Genre : Fiksi
Judul : Penakluk Galaksi
Pada zaman dahulu kala
hiduplah seorang pemuda yang tampan, gagah dan pemberani bernama Samuel
Alanthas Heither. Dia hidup cukup terpandang di kerajaan yang bernama Adobras,
karena ayahnya merupakan penasihat Raja. Pada suatu hari dia ikut bersama
ayahnya ke Kerajaan Galaksi untuk menyampaikan undangan dari Raja.
Lalu dia tidak sengaja
bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik bernama Jingga Nickleyn
Andreas,dia merupakan putri dari Kerajaan Galaksi. Dari pertemuan itu tumbuhlah
benih-benih cinta diantara mereka,hingga akhirnya Jingga memperkenalkan Samuel
kepada ayahnya.
“Ayah aku ingin
memperkenalkan kekasihku, dia bernama Samuel.” Lalu Samuel membukkan badannya
untuk memberikan hormat kepada ayah Jingga.
“Apakah kamu anak
penasihat Raja yang waktu itu datang kesini?” ucap ayahnya.
“Benar tuan saya anak
dari penasihat Raja dari Kerajaan Adobras.” Ayahnya memberikan tatapan sinis
dan terlihat tidak senang kepada Samuel.
“Saya tidak setuju dengan
hubungan kalian!” Ucap ayahnya dengan ketus.
“Kenapa ayah?! Kenapa
tidak menyetujui hubunganku dengan Samuel? Dia anak yang baik yah!” Ucap Jingga
sembari menahan air matanya.
“Karena kalian itu tidak
seharusnya bersama! Kamu itu seorang putri dan putri harus menikah dengan
pangeran! Ayah telah menjodohkan mu dengan pangeran dari Kerajaan Valensia!”
“Tidak! Aku tidak mau!
Aku hanya ingin bersama Samuel!” Ucap Jingga.
Namun ayahnya tidak
berkata apa-apa dan menyuruh para pengawalnya untuk membawa Jingga pergi.
“Pengawal cepat bawa
Putri ke kamarnya! Dan kamu Samuel jangan berani-berani lagi datang kesini!
Karena kalian tidak akan bisa bersama!” Ucap ayahnya dengan tegas.
“ Tapi saya sangat
mencintai Putrimu, meskipun saya bukan seorang pangeran tapi saya bisa menjaga
Jingga dengan baik!” Ucap Samuel.
Tapi ayahnya malah
mengusir Samuel dan tidak mendengarkan apapun yang dikatakan Samuel.
“Pengawal cepat bawa dia
pergi dari sini! Dan pastikan tidak ada celah sedikitpun untuk dia kembali lagi
kesini!” Akhirnya Samuel dibawa pergi oleh para pengawal untuk keluar kerajaan.
Namun perjuangan Samuel
dan Jingga untuk bisa bersama terus dilakukan, mereka sering bertukar surat
lewat burung merpati kesayangan Samuel,merpati itu telah menemani Samuel selama
10 tahun. Hingga akhirnya pada suatu malam Jingga memutuskan untuk kabur dari
Kerajaan secara sembunyi-senmbunyi dan pergi Bersama Samuel ke Kerajaan
Adobras. Ternyata Samuel telah menunggu Jingga di luar kerajan
“Sttt,Samuel! Bagaimana
caranya aku turun,tembok ini sangat tinggi.” Samuel sangat terkejut dengan
kehadiran Jingga yang telah siap untuk turun dari tembok yang sangat tinggi.
“Cepat loncat aku akan
menagkapmu! Ku hitung sampai tiga,1...2…3… Lompat!” Ucap Samuel.
Akhirnya Jingga turun
dengan aman “Wuah tangkapan yang bagus Samuel.” Ucap Jingga sambil menebarkan
senyum manisnya.
Keesokan paginya pada
saat para pelayan akan membangunkan Jingga,dia tidak ada dikamarnya. Raja telah
curiga bahwa Jingga telah kabur bersama Samuel ke Kerajaan Adobras,lalu Raja
mengutus para pengawalnya untuk mencari Jingga kesana. Karena Raja Asgraf telah
mengaggap Samuel dan keluarganya seperti saudara sendiri, akhrinya ia membantu
Samuel dan ayahnya untuk pergi dari Kerajaan Adobras ke pedasaan yang jauh agar
tidak ketahuan oleh para pengawal, dan Raja Asgraf bilang bahwa Samuel sudah
tidak ada disini. Ayah Jingga sangat sedih dan tentunya sangat marah kepada
Raja Asgraf. Ia tahu bawa Raja Asgraf yang telah membantu Samuel untuk kabur
dari Kerajaan Adobras. Setelah kejadian itu Kerajaan Galaksi dan Kerajaan
Adobras menjadi renggang dan memutus jalur bisnisnya. Samuel dan Jingga
akhirnya menikah meskipun ia tahu bahwa ayahnya sangat menentang hubungannya
dengan Samuel.
Kepergian Jingga selama 6
bulan yang tidak pernah pulang ke rumah, membuat Raja menjadi sakit-sakitan dan
akhirnya meninggal, kabar tersebut sampai ke telinga Jingga. Awalnya dia
berniat untuk kembali kesana karena ia sangat ingin menyaksikan pemakaman
ayahnya, namun berubah pikiran karena dia sedang hamil, Jingga tahu jika dia ketahuan
sedang hamil maka anaknya akan dibunuh, kerajaan menganggapnya itu sebagai
musuh karena hubungan yang tidak disetujui.
4
bulan kemudian anak Jingga dan Samuel
lahir.
Wavi Andreas Heither nama
panggilan nya adalah Wavi. Seorang anak yang berumur 15 tahun,hidup di kerajaan
yang bernama Adobras. Dia hanya hidup bersama ayahnya yang bernama Samuel
Alanthas Heither dan ibunya yang bernama Jingga Nickleyn Andreas, namun ia meninggal
sejak Wavi berumur 1 tahun. Wavi sering bertanya kepada ayahnya mengapa ibunya
bisa meninggal, namun dia hanya menjawab bahwa ibunya meninggal karena sakit.
Dia hidup di desa yang
sangat tentram dan damai, ia selalu ingin pergi ke kota melihat lampion setiap
keluarga kerajaan merayakan ulang tahun, namun ayahnya selalu melarangnya
dengan alasan bahwa anak seumur dia tidak boleh pergi ke kota. Suatu hari
ketika Wavi sedang berada lapangan tempat ia bermain ada pengumuman dari
kerajaan bahwa anak yang sudah berumur 17 tahun wajib mengikuti pelatihan dan
nantinya mereka akan menjadi tentara Resmi dari Kerajaan Adobras. Mendengar
kabar tersebut Wavi sangat senang sekali karena dia berfikir bahwa ketika dia
telah berumur 17 tahun akan diperbolehkan pergi ke kota. Setelah dia pulang ke
rumah dia menyampaikan kabar bahagianya tersebut kepada ayahnya. “Apakah ayah
tahu jika nanti umurku telah 17 tahun aku diperbolehkan pergi ke kota untuk
mengikuti pelatihan dan menjadi tentara, aku sangat senang ayah!” Ucap Wavi
dengan kegembiraan yang terpacar di wajahnya.
“Apa maksudmu?! Tidak,
ayah tidak akan mengijinkan mu untuk mengikuti pelatihan tersebut!” Ucap
ayahnya dengan wajah marah.
“Kenapa ayah begitu
marah? Itu kewajiban ku ayah! Mengapa ayah sangat tidak mengijinkanku untuk
pergi ke kota?!” Ucap Wavi dengan nada agak tinggi.
“Karena kamu tidak pantas
menjadi seorang tentara! Kamu itu sangat lemah Wavi!” Ucap ayahnya dengan nada
sangat tinngi. Mendengar ayahnya berbicara seperti itu membuat Wavi sangat
sakit hati,dan akhirnya dia pergi ke sungai untuk menenangkan pikirannya.
Wavi telah merenungkan
apa yang dia katakan kepada ayahnya dengan nada tinggi itu tidak sopan, Wavi
sangat merasa bersalah dan pulang ke rumah untuk meminta maaf kepada ayahnya.
“Ayah maafkan aku karena
tadi telah berbicara kepadamu dengan nada tinggi, aku benar-benar menyesal
ayah.” Ucap Wavi.
“Ayah sudah memaafkanmu
Wavi, lagi pula ayah seperti itu karena ayah sangat menyayangimu.” Ucap ayahnya
sambil memeluk Wavi.
“Aku juga menyayangimu
ayah, ayo yah kita makan aku sudah lapar!” Ucap Wavi sambil melepaskan pelukan
ayahnya dan menariknya ke meja makan untuk makan bersama.
Ternyata sore tadi, pada
saat Wavi sedang berada di sungai dia merencanakan untuk pergi ke kota secara
diam-diam bersama dengan temannya. Ia berangkat pada saat ayahnya sedang
tertidur lelap, dan ia menyimpan surat di meja berisi permintaan maaf karena
pergi ke kota secara diam-diam dan akan kembali besok siangnya.
Pada pagi hari ketika
Samuel terbangun, alangkah terkejutnya ia membaca isi surat yang ditulis oleh
Wavi. Tanpa berfikir Panjang ia langsung pergi ke kota dengan menggunakan kuda
andalannya, dia sampai tidak mempersiapkan apapun karena yang ada di pikirannya
hanya kekhawatiran kepada Wavi. Ia sampai di kota cukup siang karena kudanya
tiba-tiba mengamuk karena Samuel lupa memberi makan kudanya, lalu ia langsung
mecari Wavi namun sampai siang menjelang sore pun ia tidak menemukannya.
Tiba-tiba terdengar bunyi
lonceng yang sangat keras, itulah bunyi yang sangat di khawatirkan oleh Samuel
di kota ini. Bunyi lonceng itu adalah tanda adanya penyerangan terhadap
kotanya, ia benar-benar mengkhawatirkan Wavi dan akhirnya ia menemukan Wavi
yang sedang menangis karena terdorong-dorong oleh pasukan tentara yang berlari,
mereka akan menjaga wilayah di perbatasan. Samuel berlari untuk membawa Wavi
pergi ke tempat yang aman.
“Ayah! Aku sangat takut
ayah, benar kata ayah bahwa kota itu tidak boleh dimasuki oleh aku yang sangat lemah
ini. Maafkan aku ayah.” Ucap Wavi sambil menangis dan memeluk ayahnya.
“Tenanglah ayah
bersamamu,ayah janji akan menjagamu.” Ucap Samuel sambil membawa Wavi untuk
bersmbunyi ke sebuah hutan.
“Ayah sebenarnya apa yang
terjadi? Mengapa orang-orang sangat ketakutan?” Ucap Wavi bingung.
“Mereka itu adalah
orang-orang yang akan membawa para pria dewasa untuk dijadikan budak dan
tentara mereka.” Ucap ayahnya.
“Apakah ayah juga akan
dibawa mereka? Tidak! Ayah tidak boleh ikut bersama mereka,nanti aku akan
tinggal bersama siapa jika ayah pergi?” Ucap Wavi dengan sedih.
Ayahnya menyuruh Wavi jangan
berbicara apapun lagi, karena ia mendengar suara para tentara yang mendekat ke
arah mereka. Dan benar ternyata mereka ketahuan, Samuel berlari sangat kencang
agar tidak tertangkap oleh mereka. Akhrinya mereka menemukan gua yang bisa
dijadikan tempat bersembunyi untuk sementara.
“Wavi dengarkan ayah,
kamu harus berjanji kepadaku bahwa kau akan menjadi laki-laki yang kuat dan
pemberani. Jangan pernah menyerah untuk mewujudkan semua mimpimu, sama seperti
mimpimu yang sangat ingin pergi ke kota dan sekarang kau mampu untuk kesini
sendiri. Ayah sangat bangga padamu, ternyata kau anak yang pemberani dan tidak
mudah menyerah.” Ucap ayahnya sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Tidak ayah! Ayah tidak
boleh ikut dengan mereka, biar aku yang menggantikan ayah!” Ucap Wavi sambil
menangis.
“Apa maksudmu! Ayah sudah
berjanji kepada ibumu untuk selalu menjagamu apapun yang terjadi. Kamu sayang
ibumu kan? Kamu ingin ibumu bahagia? Maka dari itu dengarkan apa yang ayah
bilang, sekarang kamu tetap disini sampai para tentara itu pergi! Jangan keluar
dari gua ini!” Ucap ayahnya.
“Baiklah ayah aku akan
melakukan apa yang kamu suruh, aku janji akan diam disini sampai para tentara
pergi. Tapi ayah juga harus berjanji untuk kembali lagi ke kota ini!” Ayahnya
mengangguk. Dan tidak lama para tentara datang dan hendak masuk ke gua itu
namun, Samuel telah keluar untuk menyerahkan dirinya, karena ia tahu jika dia
tetap disana bisa saja malah Wavi juga ikut bersama mereka.
“Akhirnya kau menyerahkan
diri, mana anak laki-laki yang tadi kau bawa juga?” Ucap salah satu tentara.
“Dia sudah tidak ada!
Lagi pula yang kalian inginkan aku bukan?” Ucap Samuel.
“Ya tentu saja yang kami
inginkan kamu! Ayo cepat bawa dia, dan kita cari laki-laki lain.” Ucap salah satu
tentara.
Wavi hanya diam didalam gua
sambil menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar oleh mereka. Akhrinya
para tentara meninggalkan gua itu, namun Wavi belum berani untuk keluar karena
ia takut para tentara kembali lagi kesana. Hari semakin gelap
akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari gua, tadinya dia akan kembali ke
rumahnya tapi karena hari sudah gelap dan tidak memungkinkan untuk kembali
kesana, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kota dan menginap sementara
disana.
Alangkah terkejutnya dia
melihat keadaan kota yang begitu berantakan di sana banyak sekali anak kecil
dan perempuan yang terluka. Banyak sekali tentara yang menolong orang-orang
yang terluka, Wavi heran mengapa para tentara itu tidak ikut di bawah oleh para
tentara dari kerajaan Galaksi? Wavi pun ikut membantu menolong orang-orang yang
terluka, pada saat dia sedang menolong seorang perempuan, dia bertanya mengapa
para tentara yang ada tidak ikut dibawa, lalu perempuan itu menjawab karena
yang menjadi target kerajaan galaksi hanya laki-laki biasa dan yang belum
mendaftarkan diri menjadi tentara, karena mereka memang merencanakan akan
menyerang kerajaan Adobras. Maka dari itu dia membawa semua pria dewasa agar
tidak banyak laki-laki yang akan menjadi tentara dari kerajaan Galaksi. Dia
berfikir bahwa ayahnya pasti juga akan menjadi tentara dari kerajaan Galaksi
lalu akan melawan negerinya sendiri? Tidak! Wavi yakin bahwa ayahnya tidak akan
seperti itu.
1 bulan setelah kepergian
ayahnya dia hanya tinggal sendiri dan masih belum melihat tanda kalau ayahnya
akan kembali dan juga mereka yang dibawa oleh para tentara Galaksi, untungnya
para tentara tidak mengetahui adanya desa tempat dia tinggal karena memang
jaraknya sangat jauh dari pusat kota jadi dia masih bisa sekolah dan hidup
dengan aman disana.
Pada pagi hari ketika dia
akan berangkat ke sekolah dia mendengar pengumuman lagi bahwa semua laki-laki
diwajibkan untuk mendaftar menjadi tentara, umurnya pun sudah tidak ditentukan
lagi, intinya mereka yang sudah siap secara mental dan fisik wajib mendaftar
menjadi tentara. Karena Wavi sangat ingin menolong ayahnya dia memutuskan untuk
mendaftarkan diri untuk menjadi seorang tentara dan meninggalkan sekolahnya di
desa.
Betapa beruntungnya Wavi
karena tetangganya sangat baik hati, mereka membantu Wavi untuk mempersiapkan
segala kebutuhan yang akan dia bawa untuk ke kota. Pada malam hari Wavi
langsung dibawa oleh para tentara untuk menuju kota, Wavi sedih karena harus
meninggalkan sekolah, teman-teman, dan rumah nya yang telah ia tinggali selama
15 tahun ini. Namun bagaimanapun Wavi harus menolong ayahnya, dan membawanya
pulang kembali ke kota.
Kebetulan ia mendapatkan
kamar bersama temannya yang juga satu sekolah dengannya. Ia heran mengapa
temannya ini mendaftar menjadi tentara, karena Wavi tau bahwa temannya ini
fisiknya kurang baik dan suka sakit-sakitan.
“Hei Bram! Beruntungnya
aku bisa satu kamar denganmu.” Ucap Wavi ramah. Tapi Bram hanya tersenyum tipis
dan tidak mengiraukan Wavi
“Bram kalau boleh aku
tahu mengapa kau mendaftarkan diri menjadi tentara? Padahal kau sering sakit,
apakah sekarang fisik mu telah kuat?” Ucap Wavi dengan sangat hati-hati karena
ia tidak mau menyakiti hati Bram.
“Hm tidak, aku masih
sering sakit-sakitan, aku punya alasan lain mengapa aku mendaftar menjadi
tentara.” Ucap Bram. Ia lalu menceritakan alasannya.
“Ibu dan ayahku pada hari
dimana para penjajah datang dari kerajaan Galaksi, mereka sedang berada di kota
untuk membeli bahan-bahan dapur dan mengunjungi pamanku yang sedang sakit. Kau
pasti tau sendiri, ayah ku dibawa oleh mereka.” Ucap Bram tanpa menunjukan
ekspresi apapun.
“Lalu bagaimana dengan
ibumu? Apakah dia juga ikut dibawa?” Ucap Wavi heran.
“Tidak, ibuku mencoba
menahan ayahku agar tidak dibawa oleh mereka karena dia sangat mencintai
ayahku. Dan ia berkata jika kau tetap ingin membawa suamiku maka lebih baik aku
mati saja! Akhirnya karena para tentara juga sangat marah kepada ibuku mereka
menembak ibu tepat di depan ayahku. Lalu jasad ibuku langsung dikubur di kota
bersama para korban yang meninggal. Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat
tinggal kepada ibu dan ayahku, karena itulah aku ingin menjadi tentara agar
bisa membalaskan dendamku kepada para tentara itu dan membawa ayahku kembali.”
Ucap Bram dengan ekspresi kemarahannya dan rasa sedih yang begitu dalam
terlihat diwajahnya.
“Bram maafkan aku, aku
tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku yakin Bram, ibumu pasti bangga karena kau
menjadi anak yang kuat dan ayahmu pasti akan selalu bertahan untukmu disana.
Ayo kita berjuang bersama-sama! Kita pasti bisa menyelamatkan mereka!” Ucap
Wavi dengan penuh semangat.
“Tidak apa-apa Wavi, aku
mengert kamu tidak mengetahui tentang hal ini. Baiklah, aku yakin kita pasti
bisa!” Ucap Bram yang juga ikut bersemangat.
Sekitar pukul 4 pagi
semua calon tentara dibangunkan untuk olahraga pagi, Wavi dan Bram sama-sama
tidak terbiasa akan hal itu. Tapi mereka berusaha beradaptasi dengan
lingkungannya. Selesai mereka berolahraga, lalu mereka mempersiapkan diri untuk
sarapan pada jam 6 pagi. Pada saat mereka sedang sarapan Wavi melihat wajah
Bram yang berubah menjadi pucat, Bram bilang bahwa ia tidak terbiasa bangun
sepagi itu dan sarapan di jam 6 pagi, jadi Bram merasa sangat pusing. Akhirnya
para pelatih mempersilahkan Bram untuk beristirahat karena khawatir jika terus
dipaksakan akan tambah bahaya.
Tepat pukul 7 pagi
Latihan mereka dimulai, bukan hanya fisik yang dilatih tapi juga sikap, mental,
ketahanan tubuh dan keberanian. Disana mereka dilatih untuk tahan dengan segala
cuaca seperti panas, bersalju, hujan ataupun saat terjadinya angin putting
beliung yang berbahaya. Dihari pertamanya Wavi sangat kesulitan, karena ia
jarang berolahraga apalagi keluar rumah, jadi pada saat dihadapi dengan hal
ekstrim tersebut Wavi sangat susah beradaptasi.
Sama seperti hari kemarin
mereka dibangunkan lagi tepat pukul 4 pagi, pada saat Wavi akan membangunkan
Bram,ia merasakan badan Bram sangat panas dan dari hidungnya keluar darah. Wavi
sangat panik lalu memanggil pelatihnya untuk mengecek kondisi Bram. Akhirnya ia
dibawa ke Klinik, setelah beberapa menit Bram diperiksa ternyata Bram memang
tidak bisa berada di suhu kurang dari
C, karena itu ia langsung
sakit.
Pelatih menyuruh Bram
untuk kembali ke desa dan tidak usah melanjutkan pelatihannya, namun Bram tetap
ingin melanjutkan latihannya, karena sangat ingin menolong ayahnya agar bisa
kembali. Bram berjanji akan kuat dan membiasakan diri terhadap apapun yang
baru.
Hari ke 10 Wavi dan Bram
sudah terbiasa mulai dari bangun jam 4 pagi, sarapan jam 6 pagi dan memulai
pelatihan yang sangat menyulitkan meraka itu sudah menjadi kebiasaan. Lalu,
pada saat Wavi sedang beristirahat ia dipanggil oleh pengawal kerajaan untuk
menemui Raja, Wavi awalnya sangat takut, namun karena ia sadar bahwa tidak melakukan
kesalahan apapun akhirnya ia berani untuk menemui Raja.
Setelah sampai di dalam
kerajaan, ia sangat heran mengapa Raja bisa seakrab itu dengannya, padahal
mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.
“Hai Wavi! Kau putra
Samuel kan? Aku tidak menyangka kau sudah sebesar ini.” Ucap Raja sambil
memeluknya dengan hangat.
Wavi membalas pelukan
Raja, namun ia tetap heran mengapa dia bisa tahu ayah.
“Benar tuan, saya adalah
anak dari Samuel. Tapi mengapa tuan bisa tau ayahku? Apakah ayahku dulu bekerja
disini?”
“Lebih tepatnya kakekmu.
Ia dulu merupakan penasehat kerajaan, ia sangat baik dan selalu menemaniku
kemanapun aku pergi, aku sangat bahagia bisa kenal dengan kakekmu.”
“Benarkah? Mengapa ayahku
tidak pernah menceritakan ini ya? Kakekku juga pasti sangat bangga bisa kenal
dengan seorang Raja yang bijak sana seperti anda.”
“Mungkin ayahmu belum tau
harus memulai dari mana, maka dari itu ia belum menceritakan padamu. Hm
ngomong-mgomong aku mengajakmu kesini ingin menawarkan sesuatu yang berharga,
apa kamu ingin tau?
“Tentu saja tuan, apa
yang akan tua tawarkan kepadaku?”
“Apakah kau ingin menjadi
pemimpin pasukan tentara yang baru? Aku melihat ada potensi di dalam dirimu aku
yakin kamu bisa”
“Apa? Aku jadi pemimpin?
Maaf sebelumnya tuan, bukannya aku menolak tawaranmu yang sangat berharga itu.
Namun aku belum siap tuan, kemampuan ku belum pantas untuk menjadi seorang
pemimpin.”
“Tenanglah Wavi, kau akan
dilatih oleh Jafran, ia adalah tentara yang telah bersamaku selama 20 tahun. Ia
sangat berpengalaman, aku harap kau bisa bekerja sama dengan baik. Dan aku sama
sekali tidak menerima tolakanmu!”
Akhirnya Wavi menyetujui
apa yang Raja bilang, ia juga akan pindah asrama bersama para tentara senior.
Awalnya Wavi menolak karena ia ingin bersama Bram tapi Bram malah mendukungnya
dan menyuruhnya untuk menuruti apapun yang di perintahkan.
Ke esokan paginya, Wavi
telah mulai dilatih dan tentu saja pelatihannya lebih berat dari sebleumnya. Ia
harus mampu mengejar para tentara lain, Wavi sedikit kesulitan karena jadwal
pelatihan yang padat dan kurangnya tidur mrmbuat ia sempat jatuh sakit. Namun
Wavi tidak menyerah begitu saja, setelah 2 bulan berlalu Wavi telah bisa
menyesuaikan diri dengan para tentara senior. Dan ia akhrinya diangkat menjadi
pemimpin pasukan tentara baru, namun Wavi masih saja belum pantas. Ia merasa
bahwa didalam dirinya belum muncul kekuatan yang sesungguhnya, akhrinya Wavi
memutuskan untuk berkonsultasi kepada Jafran.
”Jafran, aku ingin
mempunyai kekuatan Tremendous power. Apakah kau bisa
membantu aku mendapatkannya?”
“Maksudmu kekuatan
seperti yang Raja Galaksi punya?”
“Betul sekali. Pada saat
dia sedang melawan tentara kerajaan ini aku melihat kekuatannya yang sangat
hebat, ia mampu mengendalikan kekuatan itu dengan sangat baik”
“Kamu serius ingin
mendapatkan kekuatan itu? Itu sangat berbahaya bila kau tidak bisa
mengendalikannya. Maaf Wavi aku tidak bisa membantumu mendapatkan itu. Namun
aku tahu seorang guru yang tinggal di sebuah gurun, ia memiliki kekuatan itu
dan bisa melatihmu. Tapi tempat itu sangat jauh, bisa berhari-hari untuk sampai
kesana”
“Tidak apa-apa, tolonglah
Jafran antar aku kesana”
“Baiklah, namun sebelum
kita pergi sebaiknya kita meminta izin kepada raja. Jika kita tidak meminta
izin aku tidak mau raja mencari kita”
“Baiklah”
Awalnya
raja tidak mengizinkan Wavi pergi karena perjalanan kesana sangat jauh dan menurut
orang-orang yang pernah datang ke gurun itu, untuk mencapai tempat tersebut
banyak sekali rintangannya. Mulai dari hutan beracun, dan yang paling berbahaya
mereka harus melewati beruang malignant, itu merupakan beruang yang sangat
berbahaya karena ia memakan siapapun yang ketahuan melewati perbatasan, karena
beruang malignant adalah jelmaan manusia yang di rubah menjadi beruang oleh
seorang penyihir, jika dia ingin kembali menjadi manusia maka dia harus memakan
100 manusia, dan ia baru memakan 70 manusia selama hidupnya, namun Wavi terus
membujuk Raja dan berjanji akan kembali dengan selamat. Akhrinya raja
mengijinkan Wavi pergi tapi dengan syarat Jafran mendampngi Wavi.
Akhirnya
Wavi dan Jafran memulai perjalanannya, pada saat ia akan masuk ke dalam hutan
beracun ia melihat peringatan bahwa sampai ke ujung hutan ia harun menahan
nafasnya karena dari udara lah racun itu bisa membunuh. Tapi Wavi tidak kehilangan
idenya, karena ujung hutan tersebut sangat jauh ia tau mereka tidak akan
berhasil akhirnya mereka menggunakan baju yang mereka bawa untuk digunakan
sebagai masker agar tidak terhirup racun yang ada di dalam hutan.
Mereka
berlari sekencang mungkin agar cepat sampai ke ujung hutan, namun ditengah
jalan Jafran kehilangan keseimbangan lalu terjatuh dan masker yang ia kenakan
terlepas. Wavi mulai panik namun Jafran tetap menyuruh Wavi untuk terus berlari
dan menunggunya di ujung hutan. Akhirnya Wavi sampai di ujung hutan, namun ia
tidak menemukan tanda-tanda Jafran keluar dari hutan itu, Wavi mulai khawatir
dan hendak masuk lagi ke dalam hutan namun ternyata Jafran berhasil keluar
walau dengan wajah yang membiru karena terlalu lama menahan napas.
“Jafran!
Apa kamu baik-baik saja? Aku sangat khawatir”
“Tenang
aku baik-baik saja. Namun aku sedikit menghirup racun yang ada di dalam hutan.
Tolong bawakan bunga healer yang berwarna biru di tepi sungai itu”
Lalu
Wavi membawakan bunga tersebut dan Jafran langsung memakan bung itu. Bunga
Healer merupakan bunga penyembuh yang bisa menghilangkan racun apapun. Setelah
beberapa saat mereka beristirahat, Jafran juga keadaannya telah membaik
akhirnya mereka melanjutkan perjalanannya ke tempat berikutnya.
4
hari telah berlalu, akhirnya setelah perjalanan Panjang dan menempuh rintangan
yang ada mereka sampai di perbatasan. Perbatasana itula yang dijaga beruang
malignant, beruntunnya mereka karena beruang itu sedang tertidur dan mereka
bisa mengendap-ngendap melewati beruang itu.
Namun
pada saat mereka telah setengah jalan dan hampir saja sampai ke ujung
perbatasan tiba-tiba beruang merasakan ada seseorang yang masuk ke perbatasan
dan lalu ia terbangun dan mengejar hendak mengejar mereka.
“Jafran
beruang itu bangun! Apa yang harus kita lakukan?”
“Wavi
jangan panik! Kita pasti bisa melewati beruang itu, dengarkan saja aba-aba
dariku dalam hitungan ketiga kita harus lari sekencang mungkin dan yang paling
penting jangan lihat kebelakang karena itu yang akan memperlambat larimu”
Jafran
dan Wavi telah Menyusun stratergi dan hendak lari. Dan beruang itu memang telah
berusaha untuk mendekati mereka, beruang itu lari dengan sangat cepat membuat
Wavi panik seketika.
“Satu,
dua, tiga, lari! Gunakan semua kekuatanmu Wavi. Jangan lihat kebelakang”
Wavi
lari secepat mungkin namun tetap saja ia tidak bisa lari sekencang Jafran.
Akhirnya ia tertinggal jauh di belakang Jafran.
“Apa
yang kamu lakukan Wavi! Mengapa kamu berhenti? Lari cepat! Beruang itu semakin
mendekat!”
“Aku
sudah tidak mampu untuk berlari, kakiku sangat sakit.”
“Wavi
apa kau akan menyerah sampai disini?! Apa kau ingin berakhir dimakan beruang
itu? Apa kau tidak akan menolong ayahmu?”
Setelah
Wavi mendengar kata ayahnya ia menjadi semangat untuk berlari lagi. Ia lari
sekencang mungkin sampai bisa menyusul kecepatan lari Jafran. Akhrinya Wavi dan
Jafran sampai di ujung perbatasan, namun beruang itu masih tetap berlari dan
semakin dekat dengan mereka.
Wavi
dan Jafran akhirnya bersembunyi di semak-semak untuk menghindari beruang itu.
“Apa
kau percaya Jafran bahwa aku berlari bisa melebihi kecepatanmu? Aku sangat
bahagia, karena apabila kita sedang latihan di kerajaan lari ku sangat lambat
tapi disini aku aneh mengapa lariku bisa sekencang itu” Ucap Wavi sambil
tertawa.
“Iya akupun tidak menyangka mengapa larimu
sangat kencang tadi. Semoga seterusnya larimu bisa sekencang itu ya” Ucap
Jafran sambil tersenyum
Setelah
menunggu beberapa saat akhirnya beruang itu telah pergi. Dan mereka melanjutkan
perjalananya untuk bisa sampai ke tempat guru itu berada.
Dari
petunjuk yang Jafran tahu tentang gurun itu ternyata salah, mereka sama sekali
tidak menemukan gurun yang ada hanya kota kecil dengan penduduk kurang dari 100
orang.
“Jafran
apa kau benar-benar tahu tentang gurun itu? Mengapa kita malah menemukan kota
kecil seperti ini?”
“Iya
aku tahu persis bahwa gurun itu ada disini. Ayolah lebih baik kita tanya kepada
orang des aini, aku yakin mereka tahu.”
Akhirnya
mereka menanyakan tempat dimana gurun itu dan tentang guru yang ingin mereka
temui. Namun setelah hamper 1 jam ia bertanya kepada orang-orang mereka tidak
pernah dengar gurun tersebut ataupun pernah melihat guru yang mereka cari.
Tapi
mereka tidak menyerah dan terus bertanya, hampir ke semua orang yang ada
disitu. Pada saat mereka sedang beristirahat karena sangat kelelahan, Wavi
penasaran dengan kakek memakai jubah hitam dan ia hanya bisa melihat mata kakek
itu karena wajah nya tertutp jubah. Kakek itu tinggal di sebuah gubuk, ia
sedari tadi terus memperhatikan mereka. Akhirnya Wavi memberanikan diri untuk
menghampiri kakek itu dan menanyakan siapa tahu dia tahu tentang gurun dan guru
itu.
“Permisi
saya ingin bertanya, apakah kau tahu tentang guru yang mempunya kekuatan Tremendous power ? apa kau pernah mendengar tentang kekuatan
itu?”
“Tidak.”
Jawab kakek itu sambil meninggalkan Wavi.
Namun
Wavi tetap yakin bahwa kakek itu mengetahui sesuatu tentang kekuatan itu.
“Kumohon
bantu aku untuk menemukan guru itu. Aku sudah berjuang untuk sampai kesini
selama 5 hari, aku sangat ingin mempunyai kekuatan itu”
“Mengapa
kau ingin mempunyai kekuatan itu? Itu sangat berbahaya jika kau tidak bisa
mengendalikannya”
“Aku
tahu itu sangat berbahaya, tapi aku ingin mengalahkan para tentara Galaksi yang
telah menculik ayahku. Aku ingin menolong ayahku, kumohon bantulah aku”
Kakek
itu tidak berkata apapun dan tiba-tiba ia
membuka jubahnya, dan betapa kagetnya Wavi saat melihat bahwa wajah kakek itu
menjadi muda. Jafran yang sedari tadi memperhatikan Wavi yang terus mengejar
kakek itu ikut terkejut, bukan karena wajahnya yang menjadi muda tapi itu
memang guru yang mereka cari. Jafran berlari menghampiri mereka.
“Wavi!
Kita berhasil! Kita berhasil!”
“Apa
maksudmu berhasil? Kita bahkan belum menemukan guru itu, kenapa wajahmu sangat
bahagia?”
“Dihadapanmu
merupakan Jan Antilles. Ini guru yang kau cari Wavi!”
Wavi
sangat terkejut, ia tidak menyangka bisa bertemu dengannya.
“Senang
bertemu dengan anda tuan, perkenalkan namaku Wavi dan ini Jafran. Tujuan aku
datang kesini ingin belajar bersamamu, angkatlah aku menjadi muridmu.”
“Tidak!
Pergilah aku tidak mau mengajari siapapun.” Ucap Jan sambil meninggalkan tempat
itu.
“Kumohon,
aku akan melakukan apapun yang kau minta. Kau tahu kan tujuanku ingin belajar
kekuatan itu karena ingin menolong ayahku, tolonglah kumohon.” Ucap Wavi sambil
menggenggam tangan Jan.
“Kau
tahu kekuatan ini bukan main-main ini butuh keseriusan dan tanggung jawab
penuh. Ini sangat berbahaya dan aku tidak akan mengajari orang kekuatan ini
sembarangan.”
“Aku
janji akan melakukannya dengan serius. Kumohon tolonglah aku, aku sangat ingin
menolong ayahku.”
Setelah
berfikir sejenak akhirnya Jan akan mengajari Wavi dengan syarat ia harus serius
saat latihan dan bertanggung jawab atas kekuatannya itu.
“Baiklah,
kau bisa mulai latihan besok. Aku tunggu disini saat matahari terbit. Jangan
telat!”
“Siap
laksanakan tuan!”
Wavi
sangat bahagia, ia sampai tidak bisa tidur karena sangat bersemangat untuk
memulai latihan besok.
Keesokan
harinya ia memulai latihan, bahkan ia datang sebelum matahari terbit karena
sangat bersemangat. Jafran tidak ikut dengannya karena memang ia tidak ingin
ikut mempelajari kekuatan tersebut.
“Selamat
pagi tuan! Aku siap memulai latihan ini”
“Ikut
aku!”
Jan
mengajak Wavi untuk pergi ke sebuah gua. Wavi heran mengapa ia diajak kesini.
“Ini
merupakan latihan pertamamu, aku tidak akan menyuruhmu melakukan hal yang
berat. Kau cukup duduk berdiam diri disini dan fokuskan fikiranmu.”
“Baiklah,
tapi apa yang harus aku fikirkan?”
“Fikirkan
apa yang ingin kau capai, apa yang ingin kau lakukan. Bila kau bisa tetap fokus
apapun yang mengganggumu tidak akan memudarkan apa yang kau fikirkan.”
Wavi
melakukan apa yang Jan suruh dan mulai memfokuskan fikirannya. Jan tidak akan
membiarkan Wavi fokus dengan mudah, ia membuat goa itu bergetar dan seketika
membuat Wavi ketakutan.
“Ini
gempa, ayo guru kita keluar dari sini! Ini berbahaya.”
“Aku
kira kau sudah fokus ternyata belum. Ini adalah bagian dari latihan! Kau harus
memfokuskan fikiranmu apapun yang terjadi!”
“Apa
kau gila! Jika aku mati karena gempa sungguhan bagaimana?”
“Kau
tidak akan mati karena bila kau sudah fokus akan tahu sinyal bahaya yang
datang. Bukan hanya gempa namun orang yang akan berbuat jahat kepadamu kau akan
merasakannya.”
Lalu
Wavi mencoba untuk memfokuskan fikiranya lagi namun gagal. Ia masih terganggu
dengan hal-hal yang dibuat Jan. Karena hari sudah semakin gelap akhirnya mereka
memtuskan untuk berhenti dan melakukannya lagi besok.
“Besok
kita lanjutkan lagi, kau harus banyak istirahat pasti fikiranmu kelelahan. Kita
bertemu lagi disini sebelum matahari terbit.”
“Baiklah
tuan.”
Wavi
benar-benar sangat lelah, Jafran sampai aneh mengapa Wavi terlihat begitu lusu
setelah pulang berlatih.
“Kau
terlihat sangat kelelahan. Memangnya apa yang kau lakukan bersamanya?”
“Aku
hanya diam dan memfokuskan fikiranku.”
“Mengapa
sampai selelah ini? Hanya begitu? Akupun bisa melakukan.”
“Ini
berbeda dengan yang kamu fikirkan Jafran! Dia terus menggangguku dengan hal-hal
menakutkan, bagaimana aku bisa fokus dengan cara seperti itu. Aku lelah karena
terus memfokuskan fikiranku, lebih baik aku cape fisik dari pada pikiran.”
“Itulah
bagian dari latihan, itulah resikonya.”
“Ya
aku tahu. Sudahlah aku ingin tidur saja, besok otak ku harus dipakai lagi.”
Keesokan
harinya masih dengan latihan yang sama yaitu memfokuskan fikiran. Lagi-lagi
Wavi masih belum bisa melakukannya.
1 bulan telah berlalu dan Wavi masih
tetap tidak bisa melakukannya, ganguan
dari Jan sangat membuat fikiran Wavi terganggu.
“Mengapa
latihan ini sangat berat! Aku bisa-bisa mati hanya karena latihan ini, otak ku sakit
karena terus berusaha fokus.”
“Kau
ingin menyerah?! Dasar lemah!”
Mendengar
Jan mengatakan itu membuat Wavi sangat marah, itu mengingatkan Wavi tentang apa
yang ayahnya bilang kepadanya. Wavi terdiam sambil menahan kemarahannya dan
berusaha fokus agar bisa lulus dari latihan yang satu ini.
“Aku
tidak akan menyerah! Dan aku bukan orang
lemah!”
Wavi
terus berusaha fokus dan akhirnya gangguan-gangguan yang dilakukan Jan tidak
membuat Wavi terganggu lagi.
“Wavi
sudah cukup. Kau berhasil! Sekarang kau sudah bisa memfokuskan pikiranmu dan
kau bisa lanjut ke latihan yang selanjutnya.”
Wavi
membuka matanya dan ia terkejut bahwa ia berhasil melakukannya. Ia sangat
bahagia, ternyata benar hinaan dari orang lain bisa membuatnya menjadi lebih
semangat untuk melakukan yang ia inginkan.
“Akhirnya
aku bisa melakukannya. Aku sangat bahagia, terima kasih guru!”
“Besok
sebelum matahari terbit, kita bertemu di tempat pertama kal kita bertemu. Kita
akan mulai latihan yang sesungguhnya”
“Baiklah
tuan! Sampai ketemu besok.”
Wavi
benar-benar tenang sekarang karena telah bisa menyelesaikan latihan pertama
yang di berikan Jan. Namun ia juga harus mempersiapkan diri untuk latihan
selanjutnya.
Keesokan
paginya Wavi mulai melakukan latihan bersama Jan.
“Baiklah
ini adalah latihan yang selanjutnya, kau harus bisa bela diri namun dengan
pikiran bukan hanya dengan kekuatan fisik. Kau harus mampu mengetahui serangan
lawan dengan instingmu.”
“Baiklah
aku siap.”
Wavi
mulai berlatih dengan sungguh-sungguh, ia melawan Jan dengan bela diri yang dia
pelajari pada waktu pelatihan tentara. Tapi tetap saja ia tidak bisa melawan
Jan dengan cara itu.
“Kau
tidak bisa melawanku dengan cara seperti itu Wavi! Gunakan otakmu dan instingmu
untuk menyerangku.”
“Aku
sudah berusaha tapi kau tetap bisa menghindar.”
“Aku
bisa menghindar dari seranganmu karena instingku. Aku menyerangku dengan
insting bukan dengan kekuatan ku.”
Wavi
terus berusaha fokus dan menggunakan instingnya, tapi tetap saja tidak bisa.
“Hari
sudah mulai sore, kita lanjutkan besok. Terus asah kemampuan instingmu Wavi,
ingat jangan terlalu mengandalkan kekuatan fisikmu!”
“Baiklah
guru, aku akan berjuang sekuat tenanga.”
Lagi-lagi
Jafran heran melihat Wavi yang kelihatannya benar-benar lelah.
“Mengapa
kau kelihatan lelah? Padahal kemarin kau kelihatan bahagia karena telah bisa
memfokuskan pikiranmu, sekarang apalagi masalahmu?”
“Sekarang
aku benar-benar lelah fisik dan mental. Jangan banyak tanya Jafran aku ingin
tidur, aku sangat lelah.”
Keesokan
harinya Wavi memulai latihannya lagi tapi kali ini Jafran ikut, karena Jafran
penasaran bagaimana latihan yang di jalani Wavi.
“Kita
akan mulai latihannya. Ingat kau harus menggunakan instingmu! Jangan hanya
mengandalkan kekuatan fisik.”
“Baiklah
aku akan berusaha!”
Setelah
beberapa saat latihan tetap saja ia masih belum bisa mengontrol instingnya,
Wavi masih tetap hanya mengandalkan kekuatan fisiknya.
“Ayo
kau pasti bisa Wavi! Ingat tujuanmu untuk menolong ayahmu.” Teriak Jafran
menyemangati Wavi.
Mendengar
ayahnya disebut membuat semangat Wavi bertambah lagi, ia sangat merindukan
ayahnya. Latihan yang dilakukan Wavi dan Jan hari ini sudah lebih baik dari
sebelumnya, Wavi sedikit-sedikit telah bisa memakai instingnya untuk menyerang
lawan.
“Kemajuanmu
sangat bagus Wavi, kau telah mulai bisa menggunakan instingmu pada saat
menyerangku.”
“Terima
kasih Jan, aku sangat bahagia bisa melakukan itu.”
“Jangan
senang dulu! Itu masih belum ada apa-apanya, kau masih belum sepenuhnya bisa.
Kita lanjutkan besok sekarang kau harus mengstirahatkan pikiranmu agar bisa
lebih fokus.”
“Baiklah
aku pasti akan melakukan yang terbaik!” Ucap Wavi dengan penuh semnagat.
“Tadi
kau hebat Wavi! Aku baru tahu mengapa tiap kau pulang wajahmu selalu terlihat
cape karena latihanmu sangat berat ya.”
“Aku
juga ingin berterima kasih kepadamu, berkatmu aku lebih semangat latihan.”
“Itu
bukan apa-apa, kau harus tetap semangat Wavi! Jangan pernah menyerah!”
2
bulan telah berlalu Wavi telah bisa mengendalikan instingnya, ia bahkan telah
bisa mengalahkan Jan pada saat latihan. Hari ini merupakan latihan terakhir untuk
latihan bela diri sebelum melanjukan ke latihan selanjutnya yang tentu saja
lebih berat dari latihan yang kemarin. Wavi harus menang melawan Jan, awalnya
Wavi takut tidak bisa mengalhkan Jan, namu Jafran terus memberi semangat Wavi
agar dia percaya diri untuk menang dari Jan.
“Kau
harus yakin pada dirimu sendiri Wavi! Bila kau telah yakin pada dirimu sendiri pasti kau akan menang.”
“Baiklah
aku akan yakin pada diri ku sendiri, bahwa aku pasti akan menang dan bisa
melanjutkan ke latihan selanjutnya.”
Akhirnya
waktu dimana Wavi dan Jan akan bertarung telah
tiba. Wavi sangat tegang untuk menghadapi Jan namun ia terus meyakinkan
dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa.
Pertarunganpun
dimulai, Jafran yang melihat pertarungan itu ikut tegang ia takut Wavi
kehilangan konsentrasinya, namun ternyata Wavi benar-benar fokus berkali-kali
ia menyerang Jan dan tidak pernah meleset. Lalu Jan mengubah strateginya, yang
membuat Wavi awalnya kewalahan dan sempat jatuh berkali-kali. Tapi karena
pikiran Wavi fokus ia akhirnya mampu untuk melawan balik Jan, dan akhirnya Wavi
memenangkan permainan itu.
“Wavi
kau menang! Kau mampu mengalahkan Jan, kau hebat Wavi.” Ucap Jafran sambil
berlari menghampiri Wavi dan memeluknya.
Wavi
hanya terdiam karena kelelahan dan masih tidak menyangka ia bisa menang melawan
Jan.
“Selamat
Wavi kau menang,kita bisa melanjutkan latihan terakhir dan disini kau mulai
mempelajari kekuatan Tremendous power yang sesungguhnya.”
“Baiklah
aku akan berusaha semaksimal mungkin!”
“Kita
bertemu tengah malam ini, kita akan berlatih di tempat yang berbeda. Kau harus
membawa semua perlengkapanmu karena akan pergi jauh.”
Akhirnya
pada tengah malam Wavi,Jafran dan Jan memulai perjalanannya. Tempat itu cukup
jauh sekitar 4 jam untuk sampai kesana.
“Tempat
apa ini guru? Mengapa sangat gelap sekali?”
“Ini
merupakan tempat latihan mu yang sesungguhnya. Ditempat inilah aku pertama kali
diajarkan oleh guruku, latihan-latihanmu yang sebelumnya akan digunakan lagi
disini. Kau harus mampu berkonsentrasi, bela diri dengan menggunakan instingmu
dan seluruh kekuatan dari dalam dirimu
harus kau gunakan disini.”
“Kekuatan
dari dalam diri seperti apa guru?”
“Kau
harus mampu mengontrol emosi mu, karena untuk mendapatkan kekuatan itu kau akan
mengalami emosi yang tidak stabil.”
“Baiklah
aku akan melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh.”
Wavi
memulai latihannya dengan mengulang latihan-latihan yang ia pelajari sebelumnya.
Dimulai dari memfokuskan konsentrasinya, namun ternyata ia kesulitan lagi dalam
berkonsentrasi.
“Mengapa
aku jadi susah berkonsentrasi? Padahal aku sudah bisa dalam hal itu
sebelumnya.” Ucap wavi kesal.
“Itulah
ujian yang sesungguhnya, itu tanda bahwa kau tidak melatih lagi konsentrasi mu
dan malah terlalu fokus pada latihan yang kedua. Bila kau ingin mendapatkan
kekuatan itu kau harus fokus pada ketiga latihan ini, kekuatan ini bukan
main-main Wavi! Kau tidak boleh main-main.” Ucap Juan dengan tegas.
Wavi
terus melakukan latihan itu dengan seluruh kemampuan yang dia punya. Namun di
hari pertama ia latihan masih kesulitan. Karena Wavi kelihatan sangat
lelah,akhirnya Jan menyudahi latihan dan melanjutkan keesokannya.
“Hari
ini kau harus lebih fokus dalam berlatih! Jangan sampai kehilangan konsentrasi
lagi!” Ucap Jan tegas.
“Baiklah,
aku akan berusaha semaksimal mungkin!”
Latihan
kali ini Wavi telah bisa berkonsentrasi dengan baik. Ia mulai bisa memfokuskan
pikirannya dengan baik, namun ia malah melupakan teknik bela dirinya karea
terlalu fokus ke latihan pertama itu. Tapi dia tidak menyerah, ia terus
berlatih setiap hari dan Jafran selalu berada disisnya untuk menyemangati Wavi.
Karena
usaha tidak akan menghianati hasil akhirnya Wavi berhasil menguasai kedua
latihan yang ia pelajari secara bersamaan. Dan tiba saatnya Jan mengajari Wavi
kekuatan Tremendous power, Wavi dan Jan pergi ke sebuah gunung karena disanalah
ia bisa mendapatkan kekuatan itu.
“Wavi
ini merupakan hal yang terberat, kau akan mendapatkan kekuatan itu bila kau
bisa menyerap energi dari atas gunung ini. Bila kau berhasil menyerap energi
dari gunung ini tubuhmu akan merasa kesakitan dan kau harus melawan rasa sakit
itu, jika kau tidak bisa menahan itu nyawamu akan terancam. Aku juga tidak akan
bisa menolongmu, maka dari itu kau harus fokus!” Ucap Jan memperingati Wavi.
“Baiklah
aku siap.”
Wavi
memfokuskan pikirannya, berusaha menyerap energi yang ada. Ternyata ia mampu
menyerap energi itu, Wavi berusaha menahan rasa sakit itu dan terus memfokuskan
pikirannya hingga akhrinya tiba-tiba ia tidak sadarkan diri.
“Wavi
bangunlah! Apa kau baik-baik saja?”Ucap Jan panik melihat wajah Wavi yang
sangat pucat.
Tidak
lama kemudian Wavi sadar dan merasa ada yang aneh didalam tubuhnya.
“Apa
aku berhasil guru? Apa aku telah mempunyai kekuatan itu?”
“Aku
tidak tahu, cobalah memindahkan batu itu ke tempat lain.”
Dan
ternyata ia bisa memindahkan batu itu. Akhirnya Wavi mendapatkan kekuatan
Tremendous power itu.
“Aku
berhasil guru! Aku merasa seperti mimpi.” Ucap Wavi sangat senang.
“Tapi
ingat Wavi kekuatan ini harus mampu kau kendalikan dengan baik! Jangan kau
gunakan untuk hal-hal yang tidak baik, karena itu bisa berdampak pada dirimu
sendiri.”
“Baiklah
aku berjanji akan menggunakan kekuatan ini dengan sangat baik.”
Setelah kurang lebih 6 bulan ia berlatih akhirnya ia
memutuskan untuk kembali ke Kerajaan Adobras, dan ia mengajak guru Jan
bersamanya.
“Guru ayolah ikut bersama kami ke kerajaan Adobras.
Raja pasti sangat ingin bertemu denganmu.”
“Tidak aku tidak mau tempatku disini Wavi! Aku tidak
akan meninggalkan tempat ini sampai kapanpun.”
“Kumohon guru, aku sangat ingin mengajakmu ke Kerajaan
Adobras dan mengajakmu makan malam bersama Raja sebagai tanda terima kasihku.
Hanya satu hari saja, Kumohon.”
Ucap Wavi memohon kepada Jan agar ia mau ikut
bersamanya pulang.
“Baiklah aku ikut tapi hanya satu hari saja!”
“Terima kasih guru karena telah mau ikut bersama kami.
Tapi jalan pulangnya sangat jauh, apakah guru tau jalan pintas untuk bisa sampai
cepat ke kerajaan?”
“Aku tau, ayo ikutlah denganku.”
Ternyata tidak sampai 4 jam mereka telah sampai di
perbatasan untuk menuju Kerajaan Adobras. Namun ada yang aneh saat mereka sampai
di gerbang menuju ke Kerajaan.
“Ada apa ini mengapa kota ini sangat kacau. Apa yang
sebenarnya terjadi.” Ucap Jafran kebingungan.
Mereka sangat terkejut melihat keadaan kota yang
sangat kacau. Yang Jafran pikirkan adalah Raja, apakah ia selamat, apa masih
ada tentara yang tersisa. Mereka langsung berlari menuju kerajaan. Betapa
terkejutnya mereka melihat didalam kerajaan juga sangat kacau, yang tersisa
hanya beberapa tentara.
“Ada apa ini? Mengapa semua ini bisa terjadi? Dimana
raja?” Ucap Jafran bertanya kepada salah satu tentara.
“Kerajaan di jajah lagi oleh Kerajaan Galaksi. Raja
selamat, dan dia ada di dalam.”
Jafran berlari menghampiri raja, dan melihat dia
sedang duduk melamun diatas singgasana.
“Raja apa kau baik-baik saja? Mengapa semua ini bisa
terjadi? Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu.”Ucap Jafran sangat sedih.
“Kemarin Kerajaan Galaksi kembali lagi kesini, ia
menyerang kota dan kerajaan dengan jumlah tentara yang sangat banyak. Mereka
bilang dalam waktu 2 minggu akan kembali lagi kesini, mereka mengiginkan perang
Jafran!”
“Apa?! Tapi bagaimana kita bisa menghadapi mereka
dengan jumlah tentara yang tersisa hanya sedikit. Apa Ratu baik-baik saja?
Bagaimana dengan pangeran?”
“Ratu sedang sakit karena memikirkan hal ini, ia ada
dikamar. Sedangkan pangeran, ia dibawa ke kerajaan galaksi aku tidak tahu harus
melakukan apalagi. Aku merasa gagal menjadi seorang raja.” Ia terlihat sangat
sedih.
“Tenanglah raja aku pasti akan membawa pangeran
kembali kesini dengan selamat. Aku janji.” Ucap wavi
“Benarkah? Apa kau sudah mendapatkan kekuatan itu?”
“Sudah raja, ini Jan ia yang mengajarkanku kekuatan
itu.”
“Senang bertemu dengan anda tuan.”
“Aku juga senang bertemu denganmu, kalian pasti cape
mari ita makan dulu lalu kita atur strategi melawan Kerajaan Galaksi.”Ucap Raja.
Mereka makan malam bersama dan mereka mengatur
strategi untuk bisa melawan Kerajaan Galaksi.
6. Bertemu Edward
Wavi berusaha mencari
bantuan untuk melawan kerajaan Galaksi. Akhirnya ia bertemu dengan Edward,ia merupakan
raja muda dari Kerajaan Valensia.
7. Si Cantik Cleo
Setelah pertemuan singkat
dengan Cleo, Wavi kini tau bahwa Cleo merupakan anak dari Raja Archeron.
8. Pertarungan dengannya
Wavi tidak menyangka ternyata ayahnya telah bergabung dengan tantara Galaksi untuk melawannya.
9. Penaklukan
Wavi sangat marah kepada
Raja Archeron, akhirnya mereka bertarung satu lawan satu.
10. Akhir Kerajaan Galaksi
No comments:
Post a Comment