Thursday, October 1, 2020

Kotak Adhikari Asmara

 

Bagian 1

 

            “Halo? Apa ada orangkah di sini?”

            Aku coba melangkah lebih dekat ke arah pohon itu. Pohon yang cukup besar, tapi aku tidak tau jenis apa pohon ini. Beringin kah? Angsana kah? Oh rupanya ini pohon Flamboyan. Maaf, aku tidak terlalu mahir mengetahui jenis pohon. Padahal aku diam-diam sudah pernah membaca buku botani milik Bapak. Apa masih kurang ya?

            Ah ternyata tidak ada siapa-siapa, untunglah ….

            Ini tempat menakjubkan yang pernah aku temui. Jaraknya tak terlalu jauh dari rumah. Tapi aku baru menyadari ada tempat seperti ini. Cerita awalnya aku sedang jalan-jalan mencari es mambo. Kemudian saat aku berada dekat danau, aku melihat pohon Flamboyan ini. Ternyata aku menemukan tempat yang bagus. Tempat ini cocok untuk aku berdiam diri sambil ‘pacaran’ dengan buku. Di bawah pohon Flamboyan ini terdapat bangku-bangku kecil. Lalu ada beberapa kincir angin yang tergantung pada ranting Flamboyan. Lucu sekali bukan? Saat ada angin, kincir angin tersebut berputar. Seperti sedang menari. Entah kebetulan atau bukan, tempat ini seperti dipersiapkan khusus untukku. Aku sebut saja ini tempat rahasia.

--

            “Gayatri … sini kemari bantu Ibu.”

            Aku langsung beranjak dari kursi rotan dan langsung menghampiri Ibu.

            “Apa yang perlu Tri bantu Bu?”

            “Ini, tolong bawakan kopi buat Bapak ya.”

            “Iya Bu.”

            Aku membawa kopi dari dapur ke teras rumah. Ternyata Bapak sedang membaca secarik kertas. Biasanya itu surat dari temannya yang ada di luar negeri. Hebat bukan? Bapak bekerja sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sehingga banyak sekali kenalan Bapak.

            Aku menyimpan cangkir kopi di meja. “Pak, ini kopinya.”

            “Terima kasih, nak. Tri masih suka baca buku-buku Bapak?”

            Aku ikut duduk di sebelah bapak. “E-eh … masih Pak. Gayatri sangat suka baca buku botani milik Bapak dan beberapa surat yang bapak dapat dari luar negeri.”

            “Tri bisa menerjemahkannya?”

            “Sedikit Pak. Gayatri sudah belajar bahasa luar, walaupun belum terlalu mahir.”

            “Hmm … baiklah. Tapi jangan sampai Tri meninggalkan masa muda demi hal seperti itu ya.”

            “I-iya Pak.”

            Setelah itu, aku beranjak dari sana. Berjalan masuk ke kamar dan mulai memasang piringan hitam album Koes Plus. Hampir semua lagunya aku suka. Romantisme di dalamnya yang membuat aku suka. Bapak masih menganggap aku sibuk dengan ilmu pengetahuan tanpa memperhatikan masa mudaku. Ya, masa muda yang Bapak maksud adalah jatuh cinta dan semacamnya. Padahal aku sangat suka membaca novel romantis. Juga suka membaca tulisan-tulisan pujangga dari koran. Letak kesalahannya karena hal-hal tersebut tidak Bapak ketahui. Lalu semakin diperkuat dengan Gayatri yang tidak punya pacar. huft …. Di sini memang begitu. Seusia aku—remaja SLTA—sudah punya pacar bahkan ada yang sudah menikah juga. Aku hanya belum menemukan yang tepat dan yang cocok denganku tentunya. Aku sibuk dengan buku-buku pelajaran dan sebagainya bukan berarti hatiku keras dengan yang namanya jatuh cinta.

--

            Lupa untuk memperkenalkan diri. Namaku Gayatri Rahayu. Kedua orang tuaku selalu memanggil Tri, begitu juga teman-teman di sekolah. Aku ini anak sematawayang Ibu dan Bapak. Di sekolah aku dikenal gadis yang cerdas, ceria dan cantik. Mungkin cerdasnya didapatkan dari Bapak yang seorang peneliti. Lalu wajah cantikku sudah pasti dari Ibu. Ibu sangat cantik. Apalagi ketika beliau sedang menjahit. Iya, ibu seorang penjahit. Hasil jahitannya sangat bagus. Terbukti dari baju-baju yang aku pakai begitu rapi dan indah. Baju-baju itu buah hasil karya Ibu.

            Kegiatan setiap pagi yang wajib aku kerjakan yaitu menyiram tanaman Bapak. Ya karena Bapak sibuk, begitupun Ibu … maka jawaban terakhirnya adalah aku. Aku yang harus menyiramnya. Sekian banyak tanaman yang Bapak tanam di pekarangan rumah, tanaman favoritku hanya satu yaitu bonsai. Kalian tau kan? Menurutku bentuknya lucu dan unik.

            Setelah melaksanakan kegiatan wajib, aku bersiap untuk berangkat sekolah. Sekolahku tak jauh dari rumah. Aku biasa berjalan kaki sampai sekolah. Teman-teman yang lain ada yang naik sepeda, becak, bahkan motor. Sebenarnya aku bisa saja naik sepeda, tapi karena pernah jatuh lalu masuk kolam ikan milik tetangga, aku tidak mau lagi. Dengan rambut yang sudah rapi dikepang dua, kemeja putih, rok abu selutut, sepatu yang baru dicuci, dan tas selempang pemberian Ibu, aku siap berangkat sekolah.

            Syukurlah, pagi hari ini cerah. Segera aku berjalan ke luar pagar rumah. Jalan menyusuri rumah-rumah. Seperti biasa, banyak anak-anak sekolah yang berangkat juga. Jalanan ramai.

            “Eh Bi Ida, udah mulai keliling?”

            “Iya nih nak Tri, pasti udah banyak yang nunggu jamu. Saya duluan ya.” lalu mengayuh sepeda.

            “Nak Tri, kapan main ke kebun paman lagi?”

            “Ah iya paman, mungkin hari Minggu ini.” sambil membungkukan badan.

            Terus berjalan, aku melihat ada telepon umum di seberang jalan. Langsung saja aku menghamipiri ke seberang jalan. Sebenarnya beberapa hari yang lalu aku sudah pernah lihat dan sempat bertanya pada pak guru. Tapi ini kali pertama aku bisa lihat langsung secara dekat. Canggih sekali bukan?Di lain kesempatan mungkin aku harus coba. Agar tidak usah kirim surat lagi. Setelah mencoba menekan beberapa tombol di telepon umum, aku bergegas jalan kembali.

            Sampai di dekat daerah sekolah, aku melihat gerbang hampir ditutup. Dengan cepatnya aku berlari dan berhasil lolos masuk ke dalam. Aduh untung ga terlambat. Ini karena tadi keasyikan melihat-lihat di perjalanan.  Di lapangan sekolah sudah ramai dengan anak laki-laki yang sedang bermain sepak bola. Apa mereka tidak cape ya? Lebih baik duduk dan baca buku saja kan? Lalu aku meneruskan langkah sampai ke dalam kelas.

            Belajar di sekolah sangat seru. Mengapa seperti itu? Karena aku bisa puas bertanya kepada bapak dan ibu guru. Ternyata masih banyak hal yang belum aku ketahui. Itu sangat mengasyikkan bukan? Lalu tempat favoritku adalah … perpustakaan! Eh, bukan. Maksudnya perpustakaan ada di posisi kedua. Posisi pertama yang tak pernah tergantikan adalah Warung Bi Iyem.

            “Bi, Gayatri beli gorengan kaya biasa ya, ini uangnya.”

            “Eh, ga usah bayar nak Tri. Hari ini Bibi kasih gratis.”

            “Wah terima kasih banyak, Bi. Saya duluan.” Aku langsung berlari menjauhi Warung Bi Iyem karena teman-temanku langsung datang menyerbu ke warung untuk membawa gorengan gratis. Tempat pelarianku selanjutnya adalah perpustakaan. Masih banyak buku baru yang belum aku baca. Teman-temanku sering bertanya kenapa aku begitu suka membaca buku. Um … jawabanku akan selalu sama. Ya karena dengan membaca buku aku tau dunia luar bagaimana. Aku tau bagaimana masa lalu bahkan aku sedikit bisa memperkirakan bagaimana masa depan.

            Tiba-tiba saat aku sedang asyik membaca buku, Rini—teman dekatku—menepuk bahuku.

            “Hei gadis kutu buku!” ia lalu duduk di sebelahku.

            “Tumben Rini mau ke perpustakaan, bukannya lebih baik kamu bawa gorengan gratis di Warung Bi Iyem, ya?”

            “Huft, kehabisan gorengan gratis itu.”

            “Lalu ada apa kamu menyusul ke sini?”

            Rini memberikan sepucuk surat. “Ini ada surat lagi, Rini menemukannya di meja kita.”

            “Aduh ini surat dari siapa lagi?”

            “Pengagum rahasia Gayatri tentunya. Kalau bukan, siapa lagi?”

            Ini bukan surat pertama yang pernah aku dapat. Sebelumnya pun ada yang pernah mengirim surat. Lalu aku coba buka surat itu. Ternyata benar dugaanku, isinya puisi romantis lagi. Anehnya dengan inisial yang sama. Itu artinya pengirim surat ini sama kan dengan surat-surat sebelumnya? Jujur, puisi yang dia tulis sangat indah. Sudah seperti cerita romantis di novel saja. Tetapi … kenapa si pengirim ini tidak lekas mengajakku bertemu?

            “Rin, kira-kira siapa ya pengirim surat cinta ini? Inisial yang ada di surat ini sama seperti surat-surat sebelumnya.”

            “Inisial ‘A’ itu? Coba aku tebak. Alif? Andika? Adi? Atau … Adiwangsa?”

            “Umm … semuanya mungkin, kecuali Adiwangsa. Aku harap Andika si pengirim surat ini.”

            “Iya juga ya, Tri. Adiwangsa itu … tiap kali bertemu kamu saja sudah ketakutan setengah mati. Sepertinya Andika, dia kan suka mengajak kamu mengobrol, mungkin saja dia malu buat menyatakan jadinya kirim surat deh.”

            “Ah entahlah, yang terpenting keinginanku sudah tercapai. Hampir sih.”

            “Keinginan Gayatri yang ingin seperti peran utama di novel? Dasar gadis kasmaran!”

            Jam pulang sekolah aku dan Rini jalan berdampingan di lorong sekolah. Karena sudah jam pulang, di lorong ini ramai sekali. Lalu ada seseorang yang menghampiri. Ternyata itu … Andika! Ya, benar itu Andika.

            “Halo, Gayatri.”

            “Um, halo!”

            “Apa sepulang sekolah mau menemani Dika membeli buku di toko Pak Ade?”

            Apa Andika mau menyatakan cintanya di toko Pak Ade?

            “Ah iya Gayatri mau.”

            “Syukur deh, soalnya Dika butuh saran dari Tri buat beli buku. Kalau gitu, Dika bawa sepeda dulu. Ditunggu di gerbang ya.” dia melambaikan tangan lalu berlari

            Langsung saja Rini menggodaku karena sedari tadi dia memperhatikan aku dan Andika mengobrol. Baru saja melangkah, ada lagi yang menghampiri aku dan Rini. Bukan Andika tapi Adiwangsa.

            “G-gayatri … a-aku m-mau bicara.”

            “Iya boleh.”

            “A-anu … itu.”

            Aduh dia mau bicara apa. Rini menatapku memberi isyarat bahwa lebih baik pergi saja. Aku juga berpikir untuk pergi karena Andika pasti sudah menungguku di gerbang.

            “Maaf, tapi Gayatri dan Rini harus pergi sekarang, lain kali aja ya? Dahh ….” Aku langsung menarik tangan Rini dan berlari menjauhi Adiwangsa yang belum sempat berbicara lagi. Tidak sempat melihat bagaimana ekspresinya.

            Aku dan Rini berpisah di dekat gerbang, lalu sudah terlihat Andika yang menunggu sambil membawa sepeda. “Andika! Ah maaf, menunggu Tri lama ya?”

            “Tidak kok. Ayo naik sepedaku, biar aku yang bonceng.”

            Manis sekali senyumnya, batinku

            “Oh iya ayo.”

            Toko Pak Ade tidak jauh dari sekolah. Cukup 8 menit saja menggunakan sepeda sudah sampai di toko. Di sini banyak sekali buku-buku yang dijual Pak Ade. Ternyata Andika meminta bantuanku untuk dicarikan buku puisi yang bagus. Apa mungkin dia si pengirim surat itu? Saling sibuk mencari buku puisi yang bagus, akhirnya aku menemukannya. Tak lupa aku memberi saran kepada Andika untuk membeli buku terjemahan ­Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway yang diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Aku memberi rekomendasi buku tersebut karena mungkin Andika yang suka membaca buku juga akan tertarik. Sudah hampir sejam di sini, tapi belum ada tanda-tanda dia mau menyatakan cinta.

            “Sudah dapat bukunya nih, kita pulang saja yu.”

            HE KOK?!

            “O-oh, i-iya sudah dapat ya. Ayo pulang saja.”

            Kami ke luar dari Toko Pak Ade. Dia sudah siap dengan sepedanya.

            “Mau Andika antar pulang?”

            Aku sudah terlalu percaya diri bahwa dia akan menyatakan cinta. Aduh malu banget.

            “Oh ga usah deh, Gayatri mau ke rumah tante dulu, hehe.”

            “Ya sudah, terima kasih ya sudah menemani. Andika duluan.” lalu mengayuh sepeda, berlalu meninggalkan aku.

            Huft, sudah lupakan. Aku sudah terlalu percaya diri. Andika mana mungkin kan si pengirim surat dan menyatakan cinta padaku. Ya sudah aku pergi saja ke rumah tante. Siap-siap memilih buku novel romantis milik tante. Pelarian untuk melupakan kejadian tadi. Tante mempunyai koleksi novel yang lumayan banyak. Mungkin bisa dibilang tante punya perpustakaan pribadi. Aku suka meminjam buku novel romantis dari tante.

            Sudah mendapat buku yang cocok, aku berpamitan dan jalan-jalan sore seperti biasa. Setelah dari sini, aku pergi mampir ke tempat rahasia. Entah pertanda apa, di perjalanan menuju tempat rahasia, aku bertemu Adiwangsa lagi. Dia melihatku lalu menghampiri.

            “G-gayatri … a-apa sekarang bisa bicara?”

            Kenapa ya setiap bertemu Adiwangsa aku selalu merasa takut, aneh aja.

            “Iya? Mau ngomong apa Di?”

            “Anu … apa Gayatri mau liat tulisanku?”

            “Emangnya apa?”

            “Pu–” 

            Tiba-tiba ada becak yang melintas, ternyata itu Ibu! Entah mengapa aku sangat bersyukur. Aku bisa ‘kabur’ lagi dari dia. Maaf ya Adiwangsa.

            “Uh, itu yang di becak Ibuku. Gayatri harus ikut Ibu pulang sekarang, maaf ya. Mungkin lain kali.” Aku segera berlari mendekati becak yang sudah berhenti di depan. Lalu naik bersama Ibu. Yah, walaupun tidak jadi pergi ke tempat rahasia setidaknya aku berhasil menghindar dari Adiwangsa.

--

            Hari-hari selanjutnya di sekolah, surat cinta itu terus selalu aku dapatkan. Dengan inisial yang sama. Jujur aku menyukai puisi-puisi di dalamnya. Sangat bagus. Sayangnya, si pengirim ini tak kunjung menghampiri aku. Kemarin aku sempat pikir Andika. Bahkan sempat berpikir bahwa Andika akan menyatakan cinta padaku. Malu sekali. Akan tetapi, bukan Andika si pengirim itu. Sempat beberapa kali aku pancing membicarakan soal tulis-menulis puisi. Tetapi jawaban Andika adalah tidak. Iya, dia tidak pernah menulis puisi atau semacamnya.

            Ternyata Adiwangsa pun tetap berusaha ingin bicara denganku, saat aku sedang di Warung Bi Iyem, sedang berjalan di lorong, atau bahkan saat aku sedang di perpustakaan. Dia selalu ingin bicara. Namun, aku selalu menghindar. Lebih tepatnya berhasil membuat alasan ini itu. Tentunya dengan bantuan Rini. Tapi … terakhir kali aku menghindar, aku sempat melihat ekspresinya. Um bagaimana ya. Ekspresinya seperti sedih lalu beberapa detik kemudian ekspresi marah. Apa mungkin salah lihat? Adiwangsa tidak mungkin marah seperti itu kan?

            Sempat beberapa saat memikirkan hal itu. Tetapi aku cepat-cepat buang yang jauh, hal-hal yang membuatku pusing. Ditambah lagi Rini selalu cerewet bilang padaku untuk tidak menghiraukan Adiwangsa lagi.

--

            Sudah beberapa hari ini aku tidak dihampiri lagi oleh Adiwangsa. Rasanya tenang tidak was-was seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi surat cinta tetap saja ada. Aku sebenarnya tidak masalah surat cinta itu tetap ada, walaupun si pengirim masih misterius. Berbeda dengan Rini yang sudah muak dengan surat cinta itu. Akhirnya dia melarangku untuk membuka suratnya dan setiap kali ada surat cinta di meja, dia akan langsung membuangnya. Ya sudah aku hanya menurut saja pada Rini. Lalu memilih untuk tidak memikirkan lagi tentang surat ataupun siapa si pengirim surat tersebut.

            Sore ini sepulang sekolah aku akan mampir ke tempat rahasiaku. Ya, betul ke pohon Flamboyan. Hari-hari sebelumnya karena masih ada beberapa masalah—surat dan Adiwangsa—yang mengganggu, waktuku untuk ‘pacaran’ dengan buku di tempat rahasia tak lama. Namun hari ini, aku akan sepuasnya diam di sana. Menikmati angin sepoi-sepoi dan ditemani kincir angin yang menari.

            Sampai di pohon Flamboyan, aku langsung duduk dan membaca buku novel romantis. Di tangan kanan ada es mambo yang aku genggam. Lalu di sebelah kirinya novel. Rasanya tenteram sekali. Sebenarnya aku masih bingung dengan tempat ini. Mengapa? Karena tempat ini selalu sepi, tidak pernah melihat ada orang lain yang datang ke sini selain aku. Itu tandanya pohon Flamboyan beserta barang lainnya yang ada di sini khusus dipersiapkan untukku.

            Aku tenggelam dalam cerita novel dan suasana yang nyaman di bawah pohon Flamboyan. Saat sedang asyik-asyiknya membaca … Bruk. Loh? Suara apa ya itu? Suara gaduh itu berasal dari semak-semak yang tak jauh posisinya dari tempatku duduk.

            “Ada orang ya di sana? Halo? Tolong jawab pertanyaanku.”

            “….”

            Karena tak ada yang menjawab, aku mencoba untuk langsung melihat lebih dekat ke arah sana. Ketika aku baru saja beranjak dari bangku. Ternyata ada seekor kucing yang ke luar dari dalam semak-semak,

            “Pus,pus. Sini kemari, kucing. Kau mengagetkan Gayatri yang sedang membaca.” Kucing itu langsung berlari, bukannya menghampiri aku.

            “Huft, dasar kucing nakal!”

            Aku melanjutkan kembali kegiatan membaca buku novel. Ceritanya sedang dalam tahap romantis-romantisnya. Kapan ya seorang Tri bisa merasakan debaran yang begitu hebat saat bersama seorang laki-laki? Mulai kan … Gayatri dengan mode si gadis kasmaran! Tak terasa mentari sudah mau terbenam. Sudah terlalu lama berada di sini. Jika tidak pulang cepat, bisa-bisa kena omel Ibu di rumah. Bergegas aku membereskan barang-barangku lalu pulang. Sampai jumpa lagi besok sore, pohon Flamboyan.

--

            Esok harinya, ketika aku sudah terbangun. Terdengar suara gaduh dari luar kamar. Saat ke luar kamar, ternyata Ibu sedang membereskan barang-barang. Cukup banyak. Bahkan membawa beberapa jahitan hasil Ibu. Tumben sekali Ibu menyiapkan banyak barang seperti ini.

            Aku mendekat ke arah Ibu. “Bu? Mau pergi ke mana? Barang yang disiapkan banyak sekali. Lagi pula ini masih pagi.”

            “Nak Tri sudah bangun ya. Ibu kemarin lupa bilang kalo hari ini mau pergi ke kota sebelah.”

            “Ada apa memangnya Bu?”

            “Ibu mau ke rumah saudara. Sudah lama tidak mampir ke sana. Mungkin Ibu akan pulang malam nanti. Hati-hati ya nak di rumah. Bapak juga belum akan pulang hari ini.”

            “Iya Bu ….”

            Kemudian Ibu memberi tau beberapa tugas yang harus aku lakukan selama Ibu pergi ke kota sebelah. Habis itu, aku mulai siap-siap untuk berangkat sekolah. Tugas pertama yang harus aku lakukan adalah menyiram tanaman di pekarangan rumah. Ini sudah menjadi hal yang wajib aku kerjakan sih. Ketika aku masih sibuk menyiram, Ibu pamit pergi. Ibu tidak pergi sendirian, melainkan berangkat bersama tante. Mereka berdua naik angkutan umum.

            “Nak … Ibu dan Tante pergi dulu ya. Hati-hati pokoknya. Jangan lupa makan. Tri sarapan di Warung Bi Iyem aja. Kalau makan sore atau malam, pergi ke rumah tante. Soalnya paman tidak ikut pergi.”

            Seorang Gayatri tidak mungkin lupa untuk makan.

            “Iya Bu, tenang saja.”

            Selesai menyiram, aku lekas berangkat ke sekolah. Harus cepat-cepat sampai, Tri laper banget. Seperti biasa saat di perjalanan aku bertegur sapa pada siapa saja yang berpapasan denganku. Entah mengapa pagi ini di jalanan sepi. Hanya ada beberapa anak saja yang berangkat sekolah. Tepat ketika melewati telepon umun, seperti ada yang mengikutiku dari belakang. Ah mungkin hanya perasaan Tri saja. Kakiku melangkah lebih cepat. Rasanya seperti tak karuan. Akhirnya aku memutuskan untuk berbalik badan.

            “Siapa yang mengikuti Gayatri?!” setengah berteriak.

            Loh ga ada siapa-siapa? Aneh sekali, tidak ada siapa-siapa di belakangku. Padahal aku yakin, ada yang mengikutiku dari tadi. Tanpa berpikir lama, aku segera berlari. Di ujung jalan, aku tersandung batu.

            Bruk!

            Ya, aku terjatuh. Lututku sakit sekali. Ketika berusaha untuk bangun, ada seseorang yang mengulurkan tangannya.

            “Gayatri tidak apa-apa? Ada yang luka tidak? Sini Andika bantu.” Dengan wajah cemas, Andika membantuku bangun.

            “T-terima kasih. Aduh, lutut Tri terluka.”

            “Naik sepedaku saja, kita berangkat ke sekolah bersama.”

            Aku naik ke sepeda Andika. Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah Andika bercerita. Katanya dia kebetulan lewat jalan ini. Biasanya dia lewat jalan lain untuk pergi ke sekolah. Tetapi hari ini dia lewat jalan yang biasa aku lewati. Karena dia habis membantu pamannya membawa barang. Dia bertanya padaku, kenapa sampai bisa terjatuh. Aku jawab karena ada yang mengikuti. Lalu dia memberhentikan sepedanya.

            Berbalik melihat ke arahku. “ Andika tidak melihat siapa pun. Ketika Gayatri jatuh, di sana hanya ada Tri aja.”

            Sontak aku melotot. Perasaanku campur aduk. Apa benar Andika tidak melihat siapa-siapa? Aku ragu. Ini benar-benar aneh. Jelas-jelas aku merasakan bahwa ada yang mengikutiku.

            Sampai di sekolah, Andika langsung menuntunku ke Warung Bi Iyem. Aku sempat bilang padanya kalau belum sarapan. Dia juga yang mengobati luka di lututku. Setelah itu, dia pamit lalu pergi. Kali ini gantian Rini yang datang. Makhluk yang satu ini heboh saat melihat aku terluka. Mau tidak mau aku menceritakan semuanya.

            “Wah si gadis kasmaran ini … benar-benar rezeki nomplok namanya. Kapan lagi bisa seperti itu dengan Andika.”

            Aku tidak menjawab. Rasanya biasa saja walaupun Rini menggodaku. Jujur tidak senang. Aku lebih kepikiran tentang seseorang yang mengikutiku. Benar-benar aneh.

 

             *Sore hari*

            Hari ini Tri tidak terlalu bersemangat untuk belajar. Luka tadi pagi sudah mulai tidak terasa. Pulang sekolah aku berniat akan pergi ke rumah Paman Sam. Beliau adalah teman Bapak dari kecil. Sudah seperti saudara sendiri. Paman Sam punya beberapa mesin tik. Tri sering pinjam untuk mengetik surat. Hari ini aku akan membuat surat untuk Eyang. Eyang tinggal jauh dari kota ini. Sehingga kami—keluargaku­—tidak bisa sering-sering main ke rumah Eyang.

            “Permisi Paman? Ini Gayatri.”

            Pintu kayu terbuka. “Hoho, Gayatri. Mau mengetik kan? Mari masuk.”

            “Iya Paman Sam. Gayatri pinjam mesin tiknya lagi ya.”

            “Silakan. Boleh kapan saja untuk Gayatri yang cantik.”

            Aku mulai mengetik. Mulai merangkai kata–kata menjadi kalimat, lalu kalimat menjadi paragraf. Tak lupa menceritakan kejadian yang terjadi pada diriku tadi pagi. Aku lebih sering bercerita tentang keseharian pada Eyang. Aku tau betul, Eyang paling suka membaca cerita-ceritaku. Kata Eyang aku cucu kesayangannya. Wah sudah lama sekali aku menghabiskan waktu di sini. Harus segera aku kirimkan surat ini ke kantor pos.

            “Paman, Gayatri pamit ya. Terima kasih pinjaman mesin tiknya. Mungkin Paman kepikiran memberikan satu mesin tiknya untuk Tri, hehe.”

            “Kalau nak Tri lulus, Paman kasih salah satu mesin tiknya ya.”

            “Wah asyiiik … kalau begitu Gayatri pamit sekrang.”

            “Hati-hati di jalan nak Tri.”

            Aku melambaikan tangan dan pergi menuju kantor pos. Karena agak jauh, aku harus naik becak. Udara segar sore hari ini, membuat tenaga yang habis terisi kembali. Aku bersemangat kembali. Aku sedang beruntung! Di kantor pos tidak banyak orang. Jadi aku tidak perlu mengantre.

            Mentari mulai terbenam. Aku memutuskan untuk mampir sebentar ke tempat rahasia. Mau meluapkan kebingungan, kesal, takut di bawah pohon Flamboyan. Sampai di sana aku duduk di bangku dan memandang kincir angin.

            “Hei kincir angin! Bisakah aku hidup seperti tokoh utama novel romantis aja? Barangkali hidupku lebih berwarna, lebih banyak bunga-bunga, tidak seperti sekarang.”

            Tidak ada jawaban sama sekali. Ya iya, pasti tidak ada jawaban. Kincir angin kan benda mati. Aku seperti tidak punya teman saja. Tiba-tiba angin berhembus agak kencang. Air danau pun ikut bergerak searah dengan angin. Kinci-kincir berputar semakin cepat.

            Cring … Cring …

            Ada suara aneh. Suaranya dekat. Itu dari … ASALNYA DARI BELAKANGKU?! Bersamaan dengan suara aneh itu, ada cahaya yang cukup mengganggu penglihatan. Silau sekali.

            Bruk!

            Terdengar seperti suara barang yang jatuh. Aku melihat sekitar. Siapa tau ada orang yang lewat atau apapun itu. Tetapi aku lupa kalau tempat ini benar-benar sepi. Di dekat akar pohon Flamboyan ada sesuatu. Itu asal dari suara aneh dan cahaya yang menyilaukan. Dekati jangan? Rasa takutku kalah dengan rasa penasaran. Dengan hati-hati aku mendekati barang itu. Dan ternyata … sebuah kotak! Huft, hanya sebuah kotak. Aku pikir alien atau semacamnya.

                “Ada orangkah di sini selain Gayatri?” sambil melihat sekitar.

            Barangkali kotak ini jatuh atau terlempar. Ini pasti milik seseorang. Kotaknya tidak terlalu kecil. Berbahan kayu. Apa ini kayu jati? Lumayan berat. Ukiran pada kotak ini indah sekali. Di atas kotak terdapat ukiran yang membentuk kata “Adhikari Asmara”. Adhikari Asmara? Nama pemiliknya? Entah milik siapa kotak ini, aku harus segera mengembalikannya. Langit sudah mau gelap, aku harus segera pergi dari sini. Ketika akan beranjak dari tempat rahasia sambil membawa kotak itu, tiba-tiba kotaknya bergetar.

            “ASTAGA KENAPA KOTAKNYA BERGETAR?!”

            Kotak itu tak sengaja jatuh. Lalu terdengar suara dari dalam kotak.

            Halo Gayatri Rahayu? Jangan kaget, kotak ini tidak berbahaya. Apakah kamu ingin berpetualang lalu menjadi pemeran utama di sebuah novel? Kalau jawabannya iya, kamu buka kotak Adhikari Asmara ini. Ada beberapa ketentuan yang harus kamu baca.

            Aku langsung mengambil kotak itu yang tergeletak di tanah. Mencari barangkali ada sebuah audio atau semacamnya. Karena jika itu suara orang yang berada di sekitar aku tidak mungkin. Di sini benar-benar tidak ada siapa-siapa. Kotak ini ajaib! Aku penasaran dan akhirnya membuka kotaknya. Kertas yang digulung? Lalu aku baca isi dari kertas tersebut.

 

            Kertas 1:

            Undangan kepada Gayatri Rahayu. Selamat Anda terpilih menjadi pemeran utama novel.

            Kertas 2:

            Ketentuan Adhikari Asmara

1.    Ikut serta program ini dari awal hingga selesai

2.    Mau belajar hal baru

3.    Tidak takut di lingkungan yang baru

4.    Hanya ada satu orang yang masuk program ini

 

 

     Program ya? Ini menarik! Ketentuannya tidak masalah. Aku mau ikut. Suara dari kotak ini kembali berbunyi.

     Apakah sudah dibaca ketentuannya? Apakah berminat untuk mengikuti program kami? Keamanan Anda terjamin oleh kami. Jika ingin mengikuti program ini dan ingin mengetahui penjelasan lebih lanjut, Anda bisa menekan tombal di sisi kanan kotak. Pastikan kembali apakah Anda benar-benar sendiri atau tidak. Sekali lagi program ini hanya bisa diikuti oleh satu orang.

     Aku sudah melihat di sekelilingku. Aman. Di sini hanya ada aku sendirian.

 

     Sruk … Sruk

 

     Ketika akan menekan tombol di kotak. Terdengar suara daun terinjak dari semak-semak. Betul, itu semak-semak yang waktu itu membuatku kaget. Waktu itu pun yang membuat suara gaduh ternyata seekor kucing. Aku tak mau memusingkan hal itu lagi. Kotak ini terus bergetar, aku harus segera menekan tombolnya.

 

     *tekan tombol*

 

     Badanku tertarik ke dalam kotak. Lalu penglihatanku mengabur. Semoga aku selamat dan bisa kembali lagi ke sini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagian 2

 

            Mataku terbuka. Kepalaku sedikit pening. Badanku rasanya seperti remuk dan rasanya agak mual. Aku berada di mana ya? Di tempat ini semuanya berwarna hijau muda. Tak ada apa pun di sini. Cukup seram juga.

            “Hai Gayatri Rahayu. Perkenalkan aku Mori, akan menjadi asisten kamu selama mengikuti program ini.”

            Aku melongo. “K-kamu anak ayam? t-terbang? Sepertinya aku mimpi.” Aku cubit kedua pipiku ternyata sakit. Bukan mimpi, ini nyata.

            “Kamu kaget ya? Wajar. Mulai dari sekarang kamu akan dihadapkan dengan sesuatu yang belum pernah kamu alami. Kalau kamu bertanya kenapa anak ayam bisa terbang, ya Mori Cuma bisa jawab karena dari sistemnya memang begini.”

            “Ah begitu ya. Lalu ini sebenarnya program apa? Kotak itu kenapa harus dikirim padaku? Kenapa harus Gayatri?”

            “Wah banyak sekali pertanyaan Gayatri ya. Ayo kita duduk di pinggir sungai di sana.”

             Tempat ini yang tadinya berwarna hijau muda, berubah menjadi pemandangan sungai ditambah pohon-pohon hijau. Ini di luar nalarku.

            “LOH BISA BERUBAH?! HEBAT SEKALI. KENAPA BISA BEGINI??”       

            “Ini berkat sistem dari perusahaan kami. Tempat ini seperti dimensi kosong yang bisa diubah-ubah.”

            Aku hanya bisa mengangguk dan terus memperhatikan penjelasan dari Mori.

            “Jadi program Adhikari Asmara ini program novel romantis lintas zaman. Ya perusahaan kami ini sedang menguji teknologi buatan baru. Di mana kami mengundang orang dari zaman yang berbeda untuk bisa masuk dan berperan di dalam novel …”

            Aku memotong pembicaraannya. “Maksud Mori seperti aku menjalani hidup di cerita novel itu?”

            “Iya tepat sekali. Menyenangkan bukan? Lalu kenapa perusahaan kami memilih kamu, alasannya karena kami mengadakan survei terlebih dahulu. Mencari remaja seusia kamu yang sekiranya tertarik pada program ini. Hasil akhirnya kami memilih Gayatri. Karena kebetulan sekali kamu menyukai novel romantis dan suka pada ilmu pengetahuan. Apa sudah jelas? Masih ada pertanyaan lain kah?”

            Pembicaraan kami ditemani dengan suara gemercik air sungai. Aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan menyusuri sungai.

            “Kalian berasal dari zaman mana? Masa depan kan? Teknologi yang kalian punya sangat luar biasa. Bisa dibilang ini di luar nalarku. Pada zamanku, hal-hal seperti ini pastinya belum ada. Gayatri hanya pernah baca beberapa surat dari teman Bapak yang di luar negeri, teknologinya lebih maju dari negaraku. Tetapi kalau disandingkan dengan zaman Mori, masih sangat jauh.”

            “Oh iya benar. Kami datang dari masa depan, kita berbeda kurang lebih 40 tahun. Kita masih berada di negara yang sama, namun di zaman yang berbeda.”

            “A-APA KAMU BILANG?! BERBEDA 40 TAHUN??”

            Mendengar kata-kata Mori membuat aku berkeringat. Agak merinding. Bagaimana tidak, aku datang ke masa depan. Ke masa di mana aku asing di dalamnya. Menakutkan juga.

            “Jangan khawatir Gayatri, kamu aman. Kami menjamin keselamatan kamu.”

            “BUKAN, BUKAN ITU YANG SEDANG AKU PIKIRKAN. BAGAIMANA AKU BISA MENGIMBANGI KALIAN YANG DARI MASA DEPAN? AKU TAK MENGERTI APAPUN YANG ADA DI ZAMAN KALIAN.”

            Aku benar-benar berteriak. Rasanya kesal.

            “Tenang Gayatri. Justru dengan program ini kamu bisa mengimbangi. Bisa mempelajari masa depan seperti apa. Kamu dibebaskan untuk bertanya tentang hal apa saja. Ini salah satu tujuan novel lintas zaman.”

            Awalnya aku kesal, tapi ketika sudah mendengar penjelasan Mori lebih lanjut aku tenang kembali. Ini merupakan kesempatan yang tak datang dua kali. Kapan lagi aku bisa berkunjung ke masa depan. Sedikit mengintip bagaimana negaraku di masa yang akan datang. 40 tahun kemudian dari masa aku hidup sekarang.

            “MORI AKU BARU INGAT!!”

            “Ada apa lagi Gayatri?”

            “Jika aku ada di sini, lalu bagaimana Ibu dan Bapak? Bagaimana orang yang ada di sana? Mereka akan tau aku menghilang atau gimana?”

            Aku cemas. Baru ingat akan hal itu. Saking cemasnya aku hampir terpeleset ke dalam sungai. Huft, hampir aja.

            “Hehe, tenang aja. Kami bisa membekukan waktu ja–”

            “Maksudnya jadi es batu? Atau seperti es serut yang ada di Warung Bi Iyem?!”

            “Hahaha kamu ini lucu Gayatri. Bukan, bukan begitu. Maksudnya waktu terhenti. Jadi seakan-akan kamu tidak pernah datang ke sini. Jika kamu kembali lagi, waktu akan berjalan seperti sedia kala. Tenang saja, kami telah mengatur semuanya.”

            “Wah hebat sekali teknologi di tahun 2020!”

            “Sudah pasti hebat.”

            Aku berhenti berjalan. Lalu berbalik pada Mori yang dari tadi membuntutiku dari belakang.

            “Lalu bagaimana soal makan, minum, tidur dan lain-lain?”

            “Oh iya hampir aja aku lupa memberi tau. Hal-hal seperti itu tidak bisa kami atur. Kamu harus tetap melakukannya. Semua hal itu kami tanggung. Tidak udah khawatir.”

            “Syukurlah. Satu pertanyaan lagi!”

            “Silakan. Bertanya sebanyak-banyaknya pun aku tidak masalah. Ini memang tugas Mori sebagai asisten untuk mendampingi dan memberikan apa pun keperluan Gayatri.”

            “Kalau Gayatri tidak mengerti sesuatu seperti bahasa atau teknologi yang kalian gunakan bagaimana?”

            Mori—si anak ayam yang bisa terbang—menjentikkan jarinya. Lalu muncul layar di hadapan kami berdua. Seperti layar televisi di rumah. Tetapi lebih tipis dan transparan. Lebih mengejutkannya lagi benda tersebut melayang! Memang teknologi di masa depan bukan main hebatnya. Mori mulai menjelaskan bagaimana cara kerja benda tersebut. Kata Mori sebut saja benda itu A2. Singkatan dari Asisten 2.

            “Nah kurang lebih seperti itu cara kerja A2.”

            “Hebat, jadi lebih mempermudah Gayatri.”

            “Hari ini Gayatri boleh istirahat. Besok pagi kita akan mulai masuk dalam cerita. Kamu tinggal sementara di apartemen.”

 

            A2:

Apartemen. tempat tingal yang terdiri atas ruang duduk, kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan sebagainya yang berada pada satu lantai bangunan bertingkat yang besar dan mewah, dilengkapi dengan berbagai fasilitas.

 

Aku diantar Mori ke apartemen. Apartemen ini mewah. banyak barang elektronik yang belum aku tau. Tetapi Mori dengan tanggap langsung memberi penjelasan. Lalu Mori pamit agar bisa memberi aku waktu untuk sendirian. Dia akan muncul kalau aku memanggil namanya.

Tempat ini tidak buruk juga. Bukan keputusan yang salah aku mengikuti program Adhikari Asmara. Semoga aku bisa belajar banyak di sini. Lalu cita-citaku menjadi pemeran utama di novel bisa terwujud. Hidup yang berbunga-bunga akan segera datang. Ibu, Bapak, Rini, dan semuanya tunggu aku pulang kembali ya.

Di dimensi saat ini waktu sudah malam. Proses pindahnya aku dari zaman 80-an ke masa depan sangat menguras tenaga. Apalagi penjelasan-penjelasan yang Mori paparkan harus aku tangkap dengan cepat. Badanku sudah lelah. Ini waktunya untuk istirahat. Membiarkan pikiran dan fisikku sedikit melonggarkan aktivitasnya.

--

Bip … Bip …

Cahaya mentari masuk ke jendela kamar. Kamarku menjadi hangat. Aku terbangun karena ada suara aneh di sebelah kasurku. Ini seperti jam, tapi hanya ada empat angka saja.

 

A2:

Digital. berhubungan dengan angka-angka untuk sistem perhitungan tertentu; berhubungan dengan penomoran.

Ini adalah jam digital. Sama seperti jam di zamanmu. Hanya saja angka di jam ini ada empat. Dua angka pertama menunjukkan jam lalu dua angka terakhir menunjukkan menit. Suara aneh juga berasal dari jam ini, bisa disebut sebagai alarm.

 

            Baru saja bangun dan membuka mata, A2 sudah menjelaskannya. Aku harus ingat-ingat istilah asing yang baru aku tau. Dengan segera aku bersiap untuk mandi. Kamar mandinya pun sangat berbeda dengan kamar mandi di rumahku. Ada yang menggantung di atas. Kata A2 itu Shower. Aku sepertinya pernah melihatnya, tetapi dengan bentuk yang sedikit agak rumit. Tetapi shower ini justru lebih sederhana. Pokoknya banyak sekali benda-benda yang canggih dan A2 langsung memberi informasinya.

            Hari ini aku kembali ke dimensi kosong. Warna tempatnya berubah lagi seperti pertama kali aku datang. Ya, berwarna hijau muda. Di sana sudah ada Mori yang menungguku. Dia memberi tau kalau hari ini aku akan mulai masuk ke cerita. Lalu memberi aku smart phone. Kata Mori, ini salah satu benda yang memiliki banyak fungsi. Lalu dia menjelaskan cara kerja dari smart phone.

            “Sudah ya jelas? Kalau Gayatri masih bingung bisa bertanya lagi pada Mori. Sekarang kamu akan masuk ke portal 1. Itu adalah portal untuk cerita pertama yang akan kamu ikuti dari novel. Di dalam sana Gayatri seperti hidup biasa di dunia nyata. Hanya saja, pelaku, latar, dan alur sudah diatur oleh kami. Nama pemeran utama novel perempuan tetap memakai nama Gayatri. Di dalam cerita, kamu bisa bertindak sesuka hati namun masih dalam batas yang kami tetapkan. Pihak perusahaan akan terus memantau dan Mori akan ikut masuk juga.”

            Aku menarik napas. “Baiklah, Gayatri mohon bantuannya.”

            “Tenang saja! Kita akan berpetualang ke dalam novel dan bersenang-senang!”

            Lalu kami masuk ke dalam portal 1 dan kehidupan di dalam novel pun di mulai.

--

            Keren sekali pada zaman ini. Sangat berbeda dari tahun 80-an. Semuanya modern. Banyak gedung pencakar langit. Sayangnya banyak sekali kendaraan dan membuat jalanan macet. Seperti sekarang saja aku sedang berada di dalam mobil menuju ke sekolah. Mobil ini keren banget. Ada pendinginnya. Tidak seperti mobil di zamanku.

            “Wah sekolahnya keren, luas banget.”

            “Hei. Tumben banget nyampe ke sekolah pagi-pagi.”

            Ini siapa ya? Penampilannya sederhana tapi tetap t-tampan. Menyilaukan mata sekali.

            “Eh? Siapa ya?”

            “Kamu sedang drama ya? Masa lupa sama pacar sendiri.”

            Pipiku langsung memerah. Oh ternyata ini pacarku di novel. Emm … Tama bukan ya?

            “Hehe, Tri sedang melakukan peran. Tama ya?”

            “Loh kamu juga pura-pura lupa namaku ya? Iya aku Tama Kertanegara. Salam kenal.” Dia tertawa sambil menepuk bahuku. “Sudah ya dramanya.”

            “E-eh iya ….” aku menunduk malu.

            “Pulang sekolah kita jalan-jalan ya! Tama bakal tunggu di depan kelas kamu. See you.” Tama mengelus kepalaku.

            Manis sekali dia. Jantungku berdebar-debar. Padahal hanya percakapan biasa. Lalu aku berjalan menuju kelas. Anehnya aku sudah tau arah dan tempat-tempat di sekolah ini, seperti sudah biasa. Jadi tidak akan tersesat di sekolah yang luas seperti orang yang baru pertama kali datang. Aku juga sudah akrab dengan teman-teman di kelas.

            “Gayatri! Cie pagi-pagi tadi udah pacaran aja sama Tama.” teriak salah satu teman perempuanku.

            “Iya nih bucin banget Gayatri.” dilanjutkan teman-teman lainnya.

            Hah bucin? Istilah apa lagi ini.

 

            A2:

Bucin singkatan dari budak cinta. Kata ini digunakan untuk mengungkapkan seorang pria atau wanita yang tergila-gila dengan seseorang atau pasangan yang dicintainya.

 

            Oh ternyata itu artinya kata bucin. Semakin aneh saja istilah-istilah yang ada. Aku harus belajar lagi bahasa gaul yang lain agar mengerti.

            “Ah tidak, Gayatri tidak bucin sama Tama.”

            “Dasar alasan aja. Tiap pulang kalian kan selalu bareng. Itu namanya bucin.” lalu mereka tertawa.

            Mereka terus mempermasalahkan bucin. Aku tak mengerti, lagi pula kan aku tidak tergila-gila dengan Tama. Tiba-tiba Mori muncul di sebelahku yang sedang duduk menghadap ke jendela.

            “Gayatri bingung masalah bucin ya? Walaupun artinya itu tergila-gila, tapi di zaman ini kata bucin digunakan juga sebagai ejekan.”

            “Oh gitu ya, pantas saja. T-api Mori kenapa muncul? Nanti yang lain bisa lihat dong.”

            “Hahaha. Aku kan bagian dari sistem. Tenang saja, aku hanya terlihat sama Gayatri.”

            “Baiklah.”

            Cara belajar di sekolah ini menyenangkan juga. Pelajaran yang aku pelajari di zaman ini sudah lebih berkembang. Ada beberapa istilah pendidikan yang aku tak mengerti. Kalau boleh jujur, terlalu banyak istilah pendidikan yang sebenarnya hanya sia-sia. Itu menurutku sih. Ah sudahlah, tentang pendidikan di zaman ini aku tak mau ikut campur. Ingin fokus saja pada cerita romantis di novel ini.

            Sesuai dengan janji pulang sekolah aku akan bertemu dengan Tama. Ini saatnya aku untuk mengenal Tama seperti apa. Kira-kira bagaimana ya, gaya pacaran di zaman ini? Surat- menyurat sepertinya sudah tidak zaman. Aku perhatikan sih pesan-pesan seperti itu dikirim lewat smart phone.

            Tring!

            Baru saja aku bicarakan, smart phone yang ada di dalam tasku berbunyi. Sebenarnya saat jam istirahat aku tidak makan, melainkan berkutat dengan smart phone. Mempelajari bagaimana seharusnya smart phone ini digunakan. Benda ini sangat berguna ternyata. Dari penjelasan yang Mori berikan pada Tri, benda ini bisa aku gunakan untuk belajar juga. Buku yang harusnya dicetak pun ternyata bisa masuk ke dalam smart phone. Pokoknya masih banyak yang harus pelajari dari benda ini.Tama

            Aku sampai lupa untuk membuka pesan yang masuk. Ini pasti dari Tama kan? Langsung saja aku buka pesan itu. Ternyata benar.

 

            Tama

            Hei gadis cantik! Aku udah ada di depan kelas. Ayo kita berangkat.

 

            Aduh Tama ini ada-ada aja deh. Aku harus hampiri dia sekarang. Buku-buku yang berserakan di atas meja segera dimasukkan ke dalam tas. Lalu lekas ke luar kelas. Benar saja Tama sudah menunggu sambil bersandar pada tembok.

            “Tama?”

            “Eh hei Gayatri ayo kita pergi sekarang.”

            Kami berjalan ke parkiran sekolah. Tama menghampiri mobilnya yang diparkir di pojok dekat pohon. Mobil Tama warnanya merah. Aku baru lihat ada mobil yang berwarna merah cerah seperti itu. Kemudian Tama berbalik badan ke arahku

            “Gimana nih Gayatri?” dengan ekspresi muka yang sedih.

            “Eh ada apa memangnya?”

            “Ban mobilku kempes, gimana ya?”

            “Gimana kalau kita naik angkutan umum saja?”

            “Kamu kaya yang gatau jalanan di kota aja. Kalau naik angkutan umum macet banget, belum lagi kalau angkutan umum itu suka berhenti-berhenti kan. Lebih baik naik mobil kamu aja. Ada supir kan?”

            “Seperti itu ya? Ya sudah deh naik mobil Gayatri saja. Tri telepon dulu pak supirnya.”

            Akhirnya pak supir datang. Lalu kami segera masuk ke dalam mobil. Tama memberi tau alamat yang akan kita tuju. Katanya sih mau datang ke sebuah tempat yang bagus. Saat aku tanya tempat itu apa, dia jawab kejutan sambil tersenyum. Senyuman Tama sangat manis.

            Keluargaku di dalam cerita ini memiliki latar belakang keluarga yang kaya raya. Maka dari itu aku mempunyai mobil pribadi beserta supirnya. Ternyata begini ya rasanya jadi anak orang kaya di zaman ini. Ditambah lagi punya pacar yang tampan. Kalau kata Rini ini rezeki nomplok namanya.

            Sampailah kita di sebuah Kafe. Suasana di sini nyaman sekali. Dekorasi di dalamnya sangat unik dan berwarna-warni. Wah dekorasinya jauh sekali dengan tahun 80-an. Ternyata sebelum datang ke sini, Tama sudah reservasi tempat untuk kita berdua. Dia memilih meja yang pemandangannya cukup bagus. Tempat kami ini langsung mengarah ke arah luar, yang di mana kita bisa langsung melihat taman beserta tanaman-tanaman yang indah.

            “Bagus sekali tempatnya!”

            “Kamu suka Tri? Tadinya aku takut banget mengecewakan kamu. Takut gak suka dengan suasana di sini.”

            “Aduh kamu ini ada-ada aja, Tama. Gayatri suka sekali. Ayo kita pesan makanannya.”

            Ketika membuka buku menu, aku sedikit kebingungan. Asing dengan nama-nama makanan dan minuman yang ada di dalamnya. Aku hanya ingin es mambo, tapi di sini tidak ada. Untung saja Mori dan A2 datang. Memberi saran, kira-kira makanan apa yang cocok di lidahku.

            Tak henti-hentinya selama kita makan di Kafe, Tama selalu tersenyum manis kepadaku. Dia cukup menyenangkan jika diajak bicara. Selama makan, kami membicarakan tentang buku, musik, dan lain-lain. Pokoknya aku banyak bertanya, tetapi Tama tidak keberatan dan bersedia menjawab semua pertanyaan aku. Dia juga bercerita bahwa dirinya berasal dari keluarga pengusaha. Intinya dia ini keluarga berkecukupan, namun bapaknya selalu menerapkan gaya hidup yang sederhana. Pantas saja tampilannya sederhana.

            “Ayo kita pulang, udah mau malem nih.”

            “Iya ya, tidak terasa. Habis dari tadi seru mengobrol.”

            “Aku ikut naik mobil kamu lagi ya, Tri. Ikut sampe jalan utama, nanti aku turun di sana.”

            “Loh? Tida Tri antar ke sekolah lagi? Kan mobil Tama masih ada di sana.”

            “Oh Tama mau ke rumah temen dulu. Masalah mobil gampang, hehe.”

            Pak supir datang untuk menjemput. Aku bilang kepada beliau untuk mengantar Tama ke jalan utama saja. Ketika di perjalanan, Tama menggenggam tanganku. Sontak jantungku berdebar sangat kencang. Tak karuan begini, malu sekali. Aku melihat sekilas bagaimana ekspresi dirinya. Dia melirik ke arahku lalu tersenyum seperti biasa. Genggaman tangannya tak dia lepas sampai kami berhenti di jalan utama. Lalu dia pamit,mengelus kepalaku dan pergi. Jujur, Tama sangat manis dan tampan sekali. Pemeran utama di novel ini tidak buruk. Gayatri menyukainya.

--

            Gayatri melanjutkan kembali kegiatan di cerita ini. Alur di sini belum selesai, jadi belum bisa ke luar dari portal 1. Sebenarnya aku sangat menikmati menjadi peran di cerita ini. Tidak ada masalah karena sejak hari pertama aku datang, semuanya menyenangkan. Sumber utama kebahagiaan adalah Tama. Dia selalu memberi kejutan-kejutan manis yang tidak aku sangka. Benar-benar manis.

            Hari ini libur, kebetulan Tama memberi pesan untuk mengajakku bermain. Katanya ingin main denganku seharian ini. Langsung saja aku mandi dan bersiap-siap. Sebenarnya agak bingung mencari baju untuk pergi jalan-jalan sekarang. Hari-hari sebelumnya aku lebih sering pakai baju sekolah dan baju biasa. Hari ini harus memakai baju yang cantik!

            “Mori! Ayo bantu Tri memilih baju.”

            *Poof!*

            “Siap! Mori akan bantu.”

            “Gayatri bingung harus memilih baju yang mana. Apa Mori punya saran?”

            A2 muncul dan di layarnya sudah ada model-model baju yang akan aku pilih.

            “Bagaimana model ini Tri?”

            “Itu agak terbuka, Mori.”

            “Kalau ini?”

            “A-aneh, sepertinya aku tidaka akan cocok.”

            “Kalau begitu yang ini.”

            “Tidak. Gayatri tidak mau.”

            Layar A2 terus berganti dari satu model baju ke model lainnya.

            “Nah yang ini saja! Tri mau pakai yang ini. Ini bajunya lebih mending dari baju-baju yang lainnya.”

            Setelah sekian banyak baju yang A2 perlihatkan di laarnya, aku memilih gaun. Gaun yang aku pilih modelnya sederhana. Bahkan gaun ini mirip modelnya dengan yang pernah Ibu buat. Walaupun lebih sedikit modern. Gaunnya berwarna putih. Panjangnya sampai bawah lutut dan banyak hiasan bunga-bunga. Lantas aku pakai gaun itu lalu ditambah bandana untuk hiasan di rambut.

            Aku melihat penampilanku di cermin. “Wah … Mori lihat! Aku cocok memakai gaunnya!”

            “Hahaha iya Gayatri memang sudah cantik, ditambah memakai gaun ini sangat cocok.”

            Tring!

            Itu pasti pesan dari Tama. Tri langsung mengambil smart phone yang di simpan di atas kasur.

           

            Tama

            Selamat pagi gadis cantik! Aku udah ada di depan rumah. Udah siap kan? Ayo berangkat sekarang.

 

            “Dia udah ada di depan!”

            “Ayo segera berangkat, Tri. Hari ini Mori tidak akan menggangu kencan kalian. Selamat bersenang-senang!”

            Mori menghilang. Dia memberi aku waktu untuk berkencan hari ini dan tidak akan mengganggu. Sudah siap dengan semuanya, aku berjalan ke luar menghampiri Tama yang sudah menunggu.

            Tama membuka jendela mobil. “

No comments:

Post a Comment

Kotak Adhikari Asmara

  Bagian 1               “Halo? Apa ada orangkah di sini?”             Aku coba melangkah lebih dekat ke arah pohon itu. Pohon yang cu...