Saturday, September 19, 2020

Penakluk Galaksi

Genre : Fiksi

Judul : Penakluk Galaksi


Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang pemuda yang tampan, gagah dan pemberani bernama Samuel Alanthas Heither. Dia hidup cukup terpandang di kerajaan yang bernama Adobras, karena ayahnya merupakan penasihat Raja. Pada suatu hari dia ikut bersama ayahnya ke Kerajaan Galaksi untuk menyampaikan undangan dari Raja.

Lalu dia tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik bernama Jingga Nickleyn Andreas,dia merupakan putri dari Kerajaan Galaksi. Dari pertemuan itu tumbuhlah benih-benih cinta diantara mereka,hingga akhirnya Jingga memperkenalkan Samuel kepada ayahnya.

“Ayah aku ingin memperkenalkan kekasihku, dia bernama Samuel.” Lalu Samuel membukkan badannya untuk memberikan hormat kepada ayah Jingga.

“Apakah kamu anak penasihat Raja yang waktu itu datang kesini?” ucap ayahnya.

“Benar tuan saya anak dari penasihat Raja dari Kerajaan Adobras.” Ayahnya memberikan tatapan sinis dan terlihat tidak senang kepada Samuel.

“Saya tidak setuju dengan hubungan kalian!” Ucap ayahnya dengan ketus.

“Kenapa ayah?! Kenapa tidak menyetujui hubunganku dengan Samuel? Dia anak yang baik yah!” Ucap Jingga sembari menahan air matanya.

“Karena kalian itu tidak seharusnya bersama! Kamu itu seorang putri dan putri harus menikah dengan pangeran! Ayah telah menjodohkan mu dengan pangeran dari Kerajaan Valensia!”

“Tidak! Aku tidak mau! Aku hanya ingin bersama Samuel!” Ucap Jingga.

Namun ayahnya tidak berkata apa-apa dan menyuruh para pengawalnya untuk membawa Jingga pergi.

“Pengawal cepat bawa Putri ke kamarnya! Dan kamu Samuel jangan berani-berani lagi datang kesini! Karena kalian tidak akan bisa bersama!” Ucap ayahnya dengan tegas.

“ Tapi saya sangat mencintai Putrimu, meskipun saya bukan seorang pangeran tapi saya bisa menjaga Jingga dengan baik!” Ucap Samuel.

Tapi ayahnya malah mengusir Samuel dan tidak mendengarkan apapun yang dikatakan Samuel.

“Pengawal cepat bawa dia pergi dari sini! Dan pastikan tidak ada celah sedikitpun untuk dia kembali lagi kesini!” Akhirnya Samuel dibawa pergi oleh para pengawal untuk keluar kerajaan.

Namun perjuangan Samuel dan Jingga untuk bisa bersama terus dilakukan, mereka sering bertukar surat lewat burung merpati kesayangan Samuel,merpati itu telah menemani Samuel selama 10 tahun. Hingga akhirnya pada suatu malam Jingga memutuskan untuk kabur dari Kerajaan secara sembunyi-senmbunyi dan pergi Bersama Samuel ke Kerajaan Adobras. Ternyata Samuel telah menunggu Jingga di luar kerajan

“Sttt,Samuel! Bagaimana caranya aku turun,tembok ini sangat tinggi.” Samuel sangat terkejut dengan kehadiran Jingga yang telah siap untuk turun dari tembok yang sangat tinggi.

“Cepat loncat aku akan menagkapmu! Ku hitung sampai tiga,1...2…3… Lompat!” Ucap Samuel.

Akhirnya Jingga turun dengan aman “Wuah tangkapan yang bagus Samuel.” Ucap Jingga sambil menebarkan senyum manisnya.

Keesokan paginya pada saat para pelayan akan membangunkan Jingga,dia tidak ada dikamarnya. Raja telah curiga bahwa Jingga telah kabur bersama Samuel ke Kerajaan Adobras,lalu Raja mengutus para pengawalnya untuk mencari Jingga kesana. Karena Raja Asgraf telah mengaggap Samuel dan keluarganya seperti saudara sendiri, akhrinya ia membantu Samuel dan ayahnya untuk pergi dari Kerajaan Adobras ke pedasaan yang jauh agar tidak ketahuan oleh para pengawal, dan Raja Asgraf bilang bahwa Samuel sudah tidak ada disini. Ayah Jingga sangat sedih dan tentunya sangat marah kepada Raja Asgraf. Ia tahu bawa Raja Asgraf yang telah membantu Samuel untuk kabur dari Kerajaan Adobras. Setelah kejadian itu Kerajaan Galaksi dan Kerajaan Adobras menjadi renggang dan memutus jalur bisnisnya. Samuel dan Jingga akhirnya menikah meskipun ia tahu bahwa ayahnya sangat menentang hubungannya dengan Samuel.

Kepergian Jingga selama 6 bulan yang tidak pernah pulang ke rumah, membuat Raja menjadi sakit-sakitan dan akhirnya meninggal, kabar tersebut sampai ke telinga Jingga. Awalnya dia berniat untuk kembali kesana karena ia sangat ingin menyaksikan pemakaman ayahnya, namun berubah pikiran karena dia sedang hamil, Jingga tahu jika dia ketahuan sedang hamil maka anaknya akan dibunuh, kerajaan menganggapnya itu sebagai musuh karena hubungan yang tidak disetujui.

4      bulan kemudian anak Jingga dan Samuel lahir.

Wavi Andreas Heither nama panggilan nya adalah Wavi. Seorang anak yang berumur 15 tahun,hidup di kerajaan yang bernama Adobras. Dia hanya hidup bersama ayahnya yang bernama Samuel Alanthas Heither dan ibunya yang bernama Jingga Nickleyn Andreas, namun ia meninggal sejak Wavi berumur 1 tahun. Wavi sering bertanya kepada ayahnya mengapa ibunya bisa meninggal, namun dia hanya menjawab bahwa ibunya meninggal karena sakit.

Dia hidup di desa yang sangat tentram dan damai, ia selalu ingin pergi ke kota melihat lampion setiap keluarga kerajaan merayakan ulang tahun, namun ayahnya selalu melarangnya dengan alasan bahwa anak seumur dia tidak boleh pergi ke kota. Suatu hari ketika Wavi sedang berada lapangan tempat ia bermain ada pengumuman dari kerajaan bahwa anak yang sudah berumur 17 tahun wajib mengikuti pelatihan dan nantinya mereka akan menjadi tentara Resmi dari Kerajaan Adobras. Mendengar kabar tersebut Wavi sangat senang sekali karena dia berfikir bahwa ketika dia telah berumur 17 tahun akan diperbolehkan pergi ke kota. Setelah dia pulang ke rumah dia menyampaikan kabar bahagianya tersebut kepada ayahnya. “Apakah ayah tahu jika nanti umurku telah 17 tahun aku diperbolehkan pergi ke kota untuk mengikuti pelatihan dan menjadi tentara, aku sangat senang ayah!” Ucap Wavi dengan kegembiraan yang terpacar di wajahnya.

“Apa maksudmu?! Tidak, ayah tidak akan mengijinkan mu untuk mengikuti pelatihan tersebut!” Ucap ayahnya dengan wajah marah.

“Kenapa ayah begitu marah? Itu kewajiban ku ayah! Mengapa ayah sangat tidak mengijinkanku untuk pergi ke kota?!” Ucap Wavi dengan nada agak tinggi.

“Karena kamu tidak pantas menjadi seorang tentara! Kamu itu sangat lemah Wavi!” Ucap ayahnya dengan nada sangat tinngi. Mendengar ayahnya berbicara seperti itu membuat Wavi sangat sakit hati,dan akhirnya dia pergi ke sungai untuk menenangkan pikirannya.

Wavi telah merenungkan apa yang dia katakan kepada ayahnya dengan nada tinggi itu tidak sopan, Wavi sangat merasa bersalah dan pulang ke rumah untuk meminta maaf kepada ayahnya.

“Ayah maafkan aku karena tadi telah berbicara kepadamu dengan nada tinggi, aku benar-benar menyesal ayah.” Ucap Wavi.

“Ayah sudah memaafkanmu Wavi, lagi pula ayah seperti itu karena ayah sangat menyayangimu.” Ucap ayahnya sambil memeluk Wavi.

“Aku juga menyayangimu ayah, ayo yah kita makan aku sudah lapar!” Ucap Wavi sambil melepaskan pelukan ayahnya dan menariknya ke meja makan untuk makan bersama.

Ternyata sore tadi, pada saat Wavi sedang berada di sungai dia merencanakan untuk pergi ke kota secara diam-diam bersama dengan temannya. Ia berangkat pada saat ayahnya sedang tertidur lelap, dan ia menyimpan surat di meja berisi permintaan maaf karena pergi ke kota secara diam-diam dan akan kembali besok siangnya.

Pada pagi hari ketika Samuel terbangun, alangkah terkejutnya ia membaca isi surat yang ditulis oleh Wavi. Tanpa berfikir Panjang ia langsung pergi ke kota dengan menggunakan kuda andalannya, dia sampai tidak mempersiapkan apapun karena yang ada di pikirannya hanya kekhawatiran kepada Wavi. Ia sampai di kota cukup siang karena kudanya tiba-tiba mengamuk karena Samuel lupa memberi makan kudanya, lalu ia langsung mecari Wavi namun sampai siang menjelang sore pun ia tidak menemukannya.

Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng yang sangat keras, itulah bunyi yang sangat di khawatirkan oleh Samuel di kota ini. Bunyi lonceng itu adalah tanda adanya penyerangan terhadap kotanya, ia benar-benar mengkhawatirkan Wavi dan akhirnya ia menemukan Wavi yang sedang menangis karena terdorong-dorong oleh pasukan tentara yang berlari, mereka akan menjaga wilayah di perbatasan. Samuel berlari untuk membawa Wavi pergi ke tempat yang aman.

“Ayah! Aku sangat takut ayah, benar kata ayah bahwa kota itu tidak boleh dimasuki oleh aku yang sangat lemah ini. Maafkan aku ayah.” Ucap Wavi sambil menangis dan memeluk ayahnya.

“Tenanglah ayah bersamamu,ayah janji akan menjagamu.” Ucap Samuel sambil membawa Wavi untuk bersmbunyi ke sebuah hutan.

“Ayah sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa orang-orang sangat ketakutan?” Ucap Wavi bingung.

“Mereka itu adalah orang-orang yang akan membawa para pria dewasa untuk dijadikan budak dan tentara mereka.” Ucap ayahnya.

“Apakah ayah juga akan dibawa mereka? Tidak! Ayah tidak boleh ikut bersama mereka,nanti aku akan tinggal bersama siapa jika ayah pergi?” Ucap Wavi dengan sedih.

Ayahnya menyuruh Wavi jangan berbicara apapun lagi, karena ia mendengar suara para tentara yang mendekat ke arah mereka. Dan benar ternyata mereka ketahuan, Samuel berlari sangat kencang agar tidak tertangkap oleh mereka. Akhrinya mereka menemukan gua yang bisa dijadikan tempat bersembunyi untuk sementara.

“Wavi dengarkan ayah, kamu harus berjanji kepadaku bahwa kau akan menjadi laki-laki yang kuat dan pemberani. Jangan pernah menyerah untuk mewujudkan semua mimpimu, sama seperti mimpimu yang sangat ingin pergi ke kota dan sekarang kau mampu untuk kesini sendiri. Ayah sangat bangga padamu, ternyata kau anak yang pemberani dan tidak mudah menyerah.” Ucap ayahnya sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.

“Tidak ayah! Ayah tidak boleh ikut dengan mereka, biar aku yang menggantikan ayah!” Ucap Wavi sambil menangis.

“Apa maksudmu! Ayah sudah berjanji kepada ibumu untuk selalu menjagamu apapun yang terjadi. Kamu sayang ibumu kan? Kamu ingin ibumu bahagia? Maka dari itu dengarkan apa yang ayah bilang, sekarang kamu tetap disini sampai para tentara itu pergi! Jangan keluar dari gua ini!” Ucap ayahnya.

“Baiklah ayah aku akan melakukan apa yang kamu suruh, aku janji akan diam disini sampai para tentara pergi. Tapi ayah juga harus berjanji untuk kembali lagi ke kota ini!” Ayahnya mengangguk. Dan tidak lama para tentara datang dan hendak masuk ke gua itu namun, Samuel telah keluar untuk menyerahkan dirinya, karena ia tahu jika dia tetap disana bisa saja malah Wavi juga ikut bersama mereka.

“Akhirnya kau menyerahkan diri, mana anak laki-laki yang tadi kau bawa juga?” Ucap salah satu tentara.

“Dia sudah tidak ada! Lagi pula yang kalian inginkan aku bukan?” Ucap Samuel.

“Ya tentu saja yang kami inginkan kamu! Ayo cepat bawa dia, dan kita cari laki-laki lain.” Ucap salah satu tentara.

Wavi hanya diam didalam gua sambil menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar oleh mereka. Akhrinya para tentara meninggalkan gua itu, namun Wavi belum berani untuk keluar karena ia takut para tentara kembali lagi kesana. Hari semakin gelap akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari gua, tadinya dia akan kembali ke rumahnya tapi karena hari sudah gelap dan tidak memungkinkan untuk kembali kesana, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kota dan menginap sementara disana.

Alangkah terkejutnya dia melihat keadaan kota yang begitu berantakan di sana banyak sekali anak kecil dan perempuan yang terluka. Banyak sekali tentara yang menolong orang-orang yang terluka, Wavi heran mengapa para tentara itu tidak ikut di bawah oleh para tentara dari kerajaan Galaksi? Wavi pun ikut membantu menolong orang-orang yang terluka, pada saat dia sedang menolong seorang perempuan, dia bertanya mengapa para tentara yang ada tidak ikut dibawa, lalu perempuan itu menjawab karena yang menjadi target kerajaan galaksi hanya laki-laki biasa dan yang belum mendaftarkan diri menjadi tentara, karena mereka memang merencanakan akan menyerang kerajaan Adobras. Maka dari itu dia membawa semua pria dewasa agar tidak banyak laki-laki yang akan menjadi tentara dari kerajaan Galaksi. Dia berfikir bahwa ayahnya pasti juga akan menjadi tentara dari kerajaan Galaksi lalu akan melawan negerinya sendiri? Tidak! Wavi yakin bahwa ayahnya tidak akan seperti itu.

1 bulan setelah kepergian ayahnya dia hanya tinggal sendiri dan masih belum melihat tanda kalau ayahnya akan kembali dan juga mereka yang dibawa oleh para tentara Galaksi, untungnya para tentara tidak mengetahui adanya desa tempat dia tinggal karena memang jaraknya sangat jauh dari pusat kota jadi dia masih bisa sekolah dan hidup dengan aman disana.

Pada pagi hari ketika dia akan berangkat ke sekolah dia mendengar pengumuman lagi bahwa semua laki-laki diwajibkan untuk mendaftar menjadi tentara, umurnya pun sudah tidak ditentukan lagi, intinya mereka yang sudah siap secara mental dan fisik wajib mendaftar menjadi tentara. Karena Wavi sangat ingin menolong ayahnya dia memutuskan untuk mendaftarkan diri untuk menjadi seorang tentara dan meninggalkan sekolahnya di desa.

Betapa beruntungnya Wavi karena tetangganya sangat baik hati, mereka membantu Wavi untuk mempersiapkan segala kebutuhan yang akan dia bawa untuk ke kota. Pada malam hari Wavi langsung dibawa oleh para tentara untuk menuju kota, Wavi sedih karena harus meninggalkan sekolah, teman-teman, dan rumah nya yang telah ia tinggali selama 15 tahun ini. Namun bagaimanapun Wavi harus menolong ayahnya, dan membawanya pulang kembali ke kota.

Kebetulan ia mendapatkan kamar bersama temannya yang juga satu sekolah dengannya. Ia heran mengapa temannya ini mendaftar menjadi tentara, karena Wavi tau bahwa temannya ini fisiknya kurang baik dan suka sakit-sakitan.

“Hei Bram! Beruntungnya aku bisa satu kamar denganmu.” Ucap Wavi ramah. Tapi Bram hanya tersenyum tipis dan tidak mengiraukan Wavi

“Bram kalau boleh aku tahu mengapa kau mendaftarkan diri menjadi tentara? Padahal kau sering sakit, apakah sekarang fisik mu telah kuat?” Ucap Wavi dengan sangat hati-hati karena ia tidak mau menyakiti hati Bram.

“Hm tidak, aku masih sering sakit-sakitan, aku punya alasan lain mengapa aku mendaftar menjadi tentara.” Ucap Bram. Ia lalu menceritakan alasannya.

“Ibu dan ayahku pada hari dimana para penjajah datang dari kerajaan Galaksi, mereka sedang berada di kota untuk membeli bahan-bahan dapur dan mengunjungi pamanku yang sedang sakit. Kau pasti tau sendiri, ayah ku dibawa oleh mereka.” Ucap Bram tanpa menunjukan ekspresi apapun.

“Lalu bagaimana dengan ibumu? Apakah dia juga ikut dibawa?” Ucap Wavi heran.

“Tidak, ibuku mencoba menahan ayahku agar tidak dibawa oleh mereka karena dia sangat mencintai ayahku. Dan ia berkata jika kau tetap ingin membawa suamiku maka lebih baik aku mati saja! Akhirnya karena para tentara juga sangat marah kepada ibuku mereka menembak ibu tepat di depan ayahku. Lalu jasad ibuku langsung dikubur di kota bersama para korban yang meninggal. Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal kepada ibu dan ayahku, karena itulah aku ingin menjadi tentara agar bisa membalaskan dendamku kepada para tentara itu dan membawa ayahku kembali.” Ucap Bram dengan ekspresi kemarahannya dan rasa sedih yang begitu dalam terlihat diwajahnya.

“Bram maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku yakin Bram, ibumu pasti bangga karena kau menjadi anak yang kuat dan ayahmu pasti akan selalu bertahan untukmu disana. Ayo kita berjuang bersama-sama! Kita pasti bisa menyelamatkan mereka!” Ucap Wavi dengan penuh semangat.

“Tidak apa-apa Wavi, aku mengert kamu tidak mengetahui tentang hal ini. Baiklah, aku yakin kita pasti bisa!” Ucap Bram yang juga ikut bersemangat.

Sekitar pukul 4 pagi semua calon tentara dibangunkan untuk olahraga pagi, Wavi dan Bram sama-sama tidak terbiasa akan hal itu. Tapi mereka berusaha beradaptasi dengan lingkungannya. Selesai mereka berolahraga, lalu mereka mempersiapkan diri untuk sarapan pada jam 6 pagi. Pada saat mereka sedang sarapan Wavi melihat wajah Bram yang berubah menjadi pucat, Bram bilang bahwa ia tidak terbiasa bangun sepagi itu dan sarapan di jam 6 pagi, jadi Bram merasa sangat pusing. Akhirnya para pelatih mempersilahkan Bram untuk beristirahat karena khawatir jika terus dipaksakan akan tambah bahaya.

Tepat pukul 7 pagi Latihan mereka dimulai, bukan hanya fisik yang dilatih tapi juga sikap, mental, ketahanan tubuh dan keberanian. Disana mereka dilatih untuk tahan dengan segala cuaca seperti panas, bersalju, hujan ataupun saat terjadinya angin putting beliung yang berbahaya. Dihari pertamanya Wavi sangat kesulitan, karena ia jarang berolahraga apalagi keluar rumah, jadi pada saat dihadapi dengan hal ekstrim tersebut Wavi sangat susah beradaptasi.

Sama seperti hari kemarin mereka dibangunkan lagi tepat pukul 4 pagi, pada saat Wavi akan membangunkan Bram,ia merasakan badan Bram sangat panas dan dari hidungnya keluar darah. Wavi sangat panik lalu memanggil pelatihnya untuk mengecek kondisi Bram. Akhirnya ia dibawa ke Klinik, setelah beberapa menit Bram diperiksa ternyata Bram memang tidak bisa berada di suhu kurang dari C, karena itu ia langsung sakit.

Pelatih menyuruh Bram untuk kembali ke desa dan tidak usah melanjutkan pelatihannya, namun Bram tetap ingin melanjutkan latihannya, karena sangat ingin menolong ayahnya agar bisa kembali. Bram berjanji akan kuat dan membiasakan diri terhadap apapun yang baru.

Hari ke 10 Wavi dan Bram sudah terbiasa mulai dari bangun jam 4 pagi, sarapan jam 6 pagi dan memulai pelatihan yang sangat menyulitkan meraka itu sudah menjadi kebiasaan. Lalu, pada saat Wavi sedang beristirahat ia dipanggil oleh pengawal kerajaan untuk menemui Raja, Wavi awalnya sangat takut, namun karena ia sadar bahwa tidak melakukan kesalahan apapun akhirnya ia berani untuk menemui Raja.

Setelah sampai di dalam kerajaan, ia sangat heran mengapa Raja bisa seakrab itu dengannya, padahal mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.

“Hai Wavi! Kau putra Samuel kan? Aku tidak menyangka kau sudah sebesar ini.” Ucap Raja sambil memeluknya dengan hangat.

Wavi membalas pelukan Raja, namun ia tetap heran mengapa dia bisa tahu ayah.

“Benar tuan, saya adalah anak dari Samuel. Tapi mengapa tuan bisa tau ayahku? Apakah ayahku dulu bekerja disini?”

“Lebih tepatnya kakekmu. Ia dulu merupakan penasehat kerajaan, ia sangat baik dan selalu menemaniku kemanapun aku pergi, aku sangat bahagia bisa kenal dengan kakekmu.”

“Benarkah? Mengapa ayahku tidak pernah menceritakan ini ya? Kakekku juga pasti sangat bangga bisa kenal dengan seorang Raja yang bijak sana seperti anda.”

“Mungkin ayahmu belum tau harus memulai dari mana, maka dari itu ia belum menceritakan padamu. Hm ngomong-mgomong aku mengajakmu kesini ingin menawarkan sesuatu yang berharga, apa kamu ingin tau?

“Tentu saja tuan, apa yang akan tua tawarkan kepadaku?”

“Apakah kau ingin menjadi pemimpin pasukan tentara yang baru? Aku melihat ada potensi di dalam dirimu aku yakin kamu bisa”

“Apa? Aku jadi pemimpin? Maaf sebelumnya tuan, bukannya aku menolak tawaranmu yang sangat berharga itu. Namun aku belum siap tuan, kemampuan ku belum pantas untuk menjadi seorang pemimpin.”

“Tenanglah Wavi, kau akan dilatih oleh Jafran, ia adalah tentara yang telah bersamaku selama 20 tahun. Ia sangat berpengalaman, aku harap kau bisa bekerja sama dengan baik. Dan aku sama sekali tidak menerima tolakanmu!”

Akhirnya Wavi menyetujui apa yang Raja bilang, ia juga akan pindah asrama bersama para tentara senior. Awalnya Wavi menolak karena ia ingin bersama Bram tapi Bram malah mendukungnya dan menyuruhnya untuk menuruti apapun yang di perintahkan.

Ke esokan paginya, Wavi telah mulai dilatih dan tentu saja pelatihannya lebih berat dari sebleumnya. Ia harus mampu mengejar para tentara lain, Wavi sedikit kesulitan karena jadwal pelatihan yang padat dan kurangnya tidur mrmbuat ia sempat jatuh sakit. Namun Wavi tidak menyerah begitu saja, setelah 2 bulan berlalu Wavi telah bisa menyesuaikan diri dengan para tentara senior. Dan ia akhrinya diangkat menjadi pemimpin pasukan tentara baru, namun Wavi masih saja belum pantas. Ia merasa bahwa didalam dirinya belum muncul kekuatan yang sesungguhnya, akhrinya Wavi memutuskan untuk berkonsultasi kepada Jafran.

”Jafran, aku ingin mempunyai kekuatan Tremendous power. Apakah kau bisa membantu aku mendapatkannya?”

“Maksudmu kekuatan seperti yang Raja Galaksi punya?”

“Betul sekali. Pada saat dia sedang melawan tentara kerajaan ini aku melihat kekuatannya yang sangat hebat, ia mampu mengendalikan kekuatan itu dengan sangat baik”

“Kamu serius ingin mendapatkan kekuatan itu? Itu sangat berbahaya bila kau tidak bisa mengendalikannya. Maaf Wavi aku tidak bisa membantumu mendapatkan itu. Namun aku tahu seorang guru yang tinggal di sebuah gurun, ia memiliki kekuatan itu dan bisa melatihmu. Tapi tempat itu sangat jauh, bisa berhari-hari untuk sampai kesana”

“Tidak apa-apa, tolonglah Jafran antar aku kesana”

“Baiklah, namun sebelum kita pergi sebaiknya kita meminta izin kepada raja. Jika kita tidak meminta izin aku tidak mau raja mencari kita”

“Baiklah”

Awalnya raja tidak mengizinkan Wavi pergi karena perjalanan kesana sangat jauh dan menurut orang-orang yang pernah datang ke gurun itu, untuk mencapai tempat tersebut banyak sekali rintangannya. Mulai dari hutan beracun, dan yang paling berbahaya mereka harus melewati beruang malignant, itu merupakan beruang yang sangat berbahaya karena ia memakan siapapun yang ketahuan melewati perbatasan, karena beruang malignant adalah jelmaan manusia yang di rubah menjadi beruang oleh seorang penyihir, jika dia ingin kembali menjadi manusia maka dia harus memakan 100 manusia, dan ia baru memakan 70 manusia selama hidupnya, namun Wavi terus membujuk Raja dan berjanji akan kembali dengan selamat. Akhrinya raja mengijinkan Wavi pergi tapi dengan syarat Jafran mendampngi Wavi.

Akhirnya Wavi dan Jafran memulai perjalanannya, pada saat ia akan masuk ke dalam hutan beracun ia melihat peringatan bahwa sampai ke ujung hutan ia harun menahan nafasnya karena dari udara lah racun itu bisa membunuh. Tapi Wavi tidak kehilangan idenya, karena ujung hutan tersebut sangat jauh ia tau mereka tidak akan berhasil akhirnya mereka menggunakan baju yang mereka bawa untuk digunakan sebagai masker agar tidak terhirup racun yang ada di dalam hutan.

Mereka berlari sekencang mungkin agar cepat sampai ke ujung hutan, namun ditengah jalan Jafran kehilangan keseimbangan lalu terjatuh dan masker yang ia kenakan terlepas. Wavi mulai panik namun Jafran tetap menyuruh Wavi untuk terus berlari dan menunggunya di ujung hutan. Akhirnya Wavi sampai di ujung hutan, namun ia tidak menemukan tanda-tanda Jafran keluar dari hutan itu, Wavi mulai khawatir dan hendak masuk lagi ke dalam hutan namun ternyata Jafran berhasil keluar walau dengan wajah yang membiru karena terlalu lama menahan napas.

“Jafran! Apa kamu baik-baik saja? Aku sangat khawatir”

“Tenang aku baik-baik saja. Namun aku sedikit menghirup racun yang ada di dalam hutan. Tolong bawakan bunga healer yang berwarna biru di tepi sungai itu”

Lalu Wavi membawakan bunga tersebut dan Jafran langsung memakan bung itu. Bunga Healer merupakan bunga penyembuh yang bisa menghilangkan racun apapun. Setelah beberapa saat mereka beristirahat, Jafran juga keadaannya telah membaik akhirnya mereka melanjutkan perjalanannya ke tempat berikutnya.

4 hari telah berlalu, akhirnya setelah perjalanan Panjang dan menempuh rintangan yang ada mereka sampai di perbatasan. Perbatasana itula yang dijaga beruang malignant, beruntunnya mereka karena beruang itu sedang tertidur dan mereka bisa mengendap-ngendap melewati beruang itu.

Namun pada saat mereka telah setengah jalan dan hampir saja sampai ke ujung perbatasan tiba-tiba beruang merasakan ada seseorang yang masuk ke perbatasan dan lalu ia terbangun dan mengejar hendak mengejar mereka.

“Jafran beruang itu bangun! Apa yang harus kita lakukan?”

“Wavi jangan panik! Kita pasti bisa melewati beruang itu, dengarkan saja aba-aba dariku dalam hitungan ketiga kita harus lari sekencang mungkin dan yang paling penting jangan lihat kebelakang karena itu yang akan memperlambat larimu”

Jafran dan Wavi telah Menyusun stratergi dan hendak lari. Dan beruang itu memang telah berusaha untuk mendekati mereka, beruang itu lari dengan sangat cepat membuat Wavi panik seketika.

“Satu, dua, tiga, lari! Gunakan semua kekuatanmu Wavi. Jangan lihat kebelakang”

Wavi lari secepat mungkin namun tetap saja ia tidak bisa lari sekencang Jafran. Akhirnya ia tertinggal jauh di belakang Jafran.

“Apa yang kamu lakukan Wavi! Mengapa kamu berhenti? Lari cepat! Beruang itu semakin mendekat!”

“Aku sudah tidak mampu untuk berlari, kakiku sangat sakit.”

“Wavi apa kau akan menyerah sampai disini?! Apa kau ingin berakhir dimakan beruang itu? Apa kau tidak akan menolong ayahmu?”

Setelah Wavi mendengar kata ayahnya ia menjadi semangat untuk berlari lagi. Ia lari sekencang mungkin sampai bisa menyusul kecepatan lari Jafran. Akhrinya Wavi dan Jafran sampai di ujung perbatasan, namun beruang itu masih tetap berlari dan semakin dekat dengan mereka.

Wavi dan Jafran akhirnya bersembunyi di semak-semak untuk menghindari beruang itu.

“Apa kau percaya Jafran bahwa aku berlari bisa melebihi kecepatanmu? Aku sangat bahagia, karena apabila kita sedang latihan di kerajaan lari ku sangat lambat tapi disini aku aneh mengapa lariku bisa sekencang itu” Ucap Wavi sambil tertawa.

 “Iya akupun tidak menyangka mengapa larimu sangat kencang tadi. Semoga seterusnya larimu bisa sekencang itu ya” Ucap Jafran sambil tersenyum

Setelah menunggu beberapa saat akhirnya beruang itu telah pergi. Dan mereka melanjutkan perjalananya untuk bisa sampai ke tempat guru itu berada.

Dari petunjuk yang Jafran tahu tentang gurun itu ternyata salah, mereka sama sekali tidak menemukan gurun yang ada hanya kota kecil dengan penduduk kurang dari 100 orang.

“Jafran apa kau benar-benar tahu tentang gurun itu? Mengapa kita malah menemukan kota kecil seperti ini?”

“Iya aku tahu persis bahwa gurun itu ada disini. Ayolah lebih baik kita tanya kepada orang des aini, aku yakin mereka tahu.”

Akhirnya mereka menanyakan tempat dimana gurun itu dan tentang guru yang ingin mereka temui. Namun setelah hamper 1 jam ia bertanya kepada orang-orang mereka tidak pernah dengar gurun tersebut ataupun pernah melihat guru yang mereka cari.

Tapi mereka tidak menyerah dan terus bertanya, hampir ke semua orang yang ada disitu. Pada saat mereka sedang beristirahat karena sangat kelelahan, Wavi penasaran dengan kakek memakai jubah hitam dan ia hanya bisa melihat mata kakek itu karena wajah nya tertutp jubah. Kakek itu tinggal di sebuah gubuk, ia sedari tadi terus memperhatikan mereka. Akhirnya Wavi memberanikan diri untuk menghampiri kakek itu dan menanyakan siapa tahu dia tahu tentang gurun dan guru itu.

“Permisi saya ingin bertanya, apakah kau tahu tentang guru yang mempunya kekuatan Tremendous power ? apa kau pernah mendengar tentang kekuatan itu?”

“Tidak.” Jawab kakek itu sambil meninggalkan Wavi.

Namun Wavi tetap yakin bahwa kakek itu mengetahui sesuatu tentang kekuatan itu.

“Kumohon bantu aku untuk menemukan guru itu. Aku sudah berjuang untuk sampai kesini selama 5 hari, aku sangat ingin mempunyai kekuatan itu”

“Mengapa kau ingin mempunyai kekuatan itu? Itu sangat berbahaya jika kau tidak bisa mengendalikannya”

“Aku tahu itu sangat berbahaya, tapi aku ingin mengalahkan para tentara Galaksi yang telah menculik ayahku. Aku ingin menolong ayahku, kumohon bantulah aku”

Kakek itu tidak berkata apapun dan tiba-tiba  ia membuka jubahnya, dan betapa kagetnya Wavi saat melihat bahwa wajah kakek itu menjadi muda. Jafran yang sedari tadi memperhatikan Wavi yang terus mengejar kakek itu ikut terkejut, bukan karena wajahnya yang menjadi muda tapi itu memang guru yang mereka cari. Jafran berlari menghampiri mereka.

“Wavi! Kita berhasil! Kita berhasil!”

“Apa maksudmu berhasil? Kita bahkan belum menemukan guru itu, kenapa wajahmu sangat bahagia?”

“Dihadapanmu merupakan Jan Antilles. Ini guru yang kau cari Wavi!”

Wavi sangat terkejut, ia tidak menyangka bisa bertemu dengannya.

“Senang bertemu dengan anda tuan, perkenalkan namaku Wavi dan ini Jafran. Tujuan aku datang kesini ingin belajar bersamamu, angkatlah aku menjadi muridmu.”

“Tidak! Pergilah aku tidak mau mengajari siapapun.” Ucap Jan sambil meninggalkan tempat itu.

“Kumohon, aku akan melakukan apapun yang kau minta. Kau tahu kan tujuanku ingin belajar kekuatan itu karena ingin menolong ayahku, tolonglah kumohon.” Ucap Wavi sambil menggenggam tangan Jan.

“Kau tahu kekuatan ini bukan main-main ini butuh keseriusan dan tanggung jawab penuh. Ini sangat berbahaya dan aku tidak akan mengajari orang kekuatan ini sembarangan.”

“Aku janji akan melakukannya dengan serius. Kumohon tolonglah aku, aku sangat ingin menolong ayahku.”

Setelah berfikir sejenak akhirnya Jan akan mengajari Wavi dengan syarat ia harus serius saat latihan dan bertanggung jawab atas kekuatannya itu.

“Baiklah, kau bisa mulai latihan besok. Aku tunggu disini saat matahari terbit. Jangan telat!”

“Siap laksanakan tuan!”

Wavi sangat bahagia, ia sampai tidak bisa tidur karena sangat bersemangat untuk memulai latihan besok.

Keesokan harinya ia memulai latihan, bahkan ia datang sebelum matahari terbit karena sangat bersemangat. Jafran tidak ikut dengannya karena memang ia tidak ingin ikut mempelajari kekuatan tersebut.

“Selamat pagi tuan! Aku siap memulai latihan ini”

“Ikut aku!”

Jan mengajak Wavi untuk pergi ke sebuah gua. Wavi heran mengapa ia diajak kesini.

“Ini merupakan latihan pertamamu, aku tidak akan menyuruhmu melakukan hal yang berat. Kau cukup duduk berdiam diri disini dan fokuskan fikiranmu.”

“Baiklah, tapi apa yang harus aku fikirkan?”

“Fikirkan apa yang ingin kau capai, apa yang ingin kau lakukan. Bila kau bisa tetap fokus apapun yang mengganggumu tidak akan memudarkan apa yang kau fikirkan.”

Wavi melakukan apa yang Jan suruh dan mulai memfokuskan fikirannya. Jan tidak akan membiarkan Wavi fokus dengan mudah, ia membuat goa itu bergetar dan seketika membuat Wavi ketakutan.

“Ini gempa, ayo guru kita keluar dari sini! Ini berbahaya.”

“Aku kira kau sudah fokus ternyata belum. Ini adalah bagian dari latihan! Kau harus memfokuskan fikiranmu apapun yang terjadi!”

“Apa kau gila! Jika aku mati karena gempa sungguhan bagaimana?”

“Kau tidak akan mati karena bila kau sudah fokus akan tahu sinyal bahaya yang datang. Bukan hanya gempa namun orang yang akan berbuat jahat kepadamu kau akan merasakannya.”

Lalu Wavi mencoba untuk memfokuskan fikiranya lagi namun gagal. Ia masih terganggu dengan hal-hal yang dibuat Jan. Karena hari sudah semakin gelap akhirnya mereka memtuskan untuk berhenti dan melakukannya lagi besok.

“Besok kita lanjutkan lagi, kau harus banyak istirahat pasti fikiranmu kelelahan. Kita bertemu lagi disini sebelum matahari terbit.”

“Baiklah tuan.”

Wavi benar-benar sangat lelah, Jafran sampai aneh mengapa Wavi terlihat begitu lusu setelah pulang berlatih.

“Kau terlihat sangat kelelahan. Memangnya apa yang kau lakukan bersamanya?”

“Aku hanya diam dan memfokuskan fikiranku.”

“Mengapa sampai selelah ini? Hanya begitu? Akupun bisa melakukan.”

“Ini berbeda dengan yang kamu fikirkan Jafran! Dia terus menggangguku dengan hal-hal menakutkan, bagaimana aku bisa fokus dengan cara seperti itu. Aku lelah karena terus memfokuskan fikiranku, lebih baik aku cape fisik dari pada pikiran.”

“Itulah bagian dari latihan, itulah resikonya.”

“Ya aku tahu. Sudahlah aku ingin tidur saja, besok otak ku harus dipakai lagi.”

Keesokan harinya masih dengan latihan yang sama yaitu memfokuskan fikiran. Lagi-lagi Wavi masih belum bisa melakukannya.

 1 bulan telah berlalu dan Wavi masih tetap  tidak bisa melakukannya, ganguan dari Jan sangat membuat fikiran Wavi terganggu.

“Mengapa latihan ini sangat berat! Aku bisa-bisa mati hanya karena latihan ini, otak ku sakit karena terus berusaha fokus.”

“Kau ingin menyerah?! Dasar lemah!”

Mendengar Jan mengatakan itu membuat Wavi sangat marah, itu mengingatkan Wavi tentang apa yang ayahnya bilang kepadanya. Wavi terdiam sambil menahan kemarahannya dan berusaha fokus agar bisa lulus dari latihan yang satu ini.

“Aku tidak akan menyerah! Dan aku  bukan orang lemah!”

Wavi terus berusaha fokus dan akhirnya gangguan-gangguan yang dilakukan Jan tidak membuat Wavi terganggu lagi.

“Wavi sudah cukup. Kau berhasil! Sekarang kau sudah bisa memfokuskan pikiranmu dan kau bisa lanjut ke latihan yang selanjutnya.”

Wavi membuka matanya dan ia terkejut bahwa ia berhasil melakukannya. Ia sangat bahagia, ternyata benar hinaan dari orang lain bisa membuatnya menjadi lebih semangat untuk melakukan yang ia inginkan.

“Akhirnya aku bisa melakukannya. Aku sangat bahagia, terima kasih guru!”

“Besok sebelum matahari terbit, kita bertemu di tempat pertama kal kita bertemu. Kita akan mulai latihan yang sesungguhnya”

“Baiklah tuan! Sampai ketemu besok.”

Wavi benar-benar tenang sekarang karena telah bisa menyelesaikan latihan pertama yang di berikan Jan. Namun ia juga harus mempersiapkan diri untuk latihan selanjutnya.

Keesokan paginya Wavi mulai melakukan latihan bersama Jan.

“Baiklah ini adalah latihan yang selanjutnya, kau harus bisa bela diri namun dengan pikiran bukan hanya dengan kekuatan fisik. Kau harus mampu mengetahui serangan lawan dengan instingmu.”

“Baiklah aku siap.”

Wavi mulai berlatih dengan sungguh-sungguh, ia melawan Jan dengan bela diri yang dia pelajari pada waktu pelatihan tentara. Tapi tetap saja ia tidak bisa melawan Jan dengan cara itu.

“Kau tidak bisa melawanku dengan cara seperti itu Wavi! Gunakan otakmu dan instingmu untuk menyerangku.”

“Aku sudah berusaha tapi kau tetap bisa menghindar.”

“Aku bisa menghindar dari seranganmu karena instingku. Aku menyerangku dengan insting bukan dengan kekuatan ku.”

Wavi terus berusaha fokus dan menggunakan instingnya, tapi tetap saja tidak bisa.

“Hari sudah mulai sore, kita lanjutkan besok. Terus asah kemampuan instingmu Wavi, ingat jangan terlalu mengandalkan kekuatan fisikmu!”

“Baiklah guru, aku akan berjuang sekuat tenanga.”

Lagi-lagi Jafran heran melihat Wavi yang kelihatannya benar-benar lelah.

“Mengapa kau kelihatan lelah? Padahal kemarin kau kelihatan bahagia karena telah bisa memfokuskan pikiranmu, sekarang apalagi masalahmu?”

“Sekarang aku benar-benar lelah fisik dan mental. Jangan banyak tanya Jafran aku ingin tidur, aku sangat lelah.”

Keesokan harinya Wavi memulai latihannya lagi tapi kali ini Jafran ikut, karena Jafran penasaran bagaimana latihan yang di jalani Wavi.

“Kita akan mulai latihannya. Ingat kau harus menggunakan instingmu! Jangan hanya mengandalkan kekuatan fisik.”

“Baiklah aku akan berusaha!”

Setelah beberapa saat latihan tetap saja ia masih belum bisa mengontrol instingnya, Wavi masih tetap hanya mengandalkan kekuatan fisiknya.

“Ayo kau pasti bisa Wavi! Ingat tujuanmu untuk menolong ayahmu.” Teriak Jafran menyemangati Wavi.

Mendengar ayahnya disebut membuat semangat Wavi bertambah lagi, ia sangat merindukan ayahnya. Latihan yang dilakukan Wavi dan Jan hari ini sudah lebih baik dari sebelumnya, Wavi sedikit-sedikit telah bisa memakai instingnya untuk menyerang lawan.

“Kemajuanmu sangat bagus Wavi, kau telah mulai bisa menggunakan instingmu pada saat menyerangku.”

“Terima kasih Jan, aku sangat bahagia bisa melakukan itu.”

“Jangan senang dulu! Itu masih belum ada apa-apanya, kau masih belum sepenuhnya bisa. Kita lanjutkan besok sekarang kau harus mengstirahatkan pikiranmu agar bisa lebih fokus.”

“Baiklah aku pasti akan melakukan yang terbaik!” Ucap Wavi dengan penuh semnagat.

“Tadi kau hebat Wavi! Aku baru tahu mengapa tiap kau pulang wajahmu selalu terlihat cape karena latihanmu sangat berat ya.”

“Aku juga ingin berterima kasih kepadamu, berkatmu aku lebih semangat latihan.”

“Itu bukan apa-apa, kau harus tetap semangat Wavi! Jangan pernah menyerah!”

2 bulan telah berlalu Wavi telah bisa mengendalikan instingnya, ia bahkan telah bisa mengalahkan Jan pada saat latihan. Hari ini merupakan latihan terakhir untuk latihan bela diri sebelum melanjukan ke latihan selanjutnya yang tentu saja lebih berat dari latihan yang kemarin. Wavi harus menang melawan Jan, awalnya Wavi takut tidak bisa mengalhkan Jan, namu Jafran terus memberi semangat Wavi agar dia percaya diri untuk menang dari Jan.

“Kau harus yakin pada dirimu sendiri Wavi! Bila kau telah yakin  pada dirimu sendiri pasti kau akan menang.”

“Baiklah aku akan yakin pada diri ku sendiri, bahwa aku pasti akan menang dan bisa melanjutkan ke latihan selanjutnya.”

Akhirnya waktu dimana Wavi dan Jan akan bertarung telah  tiba. Wavi sangat tegang untuk menghadapi Jan namun ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa.

Pertarunganpun dimulai, Jafran yang melihat pertarungan itu ikut tegang ia takut Wavi kehilangan konsentrasinya, namun ternyata Wavi benar-benar fokus berkali-kali ia menyerang Jan dan tidak pernah meleset. Lalu Jan mengubah strateginya, yang membuat Wavi awalnya kewalahan dan sempat jatuh berkali-kali. Tapi karena pikiran Wavi fokus ia akhirnya mampu untuk melawan balik Jan, dan akhirnya Wavi memenangkan permainan itu.

“Wavi kau menang! Kau mampu mengalahkan Jan, kau hebat Wavi.” Ucap Jafran sambil berlari menghampiri Wavi dan memeluknya.

Wavi hanya terdiam karena kelelahan dan masih tidak menyangka ia bisa menang melawan Jan.

“Selamat Wavi kau menang,kita bisa melanjutkan latihan terakhir dan disini kau mulai mempelajari kekuatan Tremendous power yang sesungguhnya.”

“Baiklah aku akan berusaha semaksimal mungkin!”

“Kita bertemu tengah malam ini, kita akan berlatih di tempat yang berbeda. Kau harus membawa semua perlengkapanmu karena akan pergi jauh.”

Akhirnya pada tengah malam Wavi,Jafran dan Jan memulai perjalanannya. Tempat itu cukup jauh sekitar 4 jam untuk sampai kesana.

“Tempat apa ini guru? Mengapa sangat gelap sekali?”

“Ini merupakan tempat latihan mu yang sesungguhnya. Ditempat inilah aku pertama kali diajarkan oleh guruku, latihan-latihanmu yang sebelumnya akan digunakan lagi disini. Kau harus mampu berkonsentrasi, bela diri dengan menggunakan instingmu dan  seluruh kekuatan dari dalam dirimu harus kau gunakan disini.”

“Kekuatan dari dalam diri seperti apa guru?”

“Kau harus mampu mengontrol emosi mu, karena untuk mendapatkan kekuatan itu kau akan mengalami emosi yang tidak stabil.”

“Baiklah aku akan melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh.”

Wavi memulai latihannya dengan mengulang latihan-latihan yang ia pelajari sebelumnya. Dimulai dari memfokuskan konsentrasinya, namun ternyata ia kesulitan lagi dalam berkonsentrasi.

“Mengapa aku jadi susah berkonsentrasi? Padahal aku sudah bisa dalam hal itu sebelumnya.” Ucap wavi kesal.

“Itulah ujian yang sesungguhnya, itu tanda bahwa kau tidak melatih lagi konsentrasi mu dan malah terlalu fokus pada latihan yang kedua. Bila kau ingin mendapatkan kekuatan itu kau harus fokus pada ketiga latihan ini, kekuatan ini bukan main-main Wavi! Kau tidak boleh main-main.” Ucap Juan dengan tegas.

Wavi terus melakukan latihan itu dengan seluruh kemampuan yang dia punya. Namun di hari pertama ia latihan masih kesulitan. Karena Wavi kelihatan sangat lelah,akhirnya Jan menyudahi latihan dan melanjutkan keesokannya.

“Hari ini kau harus lebih fokus dalam berlatih! Jangan sampai kehilangan konsentrasi lagi!” Ucap Jan tegas.

“Baiklah, aku akan berusaha semaksimal mungkin!”

Latihan kali ini Wavi telah bisa berkonsentrasi dengan baik. Ia mulai bisa memfokuskan pikirannya dengan baik, namun ia malah melupakan teknik bela dirinya karea terlalu fokus ke latihan pertama itu. Tapi dia tidak menyerah, ia terus berlatih setiap hari dan Jafran selalu berada disisnya untuk menyemangati Wavi.

Karena usaha tidak akan menghianati hasil akhirnya Wavi berhasil menguasai kedua latihan yang ia pelajari secara bersamaan. Dan tiba saatnya Jan mengajari Wavi kekuatan Tremendous power, Wavi dan Jan pergi ke sebuah gunung karena disanalah ia bisa mendapatkan kekuatan itu.

“Wavi ini merupakan hal yang terberat, kau akan mendapatkan kekuatan itu bila kau bisa menyerap energi dari atas gunung ini. Bila kau berhasil menyerap energi dari gunung ini tubuhmu akan merasa kesakitan dan kau harus melawan rasa sakit itu, jika kau tidak bisa menahan itu nyawamu akan terancam. Aku juga tidak akan bisa menolongmu, maka dari itu kau harus fokus!” Ucap Jan memperingati Wavi.

“Baiklah aku siap.”

Wavi memfokuskan pikirannya, berusaha menyerap energi yang ada. Ternyata ia mampu menyerap energi itu, Wavi berusaha menahan rasa sakit itu dan terus memfokuskan pikirannya hingga akhrinya tiba-tiba ia tidak sadarkan diri.

“Wavi bangunlah! Apa kau baik-baik saja?”Ucap Jan panik melihat wajah Wavi yang sangat pucat.

Tidak lama kemudian Wavi sadar dan merasa ada yang aneh didalam tubuhnya.

“Apa aku berhasil guru? Apa aku telah mempunyai kekuatan itu?”

“Aku tidak tahu, cobalah memindahkan batu itu ke tempat lain.”

Dan ternyata ia bisa memindahkan batu itu. Akhirnya Wavi mendapatkan kekuatan Tremendous power itu.

“Aku berhasil guru! Aku merasa seperti mimpi.” Ucap Wavi sangat senang.

“Tapi ingat Wavi kekuatan ini harus mampu kau kendalikan dengan baik! Jangan kau gunakan untuk hal-hal yang tidak baik, karena itu bisa berdampak pada dirimu sendiri.”

“Baiklah aku berjanji akan menggunakan kekuatan ini dengan sangat baik.”

Setelah kurang lebih 6 bulan ia berlatih akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Kerajaan Adobras, dan ia mengajak guru Jan bersamanya.

“Guru ayolah ikut bersama kami ke kerajaan Adobras. Raja pasti sangat ingin bertemu denganmu.”

“Tidak aku tidak mau tempatku disini Wavi! Aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai kapanpun.”

“Kumohon guru, aku sangat ingin mengajakmu ke Kerajaan Adobras dan mengajakmu makan malam bersama Raja sebagai tanda terima kasihku. Hanya satu hari saja, Kumohon.”

Ucap Wavi memohon kepada Jan agar ia mau ikut bersamanya pulang.

“Baiklah aku ikut tapi hanya satu hari saja!”

“Terima kasih guru karena telah mau ikut bersama kami. Tapi jalan pulangnya sangat jauh, apakah guru tau jalan pintas untuk bisa sampai cepat ke kerajaan?”

“Aku tau, ayo ikutlah denganku.”

Ternyata tidak sampai 4 jam mereka telah sampai di perbatasan untuk menuju Kerajaan Adobras. Namun ada yang aneh saat mereka sampai di gerbang menuju ke Kerajaan.

“Ada apa ini mengapa kota ini sangat kacau. Apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap Jafran kebingungan.

Mereka sangat terkejut melihat keadaan kota yang sangat kacau. Yang Jafran pikirkan adalah Raja, apakah ia selamat, apa masih ada tentara yang tersisa. Mereka langsung berlari menuju kerajaan. Betapa terkejutnya mereka melihat didalam kerajaan juga sangat kacau, yang tersisa hanya beberapa tentara.

“Ada apa ini? Mengapa semua ini bisa terjadi? Dimana raja?” Ucap Jafran bertanya kepada salah satu tentara.

“Kerajaan di jajah lagi oleh Kerajaan Galaksi. Raja selamat, dan dia ada di dalam.”

Jafran berlari menghampiri raja, dan melihat dia sedang duduk melamun diatas singgasana.

“Raja apa kau baik-baik saja? Mengapa semua ini bisa terjadi? Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu.”Ucap Jafran sangat sedih.

“Kemarin Kerajaan Galaksi kembali lagi kesini, ia menyerang kota dan kerajaan dengan jumlah tentara yang sangat banyak. Mereka bilang dalam waktu 2 minggu akan kembali lagi kesini, mereka mengiginkan perang Jafran!”

“Apa?! Tapi bagaimana kita bisa menghadapi mereka dengan jumlah tentara yang tersisa hanya sedikit. Apa Ratu baik-baik saja? Bagaimana dengan pangeran?”

“Ratu sedang sakit karena memikirkan hal ini, ia ada dikamar. Sedangkan pangeran, ia dibawa ke kerajaan galaksi aku tidak tahu harus melakukan apalagi. Aku merasa gagal menjadi seorang raja.” Ia terlihat sangat sedih.

“Tenanglah raja aku pasti akan membawa pangeran kembali kesini dengan selamat. Aku janji.” Ucap wavi

“Benarkah? Apa kau sudah mendapatkan kekuatan itu?”

“Sudah raja, ini Jan ia yang mengajarkanku kekuatan itu.”
“Senang bertemu dengan anda tuan.”

“Aku juga senang bertemu denganmu, kalian pasti cape mari ita makan dulu lalu kita atur strategi melawan Kerajaan Galaksi.”Ucap Raja.

Mereka makan malam bersama dan mereka mengatur strategi untuk bisa melawan Kerajaan Galaksi. 




6. Bertemu Edward

Wavi berusaha mencari bantuan untuk melawan kerajaan Galaksi. Akhirnya ia bertemu dengan Edward,ia merupakan raja muda dari Kerajaan Valensia.

7. Si Cantik Cleo

Setelah pertemuan singkat dengan Cleo, Wavi kini tau bahwa Cleo merupakan anak dari Raja Archeron.

8. Pertarungan dengannya

Wavi tidak menyangka ternyata ayahnya telah bergabung dengan tantara Galaksi untuk melawannya.

9. Penaklukan

Wavi sangat marah kepada Raja Archeron, akhirnya mereka bertarung satu lawan satu.

10. Akhir Kerajaan Galaksi

Kerajaan Galaksi dan Kerajaan Adobras akhirnya hidup damai dan tentram. 

No comments:

Post a Comment

Kotak Adhikari Asmara

  Bagian 1               “Halo? Apa ada orangkah di sini?”             Aku coba melangkah lebih dekat ke arah pohon itu. Pohon yang cu...