Monday, September 21, 2020

Tempat Pulang

 

BAB I

1. IJUL

            Kicauan burung di pagi hari yang membuat hangatnya suasana pekarangan rumah. Alarm yang sudah ia setting sejak tadi malam berbunyi tepat pada pukul 06.20. Lagi lagi ia tidak sholat subuh karena bangun kesiangan. Mata tajamnya menuju jam dinding yang terpasang di pojok kanan atas kamarnya, baru ia sadari bahwa hari ini adalah hari Senin yang mana masuk sekolah lebih awal karena adanya upacara pengibaran bendera. Ia langsung bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka yang lusu dan merapihkan rambut yang kusut. Sekitar tujuh menit berlalu, ia keluar dari kamar mandiny dan langsung berganti pakaian seragam putih biru dan atribut yang lengkap. Seusainya ia merapihkan rambut dan seragamnya di depan cermin kamarnya, ia langsung menuju ruang makan yang sudah tersedia beberapa makanan yang dibuat ibunya tadi shubuh. Akan tetapi ia menghiraukan semua makanan yang ada dimeja itu, ia hanya mengambil nasi yang sudah disiapkan ibunya dalam wadah 

kecil. Ia langsung menghampiri ibunya yang sedang makan di ruang tv untuk berpamitan pergi kesekolah. Mungkin sebagian orang tua bingung dan khawatir karena anaknya tidak sarapan terlebih dahulu, apalagi dihari senin yang diawali dengan adanya upacara bendera. Tapi berbeda dengan ibu yang satu ini sudah tidak heran lagi jika anaknya tidak sarapan dahulu, karena ibunya tau kebiasaan buruk anaknya yang suka bangun kesiangan dan terlambat masuk ke sekolah. Ia langsung menyalakan mesin motornya dan langsung gaskuyyy. Perjalanan dari rumahnya menuju sekolah membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 20 menit untuk tiba disekolahnya.Jalanan yang sempit dan macet ini membuat dirinya kesal menggerutu dalam hati. Seiring berjalannya kendaraan iapun tiba disekolah pada pukul 06.55.  Setibanya di depan pintu gerbang yang panjangnya sekitar 7 meter dan tingginya 10 meter dengan bertuliskan SMP 25 Nuansa Negeri, ternyata gerbangnya sudah ditutup oleh penjaga sekolah. Sudah tak bingung lagi untuk dirinya bisa masuk kesekolah meski waktu sudah menunjukan pukul 06.55. Ia langsung membelokan motornya menuju arah pintu gerbang belakang yang penjagaannya tidak seketat pintu gerbang depan. Sesampainya di depan pintu gerbang yang juga tertutup rapat, ia langsung membuka helmnya dan perlahan turun dari motor nya. Seketika ada suara yang mengagetkan dirinya, dan suara itu datang dari arah belakang. “jull”, itulah suara yang ia dengar. Ya, itu adalah nama panggilan dirinya di Sekolah. Ahmad Julianto Mahardika itulah nama asli dirinya, tapi teman temannya sering memanggil ijul atau jull. Ia langsung berbalik badan dan mendapati teman sejatinya yang bernama Haikal,tapi ia sering memanggilnya memet dan mereka pun saling menyapa:

Ijul       : “eh elu met”

Haikal  : “ Hallo bro”

Ijul       : “Ngapain lu disini?”

Haikal  : “ Lah elu ngapain?”

Ijul       : “ Biasalah, gua kesiangan”

Haikal  : “ Hahaha sama kalo gitu. Terus sekarang kita mau gimana bro?”

Ijul       : “ Lu tenang aja, biar gue yang urus semuanya.”

Ia langsung mengampiri pintu gerbang dan mengeluarkan box nasi yng sudah ia bekal dari rumahnya. Kebetulan satpam nya lewat dan ia langsung membujuk satpam itu dengan box nasi yang sudah ia keluarkan tadi. Akhirnya satpam itu pun meloloskan dua siswa ini untuk bisa masuk kesekolah.

Tanpa menunggu ia langsung meloloskan motornya dan merapihkannya bersama motor-motor yang lain dilapang parkir begitupun dengan memet. Ia membuka helmnya dan melepas jaket yang ia kenakan lalu memasukannya kedalam tas. Mungkin berbeda dengan siswa yang lainnya, saat kesiangan orang orang akan berjalan cepat bagaikan sedang di kejar oleh anjing, namun tidak baginya ia tetap berjalan santai bagaikan air mengalir disungai. Ia terus berjalan bersama memet sambil bercanda ria menyusuri lorong yang amat sepi, tak disangka sangka tepat didepan ruang BK mereka bertemu dengan Bapak Endang selaku urusan kesiswaan. Kini mereka ditegur  oleh Pak Endang tersebut.

Pak Endang      : “Dari mana kalian?”

Iju                    : “ Dari rumah”            (dengan wajah polos bagaikan tanpa dosa)

Pak Endand     : “Bagus, jam segini kalian baru datang. Ini sudah kesekian kalinya kalian telat

                            apalagi kamu, Julianto. Sekarang kalian ikut bersama saya ke Ruang Urusan

                            Kesiswaan.”

Akhirnya mereka berdua membuntuti Pak Endang menuju Ruang Urusan Kesiswaan. Sesampainya di ruangan Pak Endang mempersilahkan mereka untuk duduk di bangku yang ada di hadapannya. Kini mereka bersewajah di ruangan yang sepi dan sejuk. Seketika Pak Endang langsung mengeluarkan handphone miliknya dari saku celana, dan langsung menanyakan nomor HP orang tua dari Haikal dan Julianto. Dengan terpaksa mereka memberikan nomor HP orang tuanya masing masing. Saat itu juga Pak Endang langsung menghubungi orang tua mereka dengan nomor HP yang sudah mereka berikan tadi. Pak Endang melaporkan kepada orang tua Haikal dan Julianto bahwa anaknya sedang ditahan oleh urusan kesiswaan, dikarenakan mereka sudah melanggar aturan melewati batas kewajaran. Tiba-tiba hal yang tidak disangka oleh Hikal dan Julio ternyata diakhir pembicaraan, Pak Endamg langsung memanggil orang tua mereka untuk datang dan menemui urusan kesiswaan. Mendengar hal tersebut,Julianto menepuk jidatnya sebagai ungkapan sial dihari Senin. Kurang lebih 30 menit mereka menuggu di ruang urusan kesiswaan, tibalah orang tua Haikal dan langsung disambut oleh Pak Endang untuk dipersilahkan duduk disamping Haikal. Tak lama kemudian orang tua dari Julianto pun tiba, dan disambut juga oleh Pak Edang dan Julianto pun bersalaman dengan Ibunya. Kini mereka berhadapan langsung dengan orang tuanya. Tanpa basa basi, Pak Endang lagsung memaparkan apa alasan orang tua dari Julianto dan Haikal dipanggil secara tiba-tiba. Pak Endang langsung mejelaskan pelanggaran pelanggaran oleh Julianto dan Haikal. Apalagi mereka sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional minggu depan. Maksud dari pembicaraan Pak Endang kepada orang tua Julianto dan Haikal adalah untuk memohon bimbingannya tehadap anaknya, agar tidak lagi melakukan pelanggaran pelanggaran disekolah, apalagi sekarang ini mereka sedang dihadapi dengan try out untuk persiapan Ujian Nasioal. Selama kurang lebih 15 menit, pembicaraan pun telah selesai. Mereka dipersilahkan untuk memasuki kelasnya masing masing. Tapi sebelumnya mereka harus mengambil surat izin dari guru piket agar bisa masuk kedalam kelas meskipun terlambat. Setibanya di depan pintu kelasnya Haikal dan Ijul mengetuk pintunya seraya mengucapkan salam kepada semua penghuni kelasnya. Akhirnya ia dipersilahkan duduk oleh guru yang sedang mengajarnya. 15 menit ia duduk di bangku kelas dan mendengarkan penjelasan guru, ia merasa bosan dengan penjelasannya lalau ijul tidur dibangku miliknya. Guru yang sedang mengajarpun membiarkannya, karena sudah menjadi bagin dari kebiasaan dirinya saat dikelas.

            Akhhir akhir ini siswa kelas 9 sedang disibukan oleh berbagai macam belajar tambahan (pemantapan ) menuju Ujian Nasional Berbasis Komputer. Berbeda dengan Ijul ia terlihat sangat santai sekali, meskipun  teman teman yang lainnya sibuk mempersiapkan diri untuk UNBK nanti. Kegiatan pemantapan ini, dilakukan setiap pulang sekolah pada pukul 14.30. Seluruh siswa antusias dan memanfaat kesempatan pemantapan ini untuk bekal UNBK nanti. Namun berbeda dengan Ijul, ia lebih memilih bolos pemantapan untuk  hang out  bersama teman teman geng motornya yang bernama salex. Ijul benar benar tidak peduli dengan ujian ujian yang akan ia hadapi diminggu depan. Meskipun ia sudah dipanggil berkali kali oleh urusan kesiswaan namun hal itu tidak membuat dirinya jera. Salex ini beranggotakan 13 orang yang terdiri dari gabungan siswa siswa kelas 9 yang sejenis dengan ijul. Mereka sering kali nongkrong di cafe yang tidak jauh dari rumahnya Ijul. Hari demi hari sudah ia lalui tanpa sekalipun ia menghadiri pemantapan itu. Pada hari Jum’at (H-3 menuju pelaksanaan UNBK) seluruh siswa dan siswi mengambil kartu peserta dan mendengarkan arahan arahan dari Bapak Kepala Sekolah untuk UNBK nanti. Akan tetapi ia hanya mengambil kartu peserta saja lalu keluar dari ruangan dan pergi ke kantin bersama teman teman satu geng nya. Padahal banyak sekali amanat amanat yang disampaikan oleh kepala sekolah pada saat itu. Tapi Ijul benar benar tidak peduli akan hal itu. Yang ia pikirkan hanyalah menuruti hawa nafsu dirinya yang selalu membawa kearah negatif. Seusainya arahan arahan dan amanat dari bapak dan  ibu guru, seluruh siswa keluar dari ruangan teserbut dan menuju ke pintu gerbang untuk menuju rumahnya masing masing. Berbeda dengan Ijul, ia lebih memilih bermain bersama teman temannya ke suatuu tempat. Pada akhirnya ia pulang ke rumahnya  pada malam hari dengan rambut kusut dan wajah yang tampak lesu. Ia langsung pergi ke kamarnya dan membaringkan badannya yang sudah tak berdaya.

            Senin, 7 April 2018 UNBK dilaksanakan secara serentak. Sama seperti hari hari biasanya, ia selalu datang terlambat kesekolah. Ketika semua siswa sedang mengerjakan soal selama kurang lebih 30 menit berlalu, tapi berbeda dengan Ijul . Ia baru saja datang ke ruangan test dengan wajah santainya. Ia langsung duduk dan mengerjakan butir butir soal yang ada layar komputer. Teman teman yang lainnya yang berada dalam satu ruangan dengan dirinya dipenuhui dengan rasa kesal dan lelah akibat dari soal soal yang keluar dari layar komputer yang membuat mereka harus berfikir keras. Akan tetapi berbeda dengan Ijul, ia megerjakan soal soal dengan santai dan tenang bagaikan orang yang sedang menyontek tugas matematika di kelas. Hari demi hari sudah ia lalui untuk menyelesaikan soal soal UNBK yang ada layar komputernya. Di hari terakhir pelaksanaan UNBK ia berkumpul bersama geng nya untuk merayakan bahwa UNBK telah selesai. Meskipun ia belum tahu bagaimana hasilnya, yang penting mereka merasa sudah selesai proses pembelajaran di SMP nya. Mereka merencanakan hang out di suatu tempat yang cukup jauh dari Sekolah. Sekitar 50km dari sekolah untuk bisa menuju ke tempat hang out yang sudah mereka rencanakan. Meskipun mereka belum memiliki SIM untuk bisa mengendarai sepeda motor, namun mereka tidak peduli akan hal itu. Yang mereka pikirkan hanyalah kesenangan bersama teman teman satu geng. Pada saat itu acara hang out ini diikuti oleh 9 orang, karena 4 orang lainnya sedang ada kesbibukan masing masing yang benar benar tidak bisa mereka tinggalkan. Pukul 14.00 mereka berangkat dengan keadaan masih berpakaian seragam sekolah. Mereka tidak peduli dengan seragam yang sedang ia pakai. Butuh waktu satu jam untuk mereka bisa sampai ditempat tujuan. Ternyata yang mereka tuju adalah cafe yang berada di salah satu dekat pantai. Tempat itu memang cukup ramai dikunjungi oleh banyak orang untuk hang out. Setibanya disana mereka langsung memarkirkan motornya dilapang parkir yang luasnya sekitar 50m2. Seketika parkiran itu dipadati oleh motor geng salex. Mungkin sebagian orang disana melihat mereka sangat aneh, karena dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi dan berpakaian seragam SMP orang lain berpikir bahwa mereka adalah anak anak yang tidak baik, karena baru anak SMP saja pergaulan mereka sudah seperti itu, apalagi nanti ketika mereka menginjak dewasa di SMA, bahkan perguruan tinggi yang akan mereka tuju. Itulah angan angan yang ada dalam hati sebagian orang oarang yang ad disana.

            Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, mereka memutuskan untuk pulang. Berbeda dengan sebelumnya , ketika berangkat mereka berbarengan di jalan tapi sekarang mereka pulang sesuai dengan arah rumahnya masing masing. Ijul terus menyusuri jalan yang kian sunyi menuju petang, disertai dengan air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Ia tak begitu Jelas memandang jalanan oleh karena itu ia memilih untuk menurunkan tingkat kecepatannya dari semula. 45 menit ia habiskan diperjalanan menuju rumahnya.Sesampainya dirumah ia langsung bergegas ke kamar mandi untuk bilas sekujur badannya dan berganti pakaian. Ketika ia menuju kamarnya ia mendapati selapis roti berlumur cokelat di meja makan, tanpa basa basi langsung ia lahap. Ternyata roti tersebut memang diperuntukan untuk dirinya yang sudah ibunya siapkan beberepa jam yang lalu. Kini ia sudah tidak lapar lagi, dengan selapis roti ia merasam cukup kenyang. Lalu ia pergi ke kamar untuk beritirahat, karena dirinya merasa butuh istirahat selepas bermain ke tempat yang cukup menguras tenaganya.

            Keesokan harinya, notif group whattsap kelas di Hpnya membeludak dengan berbagai macam informasi dari wali kelasnya. Salah satu informasi yang ia tangkap adalah akan diadakannya bimbingan walikelas pada hari senin yang akan datang pada pukul 09.30 dikelas masing masing. Tidak banyak bertanya tanya seperti murid yang lainnya, lalu ia mengalihkan beranda diHP nya ke salah satu aplikais yang sangat ia gemari. Ya, selain daripada bermain dan nongkrong bersama teman temannya, ia seringkali menhabiska waktunya dengan bermain game.Baginya game adalah bagian terpenting dalam hidupnya. Seringkali ia lupa waktu saat dirinya sedang bermain game. Ntah apa yang membuat dirinya begitu lengket seakan akan tak bisa lepas dari yang namanya game. Waktu sudah menunjukan pukul 11.45 yang hanya hanya tinggal menghitung beberapa menit saja untuk adzan berkumandang. Ibunya mengetuk pintu kamarnya, dan mengambil Hp yang ada dalam genggamannya, seraya berkata “sebentar lagi adzan, gih  siap siap untuk pergi ke masjid!” ucap ibu padanya. Tanpa bisa berkutik ia langsung bergegas mengambil sarung dan peci yang ada di lemarinya lalu pergi ke masjid. Setibanya disana ia mengambir air wudhu dan memasuki masjid yang sudah terbuka sebelumnya. Disana ia melihat seseorang yang sedang melaksanakan sholat sunnah tahiyatul masjid, ternyata  dia adalah seorang ustad yang selalu menjadi imam di masjid tersebut. Selepas beliau salam saat itu pula jam dinding masjid berbunyi, itu pertanda bahwa saatnya adzan dzuhur dikumandangkan. Lalu ustad tersebut meminta dirinya untuk mengumandangkan adzan. Tanpa berpikir lama ia langsung menghampiri mic yang sudah meyala dan mengumandamgkan adzannya. Memang sudah tidak aneh lagi, Ijul ini sangat berbakat dalam segi suara, apalagi dalam genre islami. Meski tingkah laku dan pola pikirnya yang berantakan, tapi tak bisa dipungkiri bahwa dirinya memang memiliki bakat dalam segi suara, namun tidak ia kembangkan seperti orang lain diluaran sana. Saat ia duduk dibangku kelas  7 ia pernah mengikuti lomba MTQ tingkat kecamatan hingga akhirnya ia meraih juara ke-3 di tingkat provinsi. Lima belas menit berlalu, telah ia tunaikan iabadah sholat dzuhur, dan ia kembali kerumahnya. Sesampainya dirumah ia mencari handphone miliknya yang tadi sempat ibunya sita, dan akhirnya ia menemukan HP nya di dekat TV. Tanpa basa basi ia langsung Hpnya. Setelah ia kembali ke kamarnya ia mengganti pakainnya dan merapihkan sarungnya. Saat itu ia lebih memilih bermain sosial media, seperti menonton youtube, stalk ig orang lain dan lain sebagainya.

            Senin, 14 April 2020 waktunya jam bimbingan walikelas khusus untuk siswa dan siswi kelas 9. Bimbingan walikelas ini digunakan untuk memberi amanat dan arahan arahan yang akan disampaikan oleh pihak sekolah melalui guru walikelasnya masing masing terkait dengan menjaga nama baik sekolah, serta himbauan himbauan untuk tidak melakukan kegiatan kegiatan dengan menggunakan seragam sekolah di luar jam pelajaran. Suasana di ruangan  kelasnya terasa sunyi semua murid mendengarkan dengan seksama penjelasan yang di sampaikan oleh walikelasnya. Selain itu walikelas pun meberi tahu bahwa kelulusan akan diumumkan pada taggal 25 Mei 2020. Hasil kelulusan ini akan disertai dengan hasil perolehan nilai UNBK (nem) yang nantinya akan dipergunakan untuk seleksi masuk SMA.Mendengar hal tersebut seabgian murid merasa terkejut dan khawatir akan perolehan nilai yang merek capai. Mereka khawatir dengan nilai nem yang mereka peroleh tidak lolos dalam seleksi masuk SMA yang mereka inginkan. Namun berebeda halnya dengan Ijul ia benar benar tidak memikirkan hal itu ia sama sekali tidak peduli akan hal itu karena ia merasa dengan nilai nem  yang kecil ia masih bisa sekolah dengan menggunakan segudang bakat yang sudah ia miliki. Piikirnya, pendidikan hanyalah sebuah sampingan semata, yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan semata bersama teman temannya.

            Setelah walikelas memberikan arahan dan amanatnya, lalu dilakukan pendataan siswa dan siswi kelas 9 tentang sekolah SMA yang mereka tuju. Seluruh siswa dan siswi sangat antusias mengisi pendaftaran tersebut disertai dengan rasa kebingungan ntah sekolah mana yang akan mereka tuju untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Walikelas pun mengabsen satu persatu untuk dipanggil kedepan dengan menyetorkan tujuan sekolah yang akan mereka tuju. Absen 1-7 telah selesai dipanggil oleh walikelasnya. Kini giliran didirinya untuk maju kedepan. Namun dirinya merasa bingung dan ia tidak begitu ambisius dalam hal segi pendidikan. Ketika ia disebut namanya semua murid dikelasnya matanya tertuju pada sosok laki laki yang ganteng nan kusut seperti anak brandalan ini. Sebagian anak anak mentertawakan dirinya yang sedang dalam kebingungan. Terdengar suara dari pojok kanan depan “ ahahahhaah emang ada ya sekolah yang mau nerima lo? Dah lu rebahan aja dirumah sambil main game, paling nantinya lo jadi pengangguran, ahahhhahahha”

Suara itu terlontar dari mulut seorag laki laki yang mukanya pas pasan tapi pintar. Namun kepintarannya itu tidak membuat pintar dimata Ijul, karena mulutnya yang brengsek. Laki laki itu bernama Naufal. Ia adalah orang yang pintar diekalasnya. Hampir seluruh mata peajaran ia kuasai, namun yang membuat Ijul tidak suka padanya adalah tingkat kesombongan yang ia miliki. Naufal ini menjabat pula sebagai Ketua Murid dikelasnya. “hanya orang orang bodoh yang memilih dirinya sebagai Ketua Murid”gumam dalam hatinya ketika suara tadi terdengar oleh dirinya. Emosinya pun sudah meluap dan tidak bisa dikontrol lagi oleh dirinya. Dengan hati kesal dan amarah yang sudah memuncak tiba tiba ia menghampiri Ketua Murid sialan itu dengan melayangkan pukulan yang amat sangat keras dari tangannya, seraya berkata “ KM brengsek, sini lo kalo berani!.”disana terjadi sebuah perkelahian yang amat sengit antara Ijul sang ketua geng motor dan Naufal sang Ketua Murid yang brengsek itu. Seluruh penghuni kelas itu matanya tertuju pada adegan yang tidak sepantasnya mereka lihat didam lingkungan sekolah. Walikelas pun merasa kaget, dan langsung menghentikan peristiwa itu. Anto, Alif, dan Yusril yang sama sama membantu walikelas untuk memisahkan kedua orang tersebut. Mukanya Naufal mamar berwarna merah akbiat pukulan demi pukulan yang ijul layangkan untuk dirinya. “untuk semuanya silahkan istirahat terlebih dahulu, pendataan nanti akan kita lanjut setelah bel ketiga berbunyi.” Ujar walikels kepada seluruh penghuni didalam ruangan tersebut. “Termasuk saya pak?” sela Ijul sambil sedikit cengengesan kepada walikelasnya. “Kalian berdua, Ijul dan Naufal ikut  bapak ke Ruang Urusan Kesiswaan.” Mereka berdua hanya bisa diam dan mengikuti walikelas yang langkah demi langkahnya menuju Ruang Urusan Kesiswaan. Mereka akan dihadapkan dengan wakasek urusan kesiswaan yang bernama Pak Rangga. Pak Rangga ini merupakan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan yang terkenal akan ketegasan dan kewibawaannya. Tapi hal itu tidak membuat Ijul merasa takut akan dirinya, ia menanggapinya seperti sedang berhadapan dengan seekor ular yang masih bisa ditaklukan oleh seorng pawang yang sudah biasa menaklukan ular ular liar diluaran sana. Namun berbeda dengan Naufal, ia merasa takut akan sosok Pak Rangga ini. Rasa ketakukannya terus menghantui dirinya. Ia merasa takut seandainya Pak Rangga ini melakukan sesuatu yang ia tidak inginkann, seperti Ijazahnya ditahan dan lain sebagainya. Namun Pak Rangga ini mempunyai kebijakan tertentu, ia masih memaafkan kesalahan Naufal karena anak ini tidak begitu banyak kesalahan dan pelanggaran, lain halnya dengan Ijul ia sudah berkali kali membuat keributan kerusuhan di sekolahnya. “Untuk kamu Nufal, Bapak tidak akan memberikan sanksi yang sama dengan Ijul, sekarang kalian berdiri di lapang menghadap dalam keadaan hormat kepada bendera selama 30 menit. Setelah itu urusan kamu Naufa sudah selesai, tapi untuk kamu Ijul masih masih harus berhadapan dengan saya.” Ujar Pak Rangga. Pada saaat itu juga, mereka berdua menuruti apa yang sudah diperintahkan oleh Pak Rangga tadi. Mereka berdua berjalan menuju lapang utama yang saat ini sedang terik teriknya panas matahari yang terpancar dari arah timur. Tapi hal itu sudah menjadi bagian dalam hidupnya untuk menerima hukuman dari sekolah. Satu jam berlalu mereka berdiri tegap dengan posisi hormat menghadap bendera, Naufal langsung pergi ke kantin menemui teman temannya yang sudah lama menunggunya. Akan tetapi Ijul masih harus berhadapan dengan urusan kesiswaan. Selepas dari lapang Ijul langsung menemui kembali Pak Rangga yang tengah sibuk dengan tugas tugasnya. Kemudian ia dipersilahkan duduk oleh Pak Rangga diruang tunggu. Sekitar 1 menit Pak Rangga ikut menyusul Ijul untuk duduk di kursi ruang tunggu. Panjang lebar Pak Rangga berbicara memberikan amanat dan nasihat kepada diriya, namun tak satupun nasihat itu ia dengar. Ia sibuk dengan memikirkan rencana nanti sore bersama geng motornya. Akan tetapi pikiran itu seketika terhenti ketika Pak Rangga berbicara “ Kali ini Ijazah kamu Bapak tahan sampai waktu yang tidak ditentukan!” Dirinya merasa kaget dan terkejut ketika Ijazah miiknya akan dithan. Bagaimana ia akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi jika ijazahnya masih ditahan oleh Pak Rangga ini. Meskipun ia tidak terlalu peduli dengan pendidikannya, namun hal itu akan membuat Ibunya merasa kecewa karena sudah membiayai sekolahnya selama 3 tahun lamanya. “Saya mohon jangan tahan Ijazah saya pak, saya rela dihukum apa saja tapi ijazah saya jangan ditahan pak” jawabnya. “Untuk kali ini bapak tidak bisa membebaskan kamu seenaknya, liat saja nanti kedepannya”. Tanpa bisa berkutik lagi Ijul hanya bisa terdiam dan merenung, ia pergi dari ruangan itu setelah pembicaraan dengan Pak Rangganya selesai. Hari hari telah berlalu sampai tibalah hari kelulusan untuk seluruh siswa SMP kelas 9 pada masa itu. Teman temannya sangat antusias dalam pengambilan surat kelulusan itu serta diselimuti dengan rasa kekhawatiran akan perolehan nilai Ujian Nasionalnya yang sudah dilaksanakan beberapa minggu sebelumnya. Namun berbeda dengan dirinya, rasanya tidak karuan antara harus bahagia sekolah SMPnya sudah selesai,  khawatir akan Ijazah nya akan terus ditahan . Seluruh siswa kelas 9 memasuki ruang kelasnya masing masing. Namun saat Ijul berjalan menuju pintu kelasnya ia mendapat informasi dari temannya, bahwa dirinya dipanggil oleh Pak Rangga di ruang urusan kesiswaan. Sudah tidak bingung lagi bagi dirinya, ia menyangka bahwa panggilan itu ada kaitannya dengan surat kelulusan dirinya. Dengan santainya ia berjalan menuju ruang urusan kesiswaan. Setibanya didepan ruang urusan kesiswaan ia mendapati Pak Rangga sedang membereskan beberapa berkas berkas miliknya, ntah berkas apa yang sedang ia rapihkan. Ia langsung mengetuk pintu yang sudah terbuka lebar, Pak Rangga pun mempersilahkan ia duduk dihdapannya. Tanpa basa basi Pak Rangga pun angkat bicara mengenai penahanan Ijazahnya. “ Ini suat kelulusan kamu, tapi tidak akan saya berikan begitu saja. Anda harus menebus semua kesalahan dan pelanggaran pelanggaran yang sudah anda lakukan selama 3 tahun lamanya. Anda harus membereskan buku buku paket di perpustakaan dan mebersihkan ruangannya. Setelah itu anda bisa menemui saya, untuk mengambil suerat kelulusan ini.” Ujarnya kepada Ijul. Tanpa banyak berkomentar ia mengangguk tanda ia siap melakukan semua perintah itu demi surat kelulusannya ia dapatkan. Ia langsung menuju ruang perpustakaan dan membuat laporan kepada guru di perpustakaan bahwa dirinya harus membereskan buku dan membersihkan ruangannya sebagaimana perintah dari urusan kesiswaan. Dengan penuh rasa senang dan gembira pihak perpustakaan langsung mempersilahkan Ijul ini untuk menunaikan kewajibannya yakni menebus segala kesalahan kesalahanny. Dengan penuh kekesalan ia pun melaksanakan perintah Pak Rangga untuk membersihkan ruangan perpustakaan. Dua jam berlalu ia telah usai melaksanakan tugasnya, namun ia tidak langsung menemui Pak Rangga sebagaimana yang telah diamanatkan oleh Pak Rangga itu sendiri. Ia lebih memilih ke kantin untuk sejenak menyandarkan tubuhnya yang lemas karena energinya cukup terkuras oleh kegiatan tadi.Setelah itu ia langsung menemui Pak Rangga dan ia mendapati Pak Rangga di Ruang Multimedia yang sedang dipadati oleh beberapa siswa kelas 8 yang sedang melaksanakan bimbingan untuk olimpiade beberapa bulan yang akan datang. Dengan wajah polosnya ia langsung mengetuk pintu seraya berkata “Assalamu’alaikkum,izin untuk bertemu dengan Pak Rangga” Pak Rangga yang sedang memberikan materi kepada siswanya seketika berhenti menjelaskan lalu bola mata yang warna coklat itu tertuju pada Ijul yang sedang berdiri di depan pintu Ruang Multimedia. Melihat sosok laki laki yang berkulit putih itu Pak Rangga langsung menghampirinya dan tak lupa ia meminta izin terlebih dahulu kepada murid yng sedang ia ajarnya. Pak Rangga kemudian membawa Ijul ke Ruang Urusan Kesiswaan. Postur tubuh Pak Rangga memang tinggi hingga ia melangkahkan kakinya 2 kali lipat dari langkah Ijul, dan hal itu membuat Ijul harus menambah kecepatan berjalannya. Tidak jauh jarak antara Multi Media dengan Ruang Urusan Kesiswaan, cukup dengan 25 langkah untuk ukuran kaki Ijul untuk bisa tiba di Ruangan Urusan Kesiswaan. Setibanya disana ia duduk berhadapan dengan Pak Rangga sebagaimana posisi duduk tadi pada saat pembicaraan sebelumnya. “ saya sudah melaksanakan apa yang sudah bapak perintahkan.” Ucapnya. “Baik, ini surat kelulusan kamu. Meski begitu kamu belum sepenuhnya bebas dari sekolah ini. Kamu masih membawa nama baik sekolah ini. Untuk itu bapak titip jaga sikap kamu diluaran sana.”ucap Pak Rangga kepadanya. Namun Ijul tidak begitu peduli dengan apa yang sudah dikatakan oleh Pak Rangga ini, yang penting surat kelulusannya sudah berada ditangannya. Selepas pembicaran dengan Pak Rangga tadi usai, Ijul pun memutuskan untuk pulang lebih awal. Karena ia merasa badan yang mulus dan halusnya butuh untuk beristirahat diatas ranjang yang menjadi syurga dunia baginya. Meskipun teman teman yang lainnya sedang bersenang senang merayakan nilai yang cukup memuaskan, namun tetap dirinya lebih memilih untuk beristirahat. Teman teman yang lainnya sedang sibuk memeriksa perolehan nilai Ujian Nasionalnya, karena bagi sebagian orang itu adalah nyawa dan modal untuk bisa masuk ke SMA favorit yang ditujunya. Meski begitu sangat berbeda dengan Ijul, ia sama sekali tidak penasaran dengan hasil perolehan nilainya. Setibanya dirumah ia langsung merebahkan badannya dan perlahan ia memasuki alam tak sadarnya. Selama kurang lebih 5 jam ia tidur pulas, ia terbangun dari tidurnya. Ia langsung pergi ke kamar mandi untuk mebersihkan badan mulusnya akibat bau keringat yang membasahi tubuh dirinya. Selesai dari kamar mandi, tiba tiba Ibunya menanyakan tentang hasil kelulusannya. Dengan sikap bodo amatnya, ia langsung mengangkatkan bahunya tanda ia tidak tahu dengan hasilnya. “Lah ko gak tau??” ucap ibu kepadanya. “ ya aku gak tau mah, dan aku tidak begitu penasaran dengan hasilnya.” Balsanya. “ dasar, sekarang dimana surat keulusan itu?” tanya ibu kepadanya. “ tuh, ada diatas meja depan”. Ibunya langsung bergegas menuju surat itu lalu membukanya. Antara perasaan bahagia dan kecewa ketika Ibunya melihat hasil perolehan nilai yang sudah ia capai. Bahagia, saat anaknya sudah lulus dari SMP tapu kecewanya dengan perolehan nilai ia peroleheh diambang kehancuran alias pas pasan.

            Menjelang hari perpisahan bersama teman teman disekolahnya sekaligus membawa Ijazah miliknya, ia menemui Pak Rangga untuk menanyakan Ijazah miliknya. Keberuntungan pun sedang berpihak padanya, tiba tiba Pak Rangga ini memberikan Ijazahnya kepada Ijul tanpa ada syarat apapun. Tak disangka oleh dirinya tiba tiba Pak Rangga memeluk didinya dengan erat,ntah ap yang sedang Pak Rangga pikirkan. “ Meskipun kamu anak yang suka membuat masalah, tapi kamu sudah membawa nama baik sekolah kita di tingkat provinsi dengan prestasi kamu, bapak ucapkan terimakasih. Semoga kamu diterima di SMA yang kamu inginkan.” Itulah kata kata yang terlontar dari mulut Pak Rangga yang membuat dirinya tersontak kebingungan. Keesokan harinya adalah hari perpisahan untuk kelas 9 disebuah gedung. Dan dengan resmi dirinya dinyatakan sebagai alaumni SMP 25 Nuansa Negeri.

            Kini dirinya sudah menjadi alumni SMP 25 Nuansa Negeri. Tapi dirinya masih merasa bingung akan kelanjutan pendidikannya. Untuk mengobati kebingungan itu, ia langsung bertanya kepada teman teman geng motornya tentang sekolah mereka yang akan dituju. Ternyata teman teman geng motornya lebih banyak memilih SMAN 1 Cianjur sebagai pendidikan lanjutannya. Dengan begitu ia pun memutuskan untuk bersekolah di SMAN 1 Cianjur. Namun ia tidak bisa mengikuti seleksi masuk SMAN 1 Cianjur dengan menggunakan nilai UNBK. Mengingat perolehan nuilainya yang pas pasan. SMAN 1 Cianjur ini merupakan sekolah favorit yang diburu oleh siswa siswa yang pintar dan cerdas yang memiliki perolehan nilai yang sangat tinggi. Mungkin berbeda dengan teman teman geng motornya yang lainnya, yang memperoleh nilai yang cukup tinggi dibanding dirinya, keberuntungan sedang berpihak kepada teman teman geng motornya tapi tidak untuk dirinya. Selintas muncul ide yang ada dipikirannya, yaitu dengan menggunakan jalur prestasi yang sudah ia capai di SMP sebelumnya yaitu MTQ. Tidak perlu berfikir lama , dirinya langsung memutuskan untuk mengikuti seleksi jalur prestasi.

            Juli 2018 adalah bulan dimana seluruh siswa siswi yang akan melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, baik dari SD menuju SMP atau bahkan dari SMP menuju SMA. 15 Juli 2018, SMAN 1 Cianjur membuka pendaftaran untuk siswa siswa kelas  9 SMP yang akan melanjutkan pendidikannya ke jentang SMA. Pada hari itu Ibunya Ijul sibuk membereskan berkas berkas yang akan dibutuhkan saat pendaftaran nanti, akan tetapi Ijul tengah bersantai bermain game dirumah. Pada hari itu ibunya berangkat ke SMAN 1 Cianjur untuk mendaftarkan anaknya melalui jalur prestasi. Saat itu juga ibunya Ijul sudah mendapatkan jadwal untuk pelaksaan test nya sekaligus no peserta seleksi untuk siswa yang memilih seleksi di jalur presatsi. Jadwal tersebut berupaka lembaran yang sudah di hekter bersama lampiran atura aturan peserta seleksi. Dengan seksama Ibunya Ijul membaca lembaran kertas tersebut. Disana tertera bahwa atas nama Ahmad Julianto Mahardika dari SMP 25 Nuansa Negeri peserta seleksi masuk SMAN 1 Cianjur jalur preatasi bidang lomba MTQ dengan no peserta 015 akan melaksanakan test pada tanggal 17 Juli 2018 di Masjid Al-Ma’wa pada pukul 09.15. Selepas mendapat surat untuk seleksi Ibunya pulang dan memberitahu kepada Ijul bahwa dirinya akan ditest pada tanggal 17 Juli 2018.

            17 Juli 2018, ia berangkat dari rumah menuju tempat test yakni Majid Al-Ma’wa yang ada di SMAN 1Cianjur bersama ibunya menggunakan mobil hitamnya. Setibanya disana ia langsung menuju lokasi tets. Selama perjalanan dari lapang parkir menuju Masjid banyak orang yang terkesima dengan penampilannya. Ia berpakaian jas dan bersarung putih layaknya seorang pendakwah yang akan mengaji di suatu acara. Selama 2 jam ia menunggu giliran untuk di test, kinin giliran dirinya untuk melantunjan ayat ayat Al-Qur’an dengan suara emasnya. Sungguh semua juri pun terkesima dengan penampilan satu peserta ini. Selesai test ia langsung pulang bersama ibunya. Tinggal menunggu hasil kelulusan yang akan diumumkan pada tanggal  19 Juli 2018.

            Dua hari berlalu, kini adalah hari kelulusan untuk dirinya dalam seleksi masuk SMAN 1 Cianjur dengan menggunakan jalur prestasi. Sesuai surat edaran yang sudah diberikan bahwa pengumuman kelulusan akan dilaksanakan pada pukul 09.00 di Aula SMAN 1 Cianjur. Pada hari itu, Ijul memilih untuk diam dirumah dengan asik bermain game, ketimbang harus berangkat ke sekolah hanya untuk mengambil surat kelulusan. Akhirnya Ibu Ijul berangkat seorang diri untuk mengambil hasilnya. Tiba disana ia langsung memasuki Aula dan duduk dikursi yang kosong sambil menunggu giliran untuk emngambil hasilnya.  Saat no peserta 015 Atas nama Julio ibunya Ijul pun melangkahkan kakinya untuk maju kedepan untuk mengambil hasilnya. Ternyata hasilnya dalam surat itu tertera PESERTA 015 DINYATAKAN LULUS DAN DITERMIA DI SMAN 1 CAINJUR. Pada hari itu juga Ahmad Julianto Mahardika sudah dinyatakan sebagai siswa SMAN 1 Cianjur.

No comments:

Post a Comment

Kotak Adhikari Asmara

  Bagian 1               “Halo? Apa ada orangkah di sini?”             Aku coba melangkah lebih dekat ke arah pohon itu. Pohon yang cu...