Bagian 1
“Halo?
Apa ada orangkah di sini?”
Aku coba
melangkah lebih dekat ke arah pohon itu. Pohon yang cukup besar, tapi aku tidak
tau jenis apa pohon ini. Beringin kah? Angsana kah? Oh rupanya ini pohon
Flamboyan. Maaf, aku tidak terlalu mahir mengetahui jenis pohon. Padahal aku
diam-diam sudah pernah membaca buku botani milik Bapak. Apa masih kurang ya?
Ah ternyata tidak ada siapa-siapa, untunglah
….
Ini tempat menakjubkan yang pernah aku temui. Jaraknya tak terlalu jauh dari rumah. Tapi aku baru menyadari ada tempat seperti ini. Cerita awalnya aku sedang jalan-jalan mencari es mambo. Kemudian saat aku berada dekat danau, aku melihat pohon Flamboyan ini. Ternyata aku menemukan tempat yang bagus. Tempat ini cocok untuk aku berdiam diri sambil ‘pacaran’ dengan buku. Di bawah pohon Flamboyan ini terdapat bangku-bangku kecil. Lalu ada beberapa kincir angin yang tergantung pada ranting Flamboyan. Lucu sekali bukan? Saat ada angin, kincir angin tersebut berputar. Seperti sedang menari. Entah kebetulan atau bukan, tempat ini seperti dipersiapkan khusus untukku. Aku sebut saja ini tempat rahasia.
--
“Gayatri
… sini kemari bantu Ibu.”
Aku
langsung beranjak dari kursi rotan dan langsung menghampiri Ibu.
“Apa
yang perlu Tri bantu Bu?”
“Ini,
tolong bawakan kopi buat Bapak ya.”
“Iya Bu.”
Aku
membawa kopi dari dapur ke teras rumah. Ternyata Bapak sedang membaca secarik
kertas. Biasanya itu surat dari temannya yang ada di luar negeri. Hebat bukan?
Bapak bekerja sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sehingga
banyak sekali kenalan Bapak.
Aku
menyimpan cangkir kopi di meja. “Pak, ini kopinya.”
“Terima
kasih, nak. Tri masih suka baca buku-buku Bapak?”
Aku ikut
duduk di sebelah bapak. “E-eh … masih Pak. Gayatri sangat suka baca buku botani
milik Bapak dan beberapa surat yang bapak dapat dari luar negeri.”
“Tri
bisa menerjemahkannya?”
“Sedikit
Pak. Gayatri sudah belajar bahasa luar, walaupun belum terlalu mahir.”
“Hmm …
baiklah. Tapi jangan sampai Tri meninggalkan masa muda demi hal seperti itu
ya.”
“I-iya Pak.”
Setelah
itu, aku beranjak dari sana. Berjalan masuk ke kamar dan mulai memasang
piringan hitam album Koes Plus. Hampir semua lagunya aku suka. Romantisme di
dalamnya yang membuat aku suka. Bapak masih menganggap aku sibuk dengan ilmu
pengetahuan tanpa memperhatikan masa mudaku. Ya, masa muda yang Bapak maksud
adalah jatuh cinta dan semacamnya. Padahal aku sangat suka membaca novel
romantis. Juga suka membaca tulisan-tulisan pujangga dari koran. Letak
kesalahannya karena hal-hal tersebut tidak Bapak ketahui. Lalu semakin
diperkuat dengan Gayatri yang tidak punya pacar. huft …. Di sini memang begitu. Seusia aku—remaja SLTA—sudah punya
pacar bahkan ada yang sudah menikah juga. Aku hanya belum menemukan yang tepat
dan yang cocok denganku tentunya. Aku sibuk dengan buku-buku pelajaran dan
sebagainya bukan berarti hatiku keras dengan yang namanya jatuh cinta.
--
Lupa
untuk memperkenalkan diri. Namaku Gayatri Rahayu. Kedua orang tuaku selalu
memanggil Tri, begitu juga teman-teman di sekolah. Aku ini anak sematawayang
Ibu dan Bapak. Di sekolah aku dikenal gadis yang cerdas, ceria dan cantik.
Mungkin cerdasnya didapatkan dari Bapak yang seorang peneliti. Lalu wajah
cantikku sudah pasti dari Ibu. Ibu sangat cantik. Apalagi ketika beliau sedang
menjahit. Iya, ibu seorang penjahit. Hasil jahitannya sangat bagus. Terbukti
dari baju-baju yang aku pakai begitu rapi dan indah. Baju-baju itu buah hasil
karya Ibu.
Kegiatan
setiap pagi yang wajib aku kerjakan yaitu menyiram tanaman Bapak. Ya karena
Bapak sibuk, begitupun Ibu … maka jawaban terakhirnya adalah aku. Aku yang
harus menyiramnya. Sekian banyak tanaman yang Bapak tanam di pekarangan rumah,
tanaman favoritku hanya satu yaitu bonsai. Kalian tau kan? Menurutku bentuknya
lucu dan unik.
Setelah
melaksanakan kegiatan wajib, aku bersiap untuk berangkat sekolah. Sekolahku tak
jauh dari rumah. Aku biasa berjalan kaki sampai sekolah. Teman-teman yang lain
ada yang naik sepeda, becak, bahkan motor. Sebenarnya aku bisa saja naik
sepeda, tapi karena pernah jatuh lalu masuk kolam ikan milik tetangga, aku
tidak mau lagi. Dengan rambut yang sudah rapi dikepang dua, kemeja putih, rok
abu selutut, sepatu yang baru dicuci, dan tas selempang pemberian Ibu, aku siap
berangkat sekolah.
Syukurlah, pagi hari ini cerah. Segera aku
berjalan ke luar pagar rumah. Jalan menyusuri rumah-rumah. Seperti biasa,
banyak anak-anak sekolah yang berangkat juga. Jalanan ramai.
“Eh Bi
Ida, udah mulai keliling?”
“Iya nih
nak Tri, pasti udah banyak yang nunggu jamu. Saya duluan ya.” lalu mengayuh
sepeda.
“Nak
Tri, kapan main ke kebun paman lagi?”
“Ah iya
paman, mungkin hari Minggu ini.” sambil membungkukan badan.
Terus
berjalan, aku melihat ada telepon umum di seberang jalan. Langsung saja aku
menghamipiri ke seberang jalan. Sebenarnya beberapa hari yang lalu aku sudah
pernah lihat dan sempat bertanya pada pak guru. Tapi ini kali pertama aku bisa
lihat langsung secara dekat. Canggih
sekali bukan?Di lain kesempatan mungkin aku harus coba. Agar tidak usah kirim
surat lagi. Setelah mencoba menekan beberapa tombol di telepon umum, aku
bergegas jalan kembali.
Sampai
di dekat daerah sekolah, aku melihat gerbang hampir ditutup. Dengan cepatnya
aku berlari dan berhasil lolos masuk ke dalam. Aduh untung ga terlambat. Ini karena tadi keasyikan melihat-lihat di
perjalanan. Di lapangan sekolah
sudah ramai dengan anak laki-laki yang sedang bermain sepak bola. Apa mereka tidak cape ya? Lebih baik duduk
dan baca buku saja kan? Lalu aku meneruskan langkah sampai ke dalam kelas.
Belajar
di sekolah sangat seru. Mengapa seperti itu? Karena aku bisa puas bertanya
kepada bapak dan ibu guru. Ternyata masih banyak hal yang belum aku ketahui.
Itu sangat mengasyikkan bukan? Lalu tempat favoritku adalah … perpustakaan! Eh,
bukan. Maksudnya perpustakaan ada di posisi kedua. Posisi pertama yang tak
pernah tergantikan adalah Warung Bi Iyem.
“Bi,
Gayatri beli gorengan kaya biasa ya, ini uangnya.”
“Eh, ga
usah bayar nak Tri. Hari ini Bibi kasih gratis.”
“Wah
terima kasih banyak, Bi. Saya duluan.” Aku langsung berlari menjauhi Warung Bi
Iyem karena teman-temanku langsung datang menyerbu ke warung untuk membawa
gorengan gratis. Tempat pelarianku selanjutnya adalah perpustakaan. Masih
banyak buku baru yang belum aku baca. Teman-temanku sering bertanya kenapa aku
begitu suka membaca buku. Um … jawabanku akan selalu sama. Ya karena dengan
membaca buku aku tau dunia luar bagaimana. Aku tau bagaimana masa lalu bahkan
aku sedikit bisa memperkirakan bagaimana masa depan.
Tiba-tiba
saat aku sedang asyik membaca buku, Rini—teman dekatku—menepuk bahuku.
“Hei
gadis kutu buku!” ia lalu duduk di sebelahku.
“Tumben
Rini mau ke perpustakaan, bukannya lebih baik kamu bawa gorengan gratis di Warung
Bi Iyem, ya?”
“Huft,
kehabisan gorengan gratis itu.”
“Lalu
ada apa kamu menyusul ke sini?”
Rini
memberikan sepucuk surat. “Ini ada surat lagi, Rini menemukannya di meja kita.”
“Aduh
ini surat dari siapa lagi?”
“Pengagum
rahasia Gayatri tentunya. Kalau bukan, siapa lagi?”
Ini
bukan surat pertama yang pernah aku dapat. Sebelumnya pun ada yang pernah
mengirim surat. Lalu aku coba buka surat itu. Ternyata benar dugaanku, isinya
puisi romantis lagi. Anehnya dengan inisial yang sama. Itu artinya pengirim
surat ini sama kan dengan surat-surat sebelumnya? Jujur, puisi yang dia tulis
sangat indah. Sudah seperti cerita romantis di novel saja. Tetapi … kenapa si
pengirim ini tidak lekas mengajakku bertemu?
“Rin,
kira-kira siapa ya pengirim surat cinta ini? Inisial yang ada di surat ini sama
seperti surat-surat sebelumnya.”
“Inisial
‘A’ itu? Coba aku tebak. Alif? Andika? Adi? Atau … Adiwangsa?”
“Umm …
semuanya mungkin, kecuali Adiwangsa. Aku harap Andika si pengirim surat ini.”
“Iya
juga ya, Tri. Adiwangsa itu … tiap kali bertemu kamu saja sudah ketakutan
setengah mati. Sepertinya Andika, dia kan suka mengajak kamu mengobrol, mungkin
saja dia malu buat menyatakan jadinya kirim surat deh.”
“Ah
entahlah, yang terpenting keinginanku sudah tercapai. Hampir sih.”
“Keinginan
Gayatri yang ingin seperti peran utama di novel? Dasar gadis kasmaran!”
Jam
pulang sekolah aku dan Rini jalan berdampingan di lorong sekolah. Karena sudah
jam pulang, di lorong ini ramai sekali. Lalu ada seseorang yang menghampiri.
Ternyata itu … Andika! Ya, benar itu Andika.
“Halo,
Gayatri.”
“Um,
halo!”
“Apa
sepulang sekolah mau menemani Dika membeli buku di toko Pak Ade?”
Apa Andika mau menyatakan cintanya di toko
Pak Ade?
“Ah iya Gayatri mau.”
“Syukur
deh, soalnya Dika butuh saran dari Tri buat beli buku. Kalau gitu, Dika bawa
sepeda dulu. Ditunggu di gerbang ya.” dia melambaikan tangan lalu berlari
Langsung
saja Rini menggodaku karena sedari tadi dia memperhatikan aku dan Andika
mengobrol. Baru saja melangkah, ada lagi yang menghampiri aku dan Rini. Bukan
Andika tapi Adiwangsa.
“G-gayatri
… a-aku m-mau bicara.”
“Iya
boleh.”
“A-anu …
itu.”
Aduh dia mau bicara apa. Rini menatapku
memberi isyarat bahwa lebih baik pergi saja. Aku juga berpikir untuk pergi
karena Andika pasti sudah menungguku di gerbang.
“Maaf,
tapi Gayatri dan Rini harus pergi sekarang, lain kali aja ya? Dahh ….” Aku
langsung menarik tangan Rini dan berlari menjauhi Adiwangsa yang belum sempat
berbicara lagi. Tidak sempat melihat bagaimana ekspresinya.
Aku dan
Rini berpisah di dekat gerbang, lalu sudah terlihat Andika yang menunggu sambil
membawa sepeda. “Andika! Ah maaf, menunggu Tri lama ya?”
“Tidak
kok. Ayo naik sepedaku, biar aku yang bonceng.”
Manis sekali senyumnya, batinku
“Oh iya ayo.”
Toko Pak
Ade tidak jauh dari sekolah. Cukup 8 menit saja menggunakan sepeda sudah sampai
di toko. Di sini banyak sekali buku-buku yang dijual Pak Ade. Ternyata Andika
meminta bantuanku untuk dicarikan buku puisi yang bagus. Apa mungkin dia si pengirim surat itu? Saling sibuk mencari buku
puisi yang bagus, akhirnya aku menemukannya. Tak lupa aku memberi saran kepada
Andika untuk membeli buku terjemahan Lelaki
Tua dan Laut karya Ernest Hemingway yang diterjemahkan oleh Sapardi Djoko
Damono. Aku memberi rekomendasi buku tersebut karena mungkin Andika yang suka
membaca buku juga akan tertarik. Sudah hampir
sejam di sini, tapi belum ada tanda-tanda dia mau menyatakan cinta.
“Sudah
dapat bukunya nih, kita pulang saja yu.”
HE KOK?!
“O-oh, i-iya sudah dapat ya. Ayo pulang saja.”
Kami ke
luar dari Toko Pak Ade. Dia sudah siap dengan sepedanya.
“Mau
Andika antar pulang?”
Aku
sudah terlalu percaya diri bahwa dia akan menyatakan cinta. Aduh malu banget.
“Oh ga
usah deh, Gayatri mau ke rumah tante dulu, hehe.”
“Ya
sudah, terima kasih ya sudah menemani. Andika duluan.” lalu mengayuh sepeda,
berlalu meninggalkan aku.
Huft, sudah lupakan. Aku sudah terlalu
percaya diri. Andika mana mungkin kan si pengirim surat dan menyatakan cinta
padaku. Ya sudah aku pergi saja ke rumah tante. Siap-siap memilih buku
novel romantis milik tante. Pelarian untuk melupakan kejadian tadi. Tante mempunyai
koleksi novel yang lumayan banyak. Mungkin bisa dibilang tante punya
perpustakaan pribadi. Aku suka meminjam buku novel romantis dari tante.
Sudah
mendapat buku yang cocok, aku berpamitan dan jalan-jalan sore seperti biasa. Setelah
dari sini, aku pergi mampir ke tempat rahasia. Entah pertanda apa, di perjalanan
menuju tempat rahasia, aku bertemu Adiwangsa lagi. Dia melihatku lalu
menghampiri.
“G-gayatri
… a-apa sekarang bisa bicara?”
Kenapa ya setiap bertemu Adiwangsa aku
selalu merasa takut, aneh aja.
“Iya? Mau ngomong apa Di?”
“Anu …
apa Gayatri mau liat tulisanku?”
“Emangnya
apa?”
“Pu–”
Tiba-tiba ada becak yang melintas, ternyata itu Ibu!
Entah mengapa aku sangat bersyukur. Aku bisa ‘kabur’ lagi dari dia. Maaf ya Adiwangsa.
“Uh, itu yang di becak Ibuku. Gayatri harus ikut Ibu
pulang sekarang, maaf ya. Mungkin lain kali.” Aku segera berlari mendekati
becak yang sudah berhenti di depan. Lalu naik bersama Ibu. Yah, walaupun tidak
jadi pergi ke tempat rahasia setidaknya aku berhasil menghindar dari Adiwangsa.
--
Hari-hari
selanjutnya di sekolah, surat cinta itu terus selalu aku dapatkan. Dengan
inisial yang sama. Jujur aku menyukai puisi-puisi di dalamnya. Sangat bagus.
Sayangnya, si pengirim ini tak kunjung menghampiri aku. Kemarin aku sempat
pikir Andika. Bahkan sempat berpikir bahwa Andika akan menyatakan cinta padaku.
Malu sekali. Akan tetapi, bukan Andika si pengirim itu. Sempat beberapa kali
aku pancing membicarakan soal tulis-menulis puisi. Tetapi jawaban Andika adalah
tidak. Iya, dia tidak pernah menulis puisi atau semacamnya.
Ternyata
Adiwangsa pun tetap berusaha ingin bicara denganku, saat aku sedang di Warung
Bi Iyem, sedang berjalan di lorong, atau bahkan saat aku sedang di
perpustakaan. Dia selalu ingin bicara. Namun, aku selalu menghindar. Lebih tepatnya
berhasil membuat alasan ini itu. Tentunya dengan bantuan Rini. Tapi … terakhir
kali aku menghindar, aku sempat melihat ekspresinya. Um bagaimana ya.
Ekspresinya seperti sedih lalu beberapa detik kemudian ekspresi marah. Apa
mungkin salah lihat? Adiwangsa tidak mungkin marah seperti itu kan?
Sempat
beberapa saat memikirkan hal itu. Tetapi aku cepat-cepat buang yang jauh,
hal-hal yang membuatku pusing. Ditambah lagi Rini selalu cerewet bilang padaku
untuk tidak menghiraukan Adiwangsa lagi.
--
Sudah
beberapa hari ini aku tidak dihampiri lagi oleh Adiwangsa. Rasanya tenang tidak
was-was seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi surat cinta tetap saja ada. Aku
sebenarnya tidak masalah surat cinta itu tetap ada, walaupun si pengirim masih
misterius. Berbeda dengan Rini yang sudah muak dengan surat cinta itu. Akhirnya
dia melarangku untuk membuka suratnya dan setiap kali ada surat cinta di meja,
dia akan langsung membuangnya. Ya sudah aku hanya menurut saja pada Rini. Lalu
memilih untuk tidak memikirkan lagi tentang surat ataupun siapa si pengirim
surat tersebut.
Sore ini
sepulang sekolah aku akan mampir ke tempat rahasiaku. Ya, betul ke pohon
Flamboyan. Hari-hari sebelumnya karena masih ada beberapa masalah—surat dan
Adiwangsa—yang mengganggu, waktuku untuk ‘pacaran’ dengan buku di tempat
rahasia tak lama. Namun hari ini, aku akan sepuasnya diam di sana. Menikmati
angin sepoi-sepoi dan ditemani kincir angin yang menari.
Sampai
di pohon Flamboyan, aku langsung duduk dan membaca buku novel romantis. Di tangan
kanan ada es mambo yang aku genggam. Lalu di sebelah kirinya novel. Rasanya tenteram sekali. Sebenarnya aku
masih bingung dengan tempat ini. Mengapa? Karena tempat ini selalu sepi, tidak
pernah melihat ada orang lain yang datang ke sini selain aku. Itu tandanya
pohon Flamboyan beserta barang lainnya yang ada di sini khusus dipersiapkan
untukku.
Aku
tenggelam dalam cerita novel dan suasana yang nyaman di bawah pohon Flamboyan.
Saat sedang asyik-asyiknya membaca … Bruk.
Loh? Suara apa ya itu? Suara gaduh
itu berasal dari semak-semak yang tak jauh posisinya dari tempatku duduk.
“Ada
orang ya di sana? Halo? Tolong jawab pertanyaanku.”
“….”
Karena
tak ada yang menjawab, aku mencoba untuk langsung melihat lebih dekat ke arah
sana. Ketika aku baru saja beranjak dari bangku. Ternyata ada seekor kucing
yang ke luar dari dalam semak-semak,
“Pus,pus.
Sini kemari, kucing. Kau mengagetkan Gayatri yang sedang membaca.” Kucing itu
langsung berlari, bukannya menghampiri aku.
“Huft,
dasar kucing nakal!”
Aku
melanjutkan kembali kegiatan membaca buku novel. Ceritanya sedang dalam tahap
romantis-romantisnya. Kapan ya seorang Tri bisa merasakan debaran yang begitu
hebat saat bersama seorang laki-laki? Mulai
kan … Gayatri dengan mode si gadis kasmaran! Tak terasa mentari sudah mau
terbenam. Sudah terlalu lama berada di sini. Jika tidak pulang cepat, bisa-bisa
kena omel Ibu di rumah. Bergegas aku membereskan barang-barangku lalu pulang. Sampai jumpa lagi besok sore, pohon
Flamboyan.
--
Esok
harinya, ketika aku sudah terbangun. Terdengar suara gaduh dari luar kamar.
Saat ke luar kamar, ternyata Ibu sedang membereskan barang-barang. Cukup
banyak. Bahkan membawa beberapa jahitan hasil Ibu. Tumben sekali Ibu menyiapkan banyak barang seperti ini.
Aku mendekat ke arah Ibu. “Bu? Mau pergi ke mana? Barang
yang disiapkan banyak sekali. Lagi pula ini masih pagi.”
“Nak Tri
sudah bangun ya. Ibu kemarin lupa bilang kalo hari ini mau pergi ke kota
sebelah.”
“Ada apa
memangnya Bu?”
“Ibu mau
ke rumah saudara. Sudah lama tidak mampir ke sana. Mungkin Ibu akan pulang
malam nanti. Hati-hati ya nak di rumah. Bapak juga belum akan pulang hari ini.”
“Iya Bu
….”
Kemudian
Ibu memberi tau beberapa tugas yang harus aku lakukan selama Ibu pergi ke kota
sebelah. Habis itu, aku mulai siap-siap untuk berangkat sekolah. Tugas pertama
yang harus aku lakukan adalah menyiram tanaman di pekarangan rumah. Ini sudah
menjadi hal yang wajib aku kerjakan sih. Ketika aku masih sibuk menyiram, Ibu
pamit pergi. Ibu tidak pergi sendirian, melainkan berangkat bersama tante.
Mereka berdua naik angkutan umum.
“Nak …
Ibu dan Tante pergi dulu ya. Hati-hati pokoknya. Jangan lupa makan. Tri sarapan
di Warung Bi Iyem aja. Kalau makan sore atau malam, pergi ke rumah tante.
Soalnya paman tidak ikut pergi.”
Seorang Gayatri tidak mungkin lupa untuk
makan.
“Iya Bu, tenang saja.”
Selesai menyiram, aku lekas
berangkat ke sekolah. Harus cepat-cepat
sampai, Tri laper banget. Seperti biasa saat di perjalanan aku bertegur
sapa pada siapa saja yang berpapasan denganku. Entah mengapa pagi ini di
jalanan sepi. Hanya ada beberapa anak saja yang berangkat sekolah. Tepat ketika
melewati telepon umun, seperti ada yang mengikutiku dari belakang. Ah mungkin hanya perasaan Tri saja. Kakiku
melangkah lebih cepat. Rasanya seperti tak karuan. Akhirnya aku memutuskan
untuk berbalik badan.
“Siapa yang mengikuti Gayatri?!”
setengah berteriak.
Loh
ga ada siapa-siapa? Aneh sekali, tidak ada siapa-siapa di belakangku.
Padahal aku yakin, ada yang mengikutiku dari tadi. Tanpa berpikir lama, aku
segera berlari. Di ujung jalan, aku tersandung batu.
Bruk!
Ya, aku terjatuh. Lututku sakit sekali. Ketika berusaha
untuk bangun, ada seseorang yang mengulurkan tangannya.
“Gayatri tidak apa-apa? Ada yang
luka tidak? Sini Andika bantu.” Dengan wajah cemas, Andika membantuku bangun.
“T-terima kasih. Aduh, lutut Tri
terluka.”
“Naik sepedaku saja, kita berangkat
ke sekolah bersama.”
Aku naik ke sepeda Andika. Sepanjang
perjalanan menuju ke sekolah Andika bercerita. Katanya dia kebetulan lewat
jalan ini. Biasanya dia lewat jalan lain untuk pergi ke sekolah. Tetapi hari
ini dia lewat jalan yang biasa aku lewati. Karena dia habis membantu pamannya
membawa barang. Dia bertanya padaku, kenapa sampai bisa terjatuh. Aku jawab
karena ada yang mengikuti. Lalu dia memberhentikan sepedanya.
Berbalik melihat ke arahku. “ Andika
tidak melihat siapa pun. Ketika Gayatri jatuh, di sana hanya ada Tri aja.”
Sontak aku melotot. Perasaanku
campur aduk. Apa benar Andika tidak
melihat siapa-siapa? Aku ragu. Ini benar-benar aneh. Jelas-jelas aku
merasakan bahwa ada yang mengikutiku.
Sampai di sekolah, Andika langsung
menuntunku ke Warung Bi Iyem. Aku sempat bilang padanya kalau belum sarapan.
Dia juga yang mengobati luka di lututku. Setelah itu, dia pamit lalu pergi.
Kali ini gantian Rini yang datang. Makhluk yang satu ini heboh saat melihat aku
terluka. Mau tidak mau aku menceritakan semuanya.
“Wah si gadis kasmaran ini …
benar-benar rezeki nomplok namanya. Kapan lagi bisa seperti itu dengan Andika.”
Aku tidak menjawab. Rasanya biasa
saja walaupun Rini menggodaku. Jujur tidak senang. Aku lebih kepikiran tentang
seseorang yang mengikutiku. Benar-benar aneh.
*Sore hari*
Hari ini
Tri tidak terlalu bersemangat untuk belajar. Luka tadi pagi sudah mulai tidak
terasa. Pulang sekolah aku berniat akan pergi ke rumah Paman Sam. Beliau adalah
teman Bapak dari kecil. Sudah seperti saudara sendiri. Paman Sam punya beberapa
mesin tik. Tri sering pinjam untuk mengetik surat. Hari ini aku akan membuat
surat untuk Eyang. Eyang tinggal jauh dari kota ini. Sehingga kami—keluargaku—tidak
bisa sering-sering main ke rumah Eyang.
“Permisi
Paman? Ini Gayatri.”
Pintu
kayu terbuka. “Hoho, Gayatri. Mau mengetik kan? Mari masuk.”
“Iya
Paman Sam. Gayatri pinjam mesin tiknya lagi ya.”
“Silakan.
Boleh kapan saja untuk Gayatri yang cantik.”
Aku
mulai mengetik. Mulai merangkai kata–kata menjadi kalimat, lalu kalimat menjadi
paragraf. Tak lupa menceritakan kejadian yang terjadi pada diriku tadi pagi.
Aku lebih sering bercerita tentang keseharian pada Eyang. Aku tau betul, Eyang
paling suka membaca cerita-ceritaku. Kata Eyang aku cucu kesayangannya. Wah
sudah lama sekali aku menghabiskan waktu di sini. Harus segera aku kirimkan
surat ini ke kantor pos.
“Paman,
Gayatri pamit ya. Terima kasih pinjaman mesin tiknya. Mungkin Paman kepikiran
memberikan satu mesin tiknya untuk Tri, hehe.”
“Kalau
nak Tri lulus, Paman kasih salah satu mesin tiknya ya.”
“Wah
asyiiik … kalau begitu Gayatri pamit sekrang.”
“Hati-hati
di jalan nak Tri.”
Aku
melambaikan tangan dan pergi menuju kantor pos. Karena agak jauh, aku harus
naik becak. Udara segar sore hari ini, membuat tenaga yang habis terisi
kembali. Aku bersemangat kembali. Aku
sedang beruntung! Di kantor pos tidak banyak orang. Jadi aku tidak perlu
mengantre.
Mentari
mulai terbenam. Aku memutuskan untuk mampir sebentar ke tempat rahasia. Mau
meluapkan kebingungan, kesal, takut di bawah pohon Flamboyan. Sampai di sana aku
duduk di bangku dan memandang kincir angin.
“Hei
kincir angin! Bisakah aku hidup seperti tokoh utama novel romantis aja?
Barangkali hidupku lebih berwarna, lebih banyak bunga-bunga, tidak seperti
sekarang.”
Tidak
ada jawaban sama sekali. Ya iya, pasti tidak ada jawaban. Kincir angin kan
benda mati. Aku seperti tidak punya teman saja. Tiba-tiba angin berhembus agak
kencang. Air danau pun ikut bergerak searah dengan angin. Kinci-kincir berputar
semakin cepat.
Cring … Cring …
Ada suara aneh. Suaranya dekat. Itu dari … ASALNYA DARI BELAKANGKU?! Bersamaan dengan suara aneh
itu, ada cahaya yang cukup mengganggu penglihatan. Silau sekali.
Bruk!
Terdengar seperti suara barang yang jatuh. Aku melihat sekitar. Siapa tau ada orang yang
lewat atau apapun itu. Tetapi aku lupa kalau tempat ini benar-benar sepi. Di
dekat akar pohon Flamboyan ada sesuatu. Itu asal dari suara aneh dan cahaya
yang menyilaukan. Dekati jangan? Rasa
takutku kalah dengan rasa penasaran. Dengan hati-hati aku mendekati barang itu.
Dan ternyata … sebuah kotak! Huft, hanya
sebuah kotak. Aku pikir alien atau semacamnya.
“Ada orangkah di sini selain Gayatri?” sambil melihat
sekitar.
Barangkali
kotak ini jatuh atau terlempar. Ini pasti milik seseorang. Kotaknya tidak
terlalu kecil. Berbahan kayu. Apa ini kayu jati? Lumayan berat. Ukiran pada
kotak ini indah sekali. Di atas kotak terdapat ukiran yang membentuk kata
“Adhikari Asmara”. Adhikari Asmara? Nama
pemiliknya? Entah milik siapa kotak ini, aku harus segera mengembalikannya.
Langit sudah mau gelap, aku harus segera pergi dari sini. Ketika akan beranjak
dari tempat rahasia sambil membawa kotak itu, tiba-tiba kotaknya bergetar.
“ASTAGA
KENAPA KOTAKNYA BERGETAR?!”
Kotak
itu tak sengaja jatuh. Lalu terdengar suara dari dalam kotak.
Halo Gayatri Rahayu? Jangan kaget, kotak ini
tidak berbahaya. Apakah kamu ingin berpetualang lalu menjadi pemeran utama di
sebuah novel? Kalau jawabannya iya, kamu buka kotak Adhikari Asmara ini. Ada
beberapa ketentuan yang harus kamu baca.
Aku langsung mengambil kotak itu yang tergeletak di
tanah. Mencari barangkali ada sebuah audio atau semacamnya. Karena jika itu
suara orang yang berada di sekitar aku tidak mungkin. Di sini benar-benar tidak
ada siapa-siapa. Kotak ini ajaib! Aku
penasaran dan akhirnya membuka kotaknya. Kertas
yang digulung? Lalu aku baca isi dari kertas tersebut.
Kertas
1:
Undangan kepada Gayatri Rahayu. Selamat Anda terpilih
menjadi pemeran utama novel.
Kertas
2:
Ketentuan Adhikari Asmara
1.
Ikut
serta program ini dari awal hingga selesai
2.
Mau
belajar hal baru
3.
Tidak
takut di lingkungan yang baru
4.
Hanya
ada satu orang yang masuk program ini
Program
ya? Ini menarik! Ketentuannya tidak masalah. Aku mau ikut. Suara dari kotak
ini kembali berbunyi.
Apakah
sudah dibaca ketentuannya? Apakah berminat untuk mengikuti program kami?
Keamanan Anda terjamin oleh kami. Jika ingin mengikuti program ini dan ingin
mengetahui penjelasan lebih lanjut, Anda bisa menekan tombal di sisi kanan
kotak. Pastikan kembali apakah Anda benar-benar sendiri atau tidak. Sekali lagi
program ini hanya bisa diikuti oleh satu orang.
Aku sudah melihat di sekelilingku. Aman. Di
sini hanya ada aku sendirian.
Sruk
… Sruk
Ketika akan menekan tombol di kotak.
Terdengar suara daun terinjak dari semak-semak. Betul, itu semak-semak yang
waktu itu membuatku kaget. Waktu itu pun yang membuat suara gaduh ternyata
seekor kucing. Aku tak mau memusingkan hal itu lagi. Kotak ini terus bergetar,
aku harus segera menekan tombolnya.
*tekan
tombol*
Badanku tertarik ke dalam kotak. Lalu penglihatanku
mengabur. Semoga aku selamat dan bisa
kembali lagi ke sini.
Bagian 2
Mataku
terbuka. Kepalaku sedikit pening. Badanku rasanya seperti remuk dan rasanya
agak mual. Aku berada di mana ya? Di
tempat ini semuanya berwarna hijau muda. Tak ada apa pun di sini. Cukup seram
juga.
“Hai
Gayatri Rahayu. Perkenalkan aku Mori, akan menjadi asisten kamu selama
mengikuti program ini.”
Aku
melongo. “K-kamu anak ayam? t-terbang? Sepertinya aku mimpi.” Aku cubit kedua
pipiku ternyata sakit. Bukan mimpi, ini
nyata.
“Kamu
kaget ya? Wajar. Mulai dari sekarang kamu akan dihadapkan dengan sesuatu yang
belum pernah kamu alami. Kalau kamu bertanya kenapa anak ayam bisa terbang, ya
Mori Cuma bisa jawab karena dari sistemnya memang begini.”
“Ah
begitu ya. Lalu ini sebenarnya program apa? Kotak itu kenapa harus dikirim
padaku? Kenapa harus Gayatri?”
“Wah
banyak sekali pertanyaan Gayatri ya. Ayo kita duduk di pinggir sungai di sana.”
Tempat ini yang tadinya berwarna hijau muda,
berubah menjadi pemandangan sungai ditambah pohon-pohon hijau. Ini di luar nalarku.
“LOH
BISA BERUBAH?! HEBAT SEKALI. KENAPA BISA BEGINI??”
“Ini
berkat sistem dari perusahaan kami. Tempat ini seperti dimensi kosong yang bisa
diubah-ubah.”
Aku
hanya bisa mengangguk dan terus memperhatikan penjelasan dari Mori.
“Jadi
program Adhikari Asmara ini program novel romantis lintas zaman. Ya perusahaan
kami ini sedang menguji teknologi buatan baru. Di mana kami mengundang orang
dari zaman yang berbeda untuk bisa masuk dan berperan di dalam novel …”
Aku
memotong pembicaraannya. “Maksud Mori seperti aku menjalani hidup di cerita
novel itu?”
“Iya
tepat sekali. Menyenangkan bukan? Lalu kenapa perusahaan kami memilih kamu,
alasannya karena kami mengadakan survei terlebih dahulu. Mencari remaja seusia
kamu yang sekiranya tertarik pada program ini. Hasil akhirnya kami memilih
Gayatri. Karena kebetulan sekali kamu menyukai novel romantis dan suka pada
ilmu pengetahuan. Apa sudah jelas? Masih ada pertanyaan lain kah?”
Pembicaraan
kami ditemani dengan suara gemercik air sungai. Aku beranjak dari tempat duduk
dan berjalan menyusuri sungai.
“Kalian
berasal dari zaman mana? Masa depan kan? Teknologi yang kalian punya sangat
luar biasa. Bisa dibilang ini di luar nalarku. Pada zamanku, hal-hal seperti
ini pastinya belum ada. Gayatri hanya pernah baca beberapa surat dari teman
Bapak yang di luar negeri, teknologinya lebih maju dari negaraku. Tetapi kalau
disandingkan dengan zaman Mori, masih sangat jauh.”
“Oh iya
benar. Kami datang dari masa depan, kita berbeda kurang lebih 40 tahun. Kita
masih berada di negara yang sama, namun di zaman yang berbeda.”
“A-APA
KAMU BILANG?! BERBEDA 40 TAHUN??”
Mendengar
kata-kata Mori membuat aku berkeringat. Agak merinding. Bagaimana tidak, aku
datang ke masa depan. Ke masa di mana aku asing di dalamnya. Menakutkan juga.
“Jangan khawatir
Gayatri, kamu aman. Kami menjamin keselamatan kamu.”
“BUKAN,
BUKAN ITU YANG SEDANG AKU PIKIRKAN. BAGAIMANA AKU BISA MENGIMBANGI KALIAN YANG
DARI MASA DEPAN? AKU TAK MENGERTI APAPUN YANG ADA DI ZAMAN KALIAN.”
Aku
benar-benar berteriak. Rasanya kesal.
“Tenang
Gayatri. Justru dengan program ini kamu bisa mengimbangi. Bisa mempelajari masa
depan seperti apa. Kamu dibebaskan untuk bertanya tentang hal apa saja. Ini
salah satu tujuan novel lintas zaman.”
Awalnya
aku kesal, tapi ketika sudah mendengar penjelasan Mori lebih lanjut aku tenang
kembali. Ini merupakan kesempatan yang tak datang dua kali. Kapan lagi aku bisa
berkunjung ke masa depan. Sedikit mengintip bagaimana negaraku di masa yang
akan datang. 40 tahun kemudian dari masa aku hidup sekarang.
“MORI
AKU BARU INGAT!!”
“Ada apa
lagi Gayatri?”
“Jika
aku ada di sini, lalu bagaimana Ibu dan Bapak? Bagaimana orang yang ada di
sana? Mereka akan tau aku menghilang atau gimana?”
Aku
cemas. Baru ingat akan hal itu. Saking cemasnya aku hampir terpeleset ke dalam
sungai. Huft, hampir aja.
“Hehe,
tenang aja. Kami bisa membekukan waktu ja–”
“Maksudnya
jadi es batu? Atau seperti es serut yang ada di Warung Bi Iyem?!”
“Hahaha
kamu ini lucu Gayatri. Bukan, bukan begitu. Maksudnya waktu terhenti. Jadi
seakan-akan kamu tidak pernah datang ke sini. Jika kamu kembali lagi, waktu
akan berjalan seperti sedia kala. Tenang saja, kami telah mengatur semuanya.”
“Wah
hebat sekali teknologi di tahun 2020!”
“Sudah
pasti hebat.”
Aku
berhenti berjalan. Lalu berbalik pada Mori yang dari tadi membuntutiku dari
belakang.
“Lalu
bagaimana soal makan, minum, tidur dan lain-lain?”
“Oh iya
hampir aja aku lupa memberi tau. Hal-hal seperti itu tidak bisa kami atur. Kamu
harus tetap melakukannya. Semua hal itu kami tanggung. Tidak udah khawatir.”
“Syukurlah.
Satu pertanyaan lagi!”
“Silakan.
Bertanya sebanyak-banyaknya pun aku tidak masalah. Ini memang tugas Mori
sebagai asisten untuk mendampingi dan memberikan apa pun keperluan Gayatri.”
“Kalau
Gayatri tidak mengerti sesuatu seperti bahasa atau teknologi yang kalian
gunakan bagaimana?”
Mori—si
anak ayam yang bisa terbang—menjentikkan jarinya. Lalu muncul layar di hadapan
kami berdua. Seperti layar televisi di rumah. Tetapi lebih tipis dan transparan.
Lebih mengejutkannya lagi benda tersebut melayang! Memang teknologi di masa
depan bukan main hebatnya. Mori mulai menjelaskan bagaimana cara kerja benda
tersebut. Kata Mori sebut saja benda itu A2. Singkatan dari Asisten 2.
“Nah
kurang lebih seperti itu cara kerja A2.”
“Hebat,
jadi lebih mempermudah Gayatri.”
“Hari
ini Gayatri boleh istirahat. Besok pagi kita akan mulai masuk dalam cerita.
Kamu tinggal sementara di apartemen.”
A2:
Apartemen. tempat tingal yang terdiri atas
ruang duduk, kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan sebagainya yang berada pada
satu lantai bangunan bertingkat yang besar dan mewah, dilengkapi dengan
berbagai fasilitas.
Aku diantar Mori ke
apartemen. Apartemen ini mewah. banyak barang elektronik yang belum aku tau.
Tetapi Mori dengan tanggap langsung memberi penjelasan. Lalu Mori pamit agar
bisa memberi aku waktu untuk sendirian. Dia akan muncul kalau aku memanggil
namanya.
Tempat ini tidak
buruk juga. Bukan keputusan yang salah aku mengikuti program Adhikari Asmara. Semoga
aku bisa belajar banyak di sini. Lalu cita-citaku menjadi pemeran utama di
novel bisa terwujud. Hidup yang berbunga-bunga akan segera datang. Ibu, Bapak, Rini, dan semuanya tunggu aku
pulang kembali ya.
Di dimensi saat ini
waktu sudah malam. Proses pindahnya aku dari zaman 80-an ke masa depan sangat
menguras tenaga. Apalagi penjelasan-penjelasan yang Mori paparkan harus aku
tangkap dengan cepat. Badanku sudah lelah. Ini waktunya untuk istirahat.
Membiarkan pikiran dan fisikku sedikit melonggarkan aktivitasnya.
--
Bip … Bip …
Cahaya mentari masuk ke jendela kamar. Kamarku
menjadi hangat. Aku terbangun karena ada suara aneh di sebelah kasurku. Ini seperti jam, tapi hanya ada empat angka
saja.
A2:
Digital.
berhubungan dengan angka-angka untuk sistem perhitungan tertentu; berhubungan
dengan penomoran.
Ini adalah jam
digital. Sama seperti jam di zamanmu. Hanya saja angka di jam ini ada empat.
Dua angka pertama menunjukkan jam lalu dua angka terakhir menunjukkan menit.
Suara aneh juga berasal dari jam ini, bisa disebut sebagai alarm.
Baru
saja bangun dan membuka mata, A2 sudah menjelaskannya. Aku harus ingat-ingat
istilah asing yang baru aku tau. Dengan segera aku bersiap untuk mandi. Kamar
mandinya pun sangat berbeda dengan kamar mandi di rumahku. Ada yang menggantung
di atas. Kata A2 itu Shower. Aku sepertinya
pernah melihatnya, tetapi dengan bentuk yang sedikit agak rumit. Tetapi shower ini justru lebih sederhana.
Pokoknya banyak sekali benda-benda yang canggih dan A2 langsung memberi
informasinya.
Hari ini
aku kembali ke dimensi kosong. Warna tempatnya berubah lagi seperti pertama
kali aku datang. Ya, berwarna hijau muda. Di sana sudah ada Mori yang
menungguku. Dia memberi tau kalau hari ini aku akan mulai masuk ke cerita. Lalu
memberi aku smart phone. Kata Mori, ini
salah satu benda yang memiliki banyak fungsi. Lalu dia menjelaskan cara kerja
dari smart phone.
“Sudah ya jelas? Kalau Gayatri
masih bingung bisa bertanya lagi pada Mori. Sekarang kamu akan masuk ke portal
1. Itu adalah portal untuk cerita pertama yang akan kamu ikuti dari novel. Di
dalam sana Gayatri seperti hidup biasa di dunia nyata. Hanya saja, pelaku,
latar, dan alur sudah diatur oleh kami. Nama pemeran utama novel perempuan tetap
memakai nama Gayatri. Di dalam cerita, kamu bisa bertindak sesuka hati namun
masih dalam batas yang kami tetapkan. Pihak perusahaan akan terus memantau dan
Mori akan ikut masuk juga.”
Aku
menarik napas. “Baiklah, Gayatri mohon bantuannya.”
“Tenang
saja! Kita akan berpetualang ke dalam novel dan bersenang-senang!”
Lalu
kami masuk ke dalam portal 1 dan kehidupan di dalam novel pun di mulai.
--
Keren
sekali pada zaman ini. Sangat berbeda dari tahun 80-an. Semuanya modern. Banyak
gedung pencakar langit. Sayangnya banyak sekali kendaraan dan membuat jalanan
macet. Seperti sekarang saja aku sedang berada di dalam mobil menuju ke
sekolah. Mobil ini keren banget. Ada pendinginnya. Tidak seperti mobil di
zamanku.
“Wah
sekolahnya keren, luas banget.”
“Hei.
Tumben banget nyampe ke sekolah pagi-pagi.”
Ini siapa ya? Penampilannya sederhana tapi
tetap t-tampan. Menyilaukan mata sekali.
“Eh? Siapa ya?”
“Kamu
sedang drama ya? Masa lupa sama pacar sendiri.”
Pipiku langsung
memerah. Oh ternyata ini pacarku di novel. Emm
… Tama bukan ya?
“Hehe, Tri sedang melakukan
peran. Tama ya?”
“Loh
kamu juga pura-pura lupa namaku ya? Iya aku Tama Kertanegara. Salam kenal.” Dia
tertawa sambil menepuk bahuku. “Sudah ya dramanya.”
“E-eh
iya ….” aku menunduk malu.
“Pulang
sekolah kita jalan-jalan ya! Tama bakal tunggu di depan kelas kamu. See you.”
Tama mengelus kepalaku.
Manis
sekali dia. Jantungku berdebar-debar. Padahal hanya percakapan biasa. Lalu aku berjalan
menuju kelas. Anehnya aku sudah tau arah dan tempat-tempat di sekolah ini,
seperti sudah biasa. Jadi tidak akan tersesat di sekolah yang luas seperti
orang yang baru pertama kali datang. Aku juga sudah akrab dengan teman-teman di
kelas.
“Gayatri!
Cie pagi-pagi tadi udah pacaran aja sama Tama.” teriak salah satu teman
perempuanku.
“Iya nih
bucin banget Gayatri.” dilanjutkan teman-teman lainnya.
Hah bucin? Istilah apa lagi ini.
A2:
Bucin singkatan dari budak cinta. Kata ini
digunakan untuk mengungkapkan seorang pria atau wanita yang tergila-gila dengan
seseorang atau pasangan yang dicintainya.
Oh
ternyata itu artinya kata bucin. Semakin aneh saja istilah-istilah yang ada.
Aku harus belajar lagi bahasa gaul yang lain agar mengerti.
“Ah
tidak, Gayatri tidak bucin sama Tama.”
“Dasar
alasan aja. Tiap pulang kalian kan selalu bareng. Itu namanya bucin.” lalu
mereka tertawa.
Mereka
terus mempermasalahkan bucin. Aku tak mengerti, lagi pula kan aku tidak
tergila-gila dengan Tama. Tiba-tiba Mori muncul di sebelahku yang sedang duduk
menghadap ke jendela.
“Gayatri
bingung masalah bucin ya? Walaupun artinya itu tergila-gila, tapi di zaman ini
kata bucin digunakan juga sebagai ejekan.”
“Oh gitu
ya, pantas saja. T-api Mori kenapa muncul? Nanti yang lain bisa lihat dong.”
“Hahaha.
Aku kan bagian dari sistem. Tenang saja, aku hanya terlihat sama Gayatri.”
“Baiklah.”
Cara
belajar di sekolah ini menyenangkan juga. Pelajaran yang aku pelajari di zaman
ini sudah lebih berkembang. Ada beberapa istilah pendidikan yang aku tak
mengerti. Kalau boleh jujur, terlalu banyak istilah pendidikan yang sebenarnya
hanya sia-sia. Itu menurutku sih. Ah
sudahlah, tentang pendidikan di zaman ini aku tak mau ikut campur. Ingin fokus
saja pada cerita romantis di novel ini.
Sesuai
dengan janji pulang sekolah aku akan bertemu dengan Tama. Ini saatnya aku untuk
mengenal Tama seperti apa. Kira-kira bagaimana ya, gaya pacaran di zaman ini?
Surat- menyurat sepertinya sudah tidak zaman. Aku perhatikan sih pesan-pesan
seperti itu dikirim lewat smart phone.
Tring!
Baru saja aku bicarakan, smart phone yang ada di dalam tasku
berbunyi. Sebenarnya saat jam istirahat aku tidak makan, melainkan berkutat
dengan smart phone. Mempelajari
bagaimana seharusnya smart phone ini
digunakan. Benda ini sangat berguna ternyata. Dari penjelasan yang Mori berikan
pada Tri, benda ini bisa aku gunakan untuk belajar juga. Buku yang harusnya
dicetak pun ternyata bisa masuk ke dalam smart
phone. Pokoknya masih banyak yang harus pelajari dari benda ini.Tama
Aku
sampai lupa untuk membuka pesan yang masuk. Ini
pasti dari Tama kan? Langsung saja aku buka pesan itu. Ternyata benar.
Tama
Hei
gadis cantik! Aku udah ada di depan kelas. Ayo kita berangkat.
Aduh Tama ini ada-ada aja deh. Aku
harus hampiri dia sekarang. Buku-buku yang berserakan di atas meja segera dimasukkan
ke dalam tas. Lalu lekas ke luar kelas. Benar saja Tama sudah menunggu sambil
bersandar pada tembok.
“Tama?”
“Eh hei
Gayatri ayo kita pergi sekarang.”
Kami
berjalan ke parkiran sekolah. Tama menghampiri mobilnya yang diparkir di pojok
dekat pohon. Mobil Tama warnanya merah. Aku
baru lihat ada mobil yang berwarna merah cerah seperti itu. Kemudian Tama berbalik badan ke arahku
“Gimana
nih Gayatri?” dengan ekspresi muka yang sedih.
“Eh ada
apa memangnya?”
“Ban
mobilku kempes, gimana ya?”
“Gimana
kalau kita naik angkutan umum saja?”
“Kamu
kaya yang gatau jalanan di kota aja. Kalau naik angkutan umum macet banget, belum
lagi kalau angkutan umum itu suka berhenti-berhenti kan. Lebih baik naik mobil
kamu aja. Ada supir kan?”
“Seperti
itu ya? Ya sudah deh naik mobil Gayatri saja. Tri telepon dulu pak supirnya.”
Akhirnya
pak supir datang. Lalu kami segera masuk ke dalam mobil. Tama memberi tau
alamat yang akan kita tuju. Katanya sih mau datang ke sebuah tempat yang bagus.
Saat aku tanya tempat itu apa, dia jawab kejutan sambil tersenyum. Senyuman
Tama sangat manis.
Keluargaku
di dalam cerita ini memiliki latar belakang keluarga yang kaya raya. Maka dari
itu aku mempunyai mobil pribadi beserta supirnya. Ternyata begini ya rasanya jadi anak orang kaya di zaman ini. Ditambah
lagi punya pacar yang tampan. Kalau kata Rini ini rezeki nomplok namanya.
Sampailah kita di sebuah Kafe. Suasana
di sini nyaman sekali. Dekorasi di dalamnya sangat unik dan berwarna-warni. Wah
dekorasinya jauh sekali dengan tahun 80-an. Ternyata sebelum datang ke sini,
Tama sudah reservasi tempat untuk kita berdua. Dia memilih meja yang
pemandangannya cukup bagus. Tempat kami ini langsung mengarah ke arah luar,
yang di mana kita bisa langsung melihat taman beserta tanaman-tanaman yang
indah.
“Bagus
sekali tempatnya!”
“Kamu
suka Tri? Tadinya aku takut banget mengecewakan kamu. Takut gak suka dengan
suasana di sini.”
“Aduh
kamu ini ada-ada aja, Tama. Gayatri suka sekali. Ayo kita pesan makanannya.”
Ketika
membuka buku menu, aku sedikit kebingungan. Asing dengan nama-nama makanan dan
minuman yang ada di dalamnya. Aku hanya
ingin es mambo, tapi di sini tidak ada. Untung saja Mori dan A2 datang.
Memberi saran, kira-kira makanan apa yang cocok di lidahku.
Tak
henti-hentinya selama kita makan di Kafe, Tama selalu tersenyum manis kepadaku.
Dia cukup menyenangkan jika diajak bicara. Selama makan, kami membicarakan
tentang buku, musik, dan lain-lain. Pokoknya aku banyak bertanya, tetapi Tama
tidak keberatan dan bersedia menjawab semua pertanyaan aku. Dia juga bercerita
bahwa dirinya berasal dari keluarga pengusaha. Intinya dia ini keluarga
berkecukupan, namun bapaknya selalu menerapkan gaya hidup yang sederhana. Pantas saja tampilannya sederhana.
“Ayo
kita pulang, udah mau malem nih.”
“Iya ya,
tidak terasa. Habis dari tadi seru mengobrol.”
“Aku ikut
naik mobil kamu lagi ya, Tri. Ikut sampe jalan utama, nanti aku turun di sana.”
“Loh?
Tida Tri antar ke sekolah lagi? Kan mobil Tama masih ada di sana.”
“Oh Tama
mau ke rumah temen dulu. Masalah mobil gampang, hehe.”
Pak
supir datang untuk menjemput. Aku bilang kepada beliau untuk mengantar Tama ke
jalan utama saja. Ketika di perjalanan, Tama menggenggam tanganku. Sontak
jantungku berdebar sangat kencang. Tak
karuan begini, malu sekali. Aku melihat sekilas bagaimana ekspresi dirinya.
Dia melirik ke arahku lalu tersenyum seperti biasa. Genggaman tangannya tak dia
lepas sampai kami berhenti di jalan utama. Lalu dia pamit,mengelus kepalaku dan
pergi. Jujur, Tama sangat manis dan tampan sekali. Pemeran utama di novel ini
tidak buruk. Gayatri menyukainya.
--
Gayatri
melanjutkan kembali kegiatan di cerita ini. Alur di sini belum selesai, jadi belum
bisa ke luar dari portal 1. Sebenarnya aku sangat menikmati menjadi peran di
cerita ini. Tidak ada masalah karena sejak hari pertama aku datang, semuanya
menyenangkan. Sumber utama kebahagiaan adalah Tama. Dia selalu memberi
kejutan-kejutan manis yang tidak aku sangka. Benar-benar manis.
Hari ini
libur, kebetulan Tama memberi pesan untuk mengajakku bermain. Katanya ingin
main denganku seharian ini. Langsung saja aku mandi dan bersiap-siap.
Sebenarnya agak bingung mencari baju untuk pergi jalan-jalan sekarang.
Hari-hari sebelumnya aku lebih sering pakai baju sekolah dan baju biasa. Hari ini harus memakai baju yang cantik!
“Mori!
Ayo bantu Tri memilih baju.”
*Poof!*
“Siap! Mori akan bantu.”
“Gayatri
bingung harus memilih baju yang mana. Apa Mori punya saran?”
A2
muncul dan di layarnya sudah ada model-model baju yang akan aku pilih.
“Bagaimana
model ini Tri?”
“Itu
agak terbuka, Mori.”
“Kalau
ini?”
“A-aneh,
sepertinya aku tidaka akan cocok.”
“Kalau
begitu yang ini.”
“Tidak.
Gayatri tidak mau.”
Layar A2
terus berganti dari satu model baju ke model lainnya.
“Nah
yang ini saja! Tri mau pakai yang ini. Ini bajunya lebih mending dari baju-baju
yang lainnya.”
Setelah
sekian banyak baju yang A2 perlihatkan di laarnya, aku memilih gaun. Gaun yang
aku pilih modelnya sederhana. Bahkan gaun ini mirip modelnya dengan yang pernah
Ibu buat. Walaupun lebih sedikit modern. Gaunnya berwarna putih. Panjangnya
sampai bawah lutut dan banyak hiasan bunga-bunga. Lantas aku pakai gaun itu
lalu ditambah bandana untuk hiasan di rambut.
Aku
melihat penampilanku di cermin. “Wah … Mori lihat! Aku cocok memakai gaunnya!”
“Hahaha
iya Gayatri memang sudah cantik, ditambah memakai gaun ini sangat cocok.”
Tring!
Itu pasti pesan dari Tama. Tri langsung mengambil smart phone yang di simpan di atas
kasur.
Tama
Selamat
pagi gadis cantik! Aku udah ada di depan rumah. Udah siap kan? Ayo berangkat
sekarang.
“Dia udah ada di depan!”
“Ayo
segera berangkat, Tri. Hari ini Mori tidak akan menggangu kencan kalian.
Selamat bersenang-senang!”
Mori
menghilang. Dia memberi aku waktu untuk berkencan hari ini dan tidak akan
mengganggu. Sudah siap dengan semuanya, aku berjalan ke luar menghampiri Tama
yang sudah menunggu.
Tama
membuka jendela mobil. “
No comments:
Post a Comment