulu, karena ibunya tau kebiasaan buruk anaknya yang suka bangun kesiangan dan terlambat masuk ke sekolah. Ia langsung menyalakan mesin motornya dan langsung gaskuyyy. Perjalanan dari rumahnya menuju sekolah membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 20 menit untuk tiba disekolahnya.Jalanan yang sempit dan macet ini membuat dirinya kesal menggerutu dalam hati. Seiring berjalannya kendaraan iapun tiba disekolah pada pukul 06.55. Setibanya di depan pintu gerbang yang panjangnya sekitar 7 meter dan tingginya 10 meter dengan bertuliskan SMP 25 Nuansa Negeri, ternyata gerbangnya sudah ditutup oleh penjaga sekolah. Sudah tak bingung lagi untuk dirinya bisa masuk kesekolah meski waktu sudah menunjukan pukul 06.55. Ia langsung membelokan motornya menuju arah pintu gerbang belakang yang penjagaannya tidak seketat pintu gerbang depan. Sesampainya di depan pintu gerbang yang juga tertutup rapat, ia langsung membuka helmnya dan perlahan turun dari motor nya. Seketika ada suara yang mengagetkan dirinya, dan suara itu datang dari arah belakang. “jull”, itulah suara yang ia dengar. Ya, itu adalah nama panggilan dirinya di Sekolah. Ahmad Julianto Mahardika itulah nama asli dirinya, tapi teman temannya sering memanggil ijul atau jull. Ia langsung berbalik badan dan mendapati teman sejatinya yang bernama Haikal,tapi ia sering memanggilnya memet dan mereka pun saling menyapa:
Ijul : “eh elu met”
Haikal : “ Hallo bro”
Ijul : “Ngapain lu disini?”
Haikal : “ Lah elu ngapain?”
Ijul : “ Biasalah, gua kesiangan”
Haikal : “ Hahaha sama kalo gitu. Terus sekarang kita
mau gimana bro?”
Ijul : “ Lu tenang aja, biar gue yang urus
semuanya.”
Ia
langsung mengampiri pintu gerbang dan mengeluarkan box nasi yng sudah ia bekal
dari rumahnya. Kebetulan satpam nya lewat dan ia langsung membujuk satpam itu
dengan box nasi yang sudah ia keluarkan tadi. Akhirnya satpam itu pun
meloloskan dua siswa ini untuk bisa masuk kesekolah.
Tanpa
menunggu ia langsung meloloskan motornya dan merapihkannya bersama motor-motor
yang lain dilapang parkir begitupun dengan memet. Ia membuka helmnya dan
melepas jaket yang ia kenakan lalu memasukannya kedalam tas. Mungkin berbeda
dengan siswa yang lainnya, saat kesiangan orang orang akan berjalan cepat
bagaikan sedang di kejar oleh anjing, namun tidak baginya ia tetap berjalan
santai bagaikan air mengalir disungai. Ia terus berjalan bersama memet sambil
bercanda ria menyusuri lorong yang amat sepi, tak disangka sangka tepat didepan
ruang BK mereka bertemu dengan Bapak Endang selaku urusan kesiswaan. Kini
mereka ditegur oleh Pak Endang tersebut.
Pak
Endang : “Dari mana kalian?”
Iju : “ Dari rumah” (dengan wajah polos bagaikan tanpa
dosa)
Pak
Endand : “Bagus, jam segini kalian
baru datang. Ini sudah kesekian kalinya kalian telat
apalagi kamu, Julianto. Sekarang kalian
ikut bersama saya ke Ruang Urusan
Kesiswaan.”
Akhirnya
mereka berdua membuntuti Pak Endang menuju Ruang Urusan Kesiswaan. Sesampainya
di ruangan Pak Endang mempersilahkan mereka untuk duduk di bangku yang ada di
hadapannya. Kini mereka bersewajah di ruangan yang sepi dan sejuk. Seketika Pak
Endang langsung mengeluarkan handphone miliknya
dari saku celana, dan langsung menanyakan nomor HP orang tua dari Haikal dan
Julianto. Dengan terpaksa mereka memberikan nomor HP orang tuanya masing
masing. Saat itu juga Pak Endang langsung menghubungi orang tua mereka dengan
nomor HP yang sudah mereka berikan tadi. Pak Endang melaporkan kepada orang tua
Haikal dan Julianto bahwa anaknya sedang ditahan oleh urusan kesiswaan,
dikarenakan mereka sudah melanggar aturan melewati batas kewajaran. Tiba-tiba
hal yang tidak disangka oleh Hikal dan Julio ternyata diakhir pembicaraan, Pak
Endamg langsung memanggil orang tua mereka untuk datang dan menemui urusan
kesiswaan. Mendengar hal tersebut,Julianto menepuk jidatnya sebagai ungkapan
sial dihari Senin. Kurang lebih 30 menit mereka menuggu di ruang urusan
kesiswaan, tibalah orang tua Haikal dan langsung disambut oleh Pak Endang untuk
dipersilahkan duduk disamping Haikal. Tak lama kemudian orang tua dari Julianto
pun tiba, dan disambut juga oleh Pak Edang dan Julianto pun bersalaman dengan
Ibunya. Kini mereka berhadapan langsung dengan orang tuanya. Tanpa basa basi,
Pak Endang lagsung memaparkan apa alasan orang tua dari Julianto dan Haikal
dipanggil secara tiba-tiba. Pak Endang langsung mejelaskan pelanggaran
pelanggaran oleh Julianto dan Haikal. Apalagi mereka sebentar lagi akan
menghadapi Ujian Nasional minggu depan. Maksud dari pembicaraan Pak Endang
kepada orang tua Julianto dan Haikal adalah untuk memohon bimbingannya tehadap
anaknya, agar tidak lagi melakukan pelanggaran pelanggaran disekolah, apalagi
sekarang ini mereka sedang dihadapi dengan try out untuk persiapan Ujian
Nasioal. Selama kurang lebih 15 menit, pembicaraan pun telah selesai. Mereka
dipersilahkan untuk memasuki kelasnya masing masing. Tapi sebelumnya mereka
harus mengambil surat izin dari guru piket agar bisa masuk kedalam kelas
meskipun terlambat. Setibanya di depan pintu kelasnya Haikal dan Ijul mengetuk pintunya
seraya mengucapkan salam kepada semua penghuni kelasnya. Akhirnya ia
dipersilahkan duduk oleh guru yang sedang mengajarnya. 15 menit ia duduk di
bangku kelas dan mendengarkan penjelasan guru, ia merasa bosan dengan
penjelasannya lalau ijul tidur dibangku miliknya. Guru yang sedang mengajarpun
membiarkannya, karena sudah menjadi bagin dari kebiasaan dirinya saat dikelas.
Akhhir akhir ini siswa kelas 9
sedang disibukan oleh berbagai macam belajar tambahan (pemantapan ) menuju
Ujian Nasional Berbasis Komputer. Berbeda dengan Ijul ia terlihat sangat santai
sekali, meskipun teman teman yang
lainnya sibuk mempersiapkan diri untuk UNBK nanti. Kegiatan pemantapan ini,
dilakukan setiap pulang sekolah pada pukul 14.30. Seluruh siswa antusias dan
memanfaat kesempatan pemantapan ini untuk bekal UNBK nanti. Namun berbeda
dengan Ijul, ia lebih memilih bolos pemantapan untuk hang
out bersama teman teman geng
motornya yang bernama salex. Ijul
benar benar tidak peduli dengan ujian ujian yang akan ia hadapi diminggu depan.
Meskipun ia sudah dipanggil berkali kali oleh urusan kesiswaan namun hal itu
tidak membuat dirinya jera. Salex ini
beranggotakan 13 orang yang terdiri dari gabungan siswa siswa kelas 9 yang
sejenis dengan ijul. Mereka sering kali nongkrong di cafe yang tidak jauh dari rumahnya Ijul. Hari demi hari sudah ia
lalui tanpa sekalipun ia menghadiri pemantapan itu. Pada hari Jum’at (H-3
menuju pelaksanaan UNBK) seluruh siswa dan siswi mengambil kartu peserta dan
mendengarkan arahan arahan dari Bapak Kepala Sekolah untuk UNBK nanti. Akan
tetapi ia hanya mengambil kartu peserta saja lalu keluar dari ruangan dan pergi
ke kantin bersama teman teman satu geng nya. Padahal banyak sekali amanat
amanat yang disampaikan oleh kepala sekolah pada saat itu. Tapi Ijul benar
benar tidak peduli akan hal itu. Yang ia pikirkan hanyalah menuruti hawa nafsu dirinya
yang selalu membawa kearah negatif. Seusainya arahan arahan dan amanat dari
bapak dan ibu guru, seluruh siswa keluar
dari ruangan teserbut dan menuju ke pintu gerbang untuk menuju rumahnya masing
masing. Berbeda dengan Ijul, ia lebih memilih bermain bersama teman temannya ke
suatuu tempat. Pada akhirnya ia pulang ke rumahnya pada malam hari dengan rambut kusut dan wajah
yang tampak lesu. Ia langsung pergi ke kamarnya dan membaringkan badannya yang
sudah tak berdaya.
Senin, 7 April 2018 UNBK
dilaksanakan secara serentak. Sama seperti hari hari biasanya, ia selalu datang
terlambat kesekolah. Ketika semua siswa sedang mengerjakan soal selama kurang
lebih 30 menit berlalu, tapi berbeda dengan Ijul . Ia baru saja datang ke
ruangan test dengan wajah santainya. Ia langsung duduk dan mengerjakan butir
butir soal yang ada layar komputer. Teman teman yang lainnya yang berada dalam
satu ruangan dengan dirinya dipenuhui dengan rasa kesal dan lelah akibat dari
soal soal yang keluar dari layar komputer yang membuat mereka harus berfikir
keras. Akan tetapi berbeda dengan Ijul, ia megerjakan soal soal dengan santai
dan tenang bagaikan orang yang sedang menyontek tugas matematika di kelas. Hari
demi hari sudah ia lalui untuk menyelesaikan soal soal UNBK yang ada layar
komputernya. Di hari terakhir pelaksanaan UNBK ia berkumpul bersama geng nya
untuk merayakan bahwa UNBK telah selesai. Meskipun ia belum tahu bagaimana
hasilnya, yang penting mereka merasa sudah selesai proses pembelajaran di SMP
nya. Mereka merencanakan hang out di
suatu tempat yang cukup jauh dari Sekolah. Sekitar 50km dari sekolah untuk bisa
menuju ke tempat hang out yang sudah
mereka rencanakan. Meskipun mereka belum memiliki SIM untuk bisa mengendarai
sepeda motor, namun mereka tidak peduli akan hal itu. Yang mereka pikirkan
hanyalah kesenangan bersama teman teman satu geng. Pada saat itu acara hang out ini diikuti oleh 9 orang,
karena 4 orang lainnya sedang ada kesbibukan masing masing yang benar benar
tidak bisa mereka tinggalkan. Pukul 14.00 mereka berangkat dengan keadaan masih
berpakaian seragam sekolah. Mereka tidak peduli dengan seragam yang sedang ia
pakai. Butuh waktu satu jam untuk mereka bisa sampai ditempat tujuan. Ternyata
yang mereka tuju adalah cafe yang
berada di salah satu dekat pantai. Tempat itu memang cukup ramai dikunjungi
oleh banyak orang untuk hang out.
Setibanya disana mereka langsung memarkirkan motornya dilapang parkir yang
luasnya sekitar 50m2. Seketika parkiran itu dipadati oleh motor geng salex. Mungkin sebagian orang disana
melihat mereka sangat aneh, karena dengan postur tubuh yang tidak terlalu
tinggi dan berpakaian seragam SMP orang lain berpikir bahwa mereka adalah anak
anak yang tidak baik, karena baru anak SMP saja pergaulan mereka sudah seperti
itu, apalagi nanti ketika mereka menginjak dewasa di SMA, bahkan perguruan
tinggi yang akan mereka tuju. Itulah angan angan yang ada dalam hati sebagian
orang oarang yang ad disana.
Waktu sudah menunjukan pukul lima
sore, mereka memutuskan untuk pulang. Berbeda dengan sebelumnya , ketika
berangkat mereka berbarengan di jalan tapi sekarang mereka pulang sesuai dengan
arah rumahnya masing masing. Ijul terus menyusuri jalan yang kian sunyi menuju
petang, disertai dengan air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Ia tak
begitu Jelas memandang jalanan oleh karena itu ia memilih untuk menurunkan
tingkat kecepatannya dari semula. 45 menit ia habiskan diperjalanan menuju
rumahnya.Sesampainya dirumah ia langsung bergegas ke kamar mandi untuk bilas
sekujur badannya dan berganti pakaian. Ketika ia menuju kamarnya ia mendapati
selapis roti berlumur cokelat di meja makan, tanpa basa basi langsung ia lahap.
Ternyata roti tersebut memang diperuntukan untuk dirinya yang sudah ibunya
siapkan beberepa jam yang lalu. Kini ia sudah tidak lapar lagi, dengan selapis
roti ia merasam cukup kenyang. Lalu ia pergi ke kamar untuk beritirahat, karena
dirinya merasa butuh istirahat selepas bermain ke tempat yang cukup menguras
tenaganya.
Keesokan harinya, notif group
whattsap kelas di Hpnya membeludak dengan berbagai macam informasi dari wali
kelasnya. Salah satu informasi yang ia tangkap adalah akan diadakannya
bimbingan walikelas pada hari senin yang akan datang pada pukul 09.30 dikelas
masing masing. Tidak banyak bertanya tanya seperti murid yang lainnya, lalu ia
mengalihkan beranda diHP nya ke salah satu aplikais yang sangat ia gemari. Ya,
selain daripada bermain dan nongkrong bersama teman temannya, ia seringkali
menhabiska waktunya dengan bermain game.Baginya game adalah bagian terpenting
dalam hidupnya. Seringkali ia lupa waktu saat dirinya sedang bermain game. Ntah
apa yang membuat dirinya begitu lengket seakan akan tak bisa lepas dari yang
namanya game. Waktu sudah menunjukan pukul 11.45 yang hanya hanya tinggal
menghitung beberapa menit saja untuk adzan berkumandang. Ibunya mengetuk pintu
kamarnya, dan mengambil Hp yang ada dalam genggamannya, seraya berkata
“sebentar lagi adzan, gih siap siap
untuk pergi ke masjid!” ucap ibu padanya. Tanpa bisa berkutik ia langsung
bergegas mengambil sarung dan peci yang ada di lemarinya lalu pergi ke masjid.
Setibanya disana ia mengambir air wudhu dan memasuki masjid yang sudah terbuka
sebelumnya. Disana ia melihat seseorang yang sedang melaksanakan sholat sunnah
tahiyatul masjid, ternyata dia adalah
seorang ustad yang selalu menjadi imam di masjid tersebut. Selepas beliau salam
saat itu pula jam dinding masjid berbunyi, itu pertanda bahwa saatnya adzan
dzuhur dikumandangkan. Lalu ustad tersebut meminta dirinya untuk
mengumandangkan adzan. Tanpa berpikir lama ia langsung menghampiri mic yang
sudah meyala dan mengumandamgkan adzannya. Memang sudah tidak aneh lagi, Ijul
ini sangat berbakat dalam segi suara, apalagi dalam genre islami. Meski tingkah
laku dan pola pikirnya yang berantakan, tapi tak bisa dipungkiri bahwa dirinya
memang memiliki bakat dalam segi suara, namun tidak ia kembangkan seperti orang
lain diluaran sana. Saat ia duduk dibangku kelas 7 ia pernah mengikuti lomba MTQ tingkat
kecamatan hingga akhirnya ia meraih juara ke-3 di tingkat provinsi. Lima belas
menit berlalu, telah ia tunaikan iabadah sholat dzuhur, dan ia kembali
kerumahnya. Sesampainya dirumah ia mencari handphone miliknya yang tadi sempat
ibunya sita, dan akhirnya ia menemukan HP nya di dekat TV. Tanpa basa basi ia
langsung Hpnya. Setelah ia kembali ke kamarnya ia mengganti pakainnya dan
merapihkan sarungnya. Saat itu ia lebih memilih bermain sosial media, seperti
menonton youtube, stalk ig orang lain dan lain sebagainya.
Senin, 14 April 2020 waktunya jam
bimbingan walikelas khusus untuk siswa dan siswi kelas 9. Bimbingan walikelas
ini digunakan untuk memberi amanat dan arahan arahan yang akan disampaikan oleh
pihak sekolah melalui guru walikelasnya masing masing terkait dengan menjaga
nama baik sekolah, serta himbauan himbauan untuk tidak melakukan kegiatan
kegiatan dengan menggunakan seragam sekolah di luar jam pelajaran. Suasana di
ruangan kelasnya terasa sunyi semua
murid mendengarkan dengan seksama penjelasan yang di sampaikan oleh
walikelasnya. Selain itu walikelas pun meberi tahu bahwa kelulusan akan
diumumkan pada taggal 25 Mei 2020. Hasil kelulusan ini akan disertai dengan
hasil perolehan nilai UNBK (nem) yang
nantinya akan dipergunakan untuk seleksi masuk SMA.Mendengar hal tersebut seabgian
murid merasa terkejut dan khawatir akan perolehan nilai yang merek capai.
Mereka khawatir dengan nilai nem yang
mereka peroleh tidak lolos dalam seleksi masuk SMA yang mereka inginkan. Namun
berebeda halnya dengan Ijul ia benar benar tidak memikirkan hal itu ia sama
sekali tidak peduli akan hal itu karena ia merasa dengan nilai nem yang kecil ia masih bisa sekolah dengan
menggunakan segudang bakat yang sudah ia miliki. Piikirnya, pendidikan hanyalah
sebuah sampingan semata, yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan semata bersama
teman temannya.
Setelah walikelas memberikan arahan
dan amanatnya, lalu dilakukan pendataan siswa dan siswi kelas 9 tentang sekolah
SMA yang mereka tuju. Seluruh siswa dan siswi sangat antusias mengisi
pendaftaran tersebut disertai dengan rasa kebingungan ntah sekolah mana yang
akan mereka tuju untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Walikelas pun mengabsen satu persatu untuk dipanggil kedepan dengan menyetorkan
tujuan sekolah yang akan mereka tuju. Absen 1-7 telah selesai dipanggil oleh
walikelasnya. Kini giliran didirinya untuk maju kedepan. Namun dirinya merasa
bingung dan ia tidak begitu ambisius dalam
hal segi pendidikan. Ketika ia disebut namanya semua murid dikelasnya matanya
tertuju pada sosok laki laki yang ganteng nan kusut seperti anak brandalan ini.
Sebagian anak anak mentertawakan dirinya yang sedang dalam kebingungan.
Terdengar suara dari pojok kanan depan “ ahahahhaah emang ada ya sekolah yang
mau nerima lo? Dah lu rebahan aja dirumah sambil main game, paling nantinya lo
jadi pengangguran, ahahhhahahha”
Suara
itu terlontar dari mulut seorag laki laki yang mukanya pas pasan tapi pintar.
Namun kepintarannya itu tidak membuat pintar dimata Ijul, karena mulutnya yang
brengsek. Laki laki itu bernama Naufal. Ia adalah orang yang pintar
diekalasnya. Hampir seluruh mata peajaran ia kuasai, namun yang membuat Ijul
tidak suka padanya adalah tingkat kesombongan yang ia miliki. Naufal ini
menjabat pula sebagai Ketua Murid dikelasnya. “hanya orang orang bodoh yang
memilih dirinya sebagai Ketua Murid”gumam dalam hatinya ketika suara tadi
terdengar oleh dirinya. Emosinya pun sudah meluap dan tidak bisa dikontrol lagi
oleh dirinya. Dengan hati kesal dan amarah yang sudah memuncak tiba tiba ia
menghampiri Ketua Murid sialan itu dengan melayangkan pukulan yang amat sangat
keras dari tangannya, seraya berkata “ KM brengsek, sini lo kalo berani!.”disana
terjadi sebuah perkelahian yang amat sengit antara Ijul sang ketua geng motor
dan Naufal sang Ketua Murid yang brengsek itu. Seluruh penghuni kelas itu
matanya tertuju pada adegan yang tidak sepantasnya mereka lihat didam
lingkungan sekolah. Walikelas pun merasa kaget, dan langsung menghentikan
peristiwa itu. Anto, Alif, dan Yusril yang sama sama membantu walikelas untuk
memisahkan kedua orang tersebut. Mukanya Naufal mamar berwarna merah akbiat
pukulan demi pukulan yang ijul layangkan untuk dirinya. “untuk semuanya
silahkan istirahat terlebih dahulu, pendataan nanti akan kita lanjut setelah
bel ketiga berbunyi.” Ujar walikels kepada seluruh penghuni didalam ruangan
tersebut. “Termasuk saya pak?” sela Ijul sambil sedikit cengengesan kepada
walikelasnya. “Kalian berdua, Ijul dan Naufal ikut bapak ke Ruang Urusan Kesiswaan.” Mereka
berdua hanya bisa diam dan mengikuti walikelas yang langkah demi langkahnya
menuju Ruang Urusan Kesiswaan. Mereka akan dihadapkan dengan wakasek urusan
kesiswaan yang bernama Pak Rangga. Pak Rangga ini merupakan Wakil Kepala
Sekolah Urusan Kesiswaan yang terkenal akan ketegasan dan kewibawaannya. Tapi
hal itu tidak membuat Ijul merasa takut akan dirinya, ia menanggapinya seperti
sedang berhadapan dengan seekor ular yang masih bisa ditaklukan oleh seorng
pawang yang sudah biasa menaklukan ular ular liar diluaran sana. Namun berbeda
dengan Naufal, ia merasa takut akan sosok Pak Rangga ini. Rasa ketakukannya
terus menghantui dirinya. Ia merasa takut seandainya Pak Rangga ini melakukan sesuatu
yang ia tidak inginkann, seperti Ijazahnya ditahan dan lain sebagainya. Namun
Pak Rangga ini mempunyai kebijakan tertentu, ia masih memaafkan kesalahan
Naufal karena anak ini tidak begitu banyak kesalahan dan pelanggaran, lain
halnya dengan Ijul ia sudah berkali kali membuat keributan kerusuhan di
sekolahnya. “Untuk kamu Nufal, Bapak tidak akan memberikan sanksi yang sama
dengan Ijul, sekarang kalian berdiri di lapang menghadap dalam keadaan hormat
kepada bendera selama 30 menit. Setelah itu urusan kamu Naufa sudah selesai,
tapi untuk kamu Ijul masih masih harus berhadapan dengan saya.” Ujar Pak
Rangga. Pada saaat itu juga, mereka berdua menuruti apa yang sudah
diperintahkan oleh Pak Rangga tadi. Mereka berdua berjalan menuju lapang utama
yang saat ini sedang terik teriknya panas matahari yang terpancar dari arah
timur. Tapi hal itu sudah menjadi bagian dalam hidupnya untuk menerima hukuman
dari sekolah. Satu jam berlalu mereka berdiri tegap dengan posisi hormat
menghadap bendera, Naufal langsung pergi ke kantin menemui teman temannya yang
sudah lama menunggunya. Akan tetapi Ijul masih harus berhadapan dengan urusan
kesiswaan. Selepas dari lapang Ijul langsung menemui kembali Pak Rangga yang
tengah sibuk dengan tugas tugasnya. Kemudian ia dipersilahkan duduk oleh Pak
Rangga diruang tunggu. Sekitar 1 menit Pak Rangga ikut menyusul Ijul untuk
duduk di kursi ruang tunggu. Panjang lebar Pak Rangga berbicara memberikan
amanat dan nasihat kepada diriya, namun tak satupun nasihat itu ia dengar. Ia
sibuk dengan memikirkan rencana nanti sore bersama geng motornya. Akan tetapi
pikiran itu seketika terhenti ketika Pak Rangga berbicara “ Kali ini Ijazah
kamu Bapak tahan sampai waktu yang tidak ditentukan!” Dirinya merasa kaget dan
terkejut ketika Ijazah miiknya akan dithan. Bagaimana ia akan melanjutkan
sekolah ke jenjang yang lebih tinggi jika ijazahnya masih ditahan oleh Pak
Rangga ini. Meskipun ia tidak terlalu peduli dengan pendidikannya, namun hal
itu akan membuat Ibunya merasa kecewa karena sudah membiayai sekolahnya selama
3 tahun lamanya. “Saya mohon jangan tahan Ijazah saya pak, saya rela dihukum
apa saja tapi ijazah saya jangan ditahan pak” jawabnya. “Untuk kali ini bapak
tidak bisa membebaskan kamu seenaknya, liat saja nanti kedepannya”. Tanpa bisa
berkutik lagi Ijul hanya bisa terdiam dan merenung, ia pergi dari ruangan itu
setelah pembicaraan dengan Pak Rangganya selesai. Hari hari telah berlalu
sampai tibalah hari kelulusan untuk seluruh siswa SMP kelas 9 pada masa itu.
Teman temannya sangat antusias dalam pengambilan surat kelulusan itu serta
diselimuti dengan rasa kekhawatiran akan perolehan nilai Ujian Nasionalnya yang
sudah dilaksanakan beberapa minggu sebelumnya. Namun berbeda dengan dirinya,
rasanya tidak karuan antara harus bahagia sekolah SMPnya sudah selesai, khawatir akan Ijazah nya akan terus ditahan .
Seluruh siswa kelas 9 memasuki ruang kelasnya masing masing. Namun saat Ijul
berjalan menuju pintu kelasnya ia mendapat informasi dari temannya, bahwa
dirinya dipanggil oleh Pak Rangga di ruang urusan kesiswaan. Sudah tidak
bingung lagi bagi dirinya, ia menyangka bahwa panggilan itu ada kaitannya
dengan surat kelulusan dirinya. Dengan santainya ia berjalan menuju ruang
urusan kesiswaan. Setibanya didepan ruang urusan kesiswaan ia mendapati Pak
Rangga sedang membereskan beberapa berkas berkas miliknya, ntah berkas apa yang
sedang ia rapihkan. Ia langsung mengetuk pintu yang sudah terbuka lebar, Pak
Rangga pun mempersilahkan ia duduk dihdapannya. Tanpa basa basi Pak Rangga pun
angkat bicara mengenai penahanan Ijazahnya. “ Ini suat kelulusan kamu, tapi
tidak akan saya berikan begitu saja. Anda harus menebus semua kesalahan dan
pelanggaran pelanggaran yang sudah anda lakukan selama 3 tahun lamanya. Anda
harus membereskan buku buku paket di perpustakaan dan mebersihkan ruangannya.
Setelah itu anda bisa menemui saya, untuk mengambil suerat kelulusan ini.”
Ujarnya kepada Ijul. Tanpa banyak berkomentar ia mengangguk tanda ia siap
melakukan semua perintah itu demi surat kelulusannya ia dapatkan. Ia langsung menuju
ruang perpustakaan dan membuat laporan kepada guru di perpustakaan bahwa
dirinya harus membereskan buku dan membersihkan ruangannya sebagaimana perintah
dari urusan kesiswaan. Dengan penuh rasa senang dan gembira pihak perpustakaan
langsung mempersilahkan Ijul ini untuk menunaikan kewajibannya yakni menebus
segala kesalahan kesalahanny. Dengan penuh kekesalan ia pun melaksanakan
perintah Pak Rangga untuk membersihkan ruangan perpustakaan. Dua jam berlalu ia
telah usai melaksanakan tugasnya, namun ia tidak langsung menemui Pak Rangga
sebagaimana yang telah diamanatkan oleh Pak Rangga itu sendiri. Ia lebih
memilih ke kantin untuk sejenak menyandarkan tubuhnya yang lemas karena
energinya cukup terkuras oleh kegiatan tadi.Setelah itu ia langsung menemui Pak
Rangga dan ia mendapati Pak Rangga di Ruang Multimedia yang sedang dipadati
oleh beberapa siswa kelas 8 yang sedang melaksanakan bimbingan untuk olimpiade
beberapa bulan yang akan datang. Dengan wajah polosnya ia langsung mengetuk
pintu seraya berkata “Assalamu’alaikkum,izin untuk bertemu dengan Pak Rangga”
Pak Rangga yang sedang memberikan materi kepada siswanya seketika berhenti
menjelaskan lalu bola mata yang warna coklat itu tertuju pada Ijul yang sedang
berdiri di depan pintu Ruang Multimedia. Melihat sosok laki laki yang berkulit
putih itu Pak Rangga langsung menghampirinya dan tak lupa ia meminta izin
terlebih dahulu kepada murid yng sedang ia ajarnya. Pak Rangga kemudian membawa
Ijul ke Ruang Urusan Kesiswaan. Postur tubuh Pak Rangga memang tinggi hingga ia
melangkahkan kakinya 2 kali lipat dari langkah Ijul, dan hal itu membuat Ijul
harus menambah kecepatan berjalannya. Tidak jauh jarak antara Multi Media
dengan Ruang Urusan Kesiswaan, cukup dengan 25 langkah untuk ukuran kaki Ijul
untuk bisa tiba di Ruangan Urusan Kesiswaan. Setibanya disana ia duduk
berhadapan dengan Pak Rangga sebagaimana posisi duduk tadi pada saat
pembicaraan sebelumnya. “ saya sudah melaksanakan apa yang sudah bapak
perintahkan.” Ucapnya. “Baik, ini surat kelulusan kamu. Meski begitu kamu belum
sepenuhnya bebas dari sekolah ini. Kamu masih membawa nama baik sekolah ini.
Untuk itu bapak titip jaga sikap kamu diluaran sana.”ucap Pak Rangga kepadanya.
Namun Ijul tidak begitu peduli dengan apa yang sudah dikatakan oleh Pak Rangga
ini, yang penting surat kelulusannya sudah berada ditangannya. Selepas
pembicaran dengan Pak Rangga tadi usai, Ijul pun memutuskan untuk pulang lebih
awal. Karena ia merasa badan yang mulus dan halusnya butuh untuk beristirahat
diatas ranjang yang menjadi syurga dunia baginya. Meskipun teman teman yang
lainnya sedang bersenang senang merayakan nilai yang cukup memuaskan, namun
tetap dirinya lebih memilih untuk beristirahat. Teman teman yang lainnya sedang
sibuk memeriksa perolehan nilai Ujian Nasionalnya, karena bagi sebagian orang
itu adalah nyawa dan modal untuk bisa masuk ke SMA favorit yang ditujunya.
Meski begitu sangat berbeda dengan Ijul, ia sama sekali tidak penasaran dengan
hasil perolehan nilainya. Setibanya dirumah ia langsung merebahkan badannya dan
perlahan ia memasuki alam tak sadarnya. Selama kurang lebih 5 jam ia tidur
pulas, ia terbangun dari tidurnya. Ia langsung pergi ke kamar mandi untuk
mebersihkan badan mulusnya akibat bau keringat yang membasahi tubuh dirinya.
Selesai dari kamar mandi, tiba tiba Ibunya menanyakan tentang hasil
kelulusannya. Dengan sikap bodo amatnya, ia langsung mengangkatkan bahunya
tanda ia tidak tahu dengan hasilnya. “Lah ko gak tau??” ucap ibu kepadanya. “
ya aku gak tau mah, dan aku tidak begitu penasaran dengan hasilnya.” Balsanya.
“ dasar, sekarang dimana surat keulusan itu?” tanya ibu kepadanya. “ tuh, ada
diatas meja depan”. Ibunya langsung bergegas menuju surat itu lalu membukanya.
Antara perasaan bahagia dan kecewa ketika Ibunya melihat hasil perolehan nilai
yang sudah ia capai. Bahagia, saat anaknya sudah lulus dari SMP tapu kecewanya
dengan perolehan nilai ia peroleheh diambang kehancuran alias pas pasan.
Menjelang hari perpisahan bersama
teman teman disekolahnya sekaligus membawa Ijazah miliknya, ia menemui Pak
Rangga untuk menanyakan Ijazah miliknya. Keberuntungan pun sedang berpihak
padanya, tiba tiba Pak Rangga ini memberikan Ijazahnya kepada Ijul tanpa ada
syarat apapun. Tak disangka oleh dirinya tiba tiba Pak Rangga memeluk didinya
dengan erat,ntah ap yang sedang Pak Rangga pikirkan. “ Meskipun kamu anak yang
suka membuat masalah, tapi kamu sudah membawa nama baik sekolah kita di tingkat
provinsi dengan prestasi kamu, bapak ucapkan terimakasih. Semoga kamu diterima
di SMA yang kamu inginkan.” Itulah kata kata yang terlontar dari mulut Pak
Rangga yang membuat dirinya tersontak kebingungan. Keesokan harinya adalah hari
perpisahan untuk kelas 9 disebuah gedung. Dan dengan resmi dirinya dinyatakan
sebagai alaumni SMP 25 Nuansa Negeri.
Kini dirinya sudah menjadi alumni
SMP 25 Nuansa Negeri. Tapi dirinya masih merasa bingung akan kelanjutan
pendidikannya. Untuk mengobati kebingungan itu, ia langsung bertanya kepada
teman teman geng motornya tentang sekolah mereka yang akan dituju. Ternyata
teman teman geng motornya lebih banyak memilih SMAN 1 Cianjur sebagai
pendidikan lanjutannya. Dengan begitu ia pun memutuskan untuk bersekolah di
SMAN 1 Cianjur. Namun ia tidak bisa mengikuti seleksi masuk SMAN 1 Cianjur
dengan menggunakan nilai UNBK. Mengingat perolehan nuilainya yang pas pasan.
SMAN 1 Cianjur ini merupakan sekolah favorit yang diburu oleh siswa siswa yang
pintar dan cerdas yang memiliki perolehan nilai yang sangat tinggi. Mungkin
berbeda dengan teman teman geng motornya yang lainnya, yang memperoleh nilai
yang cukup tinggi dibanding dirinya, keberuntungan sedang berpihak kepada teman
teman geng motornya tapi tidak untuk dirinya. Selintas muncul ide yang ada
dipikirannya, yaitu dengan menggunakan jalur prestasi yang sudah ia capai di
SMP sebelumnya yaitu MTQ. Tidak perlu berfikir lama , dirinya langsung
memutuskan untuk mengikuti seleksi jalur prestasi.
Juli 2018 adalah bulan dimana
seluruh siswa siswi yang akan melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih
tinggi, baik dari SD menuju SMP atau bahkan dari SMP menuju SMA. 15 Juli 2018,
SMAN 1 Cianjur membuka pendaftaran untuk siswa siswa kelas 9 SMP yang akan melanjutkan pendidikannya ke
jentang SMA. Pada hari itu Ibunya Ijul sibuk membereskan berkas berkas yang
akan dibutuhkan saat pendaftaran nanti, akan tetapi Ijul tengah bersantai
bermain game dirumah. Pada hari itu ibunya berangkat ke SMAN 1 Cianjur untuk
mendaftarkan anaknya melalui jalur prestasi. Saat itu juga ibunya Ijul sudah
mendapatkan jadwal untuk pelaksaan test nya sekaligus no peserta seleksi untuk
siswa yang memilih seleksi di jalur presatsi. Jadwal tersebut berupaka lembaran
yang sudah di hekter bersama lampiran
atura aturan peserta seleksi. Dengan seksama Ibunya Ijul membaca lembaran
kertas tersebut. Disana tertera bahwa atas nama Ahmad Julianto Mahardika dari
SMP 25 Nuansa Negeri peserta seleksi masuk SMAN 1 Cianjur jalur preatasi bidang
lomba MTQ dengan no peserta 015 akan melaksanakan test pada tanggal 17 Juli
2018 di Masjid Al-Ma’wa pada pukul 09.15. Selepas mendapat surat untuk seleksi
Ibunya pulang dan memberitahu kepada Ijul bahwa dirinya akan ditest pada
tanggal 17 Juli 2018.
17 Juli 2018, ia berangkat dari
rumah menuju tempat test yakni Majid Al-Ma’wa yang ada di SMAN 1Cianjur bersama
ibunya menggunakan mobil hitamnya. Setibanya disana ia langsung menuju lokasi
tets. Selama perjalanan dari lapang parkir menuju Masjid banyak orang yang
terkesima dengan penampilannya. Ia berpakaian jas dan bersarung putih layaknya
seorang pendakwah yang akan mengaji di suatu acara. Selama 2 jam ia menunggu
giliran untuk di test, kinin giliran dirinya untuk melantunjan ayat ayat
Al-Qur’an dengan suara emasnya. Sungguh semua juri pun terkesima dengan
penampilan satu peserta ini. Selesai test ia langsung pulang bersama ibunya.
Tinggal menunggu hasil kelulusan yang akan diumumkan pada tanggal 19 Juli 2018.
Dua hari berlalu, kini adalah hari
kelulusan untuk dirinya dalam seleksi masuk SMAN 1 Cianjur dengan menggunakan
jalur prestasi. Sesuai surat edaran yang sudah diberikan bahwa pengumuman
kelulusan akan dilaksanakan pada pukul 09.00 di Aula SMAN 1 Cianjur. Pada hari
itu, Ijul memilih untuk diam dirumah dengan asik bermain game, ketimbang harus
berangkat ke sekolah hanya untuk mengambil surat kelulusan. Akhirnya Ibu Ijul
berangkat seorang diri untuk mengambil hasilnya. Tiba disana ia langsung
memasuki Aula dan duduk dikursi yang kosong sambil menunggu giliran untuk
emngambil hasilnya. Saat no peserta 015
Atas nama Julio ibunya Ijul pun melangkahkan kakinya untuk maju kedepan untuk
mengambil hasilnya. Ternyata hasilnya dalam surat itu tertera PESERTA 015 DINYATAKAN LULUS DAN DITERMIA DI
SMAN 1 CAINJUR. Pada hari itu juga Ahmad
Julianto Mahardika sudah dinyatakan sebagai siswa SMAN 1 Cianjur.
No comments:
Post a Comment