BAB 1
Seorang wanita duduk di sebuah kursi roda, dia hanya memandangi bunga didepannya dengan tatapan kosong, lalu seorang lelaki datang menghampirinya.
“Hey kenapa kau melamun? Apa ada masalah?”
“Oh tidak, apa sudah selesai?”
“Sudah mari kita pulang”
“Boleh aku mampir sebentar di supermarket?”
“Boleh, mau beli apa?”
“Hanya beberapa camilan”
“Yasudah kita berangkat sekarang”
Rafa Derano dan Aldara Nevira, mereka sudah bersahabat sejak kecil, Rafa selalu merawat Aldara sedari dulu, Aldara mengalami paralisis permanen yaitu kelumpuhan yang bersifat permanen,yang disebabkan kecelakaan saat Aldara berumur 14 tahun. Kini mereka tinggal di sebuah apartemen, Rafa lah yang mengajak Aldara untuk tinggal di apartemen, awalnya Aldara menolak karna bisa menimbulkan salah paham dan terlebih orang tua Rafa sangat membenci Aldara karna Rafa sering mengurus Aldara terus menurus, sehingga Rafa kurang peduli terhadap dirinya sendiri dan Rafa pun jadi sangat jarang pulang kerumah.
Aldara kecelakaan disaat berumur 14 tahun, waktu itu Aldara sedang berada didalam mobil bersama kedua orang tuanya, mereka sedang berkendara menuju jalan pulang kerumah, tetapi dipertengahan jalan tiba-tiba rem mobil macet dan tidak terkendali, lalu mobil yang dinaiki Aldara pun hilang kendali dan jatuh ke jurang, di kecelakaan tersebut hanya Aldara lah yang selamat, kedua orang tuanya tidak, karna itu Aldara dititipkan ke panti asuhan bunga pelita.
Awal pertemuan mereka yaitu di saat Aldara bersekolah kelas 12 dan Rafa sudah berkuliah. Saat itu Rafa menyelamatkan Aldara yang hampir tertabrak motor di saat dia akan menyeberang lalu Rafa pun dengan bergegas menyelamatkan Aldara. Setelah itu Rafa mengantarkan pulang Aldara ke panti asuhan. Mulai dari situ dia mulai mencari tahu siapa Aldara, dan dia sering menjenguk Aldara ke panti asuhan, suatu hari Rafa berencana untuk mengajak Aldara pindah ke apartemen nya, karna Rafa sudah menganggap Aldara sebagai sahabatnya, ia sangat menyayangi Aldara dan ingin melindungi nya. Tanpa persetujuan kedua orang tua Rafa, Aldara pun kini sudah lama tinggal di apartemen Rafa. Untungnya apartemen yang Rafa miliki mempunyai 3 kamar kosong, jadi mereka tidur secara terpisah agar tidak timbul salah paham
“Raf kesini sarapan dulu”
“Bentar aku sedang siap-siap”
Pagi-pagi Aldara membuat sarapan untuk mereka berdua sebelum berangkat beraktifitas, sekarang Aldara berkuliah di kampus yang sama dengan Rafa. Aldara mengambil jurusan seni rupa karna dia sangat senang melukis, Rafa mengambil jurusan manajemen bisnis. Setelah lulus nanti dia akan berencana untuk membangun bisnisnya sendiri.
“Pagi, maaf lama”
“Gapapa, yu sarapan dulu masih pagi ini”
“Oh ya hari ini kamu ada kelas sampai jam berapa Dar?”
“Kayanya sampai jam 3, memangnya kenapa?”
“Tidak, apakah pulang dari kampus kamu ingin mengunjungi suatu tempat?”
“Suatu tempat? Hem aku bingung”
“Iya siapa tau mau kemana gitu atau ada tempat yang kamu rindukan”
“Oh iya, Raf aku ingin ke makam Ayah dan Ibu aku rindu dengan mereka”
“Baik, nanti saat pulang kita mampir dulu ke toko bunga, kita beli bunga yang paling indah untuk Ayah dan Ibumu”
“Terima kasih Rafa aku selama ini selalu saja merepotkanmu”
“Hey bicara apa kau ini, selama ini aku tidak merasa direpotkan olehmu. Ingat kita ini sahabat, sebagai sahabat harus saling membantu kan?”
“Aku tidak tahu lagi harus berbalas budi kepada mu seperti apa, aku sangat berterima kasih kepadamu”
“Aku ingin kau sehat selalu dan bahagia sudah cukup sebagai balas budi mu kepadaku, sudah ayok kita berangkat”
“Ayok”
“Ada barang yang tertinggal tidak?”
“Sepertinya tidak”
“Yakin nih??”
“Iya, yasudah ayo berangkat”
“Baiklah”
Akhrinya mereka pun sampai di kampus. Rafa dengan sigap langsung menyiapkan kursi roda dan membantu Aldara untuk menaikinya. Awalnya Aldara ingin memakai tongkat saja karna jika memakai kursi roda akan susah kemana-mana dan pastinya dia akan terus-terusan merepotkan Rafa, tetapi Rafa bilang dia tidak keberatan sama sekali dan jika Aldara memakai tongkat bisa berbahaya, lebih baik memakai kursi roda saja, akhirnya Aldara pun mengalah.
“Seperti biasa, terimakasih Rafa”
“Seperti biasa juga, sama-sama Aldara”
“Hahahahaha” mereka berdua pun tertawa
Disaat diperjalanan menuju kelas Aldara tiba-tiba tiga perempuan mencegat mereka, Fany Atmaja, Lena Afira dan Dina Mitama. Mereka adalah cewe-cewe popular di kampus, tak jarang mereka selalu membully orang.
“Hey teman-teman lihat lah dua pasangan sejoli ini yang selalu menempel seperti prangko berjalan Hahahaha” ejek Fany dan antek-anteknya
“Ada urusan apa kau hah?!”
“Wow pawangnya marah, hey Rafa apa kau tidak lelah terus menerus mengurus perempuan cacat ini? Bukankah merepotkan?”
“Jaga ucapan mu!! Mengapa kau tiba-tiba datang dan menghina Dara? Apakah dia membuat masalah kepadamu hah?? Tidak kan, lalu mengapa kau terus mengganggunya!!”
“Itu memang kenyataan Rafa, hahh sudahlah jijik aku melihat perempuan cacat ini, sampai jumpa Rafa”
“Hey apa maksudmu!!! Kemari kau!!!!”
“Rafa sudah cukup ayo abaikan saja dia’
“Tetapi dia sudah keterlaluan Dar!”
“Sabar Rafa, nanti juga dia lelah sendiri’
“Ya tuhan. Kalau ada yang mengganggumu kau harus segera bilang kepada ku ya Dar”
“Ya Rafa tenang saja, aku akan jaga diri dengan baik, percayalah’
“Sudah sampai, belajarlah yang benar, jika mau pulang kabari aku”
“Baiklah, kau pun belajar yang benar, aku kedalam dulu sampai jumpa”
“Sampai jumpa”
Ditengah pembelajaran Aldara merasa ingin buang air, lalu dia meminta izin kepada dosen lalu bergegas pergi ke kamar mandi sendiri, tetapi disaat akan masuk kekamar mandi Aldara malah bertemu dengan Fany dan kedua temannya
“Menabjubkan! Lihat siapa yang datang”
“Wow si cacat, berani sekali dia bepergian sendiri tanpa ditemani pawangnya”
“Maaf bisakah aku lewat? Aku ingin ke kamar mandi”
“Berani sekali kau berbicara padaku”
“Maaf”
“Lagian ko bisa ya perempuan cacat ini masuk ke universitas ini”
“Memang nya orang cacat tidak boleh kuliah?”
“Ya boleh sih, tapi kau ini tidak pantas’
“Tidak pantas? Apa hanya kalian saja yang pantas”
“Hey berani-beraninya kau membalas perkataanku” kata Fany membentak sembari menjambak rambut Aldara
“Arghh sakit Fany lepaskan, apa salah ku kepadamu Fany lepaskan’
"Aku jijik melihatmu ada disini, aku benci padamu"
"Maaf Fany tolong lepaskan, ini sangat menyakitkan"
"Fany kurasa sudah cukup, kita dilihat banyak orang"
"Awas saja kau, akan kubuat kau tidak betah di kampus ini!!" Lalu Fany pergi meninggalkan Aldara yang tengah kesakitan karna sekarang dia merasa pusing
"Aldara apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Dinda yang merupakan teman dekat nya Aldara. Hanya Dinda yang mau berteman dengan Aldara
"Tidak apa apa, tolong jangan beritahu Rafa soal ini, jika dia tahu bisa marah besar"
"Tapi ini keterlaluan Dara, kepala mu sampai sakit karna dijambak oleh perempuan itu"
"Sudah tidak apa apa, bisa bantu aku Dinda untuk ke kamar mandi?"
"Mari aku bantu"
"Terimakasih banyak ya"
"Santai saja, kau pun suka membantu ku"
Kelas Aldara sudah berakhir, dia pun langsung menghubungi Rafa
"Halo Rafa, kelas ku sudah berakhir dimana kamu?"
"Sebentar aku akan menyusul mu kesana"
"Baiklah"
Tak lama dari itu Rafa sudah tiba di tempat Aldara
"Hai, kita langsung saja pergi ke toko bunga, bagaimana?"
"Baiklah"
Selama diperjalanan
"Dar apa tadi ada yang ganggu kamu?"
"Eum engga Raf, memang nya kenapa?"
"Serius kamu jangan bohong Aldara"
"Iya Rafa aku tidak berbohong"
Aldara berbohong, karna jika Rafa tau bahwa tadi Fany dan teman teman nya mem bully dia bisa bisa Rafa akan marah besar.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah toko bunga.
"Ayok kita sudah sampai"
"Oke"
Lalu mereka pun masuk ke dalam toko tersebut
"Permisi bisa siapkan dua ikat bunga lily?”
"Bisa, ingin yang ukuran besar atau kecil mas?"
"Yang besar saja mbak"
"Baik, ditunggu sebentar ya"
"Dar nanti pulang dari makam, bisa kita mampir sebentar ke cafe galaksi?"
"Boleh, memang nya ada keperluan apa?"
"Aku akan menemui teman kampus ku sebentar, ya sekalian kita makan malam saja bagaimana?"
"Baik kalau begitu"
Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai, Aldara dan Rafa pun langsung menuju ke pemakaman ayah dan ibu Aldara
“Ayah, ibu hari ini aku datang bersama Rafa”
“Apa kabar om dan tante? Semoga tenang disana”
“ Ayah dan ibu aku merindukan kalian, apakah kalian juga merindukan Aldara? Aku sangat berterimakasih kepada tuhan yang telah mempertemukanku dengan Rafa, karna dia selalu menjaga dan melindungi ku dengan setulus hati, dia sangat menyayangiku, aku sangat bersyukur karna telah bertemu dengannya, jika tidak maka tidak tahu seperti apa kehidupan ku sekarang.” Perlahan Aldara mulai menitikkan air matanya
“Hey jangan bersedih, jika mereka melihatmu bersedih bagaimana? Kau tidak ingin mereka ikut bersedih juga kan?”
“Iya”
“Yasudah apakah mau pergi sekarang?”
“Iya, ayah ibu Aldara pamit ya, semoga ayah dan ibu tenang dan bahagia disana, Aldara menyayangi kalian”
Lalu mereka pun melanjutkan perjalanan menuju café galaksi
“Apakah kau masih bersedih?”
“Sedikit, aku selalu merindukan mereka, mengapa takdir ku seperti ini, aku selalu kehilangan orang yang berharga bagi hidupku”
“Kau tak bisa menyalahkan takdir, ini semua rencana tuhan. Sudah jangan bersedih lagi karna aku akan selalu berada di sisimu?”
“Bagaimana jika kamu pun meninggalkanku?”
“Tidak akan, aku berjanji”
“Benarkah?”
“Ya. Ayok turun sudah sampai”
Aldara menganggukan kepalanya. Lalu mereka pun masuk ke dalam café. Disana sudah ada lelaki yang duduk menunggu Rafa, dia adalah Dion, teman kampus nya Rafa.
“Hey kau sudah datang ternyata, mari duduk”
“Terimakasih”
“Oh ngomong-ngomong siapa yang datang bersamamu?”
“Perkenalkan ini Aldara, dia sahabatku”
“Apakah benar hanya sekedar sahabat?”
“Iya kau ini aneh-aneh saja, memangnya kita terlihat seperti apa?”
“Hahaha maaf aku hanya bergurau”
“Yayaya terserah kau saja. Jadi ada apa kau mengajakku kesini?”
“Emm begini, aku ingin meminta bantuan mu, jadi belakangan ini keluarga ku sedang krisis ekonomi, jadi aku ingin mencari pekerjaan, apakah kau bisa merekomendasikan dimana aku bisa bekerja?”
“Bagaimana jika kau magang di perusahaan ayah ku? Tetapi aku tidak bisa membantu mu secara langsung, karna hubugan ku dengan ayahku tidak baik, kau tahu itu”
“Ya aku mengerti , tak apa kau sudah merekomendasikan kan pun aku sangat berterima kasih, doakan saja semoga aku diterima disana”
“Baiklah, jika kau ada kendala, langsung saja hubungi aku, aku akan membantu mu sebisa mungkin”
“Terimakasih Rafa, kalau begitu aku pamit terlebih dahulu”
“Hati-hati” setelah berpamitan Dion langsung keluar Café
“Mau makan apa?” Tanya Rafa pada Aldara
“Aku ingin makan dengan nasi goreng seafood dan minumnya air putih saja”
“Mau pesan yang lain?”
“Sudah itu saja” lalu Rafa memanggil pelayan untuk memesan
“Mbak saya pesan satu nasi goreng seafood, air putih dan kopi panas segelas”
“Baik, mohon ditunggu pesanannya”
Setelah pesanan datang, mereka langsung menyantap makanan tersebut dan setelah selesai mereka pulang menuju apartemen
“Dara maaf aku harus pergi sebentar, tidak apa apa?”
“Mau kemana memangnya?”
“Orang tuaku menyuruh aku datang kerumah”
“Apakah ada masalah?”
“Tidak, kau tenang saja , kalau begitu aku pergi dulu kau jaga diri baik baik”
“Baiklah hati-hati” lalu Rafa pun pergi berpamitan kepada Aldara
“Yatuhan semoga tidak terjadi masalah” Aldara berdoa semoga Rafa baik-baik saja, karna jika orang tuanya sudah memanggilnya pasti selalu saja terjadi masalah.
Dirumah orang tua Rafa
“Papah ada urusan apa memanggilku kesini?”
“Tidak ada urusan apa-apa, memangnya tidak boleh orang tua meminta anaknya datang kerumah sendiri? Ibumu merindukanmu Rafa”
“Aku hanya malas, karna kalian selalu mencari masalah dengan ku”
“Yang sopan jika berbicara dengan papahmu Rafa”
“Lah kan memang benar seperti itu, Rafa lebih baik pulang saja”
“Mau kemana kau?? Ini rumah mu Rafa!”
“Pasti karna si Aldara itu kau menjadi berubah seperti ini kan?!!”
“Ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan Aldara, kalian jangan pernah membawa bawa Aldara kedalam masalah keluarga kita. Karna kalian sendiri lah aku menjadi berubah! Kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan kalian”
“Tapi kami bekerja demi kamu juga Rafa”
“Benar apa kata papah mu, kamu terlalu sibuk mengurusi perempuan itu, dia selalu menyusahkan mu, dia bukan siapa-siapa Rafa! Dia hanya orang asing yang tiba-tiba masuk ke kehidupanmu!”
"Dia bukan orang asing, Aldara adalah orang yang paling berharga bagi hidup Rafa, karna dia yang selalu ada di sisi Rafa, karna dia yang selau membuat Rafa bahagia!!"
"Kenapa dia?! Seharusnya yang harus kau anggap sebagai orang berharga bagi hidupmu itu kami orang tuamu Rafa!"
"Terserah,Rafa sudah lelah menghadapi kalian." Lalu Rafa pun langsung pergi tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya
"Rafa jangan pergi kamu!!"
"Aku harus memberi pelajaran kepada perempuan itu"
BAB 2
Aldara sedang menunggu kepulangan Rafa dia khawatir akan terjadi apa apa padanya, karna setahu Aldara jika Rafa dipanggil oleh orang tuanya pasti selalu ada masalah, mungkin itu menyangkut dirinya. Aldara sadar bahwa dia hanya orang asing yang tiba-tiba datang ke kehidupan Rafa. Orang tua Rafa sangat benci kepadanya dirinya karna mereka berfikir sikap Rafa berubah disebabkan oleh dirinya. Sudah dua bulan Rafa tidak pulang kerumah, Aldara tidak tahu kenapa, padahal dirinya selalul menyuruh Rafa untuk pulang kerumah, tetapi Rafa selalu beralasan bahwa dia khawatir jika meninggalkan Aldara sendirian di apartemen. Aldara selalu berfikir bahwa dirinya hidup hanya menjadi beban orang lain.
“Aku pulang..”
“Mengapa lama sekali? Aku khawatir padamu”
“Maaf tadi dijalan macet, dan aku mampir dulu untuk memebeli eskrim, coklat dan beberapa camilan kesukaanmu, ini” kata Rafa sembari menyodorkan kantong yang berisikan makanan
“Terimakasih. Tapi apakah benar tidak terjadi masalah?”
“Apakah kau melihat wajahku ini bermasalah?”
“Wajahmu terlihat sangat kusam”
“Benarkah? Bukankah wajahku terlihat tampan walaupun kusam”
“Cihh pede sekali kau ini, lebih baik kau segera mencuci wajah mu agar terlihat segar”
“Baiklah, pasti setelah mencuci wajah ketampanan ku akan bertambah dua kali lipat”
“Cepatlah berseka agar kesadaranmu itu kembali”
“Hahahaha baiklah nyonya saya permisi dulu” gurau Rafa.
Aldara sudah merasa tenang, sepertinya memang tidak terjadi masalah pada mereka.
“Syukurlah sepertinya hubungan mereka mulai membaik” gumam Aldara
“Kau bicara dengan siapa?”
“Tidak, aku hanya diam sedari tadi”
“Ohh kukira otak mu sudah tidak beres”
“Beraninya kau bicara seperti itu!!”
“HAHAHAHA maaf maaf kau sangat lucu ternyata jika sedang marah”
“Apanya yang lucu, berhentilah tertawa suaramu sangat mengganggu telinga ku, bisa bisa gendang telinga ku pecah karna suaramu”
“Sembarangan’
“Oh iya Dar beneran kan gaada yang ganggu kamu di kampus?”
“Iya beneran Rafaaa”
“Awas saja kalau ketahuan bohong, aku khawatir jika kau terus di tindas oleh si Fany, aku tidak akan segan segan untuk membalasnya”
“Jangan..biarkan saja, aku tak apa kok”
“Biarkan?? Dia itu selalu menindas mu tanpa alasan!”
“Rafa aku cukup sabar dengan mereka memperlakukan ku seperti itu, walaupun aku tak tahu mengapa mereka selalu mem bully ku padahal aku tidak pernah mencari masalah dengan mereka, mungkin mereka berfikir bahwa perempuan cacat sepertiku memang tidak pantas jika berkuliah apalagi di kampus sebagus itu, seharusnya aku berdiam diri saja tidak kemana mana agar tidak selalu merepotkan orang lain, aku sadar memang hidupku ini sangat menyusahkan, jadi aku fikir mereka berlaku padaku seperti itu adalah hal yang wajar”
“Hey kau ini bicara apa? Ini bukan tentang fisik dan kekurangan, kau pun berhak merasakan bahagia, kita semua itu sama tidak ada yang berbeda. Aldara dengar, kau berhak melakukan dan mencapai apa pun yang kau mau, apapun itu yang bisa membuatmu bahagia. Ingat ini”
“T-tapi memang benar aku ini merepotkan”
“Aldara cukup! Sudah kubilang kau tidak merepotkan!”
“Kau membentak ku?”
“Yatuhan…maaf aku tidak bermaksud seperti itu, maaf Aldara maaf…” lalu Rafa langsung memeluk Aldara
“Dengar..aku menyayangi mu, aku tulus membantu mu, aku tulus menjaga mu Aldara, aku melakukan ini karna kemauan diriku sendiri, karna kau aku selalu merasakan kebahagiaan”
“Terimakasih…terimakasih Rafa aku sangat bersykur bertemu dengan mu” kata Aldara sembari menangis didalam pelukan Rafa
“Hey sudah jangan bersedih lagi nanti baju ku penuh dengan ingusmu”
“KAU!!! Bisa bisanya kau bercanda disaat aku sedang bersedih”
“Maka dari itu aku bercanda agar kau tidak bersedih, sudah sudah kau segera bergegas tidur ini sudah malam”
“Hm baiklah, selamat malam Rafa”
“Selamat malam Dara” lalu mereka pun masuk kedalam kamarnya masing masing.
Keesokan pagi
“Rafaa..Rafaa” Aldara terus mengetuk pintu kamar Rafa
“Sebentar lagi pakai baju dulu”
“Cepat lihat kulitku!!”
“Ada apa kau ini masih pagi sudah ribut sekali” lalu Rafa keluar dan terkejut melihat semua kulit Aldara merah merah
“Apa yang terjadi??”
“Akupun tak tahu saat bangun kulit ku sudah merah merah dan gatal”
“Ayo cepat kita ke rumah sakit” mereka pun segera bergegas pergi ke rumah sakit
Dirumah sakit
“Aldara memiliki alergi, apakah kau kemarin memakan sesuatu yang mengandung ikan atau semacamnya?”
“Kemarin saya makan nasi goreng seafood dok”
“Sepertinya itu penyebab alergi mu, hindari makan ikan, seafood, kurangi makan telur”
“Baik dok”
“Ini obat yang harus kau minum 3 hari sekali diminum sampai habis”
“Baik terimakasih dokter”
“Ya sama sama, semoga lekas sembuh ya”
“Baik, kami pamit dulu” lalu mereka pergi ke mobil dan pulang menuju apartemen
“Tadi kita belum sempat sarapan, mau sarapan dengan apa?”
“Terserah kau saja”
“Bubur?”
“Boleh”
“Yasudah tunggu sebentar aku akan ke depan membeli bubur”
“oke hati hati” Rafa pun pergi ke depan untuk membeli bubur
Rafa pun kembali dengan membawa dua porsi bubur
“Nih cepat makan kau harus minum obat”
“Terimakasih” lalu mereka pun menyantap sarapan dan Aldara meminum obatnya
“Sejak kapan kau punya alergi?”
“Hmm aku pun tak tahu sejak kapan aku punya alergi”
“Kau harus berhati hati mulai sekarang jika ingin makan sesuatu oke?”
“Okayyy, Rafa kulitku masih gatal gatal”
“Lebih baik kau sekarang mandi gunakan air hangat agar gatal di tubuhmu berkurang, mungkin obat nya belum bereaksi”
“Baiklah yasudah aku mau mandi dulu”
“Ayo ku antar” Aldara pun pergi mandi
Drrt..drtt Dinda is calling
“Daraa hp mu berbunyi seperti nya ada yang menelfon”
“Mana?”
“ini” Rafa pun memberikan nya pada Aldara
“Hallo Dinda ada apa?”
“Hey mengapa kau tidak masuk, apa kau bolos?”
“Maaf aku lupa memberitahumu, tadi pagi aku pergi ke rumah sakit”
“Hahh! Kau kenapa, apa baik baik saja”
“Ya aku tidak apa apa hanya alergi saja karna aku kemarin makan nasi goreng yang ada seafood nya”
“Kenapa dimakan kalau sudah tahu ada alergi kau ini aneh aneh saja”
“Masalahnya itu aku pun tidak tahu bahwa aku memiliki alergi”
“Yasudah cepat sembuh, besok kau akan masuk kan?”
“Kenapa? Kau kangen ya padaku”
“Pede sekali kau ini, aku hanya kesepian karna tak ada kau”
“Ya ya ya terserah kau saja, yasudah aku matikan ya”
“Baiklah” Aldara pun mematikan telefon nya
“Siapa yang menelefon Dar?”
“Dinda”
“Ohhh, apakah badan mu masih gatal gatal?”
“Lumayan sudah berkurang”
“Syukurlah kalau begitu, lebih baik kau istirahat hari ini”
“Iya, maaf karna ku kau jadi ikut bolos”
“Tak masalah, sana istirahat”
“Kalau begitu aku masuk ke kamar dulu”
“Iya”
Drrtt..drrtt.. Hp Rafa berbunyi, lalu dia pun melihat siapa yang menelfon nya
Drrt...drrtt..Papa is calling…
“Ngapain papa nelfon” gumam Rafa
“Hallo pah kenapa?”
“Kudengar kau membolos, kenapa?”
“Dara alergi jadi aku membawanya ke rumah sakit”
“Perempuan itu lagi?! Lebih baik kau tinggalkan saja dia selalu menyusahkan mu!!”
“Dia sakit pah masa harus ku diamkan!”
“Biarkan saja mengapa itu jadi urusanmu”
“Cukup pah, papah gausah ikut campur”
“Papah berhak ikut campur karna kamu anak papah Rafa!!”
“Terserah Rafa ga peduli, pokoknya papah gausah ikut campur urusan Rafa apalagi sampai bawa bawa Aldara”
“Kurang ajar kamu! Ini semua gara gara si cacat itu!!!”
“CUKUP PAH!”
“Liat saja papah akan buat perempuan itu menderita”
“Jangan pernah sentuh dan ganggu Aldara sekalipun, kalau tidak Rafa gak akan sudi buat bertemu dengan kalian lagi!” lalu Rafa pun langsung mematikan telefon nya secara sepihak.
“Ada apa Raf? Papah kamu?”
“Loh ko ga tidur huh?”
“Aku terbangun karna kamu tadi lagi telfon,apa kalian bertengkar lagi?”
“Maaf aku berisik, tidak kami baik baik saja jangan dipikirkan oke?”
“Baiklah, tapi jikka ada masalah ceritakan lah padaku ya?”
“Iya tenang saja, sana lanjutkan tidur mu kembali”
“Aku tidak mengantuk”
“Lalu apakah ada yang kau inginkan?”
“Aku hanya bosan”
“Mau berjalan jalan?”
“Memangnya boleh?”
“Cepat pergi bersiap siap”
“Siap komandan!!” lalu mereka pun bersiap siap untuk pergi jalan jalan
Di mobil
“Mau jalan jalan kemana?”
“Ke mall?”
“Boleh juga, aku ingin ke gramedia”
“Membeli novel?”
“Iya, eum Raf apakah lebih baik aku ganti saja memakai tongkat untuk berjalan? Agar tidak ribet”
“Sudah kukatakan tidak boleh”
“Tapi kenapa? Kupikir jika memakai kursi roda itu ribet”
“Jangan, kursi roda saja jika kau ingin pergi kemana pun tinggal bilang padaku lalu aku antarkan”
“Maka dari itu lebih baik memakai tongkat agar aku bisa mandiri dan gampang jika ingin kemana mana, boleh yaaa?”
“Yasudah,nanti kita ke rumah sakit”
“Benarkaah?? Kapankita ke rumah sakit??”
“Nanti saja”
“Yahhh”
“Sudah sudah ayok turun, yang penting nanti kau tak akan memakai kursi loda lagi, sekarang ayo bersenang senang” mereka pun turun dari mobil dan langsung pergi menuju gramedia
“Mau membeli novel apa?”
“Aku tidak tahu, bolehkah lihat lihat dulu?”
“Yasudah, aku pun mau melihat lihat di sekitar”
Disaat Rafa sedang berkeliling, dia melihat seorang perempuan yang sedang mencoba menggapai buku yang berada di rak atas,lalu dia pun langsung menghampiri nya
“Butuh bantuan?”
“Eh? Oh iya nih, bisakah kau mengambilkan novel itu?” katanya sambil menunjuk kearah novel yang dia inginkan, Rafa pun langsung membantu mengambil novel tersebut dan langsung memberikan nya kepada perempuan itu
“Terimakasih banyak ya”
“Sama sama, oh perkenalkan nama ku Rafa dan kau?”
“Emm namaku Anastasha”
“Rafa aku sudah selesai” tiba tiba Aldara memanggil
“Sebentar, Anastasha aku pergi dulu ya, semoga kita bertemu lagi sampai jumpa”
“Sampai jumpa kembali” Rafa langsung menghampiri Aldara dan meninggalkan Anastasha
“Hm ganteng juga”
Setelah dari gramedia mereka menuju ke restoran untuk makan
“Tadi kau berbicara dengan siapa?”
“Ah namanya Anastasha, tadi aku membantu nya karna dia tidak sampai untuk mengambil buku dari rak atas”
“Kau mengajaknya kenalan?”
“Yap betul”
“Tumben sekali seorang Rafa mengajak kenalan duluan dengan seorang perempuan”
“Biasa saja sih”
“Eummm aku tau, kau menyukainya ya!!”
“Jangan mengarang kau, kita duduk disini saja?”
“Boleh”
“Mau pesan apa? Asal jangan yang mengandung ikan, seafood semacamnya dan telur”
“Iya aku tahu, aku ingin kentang goreng, chicken beef teriyaki dan minumnya ingin milkshake coklat”
“Oke aku pesankan sebentar” lalu Rafa pergi memesan makanan
“Sebentar lagi makanan nya akan disiapkan”
“Rafa ayo ceritakan tentang perempuan tadi”
“Apa yang mau diceritakan, lagian kami hanya bertemu sekali, dan itupun baru”
“Apakah dia tipe mu?”
“Aku tidak tahu dan tidak terlalu memikirkannya”
“Terus kenapa kau mengajak nya berkenalan, aneh sekali kau ini”
“Aku hanya tertarik saat melihatnya”
“Itu tandanya kau suka padanya”
“Tidak, sudahlah berhenti membahas itu makanan nya sudah mau datang”
“Menyebalkan! Padahal aku sangat senang jika ada perempuan yang kau suka, aku akan sangat mendukungmu”
“Aku tidak mau menyukai siapapun, aku hanya ingin bersama mu dan melindungi mu sampai kapanpun”
“Hey jangan jadikan aku sebagai alasan mu untuk menyukai seseorang, aku tidak apa apa, aku bisa mandiri”
“Tapi tetap saja aku selalu khawatir padamu”
“Tenang saja, pokoknya aku akan selalu mendukung semua keputusan mu, asalkan perempuan yang kamu sukai itu baik”
“Terimakasih kau memang yang terbaik”
“Tentu saja, sudah ayo kita makan dulu”
BAB 3
Rafa tidak pernah berfikir untuk menyukai atau mengencani seseorang, yang dia pikirkan sekarang hanyalah Aldara, bahkan jika dia disuruh menikah yang akan di pilih untuk dinikahi nya nanti hanyalah Aldara, walaupun status mereka sebatas sahabat tetapi Rafa sangat menyayangi Aldara yang dia pikirkan hanya ingin menjaga, ,melindungi dan membuat Aldara bahagia, jika Aldara bahagia maka dia pun ikut bahagia. Ya hanya itu yang dia pikirkan sekarang.
“Daraaa cepat bangun nanti kita terlambat”
“Aku sudah bangun daritadi, tunggu sebentar”
“Cepat, langsung sarapan dan minum obat”
“Iya tunggu”
Mereka pagi ini sedang bersiap siap untuk pergi ke kampus, karna kemarin mereka membolos
"Selamat pagi Rafa"
"Ayo cepat sarapan sesudah itu minum obat"
"Waw sup ayam, apakah kau yang memasak ini?" Kata Aldara sembari mencicipi masakan Rafa
"Iya apakah enak?"
"Menakjubkan ini sangat enak"
"Siapa dulu yang memasaknya"
"Uuuu lelaki idamannn"
"Hahaha kau ini ada ada saja, cepat habiskan nanti kita telat"
"Okay" mereka pun melanjutkan sarapan dan pergi menuju kampus
"Belajar yang benar, aku pergi dulu ya"
"Kamu juga, dadah" Rafa pun pergi ke kelas nya
"Aldaraa kemana saja kau" Aldara kaget ternyata Dinda yang memanggil nya
"Yatuhan kau ini mengagetkan saja"
"Hehe maaf, kukira kau akan bolos lagi"
"Tidak, aku bosan jika hanya diam di apart, kau merindukanku ku ya??"
"Iya aku kesepian karna gaada kamu"
"Ulululu ayo kita masuk"
"Ayo" mereka pun masuk ke kelas karna dosen pun telah datang
Ditempat Rafa
"Hey Raf kemana kau kemarin?" Tanya Dion
"Kemarin aku ke rumah sakit karna Aldara kena alergi"
"Ohh begitu"
"Mau ke kantin?"
"Yoi, bareng?"
"Duluan saja aku akan menjemput Aldara dulu"
"Oke bro duluan"
"Duluan saja aku akan menjemput Aldara dulu"
"Oke bro duluan" setelah itu Rafa langsung ke menghampiri Aldara
"Dara ayo ke kantin"
"Sebentar aku lagi menunggu Dinda, dia sedang ke toilet"
"Oke" tak lama setelah itu Dinda datang
“Maaf baru datang, apakah aku lama?”
“Tidak, ayo ke kantin”
“Ayo” lalu mereka pun pergi menuju kantin
“Rafa! Kemari” kata Dion sembari melambaikan tangan, lalu mereka pun menghampiri Dion dan duduk bersama
“Hai Aldara kita bertemu lagi” sapa Dion pada Aldara
“Hai juga Dion”
“Eh kalau ini satu lagi siapa?”
“Ini temanku Dinda”
“Halo Dinda salam kenal”
“Salam kenal” tiba- tiba Fany dan kedua temannya datang dan langsung ikut duduk bergabung
“Eh ini mak lampir ngapain duduk disini?” kata Dion sengaja memanggil Fany dengan nama mak lampir