Part 0 : Who Am I?
Namanya
Koraya, seorang murid SMA terpadu di Tokyo. Dia tinggal seorang diri, Kedua
orang tuanya bekerja di luar kota dan hanya kembali beberapa bulan sekali.
Rambutnya yang hitam sedikit gondrong menutupi sebagian matanya yang hitam pekat.
Posturnya bias dibilang ideal di kalangannya, tidak terlalu pendek, dan tidak tinggi
juga. Ia sering berpergian ke sekolahnya dengan sepeda, dan biasa kembali
dengan kedua sahabat dekatnya. Namun di samping hal biasa tadi, Koraya
mempunyai passion bear terhadap pembuatan karakter imajinatif yang suka disebut
OC (Original Character), Dia berharap bisa mencurahkan semua hasil karyanya ke
sebuah media, seperti novel maupun komik. Namun hal yang terjadi melampaui itu.
Koraya dipertemukan dengan salah satu karakter buatannya di dunia nyata.
Mengapa bisa? Dan petualangan apa yang menanti Mereka bersama?
Team recruit saga
Part 1 : Prologue
Koraya
membukakan kedua matanya, Dirinya sadar sedang berdiri diam di dalam ruang yang
terbilang hampa dengan sangat kebingungan, penuh kegelapan dan kabut. Melihat
ke sekelilingnya mencari tahu dimana keberadaanya.
"Dimana Aku!?"
Ia bertanya pada Dirinya sendiri seakan akan mempunyai pasangan untuk
berbicara.
"Mungkin Aku harus
keliling." Koraya membulatkan tekad untuk mencari tahu keberadaannya
dengan berkeliling.
Berkeliling untuk
sementara waktu mempelajari tempatnya untuk mencari jalan keluar, saat berjalan
jalan untuk waktu lama Koraya terhenti, sadar bahwa jalan keluar adalah hal
yang mustahil digapai.
"Dimana sih
Aku sebenarnya." Koraya mengeluh, berhenti sesaat melihat seseorang
berdiri diam dengan samar samar dari kejauhan seperti bayangan hitam yang
tinggal di dalam kegelapan.
"A-ada orang!
Mungkin Dia tahu tempat ini.." Ia segera mendekati orang tersebut. Langkah
demi langkah, mendekat.
"Hei siapa Kamu?
Bisakah Kamu memberi tahu tempat ini sebenarnya dimana?" Koraya
mendekatkan diri dengan orang itu, tetapi semakin dekat tempat itu semakin
semakin tertutupi oleh kabut hitam, membuat Koraya tak bisa melihat apapun
dengan jelas.
"Aku tidak
bisa melihat apapun.." Ujarnya dalam hati, ragu.
Tetap berjalan ke
arahnya, "H-halo... Bisakah Kamu membantuku?" Ucap Koraya sambil
menghalangi mata dengan sebelah tangannya.
Seberapa banyak
pun Koraya memanggilnya,
tetapi orang tersebut tak pernah menyaut kembali.
Saat kabut mulai
memudar akhirnya Koraya
bisa melihat orang tersebut dengan jelas.
"Bisakah Kamu
mem—" Koraya terdiam, tidak bisa bergerak sedikit pun walaupun hanya
sekecil jari tak bisa gerakan.
"A-apa?!"
Terkejut karena tidak bisa bergerak, seakan akan gravitasi menekan tubuhnya
seperti bumi dengan isinya.
Seorang sosok yang
berdiri tepat dihadapannya menatap Koraya dengan dingin. Kabut mulai
mengelilingi orang itu seakan akan Ialah adalah sumber kabut itu sendiri. Sosok
misterius itu berkata "Cari Aku..” dengan
nada yang sangat rendah membuat suasana yang sudah buruk menjadi lebih buruk
lagi.
"HAAA?!"
Koraya terbangun dari mimpi buruk di kamarnya yang berantakan, di atas
ranjangnya. Angin berhembus dari jendelanya yang lupa ditutup semalaman di hadapan
ranjangnya, Terik matahari memasuki kamarnya mengenai wajah Koraya seakan akan
membangunkannya.
"Cuman mimpi
ya..?" Ucap Koraya, lega.
"Mimpi apaan
sihh..?! Kok kayak
gitu.." Koraya menggaruk kepalanya dengan kedua tangan, keras keras saking
kebingungannya.
Berdiri lalu
menengokan kepalanya ke arah jam dinding yang berada tepat di atas televisi nan Ia pakai
khusus untuk bermain game. Jam tersebut menunjukan pukul 06:45 sedangkan jam
masuk sekolah Koraya tepat pada pukul 07:00.
"APA..?!"
Berlari keluar kamarnya dengan kepanikan. " Aku harus segera pergi ke
sekolah!".
Karena saking
paniknya Dia kembali ke kamarnya untuk mengambil handuk yang tertinggal. Lalu berlari kembali ke
kamar mandi. Mandi dan menggosok gigi dengan terburu buru, keluarnya dari kamar
mandi Dia segera memakai seragam, jam tangan, dasi dan perlengkapan sekolah
lainnya. Koraya segera pergi ke dapur untuk memakan sarapan.
"K-kalau Aku sarapan
di rumah Aku akan terlambat, apa sempat? Tidak tidak.... Hmmm, Aku bekal saja
dah! " Koraya berbicara dengan sendiri dalam lubuk hati.
Dirinya menyiapkan
sarapan untuk dimakan di sekolah, membawa beberapa roti dan sebuah apel yang
berada di atas meja makan lalu mengemasnya dalam sebuah wadah makanan, Ia menyimpannya
dalam tas yang berada di
ruang tamu dekat pintu depan rumah. Menggendong
tasnya, segera keluar rumah dan
mengunci ngunci pintu rumah. Setelah itu semua telah dilaksanakan, Dia segera mengendarai
sepedanya yang tersenderkan di depan rumah.
Mengayuh sepeda
secepat mungkin karena tak ingin telat datang dan dimarahi guru.
Setelah beberapa
waktu akhirnya Koraya mulai mendekati sekolahnya. Terlihat dari beberapa rumah
dan gedung sekolah yang tinggi
"Sepertinya
Aku tepat waktu."
Ucap Koraya dalam hati,
sambil terus mangayuh dengan lelah.
Saat sampai di sekolah, Ia langsung
menyimpan sepedanya di tempat penyimpanan sepeda, memasang rantai sambil
memegang megang perutnya karena lapar. Melihat jam tangannya, jam itu
menunjukan jam 06:55, 5 menit sebelum kelas dimulai.
"Ahhh..
Untunglah.." Dia menghempaskan nafasnya dengan penuh lega.
Segera berlari ke
kelasnya karena kelasnya terletak sedikit jauh dari gerbang masuk. Sesampai di
kelas beberapa menit kemudian,
lalu membuka pintu kelasnya. Sangat
kelelahan,
bersender sebentar menuju sebuah
tembok.
Suasana kelas
Koraya yang ramai sudah dipenuhi murid murid. Jarang ada murid yang telat
datang di kelasnya karena kelas itu
terkenal dengan anak anak yang rajin. Kelasnya terpasang jendela panjang di
kedua sisi yang bersebrangan. Tempat duduknya terletak pada tengah tengah dekat
jendela. Ia memilih tempat itu supaya bisa memerhatikan guru sekaligus
menggambar tanpa sepengetahuan gurunya.
Dia segera pergi
ke tempat
duduknya, menyimpan tasnya di atas meja, duduk, lalu mengeluarkan sarapannya.
Menyimpan tasnya di pinggir meja supaya tak menghalangi kemudian membuka tempat
makannya. Koraya mulai memakan rotinya dengan lahap berharap waktunya cukup
untuk makan dan tahu tahu seseorang menepak punggungnya beberapa kali dengan
kencang, dari belakang.
"Oi oi belum
makan..? " Orang tersebut tersenyum lebar.
"Uhuk..
uhuk" Koraya tersedak oleh rotinya sendiri karena tertepak. "NGAPAIN
NEPAK GW SIH..?" Marah karena tidak bisa mendapat ketenangan pada saat
makan, Ia pun melihat ke belakangnya.
"Ternyata Kamu
Shoko... Kirain siapa. Makanya jangan ngagetin dah..!" Terlihat sahabatnya
Koraya, Shoko.
Seorang anak
basket. Dia lebih tinggi dari pada Koraya dan memiliki berat badan yang tidak
jauh dengan Koraya, mempunyai
rambut galing yang berwarna kecoklat coklatan. Sama seperti Koraya Ia pun suka
membuat karakter karakter imaginasi yang disebut OC.
"Ya ya maaf
deh, Gw ga bakalan ngagetin lagi.." Ucap Shoko sambil menempelkan kedua
tangannya meminta maaf.
Koraya melanjutkan
sarapannya sambil mengabaikan Shoko.
Shoko menepak
pundak Koraya pelahan, "Ya lanjutkan saja sarapanmu Aku tidak akan
mengganggu kok..!" Shoko menggaruk kepalanya.
Ia berjalan
kembali ke tempat duduknya lalu mengobrol dengan teman temannya yang duduk di
sekitarnya. Koraya tetap memakan rotinya sampai habis, menyimpan apelnya untuk
nanti, menutup tempat makan lalu memasukannya ke kolong meja.
Tak lama kemudian
jam kelas pun datang, dan guru matematika pun memasuki kelas. Ibu Emilia. Dia
adalah guru yang paling disukai oleh anak anak walaupun begitu Koraya tidak
menyukainya, Ibu Emilia tidak menyadari bakat Koraya dan suka memarahinya
ketika menggambar, Bu Emilia sedikit gemuk dan memakai kaca mata.
Murid murid
menyapanya, Bu Emilia mulai menerangkan,
namun seperti
biasanya Koraya
mengeluarkan buku sketsanya dan menggambar gambar sketsa saat guru menerangkan.
Setelah beberapa
menit menerangkan Bu Emilia menyadari bahwa Koraya tidak memperhatikannya.
Karena Koraya sudah beberapa kali tak pernah mendengarkan Bu Emila jadi kali
ini Ia dimarahi lebih parah dari biasanya.
"Koraya!"
Ibu emilia memanggilnya selagi
memukul tangannya ke meja.
"Y-ya
bu.?" Koraya melepaskan pensilnya
terkejut dan menjawab dengan gugup.
"Coba apa yang ibu
terangkan?" Tanya Ibu
Emilia, menunjuk ke arah Koraya.
"Matematika?" Koraya menjawab asal
asalan, menggaruk kepalanya. Semua murid kelas menertawakannya.
"Jangan
bercanda! Apa yang Ibu tadi jelaskan?!" Tanya Bu Emilia sekali lagi kepada
Koraya dengan tegas.
"Eh... Maaf bu Saya tidak tahu.."
Menunduk dengan malu.
"KELUAR!"
Teriak Bu Emilia menunjuk pintu
keluar.
"I-iya
bu" Koraya berjalan ke arah pintu depan kelas.
Membuka pintunya
lalu keluar selagi para murid yang lainnya memperhatikan, terdiam takut berbicara samanya
dengan Shoko yang sudah menduga apa yang akan terjadi.
Tetapi saat Ia menutup
kembali pintu dari luar, seseorang tiba di belakangnya. Saat membalikan badan,
orang tersebut membuat Koraya tertidur entah bagaimana caranya.
Koraya dibawa
pergi oleh orang misterius tersebut dengan cara digendong pada punggungnya.
Saat itu saat jam pelajaran jadi lorong lorong sangat sepi sehingga kejadian
tersebut tak diketahui oleh siapa pun.
Koraya dibawa ke ruangan kosong dekat kelasnya. Ruangan itu jarang dipakai,
dulunya ruangan itu adalah suatu kelas, tetapi karena terbangunnya kelas yang
lebih bagus pada lantai 2, kelas itu tidak terpakai
dan didiamkan sampai saat ini.
Saat sampai Koraya
di tempatkan dekat jendela, terbaring di lantai dan disenderkan ke tembok.
Setelah beberapa
menit kemudian Dirinya terbangun, bertanya tanya keadaannya " D-dimana Aku..?
kenapa Aku di sini..?"
Tanyanya sambil melihat ke sekelilingnya
terkejut.
"Aku butuh
bantuanmu, koraya" Orang misterius itu berbicara dari bagian ujung ruangan, tertutupi oleh bayangan.
"S-siapa Kamu?"
Dengan tegang, menatap ke arahnya.
Sosok misterius
itu mendekatinya, menunjukan wajah yang awalnya tak terlihat. Ia memiliki
telinga kambing yang panjang, Mata berwarna biru, rambut yang tak jauh berbeda
dengan Koraya namun tubuh yang lebih pendek darinya. Ia memakai jaket biru,
kaos putih, celana jeans dan syal merah yang dipakai di sekitar lehernya.
"Namaku
Ash... Salah satu OC milikmu" Ash tersenyum, dilanjut oleh tawa.
"A-ash..? Kok
Kamu tau tentang Ash, terus kenapa Kamu berdandan sepertinya..?" Koraya tidak percaya atas
perkataan tersebut,
disangkanya Ia
hanyalah orang yang berdandan seperti salah satu dari karakter buatannya, Ash.
"Kamu ga
percaya?! Hahaha!" Tertawa dengan puas. "Ini benar benar Ash lho...
Aku butuh bantuanmu." Ujarnya sekali lagi.
"T-tidak
mungkin.. tidak mungkin OCku
benar benar nyata!" koraya benar benar bingung dengan kejadian ini,
melihat salah satu OCnya di hadapan
kedua matanya sendiri.
"Apa yang
harus kulakukan supaya Kamu
percaya huh?" Ash memberikan senyuan, membuka kedua tangannya lalu
mengulurkannya ke arah Koraya.
"Aku tidak
tahu..".
Ash mengeluarkan
sebuah percikan api dari kedua telapak tangannya, perlahan lahan menjadi sebuah
api kecil "Ya begini, Ash OCmu
itu memiliki kekuatan api kan?
Apakah ada orang di dimensi ini yang memiliki kekuatan seperti ini?".
Koraya terkejut,
langsung berdiri tegap "Dimensi?! Apa maksudmu?".
Ash segera
memadamkan apinya lalu memasukan tangannya ke dalam saku jaketnya, "Aku
akan menjelaskannya nanti... Aku benar benar memerlukan bantuanmu sekarang..." Kata
Ash dengan serius.
Keadaan tiba tiba
menjadi lebih serius setelah mendengar kata kata Ash, angin berhembus dari
semua jendela di ruang kosong tersebut.
"Jadi ini
benar benar Kamu... Tapi apa yang Aku perlu bantu?" Menghela nafas
panjang.
"Floyd..
salah satu OCmu, saudaraku...
Ia pergi ke dunia ini melewati portal kuno.. Portal tersebut satu satunya
portal yang menyambungkan duniaku
dan dunia lain... Lebih tepatnya dunia ini sih.." Jawab Ash.
"Wah? Floyd
juga ada di dimensi ini ? Jadi..? Apa masalah nya?" Bertindak biasa saja,
tak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi.
"Dia itu
berbahaya Koraya. Dia pernah membunuh seseorang. Sekarang Dia
mengincarmu." Lanjut Ash selagi mengepalkan tangan kanannya dengan keras.
"A-apa
tujuannya?" Ia terkejut terhadap perkataan Ash, terpaku.
"Aku pun
tidak tahu alasannya. Mungkin.. Tapi Dia memberitahuku 'Aku akan mengincar
pembuatku' Dengan penuh dendam. Seakan akan Ia pernah bertemu denganmu"
Ucap Ash.
"Apa yang Aku
harus lakukan?!" koraya panik, keringat
mulai bercucuran di tubuhnya.
"Sekarang
tetap tenang dan coba lindungilah dirimu sendiri." Kata Ash sambil
membalikan badannya, dari pandangan Koraya.
"Siap..!!
Tapi apa Kau
akan menemaniku?" Tanya Koraya sambil menghampirinya dari belakang.
"Nanti Aku akan
temani.. Tapi untuk sekarang cobalah lindungi dirimu sendiri saja.." Jawab
Ash, berjalan perlahan menuju pintu keluar.
"Kamu mau
kemana?" Tanya Koraya sekali lagi.
"Mencari
Floyd." Ash keluar dari ruangan kosong tersebut melompat menuju atap ke
atap, entah kemana.
Koraya keluar dari
ruangan itu dan berkata kepada Dirinya sendiri, "Ash ya... Berarti masih
banyak yang lainnya bukan..?". Katanya dengan penuh harapan, Ia pun
tersenyum.
Koraya berlari
secepat mungkin menuju kelas, tak tahu berapa lama telah diam dan menetap di
ruangan tersebut. Sesampai di depan kelas kelelahan seperti tadi pagi, bersandar
ke dinding untuk beberapa detik sampai Shoko mendekatinya.
"Kemana aja Kamu...?!"
Tanya Shoko, ikut bersender di sebelahnya.
"Itu.. Ada
kepentingan sebentar.." Dengan kelelahan dan menghela nafasnya setiap
beberapa detik sekali.
"Sebentar
atau 2 jam..?" Dirinya tertawa sambil menunjuk Koraya.
"HAH?! 2
JAM?" Koraya berteriak terkejut, memegang kepalanya.
"Bercandaaa....
Ayo masuk kelas pelajaran ke 2 mau dimulai.." Shoko memegang pundak
Koraya.
"O-oke
deh" Kebingungan.
Mereka memasuki
kelas lalu duduk di kursinya masing masing. Guru selanjutnya pun datang dan
harinya berlanjut, sampai pulang sekolah.
"Ok anak anak
sampai segini saja hari ini, sampai ketemu senin depan...!" Guru tersebut
membawa tasnya lalu pergi keluar kelas.
Diikuti oleh murid
murid yang lainnya, mereka memasukan buku buku pelajarannya ke dalam tas lalu
menggendongnya, meninggalkan kelas, pulang. Koraya sedikit lebih lama memasukan
bukunya karena terbiasa menyimpan seluruh bukunya di dalam kolong meja.
"Hei Koraya
mau pulang bareng ga?" Tanya Shoko dari pintu masuk kelas kepada Koraya
dengan suara yang lantang.
"Duluan saja,
Aku pulang sendiri aja..!" Koraya memasukan buku bukunya.
"Ok kalau
begitu, duluan!".
Koraya membalas
lagi "Siap!" Shoko meninggalkan kelas lalu pergi pulang sendiri.
Setelah beberapa
menit Koraya selesai memasukan buku bukunya ke dalam tas, menggendong tasnya
lalu pergi keluar kelas.
Ia menutup pintu
kelas, pergi. Sekolah cepat sepi, banyak anak yang ingin cepat cepat pulang.
Saat sudah keluar dari sekolahnya. Dia mengeluarkan kunci dari kantongnya lalu
membuka rantai sepeda yang mengunci, memasukan rantainya ke dalam tas. Koraya
mengendarai sepedanya keluar sekolah dan memulai perjalanannya ke rumah.
Jalan yang dipakai
Koraya dari sekolahnya ke rumah sangat sepi pada jam pulang sekolah. Cuma
beberapa anak yang rumahnya tinggal di dekat Koraya dan juga orang yang
melewati jalan tersebut. Bisa dibilang jalan tersebut jalan yang rawan akan
pencurian dan lain lain.
Saat Koraya sedang
mengendarai sepedanya pulang. Ia melihat seseorang menghalangi jalannya.
"Permisi.."
Perlahan dan sopan kepada orang yang berada di depannya tersebut,.hanya berdiri
diam menghalanginya, menghadap ke arah yang berbalikan dengan Koraya.
"permisi...
Anda menghalangi jalan pulang saya mohon menepi.." sekali lagi Koraya
berkata dengan sopan kepadanya.
"Koraya..
Kan?" Dengan nada yang rendah membuatnya terdengar tidak enak.
"I-iya
Aku Koraya. Kamu siapa ya..?" Dengan gugup perlahan menepikan sepedanya ke
pinggir jalan dan menyenderkannya kepada dinding.
"Hahaha..."
Orang tersebut tertawa perlahan membuat Koraya keanehan, merinding.
Sore
itu sangatlah gelap, Koraya tidak bisa melihat orang tersebut dengan jelas,
hanya bisa melihat nafas orang itu yang berwarna putih karena cuaca yang
dingin.
Tumbuhan
yang berupa kayu kayu panjang keluar dari tulang ekor, juga dari punggungnya. Menyebar
ke setiap sudut punggungnya, seperti tentakel gurita yang keluar dari belakang
tubuh, namun terlihat keras layaknya pepohonan.
Ia
membalikan badannya lalu menatap Koraya. Berkata "Floyd... Salah satu
OCmu... Kalau benar Kamu adalah salah satu creator, atau pencipta Kami para OC
kan? Kamu menciptakan beberapa dari Kami dan mengatur hidup Kami.".
Floyd
mengatakan kata kata tersebut dengan penuh benci, terlihat dari nada dan
tatapannya.
"F-floyd?!
Bagamana kalau Dia membunuhku?!" Koraya mulai panik, berbicara dalam hati
dengan penuh ketegangan.
"Apa
yang Kamu mau Floyd?" Dirinya bertanya, menahan semua ketakutannya supaya
terlihat tegas, tidak lemah.
"Kamu
tahu... Hidupku asalnya baik baik saja, sama seperti hidup normal orang lain.
Tapi... Kamu mengatur hidupku supaya Aku sengsara... Menjauhiku dengan orang
yang kucintai... Membuatku dipaksa tinggal jauh dari rumah.. Kamu mengaturnya..
Kan?" Ucapnya dengan tatapan tajam, ekspresi yang tidak tenang sambil
membuka kedua telapak tangannya.
Semua
Tumbuhan yang keluar hari punggung nya mengarah ke arah Koraya siap menyerang.
"A-aku
tidak mengatur hidup siapa pun... Aku tidak mengerti maksudmu itu apa..!!"
Bicara seadanya, sebenarnya tidak tahu apapun yang dibicarakan Floyd.
"Jadi
ini intinya... Kalau Kamu yang membuat hidupku seperti ini Kamu pasti bisa
mengembalikannya kembali kan?..." Floyd perlahan menghampiri Koraya.
"Sudah
kubilang Aku tidak mengatur hidup siapapun. Aku hanya membuat kalian. Aku
bahkan tidak mengetahui hidup kalian, bagaimana Aku bisa mengaturnya kalau
tidak mengetahuinya!" Koraya membanting tangannya, melangkah selangkah ke
belakang untuk menghindari Floyd.
Floyd
terlihat sangat kesal "Tidak mungkin... Kamu pasti mengatur hidup OC.".
"Sudah
kubilan—".
"Tapi...."
Floyd memotong perkataan yang baru saja keluar dari mulut Koraya.
"Kamu
penuh dengan omong kosong!" Floyd berlari ke arah Koraya dengan cepat
bersamaan dengan kayu kayu yang menempel di belakangnya.
Ia
berhenti tepat di hadapan Koraya, Menatapnya dan berkata "Semua yang Kau
katakan hanya untuk menipuku... Kan?" Floyd sedikit membatasi kata demi
kata seakan akan ragu terhadap omongannya sendiri.
"Apapun
yang kau katakan, Aku akan selalu berkata sesuai kenyataannya!" Koraya
menatap balik Floyd.
"Baiklah..."
Floyd membalikan badannya lalu mulai menjauhi Koraya langkah demi langkah.
Namun
mendadak berhenti saat telah melangkah cukup jauh, "Kau tahu? Bagaimana
kalau Aku menghabisimu sekarang? Mungkin itu akan mempermudah jalan
hidupku.." Floyd menengok ke belakang, menatap Koraya dengan datar dan
hampa.
"A-apa?!"
Koraya terkejut, secara refleks mundur beberapa langkah ke belakang saking takutnya
akan perbedaan kekuatannya dengan Floyd.
Floyd
membalikan badannya kembali ke arah Koraya, kayu kayu dari punggungnya mulai
mendekati Koraya dengan cepat. Seperti banyak ular besar yang memangsa Koraya
dari udara. Salah satu kayunya berusaha melukai Koraya tapi gagal karena Ia
menghindar dengan melompat ke samping.
"A-apa
apaan.." Detak jantung Koraya mulai berdetak dengan kencang karena situasi
yang mengancam nyawanya itu.
"Ini
adalah kekuatan dari balas dendam.." Ucap Floyd yang memandang Koraya dari
jauh.
Kayu
kayunya yang panjang pun menjebak Koraya dari dua sisi lalu melilitnya dengan
cepat dan mudah. Koraya tak mempunyai cara untuk membela diri.
"K-kok
bisa?!" Ujar Koraya dalam hati, gelisah.
Floyd
maju mendekati Koraya, Dia menodongkan salah satu kayu ke wajah Koraya dalam
satu gerakan tanpa Koraya bisa berkutik. "Kamu tidak akan pernah merasakan
dendam sebesarku... Jadi Aku akan membalas dendamku dengan melenyapkanmu dari
dunia ini... Dengan itu Kamu bisa merasakan sedikit dendam ini.." Tanpa
ekspresi, walaupun matanya dengan jelas menyatakan dendam yang besar.
"F-floyd.."
Seluruh bagian tubuhnya yang asalnya melawan kayu Floyd perlahan melemas dan
menyerahkan diri.
Tetapi
sontak semburan api datang dari atas sebuah rumah mengenai kayu kayu yang
melilit Koraya. Semua kayu itu terbakar namun anehnya Koraya tidak terkena api
sedikit pun.
"K-Kamu?!"
Floyd menengok ke arah sumber api, murka.
Terlihat
Ash tengah berdiri di atas atap sambil mengarahkan tangan nya ke Floyd.
"Iya
ini Aku... Dik" Ash tersenyum kepadanya.
"Ash?!"
Koraya merasa lega atas kedatangannya.
Ash melihat ke
arah Koraya lalu tersenyum sedikit, "Kan sudah kubilang akan membantumu...".
"Tapi Aku hampir
mati tau." Tawa perlahan, memikirkan semua ini sebagai lelucon agar tidak
terlalu panik.
Ash dan Koraya
mengobrol seakan akan tidak ada Floyd di hadapan mereka. Floyd mengeluarkan lebih
banyak tumbuhan dari tulang ekornya, berkata "Hentikanlah candaan Kalian kalau
ingin tetap hidup.." memandang
Ash lalu menengok ke arah Koraya.
Ash melompat ke bawah,
lebih tepatnya melompat ke hadapan
Koraya, "Floyd, Floyd... Kamu tidak pernah menghargai kakakmu ini ya.".
"Lagipula
bagaimana Kamu kesini hah..?!" Ujar Floyd dengan sedikit emosi.
"Maaf... Tapi
Aku mengikutimu." Tersenyum, menggaruk kepalanya dengan tangan kirinya
"Lebih baik jangan
ganggu Aku kalau Kamu juga ingin bahagia..." Jawab Floyd, perlahan melirik
kepada Ash.
"Sudah sudah
lebih baik Kita pulang saja... Masalah disana biar Aku selesaikan." Ash
mengulurkan tangannya
"Hahaha...
Emangnya Kita bisa pulang?!" Floyd tertawa dengan terpaksa.
"Pasti ada
jalan lain..!".
"Ya sudah..
Kalau begitu Aku berikan kesempatan padamu untuk kembali dan berhenti mengganguku..
Kalau tidak, Kita akan melalui jalan keras." Floyd mendekati Ash langkah
demi langkah.
"Kalau mau
juga Aku tidak bisa... Berarti jalan keras adalah jawabannya..." Ash
mendekatinya juga.
"Ya sudah
kalau begitu.." Floyd berhenti.
"Berlindung
dibelakangku" Ash membukakan sebelah tangannya melindungi Koraya.
"O-oke"
Koraya yang kepanikan berjalan kebelakang Ash.
Ash memasang kuda
kuda lalu mengeluarkan api dari kedua tangannya. Floyd hanya berdiri diam,
mengeluarkan kayu kayunya yang akan menyelesaikan pertarungan tanpa harus melakukan
pergerakan tubuh yang melelahkan.
"Bersiap
untuk kalah?" Ash meledek
Floyd, menjulurkan lidahnya.
"Bodoh..".
Ash berlari ke arah
Floyd dengan cepat, di sisi lain Floyd hanya diam ditempat, membiarkan
tumbuhannya menyerang Ash dari segala arah. Kayunya mengincarnya dari bawah
maupun atas, kiri maupun kanan. Ash hanya bisa menghindarinya dan tidak bisa
mendekatinya sedikit pun.
"Ash yang
terkenal, cuma ini yang Kamu bisa..?" Floyd tertawa.
"Jadi Kamu
ingin menaikan level?" Ash masih menghindari kayu kayunya.
Ash mengarahkan
kedua tangannya ke bawah lalu mengeluarkan api dari kedua tangannya, meluncurkannya
ke atas dengan dorongan api tersebut. Saat di atas, Ia segera membakar semua
kayu di bawah dengan api dari tangannya, langsung meluncur ka arah Floyd.
Mendarat di belakang Floyd lalu melilitkan lehernya dengan kedua lengan dari belakang.
"Game
over?" Tanya Ash, meledek.
Floyd tertawa
kecil, perlahan menengok ke belakang.
Ash
yang sedang berada di belakang Floyd terjebak oleh kayu yang datang dari
belakang punggungnya.
"Masih
ingin bertarung, Ash?" Perlahan melirik ke belakang.
"Siapa
bilang Aku ingin berhenti?" Perlahan tertawa.
Ash
mengeluarkan api dari seluruh tubuhnya untuk membakar tumbuhan tumbuhan yang
melilit Dirinya. Mereka berdua melompat ke belakang untuk menghindari sesama
serangan lawannya.
"Sudahlah...
Kita berhenti saja.. Karena Kita tidak bisa pulang mungkin Kita bisa tinggal di
sini sementara." Ujarnya perlahan membujuk Floyd untuk menenangkan diri.
"Kalau
Kau mengalahkanku Aku akan menurutimu... Tapi kalau Aku mengalahkanmu, Kamu
harus menjauhi urusanku" Tantang Floyd.
"Kalau
begini keadaan semakin gampang." Ash memberikan senyuman yang meremehkan.
Ash
memenuhi kedua tangannya dengan api, mereka berlari ke arah satu sama lain.
Floyd mengerahkan seluruh kekuatannya, mengeluarkan Tumbuhan tumbuhan yang
merambat ke tangannya seperti pedang yang menempel pada tangannya. Serangan
yang dilontarkan oleh Floyd, tumbuhan dari tulang ekornya maupun oleh kayu yang
ada ditangannya semuanya ditangkis oleh Ash menggunakan tangan apinya.
"Masih
kurang.!" Floyd berteriak.
Kecepatan
Floyd meningkat pesat, pergerakan tubuhnya dan juga tumbuhan tumbuhannya pun
ikut meningkat kecepatannya. Saking cepatnya Ash yang asalnya bisa menghindar
kini sempat menerima serangannya. Kayu mengenai sisi kepalanya, meninggalkan
luka. Ash melompat ke belakang untuk menghindari serangannya.
"haa...
ha..." Suara Ash yang terdengar kelelahan karena terlalu sering menghindar
dan memaksakan diri.
"Sepertinya
Kamu kecapean" Floyd menunjuk Ash dengan lengannya yang dipenuhi kayu.
"Kamu
kuat juga adikku.. Sepertinya Aku harus mengerahkan seluruh kekuatanku"
Ash kembali berdiri tegak lalu menunjuk balik Floyd.
"Coba
saja kalau bisa." Memiringkan kepalanya perlahan.
Sayap
api yang membara keluar dari punggung Ash. Ia memasang kuda kuda untuk menyerang
kembali, di sisi lain Floyd bersiap siap menyerang, juga melindungi diri
secara bersamaan.
Ash
melompat tinggi ke atas untuk menyerang Floyd, mencari titik lemahnya yang
terlihat dengan mudah dari sudut pandang tinggi.
"KENA
KAU!" Floyd melihat celah, semua tumbuhannya melaju ke arah Ash dengan
cepat.
Namun
Ash mempunyai rencana lebih dahulu, Ia terbang dengan cepat ke belakang Floyd,
mendarat perlahan menggunakan sayap apinya lalu membakar pusat munculnya
Tumbuhan Floyd. Tumbuhannya pun berjatuhan dari atas karena penopangnya sudah
terbakar terlebih dahulu. Ash mengarahkan tangannya ke tulang ekornya, memegang
leher dengan tangan yang satunya.
"Kalau
Kamu mengeluarkan tumbuhan tumbuhanmu lagi Aku akan langsung membakarnya...
Jadi Aku menang.." Ash memberikan senyuman licik kepada Floyd.
"Aku
kalah...".
"'Kalau
Kamu menang Aku akan menurutimu.. bla bla bla' Janji adalah janji." Ash
memandang Koraya.
"Kamu
pulang saja dulu... Aku akan urus Dia.. Lain kali Kita bertemu Kita bertiga
akan berteman..." Ash masih saja menahan Floyd erat erat.
"T-teman.."
Floyd berberat hati menolak.
"Ok
Ash..!" Dirinya melangkah ke sisi jalan untuk mengambil sepedanya yang
disenderkan lalu mengendarainya pulang. Ia melambaikan tangannya. Ash melambai
balik dengan senang.
Beberapa
menit berlalu, akhirnya sampai di rumah. Koraya segera memarkirkan sepedanya
lalu cepat cepat membuka kunci pintu, masuk, dam menguncinya kembali.
Langsung
berlari memasuki kamarnya, berbaring diranjang tanpa mengganti pakaiannya sama
sekali.
"Ash,
Floyd. Selanjutnya mungkin saja Light, Ender, Ox, Austin, semuanya... Aku
menanti kalian." Ucapnya sambil memandang langit langit kamarnya tersenyum
senyum sendiri.
Ini
pun awal dari cerita panjang yang akan tercatat di sejarah.
Team recruit saga
Part 2 : The scientist
Beberapa
hari terlewatkan, Koraya menjalani hari harinya seperti biasa, tanpa adanya hal aneh
terjadi. Ia belum juga
bertemu Ash maupun Floyd lagi. Dirinya uga
melakukan kegiatan sekolahnya tanpa ada gangguan.
Namun hari ini,
hari sabtu Koraya tinggal di rumahnya sendirian. Setelah
bangun tidur, segera pergi ke dapur untuk memasak sarapannya. Mengambil wajan
lalu menaruhnya di kompor, dipanaskan dan diberi mentega. Ia mengambil
telur dari lemari es lalu memecahkannya di sebuah mangkuk, memberinya sedikit
garam dan merica setelah itu menggorengnya di wajan yang sudah disiapkan. Saat
matang Dia menyiapkan piring dan memasukan telur yang sudah digoreng ke dalamnya, membuka rice
cookernya lalu mengambil beberapa sendok nasi. Setelah itu Dia pergi ke meja
makan untuk memakan sarapannya sendiri.
Beberapa temannya
yang biasa diajak main pada hari libur tidak bisa dihubungi karena kesibukannya
masing masing, oleh
sebab itu Koraya tidak mempunyai banyak kegiatan untuk dilakukan pada hari itu. Saat Koraya baru
saja menyelesaikan sarapannya Ia mendengar ketukan dari luar rumahnya tepatnya
di depan pintu rumahnya.
"Tunggu
sebentar!" Saut Koraya.
Segera berjalan ke
arah pintu depan rumahnya, meninggalkan piring kotornya di meja makan karena
terburu buru.
"Tunggu
sebentar..." Ucapnya sekali lagi di dekat pintu depan.
Saat pintu telah
terbuka Koraya melihat seseorang dengan mantel putih panjang yang biasanya
digunakan oleh ilmuwan ilmuwan di lab, di dalamnya Ia mengenakan kemeja biru
dan celana panjang hitam. Ia juga mengenakan sebuah kacamata, Rambutnya pirang
dengan model rambut yang cukup gondrong,
Tubuhnya juga cukup tinggi.
"Hi.. do
you recognize me..?" Orang tak dikenal itu mengatakan sesuatu
dengan aksen Bahasa inggris yang sangat lancar.
"Emm.. Do
I know you...?" Jawab Koraya, sebenarnya tidak terlalu lancar
berbahasa inggris namun Ia bisa mengerti dasar dasarnya.
"Pfft..
Hahahaha..!" Orang tersebut tertawa, menahan perutnya.
Perlahan berhenti
tertawa, mengulurkan tangan,
berkata "Perkenalkan nama saya Ox.. Dr Ox dari dimensi 97 salam
kenal" tersenyum.
"Wahhh Ox
benar dugaanku..! Ngomong ngomong namaku Koraya kalau Kau tidak tahu.!"
Koraya menjabat tangannya Ox. Koraya pun tersenyum balik.
"'Dugaanmu?
Apa maksudmu Koraya? " Melepas jabatan tangan Koraya, dengan perlahan. Memandang Koraya keanehan.
"Nanti Aku jelaskan
di dalam. Ayo masuk!" Koraya mempersilahkan Ox masuk.
Mereka berdua
memasuki rumah didahului dengan Koraya lalu Ox yang mengikutinya dari belakang,
Koraya mengantarkannya ke ruang tamu untuk berbincang bincang sedikit.
"Silahkan
duduk Ox..!" Kata Koraya sambil menunjukan sofa yang berlawanan arah
dengan tempat yang akan diduduki oleh
Koraya.
"Iya terima
kasih…" Jawab Ox,
mendekati sofa yang ditunjukan Koraya. Mereka berdua duduk di tempat yang disediakan, dengan itu mulai berbincang
bincang.
"Jadi
bagaimana Kamu bisa menduga kedatanganku disini, Koraya..?" Ox mengepalkan kedua
tangannya bersamaan.
"Sebenarnya
Aku tidak menduga Kamu akan datang kesini... Aku hanya menduga Kamu ada di dimensi
lain..." Koraya dengan santainya melemaskan badannya.
"Kalau begitu
bagaimana Kamu menebak Aku ada di dimensi lain?" Tanya Ox untuk kedua
kalinya kepada Koraya.
"Ahhh itu...
Sebenarnya Ash pernah ke sini...
Floyd juga.. Jadi kutebak
yang lainnya ada dimensi lain.." Koraya menghitung jari.
"Aku tidak
mengerti.." Ox mematahkan keseriusannya dengan menggaruk belakang
kepalanya perlahan.
"Ah.. Jadi OC
selain Diriku telah datang mendahuluiku..?
Begitu..?" Ox menurunkan tangannya.
"Benar
sekali!" Koraya menunjuk Ox dengan semangat.
"Hmmm...
Padahal Aku ingin membuat kejutan kepadamu.." Ujarnya dengan nada kecewa,
menundukan kepalanya.
"Hahaha maaf!" Koraya tersenyum
ragu, meminta maaf kepada Ox.
"Oh
iya!" Ox memeriksa kantong jas labnya lalu mengeluarkan semacam remote
dari sakunya.
"Tujuanku sebenarnya ke sini sebenarnya adalah..!" Mengangkat kembali
kepalanya.
"Hmmm?"
Koraya memiringkan kepalanya menunjukan ucapan tanya yang tak terungkapkan oleh
kata kata.
Ox menunjukan alat
yang menyerupai remote itu kepada Koraya. "Untuk membuat sebuah
tim!!".
"Tim?! Tunggu
tunggu tapi untuk apa remote ini..? Menyalakan TV? Hahahahaha.!" Koraya
tertawa terbahak bahak, mukanya memerah.
"BUKAN!"
Mengeraskan suaranya kesal.
"Ini adalah
alat teleportasi antar dimensi.... Atau pembuat portal.. Aku menyebutnya 'portal deployer’" Ucap Ox,
menunjukan remot tersebut lebih jelas kepada Koraya dengan cara menaruhnya di
meja supaya Koraya bisa melihatnya sendiri.
"Jadi seperti
yang Aku bicarakan.. Aku ingin membuat sebuah tim!" Ox mengulurkan kedua
tangannya sementara Koraya melihat lihat remot tersebut.
"Iya tim apa
yang Kamu maksud?!" Tanya Koraya dengan sangat kebingungan.
"Hihihi..."
Ox tertawa kecil, membenarkan kaca matanya.
"Aku akan
membuat tim yang berisi Ocmu, lalu
menciptakan sebuah aliansi pelindung dimensi dimensi..
Aku sebenarnya tidak tahu siapa saja OCmu, tapi Aku tahu pasti kalau Kamu punya
banyak OC.".
"Hmm.. Kamu
ada benarnya sih... Tapi bagaimana?" Kebingungan, menggaruk kepalanya.
"Aku senang Kamu
bertanya..." Ia menjentikan jarinya lalu menunjuk ke arah Koraya.
"Aku akan
mengumpulkan mereka dengan ‘portal deployer'ku ini dari berbagai
dimensi dan mengumpulkannya di dimensi ini!".
Koraya mengelus
ngelus dahinya perlahan mencerna
keadaan, "Jadi... Kita berkeliling dari dimensi ke dimensi untuk
mengumpulkan mereka..?".
"Mhm...
yup." Jawab Ox. Ia menggapai Koraya lalu menepak pundaknya.
"SUNGGUHAN?!"
Koraya menaruh remot tersebut kembali lalu mengepalkan tangannya dengan
semangat.
"Sung-gu-han"
Ia menjawab sambil menyekat kata katanya, terlihat
sombong namun senang di saat yang bersamaan.
"Mau kubuktikan?" Ajak Ox,
awalnya datang dengan serius tiba tiba berubah menjadi sangatlah ceria.
"Apakah
boleh?!" Koraya dengan semangat menggenggam tangan Ox. "Tentu
saja..!" Ox melepaskan tangan Koraya lalu mengarahkan portal deployernya menuju lantai, sebelah kursi ruang
tamu. Menekan nomor 9 dan 7, lalu
tombol hijau dengan
gambar lingkaran setelahnya. Munculah sedikit demi sedikit portal berwarna biru
muda dan tua yang bercampur aduk dengan putih, Seperti ada retakan besar yang
ada di udara yang perlahan melebar.
"J-jadi ini
adalah portal..?" Koraya mengulurkan tangannya perlahan ke portal biru itu
namun kurang berani untuk menyentuhnya. "Ayo masuk. Kamu duluan, Aku akan
menyusul." Ox menunjuk ke arah portal tersebut.
"Siap
komando." Senyum Koraya. Melangkah perlahan ke arah portal tersebut lalu
memasukan kaki kanan ke dalamnya, mengambil nafas dalam dalam, memasukan seluruh
tubuhnya ke dalam portal. Setelah tiba Dirinya disambut dengan pemandangan baru
di dimensi 97.
"Wah...!"
Pemandangan teknologi
canggih yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Disusul oleh Ox di belakang, datang lalu
menarik kembali portalnya dengan portal
deployer yang langsung dimasukan kembali ke dalam kantongnya.
Mobil melayang,
Kereta yang melaju begitu cepat dan kota yang mengambang. Seperti dalam film
film saja.
"Keren
bukan?.." Ox tersenyum, Dirinya
merasa bangga dengan dimensi kampung halamannya ini. Memandang langit langit
bangunan seakan akan dimensinya
miliknya sendiri.
"Ya...."
Koraya takjub, selain karena
teknologi yang di luar nalar, namun juga karena bisa
berpindah antar dimensi.
"Ya ya tapi
waktuku habis.. Mari pulang." Ox mengeluarkan, lalu memasang kembali
portal.
"Ayo lahh..
keliling bentar kan bisa..." Bujuk Koraya. "Waktuku hampir habis..
Kita harus segera menjemput yang lain.." Jawab Ox, menghela nafasnya.
"Yaaa.... Ini
tidak akan memakan waktu lama kok.. plis.." Koraya memohon, merapatkan
kedua tangannya.
"Ughh.. Fine." Ia menarik
portalnya lalu memasukan portal deployer kembali ke dalam saku.
"Yeahh..!" Dengan senangnya
mengangkat kedua tangan lalu langsung berlari ke arah gedung gedung mengapung
berada. "Tunggu..!" Ox berlari menyusul Koraya.
Mereka berkeliling
melalui gedung gedung yang berwarna gelap bersinar ungu neon, setelah itu
menaiki taxi terbang yang disebut 'Flaxi' di dimensinya. Berhenti di tempat
belanja yang dipenuhi mesin arcade. Kita bisa memilih benda apa yang ingin Kita
beli dan benda itu akan muncul di sebelah Kita,
menggunakan uang online untuk membeli barang barang yang diinginkan. Mereka selesai
berjalan jalan dan pergi ke tempat semula.
"Sudah
puas?" Ox terlihat sangat
kelelahan. "Tentu!!" Koraya menjawab dengan semangat walaupun Ia menahan kelemasan yang sama dengan Ox.
Ox mengeluarkan
kembali portal deployernya dan
memasang portal untuk kembali ke dimensi Koraya.
Segera
memasuki portal disusul oleh Koraya di belakangnya perlahan mengikuti.
Sesampainya mereka sudah kembali berada di ruang tamu rumah Koraya.
"Sudah
begini.. Sekarang Kita berkeliling untuk mencari OCmu dari penjuru
dimensi..". Ox menutup portal lalu mengambil tempat duduk seperti tadi.
"Kalau hanya
Kita berdua mungkin akan susah mungkin mereka melawan atau sebagainya."
Jawab Koraya sambil mengikuti pergerakan
Ox.
"Iya juga
sih... Aku tidak menguasai bela diri apa pun apalagi kekuatan, Kalau begitu
bagaimana kalau mulai dengan OCmu
yang lemah?.." Menjentikan jarinya, mendapat ide.
"Hmmm.. Biar kupikirkan sejenak... Ash
dan Floyd mereka sudah ada di dimensi ini jadi Kita cukup mencari mereka...
Light, Ia mempunyai bela diri yang lumayan kuat, tapi pedangnya memiliki kekuatan yang luar biasa.
Black eye atau nama aslinya Cade, Dia akan menjadi sulit sama halnya dengan
Red—Hmm The virus.. Austin mungkin bisa, Aku membuatnya dengan memiliki sifat yang
baik, tapi kalau Dia melawan bisa bahaya. Kalau Ender, Dia
memiliki bela diri yang di luar
kemampuan manusia, lebih baik dihindari
untuk saat ini.." Koraya menjelaskan hal hal
mengenai OCnya kepada Ox.
"Sepertinya
hampir mustahil.. Kalau mau dicoba juga Austin jadi yang perta—" Saat Ox
baru saja akan menyelesaikan kalimatnya tiba tiba mereka mendengar suara
ketukan pintu yang mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Koraya buka
saja dulu pintunya." Ox berhenti berbicara, menyandar ke belakang sofa.
"Ok tunggu sebentar.".
Koraya melangkah
ke depan pintu. Saat sudah sampai di depan pintu, membukanya.
"Siapa?"
Tanya Koraya.
Koraya melihat
untuk ketiga kalinya OC bertelinga kambingnya, kali ini dengan saudaranya yang pernah
mencoba membunuh Dirinya beberapa
hari ke belakang. "Yo!" Ash tersenyum,
melambaikan tangannya.
Floyd terlihat
kesal menunduk ke bawah
di samping Ash yang tampak ceria. "Hey Ash! Dan.... Floyd...."
Koraya melambaikan tangannya kembali ke arah Ash namun, perlahan melangkah ke belakang untuk berjaga
jaga.
"Hmph.."
Keluh Floyd dengan nada yang terkesan kesal. Ash menyinggul pundaknya
berbisik "Shhh... Awas kalo macem
macem.." Ash kembali
memandang Koraya tersenyum, "Hehe".
Ash menggaruk
telinga kanannya, berkata "Jadi Kita disini untuk meminta maaf karena
membuat kesalahan..." Mendorong Floyd ke arah Koraya.
"Uh.
Maafin.".
"Yaelah... Ga
usah minta maaf.. Malah senang bertemu dengan OC sendiri..." Dirinya tertawa.
Mereka bertiga
berbincang sebentar walaupun sebenarnya
Floyd hanya berdiri dan diam. Sementara itu Ox menunggu di dalam sendirian.
"Lebih baik
Aku susul Dia." Ox beranjak, menghampiri Koraya yang terlihat sedang berbicara dengan seseorang dari dalam rumah.
"Oyyy bisa ikutan ngobrol ga..?" Menundukan badan tanpa sepengetahuan
bahwa yang ada di depan pintu itu adalah OC dari Koraya.
Sesaat melihat ke depan, melihat Ash dengan
telinga kambingnya. "Woahhh... Di dimensiku tidak ada manusia bertelinga
kambing..! Apa Dia itu Ash,
Koraya? atau Floyd..?!" Ox
terkejut namun juga penasaran.
"Ash.."
Jawab Koraya dengan ragu serta kebingungan.
Ox meghampiri Ash
lalu mulai memainkan telinganya. "Apa apaan..." Ash menatap Ox dengan
canggung. "Kamu dari dimensi 71 kan..? Dimensi human animals..?"
Tanyanya dengan penasaran. "Bukan sih.. Aku gak tau persis nomer
dimensinya tapi Aku tau dimensiku itu sepertinya dimensi fantasy
social..." Perlahan mendorong Ox pergi.
"Dimensi
fantasy social?!.." Ox membuka buku catatan kecilnya, disimpan di saku kanannya
dengan terburu buru. "Fantasy fantasy..." Ox mencari dimensi yang Dia
catat satu persatu. "Aha dimensi 13... Dimensi yang sama seperti dunia
social ini kan tetapi mempunyai berbagai ras yang berbeda..?".
"Yap,
sepertinya benar.?".
Kali ini mereka bertiga
berbincang bincang sementara Floyd berdiam menyender ke tembok sendirian, tidak mempunyai keinginan untuk berinteraksi sama
sekali.
"Eh Ox..
Bagaimana tentang misi kita..?".
Ox yang tadinya
masih mengobrol dengan Ash menoleh ke arah Koraya. "Iya juga.. Selagi ada
Ash dan Floyd di sini
Kalian bisa membantu!..." Dia tampak senang.
"Bantu
apa..?" Floyd yang asalnya menyender
tidak peduli, segera berdiri dengan sendirinya.
"Kita akan
mengumpulkan semua OC Koraya dan membangun sebuah team untuk melindungi dimensi!"
Ox mengepalkan tangannya lalu meluncurkannya ke udara.
"WAH???
Benar? Luar biasa..!" Ash juga tampak senang, seperti Koraya sebelumnya.
"Nope.. Aku tidak
akan ikut campur.." Floyd berjalan menjauh dari rumah, perlahan.
"Woi Floyd Kamu
mau kemana?" Teriak Ash, Floyd yang sudah berjalan jauh menjawab
"Kemana aja.".
"Kau tau Aku bisa
mencarimu kan...?" Teriaknya sekali lagi.
"Yap."
Jawabnya terakhir lalu pergi tak terlihat kemana. "Ah biarkan saja, yang
penting ada Kamu Ash.. Dengan ini Kamu dan Koraya bisa menjemput OC pertama Kita!" Seru Ox.
"Hayu..!"
Ucap girang Ash. "Tapi siapa yang pertama...?" Tanya Ox sambil
menoleh ke arah Koraya.
"Menurutku
Light... Dengan kekuatan Ash mungkin Kita punya kesempatan lalu Kita bisa
membujuk Light.. Jika Kita berhasil membujuknya Kita tak perlu kesusahan dalam
pengumpulan anggota yang lain..!" Jawab Koraya dengan antusiasnya.
"Kalau begitu
Aku akan mulai membuat markas, Aku akan memakai halamanmu di sini.. Selama itu Kalian berkunjung
ke dimensi.. umm.. tunggu.." Ox membuka kembali buku catatannya untuk
mencari dimensi yang berkemungkinan dimana Light berada.
"Light
seperti apa...?" Tanya Ox.
"Dia seorang
pangeran yang diberkahi pedang suci, mungkin Dia berada di dimensi kerajaan..?".
"Ah ini dia
dimensi 103... Tapi dimensi ini adalah dimensi sejarah jadi Kita harus
memasukan waktu yang tepat juga..
masukan saja angka dijit 103025. Itu pasti berhasil..!"
Ox
memberikan portal deployer nya ke Koraya lalu berjalan ke halaman rumah Koraya
sambil mengeluarkan meteran dari saku nya.
"Apa halamanku cukup untuk sebuah
markas Ox..?" Saut Koraya dengan ragu. Ox membalas dengan menunjukan gaya
tangannya yang dikepalkan lalu mengeluarkan jempol yaitu 'sip'.
Koraya memasukan
kode angka yang diberikan oleh Ox ke dalam
portal deployer lalu memasang
portalnya. "Kamu siap Ash..?" Koraya senyum senyum sendiri. "Im
always ready." Jawab Ash dengan senyuman yang sama dengan Koraya.
Team recruit saga
Part 3 : The prince
Mereka
memasuki portal ke dimensi 103 dan periode waktu 25 untuk mencari Light,
bersama sama.
*tap tap* Suara
hentakan kaki mereka, saat baru saja meninggalkan
jejak di sana. Menginjakan kaki di tengah padang pasir yang
luas tanpa terlihat apapun oleh mata kosong.
"Oi Kamu
yakin ini tempat yang benar?" Tanya Ash dengan ragu, menggaruk kepalanya
dengan tangan kanan.
"Tentu...
Mungkin... " Balas Koraya. "Ya.. Sementara waktu Kita berkeliling
saja.." Koraya berjalan mendahului Ash, perlahan.
"Ok ya
sudah.." Ash mengikuti Koraya dari belakang di bawah terik matahari yang
sangat panas.
Mereka berkeliling
selama sekitar 15 menit dan akhirnya melihat sebuah kota besar di kelilingi benteng yang
tinggi di kejauhan.
"Itu kah apa
yang Kita cari Koraya?.." Ash menunjuk tembok tersebut.
"Mungkin...
Di dunia ini mungkin saja ada beberapa kerjaan jadi Aku tidak yakin.. Ya patut
dicoba..." Mereka berdua menghampiri benteng tersebut, saat sampai di depan
gerbang kota,
mereka menyadari sesuatu.
Benteng tersebut
sangat tinggi, besar, dan kokoh membuatnya sangat mustahil untuk dipanjat dan
juga diterobos menggunakan alat apapun.
Di tengah tengahnya terdapat gerbang yang berukuran raksasa digunakan untuk
transportasi pedagang dan juga hal lain.
Gerbang itu dikawal
oleh 2 prajurit berzirah perak dengan tombak besi sebagai senjatanya. Koraya
dan Ash dalam perjalanan untuk memasuki kerajaan tersebut, namun tertahan oleh
tombak kedua prajurit tersebut.
"Dari
kerajaan mana kalian...?! Untuk apa Kalian memasuki kerajaan Cronox?!"
Tanya penjaga kesatu dengan nada yang tegas selagi menahan Ash dan prajurit
kedua menahan Koraya.
"Anu..."
Koraya ingin memberi alasan tetapi sulit untuk memikirkannya. "Sudah
kubilang kan ada kemungkinan bahwa ada beberapa kerajaan di dunia ini."
Koraya menengok ke arah Ash dengan cepat untuk berbisik selagi memikirkan alasan.
Salah satu penjaga
dengan tangkasnya mengarahkan tombaknya tepat ke hadapan wajah Koraya.
"Apa yang
Kalian baru saja omongkan?!" Prajurit tersebut menatap wajah Koraya.
"O-oh... Jadi
begini Kami dari kerajaan.." Koraya dengan tegang menatap ke langit langit
lalu menengok ke arah Ash sekali lagi untuk berbisik, "K-kerajaan
apa?". "Mana Aku tau!!" Jawab Ash dengan lantang.
Kedua prajurit
mendekatkan tombaknya ke wajah Koraya dan juga Ash, "Lanjutkan!"
Tegas mereka.
"Anu.. Kami mendapat
amnesia...! Kami tidak bisa mengingat dari kerajaan mana... Kami telah
berkeliling selama beberapa hari mencari sebuah kerajaan untuk menjadi tempat
tinggal Kami..." Ia menahan
ketegangannya sedikit demi sedikit,
namun terlihat jelas ia sedang berbohong. Disisi lain Ash
hanya bersiul, melihat ke langit langit seperti tak ada hal apapun yang
terjadi.
"Sepertinya
itu kebenarannya... Mereka tidak memakai pin kerajaan.." Jawab prajurit
kedua kepada prajurit kesatu.
Kedua tombak
mereka diturunkan dengan tegas lalu Koraya dan Ash dibiarkan masuk.
"Maafkan Kami silahkan masuk" Kedua prajurit menyisi, memberi mereka
jalan.
"Terima
kasih?" Ucap Koraya kebingungan. Mereka masuk ke dalam kerajaan yang
bernama Cronox itu. "Tak kusangka mereka akan tertipu" Bisik Ask, tak
bisa menahan tawanya.
Tanpa mereka
sadari ada sosok Kesatria berzirah putih yang mengawasi mereka dari atas
benteng kerajaan.
"Orang yang
menarik, namun auranya terasa familiar." Ujarnya.
Mereka berdua diguncangkan
oleh pemandangan sebuah kota yang unik dan berbeda dari kedua dimensi asal mereka berdua. Terdapat suasana pasar yang terkesan kuno semperti
ada di film film sejarah.
"Ayo beli
sayur...!! Cuma 4 Coin per kilo!!", "Daging! Daging!!!" Suara
gaduh dari kios kios di pinggir jalan menarik perhatian pelanggan.
Kios kios memenuhi
seluruh pinggir jalan. Pemandangan di sana seperti sebuah kota yang masih segar
tanpa mesin hanya kios kios dan beberapa pohon yang ditanam di sebelahnya.
"Wah suasana
di sini
seperti di pasar tradisional saja ya.." Koraya berjalan perlahan di antara
kios bersama Ash disisinya.
"Pasar di
duniaku berbentuk gedung besar sih.." Ash membalas Koraya dengan
pernyataan yang sangatlah berbeda.
"Y-ya itu sih
beda.." Koraya tersenyum ragu saat mengatakannya.
"Ayo sate
daging sate daging..!" Teriak seorang pedagang di pinggir kanan mereka.
"Aaaaa....
Baunya enak
sekaliiii... Aku akan pergi membeli satu.." Ash yang terpikat berjalan
mendekati kios makanan tersebut.
Koraya langsung
menahan tangan Ash "Tunggu tunggu... Kita kan tidak punya uang...
Maksudnya ko--" "Coba dulu saja kan?" Ash melepas tangannya
setelah memotong perkataan Koraya.
Menghampiri kios
sate tersebut dengan cepat, segera memesan pada pedagangnya. "Pak pesan 3
tusuk ya!" dengan semangat.
"Siap
laksanakan. 3 tusuk sate daging", Sang pedagang langsung membakar tusuk
daging jualannya itu.
Koraya menghampiri
Ash perlahan. "Sebenarnya apa apaan yang Kamu lakukan.." Koraya
bertanya kepadanya dengan nada yang terdengar kesal.
"Ya Aku memesan
makanan lah... Aku sangatlah lapar.." Jawabnya selagi memegang perut dan
tersenyum.
Setelah selesai
membakar, sang pedagang menyuguhkannya ke Ash, "Nih nak. Total nya menjadi
9 Coin Cronox."
"Ya ampun
tuhkan Aku juga bilang apa Ash." Dirinya menepak wajah perlahan dengan kesal.
"Hehehe..."
Ia melirik ke arah Koraya lalu pandangannya kembali pada si pedagang " Apa
Anda menerima ini pak?" Ash memberi mata uang yang Dia gunakan di
dimensinya dulu, kepada pedagang tersebut.
"Maaf Aku tidak
bisa mene--" Pedagang tersebut berbicara dengan biasa saja sambil
menggaruk kepalanya, namun Ia menyadari sesuatu "Tunggu dulu.. Itu bukan
uang kerajaan kita.. Kamu mata mata!!" Bentak sang pedagang dengan
terkejut.
"Tunggu---"
Koraya menghampiri pedagang tersebut namun perkataannya langsung disekat.
"PRAJURIT!!!" Teriak pedagang itu.
Banyak prajurit
berzirah perak yang serupa dengan sebelumnya, menghampiri Koraya dan Ash.
Dengan serentak membawa pedang dan juga tombak. Bahkan beberapa membawa perisai
juga.
"I-ini cuma
kesalah pahaman..!" Koraya terbata bata. Para penjaga mengarahkan pedang,
tombaknya ke arah mereka berdua tanpa peduli alasan apapun.
"Sudah ikuti
Kami saja ke kastil...!" Salah satu prajurit memberi penegasan kepada Ash
dan Koraya. Mungkin Dia pimpinan pasukan. Kedua tangan mereka diikat oleh
rantai besi yang kuat lalu dibawa menuju kastil yang berada tepat di tengah
kerajaan tak jauh dari situ.
Mereka pun dipaksa
berjalan dengan para prajurit mengelilingi dan menjaga Koraya dan Ash dari
setiap sisi, tanpa adanya celah.
"Yahh cuma
karena sate daging? Beneran nih..?" Ucap Ash setelah menghela nafas yang
panjang.
"Kamu tidak
tegang ya..." Koraya hanya melihat ke depan tanpa menengok ke sana sini.
"Kalau Kamu
tegang, Aku bisa membuat Kita lolos...
Mau coba..?" Bisik Ash kepada Koraya.
"Tunggu. Aku penasaran Kita akan
dipertemukan dengan siapa.." Koraya memandang kastil yang akan mereka masuki
dalam beberapa langkah lagi.
Mereka sampai di
kastil setelah beberapa langkah berjalan, memasuki
lalu berhenti di ruangan besar di tengah kastil. Banyak lukisan antic dan sebuah tahta di hadapan mereka, tentu
pemandangan ini terasa sangat asing baginya.
Para prajurit melempar Koraya dan Ash ke tengah ruangan. "Ini Kita mendapatkan
penyusup komandan." Lapor salah satu prajurit kepada seseorang di sana.
"Ohh... Mari
Kita pertimbangkan... pertemukan mereka dengan Pangeran..".
Orang yang disebut
sebut komandan itu berzirah hitam, dan mempunyai pedang yang sangat besar.
Rambutnya kecoklat coklatan, dan tubuhnya bias dibilang tinggi dan kekar.
"Siap
laksanakan..!!" Jawab semua prajurit, mereka semua meninggalkan ruangan
untuk kembali berpatroli.
"Kalian
berdua ikuti Saya..."
Ucapnya sambil berjalan ke dalam sebuah koridor di ujung ruangan besar tersebut.
"O-okay.."
Jawab Koraya dengan ragu dan ketakutan, keadaan seperti ini baru dialami dalam kehidupannya,
jadi tak aneh jika Ia bisa sampai cemas begitu.
mereka berjalan
melalui koridor terbuka. Di pinggir koridor menunjukan sebuah pemandangan indah
dengan tanaman tanaman hijau yang subur dan beberapa ekor burung yang sedang berterbangan.
"Jadi Kalian sebenarnya
dari kerajaan mana..?" Tanya sang Komandan tersebut kepada Koraya dan Ash
yang sedang berjalan tepat di belakangnya.
"Sebenarnya
Kami kehilangan ingatan dan---", "Kita dari dimensi yang
berbeda..." Perkataan Koraya dipotong oleh Ash dengan mudahnya, dengan santainya.
"Dimensi??"
Komandan tersebut tak tampak terlalu terkejut walau menengok ke belakang
sedikit.
"Ash?!
Seharusnya Kita menyembunyikan identitas Kita!!!"
Kesal Koraya, melirik ke hadap
Ash.
"Ahhhh.. Tapi
sudah terlanjurkan?" Ash mengangkat tangannya dengan pasrah, walau terlihat jelas itu sebenarnya
disengaja.
"Ya
sudahlah...".
"Apa itu
dimensi..?" Tanya Sang Komandan selagi terus berjalan dan sementara burung
berbunyi di belakang mereka.
"Ah ok..
Jadi.." Koraya mencoba menjelaskan apa dimensi itu selagi burung
bertebangan melewati mereka. "Anggap saja dimensi itu dunia yang berbeda
dari dunia ini.." Lalu berhasil menjelaskan dengan singkat padat dan
sejelas mungkin.
"Ohh jadi
seperti itu.. Kalau begitu maafkan ketidak sopanan Kami... Tapi maaf Saya
tidak bisa mengembalikanmu..." Ucapan maaf dari sang komandan terdengar
sia sia di telinga mereka berdua.
"Ya sudah..
Kalau begitu Kita harus apa..?" Tanya Koraya. Ash yang tidak terlalu
peduli dengan situasi, bersiul dengan tenangnya bersama dengan burung burung.
"Ya Kalian harus
bicara dengan pangeran... Tunggu maafkan.. nama Saya Edward.. Salam kenal.. Saya komandan
utama, dan juga mentor sang pangeran.."
Edward berhenti, menjulurkan tangan untuk menjabat tangan dengan Koraya.
"Nama saya
Koraya dan Dia Ash... Salam kenal!" Mereka berjabat tangan.
"Salam
kenal... Dan Kalian sudah sampai.." Edward melepas tangan Koraya, melihat
ke arah taman. Ada seorang Pria berzirah putih bersih yang bercahaya sedang
berlatih pedang kepada sebuah boneka sawah. Tubuhnya sangat ideal, rambutnya
pirang, lalu matanya berwarna biru muda.
"Sudah
sampai..? Mana sang Pangeran..? Apa yang harus kulakukan?" Koraya bertanya
tanya, tak tahu harus bertindak apa di tempat tak familiar ini.
"Itu beliau
sedang berlatih pedang di taman... Tenang saja... Kalian hanya perlu membujuk
Pangeran untuk tidak menghukum kalian.. Aku mendoakan kalian.." Edward
tersenyum dengan penuh dukungan.
"Okay!!..."
Koraya maju beberapa langkah mendekati Pangeran itu. "Tunggu siapa nama sang pangeran..?" Tanya
Koraya setelah berhenti, menoleh ke belakang.
"Oh iya Aku hampir
lupa.. Nama beliau adalah Light Cronox... Pangeran Cahaya dari kerajaan
Cronox.".
"L-light
Cronox?!" Koraya terkejut.
"Ya..
Pangeran Light Cronox... Apa nama itu terdengar familiar...?" Edward
sedikit heran.
"Tidak... Ash
ayo..!" Bujuknya. "Yo!" Balas Ash.
"Terima kasih
Edward Kita akan berusaha..!" Koraya memberikan thumbs up dari kejauhan.
"Yosh.. Good
luck!.." Edward meninggalkan taman selagi Koraya dan Ash membalikan badan
mereka, menghampiri Light.
“Dia
OCku…” Bisik Koraya perlahan memberi tahu Ash. Ash yang mendengarnya tersenyum
tanpa memberikan balasan apapun.
Light yang dikenal
dengan julukan 'Pangeran Cahaya' sedang berlatih dengan tongkat kayu, dipukul
ke arah orang orangan sawah. Pedang aslinya disimpan di atas tanah bersamaan dengan
zirah kepalanya. Terlihat gagah.
"Lig--
Pangeran.." Dengan hormat menunduk kepada Light.
"Huh..?
Tunggu sebentar..." Light menaruh tongkatnya di dekat kakinya, mengambil
pedangnya lalu memasukannya ke dalam
wadah di sisi pinggang. "Jadi... Kalian sang penyusup.?" Tanya Light
sambil tersenyum kepada keduanya.
"Bagaimana Kamu
bisa tahu??" Koraya kaget, Ash terlihat biasa saja. Ia berdiri di belakang Koraya dengan
santainya.
"Aku harus
mengetahui semua yang terjadi di kerajaanku....
Jadi apa mau Kalian ke sini?"
Tanya Light, meninggalkan semua hal yang sedang dilakukannya untuk berbincang dengan 2 orang yang tidak dikenal.
"Namaku
Koraya, Dia Ash.. Dan Ka--"
"Kami ingin Anda
masuk ke organisasi Kami.."
Seperti biasanya Ash memotong perkataan Koraya saat sedang berbicara, tidak sopannya.
"Tunggu
Ash..!" Dia bertindak di luar rencana yang
telah Koraya rancang
dalam pikirannya.
"Organisasi?!
Hahaha...." Tawa Light dengan perlahan menunjukan betapa sombongnya
Dirinya, meremehkan Ash dan Koraya.
"Dengar.. Aku
tidak perlu berorganisasi dengan orang yang tidak setara denganku seperti Kalian..." Dengan
sombongnya, dengan tatapan merendah.
"Kami
cuma-"
"Hahh?! Orang tak setara..?!" Ash berulang kali memotong perkataan
Koraya karena kesal dan terbawa emosi.
"Koraya
biarkan Aku saja yang bicara sekarang..." Berjalan maju mendekati Light
mengedepankan emosinya dari pada kemungkinan lain.
"Bagaimana
kalau begini Light... Kita adakan sebuah duel saja... Kalau Aku menang Kamu
akan memasuki organisasi Kami ini.." Ash membukakan kedua lengannya dengan
percaya diri.
"Hahaha....
Kalau Aku menang...?".
"Kami akan
menjadi bawahanmu.." Tanpa berpikir panjang.
"WOAH
WOAH.... TUNGGU DULU ASH..." Bentak Koraya mendekati Ash dengan kesal.
"Kamu pikir Kamu
akan menang semudah itu Ash?!" Bisiknya ke dalam telinga, perlahan dengan banyak kejengkelan terdengar.
"Tentu...
Liat saja..." Dirinya tersenyum,
terukir banyak hal di wajahnya itu. Mungkin rasa kesal karena direndahkan, atau rasa
sombong karena kekuatan besar yang sesungguhnya Ia miliki.
"Hahaha! ya sudah.. Mari adakan
duel ini... Sore
ini di arena belakang kastil ini... Aku akan menyuruh Edward untuk menyiapkan
kamar untuk Kalian beristirahat." Light menjulurkan tangan.
"Deal?" Light tersenyum dengan tulus kali ini.
"Deal!"
Ash menjabat tangan Light dengan senyuman yang sama. Yang berarti duel antara
Ash dan Light sudah sah untuk dilakukan.
Ash
melepas jabatan lalu meninggalkan taman tersebut tanpa ingin mengucapkan sepatah kata pun, Koraya mengikutinya butut Ash
tanpa bisa menebak apa yang akan datang.
"Good
Luck....." Ucap Light dengan suara yang kecil, meninggalkan taman ke arah
yang berbeda.
Mereka berdua
kembali berjalan di lorong yang sebelumnya mereka lewati, mengingat jalan yang asalnya mereka tempuh.
"Ash.... Kamu tau ga?" Tanyanya.
"Hahh?"
Melirik sedikit ke arah Koraya, mengangkat alisnya bertanya tanya. "Dia adalah salah
satu karakter yang kubuat
penuh dedikasi... Jadi... Mungkin.." Koraya berkata dengan ragunya.
"Lalu...? Aku
takkan dengan mudahnya menyerah kan?"
Senyum Ash menunjukan betapa semangatnya Dia. Walau keringat bercucuran dari wajahnya menunjukan
Dia cemas, namun karena Ash menyukai tantangan, semua kecemasan itu tertutupi
dengan adrenalin.
Koraya melirik ke
arah Ash, menatapnya tersenyum dengan
harapan "Ya tentu saja!".
Mereka sampai di
ruangan tengah semula, di sana
terdapat Edward yang telah menunggu mereka berdua, sambil menjinjing sebuah lentera entah sejak kapan.
"Koraya..
Ash.. Ikuti saya..".
"Lah..
Bagaimana Kamu bisa dengan cepat tau?" Kejut Ash selagi menghampiri
Edward. Kini giliran Koraya yang
mengikuti Ash dari belakang.
"Tentu..."
Senyumnya, Dia membalikan badan ke kanannya "Cepat ikuti Saya ke ruangan Kalian selamanya.."
Edward pergi keluar ruangan tersebut menuju koridor lainnya yang berada tepat
di sebrang koridor sebelumnya. Koridor tersebut
gelap, kelam tanpa penerangan
apapun. Ia menyalakan
lentera kecil yang dibawanya
untuk menerangi jalan.
"Hei Hei!
Tunggu!" Ash mengejarnya sesegera mungkin sementara Koraya mengejarnya pelan pelan, terlihat kelelahan.
"H-hei tunggu sebentar." Saut Koraya dari belakang.
Ash menepak bahu
Edward supaya berhenti sejenak. "Apa maksudmu 'Selamanya' Hah??"
Dengan kesal dan juga dengan bingung bertanya kepada Edward.
"Kesepakatnya...
Kalau Kalian kalah Kamu akan menjadi bawahan Light kan...? Jadi ruangan yang
akan kutunjukan akan menjadi
ruangan Kalian selamanya..." Jawab Edward dengan polosnya tanpa menoleh
sedikit pun ke arah Ash, dan juga Koraya yang sedang berjalan dengan kelelahan
di belakang mereka berdua.
"Liat saja
apa hasil dari duel itu ya... Jangan dulu menentukan hasil sebulum pertandingan
itu dimulai....." Ash menatap Edward tepat diwajahnya.
"Sudah
sudahhhh...." Koraya melerai mereka berdua walau Dirinya tampak kelelahan.
Mereka melanjutkan
perjalanan mereka dalam kesunyiaan, hanya bayangan dan beberapa serangga yang
dapat dilihat oleh mereka. Pada akhirnya beberapa lampu lentera pun mulai
terpasang di dinding koridor menunjukan adanya sebuah keberadaan makhluk hidup
di sana, lebih tepatnya manusia.
"Ini tempatnya..." Ucap Edward,
berhenti di hadapan
sebuah pintu kayu yang bisa
dibilang agak bobrok.
"Ya
sudah..." Ash menghela nafas
berat berat, Ia tampak jengkel atas semua perlakuan yang didapatkannya di sini. Tetapi juga yakin bahwa Dia bisa membalaskan semua
itu.
Edward melanjuti
perjalanannya melalui koridor selagi Ash dan Koraya ditinggal di hadapan pintu
tersebut.
"Yaaa Kita sampai.."
Kata Koraya dengan lemas dan pasrah.
Mereka membuka
pintu dan di dalamnya terdapat dua kasur yang terlihat lumayan nyaman, sebuah
lemari dan sepasang kursi dan meja. Ruangan itu terbuat dari bata bata yang masih kasar. Tidak
terdapat jendela jadi sangat sedikit udara yang masuk, membuat ruangannya tidak hanya sedikit pengap.
"Jadi
bagaimana rencananya Ash...?" Tanya Koraya selagi memejamkan mata lalu
saat Ia membuka matanya, menoleh sebelahnya. Ash sudah tidak ada.
"Zzzzzzzzz......"
Dengan pulasnya Ash tertidur di atas
salah satu ranjang tersebut.
"Ah ya sudah
lah... Lagipula Ox dan Floyd bisa menyelamatkan Kami jika terjadi apa
apa..." Koraya pergi menghampiri kasur yang satunya dan berbaring.
"Tapi semoga
saja Kita menang..." Koraya mengucapkan kata kata tersebut sebelum
akhirnya ikut tertidur.
Beberapa jam
kemudian. Ash dan Koraya sudah tertidur, mengisi energi mereka untuk saat dimana mereka harus mencurahkan
segalanya.
*Tok Tok* Suara
ketukan pintu kamar Koraya dan Ash terdengar, "Ash Koraya... Pangeran
sudah siap untuk bertanding...".
Ujar Edward,
perlahan Ia membukakan pintunya.
Dia melihat Ash
dan Koraya sedang duduk di tepi kasur menatap ke arah Edward. Ash mengeluarkan
api kecil dari tangannya lalu
berkata "Kita siap...".
Mereka keluar dari kamar bersama sama. Mengikuti Edward keluar istana dengan
kesiapan yang matang dan rencana yang sudah disempurnakan.
Sesampainya di luar, mereka dituntun
menuju arena besar yang berada di dekat istana tepatnya di belakangnya.
"Woah.. Gede
banget..!" Ash terpukau. Arena mirip
koloseum itu walaupun besar namun Kita tak dapat melihatnya
sampai Kita menyisi ke pinggir
istana.
Koraya menatap
tajam arena, mengepalkan telapak tangannya dengan erat, hatinya dipenuhi oleh
adrenalin walaupun bukan Ia yang akan bertanding.
"Kita sudah
sampai... Saat nanti Kita di dalam
Saya dan Koraya akan diam di tepi arena sebagai saksi dan Ash silahkan ke tengah arena.." Ujar
Edward di hadapan Arena yang amat besarnya.
Walau
jika dilihat dari jauh terlihat seperti coloseum namun jika dilihat dari dekat
model bangunannya berbeda sekali, terlihat dari bentuk bentuk dinding dan pilar yang sekilas terlihat seperti arsitektur ke Asia-an.
Mereka memasuki
arena tanpa sepatah kata apapun, ketegangan Koraya membuatnya tak bisa mengajak
bicara Edward bahkan Ash. Lalu Koraya berhenti di tepian arena bersama Edward.
Sedangkan Ash melanjuti perjalannya menuju tengah arena.
"Berjuanglah
Ash...! Im counting on you..!"
Teriak Koraya dari kejauhan dengan kedua telapak tangannya di pinggir mulutnya.
Ash memberikan
thumbs up tanpa membalikan badannya,
terlihat gagah karena semua harapan ada di tangannya.
Sesampainya Ash di
tengah arena *Trekk....* Gerbang besi yang amatlah besar terbuka. Gerbang
tersebut berada tepat di hadapan Ash yang berarti gerbang tersebut berada di
arah yang berlawanan dengan pintu masuk mereka sebelumnya.
Light menggunakan
pedang aslinya, juga memakai baju tempurnya
yang bersilau. Keluar dari gerbang tersebut dengan
gagah sama seperti lawannya.
Dia berhenti
sekitar 6 meter di hadapan Ash, menjaga
jarak untuk bertempur. "Apakah Kamu---" Perkataan
Light dipotong oleh Ash. Memotong perkataan orang memang kebiasaannya.
"Tanpa basa
basi... Kamu siap Light..?" Memberikan senyuman sombong yang selalu ditunjukannya untuk menurunkan semangat
musuh.
"Kamu memang
tidak sopan ya... Tentu Aku siap.." Light mengeluarkan pedang putihnya.
Anehnya pedang tersebut mengeluarkan aura yang sangat berbahaya.
"1...."
"2...."
"3...."
"Start!!"
Edward menghitung mundur awal pertandingan Mereka.
Ash berdiam untuk
beberapa detik setelah hitungan selesai hanya untuk mengetes kesabaran lawannya, Light.
"Apa yang Kamu
lakukan...?" Light yang sedang memasang kuda kuda dari awal pertandingan
bertanya kepada Ash.
"Hah..? Lagi
diam memang kenapa..?" Ash bertanya balik, berpura pura bodoh sekali lagi mengetes Light.
"Kamu benar
benar mempermainkanku... Akan kuakhiri
sekarang juga.." Light menatap Ash dengan setengah serius dan juga setengah sombong.
Pedang Light
bersinar terang seperti sumber cahaya yang menerangi sekitar dengan
cerahnya. Light mengucapkan sesuatu dengan halus dari mulutnya,
"Gleaming Slash.." menatap dengan tajam lalu mengayunkan pedangnya
secara vertikal.
Sebuah cahaya
besar keluar dari pedangnya
melaju ke arah Ash dengan sangat cepat seperti pisau besar yang terbang secara
kilat.
Ash terkejut,
segera berpindah menggunakan api yang Ia keluarkan dengan sekejap. Menggunakan
dorongannya untuk berpindah lokasi
dengan cepat.
Sisi arena yang
berada di belakang Ash hancur seketika dan abu bekas reruntuhan dinding
menutupi daerah tersebut.
"Apakah Ash
baik baik saja?! Dia tanpa ragu menghancurkan arenanya.. Apa Dia gila?!"
Saut Koraya dengan kesal.
"Dia baik
baik saja.. Dia berhasil kabur di detik terakhir... Walau Aku heran, selama ini hanya 2 orang
saja yang berhasil serangan maut tersebut dari Light, salah satunya Ash.." Jawab
Edward yang tampak heran.
"Wah...
Semangat Ash..!" Koraya mengangkat lengannya tinggi tinggi, menyemangati
Ash, Ia melihat sebuah harapan sekali lagi.
"Bagaimana Kamu
bisa menghindar?!" Light mulai mengakui
kekuatan Ash.
"Hohohooo...~"
Abu yang asalnya menutupi sisi arena itu mulai memudar, menunjukan Ash di tengahnya dengan api
membaranya. "Sepertinya Kamu yang telah meragukan kemampuanku... Lets have fun!" Ash tertawa kecil, memandang Light tepat ke wajahnya.
"Ahli sihir?
Jadi begitu.. Kali ini Aku akan serius.. Akan kupertaruhkan harga diriku ini sebagai pangeran.."
Light menegakan tubuhnya, menyimpan pedang tepat di hadapannya.
Sekali lagi pedang
Light bersinar terang, Dirinya mulai berlari ke arah Ash.
Ash menutupi kedua
tangannya dengan api yang membara dari ujung jari sampai siku untuk memberi
perlindungan. Light
mengayunkan pedangnya tepat dari atas kepalanya Ash menuju ke bawah untuk
menebasnya secara vertikal. Ash dapat menangkisnya dengan kedua tangannya yang
sudah tertutupi api tersebut. Tekanan yang besar keluar dari benturan antara
lengan Ash dan pedang Light membuat seluruh arena terguncang.
"Tanganmu
kuat juga ya?" Ucap Light menahan pedangnya sekuat tenaga supaya Ash tak
mendapat kesempatan menyerang.
"Oh iya
ini.... Sebenernya Aku juga baru tau..." Balas Ash dengan senyuman licik,
juga selagi keringat bercucuran dari
wajahnya. Ia mendorong pedang Light ke belakang lalu berdiam diri sejenak.
Perut Ash
berbunyi, dengan santainya Ia berkata "Kamu tahu Aku belum sarapan mening
Kita makan dulu.." Sambil memegang perutnya.
Light
mengabaikannya, menancapkan pedangnya ke dalam tanah. "Ground
Breaker..." Selagi enunduk
ke bawah.
Tanah mulai
berguncang di sekitar pedangnya, tentu
terkecuali tempat dimana Light sendiri berdiri.
"Oh cmon.." Ash menghela nafas. Ia melompat
ke udara lalu mengeluarkan sayap api. Dirinya
melayang di udara dan bilang "Kalau seperti itu
Aku juga punya jurus tunggu saja.." Ash memberi tawa kecil.
Ash mengangkat
sebelah tangannya, mengeluarkan bola api yang merah membara. Dia menyebutkan "F-fire... ummm..
Fire Fire puw paw puw.." lalu melemparkan bola itu ke arah Light setelah kebingungan
memikirkan nama.
Bola api tersebut
melaju ke arah Light dengan cepat. Dia
berniat untuk menangkis namun saat melakukannya bola api tersebut meledak,
menghasilkan banyak api dan asap.
Ash turun kembali
menuju daratan, setelah itu menghilangkan seluruh
api
apinya. "HAHAHAHA!! Makan tuh!" Ash menertawakan Light, menunjuk ke
arah asap dimana bola
api itu meledak.
Secara mendadak,
Light berlari dengan cepat dari asap tebal itu menuju Ash. Dipenuhi luka lecet
ringan dan juga debu asap.
Sampai di hadapan Ash, sebelum bisa melakukan apapun. Menahan lengan Ash yang
menunjuk ke arahnya lalu meletakkan pedang di lehernya.
"Aku telah
menang tak ada cara lagi untuk kabur... SkakMat" Light perlahan membisikkan perkataannya ke sebelah telinga Ash.
Seluruh keadaan
arena menjadi sunyi seketika, sebuah keadaan tak terduga bagi Koraya terjadi.
Padahal Ash sudah unggul dari awal pertandingan.
"A-apa yang
terjadi..?" Koraya menoleh kebingungan.
"Light
menang!!" Edward mengepalkan, mengangkat tangannya ke udara.
"Kamu pasti
bercanda..." Koraya terpaku, matanya memandang kekalahan yang sudah pasti. Ash menatap Light dengan
mata hampa. Light melepaskan tangannya, menurunkan pedang. Ash terjatuh, putus
asa.
Light memalingkan
diri, berkata "Kembali keruangan.. Nanti Edward akan menyiapkan kebutuhan
kalian.. Nanti--"
"Kamu
bercanda..!!" Ash menggelengkan kepalanya, kesal. Ia memenuhi sekitarnya dengan
api yang membara.
Koraya menutupi
matanya dengan sebelah lengan. "Oi..!!" Edward mengeluarkan pedang,
menatap Ash dengan sangat waspada.
Light mengangkat
tangan kanannya, memberi kode kepada Edward untuk tetap diam
dalam posisi. Membalikan badan, mengucapkan
"Ku beri kesempatan terakhir..".
"A-apa?
Tunggu pangeran...!" Edward membantah perkataan Light.
"Apa..?"
Api apinya perlahan lahan memudar.
"Serangan
pertamaku tadi.. Jangan
menghindar,
tahanlah.. Jika Kamu berhasil selamat,
Aku akan memasuki team apapun itu.." Light mengangkat kembali pedangnya.
"Kamu sudah
gila Light..?!" Edward segera menghampiri Light dan Ash.
"Wah Aku senang
Kamu memanggilku tanpa formal kali ini..!
Jadi ingat dulu.." Light tertawa.
"Bodoh, Ash
bisa mati jika mengenai seranganmu itu secara langsung..!" Edward
menghilangkan formalitasnya yang selalu
Ia gunakan.
"Mati..?!"
Koraya yang tadi sedang berjalan
menuju mereka,
baru saja tiba.
"Iya Aku tahu..
Tapi Ash tidak selemah itu kan?" Light menoleh kepada Ash, memberikannya
senyuman yang misterius.
"Tentu.."
Ash kembali bangkit, perlahan tapi
pasti. Semangat
dalam hatinya tampak bangkit kembali.
"Kalian sudah
gila.." Edward membanting tangannya kesal.
"Ash.. Kamu
yakin..?" Koraya perlahan menghampiri Ash yang sedang mempersiapkan Dirinya sekali lagi.
"Tentu saja..
Akan kuakhiri pertandingan yang kuawali ini sekarang
juga.." Ash tertawa, walau Ia terlihat sedikit ragu akan apa yang Dia setujui.
"Kamu
siap..?" Light menyiapkan kuda kuda. Di
sudut lain Koraya dan Edward menyisi ke pinggir arena, tempat mereka menonton awal pertandingan.
"Ya..."
Ash mengeluarkan, lalu mempertebal api di daerah tangannya. Ia menyimpan kedua
tangannya di depan dan menyilangkannya.
Light mengangkat
pedangnya tinggi tinggi lalu menebas udara secara vertikal. Sama seperti sebelumnya, cahaya besar melaju ke
arah Ash.
Ash kali ini tidak
diperbolehkan untuk menghindar, Ia memperkuat kekuatan kakinya untuk menopang
dan kekuatan tangannya untuk berlindung.
cahaya tersebut
diam tepat di hadapan
Ash, tertahan oleh kedua tangan Ash yang diselimuti api. Tekanan dari cahaya
tersebut sangatlah besar sampai sampai pijakan Ash mulai retak dan perlahan hancur.
"Ayolahhh...!!"
Koraya memohon dalam hati.
Cahaya itu
perlahan menembus api, meninggalkan sedikit luka di tangannya.
"AYOO..!!"
Ash berteriak, Ia mendorong kakinya menambah tenaga. Sampai akhirnya cahaya
tersebut puda dengan sendirinya, seperti
sebuah kabut putuh yang tertiup angin.
"Haa...
Haa.." Ash menghilangkan api di tangannya lalu melemaskan kedua tangannya.
"Yang benar
saja..?" Edward terheran heran,
mulutnya terbuka lebar terkejut, matanya tidak dapat tertutup kebingungan.
"MANTAP..!!"
Koraya membanting tangannya, lalu
melompat dengan senang sekali.
"Hohoo..
Sudah kuduga Kamu bisa menahannya.." Light tertawa, perlahan Ia menghampiri
Ash. "Sesuai janji Aku akan memasuki organisasimu..".
"Pangeran.. Kamu
benar benar akan meninggalkan kerajaan..?" Edward menghampiri mereka bersama Koraya.
"Tenang, Aku takkan
selamanya bersama mereka.. Suatu saat nanti Aku akan kembali ke kerajaan ini.. Kamu
adalah mentorku.. Selama Aku pergi jagalah kerajaan ini.." Light
mengulurkan tangannya ke arah Edward.
"Ha... Apa
boleh buat.." Edward tersenyum, menjabat tangan Light.
"Ah iya tadi
ada berapa anggota dari organisasi ini..? Adakah orang yang lebih kuat dari
Ash..?" Light menghadapkan diri ke arah Koraya dengan wajah yang ingin tahu.
"Ah..
kesatu.. sebenarnya baru ada lima anggota termasuk Kamu.. Kamu adalah salah
satu anggota pertama... Dan kedua ada..!" Ash menjawab pertanyaan Light
itu dari tempat lain.
"Siapa?"
Light menoleh secepatnya kepada
Ash.
"Kamu.."
Jawab Ash,
senyum ragu.
"Ah..."
Light menepak dahinya sendiri dengan kesal. "Kalau begitu
selamat datang Light...!" Koraya mengulurkan tangannya, menerima hangat kedatangan sekutu barunya itu.
"Ya terima
kasih..." Light mengangkat, lalu menjabat tangan Koraya erat ert.
Light mengadakan
sebuah pengumuman dadakan namun besar besaran terhadap para rakyat di sana. Setelah mengucapkan
sebuah pidato, para rakyat menerimanya.
Mereka berkeliling
menemui kenalan dekat Light, bahkan sampai mengucapkan selamat tinggal
sementara kepada semua
prajurit dan penjaga di istana.
Mereka kembali ke
dalam istana untuk memasang portal pulang. Seperti saat dating, Koraya menekan tombol pada portal deployer, lalu munculah portal.
"Jadi ini
alat transportasi perpindahan dimensi..." Light berpikir terheran heran.
"Hei sebelum
Kita masuk... Kenapa Kamu memberi Ash kesempatan kedua, Light?" Tanya
Koraya. Walau Ia bersyukur, Dia tetap tidak bisa memikirkan
alasan akan hal itu.
"Aku mengakui kekuatannya.. Jadi
Aku mencoba mengetesnya sekali lagi.."
Jawabnya, tidak menengok sekali
pun ke arah Koraya maupun Ash, hanya
memandang ke depan dengan serius.
"Ah... Terima
kasih..." Ash tersipu malu.
Koraya memasuki
portal terlebih dahulu, disusul Ash, dan Light terakhir. Selagi kerabatnya
melambaikan tangan dari belakang. Light membalas dengan senyuman, juga lambaian yang tulus kepada kerajaannya yang pernah Ia pimpin.
Team recruit saga
Part 4 : The water bender
Saat mereka sampai
disisi lain, mereka disambut dengan Ox yang sedang menghias tenda di halaman.
Juga Floyd yang sedang duduk di depan pintu rumah menyender kepada pintu, dan
sebelah kakinya di tekuk.
Koraya segera
menekan kembali tombol pada portal deployer sesaat semuanya telah tiba. Ash
menengok terkejut, "Floyd.. Kamu kembali!" Ujarnya lantang.
"Ya ya..
Kalau dipikir pikir Aku tak punya tempat tinggal disini..." Floyd menghela
nafas panjang lalu menunduk.
"Aku tahu Kamu
akan kembali..!" Senyum Koraya. "Tch.." Floyd segera menundukan
kepala lebih rendah lagi, malu.
"Oh Ox jadi
tenda markasnya..?" Tanya Koraya, menghampiri Ox.
"Tenang
tampak luarnya memang begini tapi berbeda di dalam.." Ox menggaruk
telinganya. "Oh ya Koraya tadi ada orang kesini yang mencarimu... Dia mengatakan
takdir mimpi apalah Aku juga tidak tahu.." Ox mengangkat kedua bahunya.
"Sekarang Dia
dimana?" Tanya Koraya, memiringkan kepalanya.
"Didalam
rumah mu.." Tangan Ox menunjuk ke arah pintu yang disenderi Floyd.
"Yang benar
saja! Kamu tidak boleh mengijinkan orang masuk tanpa sepengetahuan pemilik
rumah..!!" Jawab Koraya dengan kesal, tubuhnya menyondong sedikit kepada
Ox.
"Ohh
Maa--" "Sudahlah biar kuurus..." Koraya mengipas ngipas udara
dihadapannya dengan maksud 'Jangan hiraukan'.
Koraya menghampiri
pintu depan rumah, Floyd yang sedang bersandar menyisi. Saat membukanya, Ia melihat
seseorang dengan jaket jeans, membawa backpack. Dia berambut coklat keemasan
yang panjang. Wajahnya terlihat sangat muda, mungkin di bawah Koraya. Dirinya tengah
duduk di ruang tamu.
"Halo?"
Ujar Koraya perlahan sesaat telah menginjakan sebelah kakinya ke dalam
rumahnya.
Orang itu
mengangkat kepalanya, tersenyum, "Hai..".
"Kamu
siapa..?" Koraya bertanya dengan seserius mungkin.
"Oh ya betapa
tidak sopan nya Aku..." Orang tersebut bangkit dari duduknya, "Namaku
Habiki... Apakah Kamu pemilik rumah ini??".
Dari postur
tubuhnya dan wajah yang terlihat lebih jelas kini terbukti kira kira Habiki berada
di bangku SMP. Tingginya di bawah Koraya.
Habiki mengulurkan
tangannya untuk bersalaman dengan Koraya. Koraya menghampirinya, menjabat
tangan, dan berkata. "Ya... Namaku Koraya... Apa Kamu ada perlu..?".
"Oh iya Aku ingin
memberi tahumu sesuatu.." Habiki melepas jabatan tangan Koraya.
"Kalau begitu
mari Kita duduk dahulu..." Mereka duduk bersamaan di sofa yang berhadapan.
"Emmm jadi
begini... Saya telah mengalami banyak mimpi tentang rumah ini... Sejak 2 bulan
yang lalu... Saya juga bermimpi tentang anda... Dan orang berkacamata yang ada
diluar... Tapi beberapa hari yang lalu mimpi saya menjadi jelas... Alamat rumah
ini pun tercatat dalam mimpiku..." Jelas Habiki.
"Mengerikannn...
Ia mengetahui alamat ku..." Ucap Koraya dalam hati sambil membuat ekspresi
kAku.
"Jadi untuk
beberapa hari kemarin saya menyelidiki alamat ini dan mencoba untuk datang...
Dan disini saya sekarang.." Lanjut Habiki lalu berhenti sejenak.
*Ehem*
"Terus.... Apa yang akan Kamu lakukan sekarang....?".
"Aku kurang
tahu..." Habiki tersenyum ragu. "Aku harap ini takdir atau
apalah..".
Sontak Ash membuka
pintu secara, lantangnya suara benturan pintu tersebut terdengar oleh Koraya
dan Habiki yang berada di dalam rumah.
"Korayaaa...
Yu Kita mengumpulkan anggota lagi..." Kata Ash, berbicara seperti seorang
anak yang mengajak temannya main.
"Sekarang?!"
Koraya terkejut, perlahan lahan Ia berdiri.
Habiki membalikan
badannya perlahan. Sesaat Dia melihat Ash, Dirinya terkejut "Aku melihat
Mu juga di mimpiku ..!" Berbicara dengan lantangnya.
"Ehh mimpi apa?"
Ash menoleh sedikit, melirik ke arah Habiki.
"Itu
mimpi--" "Nanti saja menjelaskannya... Kita akan pergi dulu... bisa Kamu
tunggu beberapa jam??.." Koraya menghampiri Ash lalu menyeretnya keluar.
"Ya bisa
saja.... Akan kutunggu..." Habiki tersenyum sabar.
"Kalau mau
minum ambil saja sendiri Ok?... Ayo Kita pergi Ash..!". "Ayooo...
Selanjutnya siapa...?" Ash dengan paksa melepas tangan Koraya yang
menyeretnya setelah tiba diluar.
"Menurutku...
Ayo Kita jemput Austin.." Ujar Koraya.
Koraya dan Ash segera berjalan menjumpai, menghampiri Ox.
"Ox... Tolong
setelkan portal deployer ini ke dimensinya Austin..!" Koraya melemparkan
portal deployer tersebut kepada Ox dari kejauhan.
"Kamu sudah
mau pergi lagi?!" Ox menangkapnya dengan kedua tangan. " Ya sudah...
Dimensi seperti apa Austin berada..?" Ia mengutak ngatik portal deployer.
"Ah
sepertinya dunia sihir..? Dia mempunyai kekuatan air.." Koraya menggaruk
leher belakangnya.
"Oh begitu...
Tunggu sebentar..". Sementara Koraya dan Ox sedang berbincang Ash
menghampiri Light dan Floyd yang terlihat seperti sedang duduk bersama sambil
berbicara.
"Heyyaaaaaa....
Ga ngajak ngajak.." Saut Ash di hadapan mereka berdua.
"Kita cuman
kenalan kok..." Jawab Light, menengok ke arah Ash menunjukan senyuman.
"Oh kalau
begitu apa Kalian berdua mau ikut menjemput anggota baru...?" Tanya Ash
dengan sangat antusias.
"No thank
you... " Jawab Floyd dengan ekspresi datar.
"Ga nanya ke Kamu....
Bagaimana Light..?!" Tanyanya setelah melirik sebentar ke arah
Floyd.
"EHH?! KAMU
BILANGNYA Kalian BERDUA BODOH..!!!" Floyd berdiri, mendekati Ash sambil
menatapnya kesal.
"HAAA? SIAPA
BILANG??" Mereka berdua saling menatap dengan emosi selagi mengangkat
kepalanya sedikit.
"Sudahhh...
Dengan senang hati Aku akan ikut Ash..." Light berdiri, melerai mereka
dengan lengan kanannya yang diletakan di antara mereka. "Lagi pula
Aku selalu penasaran dengan kekuatan orang lain..".
"Sungguh?!..
Ehem.. Ok.." Ash yang sedang kesal perlahan mereda seperti tidak ada yang
terjadi.
"Haaaa..."
Floyd duduk kembali, melipat kedua tangannnya di depan dadanya dengan kesal.
"Apa Kamu
sudah siap Ash??" Saut Koraya sambil perlahan menghampiri Ash.
"Yaaaa tentu
saja... Light juga mau ikut..!" Ash menunjuk kepada Light yang berada di
belakangnya dengan jempol.
"Oh ya sudah
kalau begitu... Ayo Kita pergi ke dimensi 81...!" Koraya memasang portal
dari portal deployer lalu masuk bersama Light dan Ash tanpa basa basi apapun.
Sesaat mereka
menginjakan kaki satu persatu disisi lain, mata mereka dimanjakan oleh sebuah
pasar sihir yang biasanya hanya terdapat di sebuah film film fantasi berkisah
tentang penyihir dan goblin.
"Woaaaahhh.....
Keren bangettt..... Aku sangat terkejut..." Ash mengungkapan ekspresi yang
sesuai dengan perkataannya.
"Sebenarnya
ini tidak jauh dengan di kerajaan ku..." Jawab Light dengan polosnya.
"Shhhh..."
Ash meletakan jarinya di bibirnya lalu mendesis sekencang mungkin.
"Ah..."
Light berespon datar, Ia baru saja sadar telah meledek Ash secara tak langsung.
Mereka berjalan di
pasar tersebut untuk beberapa saat. Melihat pemandangan yang hampir sama dengan
kerajaan Light namun dengan hal yang tidak biasanya ada. Seperti tongkat sihir,
buku sihir sampai ramuan ramuan aneh yang berwarna warni.
Mereka berjalan
dan menanyakan menanyakan pertanyaan ke para penduduk tentang keberadaan
Austin, OC dari Koraya.
"Selamat
pagi... Apa anda mengenal penyihir bernama Austin..?" Tanya Koraya kepada
seorang Ibu ibu yang kebetulan sedang lewat.
"Maaf saya
tidak tahu..." Ibu ibu tersebut lewat begitu saja setelah ditanya.
"Tunggu..
TUNGGU... OC Mu SEORANG PENYIHIR...?!" Kejut Ash yang baru saja menyadari
sesuatu tentang Austin.
"Shhhhh...!
Jangan keras keras..!!" Koraya perlahan berbicara sambil menutup mulut
Ash.
"Kamu tahu
kau selalu terkejut akan hal kecil." Light sedikit melirik ke arah Ash.
"Shhhhh...
" Ia menurunkan tangan Koraya lalu Sekali lagi meletakan jari diatas bibir
tapi kali ini di atas bibir Light.
"Kamu tahu
Aku ini bangsawan...?!" Jawab Light perlahan menurunkan tangan Ash sambil
memberi senyum kesal.
"Tentu...!!
Aku juga bangsawan..." Ash melepaskan lengan Light darinya.
"Benarkah?"
Light mempercayainya, Ia terkejut.
"Ga.."
Jawabnya dengan polosnya.
"Begitu."
Respon Light, menatap ke bawah dengan tatapan hampa.
"Sudahhhh...
Mari Kita lanjutkan..." Koraya menyempil tepat diantara percakapan mereka
untuk melerainya.
Mereka melakukan
perjalanan, menanyakan keberadaan Austin satu persatu kepada penduduk tapi
tidak ada satu pun rakyat yang tahu.
"Kayanya Kita
salah dimensi deh... Balik yagi yu... Males.." Ucap Ash dengan keringat
yang bercucuran darinya.
"Ngga
mungkin.. Pasti benar kok...!" Dengan positifnya Koraya menjawab.
"Kalau
begitu---" Tiba tiba seseorang berlari dengan cepat menabrak mereka yang
sedang berjalan bersampingan. Orang tersebut memakai jubah hitam membawa sebuah
dompet. Kakinya terlihat bercahaya seperti diberi sihir.
"Malingg...!!!"
Seorang wanita teriak dari belakang Koraya dan yang lainnya, menunjuk nunjuk
orang yang berlari tersebut.
"Akhirnya ada
sesuatu yang rame...." Ujar Ash selagi tersenyum dan melakukan stretching.
"Oi apa
maksudmu rame?!" Tanya Koraya setelah menengok ke Ash dan saat melihat ke
arah Light, Dia telah mengeluarkan pedang dan berkata "Tentu saja"
Sambil tersenyum.
Ash mengeluarkan
api dari kedua tangannya disertai dengan sayap api.
Light berlari
dengan cepat menuju maling tersebut lalu mengayunkan pedangnya dari atas untuk
mengenai maling tersebut. Namun maling tersebut menagkis dengan semacam sihir
proteksi yang ada di telapak tangannya. Pedang Light terpantulkan membuat
badannya pun ikut terbawa.
Ash berusaha
terbang menyusulnya mencoba untuk mengepungnya dari depan dan juga belakang.
"HAHAHA KAMU
TIDAK AKAN BISA MENGALAHKANKU...!!" Teriak orang tersebut mengeluarkan
sebuah pedang sihir yang bercahaya dari udara.
Tapi tanpa
sepengetahuan maling tersebut Light menerkamnya dengan meletakan pedangnya
disekitar leher orang tersebut dari belakang.
"Letakan
pedang itu, serahkan dompet itu dan Kamu tidak akan melukai siapapun!!"
Dengan tegas layaknya seorang pangeran.
"I-iya iya
tunggu..." Katanya terbata bata.
"Tunggu
tunggu sekalian..." Ash menghilangkan apinya untuk menghampiri orang itu.
"Apa Kamu
mengenal Austin?" Tanya Ash dengan datarnya.
"Kamu sempet
sempetnya....." Ujar Light sambil membuat muka jengkel.
"M-maksudmu
penjual bir illegal itu..?" jawab orang tersebut dengan kAku.
"Hahhh??!!"
Jawaban tersebut membuat Ash dan Light terkejut secara bersamaan.
“Beritahu Kami detailnya..!”
Light melepaskan pedang dari leher pencuri tersebut namun kedua tangannya masih
ditahan.
“I-iya..” Dengan kAku
Ia menjawab.
Penjaga penjaga
daerah situ segara datang untuk menangkap maling tersebut. Mereka berterima
kasih kepada Ash dan juga Light. Kembali lagi ke tempat Koraya berada.
"Apa yang
Kalian pikirkan?!! Kalian bisa dalam masalah besar..!" Dengan kesal, Ia juga
terlihat sangat kecapean seakan akan, telah mencoba mengejar sang pencopet juga
tetapi kurang cepat.
"Gak rugi.."
Ash menggaruk telinga panjangnya dengan kelingking seolah olah, tidak peduli.
"Hhhhhh..."
Koraya mergumam.
"Lewati
tindakan kami... Kami mengetahui siapa dan dimana Austin..." Light
memasukan pedangnya untuk menceritakan kejadian tersebut lebih detail lagi
kepada Koraya.
"Hahhh?!
Bagaimana..?!" Koraya mengakat kepalanya beberapa derajat dengan terkejut.
"Ash dengan
nekatnya menanyakan tentang Austin kepada maling tersebut... " Sambil
menunjuk ke arah Ash, Light menggeleng kepalanya. Ash pun tersenyum, membuat
tanda peace dari tangannya.
"Ampun.... Ya
sudah mari Kita cari... " Jawab Koraya setelah menghela nafasnya dalam
dalam.
"Ayo... Dia
ada di rumah yang terletak di daerah sini... Dan satu hal lagi..." Light
menunjukan telunjuknya.
"Dia itu
penjual bir illegal.." Memandang Koraya untuk mengetahui ekspresi yang
akan ditunjukannya.
"Hah...?!"
Koraya Terkejut dan menunjukan ekspresi yang unik membuat Light sedikit
tertawa. "Sepertinya yang lebih sering terkejut sekarang adalah Kamu
Koraya.." Ujar Ash, Ia mengangkat kedua alisnya.
"Tentu saja
siapa yang tidak terkejut akan hal itu?!" Tanya Koraya dengan menunjuk
Ash.
"Aku
lah.." Ash dengan sombongnya, Ia berbohong.
"Kamu juga
kaget.." jawab Light menjitak Ash dengan keras.
"Diam plis
lah ya..." Ash kehilangan kepercayaan dirinya, memandang kebawah dengan
kesal.
"Sudah
sudahhhh Ayo Kita cari..!" Ajak Koraya kepada mereka, melambaikan
tangannya ke depan dan belakang.
"Yossshhh..!"
Jawab mereka berdua dengan semangat.
Mereka bertiga
berjalan di sekeliling mencari lokasi yang telah diberikan oleh pencuri tadi
itu. Dengan Light yang memimpin di depan dan Ash yang berjalan bersebelahan
dengan Koraya. Pada akhirnya mereka sampai di tempat yang telah diberi tahu
tadi.
"Apa ini
tempat yang benar......?" Tanya Ash dengan sangat kebingungan, Ia menunjukan
wajah yang sangat menyebalkan, yang sangat meremehkan.
Lokasi itu
menunjukan sebuah rumah kotor dengan spanduk yang bertulisan "Home Decor
Ala Me". Dinding depannya terbuat dari batu bata yang hampir rubuh lalu diganjal
oleh beberapa batang kayu.
"Apa apaan
arti dari spanduk tersebut..." Keluh Ash sekali lagi menunjukan ekspresi
yang membuat kesal.
"Sudah sudah
mari masuk.." Ujar Light. Dia membuka pintu lalu masuk pertama memimpin
Ash dan Koraya.
Didalam rumah tersebut
terdapat peralatan peralatan dekorasi rumah dan banyak botol kaca yang sudah
kosong. Interior rumah itu terlihat sangat kumuh dan sangat tua. Di ujung
ruangan itu terdapat meja dan kursi yang tertulis nama Austin yang dicoret
dengan spidol merah.
"Halo..?"
Suara Koraya sedikit bergema di ruangan tersebut, walaupun berbicara dengan
pelan suaranya tetap bisa terdengar dari segala penjuru ruangan.
*Bruk!!* Suara
seseorang yang kepalanya terbentur meja terdengar oleh mereka bertiga.
"WIS
WIS..!!" Ash terkejut, ketAkutan, dengan refleks Ia pergi memeluk Light
dengan terburu buru.
Koraya pun
terkejut tapi tidak separah Ash. Di sisi lain Light hanya menggerakan sedikit
kepalanya.
Ash perlahan
menengok menuju wajah Light yang sedang dipeluknya lalu melepaskan pelukannya
sesegera mungkin. "Ehem... Kesalahan Teknis." Ash membuat batuk
paksaan.
Light hanya
menggelengkan kepalanya perlahan kesal. Pandangannya terfokus kepada sumber
suara tersebut.
Tiba tiba terlihat
sebuah tangan yang menyentuh bagian atas meja. Perlahan lahan seseorang
terlihat setelah tangan tersebut. Orang tersebut terlihat baru saja bangun
tidur karena bangkit dengan kAkunya. Dirinya memakai jubah biru yang tebal,
rambutnya coklat kegelap gelapan dengan belakang rambutnya diikat.
"O-oh Hii...
G-Gw Austin..~" Ucapnya dengan linglung.
"Oh no he's
drunk.." Ash memutarkan bola matanya dengan kAku.
"Ngga kali
dia cuman baru bangun tidur." Ucap Koraya, menengok ke arah Ash
secepatnya.
"Hah
drang?~" Jawab Austin dengan lemasnya.
"Sudah
terbukti...!" Ash menunjuk lalu menengok ke arah Koraya. Dirinya melirik
ke Ash dan kembali melihat ke arah Austin.
"Austin..?"
Tanya Koraya perlahan, Ia menghampirinya pelan pelan.
"Ok.. Ada
apa..?~" Jawab Austin sambil menggaruk lehernya dengan tangan kanan.
"Ok dia pasti
mabuk berat.... " Bisik Koraya kepada Light dan juga Ash tapi bisikannya
terlalu kencang membuat Austin mendengar perkataannya.
"Hahh?? Of
course not~~" Jawab Austin sambil mengangkat salah satu botol minumnya
dari meja.
"Hadeuh...
Kalau begitu... Kamu mau masuk team Kita ga di dimensi lain..?" Tanya Ash,
mengulurkan tanganya setelah menghembuskan nafas dari mulutnya.
Austin meletakan
botolnya sekencangnya, memukul meja dengan kedua telapak tangannya
semangat. "Hahh??? Berarti Aku akan pergi dari tempat ini??!!" Austin
Terkejut, suaranya terlihat lebih lancar dari biasanya dan wajahnya pun tampak
segar seketika.
"S-sepertinya
efek mabuknya ilang.." Dengan bingung, Ash tertawa dengan pelannya sampai
tak ada seorang pun yang mendengarnya.
"Ya Kamu akan
tinggal di tempat kami." Koraya menjawab pertanyaannya.
Austin berlari
menuju sebuah pintu yang ada di ujung ruangan dan masuk secara tiba tiba. Saat
masuk Ia berteriak "Beri Aku 1 jam Kalian boleh jalan jalan lagi... Nanti
mari bertemu lagi didepan rumah ku!!".
"Oh ya sudah
ayo kita---" Ucapan Ash dipotong oleh Austin yang sontak mengintip dari
balik pintu tersebut.
"Jangan sebut
sebut nama Austin.. " Saut Austin sambil tersenyum. "Kalau iya awas
saja..!" Kali ini dengan senyum sinis. Dirinya membanting pintu tersebut
dengan kencang.
"Iyeeee..!!!"
Ash berteriak dengan kesalnya.
"Gw
denger.!!!" Jawab Austin dari balik pintu tersebut walaupun suaranya
terdengar tertahan oleh pintu tetapi tetap terdengar dengan lantang.
"Tch.... ayo.."
Ash mengajak Koraya dan Light untuk pergi berkeliling untuk sementara waktu,
mereka meninggalkan tempat tersebut. Berjalan di sekeliling tidak jauh dari
rumah Austin supaya tidak tersesat dan supaya bisa mengenal tempat jika perlu
apa apa.
Beberapa menit
berlalu, mungkin sudah 15 menit. "Lama bangettt..." Keluh Ash, Dia
jongkok memegang kepalanya tepat ditengah jalan.
Orang orang yang
sedang berjalan memandangi Ash dengan keanehan tapi mereka tidak mengucapkan
sepatah kata pun.
"Hei.. Ini
ditengah jalan.." Koraya dan Light melihat Ash dengan kebingungan namun
kesal. Sementara itu semua orang yang sedang lewat menyisi supaya tak menabrak.
*Ngung---* Suara
yang lantang terdengar dari langit membuat semua orang terkejut dan melihat ke atas
termasuk Ash yang sedang jongkok.
"Apa..?"
Ash dan yang lainnya memandang sebuah kapal yang terbang diatas kepala mereka
semua. Bentuknya menyerupai drone.
Tapi anehnya
kenapa ada drone sebesar itu.
Sontak banyak tali
yang turun dari kapal tersebut disusul oleh banyaknya orang menuruninya.
Orang orang
tersebut memakai baju serba hitam dan memakai topeng gas yang sangat aneh.
Mereka membawa senjata yang bermacam macam jenisnya. Pedang, tombak, namun
mayoritasnya menggunakan senjata api.
"Angkat
tangan!!!" Semua dari mereka mengarahkan pistol dan senjata kepada orang
orang di sekitar.
Penjaga penjaga
disekitar berusaha melawan, namun kebanyakan dari mereka dikalahkan oleh
senjata api.
Ash tersenyum lalu
berbisik perlahan kepada Dirinya sendiri sambil jongkok, "Menarik..".
Semua orang
disekitar mengangkat tangannya termasuk Light, Ash, dan Koraya yang sedang
berada di dalam kerumunan orang. Dan juga para penjaga juga takluk.
"Apa apaan
senjata itu..?" Light mengacu pada senjata api yang tadi mengalahkan
banyak penjaga.
"Senjata api,
pistol, atau apapun namanya.. Sebuah senjata mematikan yang bisa mengahiri
nyawa hanya dengan menarik pelatuk..." Ash mengetahui senjata itu.
"Mengerikan..
Sekarang Ikuti dulu.." Light perlahan berbisik kepada Ash. "Aku
tahu..." Jawabnya dengan senyuman liciknya.
"Semuanya
duduk dan letakan tangan Kalian dibelakang kepala..! SEKARANG!!" Salah
satu dari banyaknya tentara memerintah para rakyat untuk menunduk.
Semua orang
terlihat sangat ketAkutan dan menurut. Walaupun ini dunia sihir tapi sepertinya
tidak semua orang bisa melakukannya. Mereka semua duduk perlahan dengan senjata
diarahkan kepada mereka.
"SIALAN..!!!"
Seorang bapa bapa tidak kuat menerima kenyataan, Ia tidak menuruti perintah
mereka. Menyerbu dengan serangan es ke arah salah satu penjahat yang memakai
seragam hitam tersebut. Penjahat itu terkejut saat melirik ke arahnya. Tetapi
tahu tahu seorang laki laki berlari dengan kecepatan tidak normal untuk
menangkis serangan tanpa kesakitan.
Ia berhenti lalu
melirik ke arah bapa bapa itu. Dirinya memakai mask yang berbeda dari yang
lain. Yang lain memakai gas mask yang menutupi seluruh wajahnya tapi punyanya
hanya menutupi bagian mulut nya saja. Ia memakai tanduk rusa palsu di kepalanya
dan baju kulit hitam. Rambutnya panjang Berwarna biru tua dan warna matanya
merah darah.
"Apa
a-apaan..??" Koraya syok, walaupun telah melihat kekuatan dari Light dan
Ash. Ia baru saja melihat kecepatan yang tak wajar.
"Dia cepat
sekali... Aku sampai tidak tahu dari mana datangnya dia..." Light pun
sampai terkejut.
Ash tersenyum
kesal kepada situasi yang dialaminya tersebut.
"Oi Kamu...
Jangan lakukan itu lagi.." Orang dengan tanduk rusa itu melambaikan
tangannya.
"TCH..."
Bapa itu mulai menyerang dengan banyak serangan es yang bertujuan untuk melukai
orang tersebut. Namun semua serangannya dihindarinya dan orang bertanduk rusa
tersebut menghampiri bapa itu dengan cepat lalu mematahkan lehernya.
Walaupun orang
tersebut tak membunuhnya tapi teknik tersebut dalam kemiliteran terkenal cukup
mematikan, cukup untuk hanya melumpuhkannya.
"Ada orang
lain yang mau bernasib seperti dia...? Tidak kan..." Ucapnya untuk
menunjukan ancaman, untuk menunjukan kekuasaanya.
Sontak seorang
perempuan yang memiliki gas mask serupa seperti orang rusa itu berjalan
mendekatinya. Dia memiliki rambut biru langit yang pendek. Tubuhnya pendek dan
warna matanya sama dengan warna rambutnya. Tapi anehnya dia mengenakan baju
tidur kelinci.
Dirinya dikawal
oleh banyak orang, lalu dia berhenti disebelah orang rusa itu. Berdiri tegak
dihadapan para orang orang yang sedang duduk menunduk.
"Komandan 7
Usagi, Komandan 2 Shika selamat datang..!" Salah satu penjahat
mengucapkannya dengan tegas dan hormat.
Semua orang yang
memakai pakaian hitam dan gas mask pun memberi hormat pada mereka berdua.
"Ko... Man..
Dan..?!" Koraya, Ash, dan Light mengucapkan hal yang sama dengan terkejut.
Semua penjahat
terlihat sangat hormat kepada Shika dan Usagi seakan akan jabatan mereka berdua
jauh diajas mereka. Semuanya terlihat tegak dan tegang dihadapan mereka berdua.
"Aaaa...
Sekarang Kalian boleh mulai mencari ramuan dan alat sihir sesuai
rencana.." Ucap Usagi dengan nada lucu dan imut layaknya seorang anak
kecil.
Semua pasukan
penjahat tersebar luas ke semua warung warung yang berada disisi jalan, mulai
merampas barang barang warga, dari mulai ramuan dll. Sementara itu para
warga terdiam tak bisa melakukan apapun setelah datangnya Shika dan Usagi,
semuanya terpAku ketAkutan.
"Satu...."
Ash berbisik. "Dua....." Dilanjut oleh Light yang berada di sisinya.
"Bodoh apa
yang Kalian lakukan?!" Sentak Koraya dengan bisikan berusaha supaya tidak
ketahuan.
"Tiga!"
Mereka berdua mengatakannya bersamaan dengan serentak.
Ash berdiri lalu
mengangkat kedua tangannya. "Bisa Aku meminta sesuatu..?" Tanyanya
dengan pandangan ke arah Shika.
Semua prajurit
bertopeng gas mengarahkan senjatanya ke arah Ash. Usagi mengangkat tanganya
untuk memberi kode supaya para prajurit menurunkan senjatanya.
"Apa yang Kamu
mau...?" Ujar Shika, Ia perlahan memiringkan kepalanya ke arah yang agak
aneh.
"Aku
mau...---" Secara mendadak usagi berlari ke depan Shika, meletakan
tangannya di depan. Dirinya memfokuskan pandangannya menuju Ash.
"Mengalahkanmu.."
Light berdiri dengan gesit dan menyerbu Usagi. Shika yang tak menyangkanya,
terkejut, tetapi Usagi sadar. Ia menghindari serangan pertama Light lalu
menangkis serangan kedua Light dengan pedangnya yang Dia tarik dari dalam baju
tidurnya.
"Indra Mu sangat
tajam ya.." Light menahan pedang Usagi dengan sekuat tenaganya. "Apa
apaan... Dari mana pedang itu asalnya.." Light memikirkannya dalam hati.
"Tentu saja.."
Usagi mendorong pedangnya, Light pun terlontar kebelakang.
"Tch terlalu
banyak orang disini untuk mengeluarkan kekuatan pedangku.." Light berpikir
keras.
Ash kemudian
berlari ke arah Shika untuk menendangnya dengan kaki kosong. Shika menangkisnya
dengan kaki lalu menendangnya. Ash yang terdorong berlari kembali menuju Shika,
namun kali ini Ia berencana memukul dengan tangan apinya. Dirinya gagal
mengenainya karena serangannya tiba tiba ditangkis dengan pedang Usagi. Ash
melompat kebelakang lalu berdiri di pinggir Light.
"Fiuh...
Kalian kuat..." Ash mengusap keringat yang bercucuran dari dahinya.
"Kamu juga
manusia kambing..." Usagi berbicara dengan santainya seperti tak
menganggap Ash dan Light halangan baginya.
"Hahaha.. Ini
baru saja dimulai..." Ash tertawa.
Light dan Ash
memasang kuda kuda untuk menyerang mereka untuk kedua kalinya. Sedangkan Usagi
dan Shika hanya berdiri diam dihadapan mereka.
"Hei...
Sebelum Kita mulai... Aku suka Stylemu..." Ash menunjuk Shika sambil
menunjukan senyuman yang menjengkelkan.
"Terima
kasih...." Jawab Shika dengan polos dan datarnya.
"Walaupun
tandukmu sangat mengganggu..!" Ash mengeluarkan api dari kedua tangannya
setelah menetapkan senyumannya yang menjengkelkan itu.
"Hoo...? Ini
hadiah adikku.." Shika tersenyum dari balik gas masknya.
Ash berlari ke
arah Shika, bersiap menyerangnya dari depan. Saat Shika berusaha untuk
menangkis, Ash mengeluarkan sayap apinya, terbang. Dia menyerang Shika dari
atas dengan tendangannya. Shika menahan tendangan Ash dengan kedua tangannya
walaupun hampir tidak sempat.
Sementara itu
Light berlari ke arah Usagi. Usagi menyiapkan pedangnya, menangkis serangan
pertama Light. Light mundur dan pedangnya pun bersinar "Light Thrust"
Light mengarahkan pedangnya lurus kearah Usagi yang sedang bersiap siap. Sontak
sinar lurus muncul dari pedang Light setelah mendorong maju pedangnya, membelah
pedang Usagi lalu saat Usagi mencoba menghindar sinar itu mengenai Usagi,
menembus gas masknya , dan meninggalkan luka di pipinya.
"Hanya
serangan itu yang tak terlalu merusak.." Light berbicara pada dirnya
sendiri.
"Usagi..."
Kaget Shika dengan pelan namun tegas kepada Dirinya sendiri.
perhatian Shika
teralihkan saat melawan Ash, Ia tertendang kencang oleh Ash. Shika membalasnya
dengan memukul Ash, kencang diperut lalu dilanjut dengan tendangan yang membuat
Ash melayang dan terhantam ke sebuah dinding.
Ash yang terhantam
langsung tak sadaran diri saat keadaan tergeletak di tanah.
Shika menghampiri
Usagi dengan terburu buru dan secepatnya.
"Kamu tidak
apa apa..?!" Tanyanya sambil memeriksa luka yang berada di pipi Usagi.
"Aku tidak
apa apa kak.." Jawab Usagi, menggenggam tangan Shika. Shika menengok ke
arah Light seketika dan segera berlari dengan kecepatan luar biasa ke arah
Light untuk menendangnya.
Light terlemparkan
ke dinding oleh Shika sampai sampai dindingnya retak. Shika segera menghampiri
Light dan mengatakan.
"Kita menang
telak." Kata Shika, meletakan kaki diatas badan Light yang tergeletak di
pinggir dinding.
"B-bagaimana
ini..?!" Koraya perlahan berbisik kepada Dirinya sendiri selagi
bersembunyi.
"Oi oi....
" Seseorang dari jauh memanggil Shika dan juga Usagi dengan lantang
dan nada yang menyebalkan.
Shika dan Usagi
segera menengok ke arah suara itu berasal, Light juga mengikuti mereka dengan
perlahan.
Terlihat seseorang
dengan jubah biru dan topeng oni alias topeng setan sedang membawa buku di
tangan kanannya.
"A-austin...?"
Light perlahan begumam sambil kesakitan.
"Yo..!"
Jawab Austin terhadap Light yang tampak terkejut baginya.
Ash yang terbaring
di depan sebuah dinding masih tetap tak sadaran diri sampai saat ini sehingga
tidak mengetahui keadaan kini.
"I-itu....
Oni..!!" Teriak beberapa wanita dikerumunan orang orang yang sedang
menunduk.
"Oni..?"
Koraya heran.
"Apa yang
terjadi disini..??" Ujar Austin, Ia membuka buku yang ada ditangannya
dengan santainya.
"Haha... Ku suka
gaya mu..." Jawab Shika setelah menoleh kepada Austin. Ia menendang Light
dan menghampiri Austin.
"Tanpa basa
basi.." Bukunya yang terbuka tiba tiba mencari halamannya sendiri. Austin
membuka tangan, mengarahkannya ke arah Shika. Tangannya bercahaya, tahu tahu
Shika terkurung di kurungan bola air yang penuh dengan rantai diluarnya.
Usagi menoleh
kepada kakaknya kebingungan saking cepatnya teknik Austin. Tetapi kurungan
tersebut dengan mudahnya ditembus oleh Shika. Dia berlari menghampiri Austin
untuk meninjunya tapi air yang berupa borgol tiba tiba menahan kakinya. Shika
terjatuh dan tergeletak dihadapan Austin. Dirinya menghampiri lalu menginjak
Shika.
Usagi memasang
muka kesal, berlari menuju Austin dengan pedangnya. Mengayun pedangnya dari
pinggir tapi sontak ditangkis dengan dinding air yang dibuat oleh Austin secara
dadakan dihadapannya.
"Air yang
kubuat tetap cair... Tetapi air Ku selalu mengalir deras jadi Kamu takkan bisa
menembusnya dengan mudah..." Austin tersenyum dibalik topengnya, sedikit
tertawa sehingga Shika dan Usagi bisa mendengarnya.
"Tch.---"
Usagi mengkerutkan wajahnya, dari wajahnya saja sudah terlihat betapa marahnya
Dia.
"Dan kakakmu
tidak akan bisa kabur karena borgol nya mengalir sangat deras jadi Dia
merasakan sakit jika berusaha keluar.." Austin memiringkan sedikit
kepalanya.
Shika mendadak
menarik kaki Austin, membuatnya terjatuh. Sebelum Usagi dapat melakukan sesuatu
Ia mengeluarkan mantra air supaya Usagi terdorong jauh dengan dorongan air.
Shika tetap menahan kakinya supaya Austin tidak kabur. Tetapi sebelum Austin
bisa melakukan sesuatu seseorang menghampirinya, mengarahkan pistol ke arahnya.
Saat ditembakan, Ash berlari dan berdiri dihadapan Austin sehingga Dirinya yang
tertembak. Ia tertembak dibagian pundaknya, Ash pun langsung terjatuh di atas
lututnya.
"H-hah..? Apa
apaan Kamu ini..?" Austin terlihat sebal atas perlAkuan Ash kepadanya,
walau sebenarnya niatnya untuk membantu.
Orang itu memakai
baju kemeja hitam dengan dasi hitam. Memakai full gas mask yang berwarna emas.
Ia juga memakai memakai cincin dan jam tangan emas layaknya orang kaya.
Dirinya menghampiri
Shika lalu duduk di dekat kakinya. Ia meletakan telapak tangannya di atas
borgol air lalu mengancurkannya hanya dengan gengamannya.
"Huh..?"
Orang itu melihat tangannya yang mendadak berdarah sejak menghancurkan borgol. "Aliran
airnya kuat juga ya.." Lanjutnya.
"Komandan 8..
Sejak kapan anda kesini..?" Tanya Shika, perlahan berusaha berdiri. Dari
nada yang Shika keluarkan tampaknya orang tersebut dihormati atau mungkin
kekuatannya di atasnya.
Ia menoleh ke arah
Shika sebentar lalu memandang para pasukan yang sedang berjaga dan mencuri
peralatan sihir. Orang tersebut berdiri dan setelah itu berteriak "Kita
mundur kali ini!".
Para pasukan musuh
sontak menghilang satu persatu seperti teleportasi ke kapal di atasnya layaknya
film film alien. Shika melirik Austin dan pergi berteleport ke kapal. Usagi
melambaikan tangannya seperti anak kecil, pergi. Lalu orang bertopeng emas itu
sudah pergi duluan tanpa disadari oleh siapapun.
Saat semua pasukan
musuh pergi, semua orang kembali berdiri setelah stress parah dan membersihkan
warung warung mereka dengan masih ketAkutan. Koraya yang mulai dari pertama
bersembunyi berlari menghampiri Austin dan Ash. Light yang terluka perlahan
menghampiri mereka berdua.
"Kamu tidak
apa apa Ash?!" Dengan cemas memeriksa luka yang dialami Ash.
"Hah bukan
apa apa!! " Ash tersenyum, Ia mengepalkan tangannya menyembunyikan
sakitnya.
"Kita bahkan
belum kenal.. Kenapa Kamu menyelamatkan ku?!" Tanya Austin dengan kesal.
'"Kamu tidak tahu rasa terima kasih ya.." Jawab Ash dengan senyuman
dan tawa yang kecil.
"Hah..?"
Pandangan Austin sangatlah merendah, Ia tak merasa tertolong sama sekali.
"TUNGGU
DISANA..." semua penjaga sekitar yang masih sanggup berdiri mengelilingi
mereka bertiga termasuk Light yang baru saja hampir sampai.
"Hah ada
apa?!" Light menengok kebingungan.
"Oni ikut
dengan kami..!" Ujar seorang prajurit yang mungkin adalah sang ketua
pasukan.
"Tadi itu
bentuk terima kasih terakhir Ku untuk negri ini selamat tinggal.." Jawab
Austin, melambaikan tangannya. Ia mengangkat Ash dan berbicara ke Koraya,
"Bawa Kita pergi dari sini segera..!" Bentak Austin.
"Jangan
kemana mana!!!" Semua prajurit mengarahkan senjata mereka ke arah Austin
dan kawan kawan. Senjata mereka hanya berupa pedang dan juga tongkat sihir tapi
sebenarnya kalau dibandingkan pasukan di kerajaan Light mungkin pasukan disini
lebih mematikan.
"Apa bisa
Kita pergi...?" Tanya Koraya, dengan ragu menengok ke arah Austin .
"Percayalah..." Jawabnya tanpa menengok kembali karena pandangannya
terfokuskan kepada para pasukan yang mengepung mereka.
Koraya
mengeluarkan portal deployernya dan segera menekan tombol merahnya. ketika
portal muncul para prajurit yang dibelakang mulai melemparkan berbagai sihir
tapi terhenti oleh sihir air Austin yang ternyata telah melindungi Koraya dan
kawan kawan dari pertama. Para prajurit yang memegang pedang sama sekali tidak
bisa maju karena bahayanya sihir Austin.
"Ayo
masuk..!" Ajak Koraya dengan lantang, suaranya terdengar sangat panik
terbata bata. Koraya memasuki portal duluan disusul oleh Light lalu Austin yang
menggendong Ash.
Sesampainya
mereka, Koraya langsung menutup portalnya secepat mungkin karena khawatir
datangnya para pasukan sihir.
Team recruit saga
Part 5 : The virus
Ox
berlari menuju Koraya dan mengatakan sesuatu "Koraya..!! Orang-- Ash
kenapa?!" Perkataan Ox teralihkan oleh keaadaan Ash yang sedang terluka
dan digendong Austin.
"Aku tak apa
kok dok.." Ash yang terluka masih tetap bisa bercanda saja.
"Hai Aku Austin..!"
Austin memperkenalkan diri dengan datarnya. "Simpan perkenalannya
nanti..." Ujar Ox dengan serius.
"Ash akan
segera kuurus di ruang yang telah kubuat... Tapi sekarang ada yang lebih
penting.." Ox terdengar sangat cemas.
"Lebih
penting..?" Tanya Koraya, menyondongkan kepalanya sedikit ke depan, ke
arah Ox.
"Ya.. Tamu
yang tadi datang mulai teriak ga jelas semenjak Aku suruh Floyd pergi untuk
membeli sesuatu.." Ox menatap Koraya dengan serius, Dirinya melirik
kesekitar, terkejut saat melihat Light yang mendapat luka juga.
"Light..!! Kamu
juga harus segera dirawat..!" Ox mendekati Light perlahan, menengok ke
arah Koraya setelah di tanyakan pertanyaan.
"Teriak
seperti apa?!" Tanya Koraya dengan nada yang masih tidak beraturan karena
keadaan sebelumnya.
"Teriak
kesakitan....".
"Kesakitan?!"
Kejut Koraya , perlahan Ia berjalan menuju pintu rumah dan berbicara sekali
lagi kepada Ox, Austin, dan juga Light, "Jaga jaga disini Ku serahkan Ash
kepada Ox.."
Koraya membuka
pintu rumah disambut dengan Habiki yang tengah duduk di sofa seperti tadi.
Koraya melihatnya dari belakang memanggilnya sekencang mungkin tanpa mengganggu
tetangganya "Habiki?".
"Ah..
Koraya.." Jawabnya sambil tetap terdiam tanpa menggerakan tubuhnya sedikit
pun. Saat Koraya semakin menghampirinya, Ia memanggil Habiki sekali lagi "Kamu
tidak apa apa??".
"Aku merasa
sangat baik Koraya..." Habiki menjawab dengan aksen intonasi dan nada yang
berbeda dari saat mereka pertama kali bertemu.
"Katakan yang
sebenarnya.." Tanya Koraya untuk terakhir kalinya, memegang pundak Habiki
dari belakang.
Habiki menoleh
menunjukan wajahnya yang sedang tersenyum sinis. Di pinggir wajahnya terdapat
benda berwarna kuning tercampur dengan biru yang aneh, kalau dilihat dari
tekstur wujudnya seperti lendir aneh. "Sudah kubilang Aku tak apa..."
Koraya terkejut, Habiki memukulnya jauh sampai pintunya terbuka terbanting dan
Koraya sampai keluar rumah. Tangan yang dipakai oleh Habiki untuk memukul
terlihat berwarna kuning dan bengkak. Tangannya menjadi sangat besar dan
panjang, tapi hanya sebelah tangannya saja yang begitu, tangan yang satunya tak
apa apa.
"Ahk...."
Koraya batuk sampai sampai keluar darah saat mengenai pagar luar rumah,
dikarenakan saking kencangnya Habiki memukul.
"Hah..?!"
Austin dan juga Light menoleh, terkejut melihat Koraya yang tiba tiba
terlemparkan dari dalam rumah. Sementara itu Ox sedang merawat Ash didalam
tenda dan Floyd belum juga pulang.
"Kamu tidak
apa apa Koraya..?!" Tanya Light menghampirinya secepat mungkin walaupun
sendirinya masih mempunyai beberapa luka. "A-Aku tidak kenapa
napa..." Jawab Koraya perlahan dengan kesakitan saat Ia masih bersadar ke arah
tembok dengan salah satu lengannya di atas perut.
"K-Kamu..."
Dengan kesal Light melihat pintu yang sudah terbuka lebar dan sedikit lecet
karena hantaman tadi. Keluar sosok Habiki dengan sebelah tangan panjang yang
berwarna kuning dan biru itu.
"H-habiki..."
Ujar Koraya sambil kesakitan memandang Habiki.
"Aku bukan
Habiki yang Kalian kenal... Namaku Virus..." Jawab sosok yang baru itu
sambil senyum kepada mereka bertiga.
"Virus----"
"Diam dulu saja beristirahatlah..." Koraya perlahan berusaha
berbicara dihentikan oleh Light supaya bisa istirahat sejenak.
"Ayo
Kita duel..!" Austin memandang wajah Habiki yang kini dirasuki oleh virus
dengan kesal.
"Woah woah...
Jangan disini.." Light mengeluarkan kedua tangannya dan menghalangi mereka
berdua.
"Apa Kamu
akan repot jika perlu mengikuti kami..?" Tanyanya, memandang Habiki alias
the Virus.
"Hahaha....
Dengan senang hati Aku akan mengikuti kalian." Jawab Virus meremehkan
Light, Ia mengulurkan kedua tangannya.
Mereka bertiga
berjalan keluar dari rumah meninggalkan Koraya dibelakang. Hari yang sudah sore
pada saat itu menandakan sedikitnya orang yang berada di luar rumah. Mereka
berjalan menuju sebuah taman yang luas terletak sedikit jauh dari rumah warga.
Light memasuki taman tersebut dan mengeluarkan pedangnya. Disusul Austin sambil
memasang topengnya.
"Sekarang..?"
Tanya Virus kepada mereka berdua yang sudah memasuki taman dan membelakanginya.
"Tentu..."
Jawab Light selagi membalikan diri bersamaan waktunya dengan Austin.
Pedang Light
bersinar terang. "Gleaming Slash." Ucapnya. Light menggunakan jurus
yang sama yang Ia gunakan terhadap Ash, tapi kali ini digunakan secara Horizontal.
Virus dengan mudahnya menangkis jurus tersebut dengan tangan bengkaknya,
Walaupun begitu tangannya itu tetap saja terluka.
"Ah.. Aku kira
Aku akan selamat.." Keluh kesah Virus walaupun masih tampak meremehkan.
Light berlari ke
arahnya lalu mengayunkan pedangnya dari atas. Sekali lagi Virus menangkisnya
dengan tangan besarnya. Light menahannya selagi Virus terluka dan Austin pun
berusaha menembakinya dengan air yang tajam dan deras. Tapi Virus mendorong
Light, menghindari semua serangan Austin.
Virus pada
akhirnya mengeluarkan sesuatu dari tangannya berupa sebuah gumpalan aneh
berwarna kuning. Melemparnya ke arah Light, Ia membelahnya menjadi dua. Tapi
gumpalan yang telah terbelah menjadi dua itu menyerang dari belakang dan
membuat Light terjatuh. Gumpalan tersebut menempel pada tubuh Light membuatnya
terjebak di tanah taman.
Austin mengarahkan
sihirnya kepada gumpalan yang terdapat pada tubuh Light tapi Dirinya terlalu
lama mengarahkannya dikarenakan ragu, sehingga Virus berlari terlebih dahulu
dan menahan Austin ke atas permukaan tanah dengan tangan besar nya.
"A-apa..?!"
Austin terguncang. Walaupun kecepatannya tak seberapa Austin tetap tidak bisa
mengelak.
"Fufufu..
Kalian telah menggangguku, saatnya pergi ke Koraya.." Virus tertawa dengan
kencang. Tangannya itu mulai menutupi seluruh badan Austin dari mulai punggung
yang ditahan sampai menuju pinggang dan leher.
Saat tangannya itu
mulai menutupi wajah Austin.
Pundak Virus
tertusuk kayu dari belakang. Ia menengok perlahan dengan kAku dan juga
kesakitan hanya untuk melihat Floyd yang menggunakan kekuatannya untuk
menusuknya dari kejauhan.
"Jangan
dekati mereka..." Floyd menatap dingin Virus.
Suasana disekitar
mereka tiba tiba menjadi suram dan berkabut membuat keadaan semakin tegang.
Virus melepaskan
Austin yang sudah mulai pengap lalu menghampiri Floyd perlahan lahan.
"Siapa yang peduli dengan pertemanan kalian..." Ujarnya, tersenyum
dan menekuk kedua tangannya meremehkan mereka bertiga.
Austin berdiri dan
berlari ke arah Virus yang sedang berjalan. Tetapi sebelum bisa bertindak Ia terpukul
jauh oleh Virus lengannya yang amat panjang. Saat Virus teralihkan perhatiannya
kepada Austin, Floyd berlari melewati Virus dengan sekejap.
*Bruk* Sesuatu
telah terjatuh di tanah dekat Virus.
"AGH.!!'
Virus dengan kesakitan berkata karena tanpa disadari lengan besarnya telah
buntung dan terjatuh di tanah, "B-bodoh yang Kamu lukai itu bukan
tubuh---".
"Sekali
lagi.." Floyd memotong perkataan Virus, menengok kembali ke arahnya.
"Jangan lukai orang di sekitar ku..!" Tegas Floyd dengan amarah..
Dia berlari ke
Virus dan bertarung tangan ke tangan melawannya walaupun tangan Virus hanya
tersisa satu Virus bisa menumbukan kembali gumpalan gumpalan kuning,
menyelimuti tangannya itu. Gumpalan bengkak pada tangan yang terpotong hilang,
Ia mengunggulinya dengan tangan besar baru itu. Tapi pada akhirnya Floyd
mengeluarkan kayunya lagi dan melancarkan serangan untuk menusuknya tepat di
pudak.
Namun disaat yang
tepat Virus dapat menghindar melompat kebelakang. "H-hampir saja.. Yang Kamu
telah Kamu lakukan itu hal bodoh.. Aku akan kembali untuk Habiki dan Koraya,
liat saja.." Semua benda kuning yang menempeli tubuh Habiki perlahan
mengalir ke bawah tanah. Sebelum mereka semua menyadarinya tiba tiba Habiki
kembali berakal sehat.
"Akhh..!!
T-tangan ku...?!" Pikiran Habiki langsung terpAku kepada tangan kanan yang
sudah buntung.
"H-habiki....?"
Light menghampirinya, selagi menghampirinya Floyd menghalangi Light untuk
menghampiri Habiki dengan lengannya
"Apa Kita tahu
bahwa Dia itu tidak jahat..? Tidak kan.." Flody berbicara dengan Light
tanpa memandangnya sedikit pun. Pandangannya hanya tertuju pada Habiki yang
kesakitan.
"Tapi..!"
Light mendorong lengan Floyd yang menghalangi. "Kita harus
menolongnya..!" Light bersikeras menolongnya.
"Lihat..!!
Dia mencoba membunuh kalian..!!" Pada akhirnya Floyd menengok ke
belakangnya, ke arah Light dan menatapnya.
"Floyd...
Kumohon..." Light memohon, namun Ia masih masih mementingkan harga Dirinya
dan tidak menunduk. Floyd memandang Light dengan sedih dan pilu, teringat suatu
kejadian pada masa kecilnya disaat teman dekatnya berkata hal yang sama
"Floyd... Kumohon ". Kata kata Light membuat Floyd sadar dan
memperbolehkan Light lewat. Dirinya segera berlari untuk menggotong Habiki ke
markas, tanpa berpikir panjang.
Perlahan Light
menggendongnya dengan hati hati. Saat Light sudah berjalan, menggendong Habiki,
Austin mengikuti dari belakang. "Floyd Ayo..!" Panggil Light dari
depannya.
"Aku ada
dibelakang.." Floyd dengan perlahan berjalan memikirkan masa lalunya.
Ia terlalu terbawa
masa lalu sehingga tanpa disadari semua temannya sudah berjalan lebih cepat
darinya dan sudah sampai terlebih dahulu.
Saat Ia sudah
sampai di rumah koraya, Dia memasuki tenda dengan wajah yang sedikit lebih
ceria dari sebelum sebelumnya.
"Ah Floyd
selamat datang..!" Ox menyambutnya dengan hangat setelah baru saja
memindahkan Habiki ke ruang pengobatan.
"Besarnya...!"
Austin yang baru saja sampai dengan Habiki terpukau atas kemegahan tenda itu.
Di dalam tenda
tersebut sangatlah besar dan juga modern. Walaupun tampang luarnya biasa saja
dan kecil tapi di dalam sudah seperti sebuah rumah masa depan saja.
"Tentu...
Sebenarnya ini adalah pocket dimension yang Aku buat..!" Ox menghampiri
Austin dengan sombongnya menunjukan kemampuannya. "Aku mempunyai dua pocket
dimension, satu yang ini dan yang satunya lagi sebagai cadangan.".
"Pocket
dimension?" Tanya Light dengan polosnya karena tak tahu apapun tentang
dimensi dimensi.
"Ya... Pocket
dimension adalah dimensi kecil yang bisa orang gunakan... Saat Kalian memasuki
pintu masuk Kalian otomatis dipindahkan ke pocket dimension ini..!" Ujar
Ox sekali lagi menjelaskan.
"Wahh..?!
Floyd Kamu tidak terlihat terkejut.." Light menengok ke Floyd.
"Saat Kalian pergi
Aku sudah masuk duluan..." Jawabnya.
"Uwahh.. gara
gara pertengkaran tadi semua bajuku menjadi basah.." Austin mengeluh, Ia mengeluarkan
bukunya.
"Apaan?
Bajumu kering..?" Light memandangnya keanehan.
"Bukan
bukan..." Austin menarik sebuah gumpalan air dari bukunya. Di dalamnya
terlihat jelas banyak pakaian yang tentu sudah basah kuyup. "Oh
itu.." Light memandangnya heran.
Austin memasukan
semua pakaiannya kembali ke dalam bukunya.
"Dimana Ash
sekarang..?" Tanya Floyd kepada Ox.
"Dia terluka
dipertarungan... Dengan bodohnya Ia berdiri di depan ku saat sebuah senjata di
arahkan kepadAku.." Austin menoleh. Floyd yang pandangannya tertuju kepada
Ox langsung menengok ke arah Austin secepatnya.
"Kenapa Kamu
tidak menyelamatkannya..?" Floyd perlahan mendekati Austin.
"Hei anak sok
pinter... Dia sendiri yang datang ke hadapan ku.." Austin menatap Floyd
sedikit kesal.
"Tch.. Dia
selalu seperti itu.." Floyd berlari ke arah ruang pengobatan dengan kesal
namun sedih? Memandang dari luar karena terdapat kaca besar di dinding ruang
medik itu. "Sialan!" keluh kesal Floyd.
Terlihat olehnya
Koraya, Ash, dan Habiki sedang berbaring dengan berbagai selang tertancap di
sekitar tubuhnya, sedang mengobati mereka.
"Kalau Aku ada
disana untuknya.." Ucap Floyd dengan kesal kepada Dirinya sendiri.
"Jangan
memikirkannya... Ox Aku pinjam pemasang portal mu, beberapa barang Ku tertinggal..."
Light menghampiri, menepak pundak Floyd. Lalu segera mendekati Ox.
"Sebentar..."
Ox mengutak ngatik portal deployer untuk sementara waktu lalu memberikannya
kepada Light. "Ini" Ucapnya. Light yang menerimanya segera memasang
portal dan kembali menuju dimensinya.
Ox melihat Floyd
sedang menatap ke ruang pengobatan, Ia segera menghampirinya, "Sudah sudah
mereka akan sembuh besok pagi...".
"Aku sudah
menyediakan kamar di ujung lorong untuk Kamu tidur ok..? Aku duluan." Ox
meninggalkan Floyd sendiri lalu masuk ke ruangan lain di dekat ruang pengobatan
tersebut. Sedangkan Austin sudah terlanjur masuk ke kamar yang disediakan oleh
Ox, tanpa disadari oleh Floyd.
"Ash... Aku akan
membalaskan terima kasih Ku pada mu..." Ucapnya kepada Ash yang tak
sadaran diri. Dirinya tahu Ash tak akan mendengarnya tapi tetap saja
mengatakannya berharap pesan tersebut sampai ke hatinya.
Malam hari
berlalu. Floyd tidak tertidur di kamar yang sudah disediakan Ox melainkan di
sofa ruang tengah tenda tersebut.
"Selamat
pagiii..." Ash berteriak ke seisi ruang tengah.
"S-selamat
pagi..." Austin baru saja keluar dari kamarnya. Ia menengok dan melihat ke
arah Ash, bertanya "Lha Kamu sudah sembuh..?".
"Udah
lah.." Jawab Ash yang berdiri di tengah ruangan dengan semangat.
Ash menghampiri
Floyd yang sedang tidur di atas sofa lalu berteriak telat di telinganya "SELAMAT
PAGI...!!!".
Floyd terkejut,
langsung bangun lalu berteriak kembali kepada Ash, "APA KAMU
GILA?!".
Ash lalu membalas dengan senyuman tanpa dosa yang pasti membuat semua orang
kesal.
"Selamat
pagi......" Ox dengan muka pucat terlihat keluar dari ruangannya sambil
memegang secangkir kopi dengan tulisan 'no sleep club'.
"Apa Kita membiarkan
zombie ke sini?" Tanya Ash berusaha melawak ke semuanya.
"Aku tidak
tidur tahu..." Jawab Ox. Dari wajahnya saja sudah terlihat Ia terlalu
banyak berpikir, apalagi dari suaranya.
"Selamat pagi
semuanyaaaaa....." Light yang tampak baru saja keluar dari dapur,
berteriak sambil membawa 2 piring omelet.
"Wahh Kamu
rajin ya Light.." Ujar Ash kepadanya sesaat baru saja menoleh.
"Tidak
juga.." Jawab Light sambil membawakan piring yang tersisa setelah menaruh
dua piring tersebut di meja.
Semuanya mengambil
dan memegang satu piring masing masing, lalu semua orang yang sudah
bangun mencicipinya.
"Aaaaaaa...
Enakk..." Ash memasang muka bahagia yang tak bohong.
"Tidak
kusangka kau bisa masak Light..." Ujar Ox masih dengan nada yang lemas.
"Enaknya.."
Austin juga kali ini memuji hasil masakan Light.
Semua orang tampak
menyukai sarapan yang Light telah buat.
"Selamat
pagi..." Koraya bersamaan Habiki, keluar dari ruang berobat.
Light menghampiri
mereka berdua selanjutnya memberikan mereka masing masing satu piring.
"Nih makan..!" Ujarnya.
"Terima
kasih.." Ucap Koraya setelah menerima piring dari Light.
Setelah
menerimanya Habiki terlihat memandang makanan tersebut, karena kehilangan
sebelah tangannya dan tidak tahu bagaimana cara memakannya hanya dengan satu
tangan.
"Habi--"
"Oh ya Habiki
ikuti Aku ke ruangan Ku Aku membuatkan Mu sesuatu semalaman..!" Floyd yang
asalnya mau memanggil Habiki, didahului oleh Ox yang melambaikan tangannya
menuju sebuah ruangan.
"Enak!!"
Koraya tersenyum setelah menyuapkan satu sendok omelet ke mulutnya sendiri.
"Iya
kan?!" Jawab Ash dengan semangat, menoleh ke arah Koraya tapi tidak tahu
mengapa, Dirinya begitu bersemangat.
Habiki mengikuti
petunjuk dari Ox. Dia menaruh sepiring sarapannya di sebuah meja yang terletak
di pinggirnya. Berjalan ke arah ruangan tersebut lalu memasukinya.
Di dalam ruangan
itu terdapat banyak teknologi teknologi yang luar biasa canggih, Ox memberikan
sebuah lengan robot kepada Habiki.
"Duduk
sini.." Ox menarik kursi, Habiki lalu duduk.
"Ku pikir Aku
tak akan bisa menumbuhkan kembali tangan mu.. Jadi bagaimana kalau Aku menggantikannya
saja..." Ox menempelkan lengan robot tersebut ke bagian tubuh Habiki yang sebelumnya
terpotong.
"Terimakasih..!!"
Habiki tersenyum senang.
"Sebentar..
Gigit ini.." Ox menyerahkan sebuah batang kayu ke mulutnya.
"Apa..?" Habiki terlihat kebingungan namun tetap menggigitnya.
"Tahan.."
Pada ujung lengan besi dekat pundak terdapat 2 lubang kecil. Ox mengambil 2
buah tabung tajam yang seukuran dengan lubang tersebut lalu menancapkannya ke dalam,
menembus kulit.
"HGhh..!"
Habiki sekeras mungkin menggigit batang kayu, menahan rasa sakit. Namun dengan
cepat rasa sakit itu memudar.
"Benda itu
berguna untuk menyambungkan saraf dan tangan besi barumu.. Coba gerakan.."
Ox tersenyum senang.
Habiki menggerakan
tangan barunya dengan mudah, dari ujung jari jemarinya sampai menekukan
tangannya. Dari wajahnya Habiki terlihat sangat senang, "Sekali lagi
terima kasih..!".
"Ya sama
sama..".
Mereka berdua
keluar dari ruangan tersebut, disambut oleh mendengar yang lainnya tentang the
Virus.
"The Virus
adalah OC ku..." Koraya, mata melirik menuju semua orang. "Jadi apa
mungkin Habiki juga OC ku.. Tapi apa bisa OC dan pembuatnya satu
dimensi?!" Tanya Koraya kepada mereka yang ada disana, masih kebingungan.
Namun semua orang disana tidak mengerti.
"Bisa
saja..." Ox perlahan menghampiri mereka semua sedangkan Habiki berjalan ke
piring omeletnya. "Ada kemungkinan tak terbatas untuk hal berhubungan
dengan OC.." Jawab Ox sekali lagi, menunjukan jari telunjuk.
"Kalau
begitu... Kamu mau masuk tim? Habiki....!!" Koraya berdiri tegas
mengulurkan tangannya ke arah Habiki
"Aku masih
bingung. Kenapa Aku bisa ada disini. Kenapa Aku dirasuki Virus. Tapi karena Aku
sudah tidak bisa mundur lagi, dan untuk memecahkannya.." Habiki mendekati
Koraya lalu menjabat tangannya. "Tentu Aku akan masuk..".
"Kamu tahu
bela diri Habiki..?" Tanya Light, mendekati Habiki belum juga menghabisi
sarapannya.
"Masuk dalam
tim ini tidak selalu harus bisa bela diri.." Ox menyela pertanyaan Light.
"Sejak kecil
Aku sudah bisa berpanah, Aku juga pernah mengikuti lomba bela diri
sekali.." Jawabnya.
"Ayo ikut
denganku... Akan Ku latih lagi bela dirimu..." Ajak Light.
"Kamu
yakin..? Kalau Kamu terjun di bidang bela diri sekarang akan banyak bahaya yang
akan Kamu lewati.." Ox menghampirinya perlahan.
"Tidak apa
apa akan Ku lakukan.." Jawab Habiki
"Bagaimana
kalau sekarang..?!" Lanjut Dia dengan semangat, menaruh sarapannya meja
bundar di tengah ruangan.
"Hahaha
Tentu..!" Light pergi keluar tenda, diikuti Habiki dibelakangnya.
"Ah Ox....
Mari Kita mencari anggota lagi..." Ujar Koraya dengan antusiasnya,
menengok ke arah Ox.
"Ah luKamu
sudah sembuh..? Berikan Aku portal deployer mu... Siapa yang Kamu cari..?"
Tanya Ox, mendekati Koraya.
"Ender...
Ksatria kegelapan... Seorang perempuan yang ditAkuti banyak orang karena
kemampuan berpedangnya.." Jawab Koraya dengan nada sekeren mungkin padahal
kenyataannya tidak, Ia pun memberikan portal deployernya kepada Ox.
"Ah...
Sepertinya di dimensi berpedangan... Tunggu sebentar..." Sementara Ox
mengotak ngatik portal deployer, Koraya menghampiri para OCnya untuk mengajak
mereka.
"Siapa yang
mau ikut...?" Tanya Koraya dengan lantang, mengangkat tangannya.
"Aku..!!!"
Ash mengangkat tangannya juga sama seperti Koraya.
"Yang
lain..?!" Tanya Koraya sekali lagi, menoleh ke kiri dan kanan.
Floyd dengan
perlahan berdiri lalu menepak pundak Koraya dari belakang saat sudah
menghampirinya. "Aku melakukan ini untuk diriku sendiri.." Floyd
berbisik ke telinganya.
Melepas pundaknya
lalu melangkah mendekati Ox tanpa memerdulikan apapun, "Aku yang
pimpin..".
"Ahhh tidak
adill!!!" Ash mengejar Floyd dengan hentakan yang kencang dan kesal.
"Kalau Kamu
Austin..?" Tanya Koraya untuk ketiga kalinya kepada OC OCnya.
"Aku akan
diam disini menjaga Ox.." Jawab Austin sesudah menoleh sedikit ke arah
Koraya.
"Ok kalau
begitu Ox--" "Oi Osh portal sudah siap?" Ucapan Koraya terpotong
oleh gertakan Floyd yang lantang sampai terdengar ke ujung ruangan. Tidak tahu
untuk menutupi perkataan Ash atau untuk mencari perhatian.
"Ox... Bukan
Osh.. Dan ya portal sudah siap..." Ox mendekati Koraya lalu memberikan
portal deployer kembali kepadanya.
Koraya segera
memasang portal seperti biasa, Ox pun bicara " Selamat menempuh perjalanan
di dimensi 40..!" Ia terenyum
Team recruit saga
Part 6 : The dark assassin
Mereka
akhirnya melangkahkan kaki di dimensi 40. Dimensi dimana seni berpedang menjadi
proritas pertama. Sesampainya Koraya segera mematikan portalnya, disambut oleh
ladang bunga yang luas. Dari mulai tulip sampai bunga lainnya.
"Indah...."
Floyd perlahan menikmati pemandangan indah yang membentang dari ujung ke ujung.
"Ahhaaa... Liat siapa yang menjadi lembut begini..?!" Ash tersenyum
licik sambil mendekati Floyd dan menertawakannya.
"Berisik!"
Jawabnya dengan kesal selagi menatap ke mata Ash.
"Tunggu.. Ini
terasa ganjal..." Koraya menengok dan melihat kesekitar, kebingungan.
"Shh..."
Floyd mendesis, menyuruh semuanya untuk diam.
Suara hentakan
orang yang berlari terdengar oleh Floyd. Suara itu perlahan terdengar lebih
kencang lagi sampai akhirnya ada orang yang melompat dari semak semak menyerbu
Koraya dengan sebuah pedang katana. Tetapi Floyd berhasil menangkisnya dengan
kayu yang mendadak keluar karena insting.
"Oh..?"
Suara lembut tapi berintonasi sedikit tomboy dari seorang gadis bertopeng hitam
yang menyerupai seperti robot dengan lensa hijau. Dirinya memakai jaket ketat
berwarna hitam yang menutupi rambut coklatnya. Celananya berupa legging hitam
yang sangat cocok dengan jaketnya. Ia memegang katana putih dengan beberapa gem
atau bisa disebut permata di gagangnya.
"Siapa Kamu
hah..?" Teriak dan saut Ash kepada gadis tersebut yang baru saja mendarat
di atas tumpukan bunga. "Bukannya sebaliknya..? Siapa kalian..?"
Tanya gadis misterius tersebut.
"Tenang..
Kami disini cuma untuk mencari Ender.. Mungkin Kamu mengetahuinya..."
Koraya menyempil ditengah percakapan, menghampirinya sedikit sedikit.
"W-winston..?"
Gadis tersebut sempat diam terkejut saat melihat wajah Koraya. Walau tidak
terlihat wajahnya, dari gerakannya sudah terlihat bahwa Dirinya kaget.
"Winston..?"
Koraya bertanya tanya.
"Tidak
tidak.. Mau apa Kamu dengannya...? Dengan Ender.." Tanya balik gadis
tersebut kepada Koraya dengan santainya.
"Kami cuma
ingin memasukannya ke dalam sebuah team..." Koraya perlahan mendekati,
mengangkat tangannya.
"Ah... Kukira
Kamu adalah utusan Stephen... Maaf..." Gadis itu membuka topengnya
menunjukan wajahnya yang cantik dengan matanya yang berwarna coklat muda. Ia terlihat
seperti gadis yang seumuran dengan Koraya.
"C-cantiknya....."
Ujar Koraya dalam hati sambil memandangnya dengan malu, Koraya adalah tipe
orang yang tidak mudah menghadapi perempuan.
"Jadi... Apa
yang Kalian butuh kan...? Tapi sebelumnya ikuti Aku ke rumah ku." Bujuk
gadis tersebut, menaruh topeng dan katananya di pinggir pinggang.
Mereka semua
mengikuti gadis tersebut ke sebuah rumah di tengah ladang bunga nan indah itu.
Rumahnya kecil dan terbuat dari kayu. Mereka memasuki rumahnya dan gadis itu
berkata "Make yourself at home..!" melemparkan topengnya dan lalu
berbaring di atas sofa.
"K-kotor..."
Ucap Koraya dalam hati. Rumahnya sangat lah kotor, setidaknya bagi seorang
wanita tempat ini tidak cocok. terdapat banyak bekas makanan dan baju dimana
mana.
"Oiii..!
Kasih tahu aja lah dimana keberadaan Ender..?!" Bentak Ash dengan kesal.
"Yak elah Aku
ini Ender..!" Ia menengok setelah identitasnya terbocorkan.
"Wah iya
juga... Penampilannya tak jauh beda dengan designku..." Koraya bergumam
dalam hati.
"Ya
sudahh...!! Kalau gitu Kamu mau ikut ga nih ke team...?!" Ash yang tak
sabaran memanggilnya sekali lagi.
Ender bangkit dan
membentak Ash balik "Eh?!!! Yang sabar dong..!" Mereka saling
bertatap tatapan dengan kesal.
"Ya seperti
yang dikatakannya Kamu jadi masuk tidak...?" Ucap Floyd dengan lembut
tetapi tegas.
"Ah.. Tim apa
dulu..?" Ender langsung menanyakan inti dari percakapan tersebut.
"Tim yang berisikan
petarung petarung untuk melindungi dimensi.." Jawab Floyd sambil
menghampiri Ender.
Ender yang tak
terbiasa dengan keadaan mendadak ini merespon dengan apa adanya tapi sesuai
dengan isi hatinya.
"Jadi
begitu..." Ucap Ender sambil membenarkan rambutnya. "Ayo aja sih
tapi... Aku ingin tau niat Kalian baik atau tidak..." Tanya Ender sambil
tersenyum santai.
"Tentu saja
baik Kamu penyihir...!" Ash menatap Ender bermaksud meledeknya.
"Haaahhh...?!
Asal Kamu tahu umurku 19 tahun!!" Jawabnya sambil mendekati Ash dan
menatapnya dengan kesal.
"Lebih tua 1
dengan Ku ya...?" Ujar Koraya dalam hati. "Bagaimana cara Kami meyakinkanmu..?"
Tanya Koraya kepada Ender , mendekatinya.
"Hah
membuktikan? Kalian tidak perlu membuktikan... Aku langsung ikut aja... Tapi
kalau Kalian mempunyai niat buruk akan langsung Ku bantai kalian..." Ender
melirik ke arah semuanya.
"Berisik
pendekkkk...!!!" Ledek Ash ketiga kalinya.
"HAHH..?! Kamu
dari tadi baru kenal sudah ngajak ribut... Mau berantem..?!" Jawab Ender
dengan sangat kesal karena disebut pendek.
"Hayu..!!
Siapa tAkut...!!" Ash tersenyum sambil meremehkannya.
"Siap siap
Kita akan bertarung diladang depan rumah ku..!!!" Jawab Ender sambil
tersenyum dengan senyuman yang sama dengan Ash. "SIAPA TAKUT...!!!"
Jawab Ash dengan lantangnya.
"Ok... Aku pulang
duluan... " Floyd perlahan melangkah keluar rumah.
"T-tunggu..."
Koraya segera mengulurkan tangannya ke Floyd. Tapi Floyd menutup pintu di hadapannya.
"Ya
ampun.." Ucap Koraya setelah menghela nafas, memandang Ender dan Ash yang
sedang saling tatap dengan kesal.
Mereka berdua segera keluar dari rumah dengan kesal dan sombong, segera
memasang kuda kuda tanpa pembicaraan apapun lagi. Disusul dengan Koraya yang
terlihat kebingungan Ia melirik dari arah Ender ke Ash. Floyd yang asalnya
bilang akan pulang duluan memandang dari kejauhan.
"Kamu siap
pendek.?" Tanya Ash, menjulurkan lidahnya meledek Ender.
"Tunggu saja
hah...!" Ender memasang topengnya lalu mengeluarkan pedang miliknya.
"Tanpa basa
basi..." "Mulaii...!" Saut mereka berdua secara bergantian dari
Ash lalu Ender.
Koraya yang tidak
terlalu mendalami bela diri hanya bisa diam memandangi mereka berdua yang akan
bertarung.
Ender berlari
menuju Ash dengan pedang di depannya untuk melindungi sekaligus menyerang. Ash
mengeluarkan api dari tangannya dan berusaha menangkis serangan yang akan
datang tetapi Ender memutarkan pedangnya, berlari ke belakang Ash lalu
menebasnya dari belakang.
Namun Ash menahan
serangan Ender dengan sayap apinya yang segera muncul, Dirinya melompat
kebelakang untuk mencari aman.
"HAHAHA...
Kalau tidak ada sayap Ku pasti Aku sudah mati.. HAHAHA..!" Tawa Ash dengan
sarkas.
Ender meluruskan
pedangnya secara horizontal dan menatap Ash tepat di mata. Ender berlari ke
arahnya, berusaha menebas Ash dari atas tapi tentu Dia menahannya dengan tangan
yang dipenuhi dengan apinya itu.
"Kamu tidak
akan menang kalau begini..!" Ucap Ash sambil menahan pedang Ender sekuat
tenaga. "Masa sih..?" Ender menendang kakinya lalu mundur dengan satu
lompatan yang jauh.
"Aduduhhh..."
Ash dengan kesakitan memegang sebelah kakinya, melompat lompat dengan kaki yang
satunya. "Emang itu fairr hahh..??" Saut Ash kepada Ender dengan
kesal.
Ender menutup
mulut nya sendiri lalu Ia tertawa sedikit, "Maaf maaff.." wajahnya
sedikit memerah menahan tawa
"Aaaahh...
Tapi cape Aku berantem terus.." Ash melepas kakinya lalu perlahan duduk di
atas tumpukan rumput.
"Eh..?!"
Ender terkejut dan juga kebingungan. "Ah ya sudah lah.. Akhiri saja
pertandingan ini.. Masalah tim itu, memang niat pertamaku itu untuk mencari
kehidupan baru jadi tentu Aku akan ikut.." Jelas Ender.
"Oh
begitu.." Jawab Koraya.
"Kalau begitu
Aku akan menyiapkan barang Ku lalu ikut dengan kalian.." Ujar Ender,
menengok ke arah Koraya yang berada di pinggir rumahnya.
Ender kembali
masuk ke dalam rumahnya untuk menyiapkan barang barang bawaannya.
Setelah beberapa
jam berlalu Ender keluar dari rumahnya dengan segar, membawa tas ransel yang
cukup besar yang kira kira diisi dengan baju baju dan lain lain. Di pinggirnya
juga membawa pedang katana.
Ash terlihat
berbaring di atas rerumputan pendek sedangkan Koraya sedang duduk di dekat
rumah Ender. Di sisi lain Floyd berdiri diam memperhatikan bunga bunga.
"Lah kok Kamu
seger gitu? Abis mandi?" Tanya Ash, Ia bangkit dari baringnya.
"Yaiya
dong..!!" Jawab Ender tersenyum. Dia tidak memakai topeng, topengnya
terlihat digantung pada belakang tasnya.
"Kamu
siap..?" Tanya Koraya yang sedang duduk di potongan kayu.
"Tentu.."
Pandangan Ender langsung tergantikan kepada Koraya.
Koraya berdiri
lalu memasang portal dengan portal deployer miliknya yang selalu Ia simpan di
dalam sakunya.
"Apa apaan
ini..?" Ender terkejut melihat portal yang tiba tiba muncul di hadapannya.
"Ini portal
miss..." Ash berusaha meledeknya.
"Ya mana Gw
tau ini apaan..." Ender melirik kesal.
Mereka lalu
meninggalkan dimensi tersebut di dahului oleh Floyd, Ash, dan Ender lalu di
akhiri oleh Koraya di belakang mereka semua.
Mereka tiba tepat
di halaman rumah Koraya dan di dekat tenda, "Aku pulang.." Ash
berlari keluar dari portal dengan semangat setelah Floyd pertama keluar.
"Selamat
datang.." Jawab Ox yang terlihat baru keluar dari tenda.
Disusul oleh Ender
dan juga Koraya yang baru saja datang dari portal. Koraya segera menutup portal
lalu langsung duduk di pinggir tenda, kelelahan.
"Selamat
datanggg..." Ucap Koraya kepada Ender dengan sambutan yang hangat.
"Thank
youu~" Jawab Ender kepadanya. "Dimana Aku menyimpan barang
ku...?" Tanya Ender, memandang Koraya namun yang menjawab adalah.
"Oh kesini
M'Lady.. Ikuti saya..." Ox mengulurkan tangannya kepada Ender.
"Uuuuu baik
sekali pelayan disini Ash..." Kata Ender dengan senyum canda.
"Tentu.. Aku membayarnya
mahal.." Jawab Ash dengan senyum yang serupa.
"HAHAHA..."
Mereka berdua pun tertawa bersamaan. "Oioioi... Aku bukan
pelayan...!" Ox menjawab dengan lesu dan kesal.
Ender akhirnya
mengikuti Ox ke ruangannya setelah tertawa bersama dengan Ash.
"Ash.. Kan OC
Ku tersisa dua lagi... Bagaimana kalau Kamu istirahat dulu sekarang...?"
Koraya berdiri lalu menghampiri Ash.
"Hee...??"
Ash kaget. "Tapi Aku kuat..." mengelak sangat ingin ikut.
"Aku akan
menggatikanmu..." Ender yang baru saja keluar dari tenda langsung memasuki
pembicaraan.
"T-tapi..."
Kata kata Ash terbata bata, sebenarnya bukan karena ingin menangis tapi hanya
bingung untuk memberi alasan. "Yah... cengeng..!" Ucap Floyd
seenaknya ikut ikut pada pembicaraan.
"Haa?! "
Bentak Ash, segera menengok ke arah Floyd. "Ya sudah kali ini Aku akan
istirahat...!" Ash memasuki tenda dengan hentakan kaki yang kencang.
"Berarti yang
kali ini akan pergi Ender... Aku... Floyd apa Kamu ikut..?" Koraya
berhitung, menunjuk Ender lalu Dirinya sendiri.
"Ya.."
Jawab Floyd dengan datar.
"Oh ya
sudah.. Dikarenakan Austin menemani Ox dan Habiki sedang latihan dengan Light
Kita bertiga saja." Usul Koraya, menyimpulkan keadaan.
"Siapp
boss..." Ender menyenggol pundak Koraya.
"E-eh..."
Koraya tersipu malu karena seperti yang sudah dikatakan, bisa dibilang Ia tidak
bisa berhadapan dengan lawan jenis.
"Kamu sudah
menentukan dimensi Koraya..?" Tanya Ox yang baru saja keluar dari tenda.
"Ya...."
Koraya berjalan lalu memberikan portal deployer kepada Ox.
"Maaf
memotong pembicaraan... Ox bisakah Kamu mempersingkat nama portal deployer itu
menjadi PD? Supaya lebih mudah memanggilnya.." Floyd bersaran.
"Oh tentu..
silahkan.." Ox menerimannya. "Lalu bagaimana Koraya..?"
Lanjutnya.
"Mungkin ini
akan menjadi yang paling berbahaya tapi... Mari mengunjungi Cade, alias Black
Eye..." Lanjut Koraya.
"Seperti apa
dia...?" Tanya Ox dengan serius karena Koraya baru saja mengatakan kata
berbahaya yang membuatnya ragu.
"Ku buat dia
menjadi tukang main hakim sendiri, berbuat keadilan di dalam peraturan sendiri,
keadaan dunianya sangat hancur..." Ujar Koraya membalas pertanyaan Ox.
Ox mengutak ngatik
portal deployer, sejenak lalu memberikannya kembali kepada Koraya.
"Berhati
hatilah..." Ox meletakan PD di tangan Koraya.
"Ya
tentu.." Koraya memandang ke arah Floyd dan juga Ender lalu mengangguk.
"Ayo.."
Koraya memasang portal dari PD yang sudah diatur oleh Ox lalu mereka semua
masuk dipimpin Floyd lalu Koraya sebagai penutup.
Team recruit saga
Part 7 : The black eyed human
Akhirnya mereka
sampai juga di dimensi yang dibilang bilang berbahaya, langkahan pertama mereka
dimulai dengan Floyd lalu Ender dan Koraya disisinya.
Mereka disambut
oleh suasana kota yang sudah sangat hancur. Bangunan terlihat sangat kumuh dan
sangat gelap. Beberapa gedung pun terlihat hancur dan berasap.
"Hmmm
sangatlah suram..." Ucap Ender sambil memasang topengnya kembali.
"Ayo Kita langsung
saja berkeliling." Ajak Koraya, Koraya berjalan menelusuri kota tersebut
bersama dengan Floyd didepannya dan Ender berada disampingnya.
Mereka mencari
keanehan keanehan yang menunjukan petunjuk mengenai keberadaan Black Eye, atau
mungkin bertemu Black Eye itu sendiri.
"T-tolong...!!"
Suara teriakan seseorang dari sebuah gedung yang disusul oleh suara tembakan
terdengar oleh mereka bertiga.
"A-apa..?!"
Koraya terkejut, Ender dan Floyd juga menyadarinya, menengok secara refleks.
Ender dan Floyd
tanpa basa basi menghampiri dan berlari ke arah gedung tersebut meninggalkan
Koraya di belakang. Gedung tersebut terletak sekitar 1 blok dari lokasi mereka
sekarang.
Mereka berdua
berlari dan saat sampai mereka melihat 3 orang teroris bertopeng yang membawa
senjata api.
Disana juga
terdapat 4 orang sandra yang diikat lalu 2 Orang yang sudah mati tergeletak di
pinggir ruangan. Pistol para teroris terdapat di kepala masing masing
sandra.
"OI OI... APA
APAAN KALIAN..." Para teroris mengarahkan senjatanya ke arah Floyd dan
Ender yang telah mengalihkan perhatian mereka.
"Benda apa
apaan yang ada ditangan mereka..?" Ender juga tidak tahu akan adanya
senjata api sama halnya seperti Light,
Floyd mengusap
kepalanya sendiri, bersiap siap untuk mengeluarkan kayunya, "Itu senjata
api, alat yang bisa mengeluarkan peluru dan membunuh hanya dengan tarikan
jari..".
"Huhh..
Tunggu..." Ender menghalangi Floyd dengan tangan kanannya. "Biarkan
Aku menunjukan kekuatan ku..." Lanjut Ender.
Ender mengeluarkan
pedangnya dengan perlahan namun para teroris tidak peduli dan langsung mulai
menembaki Ender.
"TEMBAK..!"
Teriak salah satu teroris yang terlihat memimpin yang lainnya. Ender menangkis
semua peluru yang dilontarkan oleh mereka hanya dengan ayunan pedangnya.
"A-apa..?!"
Para teroris terkejut lalu melangkah beberapa langkah kebelakang karena tAkut.
Tetapi tanpa disadari
siapapun seorang sosok muncul di belakang para teroris, hanya diam berdiri.
Saat satu teroris menoleh perlahan Ia langsung dibunuh, dengan kejam memenggal
kepalanya. Sosok itu menghilang menjadi abu saat 2 teroris lain mulai panik dan
berlarian, namun muncul kembali dan hilang lagi terus menerus hanya untuk
memenggal mereka satu persatu. Lalu sosok itu pun berdiri di hadapan Ender.
"Tch..."
Floyd dengan refleks mengeluarkan kayunya untuk berjaga jaga. "Siapa Kamu...?"
Tanya Ender kepada sosok di hadapannya.
Koraya yang baru
tiba di pintu gedung langsung disambut dengan percakapan mereka bertiga.
"Aku heran Kamu
tidak mengetahuiku..." Sosok itu terlihat bingung tapi tampaknya itu
hanyalah sarkas.
Dia memakai jaket
kulit dan celana jeans hitam. Rambutnya panjang diatas namun tipis dipinggir
seperti gaya punk. Ia memakai anting di sebelah kupingnya. Tingginya mungkin
lebih tinggi dari semua anggota tim Koraya. Tapi uniknya sebelah matanya
berwarna hitam dengan pupil putih.
"Aku dikenal
dengan Black Eye disini, panggil Aku Cade jika Kita bukan musuh.." Ia menunjukan
identitas aslinya.
"B-black
eye..." Koraya yang baru saja datang terkejut mendengar nama tersebut.
Cade menyadari
keberadaan Koraya lalu meneriakinya "Oi apa Kamu liat liat..?!".
"Tenang dia
kenalanku..." Ender menahan Cade dengan tangan kirinya untuk berjaga jaga.
"Ah..."
Cade mulai mengabaikan Koraya, Ia mengeluarkan permen karet dari saku celananya
lalu memakannya.
"Black
eye..." Floyd menghampirinya secara perlahan.
"Hah..? Sudah
kubilang panggil Gw Cade.." Cade meniup permen karet dengan santainya.
"Namaku
Floyd, Mereka Ender dan Koraya.. Aku tahu ini akan terdengar gila.. Tapi Kami dari
dimensi lain mengundangmu untuk memasuki team Kita untuk melindungi dimensi
lain..." Floyd perlahan mengajaknya, entah mengapa motivasinya dalam
mengumpulkan anggota meningkat.
"Kamu
bercanda..?! Untuk melindungi satu kota ini saja sudah membuatku gila..!"
Nada suara Cade naik, mungkin terpancing emosi oleh sesuatu.
"Kita ini
bersama Kita pasti bisa melakukannya--" Ender mencoba melanjutkan
penjelasan Floyd sebelumnya tapi.
"Bicara sekali
lagi akan kubunuh..." Cade mengeluarkan pisaunya lalu mengarahkannya ke
arah Ender dengan tatapan tajam.
"Sebenarnya
silahkan kalau bisa.." Ender memasang kuda kuda dengan pedangnya.
"Mau kubantu
..?" Tanya Floyd kepada Ender yang sudah siap bertarung.
"Tidak
terimakasih.." Jawab Ender, Ia tersenyum.
Cade menghilang
lalu muncul di belakang Ender untuk menebasnya. Namun Ender berbalik badan dan
berhasil menahan pisau Cade dengan pedangnya.
"Hah.. Jarang
sekali ada orang yang bisa menahannya." Cade terlihat sedang meledek
Ender.
"Yang
kugunakan tidak hanya pengelihatan--" Saat Ender ingin menjelakan tiba
tiba Cade mengeluarkan pisau dari lengan kiri jaketnya dan berusaha menusuk
Ender.
"Apa yang Kamu
coba katakan putri..?" Kalimat tersebut Cade ucapkan saat Ia hendak
menusuk Ender.
Namun Floyd
menahan lengannya dengan kayu supaya Dia tidak bisa bergerak dan menyerang
Ender. Namun Dirinya kabur dengan mudahnya dengan menghilang. Dia muncul
kembali di sisi Ender
"Kenapa
Kalian begitu memaksaku hah..?!" Tanya Cade dengan kesal.
"Kamu adalah
bagian penting di team ini, menurut Koraya... Lagi pula tempat tinggal akan
Kita sediakan untuk mu.." Kata Ender.
"Tempat
tinggal..?! Memangnya dimana Aku akan tinggal...?" Cade bertanya tanya
lagi.
"Jauh dari
sini..." Lanjutnya.
Cade tersenyum
licik dan berkata "Ya sudah antarkan Aku ke tempat tersebut....".
"Dapat
dimengerti..." Ender membalas pertanyaannya tanpa menyadari apakah Ia berbohong
atau tidak. Ender pun memanggil Koraya ke tempatnya, memintanya untuk memasang
portal.
Koraya segera
mengeluarkan PD dari kantongnya. Tetapi disaat portal dipasang oleh Koraya Cade
segera berlari memasukinya.
Ender, Floyd, dan
juga Koraya pun terkejut. Mereka segera menyusul Cade dari belakang.
Saat sampai di
dimensi Koraya, mereka tiba sedikit lebih jauh dari tempat biasanya. Cade tidak
dapat ditemukan di sekitar portal. Telah kabur entah kemana di dimensi ini.
Poison saga
Part 1 : New life
"Aku
pulangg.." Koraya, Floyd, dan Ender memasuki tenda setelah berjalan
beberapa langkah dari tempat portal terpasang.
"Haiiii...
Aku membuatkan kue untuk Kalian semua...!" Ash membawakan semangkuk kue
kering kepada orang orang yang baru datang.
"Ah terima kasih..."
Koraya dan juga Ender mengambil satu butir kue.
"Floo....
Ambil satu dongg.." Ash menawarkan kuenya kepada Floyd dengan mendorong
dorong mangkuk ke arahnya.
"Tidak.."
Jawab Floyd dengan polosnya.
"Plss..."
Tetapi Ash tetap memaksanya.
"TIDAK.."
Sentak Floyd mulai kesal.
Orang orang
dibelakang Ash menggelengkan kepalanya dengan kencang sambil menyilangkan
tangannya kepada Ender dan Koraya.
Namun mereka
berdua tak menyadarinya. Saat Koraya mencoba gigitan pertama, Ia menunduk dan
memuntahkannya mentah mentah. "Hoek... Asin..!" Suara Koraya tidak
karuan.
Ender juga
memakannya bersamaan dengan Koraya, langsung memuntahakannya ke arah Ash.
Ash menghindari
muntahan Ender lalu berkata dengan polosnya, "Oh ya Aku lupa bilang yang
Aku kira gula itu garam..".
Setelah kapok
mencicipi masakan kue buatan Ash, Koraya dan juga Ender pergi menuju sofa untuk
bersantai.
"Aaaaaa....
Lelahnya..." Ujar Koraya menyandar kecapean kepada senderan sofa.
"Koraya mana
Cade..?" Ox menghampiri Koraya yang sedang kelelahan lalu duduk di
sebelahnya.
"Melarikan
diri.." Respon Koraya dengan lemas.
"Hahh...
Sudah kuduga sih jika asal mula dimensinya di sana.." Kata Ox, Ia ikut
menyandar seperti Koraya.
"Koraya.... Kamu
masih sekolah kan...? Bagaimana jika Kita istirahat selama 5 hari selama itu
Aku akan menyiapkan perlengkapan kalian... Lagi pula cuman satu lagi kan Oc
yang perlu dicari...?" Tanya Ox sambil duduk disebelahnya.
"Bukannya itu
nanggung..?" Floyd sedang berdiri di sisi pintu masuk juga ikut merespon.
"Tidak
tidak.. Koraya perlu istirahat Kita lanjut nanti saja..." Ox berusaha
membela Koraya yang kelelahan.
"Ya
sudah...." Floyd menjawabnya dengan wajah datar.
"Kalian cape
kan...?" Light terlihat baru saja keluar dari dalam dapur bersama dengan
Habiki, membawa banyak cupcake.
"AAA....!!"
Teriak bahagia Ender, nerlari ke arah Light lalu mengambil satu buah cupcake.
"Sudah lama
Aku tidak makan seperti ini heuuuheuu.." Ucap Ender dengan muka yang mulai
memerah, mendekatkan cupcake ke mulutnya namun Ash tidak sengaja menyenggolnya
saat sedang berjalan menuju Light. Cupcakenya pun terjatuh dari genggaman
Ender.
Ender memandang ke
arah cupcakenya yang terjatuh itu dengan terlihat amarah di dalamnya.
"Ash.." Ender memanggilnya.
"Hah ada
apa--- Ohh... Oh..?" Ash menengok lalu menyadari cupcake Ender yang
terjatuh, Ia menghampiri Ender lalu berkata.
"Ah tidak apa
apaaaa...." Ash menepak nepak kepalanya beberapa kali dari belakang,
tersenyum mengesalkan.
Ender menengok, menatap
Ash dengan dingin. Ender senyum, Ia perlahan menarik tangan Ash yang sedang
menepak kepalanya lalu memutarnya.
"Aduduhh..!!
Ampun..!!" Ash menahan tangannya kesakitan.
"Hmph..."
Ender akhirnya melepaskan tangan Ash dengan kesal.
"Jadi
sekarang Kita akan istirahat dan kapan kapan saat sepulang Koraya sekolah Kita akan
membuat design buat topeng..." Ox menyelipkan sebuah percakapan baru di
antara kesalnya Ender kepada Ash.
"Hahh..? Buat
apa topeng...?" Floyd mengangkat kedua alisnya.
"Setelah Kita
telah beres persiapan Kita akan melindungi dimensi... Akan repot jika ada orang
yang mengetahui wajah kita..." Ox mempertegas ucapannya.
"Ah ya
sudah... Akan kuusahakan besok Ku pulang tidak sore..."Koraya menegakkan
tubuhnya lalu menengok ke sebelahnya.
"Ya sudah Aku
akan ada di ruangan Ku kalau Kalian butuh..." Ox bangkit dari duduknya
lalu memasuki ruangannya.
"Ka Light...
Bagaimana dengan Latihan lagi..!" Ajak Habiki, menaruh piring dengan
cupcake di meja setelah dipegang selama ini.
"Ah ya sudah
ambil panah dan pedang mu..! Aku akan menunggu diluar..." Jawab Light
perlahan melangkah keluar tenda.
"Siappp...!!"
Habiki berlari ke dalam ruangannya lalu mengambil sebuah panah dan juga pedang
kayu, lalu kembali keluar untuk menyusul Light.
"Kapan dia
mempunyai itu?" Tanya Koraya kebingungan.
"Tunggu.."
Floyd meraih tangan Habiki lalu menahannya sebelum Ia bisa keluar dari tenda.
"Ada
apa..?" Habiki menoleh kebelakang, melepaskannya dari genggaman tangan
Floyd.
"Tentang
tangan mu.. Maaf.." Floyd meminta maaf setulus mungkin.
Habiki menunduk,
terlihat kesal. "Aku tahu, Kamu perlu memotong lenganku supaya Virus pergi..
Aku tahu.. Sebesar besarnya Aku ingin memaafkanmu, ada bagian dalam diriku yang
takkan memaafkanmu.." Habiki menatap Floyd.
"Maaf..".
"Ya sudah Aku
terlebih dahulu.." Habiki melanjutkan perjalanannya keluar tenda untuk
berlatih bersama dengan Light.
"Ah.. Aku akan
hibernasi sebentar..." Ujar Ash sambil melangkah pelan pelan ke dalam
kamarnya.
"B-bukannya
hibernasi itu lama ya..." Koraya tersenyum ragu terhadap ucapan Ash.
"Aku
juga..." Floyd mengikuti Ash di belakang lalu berbelok ke kamarnya.
"Koraya..."
Austin memegang pundak Koraya dari belakang.
"Hm..?"
Koraya menengok ke belakangnya.
"Aku akan
pergi jalan jalan ok..." Setelah mengatakan itu Dirinya segera pergi
meninggalkan tenda entah kemana.
"Hah... Apa
masalah setiap orang sampai berpergian..?!" Tanya Ender dengan kesal,
menggaruk kepalanya kebingungan.
"Ahahaha...
Sebenarnya Ender Aku juga harus mengerjakan tugas... Kamu beristirahat saja di sini...
Kalau ada perlu kunjungi rumah Ku yang ada tepat diluar tenda." Terus
Koraya, Ia juga ikut berdiri seperti yang lainnya.
"Awhh...
Ok.." Ender melirik dan menjawab.
Koraya
meninggalkan tenda, meninggalkan Ender sendiri. Setelah itu Ia berjalan
mendekati, membuka pintu rumahnya.
"Ah.....
Istirahat... Besok sekolah lagi... Yaa... " Koraya memasuki, menutup pintu
depan rumahnya lalu berjalan memasuki kamar untuk mengerjakan tugas tugasnya.
Setelah beberapa
jam berlalu akhirnya Koraya selesai mengerjakan semua pekerjaan rumahnya.
"Ahhh
akhirnya beres.....!" Dengan lega Koraya menggeliat di atas ranjangnya.
"Jam 10? Ah
masa sih Aku ngerjain tugas selama itu..." Koraya lalu segera pergi
ke kasurnya, berbaring.
"Tidur aja
kali.." Koraya memejamkan matanya, tapi tak lama Dirinya mendengar suara
ketukan dari pintu depan rumah.
"Siapa malem
malem gini..." Karena terkejut Koraya segera membuka matanya kembali. Dia
bangun dari tidurnya lalu keluar dari kamar.
Ia melihat surat
di atas lantai dekat pintu, menghampiri lalu membacanya. Di dalamnya berisi
sebuah kertas bertuliskan "Ayo keluar Kita menikmati malam ini..!
-Ender...".
"H-hahh..?!"
Kejut koraya dengan wajah yang memerah, karena sikapnya yang tidak bisa
menangani perempuan, Ia terkejut.
"Tenang Korayaaa..."
Koraya menampar wajahnya dengan kedua tangan untuk menenangkan diri.
Koraya membuka
pintu perlahan, terlihat Ender yang sedang bersandar ke pagar sambil melihat
menuju bintang bintang di angkasa.
"Ah Koraya..
Aku cemas Kamu tidak membaca surat ku.." Ender menoleh ke arah Koraya
dengan senang.
"A-ah
tidakk..." Kata kata Koraya terdengar sangat terbata bata.
"Bukannya
bintang sangat indah Koraya...?" Ender melihat ke langit sekali lagi
dengan matanya yang bersinar.
"Ya..."
Jawab Koraya, memandang Ender yang terpukau kepada bintang bintang.
"Ah mari Kita
melihat dari atas pasti akan lebih terlihat...!" Ender lalu melompat
tinggi ke atas atap rumah Koraya, meninggalkannya di bawah.
"H-hei
tungguuu..!!!" Koraya berlari ke dalam rumahnya, menaiki tangga ke loteng
tanpa menutup pintunya sama sekali. Saat sudah di atas, Dia membuka jendela dan
keluar ke atap melaluinya. Disana sudah ada Ender yang sedang duduk di ujung
atap.
Koraya
menghampirinya lalu duduk di sebelahnya. "Hei.. Kenapa Kamu tidak mengajak
yang lain? Seperti Ash sebagai contoh... Kamu terlihat cukup dekat dengannya.."
Koraya mencoba memulai percakapan dengannya walaupun tidak melakukan eye
contact.
"Hmmm.. Dia
kan tidur, Floyd pun samanya... Terus pangeran yang bisa masak itu dan adiknya
kecapean sesudah latihan.. Orang berkaca mata itu tidak bisa diganggu dan Orang
berjubah itu masih belum pulang..." Ender juga membalas tanpa menoleh ke
Koraya.
"Ah jadi
begitu..." Koraya memandangi langit sama seperti Ender.
"Lagipula Kamu
mengingatkan Ku dengan seseorang..." Ujar Ender setelah melirik
Koraya, dan tersenyum.
"Hmm..?"
Koraya menoleh, memulai eye contact.
"Tidak
tidak... Hei.. Apa Kamu tahu...? Di tempat asal Ku bintang dipercaya sebagai
impian setiap orang.. Dari antara ratusan... Tidak... Ribuan impian itu ada
impian mu... dan impian ku..." Ender mencoba mengalihkan perhatian,
Dirinya mulai memandangi langit lagi sambil menunjuk bintang bintang.
"Begitu...."
Jawab Koraya sambil memandang kembali langit langit mengikuti Ender.
"Indah.." Terus Koraya, tiba tiba Ia tersenyum.
"Ah Koraya...
Maaf mengganggu, Sepertinya Kamu besok harus sekolah.... Kamu harus segera
istirahat...! Aku akan segera ke tenda.." Ender segera berdiri dengan
cepat.
"Ah ya
sudah...." Jawab Koraya juga ikut berdiri.
Ender melompat
turun dari atas atap. Sesaat sudah di bawah Dia melambaikan tangannya kepada
Koraya lalu pergi memasuki tenda.
Koraya melambai
balik ke arahnya lalu memasuki rumahnya melalui jendela. Ia menutup jendela
lalu berjalan menuju pintu yang belum ditutup sebelumnya. Setelah
menutupnya Dia segera menuju kamarnya dan menempati posisi terenak di
ranjangnya, untuk tidur sekali lagi.
Setelah banyaknya
waktu terlewat karena pulasnya Koraya tertidur, akhirnya Koraya bangun dari
tidurnya itu.
"Huaaaaaaaaoohhh...."
Koraya yang baru saja bangun tidur langsung menguap dan menggeliat.
Dirinya segera
melihat ke arah jam dindingnya, menunjukan pukul 06:18.
"Ahhhh masih
cukup..." Koraya berbicara kepada Dirinya sendiri dengan nada yang masih
terdengar lemas.
Koraya bangkit
dari ranjangnya, mengambil handuk yang digantung dekat pintu lalu keluar dari
kamarnya.
"Selamat
pagi...!" Saut Habiki dan Ender secara bersamaan. Mereka berdua sedang
duduk di meja makan dengan santai.
"Oi oi apa
yang Kalian lakukan pagi pagi di rumah ku...?!" Jawab Koraya dengan nada
yang terdengar lumayan kesal, namun lelah.
"Yah pintunya
tidak terkunci jadi Kami pikir kenapa tidak membuat sarapan untuk
Koraya.." Jawab Ender sambil tersenyum, walaupun sebenanya hanya senyum
biasa di mata Koraya senyum tersebut terlihat sangat mengesalkan.
"Ya
terserahlah... Aku mau mandi dulu.." Jawab Koraya.
Ia memasuki kamar
mandi lalu menaruh handuknya di meja sebelah wastafel. Dia segera menggosok
giginya dengan sikat gigi yang baru saja diambil dari dalam gelas, di atas
meja.
Selesai menggosok
giginya, Dirinya segera menyalakan shower dan mandi.
Setelah beberapa
menit di kamar mandi, akhirnya Koraya selesai. Mengeringkan badannya
menggunakan handuk tadi lalu memakai bajunya kembali. Koraya pun keluar kamar
mandi dengan handuk di lehernya terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Koraya makan
sudah siap..!" Panggil Light yang keluar dari dapur sambil melirik ke
Koraya setelah Ia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Yaya tunggu
sebentar..." Koraya kembali memasuki kamarnya lalu mengambil seragam untuk
dipakai ke sekolah. Dirinya lalu keluar dari kamarnya lagi dan pergi ke meja
makan, duduk di samping Ender.
"Ini
diaa...!" Light memberikan satu porsi nasi kari untuk Koraya, Ender,
Dirinya sendiri, dan juga Habiki.
"Kamu suka
suka banget sama memasak..." Koraya mengambil suapan pertama.
"Sebenarnya
sih dari dulu udah dipaksa untuk masak sendiri.. Jadi kebiasaan deh.."
Jawab Light, mengambil tempat duduk di sebelah Habiki.
Semuanya pun mulai
memakan makanan hasil masakan Light. Koraya mengambil remot yang ada di meja
lalu menyalakan TV.
"Benda apa
lagi ini..?" Light terdengar seperti kakek kakek yang ketinggalan jaman,
samanya dengan Ender yang melirik kebingungan.
"Televisi,
sumber informasi dan juga hiburan.." Habiki berusaha menjelaskannya.
"Pembunuhan
di jalan Steint Maverick pada malam tadi... Diduga terdapat banyak barang yang
membeku dan es dimana mana... Korban bersuhu sangat dingin... Tapi Korban
terbunuh karena ditusuk di daerah perut..." Begitu isi berita di TV pada
saat itu yang muncul pertama kali di Televisi yang dinyalakan Koraya.
"Steint
Maverick?! Itu di daerah sini...." Koraya terkejut dan sempat meletakan
sendoknya.
"Es....?!
Mana ada pembunuhan seperti itu di dunia kita...!" Habiki ikut terkejut,
Ia memandang TV dengan kaget.
"Ya....
Mungkin itu dari dimensi lain.." Terus Light untuk meluruskan yang Dia
lihat.
"Tapi
bagaimana.?!" Koraya bertanya tanya kepada Dirinya sendiri, saking terkejutnya
Ia mulai melambat saat makan.
"Kita urus
nanti.... Hati hati di jalan saja..." Light tersenyum walau sambil makan
dan mengunyah. Disisi lain Ender hanya makan tanpa berkomentar pada berita
tersebut.
"Ah ok
siap..!" Koraya mulai menenangkan diri lalu kembali makan dengan santai.
Setelah beberapa
menit pada akhirnya Koraya membereskan makanannya, segera berdiri lalu dan
membawa tasnya pergi keluar rumah.
"Dadah Aku duluan..!
Nanti Kalian jaga ya rumah ini..!" Koraya melambaikan tangannya ke arah mereka
yang sedang makan sambil tersenyum.
"Ya hati hati
di jalan...!" Light dan Habiki menjawabnya melainkan Ender hanya tersenyum
tulus kepadanya.
Koraya segera
pergi menaiki sepedanya yang selalu diparkirkan di depan rumah, menuju ke
sekolahnya.
Dia melewati jalan
staint maverick yang ada pada berita, disana terdapat banyak polisi akibat
insiden tersebut. TKP dipenuhi dengan es yang belum juga meleleh dari saat
berita disiarkan.
"Anehnya..."
Koraya yang sedang mengayuhkan sepedanya sempat melirik ke arah TKP.
Lalu meneruskan
perjalanannya kesekolah tanpa memikirkan hal itu lagi. Sesampainya Dia melakukan
rutinitasnya, seperti mengunci sepedanya.
Menuju kelas, kali
ini dengan santai. Saat sampai kelas juga disambut oleh Shoko seperti biasanya.
"Oiiii... Mau
main sepulang sekolah..?" Tanya Shoko menghampiri Koraya yang sedang
berjalan memasuki kelas.
"Ah liat
nanti ok.." Jawab Koraya dengan ragu.
Koraya berjalan
menuju tempat duduknya lalu menaruh tasnya disamping meja seperti biasa.
Sebelum Koraya
bisa duduk Dirinya mendengar teriakan seorang gadis dari luar kelas
"Korayyaaaaaaa!!".
"L-lucy..."
Koraya tampak terkejut di dalam hati.
"Selamat
pagii...~" Saut gadis yang muncul dari pintu secara tiba tiba dengan
semangat.
Dia adalah Lucy.
Teman masa kecil Koraya dan Shoko. Rambutnya panjang berwarna kuning keemasan,
Dia ikat sebagian rambutnya di belakang kepalanya. Matanya kuning dan juga
cukup tinggi.
"Ahh Lucy..!!
Kamu kemana saja..?" Tanya Koraya sambil tersenyum senang.
"Duhhh... Kamu
ini.. Kan Aku dah kasih tau.." Ujar Lucy, dengan kesal. Lucy perlahan
memasuki kelas dan menghampiri Koraya.
"Ehehe...."
Koraya menunduk dengan malu karena melupakan hal yang Lucy katakan.
"Oi..!"
Shoko menghampiri mereka berdua yang sedang berbincang.
"Ah pasti
terus terusan ada Lo..!" Lucy melirik Shoko, jengkel.
"Jangan gitu
lahh..! Kita kan temenan dah lama.." Shoko tertawa.
"Iyaaa
iyaa...".
"Oh
sebentar.. Nih Koraya...." Lucy mengeluarkan sebatang coklat dari
kantongnya lalu memberikannya kepada Koraya. "Coklat dari kampung
halamanku... Kamu pasti suka..." Lucy tersenyum walaupun Koraya sudah
melupakan sesuatu yang Lucy katakan.
"A-ahh...
Terima kasih..." Koraya menerimanya dengan malu malu, walau Lucy teman
masa kecilnya tetap saja Koraya tidak bisa menangani perempuan.
Disana Shoko hanya
bisa memandang mereka kebingungan dan terheran heran, seperti nyamuk saja.
"U-umm...
Koraya..?" Tanya Lucy dengan malu malu samanya dengan Koraya.
"Hm..?"
Koraya melirik Lucy.
"Bisakah Kamu
meluangkan waktu sebentar sepulang sekolah... Kalau gamau sih gapapa..."
Lucy malingkan diri supaya tak bertatapan dengan Koraya.
"Y-ya... Ok
Aku bisa...." Jawab Koraya, menunduk tidak jauh seperti Lucy.
"Ya sudah Aku
tunggu di taman sepulang sekolah..." Ujar Lucy, segera berjalan keluar
kelas.
"Hummm..."
Shoko semakin mendekat ke arah Koraya dengan wajahnya yang menjenjengkelkan,
meledeknya.
"Peka
dongg..!! Seperti biasa Kalian deket..!!" Shoko tertawa dengan lantang di
sisi Koraya.
"Duh apa
sih...." Koraya membalasnya selagi duduk di kursinya.
Tak lama setelah
Lucy pergi, guru pun datang dan pelajaran segera dimulai.
Setelah berjam jam
terlewati, dari mulai pelajaran inggris sampai science dijalani dan pada
akhirnya semua pelajaran selesai, murid murid pun diperbolehkan pulang.
"Koraya
jangan sampai kAku ya ...!" Shoko berlari keluar kelas menertawai Koraya,
bukan berniat meledek tapi hanya memberinya saran dengan cara yang menyebalkan.
"Hmmmm...!"
Wajah Koraya megkerut.
Dia memasukan buku
bukunya ke dalam tas dari kolong meja. Keluar kelas untuk segera pergi menuju
taman sekolah dimana mereka berjanji. Koraya berlari secepat mungkin supaya
tidak telat, dan saat sampai Lucy sudah menunggu di depan air mancur yang
terletak tepat di tengah tengah taman.
"K-koraya..."
Lucy yang sedang melamun menoleh ke arah Koraya dengan kaget.
"Haii...."
Saut Koraya sambil menghampiri Lucy.
"Aku senang
dengan pemandangan siang hari... Kita bisa melihat pemandangan dengan
jelas...!" Lucy memandang ke atas langit perlahan, berusaha menutupi
matanya dari sinar matahari dengan tangannya.
"Ya..."
Koraya teringat kata kata Ender yang menyatakan bahwa Ia menyukai bintang
bintang di malam hari.
"A-ah...
Koraya.." Lucy baru saja teringat niatnya memanggil Koraya dan wajahnya
pun memerah.
"Jadi..
Kenapa Kita janjian...?" Koraya penasaran, berusaha memandang Lucy.
"A-Aku... Aku..."
Wajah Lucy memerah seiring waktu. "Aku cuman mau nunjukin langit
kok.." Wajah Lucy terlihat konyol dan mengesalkan membuat Koraya
menyianyikan waktunya.
"Pfftt..."
Koraya menahan perutnya dan tertawa. "E-ehh..!!" Lucy berteriak malu.
"Kamu ini gak
pernah berubah yaa...!!" Koraya memandang ke arahnya walau masih tertawa.
Lucy yang
berhadapan dengan Koraya hanya bisa memandang Koraya dengan malu tapi entah
mengapa, Ia tersenyum.
"Ah ya sudah
sih kalau Kamu gak peduli..." Lucy membalikan badannya dari hadapan
Koraya.
"Yah jangan
murung dong.." Tawa Koraya perlahan mulai pudar, Ia melambaikan tangannya
kepada Lucy.
"Tenang Aku gak
murung kok..!" Lucy menoleh ke arah Koraya sejenak sambil tersenyum lalu
menoleh kembali ke depan.
Lucy perlahan
berjalan meninggalkan taman, dan saat melakukannya Ia mengucapkan salam
"Dahh sampai ketemu nanti...".
"Ah iyaa Aku juga
duluan..." Koraya melambaikan tangannya walau Lucy tak melihatnya. Koraya
lalu pergi berjalan meninggalkan taman dan menuju sepedanya.
Seperti biasa Dia
melepas gembok sepeda dan mengendarai sepeda tersebut ke rumah. Sesampainya Ia disambut
oleh Ash dan Floyd yang sedang bertengkar tepat di depan rumah.
"HHHH JIKA
Aku IKUT Kita PASTI AKAN MENDAPATKANNYA...!" Teriak Ash sambil
menyondongkan tubuhnya menuju wajah Floyd.
"Hahh.?!!! Kamu
sendir sekarat waktu itu.!" Samanya, Ia juga menyondongkan wajahnya menuju
Ash. Mereka berdua saling menatap dengan kesal.
"Ah selamat
datang Koraya.." Ox menyambut dan menyapa Koraya yang baru saja pulang
dari sisi tenda.
Koraya memarkirkan
sepedanya di tempat biasa, sambil berusaha mengabaikan Ash Ia menyapa Ox
kembali, "Halo Ox...".
"Besok Kita akan
membuat topeng bisa menyempatkan waktu..?" Tanya Ox.
"Tentu"
Koraya menjawabnya dengan semangat.
Poison saga
Part 2 : Festival
“Selamat
datang..!" Seorang pria bertopeng gas dengan sebelah mata tertutupi dan
sebelah tidak, tersenyum walau tak terlihat. Ia menyambut kedatangan 3 orang
yang berjalan dari pintu besar di hadapannya menuju lorong. Semua orang atau
pasukan yang berada di sisi ruangan memberi hormat kepada mereka bertiga.
"Diam
Goose...." Shika membentak, orang yang ternyata bernama Goose itu.
Lebih detailnya
lagi selain memakai gas mask yang unik, Goose memakai jas pesta berwarna ungu
dan kuning bersamaan dengan dasi. Rambutnya berwarna putih dan matanya berwarna
ungu.
"Sudah
kak..." Usagi menyentuh tangan Shika untuk menenangkannya.
"Ahaha..~ Kenapa
Kamu bisa sebegitu jahatnya kepada sesama komandan...?" Goose tertawa
kecil, mengulurkan tangannya kepada Shika.
"Tch..."
Shika terdengar kesal. "Goose... Apa Kami dipanggil oleh tetua..?"
Tanya komandan 5 bertopeng emas itu menyusul Shika yang berada di depan.
"Ahaha~
Komandan Dawn memang luar biasa...! Tetua telah menunggu di ruangan..."
Dari tadi Goose hanya bisa tertawa layaknya seorang badut yang hanya ingin
perhatian.
"Terimakasih...
Shika, Usagi..." Dawn perlahan melewati Goose, Shika dan Usagi juga
mengikutinya dari belakang.
Dawn adalah orang
yang terlihat kuat sebelumnya, orang yang dapat menghancurkan mantra Austin
dengan mudahnya.
Mereka berjalan
langkah demi langkah menuju ruangan dengan pintu yang sangat besar di ujung
lorong. Pintu pun terbuka dengan sendirinya, mereka disambut oleh seseorang
bertopeng gas biasa namun bertopi fedora. Pakaiannya sangat formal, Ia memakai
kemeja dan juga dasi. Rambutnya juga terlihat sedikit berwarna pirang. Dia
sedang duduk di kursi tertinggi di ruangan tersebut.
"Tetua..."
Mereka bertiga Shika, Usagi, dan juga Dawn menunduk memberi hormat.
"Ah apa
laporan kalian...?" Orang yang disebut sebagai tetua itu bertanya sambil
memandang ke bawah, mereka bertiga.
"Ada kumpulan
orang yang berhasil mengalahkan Usagi dan Shika." Dawn berusaha melaporkan
kejadian.
"Ah begitu
begitu...." Orang tersebut mulai duduk tegak. "Apa Kamu mengetahui
lokasinya...?" Ia bertanya sekali lagi.
"Tentu
saja... Dengan prediksiku Aku menebak mereka ada di dimensi 1..." Jawab
Dawn dengan kepala yang masih menunduk ke arah sang tetua.
"Dimensi 1..?
Apa bagusnya dimensi itu.." Sang tetua bersender kembali ke tahtanya.
"Ya sudah... Beri perintah ke seluruh pasukan untuk menyerang dimensi itu
dalam beberapa hari lagi...." Menunjuk ke arah pintu besar berada.
"Dapat
dimengerti..." Usagi, Shika, dan juga Dawn mengangkat kembali kepala
mereka.
"Ajak Goose
dan Benedict bersama kalian... Aku ingin mereka kalah..." Tatapan dingin
sang tetua terasa dari balik topeng, membuat Dawn mulai serius lagi.
Keesokan harinya,
Koraya pergi kesekolah lalu mengobrol dengan Lucy saat jam istirahat seperti
sahabat dekat, terkadang percakapan mereka juga ditemani oleh Shoko yang berupa
teman dekat mereka juga. Sepulang sekolah Ia pulang bersama Lucy dengan
sepedanya dikarenakan setengah dari perjalanan pulang mereka sejalur.
"Sudah disini
saja..." Lucy menepak punggung Koraya sambil turun dari sepeda di
perempatan rumahnya dan juga rumah Koraya.
"Kamu yakin
tidak mau diantar ke rumah...?" Tanya Koraya, menoleh ke arah Lucy yang
baru saja turun.
"Ya... Duluan
ya...!" Lucy melabaikan tangannya lalu perlahan berjalan menjauh menuju
rumahnya sendiri.
Koraya melambai
balik, tersenyum. Lalu segera pulang kerumah secepat mungkin, karena Ia mempunyai
janji dengan Ox. Sesampainya Dia memarkirkan sepedanya di tempat biasa lalu
segera memasuki tenda.
"Aku
pulanggg...." Saut Koraya dengan lantang.
"Selamat
datang....!" Ujar Ox sambil menghampiri Koraya di dekat pintu masuk tenda.
Ox memberinya
selembar kertas bersamaan dengan sebuah pensil. "Ini untuk apa..?"
Tanya Koraya dengan kebingungan saat menerimanya.
"Kan sudah
kubilang Kita akan membuat design topeng...." Ox menggelegkan kepalanya
lalu berjalan kembali ke sebuah sofa untuk rebahan.
Semua orang duduk
di atas sofa dan terlihat sedang fokus menggambar di atas selembar kertas. Hal
itu terkecuali Ender, Light, dan juga Austin.
"Lho kok
Kalian gak ikut mendesign...?" Tanya Koraya sambil berjalan melewati
mereka bertiga yang duduk di sofa yang terpisah dari yang lainnya.
"Hah.? Kita kan
udah punya topeng..." Jawab Ender mengangkat kedua bahunya.
"Ah
ok.." Koraya mengambil tempat duduk, tepatnya di sebelah Ash dan Habiki
dan mulai menggambar di atas selembaran kertas tadi.
"Ahhhh
beres...!" Ucap Ash sambil berdiri dengan semangat dan senang.
"Ah biar Aku liat...."
Ujar Ox, Ia berdiri menghampiri Ash lalu mengambil kertas dengan gambaran
buatannya.
"A-ah.."
Di kertas itu tergambarkan topeng rubah yang biasa ada di tradisi dan budaya Jepang
namun di gambarkan dengan sangat jelek.
"Kamu kan
kambing...?" Ender bertanya tanya saat melirik gambaran Ash setelah pergi
menghampiri Ox.
"Ah..! Tidak
masalah dong....!" Jawab Ash dengan kesal namun malu kepada Ender.
Floyd juga
menghampiri Ox dan memberikan hasil gambarannya kepada Ox. Isi kertasnya sangat
mirip dengan Ash. Topeng rubah, hanya saja dengan motif berbeda dan digambar
dengan jauh lebih baik.
"Lho..? Kok
bisa sama..?" Ender bertanya tanya kepada Floyd dengan bingung.
"Aku
kehabisan ide.." Floyd menjawab dengan santai.
"Ini punyAku..!"
Habiki berdiri berjalan menuju Ox, sambil memberikan kertasnya kepadanya.
Digambarkan
olehnya sebuah topeng kulit hitam dengan lensa lingkaran di bagian mata, di sana
juga tertuliskan sebuah catatan 'Kalau bisa lensanya bisa ngezoom'.
"Wah
keren...." Ucap Ender terpukau oleh hasil gambaran Habiki. "Tinggal Kamu
Koraya...!" Ia menoleh ke arah Koraya yang masih juga meggambar.
Koraya akhirnya
selesai. Dia berajalan lalu memberikan kertasnya yang menggambarkan topeng
putih sederhana dengan motif diamond ditengahnya kepada Ox.
"S-simple..."
Ender dan juga Ox samanya terkejut. "Maaf kalau jelek.." Koraya
tersenyum kAku, menggaruk kepalanya.
"Tidak
tidak.... Akan Ku proses dari sekarang..." Ox tersenyum lalu langsung
membalikan badannya. Ia pun segera memasuki ruangannya untuk langsung membuat,
mengerjakan projek topeng tersebut.
"Aku keluar
dulu...." Austin seperti biasanya keluar tanpa ada alasan yang mendasar,
meninggalkan tenda tanpa adanya basa basi.
"Ya..."
Jawab Koraya walaupun takkan terdengar oleh Austin karena sudah terlanjur
keluar.
"Aku duluan..."
Koraya melambaikan tangannya ke arah semuanya. "Ok..." Mereka
menjawab.
Koraya keluar
berjalan keluar tenda lalu menuju rumahnya. Membuka pintu rumah lalu memasuki
dan menutupnya.
Saat memasuki
kamar Ia berbaring, dan melakukan semua pekerjaan rumah yang ada sampai malam
hari tiba, Ia tertidur.
"Waaaahhhhh....."
Pagi hari telah tiba, Koraya pun baru bangun tidur, disambut oleh sinar
matahari yang tak terlalu silau, menyinari kasurnya.
Koraya bangkit
dari ranjangnya, berjalan keluar kamar membawa handuk seperti biasanya. Sejak
hari dimana Light memasak sarapan pertama kali, kini para anggota tim Koraya
bergantian memasak sarapan untuk bersama. Ya tidak semua sih, hanya Light,
Ender, dan Habiki saja.
"Selamat
pagiii....!" Sambut Habiki dan juga Light bersamaan dari meja makan
seperti biasa.
"Selamat
pagi..." Koraya langsung menuju kamar mandi, segera menggosok gigi dan
mandi, begitu lah rutinitas pagi sehari harinya.
Seusai Koraya
mandi dan mengeringkan badan, Dirinya memakai kembali bajunya. Meninggalkan
handuknya di kamar mandi lalu langsung keluar, menuju kamarnya untuk mengganti
ke seragamnya.
"Siapa yang
memasak hari ini..?" Koraya membuka pintu kamarnya sesudah memakai
seragamnya.
"Kak
Ender..!" Ujar Habiki sesaat menoleh menuju Koraya.
"Lho? Kamu
menjadi lebih sopan makin kesini Habiki..!" Ender keluar dari dapur
memakai celemek, membawa beberapa piring sayur sop dengan nasi. "Ah Koraya
sarapan jadi..." Ender tersenyum kepadanya.
"Ah
terimakasih... " Balas Koraya. Koraya langsung berjalan menduduki kursi
yang kosong di sekitar meja makan. Pada akhirnya Dia duduk tepat di sebelah
Light.
Ender membagikan
piringnya ke masing masing orang termasuk ke bagian meja dengan kursi yang
belum diduduki oleh siapapun.
Saat sudah beres
membagikan, akhirnya Ender duduk di kursi kosong itu yaitu di sebelah Habiki.
"Selamat
makan...!" Ucap Light, Habiki, Koraya, dan juga Ender secara bersamaan.
Mereka memakan gigitan pertama bersamaan juga.
"Ah
enakk..!" Habiki dan Light menyuapkan lebih banyak lagi.
"Ah iya
enak... Kamu bisa makan juga ya..?!" Koraya bertanya selagi memakan
sarapannya, Dia sesekali melirik Ender.
"Ah tidak
tidak, cuma satu, dua hal yang bisa Aku masak..." Ender tertawa,
mengipaskan tangannya, dan akhirnya juga lanjut makan.
"Ah
begitu..." Koraya mengambil remot dan menyalakan TV seperti biasa. Berita
yang muncul pertama kali sama seperti dua hari yang lalu mengenai pembunuhan
dengan es namun di tempat yang berbeda.
"Pembunuhan
lagi..?!" Sautnya dengan kaget, berhenti makan seperti sebelumnya.
"Sepertinya belakangan
ini itu sering terjadi.. Pembunuhan dengan es..." Terus Light kali ini
dengan serius karena kesal akan kejadian tersebut.
"A-ada apa
sebenarnya...." Habiki terlihat sangat kebingungan.
"Tenang nanti
akan Kita tangkap pelAku nya... Iya kan...?!" Ender tersenyum lalu menoleh
ke semua temannya satu persatu.
"Tentu..!"
Jawab Light, tersenyum semangat.
Sementara itu
Austin sedang memandang mereka dari arah pintu rumah, berdiri jelas jelasan di
dekat pintu.
Setelah percakapan
tersebut berakhir akhirnya mereka melanjutkan sarapannya. Sesudah suapan demi
suapan akhirnya makanan mereka semua pun sudah habis. Koraya lalu mengambil
tasnya di dekat meja makan dan pergi keluar rumah dengan terburu buru.
"Semuanya Aku
duluan..!" Koraya melambaikan tangannya kepada mereka bertiga dan mereka
juga membalas dengan lambaian tangan.
"Oh
selamat pagi Austin..!" Setelah keluar rumah, Ia menyadari keberadaan
Austin yang sedang berdiri diam di dekat pintu.
"Hati
hati..!" Jawab Austin tertawa.
Koraya memberikan
senyuman kembali lalu memakai sepatu. Ia menaiki sepedanya di tempat parkir
biasa lalu pergi ke sekolah secepat mungkin.
Sesampainya
disana, Dia melakukan hal seperti biasa setelah itu bergegas pergi menuju
kelasnya. Tapi saat dalam perjalannanya ke kelas, Lucy mencegatnya di lorong
beberapa ruangan sebelum kelas Koraya.
"Korayaa...."
Lucy membentangkan tangannya, menghalangi Koraya supaya telat datang ke
kelasnya.
"Ahh apa Cy..?"
Koraya bertanya kepada Lucy layaknya tak tahu apa apa.
"Hmphh!"
Lucy tampak lebih cemberut dari biasanya. "Kamu kok biasa aja
sihh...!" Lucy membentak Koraya dengan kesal.
"E-eh maaf..
Ada apa Cy..?" Tanya Koraya sekali lagi kepada Lucy walaupun merasa
bersalah.
"A-anu...
Besok sore kan akan ada festival di dekat sini..." Lucy menunduk malu.
"Terus...?"
Tanya Koraya ketiga kalinya sambil memiringkan kepalanya.
"Y-yang
benerrr...!!!!!" Teriak Lucy dengan kesal sekali lagi.
"Apaan
sihhh..." Koraya menunduk bingung namun kesal dan juga ada rasa dimana Koraya
malu dekat perempuan secara bersamaan, tapi dilihat dari keadaan ini Koraya
sangat tidak peka.
"Bagaimana kalau
Kita ke sana besok....?" Tanya Lucy dengan malu malu selagi menyentuh
ujung jari telunjuk satu sama lain.
Keaadaan disekitar
mereka seketika menjadi deg degan bagi Lucy yang mungkin mencoba mendekati
Koraya dan juga Koraya yang sulit menangani perempuan.
"S-sebentar...."
Jawab Koraya, menunduk sejenak.
"Waduhh..!!
Gimana nihh.." Dia mulai panik, bertanya tanya kepada Dirinya sendiri
dalam hati.
"Lucy emang
temen masa kecil Ku sihh.. Tapi ya baru pertama kali dia ngajak pergi bareng
selain cuma pulang sekolah bareng.." Lagi lagi Koraya bingung, tapi pada
akhirnya mendapatkan jawaban.
"S-sama
Shoko..?" Jawab Koraya dengan wajah mengesalkan.
"H-hah..?!!"
Lucy membentak kesal. "Oy ada apa..?" Tanya Shoko yang kebetulan
sedang melewati lorong tersebut untuk mencari udara segar dari kelasnya yang
pengap.
"Ini Lucy
ngajak ke festival.." Jawab Koraya kepadanya.
"Wah ide
bagus..!!" Shoko terlihat sangat senang, namun Ia melirik Lucy dengan
wajah yang kesal. "Tapi yah.. Sepertinya Gw ga bisa ikut.." Shoko
berbicara sekali lagi.
Wajah Lucy
terlihat senang seketika, "Ayo Kita ke kelas abis urusanmu beres.."
Shoko menepak pundak Koraya lalu berjalan kembali ke kelasnya.
"Ahh..!! Ya
sudah lah ayo Kita lakukan..!!" Koraya membulatkan tekad untuk pergi
bersama Lucy besok hari.
"Ya sudah..
Kita akan ketemu di gerbang jam 5 besok ok..." Ujar Lucy, Ia tersenyum
sendiri sambil melangkah ke arah kelasnya melewati Koraya.
"Ayeeeeeayaeyeyyyeyy..."
Shoko yang tadi sudah kembali ke kelas, muncul kembali menyoraki Koraya
dari kejauhan.
"Kamu
lagi..." Ucap Koraya menghelas nafas, lalu berjalan dan masuk ke kelas
untuk memulai hari.
Pembelajaran pun
berlalu dengan cepat dan tak terasa. Saat Koraya sudah pulang dengan sepedanya,
Ia berbincang bincang dengan rekan satu timnya seperti biasa sampai malam hari
datang. Keesokan harinya juga sama, Ia mendapat sarapan dari Light dan kawan
kawan, berangkat ke sekolah dan memulai harinya.
Namun sepulang
sekolah Koraya bergegas pulang tidak seperti biasa, terburu buru berpamitan
dengan Shoko lalu pulang menaiki sepedanya yang selalu dipakainya itu.
Saat tiba di rumahnya,
Ia segera berlari ke dalam setelah memarkirkan sepeda. "Selamat dat-"
Sambut Light dari meja makan namun Koraya langsung pergi ke kamar lalu
menutupnya.
"Aku
pulang..!" Teriak Koraya dari dalam kamar.
Koraya segera
membuka lemari dan mengeluarkan bajunya satu persatu. Koraya menghabiskan waktu
lama memilih baju untuk dikenakannya pada saat festival dimulai dan pada
akhirnya Dia tak bisa memutuskan. "Perlu bantuan....? " Ender tiba
tiba membuka pintu kamarnya sambil tersenyum.
"A-ah
Ender..." Jawab Koraya dengan panik, Ia mencoba menyembunyikan baju
bajunya yang berserakan dengan menghalangi pandangan Ender.
"Hmm..?"
Ender melihat sekitarnya dengan bingung. Walaupun Koraya sudah menghalanginya
tapi Ender masih bisa melihat baju yang berserakan. "Kencan?" Tanya
Ender kepada Koraya.
"H-hah..?!
Bukan bukan..!" Jawab Koraya dengan panik dan juga malu malu.
"Aku cuma
diajak jalan jalan ke festival nanti sore.." Koraya tetap memberi alasan.
Ender tersenyum
"Sini Aku bantu memilihkan baju..." menghampiri baju baju Koraya lalu
merapihkannya satu persatu.
"Dulu Aku pun
punya kekasih jadi Aku mungkin tahu apa yang Kamu harus kenakan..." Kata
Ender, memilah beberapa baju yang berserakan sambil duduk di sisi ranjang.
"Kata Aku juga
dia itu bukan kekasih ku..!!" Koraya berteriak malu.
"Hahaha iyaa
iyaa.." Ender pun tertawa.
"Kemana Dia
sekarang...?" Tanya Koraya, Ia ikut duduk di sebelah Ender lalu menengok
sedikit kepadanya.
Dia hanya bisa
melihat Ender tersenyum sambil memilih dan memilah baju Koraya tanpa
membalasnya. Baru kali ini sifat feminim dari Ender terlihat jelas oleh Koraya.
Koraya yang hanya diam saja dari awal Ender tiba akhirnya membantu untuk
memilah milah baju.
"Bagaimana
kalau yang ini...?" Ender menunjukan sebuah kemeja dan kaos kepada Koraya.
"Bukankah itu
terlalu simpel....?" Tanya Koraya kepada Ender setelah melihat kaos
tersebut.
"Tidak
tidak.... Menurutku cewe tidak terlalu suka yang terlalu mencolok... Tapi kalau
Kamu cuman menggunakan kaos pun Kamu akan dianggap tidak ada usaha... Menurutku
ini pilihan terbaik.." Ucap Ender sambil memberikan set baju itu kepada
Koraya.
"Ah
terimakasih..." Jawab Koraya sambil tersenyum senang, Koraya tiba tiba
cemberut setelah melirik Ender.
"Kamu kok
kayak yang nganggap Aku mau kencan ya..?" Koraya menghela nafas dalam
dalam.
"Lah emang
mau kencan kan..?" Ender berpura pura bodoh. "Nggaakk..!!"
Koraya pun mulai kesal.
Ender tertawa
manis, akhirnya Dia pun berdiri dari ranjang.
Ia meninggalkan
ruangan sambil berkata. "Semoga berjalan lancar ok..!" Sambil
menunjukan jari isyarat ‘ok’, Ender menutup pintu kamarnya.
Setelah Ender
meninggalkan dan menutup pintu kamar Koraya pun bersiap siap memakai baju yang
dipilihkan oleh Ender itu, Ia juga memasang parfum yang sebenarnya jarang
dipakai olehnya. Setelah semua persiapan selesai Koraya meninggalkan kamar dan
memasang sepatu tepat di dekat pintu keluar.
"Woii
semangat..!" Saut Ender dari ruang tamu, dengan Light dan juga Habiki.
"Yaaa..!!".
Ia berdiri dan
berkata kepada Dirinya sendiri "Hmm... Aku pasti bisa..!".
Koraya sudah
membulatkan tekadnya untuk berjalan jalan bersama seorang perempuan untuk
pertama kalinya, walau sering pulang bersama hal ini terasa berbeda baginya.
Dia segera berangkat menuju festival dengan berjalan kaki karena tidak ingin
capek capek menjaga dan mengkhawatirkan sepedanya saat berada di festival.
"Gawat..!"
Koraya berlari menuju festival setelah melihat jam tangannya dan sadar bahwa
jam sudah menunjukan pukul 05:04.
Setelah beberapa
menit terlewatkan akhirnya Koraya sampai dengan keringat di wajahnya. Koraya
melihat Lucy dengan baju dingin imut yang membuatnya terpesona sampai mukanya
memerah.
"Lucy...!"
Koraya menyaut, mendekati Lucy perlahan. "K-koraya..?!" Lucy terkejut
dengan keberadaanya yang tiba tiba, Dia langsung membenarkan rambutnya.
"Kamu kemana
aja..!" Ujar Lucy, menarik tangan Koraya masuk Festival.
"E-eh maafin
deh... Aku kan ga pake sepeda.." Jawab Koraya dengan malu malu.
Lucy tertawa
perlahan lalu menutup mulutnya. Koraya memandang mandang Lucy lalu tersenyum.
"Ayo main
itu..!" Lucy lalu menarik Koraya ke arah permainan melempar bola. Koraya
yang digenggam tangannya oleh Lucy tak bisa apa apa dan hanya bisa menuruti.
"Ah neng....
Mau main berapa bola..?" Tanya sang penjaga stan disana.
"4
deh..!" Sebut Lucy dengan semangat, memberikan lembaran uang kepada orang di
stan tersebut.
Penjaga stan itu
lalu memberikan Lucy 4 buah bola. "Nih Koraya.." Lucy memberikan
Koraya 2 buah bola.
"Aku pengen
tuh boneka anjing yang besar itu...!" Lucy menunjuk nunjuk boneka
anjing besar yang bergantung di depan stan.
"Lah kok Aku harus
dapet..?!" Koraya menoleh ke Lucy dengan kebingungan.
"Masih
mending dibayarin..." Lucy membalas perkataan Koraya dengan cemberut.
"Y-yaa..!
Akan kuusahakan...!" Koraya pun terpaksa bersemangat dan melemparkan kedua
bolanya tapi tidak ada satu bola pun yang masuk ke poin. "Y-yah..."
Koraya menunduk dengan kecewa walaupun dari pertama Ia sudah tahu takkan
memasuki satu bola pun.
"Giliranku..!"
Lucy melempar bolanya dan salah satunya mendapatkan poin terbesar yang berada
di stan tersebut. "Yeayy...!!" Lucy melompat lompat kegirangan.
Koraya memerhatikan Lucy sambil tertawa tawa sendiri.
"Ini hadiah
anda.." Sang penjaga mengambil boneka anjing yang sebelumnya Lucy inginkan
lalu memberinya kepada Lucy. Dia menerimanya dan langsung memeluknya.
"Untuk anda ini
hadiah partisipasi anda...." Penjaga stan itu memberikan sebuah pin kecil
kepada Koraya. "Terima kasih........" Koraya menerimanya dengan
kecewa.
"Hahahaha!!"
Lucy tertawa terbahak bahak dengan boneka besar yang menutupi wajahnya.
Namun..
*DUAR..!* Terdengar
suara ledakan besar dari arah tengah festival. Orang orang di sekitar festival
tersebut teralihkan perhatiannya kepada asal suara tersebut.
"A-apa
itu....?!" Koraya menoleh dengan terkejut. Lucy yang di sebelahnya pun
terlihat ketAkutan dari raut wajahnya.
Namun pandangan
Koraya mulai terpAku ketika melihat orang orang bertopeng gas datang dari
kejauhan, dari asal suara tersebut.
"Kesini...!!"
Dengan refleks Koraya menarik Lucy lalu berlari jauh dari tempat orang
bertopeng gas berada. Boneka anjing Lucy pun terjatuh dari gengaman Lucy.
"A-ada
apa..?!" Tanya Lucy dengan kebingungan, raut wajahnya menunjukan ketAkutannya
akan hal yang tidak diketahui. "Sudah ikuti Aku dulu..!" Tegas
Koraya.
"Aduh..!"
Lucy tersandung baju dan terjatuh, Dirinya tidak bisa menyamai kecepatannya
dengan kecepatan Koraya. Koraya terhenti untuk membantu Lucy, mereka sudah
hampir sampai gerbang untuk keluar.
"Kamu tidak
apa apa...?!' Koraya mengulurkan tangannya. "Ya..." Lucy membalas,
Koraya membantunya bangkit, tetapi.
"Hahhh..??!
Siapa yang membolehkan Kalian pergi.." Saut orang dengan topeng gas yang
berjas pesta bernama Goose. Koraya melirik dan saking terkejutnya, Dia terpAku.
"Ah
sudahlah..!" Goose mengeluarkan pistol dan mengarahnya kepada mereka
berdua. Saat Goose menarik pelatuknya Koraya dan Lucy ditarik lari oleh
seseorang.
"Hah.....? Kamu
siapa..?" Koraya perlahan melirik ke arah wajahnya.
"Diam Kamu..!"
Balas orang itu, suara dan nadanya tersebut terdengar familiar di telinga
Koraya.
"Cade..?!"
Koraya terkejut.
Poison saga
Part 3 : Heist
“Berisik.!
Ikut aja dulu napa..?" Bentak Cade. Ia terus menarik mereka berdua sampai
ke belakang sebuah stan untuk bersembunyi, Cade menundukan kepala mereka
berdua.
"Shh diam
disini..." Perlahan Dirinya berbisik,
"A-ada apa
ini...?!" Lucy bertanya tanya, detak jantungnya perlahan mempercepat
seiring keadaan berlanjut.
"Susah untuk
menjelaskannya..." Jawab Koraya dengan raut wajah yang sangat murung.
*DOR* Suara
tembakan pistol terdengar, sebuah peluru meleset mengenai Koraya dan yang
lainnya.
"A-apa..?!"
Koraya perlahan melirik ke arah tembakan tersebut, terkejut. Goose yang
menembak pistol itu perlahan mendekati mereka.
"Awh....
Kalian pikir Kalian bisa sembunyi begitu saja..?! Kalian lucu dehhh... Kalau
Kalian jago bela diri mungkin saja Aku merekomendasikan Mu ke bos..!" Ujar
Goose membasa basi sambil mengarahkan pistolnya menuju kepala Lucy.
Cade merubah
sebelah matanya menjadi hitam. Ia menghilang menjadi asap lalu muncul di
hadapan Goose. Membengkokan tangan Goose supaya mengarahkan pistolnya ke
wajahnya Goose sendiri.
"Lho?
Bukannya dimensi ini lemah semua..?" Goose menengok ke wajah Cade, Dia
terdengar tertawa.
Goose menarik
pelatuk pistolnya. Wajar semua orang di sekitar terkejut. Namun berhasil
menghindari pelurunya dengan membengkokan lehernya dengan cara yang sangat
tidak wajar.
"Apa..?!"
Cade terkejut, membuat Dirinya lengah. Dia ditendang jauh oleh Goose menuju
sebuah tembok. Tetapi Cade bangkit lalu menghilang beberapa kali menjadi abu,
perlahan mendekatinya dan akhirnya meninju Goose dari depan. Goose
menghindarinya dengan fleksibelitas yang tidak wajar seperti sebelumnya, lebih
detailnya Ia membengkokan seluruh tubuhnya kebelakang.
Cade membuka jaket
kulitnya, melemparnya, lalu berkata. "Aku akan menang dan akan Kamu sesali
sepanjang hidup mu...!" Ia memasang kuda kuda dan memberikan senyuman
licik kepada Goose.
"Hohoho....
Kita belum berkenalan kan... Namaku--" Sebelum Goose dapat menyelesaikan
kalimatnya Cade membalas.
"Siapa yang
peduli dengan namamu..!!" Dia berlari ke arah Goose untuk meluncurkan
pukulan. Namun tahu tahu Dawn sang topeng emas datang di hadapan Goose menahan
serangan Cade.
"Dia..?!"
Mata Koraya terbuka lebar lebar, terkejut.
"Heh.."
Cade berusaha sekuat tenaga mendorong tangannya namun tetap saja ditahan.
"Aaa..!
Dawnnn.... Ada apa Kamu kesini..?" Goose memegang pundak Dawn.
"Goose...
Bukannya saya menyuruhmu untuk bersama Shika dan Usagi..?" Dawn menengok
sedikit ke wajah Goose.
"Maafkan
saya.... Saya akan segera kesana saat sudah beres menghajarnya..." Goose
melepas pundak Dawn lalu mengipas ngipas dirinya.
"Tidak
tidak.... Kamu kesana sekarang... Biar Aku urus dia.." Dawn
mendorong tangan Cade lalu menatapnya dari dalam topeng.
Lama kelamaan
keaadaan festival tersebut menjadi seperti medan perang. Teriakan banyak orang
yang ditahan dan tersiksa terdengar oleh mereka. Ada beberapa kebakaran dan ledakan
yang membuat suasana menjadi kacau. Polisi pun masih belum bertindak sampai
saat ini.
"Selamat sore
Black Eye..." Dawn membukakan tangannya kepada Cade.
"Siapa
ya..?" Jawab Cade sambil membenarkan kaosnya yang tertutupi debu.
"Ah Kamu
tidak tahu saya..." Dawn menjawab, tersenyum di balik topeng emasnya
itu.
"Lantas
kenapa 'Anda' bisa mengetahui saya..?" Tanya Cade, Ia mengeluarkan pisau
dari saku celana kanannya.
"Insting.."
Dawn terlihat menutup matanya dari balik kaca gas masknya. "Mana Gw
peduli...." Cade menghilang dan tiba tiba muncul dibelakang Dawn,
mencoba menebasnya. Tetapi Dawn dengan mudahnya menghindar, lalu memukulnya di perut
adalah tindakan selanjutnya.
"Sudah
kubilang insting..." Dawn menarik rambutnya ke belakang.
Cade tergeletak di
atas lantai, memegang megang perutnya "Argh..!" Berteriak.
Setelah beberapa
detik berlalu Cade berhasil menahan rasa sakitnya, Dia bangkit lalu
membingungkan Dawn dengan menghilang dan muncul beberapa kali di sekitarnya.
"Kemungkinanmu
muncul di hadapanku adalah 5%...." Ujar Dawn dengan tenang, sementara Cade
sedang berteleportasi mengelilinginya.
"Kemungkinan
muncul di samping dan belakangku 25%..." menengok ke sekelilingnya
perlahan.
"Jadi kuambil
paling besar.." Dawn mangangkat tangannya ke atas kepala. Dengan timing
yang sangat pas Ia mencekik Cade yang mendadak muncul di atasnya. Setelah itu
Dawn segera membantingnya ke atas permukaan tanah sekencang mungkin. Cade tidak
sadaran diri tergeletak dihadapan Dawn.
"K-kok
bisa..?!" Lucy yang sedang bersembunyi bersama Koraya kelepasan berbicara.
"Shh..!" Koraya yang mengerti keadaan langsung menutupi mulutnya.
"Lho... Kamu...?"
Dawn perlahan melirik ke arah Koraya. "Kamu ada di tempat itu kan anak
muda..?" Ia memiringkan kepalanya.
Koraya memandang dengan
tegang, matanya melebar saking ketAkutannya. "Kamu juga punya
kekuatan..?" Tanya Dawn, Dia menghadapkan diri kepada Koraya.
"Mundur
Lucy..." Koraya menghalangi Lucy dengan tangannya sendiri, menatap Dawn.
"T-tapi..."
Jawab Lucy dengan ketAkutan juga.
"Lakukan
saja..." Terus Koraya, Lucy lalu mundur beberapa langkah dari tempat
Koraya.
"Ya... Aku punya
kekuatan... " Koraya berdiri sambil bercucuran keringat, Ia membulatkan
tekadnya walau tidak bisa apa apa.
"Hahaha... Ya
sudah tunjukan.." Dawn perlahan berjalan mendekati Koraya, dan lama
kelamaan berlari menyiapkan tinjuan.
Tiba tiba.
"Hmmm.? Apa
ini.." Pergerakan Dawn tiba tiba terhenti oleh lilitan kayu yang
mengelilingi tubuhnya. Terlihat dari atas salah satu stan, Floyd sedang
mengeluarkan kayu dengan topeng yang telah dibuatkan Ox.
"Balasan
mu..." Ucap Floyd perlahan. Dawn membebaskan diri dengan menghancurkan
semua kayu kayu yang melilitnya. Tapi saat bebas Ia langsung ditendang oleh Ash
yang sontak datang, sampai sampai terlempar ke tembok.
"Ahahaha....
AHAHAHA.... Telinga kambing... Kamu yang waktu itu kutembak... SANGAT TAK
TERDUGA... MENARIK... AYO Kita LANJUTKAN...!" Teriaknya perlahan kembali
bangkit dengan penuh pecahan semen.
"S-sudah
gila..." Cade kembali sadaran diri, perlahan Dirinya bangkit dengan
kesakitan.
"Dimana yang
lainnya...?" Ujar Koraya sambil mendekati Ash yang ada di depannya.
"Habiki,
Light, Ender dan Austin sedang mengurus pasukan yang lain... Lalu Ox menjaga
markas.." Jawabnya.
"Oh
begitu.." Koraya merasa lega. "Ash... Bisakah Kamu membawa Lucy
jauh dari sini..." Koraya memohon.
"Tentu.. Tapi
bersamamu.." Jawabnya.
"Apa maksudmu
Ash..?" Tanya Koraya sekali lagi.
Ash menengok ke
sebelahnya, "Kamu harus pergi dari sini Koraya...".
"Aku bisa
membantu..!" Terus Koraya. "Ikut dengan Ku Koraya..!!" Bujuk
Lucy dari belakangnya.
"Aku
bisa.." Sekali lagi Koraya membantah.
"Tapi--"
"Ya sudah lah biarlah..!! Mau mati ya mati... Dia mau mencoba jadi
pahlawan biarlah.." Floyd memotong perkataan Ash dengan nada yang kesal,
namun mulai percaya dengan Koraya.
"Terima
kasih.." Balas Koraya.
"Ya sudah
--" "Biar Aku saja... " Sebelum Ash sempat mengajak Lucy pergi,
Cade memotong perkataannya. Perlahan lahan menghampiri Lucy
"Aku akan
membawanya ke taman dekat lokasi pertama saat portal muncul dari dimensiku..."
Cade meneruskan perkataannya.
"Ya sudah
terima kasih.." Jawab Koraya sambil tersenyum. "Koraya..! Kamu yakin Kamu
tidak apa apa..?!" Lucy berkata dengan khawatir.
"Ya tak
apa..." Sekali lagi Koraya tersenyum.
"H-hati
hati..." Lucy melambaikan tangannya perlahan sementara Cade menariknya
dengan terburu buru.
"Sekarang...
Mari Kita hadapi orang aneh ini.." Ash memandang Dawn sementara Floyd
mendekati Koraya lalu mengamati Dawn juga.
Di saat keadaan
sudah parah di sekitar festival seseorang membuatnya lebih parah. Pertarungan
antara Ash, Floyd dan Dawn telah dimulai saat ambang kehancuran dimensi Koraya
ditangan mereka.
"Ayo ayo...
Serang duluan.." Dawn membuka tangannya selebar mungkin seperti meremehkan
Floyd dan juga Ash.
Floyd mengarahkan
kayunya untuk menyerang Dawn namun Ash menyerangnya terlebih dahulu. Ia mengeluarkan
api di tangannya disertai sayapnya juga.
Dirinya terbang ke
atas Dawn lalu menyemburnya dengan api. setelah itu pergi kebelakang
Dawn, berusaha untuk memukulnya namun, Ia ditahan oleh tangan Dawn yang
menyadari pergerakannya.
"Kalau lama
tangan Mu bisa terbakar lho...." Ash tertawa. Saat itu terjadi Floyd
menyerang dengan kayunya. Tetapi tetap saja dengan mudahnya dihancurkan olehnya
dengan tangan yang satunya tanpa melirik sedikit pun.
"Seperti yang
kuucapkan insting..." Dawn menarik Ash lalu melemparnya ke arah Floyd.
"Sejak
pertarungan dengan Cade, Ia selalu satu langkah di depan..." Koraya
menghampiri Floyd yang baru saja terjatuh tertimpa Ash.
Aura jahat yang
sangat besar keluar dari diri nya membuatnya terlihat sangat menAkutkan bagi
semua orang disekitarnya.
Floyd bangkit
menyingkirkan Ash yang di atasnya, langsung menyerang Dawn dengan kayu kayunya.
Dari dekat, Dawn menghancurkannya kayu satu demi satu tetapi, kayu Floyd tetap
berdatangan kepadanya. Ash pun terbang, menyerangnya dari atas selagi Floyd
menyerang dari depan, belakang.
Dawn menarik kayu
Floyd lalu memakainya, mengayunkannya sebagai senjata untuk memukul Ash pergi.
"Bisa seperti
itu ya..." Koraya berbicara dengan ragu. "Begitu.. Aku akan mulai
serius.." Floyd menghampiri Ash yang terdampar. diikuti oleh Koraya dari
belakang.
"Tapi
bagaimana Kita menang..." Ujar Ash perlahan lahan bangkit dari jatuhnya.
"Ash Aku punya
rencana.." Bisik Koraya kepada mereka.
Sementara di dekat
gerbang festival Ash dan Floyd sedang bertarung melawan Dawn, di pusat Festival
Light, Austin, dan Habiki sedang menghadapi Usagi dan Shika.
"Ah Shika
Usagi... Lama tak jumpa..." Light melambaikan tangannya dari kejauhan
memanggil mereka berdua. Ia memakai armor full yang sebelumnya pernah Dia pakai
untuk melawan mereka berdua, dengan armor kepala di tangan kanannya.
"Kamu...
Beraninya anda menghadapi Kami lagi..." Shika berbicara seiring waktu
didekati Light.
"Kamu..?"
Light tertawa, memasang armor kepalanya yang sebelumnya Ia pegang. "Aku
tak sendiri...." Senyum Light.
Usagi mengeluarkan
pedang secara refleks lalu menangkis anak panah yang tiba tiba datang mengarah
ke Shika dari belakang. "Ah terima kasih Usagi.." Shika menepuk
kepala Usagi perlahan.
Usagi melirik ke
kejauhan, diatas sebuah rumah terdapat Habiki dengan topeng barunya sedang
mengarahkan panahnya ke arah mereka berdua.
"Begitu
ya..." Ujar Shika dengan pelan. "3 lawan 2..?" Shika tiba tiba
melirik Austin yang sedang menyiapkan serangan dari belakang sebuah stan.
Dengan topengnya yang tampak baru dibersihkan, Ia berkata.
"Walaupun Kamu
telah menyadarinya Kamu tak akan bisa kabur...!!" Austin melancarkan
serangannya tersebut, berupa air berbentuk naga besar yang menyerbu Shika dan
Usagi.
"Tch..!"
Shika membuka tangannya lebar lebar mencoba melindungi Usagi dari depan walau
Dirinya tahu itu takkan berdampak besar.
Tetapi.
"Hahahaha..
Komandan 2 memang hebat...." Sesorang yang wajah sangatlah pucat tampak
menahan serangan Austin tanpa terlihat kesakitan. Tapi tetap saja akhirnya bisa
menghentikannya serangan dasyat tersebut.
Namun anehnya Ia tidak
memakai gas mask seperti komplotan musuh lainnya.
"Aha... Bisa
bisanya Kamu menjaga adikmu disaat seperti ini..." Orang itu tertawa.
"Aku melakukan
apa yang harus dilakukan Benedict.." Shika berjalan perlahan mendekatinya.
Dia adalah
Benedict komandan 5 di kelompok jahat bertopeng gas itu. Ia mengenakan pakaian
serba lusuh, juga celana pendek plus rantai. Tidak lupa Dia memakai perban yang
memenuhi tangan kanannya.
Habiki menembakan
anak panah kedua kalinya yang mengenai pungung Benedict. Tetapi anehnya Ia tak
terlalu bereaksi, melainkan mencabutnya lalu berkata.
"Usagi...
bisakah Kamu mengurus orang yang menggangu di atas sana..?" Ujar Benedict,
menunjuk ke arah Habiki.
"OI OI...!
Kenapa gak Kamu lakukan sendiri hah..?!" Bentak Shika, menarik bajunya.
"Aku
dibutuhkan disini untuk menahan serangan sihir orang berjubah itu... Lalu orang
dengan panah itu terlihat paling lemah jadi Ku serahkan pada adikmu.... Sudah
jelas...?" Jawab Benedict dengan santainya.
"Tch ya
sudah..." Shika melepaskan baju Benedict yang Ia tarik lalu mendorongnya.
"Usagi... Hajar orang itu..." Shika menunjuk Habiki dari jauh.
"Siap
laksanakan kak..." Usagi mengejar Habiki, melompat lompat ke atas rumah
tersebut.
"Ah jadi
dengan begini jadi 1 lawan 1 kan..?" Light mengeluarkan pedangnya lalu
mengarahkannya kepada mereka berdua.
"Tentu.."
Shika memasang kuda kuda sama seperti Benedict.
*BOOM* Suara dari
serangan Austin yang berbenturan dengan Benedict sebelumnya membuat semua orang
panik karena ledakannya yang besar.
"Aku harus
segera pergi ke tempat mereka..!" Ender yang sedang berkelahi dengan semua
anak buah mereka langsung teralihkan perhatiannya. Ia dapat mengalahkan mereka
semua. Tetapi pada saat Ender akan pergi ke lokasi Austin dan kawan kawan.
"Ah nona
manis... Tapi Kamu akan lebih manis kalau tidak mengenakan topeng..."
Goose perlahan menghampiri Ender dengan kedua tangan di sakunya.
"Ah
sepertinya Kamu salah satu orang yang kuat..." Ender melepas penutup
kepalanya atau bisa disebut hoodienya.
"Tentu...
Saya Goose komandan 6 dari kelompok ‘Poison’..." Goose menunduk ke hadapan
Ender.
"Poison..?"
Tanya Ender. "Saya tak perlu menjelaskannya jika anda akan kalah
disini..." Tatapnya dengan sangat tajam sambil memberikan senyuman.
Ender menatap
balik, tersenyum "Lebih baik jangan dulu sombong sebelum pertarungan
dimulai.." Ender lalu memasang kuda kuda dengan pedangnya menyondong ke
depan. Berlari untuk menyerangnya dengan serius dari depan. Ender beberapa kali
mencoba untuk menebasnya namun tidak pernah mengenainya, Goose menghindari
semua serangan Ender dengan kelenturan yang luar biasa.
"Sesuai
dugaan ku.. Kamu memang hebat... Tapi Aku lebih hebat..." Ender mundur
beberapa langkah lalu bersiap menyerang kedua kalinya.
Kali ini saat
menyerang, Ender berusaha mengelabui Goose dengan gerakan cepat lalu menukar
pedangnya yang di kanan menjadi wadah pedang dan pedangnya kini ada di tangan
kiri.
Dirinya mencoba
menebas dengan wadah pedang itu supaya Goose fokus terhadap itu lalu menebas
kakinya dari bawah.
Ender melompat
beberapa langkah kebelakang untuk merencanakan serangan selanjutnya.
"Ah.. Kamu
berhasil mengenaiku... Rasa sakit tebasan... Sudah lama tak Ku rasakan...
Karena itu Kamu akan mendapat balas budi dengan rasa sakit yang berkali
lipat..!!" Goose memberikan senyuman yang tertutupi topeng sambil memegang
sebelah pipinya.
"Ayo
kesini..!" Ender memasang kuda kuda karena merasa tertantang.
Saat penyerangan
terjadi, Usagi mengejar Habiki ke atas rumah dimana Dia berada.
"Ada yang
kesini..." Ucap Habiki dalam hati, Ia membalikan badan lalu mengeluarkan
sebuah pedang dari belakang punggungnya. Pedang tersebut adalah pedang cadangan
yang Light berikan padanya.
"Perempuan..?!"
Habiki terkejut, dalam hatinya kata tersebut terungkap.
Usagi tanpa basa
basi menyerang Habiki dari depan dengan pedangnya yang baru saja Dia keluarkan
dari belakang badannya.
Habiki berhasil
menahan kebanyakan serangannya dengan pedangnya, berkat latihannya dengan Light
dan juga hasil bela Dirinya tahun tahun ke belakang. "Yang benar saja..!
Aku harus melawan perempuan..." Ucapnya dalam hati sambil menahan serangan
dari Usagi.
Usagi pun menyerang
beberapa kali dengan cara maju mundur lalu menebas selagi mengelilingi Habiki.
Tapi Habiki tidak menyerang melainkan hanya menahan.
Usagi berhenti
sesaat lalu menatap Habiki, "Yang benar saja... Bisa kah Kamu serius
sedikit...?" dengan kesal.
"Hah..? Mana
mungkin.. Aku tidak bi--" "Jangan bercanda..! Aku tidak bisa melawan
perempuan... Itu yang ingin Kamu bilang kan..?" Sebelum Habiki bisa
berucap, nada omongan Usagi melunjak.
"Y-ya...."
Jawab Habiki dengan ragu. "Asal Kamu tahu... perempuan tidaklah lemah...
Itu alasanku terpilih menjadi komandan 7...!" Omong Usagi dengan sangat
kesal.
"Maafkan
saya..." Habiki meminta maaf, menundukan badan.
"Aku Usagi...
Adik dari Kak Shika komandan 2..." Usagi mengulurkan tangannya setelah
memindahkan pedangnya ke tangan kiri.
Habiki menatapnya,
menggenggam tangannya "Aku Habiki....".
"Habiki
ya..." Usagi melepaskan tangannya lalu menyiapkan kuda kuda.
"Kalau begitu
Habiki... Mari Kita bertarung dengan sepenuh tenaga...!" Setelah jeda
beberapa detik, Ia melanjutkan omongannya, "Walau.... Nyawa menjadi
taruhannya...!".
"A-apa..!"
Habiki terhenti, terkejut Ia pun tiba tiba diserang oleh Usagi lagi sekali
lagi. Tapi kali ini teknik kecepatan dan kekuatannya bertambah. Membuatnya
semakin sulit untuk ditahan.
"Kalau begini
terus Aku akan..!" Suara habiki yang gelisah dalam hati. "Tidak..!
Aku tidak akan kalah..! Walaupun latihan Ku cuma dalam jangka waktu sedikit.
Tapi Aku mengorbankan semua tenaga dan waktuku untuk itu..! Dan Aku tidak
akan...." Saat Usagi menebas serangannya yang sangat sulit untuk dihindari
setelah ke puluhan kalinya, Habiki menatapnya, menahan pedang yang akhirnya Dia
bisa dapatkan.
"Tidak
akan... Mengecewakan Light....!!!" Habiki membalas Usagi dengan serangan
tebasannya di wajah Usagi. Serangan itu berhasil membuat Usagi terjatuh dan
topengnya terbelah dua tanpa luka.
"A-ahh..!!"
Wajah Usagi memerah dengan malu. Dia segera bangkit dengan kekesalan.
"M-maafkan Aku..!!"
Habiki meminta maaf untuk kedua kali nya kepada Usagi sambil menunduk nunduk. Ternyata
saat topeng Usagi terbuka terlihat bahwa Usagi adalah anak yang seumuran dengan
Habiki, sekitar anak SMP.
"Kamu
meremehkan Aku lagi hah..?!" Usagi merasa kesal lagi terhadap Habiki.
"Kamu telah
melihat wajah Ku setidaknya Kamu menunjukan wajah mu..." Usagi memalingkan
wajahnya dari hadapan Habiki.
"Ah..??
Itu--" Habiki menggaruk garuk rambutnya. "Apa yang Kamu tAkutkan..!"
Usagi mencoba menggertak Habiki lagi.
"Ya
sudah.." Habiki membuka topengnya dengan satu tangan, menunjukan wajah
aslinya.
"Ah jadi
begitu..." Setelah Usagi melirik, Ia menunjuk Habiki.
"Habiki..!" Dia memanggilnya sekali lagi.
"Mari Kita mulai...
Duel sesungguhnya." Lanjut Usagi.
Melainkan dii
tempat lain.
"Shika....!
Aku takkan kalah...!" Saut Light dengan lantangnya sambil menyiapkan
pedangnya.
"Baru kali
ini Aku mendengar orang berinteraksi dengan lawannya... Tapi... Kekalahan Mu sudah
terpastikan..." Kata Shika, tertawa kecil terdengar darinya, dan Ia menyiapkan
kuda kuda.
Austin menatap
Light dengan ragu karena kekalahannya yang sebelumnya mereka dapatkan.
"Oi bocah
air...!" Austin menengok kepada benedict yang memanggilnya dari kejauhan.
"Lawanmu adalah Aku...." selagi menunjuk ke Dirinya sendiri Benedict
berkata.
"Ya... Tentu
saja.. "Austin mengeluarkan butiran butiran air dari belakangnya.
Akhirnya
pertarungan mereka telah dimulai. Light menyiapkan tenaga dan membuat pedangnya
bersinar sementara Shika berlari ke arahnya secara zig zag. Saat sampai Shika
mengelilingi Light lalu menyerangnya dari belakang. Light menyaradarinya,
berusaha untuk menebasnya. Shika menunduk lalu memukul Light dari bawah.
Light terdorong
sedikit ke belakang lalu menancapkan pedangnya ke dalam tanah membuat gelombang
ledakan besar yang membuat Shika terlempar.
"Hahh..?
Teman Mu jago juga..." Benedict meremehkan Austin dan juga Light, mencoba
untuk menurunkan kepercayaan diri mereka.
"Bukan hanya
Dia.." Austin menembakan butiran butiran air tadi seperti peluru yang
membuat Benedict menghindar. Benedict memang tidak terlalu pintar menghindar
jadi Dirinya terkena banyak serangan Austin. Tetapi, Ia tersenyum seolah tidak
terjadi apa apa walau sekarang tubuhnya dipenuhi luka.
"Cih..
Kekebalan tubuhnya terlalu kuat..." Ujar Austin dalam hatinya sendiri.
Austin berlari
menuju Benedict namun Ia diam, seperti meremehkan. Saat sampai Austin menendang
Benedict jauh lalu mengurungnya di dalam kurungan air.
Austin melirik
Light yang sedang melawan Shika dikarenakan suara kencang yang mereka buat.
Light menoleh balik lalu mereka mengangguk bersamaan.
"Jangan abaikan
Aku..!" Teriak Benedict yang menendang Austin kebelakang setelah baru saja
keluar dari kurungan tersebut.
"Austin...!!"
Teriak Light dari kejauhan selagi bertarung dengan Shika.
"Sekarang...!" lanjutnya.
"Ya.."
Austin mengalirkan kekuatan airnya ke dalam pedang Light supaya tebasannya
berkali kali lebih kuat dari sebelumnya karena dibantu sihir.
"KAMU...!"
Benedict berlari ke arah Austin berniat untuk menggagalkannya tapi sayangnya
Austin segera mememasang kurungan air kepada Dirinya sendiri untuk menahan
segala serangan.
"Kalau
begitu..." Light memasang kuda kuda dengan serius.
"Jangan
bercanda..!!!" Shika berlari menuju arah Light untuk menyerangnya namun
sayangnya Dirinya kurang cepat.
"Horizontal
slash...!" Light mengayunkan pedangnya secara horizontal, menghasilkan
sebuah tebasan besar yang mengenai Shika, Benedict, dan juga Austin. Banyak
stan dan gerobak yang hancur oleh kekuatan itu. Tetapi Austin terlindungi oleh
kurungannya yang berhasil menerima kekuatan airnya lalu memantulkan balik cahaya
Light.
Mereka sudah
merencanakan ini terlebih dahulu. Dikarenakan kebanyakan pasukan sudah
dikalahkan oleh Ender, banyak orang di dalam festival tersebut yang sudah
melarikan diri. Jadi kekuatan besar dari Light tersebut aman untuk dilakukan
Shika dan Benedict yang terlemparkan kebelakang oleh jurus kolaborasi Light dan
Austin. Mereka merasa kesakitan dan terjatuh di dekat salah satu stan yang ikut
hancur.
"Sudah
menyerah....?" Light dan Austin berbicara selagi menghampiri mereka.
"Belum
cukup..!!" Shika bangkit dengan kesakitan, memaksakan diri.
"Kalau Aku selemah
ini bagaimana mungkin Aku akan melindungi adik ku..!" bentaknya kepada
Dirinya sendiri.
"Kalian
memang sudah terlanjur lemah..." Saut seseorang dari sisi lain tempat
tersebut menghampiri mereka.
Mereka semua
menoleh dengan terkejut.
"K-Kamu...
Bukannya Kamu sedang melawan Ash dan Floyd..?!" Light menatapnya dengan
kebingungan, namun sedikit merinding.
Dirinya tertawa
tertawa dengan perlahan, "Tentu saja..." Sang topeng emas pun berulah
lagi.
Beberapa waktu
sebelum Dawn datang menuju tempat Benedict dan Shika, pertarungan Ash dan Floyd
dimulai dengan serius.
"Ash Aku punya
ide..." Koraya berbisik kepada Ash, namun Floyd yang disisinya ikut
mendengarkan.
"Oi oi jangan
main rahasia lah..!!!" Dawn menghentakan kakinya dengan kesal, mendekati
mereka perlahan lahan.
"Lawan Mu adalah
Aku untuk sementara ini..." Floyd pergi meninggalkan perbincangan,
menghalangi jalan Dawn menuju Ash dan Koraya.
Floyd pun melawan
Dawn untuk sementara waktu untuk mengulur waktu pembicaranya rencana Ash dengan
Koraya.
Floyd menyerangnya
dengan kayu kayu yang menyerbu bagaikan ular. Walaupun serangannya tidak dapat
mengenainya satu kali pun, Ia dapat menahan Dawn supaya tak mendekat.
"Oh seperti
itu... Ya sudah..." Ash berhenti berbicara dengan Koraya lalu mendekati
Floyd yang tengah melawan Dawn.
"Floyd..."
Panggil Ash dari sisinya. "Ya..." Jawabnya.
Floyd menyerang
dawn dari segala arah membuatnya terkepung dengan kayu. "Kamu takkan
bisa..!" Gertak Dawn.
Ash mendekatinya dengan
bantuan sayap api, lalu menendang kakinya. Dawn berusaha menahan tetapi
pistolnya terjatuh tanpa disadarinya. Ash mengalihkan perhatian Dawn sambil
menendang pistol itu ke belakang ke arah Koraya.
Sementara Ash dan
Floyd melawan Dawn, Koraya mengambil pistol itu lalu mengarahkannya kepada
Dawn.
Saat Ash dan Floyd
sudah menyingkir dari pandangannya, Koraya menarik pelatuknya membuat peluru
tertembak kepada Dawn. Dirinya terkejut mendengar suara tembakan itu,
menghindar di detik detik terakhir tetapi saat perhatiannya teralihkan Ash
datang dan menendangnya di kepala.
"Sudah
kuduga..." Koraya mengepalkan tangannya dengan senang. "Seperti
pertandingan melawan Cade... Dia tidak tahu Kalian akan datang.. Dan saat ini..
Dia tidak tahu Aku akan menembak.. Itu berarti.. Ia hanya bisa menebak orang
yang Dia perhatikan...!!" Koraya mencoba menjelaskannya kembali dalam
hati.
"Ahaha..!
Kalian memang luar biasa bisa mengetahui hal itu.. Tapi.." Dawn bangkit
perlahan lahan dan menatap mereka dengan tajam. "Aku tak akan mudah
terpuaskan seperti itu.." mengepalkan tangannya.
Dawn berlari
menuju Koraya terlebih dahulu lalu mengangkat, melemparnya ke dinding
membuatnya langsung tidak sadaran diri sesudahnya.
"K-Kamu..!!!"
Ash mengeluarkan semua apinya kemudian menyerang dengan segenap kekuatannya
dari belakang Dawn.
Namun Dawn
menduganya dan menghindari semua serangan itu. Ia memegang kepala Ash lalu
dipukulkan ke tanah membuat retakan besar, menjadikan Ash sangat terluka.
"ASH..!!!"
Floyd mengeluarkan kayu kayunya ke arah Dawn dan beberapa ke dalam tanah untuk
serangan kejutan. Tapi Dawn menghindarinya dengan santai namun secepat mungkin.
Dirinya mendekati
Floyd secepat cepatnya lalu menendang sekuat kuatnya, membuat Floyd terpental
jauh.
"Sudah
kubilang..." Dawn menghampirinya, menginjak kepala Floyd dengan keras.
"Agh.!!!"
Teriak Floyd dengan kesakitan. Dawn lalu menendangnya sekali lagi ke tembok
membuatnya tak sadaran diri sama seperti Koraya.
"Lemah..."
Dawn pun meninggalkan lokasi tersebut dan pergi menuju tempat Shika dan
Benedict berada.
"Benedict,
Shika.... Kalian berhasil dikalahkan oleh mereka..? Benar benar
menyedihkan..." Tawa Dawn lama lama memelan saat Dia berjalan lebih dekat
lagi.
"B-bagaimana
bisa.... 2 lawan satu tetap dimenangi olehnya... Lagi pula auranya itu..."
Light berbicara pada Dirinya sendiri dalam hati, Ia merasa risau.
"Tidak
Dawn... Kami masih belum kalah.." Shika membantah perkataan Dawn,
membanting lengannya kencang kencang. "Oi oi jangan bergerak.."
Austin melirik ke arah nya, langsung menodongkan tangannya kepada Shika.
"Shika
Shika.... Jangan berbohong..." Dawn mendekakan diri dengan Shika, suara
cekikikannya terdengar perlahan.
"Tch.."
Benedict bergumam sendiri, perlahan bangkit. Light memasang kuda kuda bersiap
siap menyerang Benedict namun, daripada mendekati Light atau Austin, Dirinya mendekati
Dawn lalu menarik bajunya seperti sebelumnya Ia ditarik oleh Shika.
"Ketahuilah
posisimu Dawn.. Kami adalah senior mu...!" Bentak Bendict, menggertak
sampai wajahnya memerah.
"Oi
Benedict... Kamu tahu kan kekuatannya jauh melampaui Kita semua...?" Shika
mendekati mereka, berusaha melerainya.
"Ahahaha..!!
AHAHAHA...! Kamu memang lucu Benedict... Bukannya Kamu sendiri yang bilang
bahwa kekuatan nomor satu..?" Jawab Dawn selama Ia ditarik lebih keras
lagi oleh Benedict.
"Hah..?!!"
Benedict menariknya lebih kencang lagi. "Akan kutunjukan kekuatan yang
sebenarnya.." Pancaran aura jahatnya terlihat lebih jelas dan lebih serius
lagi.
Perlahan Dia
memegang tangan Benedict lalu memutarkannya kencang kencang sampai patah
"AGH..!!" Teriaknya setelah dengan refleks melepaskan tangan.
Setelah itu Dawn
menunduk dan memukul leher Benedict membuatnya tak sadaran diri untuk
sementara.
"Dawn..
Bukannya itu berlebihan..?" Shika menghalangi Dawn dari hadapan Benedict.
"Tidak...." Dawn menjawab, kembali berdiri.
"Kamu tidak
berhak mengatakan itu Shika.." Dawn menepak bahu Shika dari depan.
Tanpa disadari
siapa pun Ia mencekik Shika "Orang gagal tidak berhak menyuruh ku.. Hanya
Dia yang berhak..." Perlahan lahan menangkat Shika dari permukaan tanah.
"Akh... K-Kamu..!"
Shika meraba lehernya perlahan lahan mencoba melepaskan diri, tapi Dia
terlanjur dilempar ke bawah oleh Dawn.
"Kamu benar
benar parah.." Light menghunuskan pedang kepada Dawn. "Ah... Kamu pun
tidak berhak mengatakan itu..." Dawn tertawa kecil.
“Aku akan melawan
kalian.. Tapi permisi Aku akan memberi mereka hukuman dahulu.." Dawn
mendekati Shika sekali lagi lalu mengangkatnya dari atas kepalanya, meremas
kepala tersebut dengan keras. "ARGHH..!!" Shika berjerit kesakitan.
"Aku
muak.!!" Light segera menghampirinya lalu menebasnya, namun pedangnya
dengan mudahnya Dawn hindari dengan beberapa langkahan ke belakang. Setelah
menghindar, Ia memutarkan diri dan menendang balik Light ke tempat asal.
"Selamat
tinggal... Komandan 2.." Dawn tersenyum sementara Shika sedang menderita
di genggamannya.
Namun tanpa
disadari siapapun sebuah pisau tertancap ditanah. Melewati tali yang mengikat
topeng Dawn membuatnya putus dan terjatuh. Menunjukan wajahnya yang menawan
dengan mata merah yang ganas, tak disangka sangka Ia mempunyai wajah seorang
anak SMA biasa.
"Menarik...!!
Sangat menarik..!! " Dawn melepaskan kepala Shika, membuatnya terjatuh.
Lalu menengok ke arah orang yang melempar pisau tersebut. Disana terdapat Ender
yang sedang berdiri tegak di depan sebuah stan makanan.
Sebelum kedatangan
Ender di lokasi Light dan yang lainnya, Ender harus menghadapi Goose terlebih
dahulu yang telah menghalangi jalannya.
"Ayo
kesini.!!" Saut Goose, Ender memasang kuda kuda untuk melawan Goose yang
berada di hadapannya.
"Silahkan...!!"
Ender menyerangnya dari depan dengan banyak tebasan pedang yang sangatlah cepat
dan dengan teknik yang luar biasa, sangat berbeda dari gaya berpedang Usagi,
Light, dan Habiki. Di sisi lain Goose mampu menghindari sebagian besar
serangannya.
"Luar
biasa..!! Tak kusangka ada banyak orang yang kuat di luar sini..!" Goose
sempat tertawa selagi menghindari serangan Ender. "Tapi...." setelah
beberapa serangan, Goose menghindari serangannya lalu memegang tangan Ender
untuk menahannya.
"Aku lebih
kuat..." Goose memutarkan tangannya berniat untuk mematahkan tangan Ender,
Tetapi. Ender memutarkan balik tangannya membuat Goose termakan jebakannya
sendiri.
"Sepertinya Kamu
salah deh..!" Ender tertawa balik.
Goose melepaskan
diri dari tahanan lengan Ender dengan kelenturannya lalu menjauhkan diri untuk
mencari aman. "Hahaha Aku terlalu meremehkan mu..." Tawa Goose sekali
lagi. "Kalau Kamu mau Aku bisa merekomendasikanmu menjadi salah satu
komandan.." Goose membukakan tangannya lebar lebar.
"Ah itu tidak
perlu.. Saya sudah berada di team yang luar biasa..." Jawab Ender dengan
pergerakan tangan yang melambai lambai.
"Oh ya sudah
kalau begitu..." Jawab Goose perlahan. Ia menatap Ender dengan tajam tepat
ke dalam matanya "Jangan menyesal....".
Goose berlari
menuju Ender tanpa persiapan apapun. Ender memasang kuda kudanya dan pada saat
datang, Goose tidak menghindari tusukan pedang Ender tapi melainkan
membiarkannya menancap di dadanya. Dia pergi ke belakang Ender lalu memeluk
dengan seluruh tubuhnya dengan sangat erat sampai sampai Ender tidak bisa
bernafas.
"A-agh.... K-Kamu..
A--" Ender terlalu kehabisan nafas untuk berbicara sepeser kata pun.
"Sudah lah
diam.. Aku akan menang dipertarungan ini.." Jawab Goose sambil menekan
tubuhnya lebih kencang lagi, Dirinya menahan rasa sakit dari tusukan pedang
Ender yang masih menancap di dadanya.
"AAA..."
Ender berteriak.
"AHAHAHAHAH-------"
Suara tawa Goose yang asalnya sangatlah kencang pun mulai memudar dan
tahanannya pun mulai merenggang. Ender melirik ke belakangnya dan melihat Goose
yang sudah terbaring tanpa nyawa dengan pedang Ender di dadanya dan satu pisau
tepat dilehernya.
"Apa...."
Dengan kehabisan nafas Ender perlahan menengok ke belakang. Disana ada Cade
dengan pisaunya yang tertutupi darah.
"Jangan kalah
disini.... Ada musuh yang jauh lebih kuat darinya... Yang mampu mengalahkan Ash
dan Floyd sendirian..." Tanpa basa basi Cade melemparkan pisaunya kepada
Ender.
"Yang benar
saja..." Setelah menangkapnya Ender segera mencabut pedang dari jasad
Goose.
"Cepat ke lokasi
Light... Sepertinya Dia ada disana.... Aku akan datang disaat yang
tepat.." Cade membalikan badannya dari hadapan Ender.
Tanpa mengerti
situasi Ender pun berjalan ke arah lokasi Light dan yang lainnya. Saat sampai
di dekat lokasi, Ia melihat Shika yang sedang disiksa oleh Dawn.
Ender melemparkan
pisau yang telah diberikan oleh Cade untuk mengalihkan perhatiannya dari Shika,
lalu pertarungan pun kembali berlanjut untuk kedua kalinya.
Saat Cade
mengantarkan Lucy untuk melarikan diri, Lucy menanyakan beberapa hal.
"H-hey Kamu... Apa yang sebenarnya terjadi...?" Tanya Lucy dengan ketAkutan
selagi Ia ditarik Cade.
"Sebuah
bencana yang telah datang dari dimensi lain..." Jawab Cade sambil berlari
bersama Lucy.
"Hah..!!
Dimensi lain...??!" Lucy berhenti sejenak lalu menarik Cade supaya ikut
berhenti.
"Beri tahu
Aku lebih lanjut...!" Tatapnya dengan sangat serius kepada Cade.
"Tch... Kamu
tau gadis muda...? Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan semua ini... Aku harus
segera kembali dan membantu mereka..!" Bentak Cade, melepaskan tangannya
dari Lucy.
"Bukannya Kamu
telah diberi perintah untuk mengantarkanku..?! Dan Kamu berjanji akan
mengantarkanmu dengan selamat...!" Lucy menyondongkan tubuhnya ke depan.
"Hah..?
Lalu..?" Tanya Cade sambil menghindari wajah Lucy.
"Aku takkan
mengikutimu sampai Aku menjelaskanku semuanya...!!" Lucy menghempaskan
nafasnya kencang kencang dengan kesal.
"Dih.. Ya
sudah lah.." Cade menutup mukanya sendiri.
"Jadi teman
Mu itu dan teman temannya yang lain pergi ke dimensiku untuk mengumpulkan orang
orang kuat... Kata mereka untuk melindungi dimensi atau apalah... Aku menolak
dan kabur... Tapi dengan tiba tiba para pasukan ini tiba tiba menyerang dimensi
ini tanpa alasan... Hanya itu yang Aku tahu..." Cade menjelaskannya kepada
Lucy.
"Hahh..?! Kok
Koraya tidak memberi tahuku hal ini sih..." Ujar Lucy dengan kesal,
menghentakan kakinya perlahan.
"Cepat lah
ikuti Aku..." Mereka berdua pun akhirnya melanjutkan perjalanannya ke
taman untuk memberi tempat yang aman bagi Lucy.
Setelah beberapa
menit perjalanan akhirnya mereka sampai dan Cade sudah bersiap untuk kembali.
Ia meninggalkan Lucy di bangku taman dan perlahan melangkah pergi "Hei Kamu...
Siapa nama mu...?" Saut Lucy dari bangku tersebut.
"Panggil saja
Cade.." Jawabnya tanpa memandang wajah Lucy sama sekali.
"Bisa kah Kamu
melindungi Koraya..?" Lucy memohon dan membungkuk kepadanya.
"Akan
kuusahakan.. Tapi Aku tak berjanji..." Cade melirik ke belakangnya.
"Sekarang Kamu bisa pulang ke rumahmu, Aku akan kembali kesana untuk
menolong mereka..." Cade pun menghilang sekejap mata supaya sampai lebih
cepat daripada sebelumnya.
"Koraya...
Semoga Kamu baik baik saja..." Lucy perlahan menengok menuju bintang
bintang, memohon supaya teman baiknya selamat dari bencana tersebut.
Saat Cade tiba
disana, Ia disambut oleh kekalahan Koraya, Ash, dan Floyd yang sudah tak
sadaran diri dan terluka banyak di dekat gerbang festival. Terkejut dan tampak
kesal kepada Dirinya sendiri. Saat baru saja ingin beranjak meninggalkan tempat
tersebut untuk mencari Dawn, Dirinya terpanggil oleh seseorang.
"O-oi... K-Kamu...
" Ash melirik Cade dari atas permukaan tanah dengan tubuh yang tidak bisa
apa apa.
"Iya
apa..." Cade menengok ke bawah untuk memandang Ash.
"Kelemahan..Nya..
A-adalah... Dia hanya bisa menebak... Pergerakan orang.. Yang Ia. Perhatikan...
Tolong kalahkan Dia.." Ash sempat tersenyum lalu mengistirahatkan matanya
sekali lagi.
"Akan Ku lakukan....
Tunggulah di sini sebentar... Akan Ku kalahkan orang idiot itu..." Cade
mengepalkan tangannya kencang kencang.
Akhirnya Dia
memutuskan untuk berkeliling festival untuk menemukan Dawn. Tapi melainkan
menemukan Dawn Ia menemukan Ender yang sedang ditahan oleh Goose. Tanpa pikir
panjang Cade menghampiri dan membantunya.
"ARGH..!!"
Suara teriakan Shika yang sedang disiksa oleh Dawn sangat lah kencang,
membuatnya terdengar oleh Habiki dan Usagi yang sedang bertarung.
"Kakak..!!"
Usagi menengok dengan refleks, Dia terkejut.
"Bukannya Kamu
ingin serius berkelahi sekarang Usagi..?" Ujar Habiki setelah Ia memasang
topengnya kembali.
"Aku tidak
peduli lagi..." Usagi sama sekali tidak mendengarkan Habiki, melainkan
mengabaikannya. Setelah itu Dirinya langsung berlari menuju dimana kakaknya
berada.
"Tunggu...!"
Habiki menyautnya dan akhirnya mengikutinya.
Mereka melompat
dari rumah ke rumah dan akhirnya sampai ke sebuah medan perang yang
sesungguhnya.
Usagi terkejut dan
terpAku ketAkutan setelah memandang tubuh Shika yang sudah tergeletak ditanah.
"KAKAK..!!"
Teriak Usagi yang berlari mendekati Shika secepat mungkin.
"Woi
tunggu..!" Panggil Habiki selagi berlari dari belakang Usagi.
"K-kakak... Kamu
tidak apa apa...?!" Dengan khawatir, Usagi duduk di sebelah shika menopang
kepalanya. "U-sagi... pergi dari sini... Sekarang..." Jawab Shika
perlahan lahan.
"Kalian...."
Usagi melirik ke belakangnya ke tempat Light dan Austin berada dan tiba tiba
berlari, menyerang Light dengan pedang yang ada di genggamannya, tetapi Light
menahannya dengan pedangnya, ragu.
"Bukan Kami yang
menyakitinya sekeras itu..." Selagi menahan tekanan pedang Usagi, Light
mencoba menjelaskan.
"Melainkan
teman kalian.... Orang gila itu..." Austin berusaha meneruskan perkataan
Light, menunjuk Dawn.
"DAWN...!!"
Teriak Usagi dengan kesal, Dirinya berlari dan menyerang Dawn dengan sekuat
tenaga dengan pedangnya. Tapi seperti biasa Dawn menghindarinya lalu mematahkan
pedang Usagi hanya dengan kakinya.
"Dilihat dari
keaadaannya Kamu berteman dengan anak panah itu ya..?" Dawn mondorong
Usagi lalu tersenyum lebar.
"Kamu sama
saja dengan penghianat..." Dawn menghampirinya sekali lagi lalu
menendangnya sekeras mungkin.
"HENTIKAN..!!"
Teriak Habiki dari sisi lain tempat itu.
Dawn mengeluarkan
pistol cadangannya lalu mengarahkannya ke arah Usagi. "Aku akan
menghabiskan Mu dahulu lalu kakak mu...." Ia tertawa.
Semua tim Koraya
yang disana menyiapkan kuda kuda untuk menyerang Dawn dan melindungi Usagi.
Di sisi lain Usagi
meneteskan air mata karena ketAkutan akan kehilangan kakaknya.
"K-kakak..." Ucapnya dengan terbata bata.
Shika membuka
matanya lalu melihat Usagi yang dalam keadaan gawat, "U-us...
USAGII..!!!" Ia berteriak.
*DOR* Suara dari
pelatuk pistol Dawn yang menembakan peluru ke arah Usagi terdengar oleh semua
orang.
.
.
Tetapi tanpa
dikira siapapun, Dirinya berhasil diselamatkan oleh Habiki yang tiba tiba
berdiri di antara Usagi dan Dawn. Dan berkat tangan besi dari Ox, Ia juga bisa
melindungi tubuhnya.
"Untunglah...."
Light menghela nafas dengan lega.
Habiki
menyilangkan tangannya di depan dadanya, dengan tangan besinya di atas tangan
yang satunya.
"H-habiki...?"
Usagi memandang Habiki dari bawah. "Sudah kubilang.. Aku takkan kalah darimu..."
Jawab Habiki, menoleh ke belakang lalu tersenyum.
"Dawn..."
Shika bangkit lalu memegang pundak Dawn dari belakang. Setelah Dawn perlahan
melirik ke belakang, Dia melihat Shika yang sedang menatap Dawn dengan penuh
benci. "Takkan kumaafkan..." Dengan sangat cepat Shika menghempaskan
Dawn dengan pukulan telak dari belakang.
"Mohon
kerjasamanya..." Light tertawa, menghunuskan pedangnya.
"Cih mana
sudi Aku kerja sama sama kalian..." Shika memukul telapak tangannya
sendiri dengan kesal. "Habiki... Aku takkan kalah.." Usagi perlahan
lahan bangkit lalu berdiri di samping Habiki.
"Tentu
saja..." Habiki tersenyum senang.
Ender juga
mendekati mereka lalu menyiapkan kuda kuda yang berbeda dengan yang lainnya.
Dengan ini ada 6
orang di satu sisi dan 1 orang disisi yang lainnya.
"HAHAHA....
SEPERTINYA 6 LAWAN 1 CUKUP MEMUASKAN.... AKAN KUKALAHKAN Kalian SEMUA..."
Dawn yang asalnya terjatuh kembali bangkit sambil tertawa terbahak bahak.
"Jadi.. Mari
Kita mulai..." Lanjutnya sekali lagi.
Dengan ini
pertempuran terakhir di medan perang telah dimulai.
Poison saga
Part 4 : The betrayal
Setelah
sebuah jeda, akhirnya Habiki memulai pertempuran tersebut. Ia menarik busur panahnya
untuk menembak Dawn. Setelah melepasnya, Dawn menangkap anak panah yang
melayang tersebut. Tak lama Dirinya diberi serangan kejutan oleh kecepatan
Shika yang langsung menyerangnya dari depan secara beruntun. Tapi sayangnya
Dawn menangkis semua serangannya.
Shika mundur lalu
air Austin menerjang dari belakang Dawn seperti sebuah ombak besar. Dawn segera
melompat dan menghindar tanpa mengenai serangan dari siapa pun.
"Ah... Aku lupa
mengatakan sesuatu... Kekuatannya adalah memprediksi gerakan seseorang yang Ia perhatikan.."
Shika berhenti sejenak untuk memberi tahu sebuah informasi dari sebelah Ender,
Light, Austin, dan Habiki.
"Terima kasih
atas infonya...." Ender mengeluarkan pedangnya lalu menyerbu Dawn dari
depan. Dawn berhasil menghindari sebagian besar serangannya walau terkena
sedikit karena teknik berpedang Ender yang luar biasa. Setelah beberapa
serangan akhirnya Dawn menendang balik Ender.
"Ah... Kamu
lagi yang membuatku lengah nyonya muda..!!" Dawn mengelap darah dari luka
yang Ender buat. "Oh iya bapa..." Jawab Ender sambil tertawa.
"Brust Of
Shine!" Light menebas pedangnya beberapa kali ke udara di hadapannya
membuat banyak potongan cahaya yang akhirnya terlontar kepada Dawn. Dia
berusaha menghindar tapi tetap saja terkena salah satu potongan itu. Lebih
tepatnya pada lengan kanannya
"Ah... Luar
biasa... Giliranku ya...." Ujar dawn selagi merenggangkan tubuhnya,
berlari ke arah Austin untuk menyerangnya. Austin berusaha untuk bertindak
dengan mengeluarkan lengan air di depannya tetapi Dawn melompat kebelakangnya
lalu melemparkan Austin menuju tembok dari belakang.
Tembok itu sampai
retak dan keropos, sampai sampai Austin memuntahkan beberapa hal.
Shika segera
menyerangnya dengan kecepatan tinggi, tetapi Dawn melompat pada waktu yang
tepat lalu menendang Shika menuju tembok yang sama mengenai dan menimpa Austin.
"Kakak..!!"
Usagi mengeluarkan pedangnya lalu berlari menyerang Dawn berkali kali. Tapi sayangnya
Dawn selalu menghindar dari serangannya. Habiki menembakan beberapa anak
panahnya kepada Dawn untuk mencegah kekalahannya.
Namun Dawn memukul
Usagi yang sempat lengah selama beberapa detik lalu menendangnya jauh jauh.
"Beraninya Kamu..!!"
Dengan emosi, Habiki menghunuskan pedangnya lalu menyerang Dawn. Tetapi hanya
dalam beberapa serangan Dawn dapat memukul mundur Habiki dengan keras.
"Ender.."
Bisik Light kepada Ender yang berada di sisinya. "Ya.." Ender
mengangguk.
Mereka berdua
menyerang secara bersamaan, dengan kompak untuk memperbaiki keadaan. Setelah
berlari dan melakukan kombinasi serangan pedang oleh Ender dan Light seperti
tebasan beruntun dan tebasan tipuan, Dawn dibuat kewalahan dan mendapatkan
banyak sekali serangan.
Tapi akhirnya Dawn
menghindari semua serangan akhir akhir mereka yang memelan lalu menyerang
mereka balik. Pertama Ia menendang Ender, setelah itu melempar Light ke arah
Ender.
Saat semua itu
sudah selesai Dawn mengelap tangannya sendiri. Mengeluarkan pistolnya kembali
lalu mengarahkannya kembali kepada Usagi yang berada di dekatnya.
Shika langsung
menyerangnya dengan terbawa emosi namun Dawn tetap menghindarinya, Dia memukul
balik Shika beberapa kali sampai terlemparkan.
"Selamat
ting---" Dawn yang hampir saja menarik pelatuk tersebut, diberi kejutan.
"AGH!!"
Dawn terkena serangan tiba tiba dari belakangnya. Cade datang tanpa disadari
siapapun, dengan kemampuannya untuk menghilang, Dia menusuk Dawn dari belakang
membuatnya terluka fatal.
"Dengan
begini Kamu akan mati..." Cade menatapnya dari atas bahu, mendekatkan
wajahnya, lalu menusukan pisaunya lebih dalam lagi ke punggungnya.
"ARgh..."
Dawn kesakitan selagi berdiam diri menerima serangan Cade. "A-Aku takkan
mati... Takkan mati di tangan orang lain...!!" Dawn memberontak, mengepalkan
tangannya dengan keras.
"Cih... Akan
Ku akhiri sekarang juga..." Ujar Cade dengan kesal. Ia mencabut pisaunya
lalu mengarahkannya ke kepala Dawn.
Tapi dengan
refleks yang sangat cepat Dawn, memegang tangan Cade yang sedang mengarah ke
kepalanya itu. "Aku takkan kalah..." Dawn memutarkan tangannya
tetapi Cade sempat menghilang di waktu yang tepat lalu kembali muncul di belakangnya
untuk menyerangnya kedua kali.
Dawn menyadari hal
itu lalu membantingkan Cade yang baru saja muncul.
"AGHH...."
Dawn menarik bajunya supaya pendarahan yang mengalir di punggungnya berhenti.
Dawn tiba tiba mengeluarkan sebuah tekanan besar yang dapat dirasakan oleh
seluruh orang di sekitarnya. Ender dan yang lainnya pun merasakan pergantian
hawa tersebut.
"Sekarang...
Sekarang.. Aku bisa mengetahui semua langkah Kalian ras lemah... Sekarang Aku adalah
makhluk yang tidak terkalahkan...!!" Teriak Dawn dengan sangat sinister.
"Takkan
kubiarkan..!!" Usagi kembali bangkit dan menyerang Dawn, tetapi Dawn
seperti kejadian sebelumnya dengan mudahnya menghindar lalu memegang kepala
Usagi yang berusaha mengalahkannya. Sesudah itu berlari menuju sebuah dinding
lalu membenturkan kepalanya beberapa kali. "Ayo mau apa..!!" Usagi
yang terlihat kesakitan membuat Shika marah dan berlari juga ke arahnya.
Saat Shika baru
saja mau mengeluarkan serangan Dawn sudah menghindar dan memegang pundaknya
sambil perlahan melepaskan Usagi. Lama kelamaan Dawn meremas pundak Shika
dengan keras sampai hancur berdarah. "AHH..!" Shika meremas tangan
Dawn kembali walau kesakitan.
"Tak bisa
kumaafkan..!" Habiki berlari dengan pedangnya, penuh emosi kepada Dawn. Ia
berusaha menebasnya tapi Dawn bereaksi duluan. Dia memegang lengan metalnya
lalu meremasnya sampai kAku. Habiki terjatuh dan Dawn menginjak tangan sisa
Habiki dengan kencang, membuat bentuknya makin tak karuan.
Austin bersiap
membuat serangan kejutan tapi tanpa disadarinya Ia terkena serangan kejutan
terlebih dahulu. Dawn melemparkan tubuh Shika yang melemah ke arah Austin
membuatnya terjatuh kesakitan seperti sebelumnya.
Light dengan
terpaksa mendekati Dawn untuk menyerangnya untuk kesekian kalinya. Tetapi
seperti yang lainnya, Ia juga tak mampu. Kepalanya digengam lalu dibenturkan ke
dengkul Dawn dengan keras lalu menendangnya mundur.
"YAKAN YAKAN..
Aku TAKKAN KALAH...." Teriak Dawn, Dia tersenyum lebar lebar.
"Tch..."
Ender terlihat diam saja memikirkan strategi untuk menyerang dan mengalahkanya.
"Ah ah.. Akan
Ku berikan sebuah rahasia yang bahkan Shika dan Usagi tidak ketahui...."
Ujar Dawn dengan angkuhnya. "Saya bukan memprediksi kekuatan kalian...
Mana ada kekuatan seperti itu... Yang bisa Ku lakukan adalah... Membaca
pergerakan orang dengan jiwa mereka..." Lanjutnya, sambil membukakan
lengannya lebar lebar di tengah tengah orang orang yang sudah tumbang.
"Jiwa..?!"
Ender terhenti, sebuah ide melintasi pemikirannya.
"Yah..
WALAUPUN Kalian AKAN TETAP KALAH HAHAHA...!" Dawn menginjak tubuh Habiki
membuatnya lebih kesakitan "AGHHH..!!".
"H-...
Ha...biki.." Usagi dengan perlahan meraih Habiki yang sedang terbaring di
sebelahnya.
"U-usagi...
Aku tidak apa apa.." Habiki berpura pura kuat, tersenyum.
Ender bangkit dari
pemikiran lamanya lalu menghampiri Dawn.
"Tunggu Kamu
Ender apa yang Kamu lakukan..!!" Cade tiba tiba menggenggam kaki Ender
yang sedang berjalan menuju Dawn
Ender melepaskan
tangannya dengan paksa, menggoyangkan kakinya berkali kali "Ada yang harus
Ku coba.." Dia berkata.
"Hohoho...
Sepertinya Kamu yang paling sehat disini..!!" Dawn meraih tangan Ender
yang di hadapannya.
Ender melepaskan
topengnya lalu menyebutkan suatu kalimat dari bahasa yang asing "Η
κατάρα βγαίνει" .
Begitu ucapannya
selesai tiba tiba seluruh tubuh Ender berubah jadi hitam pekat dengan beberapa
titik kuning di bawah matanya menuju mulunya, dan tampaknya kulitnya sekarang
menjadi mengeras seperti baja.
"Ender..
Ender Ku sayang... Kamu benar benar melakukannya ya sekarang..." Ender
yang telah berubah berkata, dan tertawa kepada Dirinya sendiri.
"Hah...?!"
Seketika semua orang menyadari bahwa Dia bukanlah Ender yang biasanya,
melainkan sebuah sosok yang jauh berbeda.
"A-apa...?!"
Dawn terkejut, tangannya bergetar. Dirinya mengetahui ada hal yang aneh.
"Mengapa..! Mengapa Aku tidak bisa membaca jiwa mu..?!" Dia
membanting lengannya keras keras, karena frustrasi.
"Ha...?!
Jiwa...?? Hahaha.. Kamu lucu sekali.... Aku tidak mempunyai hal yang dinamakan
jiwa" Jawab 'Ender' sambil tersenyum.
"Apa apaan
orang ini..." Dawn mengambil beberapa langkah mundur. "Ya sudah...
Sekarang kan kutunjukan kekuatanku tanpa memprediksi..." Tapi setelah diam
sejenak, Dawn memutuskan untuk berbuat nekat.
Dia berlari ke
arah Ender dengan cepat untuk menyerangnya hanya dengan tangan kosong. Ender
menghindar dengan mudah, tersenyum seperti Dawn biasa tersenyum pada musuhnya.
Lalu Ender menendangnya balik, kembali pada asalnya.
Dawn yang kesal
lalu segera bangkit, mengejar dan memukul Ender balik dengan kencang.
"AH..." Dawn melirik lengannya yang memukul, bergetar kesakitan
sampai kAku. "Ah Aku lupa... Kulit Ku sangat keras..." Ender
menghempaskan rambutnya lalu menendang Dawn lagi untuk kedua kalinya.
"TAKKAN
KUMAAFKAN..!" Teriak Dawn, tanpa istirahat Dia bangkit kembali untuk
menyerang 'Ender'.
Sesaat Dawn
berlari, wujud jari jari Ender berubah menjadi tajam dan panjang. Dawn datang
dan tanpa ampun dadanya ditusuk oleh semua jari jemari yang ada di ujung tangan
Ender.
"HAHAHA... AKU TAKKAN MATI... AKU AKAN MENGHANTUIMU SAMPAI KAMU GILA..
'DIA' AKAN MENGALAHKAN KALIAN..." Dawn menjadi gila akan kematiannya, Ia berteriak,
menteriakan sosok 'Dia'.
"Berisik..."
Jawab Ender, menatap Dawn lebih dalam lagi. Dia menusukan seluruh lengannya ke
tubuh Dawn sampai menembus ke sisi lain dan tubuhnya tak lagi berbentuk.
Tusukannya Dawn
Ender lepaskan perlahan dan Pada saat itu pun kematian Dawn sudah terpastikan
oleh semua orang, Ia terjatuh tanpa nyawa. Walau orang orang merasa lega karena
selamat tapi tetap saja kematiannya itu terlalu brutal untuk disaksikan. Banyak
orang yang masih berpikir Kita tidak harus membunuh.
"A-akhirnya..."
Austin dan Light yang sudah kehabisan tenaga menghela nafasnya dalam dalam
karena lega.
Poison saga
Part 5 : The last
Usagi
yang terlihat paling terluka memaksakan diri untuk bangkit dan menghampiri
Ender perlahan lahan.
"T-tunggu
dulu Usagi..!" Habiki yang asalnya berada di sisinya, perlahan duduk.
"T-..terima
kasih" Usagi berhenti di hadapan Ender, tersenyum.
"Tunggu dia
bukan Ender yang sebenarnya..!!" Cade berteriak dari kejauhan untuk
mencegah terjadinya apa apa, tapi hal itu sudah terlambat.
"Kamu
lemah..." Ujar Ender dengan nada yang sangat datar. Setelah itu Dia
menendang Usagi kembali ke dekat Habiki tanpa melihatnya sama sekali.
Usagi yang terhantamkan
terlihat sangat kesakitan dan pasrah, kondisinya melemah disaat saat terakhir.
Habiki yang samanya sedang kesakitan mendekatkan diri kepada Usagi yang kembali
di sisinya "Kamu baik baik saja..?!" Panggilnya.
"Oi
oi..!!" Shika berlari ke arah Ender karena terbawa emosi untuk melontarkan
pukulan, tetapi dengan mudahnya Ender tangkap dan putarkan lengannya.
"Yah
sudahlah... Kalau Aku berperilAku berlebih pasti Ender tak akan memperbolehkan
Aku kembali.." Ender yang terkutuk itu melepaskan tangan Shika yang sudah
ditahan, sambil senyum senyum sendiri.
"Dadah
semuanya..." Kulit Ender kembali menjadi warna kulit normal biasanya dan
pikirannya kembali seperti semula kala.
"Kita
menang..?" Ender memegang kepalanya, seperti sedikit pusing "Ya"
Jawab yang lain, namun dengan suasana yang sedikit tegang membuat Ender mempunyai
firasat buruk.
"Kamu..!!"
Shika yang asalnya terjatuh di hadapan Ender bangkit lalu menarik jaket Ender
dari depan. "Kamu melukai adik ku..!!" Bentaknya sepenuh tenaga.
Ender terkejut.
Tanpa berani memandang wajah Shika, Dirinya meminta maaf sedalam dalamnya
" Maaf... Maaf... Maaf.." Dengan penuh rasa penyesalan.
"Cih.."
Shika muak, melepaskan lalu mendorong Ender ke belakang.
Namun tanpa
disadari. Benedict yang selama ini tak sadaran diri bangun dan langsung
mencekik Ender dari belakang dengan kedua lengannya. "HAHA MENYERAHLAH
SEKARANG.... lho.. Shika Usagi.. APA YANG Kalian LAKUKAN..!!" Pandangan
Benedict langsung terpAku pada Shika dan Usagi yang tak melawan Light dan kawan
kawan sama sekali.
"Kita akan
keluar dari Poison..." Shika melirik ke arahnya lalu menjawab dengan
serius.
"Dasar
BODOH..!!" Benedict berteriak dengan kesal tanpa melepas Ender yang tampak
masih bisa menahan Benedict.
"Ehhh ga boleh
gituuu Benedict..." Ternyata masih ada satu kejutan yang tidak disadari
siapapun. Ada seseorang yang menyaut kepada Benedict dari jauh.
Orang tersebut
sedang bersama dua orang lainnya yang berjalan di sisi kiri dan kanannya,
mereka bertiga lama kelamaan mendekati Benedict dan yang lainnya.
"K-Kamu..?!"
Benedict dengan terkejut langsung membukakan tangan yang sedang mengekang Ender
keras keras.
Light, Cade, dan
Austin menyiapkan kuda hanya untuk berjaga jaga. Di sisi lain Shika hanya
menatap mereka dengan kesal.
"Eh... Aku tak
melihat kalian... Hallo semuanya.. Perkenalkan.. Namaku adalah Corvino.."
Corvino melambaikan tangannya sambil berbicara dengan nada yang ceria. Ia mengenakan
jaket musim dingin dan gas mask yang berbentuk seperti paruh gagak. Rambutnya
berwarna merah tua.
Di pinggirnya ada
seorang wanita dengan gas mask berwarna pink kegelapan dan gaun hitam yang
sedikit membuka kan tubuhnya. "Aduh Corvino Kamu terlalu kekanak
kanakan.." Wanita tersebut memegang dagunya sendiri.
"Yahh Ayoklah
cepat perkenalkan diri Hana..!" Corvino perlahan lahan menyenggol Hana 3
kali.
"Iya iya Aku tahu..!!
Namaku Hana...." Hana mendorong Corvino darinya lalu memandang ke arah
Light dan yang lainnya
"Dannnn..!!"
Corvino membukakan tangannya lebar lebar menunjuk ke pria kekar di sebelah
satunya dengan baju tentara dan jenggot tipis, tubuhnya luar biasa besar dan tinggi,
namun gas masknya hanya digantung di lehernya.
"Gustavo..."
Pria itu menjawab dengan singkat padat dan jelas.
"Hana,
Gustavo, dan Aku adalah salah satu anggota The Last..." Ujar Corvino
dengan angkuhnya mengangkat setengah lengannya ke atas.
"The
Last..?" Ender membekokan lehernya perlahan dengan bingung.
"Yahh jadi
begini---" Corvino menunjuk langit namun perkataannya tiba tiba terhenti.
"The Last
adalah sebuah team elit di dalam oranisasi Kami yang bertujuan untuk menjadi
harapan terakhir.... Mereka tak akan bertugas kecuali keadaan sudah kritis...
Ada Gustavo yang merupakan anggota dengan fisik terkuat tetapi kalau masalah
insting Dia paling lemah, namun Hana dan Corvino harus sangat diwaspadai..
Kekuatan mereka setara dengan Dawn, bahkan mungkin Corvino jauh lebih kuat
lagi... Satu hal lagi ada 2 anggota terakhir yang tidak Aku kenali, tapi tetua
bilang mereka anggota terkuat.." Shika yang berdiri di sebelah Ender
memberikan penjelasan secara rinci setelah memotong perkataan Corvino.
"Shikaaa..!!
Kenapa Kamu memotong perkataan kuuu...!! Yaa lagi pula Kamu mau keluar
poison..??" Corvino menghentakan kakinya seperti anak kecil yang sedang
mengeluh.
"Ya Aku akan
keluar dari organisasi merugikan itu..." Jawab Shika sambil menatap mereka
bertiga dalam dalam.
"Ya boleh
sih.... Tapi Ketua tak akan senang loh...." Jawab Corvino selagi menggaruk
belakang lehernya perlahan lahan.
"Ya sudah
lah.... Tapi Kami akan membawa kembali Benedict..." Hana melambaikan
tangannya ke arah Benedict sambil tersenyum.
"Hei..!! Masa
sih..!! Mereka sudah babak belur terus Kita kan ber 4, pasti menang..!!' Teriak
Benedict, perlahan emosinya naik.
"Alahk sudah
lah banyak omongan Anda yahh...." Corvino menarik Benedict hanya dengan
menggerakkan jari jemari tangannya. Benedict yang asalnya berada di sisi lain
dari mereka tiba tiba terbang dengan kecepatan tinggi menuju Corvino.
"Aduh.."
Benedict terjatuh di hadapan Corvino dengan kencang. Semua orang di sisi lain
yang melihatnya tampak kaget kecuali Shika dan Usagi.
"T-telekenesis....?
" Austin bertanya tanya pada Dirinya sendiri. "Tidak..." Jawab
Shika, meneteskan keringat ketAkutan. "Itu adalah benang tipis yang
sangatlah kuat..." Lanjut perkataannya.
"Ya.. Kamu
bisa melihatnya kalau teliti..." Ender melengkapi perkataannya.
"Ya sudah ya
gaiss... Kita pergi dulu sampai nanti!!!" Corvino melambaikan kedua
tangannya menuju Light dan kawan kawan sebagai perpisahan.
Gustavo menunduk
lalu mengangkat Benedict yang terjatuh, menggendongnya di bahu.
"Oi oi tunggu..!!"
Benedict memukul pundak Gustavo beberapa kali dengan kesal.
Sinar yang pernah
muncul sekali di dimensi Austin muncul kembali di dimensi Koraya ini dan
menarik mereka berempat ke atas. Seluruh pasukan mereka yang masih selamat juga
ikut terbang ke atas meninggalkan permukaan bumi.
"A-akhirnya...."
Habiki menghela nafasnya lalu memaksakan diri untuk berdiri perlahan.
Shika pergi ke
arah Usagi, menunduk lalu menggendongnya layaknya seorang putri. Tanpa kata
kata, Ia meninggalkan mereka semua di belakang.
"Oi oi...
Mari bertarung lagi kapan kapan ya Shika..." Light menunjuk Shika dari
belakang sambil berdiri, tersenyum.
"Akan Ku lakukan
dan akan Ku kalahkan..." Jawab Shika tanpa membalikan badannya sama
sekali. Light kembali tersenyum mendengar jawabannya.
"U-Usagi..!!!"
Saut Habiki dari kejauhan kepada anak berbaju kelinci itu. "Kita akan
bertemu lagi kan..! Dan lalu melanjutkan pertarungan tadi..!!" menatap dan
menggertak sekuat tenaga.
"Jangan
dekati adik ku..." Shika melirik ke belakang, ke arah Habiki dengan dingin
dan kesal.
"Y-ya..!!
Maafkan..." Habiki menunduk dengan malu dan tAkut. Saat Habiki melihat
mereka kembali Usagi tersenyum ke Habiki dari balik Shika dan melambaikan
tangannya dengan perlahan.
Habiki tersipu
malu lalu melambai balik kepadanya.
"Hei
semuanya..... Light, Austin, dan Cade... Cari Koraya, Ash, dan Floyd lalu
gotong mereka ke markas... Aku akan kembali ke markas duluan bersama Habiki
untuk melapor kepada Ox..." Ender menghampiri Habiki yang terdampar di
dekat tembok.
"Oi oi Kamu...
Kenapa harus Kami hah..?" Cade mengepalkan tangannya keras keras.
"Kan Aku perempuan
dan Habiki paling terluka ya ga..?" Ender menggendong habiki lalu langsung
berlari dan melompat pergi secepatnya pergi.
"Ah tunggu
Ender..!" Ujar Habiki dengan terkejut, tiba tiba dibawa lari oleh Ender.
"HAHHH..??"
Cade kesal, memukul tembok selagi meneriaki Ender dari belakang.
"Ya ampun...
Ayo cepat..." Light memimpin mereka berdua di depan saat mencari Ash dan
kawan kawan.
Setelah beberapa
menit berjalan akhirnya mereka bertiga menemukan Ash dan yang lainnya yang
tergeletak dalam keadaan tak sadaran diri, tanpa basa basi mereka menggotongnya
masing masing lalu segera kembali ke markas.
Red Aura saga
Part 1 : After battle
Tak
lama setelah semua pihak tim Koraya dan tim Poison meninggalkan festival
tersebut, para polisi dan tim SWAT baru saja datang untuk mengamankan keadaan
yang sudah diselesaikan.
Saat mereka semua
sampai di markas, Ash, Floyd dan juga Koraya langsung diberi perawatan di
ruangan medis yang telah disediakan Ox. Habiki juga mendapatkan luka yang cukup
berat jadi Dia ikut dirawat di sana. disisi lain Ender, Light, Austin, dan Cade
hanya diberi pengobatan ringan.
"Apa mereka
akan baik baik saja..?" Tanya Ender, memandangi mereka bertiga dari balik
jendela ruangan medis. "Tentu... Walaupun mungkin agak lama tapi mereka
baik baik saja.." Jawab Ox dengan tenang supaya Ender tidak ragu dan ikut
tenang.
"Lalu Dia
siapa..?" Tanya Ox sambil menunjuk ke arah Cade yang baru saja di pasang
perban. "Heh.." Cade bergumam sendiri, seperti meledek Ox.
"Oh Dia..?
Dia Black Eye atau panggil saja Cade.. Orang yang kabur pada saat itu..."
Jawab Ender setelah, menengok ke arah Cade yang sedang santai diatas sofa.
"Oh tentu
saja... Sini Aku siapkan ruangan---" Ox yang asalnya sudah berjalan tiba
tiba berhenti. "Cihhh lagian siapa yang pengen tinggal disini..? Aku akan
tinggal di tempat lain.. Aku pun tidak akan ikut ikutan tim ini... Tapi kalau
Kalian butuh Aku ya silahkan..." Ucapan Ox dipotong mentah mentah
oleh Cade yang terdengar sangat meremehkan.
"Yeee... Masa
sih..?! Ya sudah lah.. Aku akan membuat tangan Habiki yang baru sekarang..
Kalian harus segera istirahat.. Ini sudah larut.." Ox berjalan menuju
ruangannya untuk segera menyelesaikan tangan Habiki.
Di sisi lain Cade
berdiri lalu berjalan meninggalkan tenda tanpa kata kata. "Oi oi.. Kamu
mau kemana??!" Panggil Ender dengan lantangnya.
"Oh lupa..
Mau pergi.." Jawab Cade dengan datarnya, dan dengan tangannya yang dimasukan
ke dalam saku. "Gimana kalau Kita jalan jalan dulu.." Ender
menggodanya sambil perlahan membuka penutup kepalanya.
Cade tidak menoleh
sekejap lalu menjawab "Ogah..".
"Heiiiii
jahat amet..!!" Teriak Ender dengan menyondongkan badannya ke depan, kesal.
Austin dan Light
sudah istirahat terlebih dahulu di ruangan mereka masing masing. Ender yang tak
punya kegiatan lain pergi keluar tenda untuk melihat bintang bintang sepanjang
malam.
Tanpa disadari
malam sudah terlewatkan oleh mereka. Keesokan hari telah datang, Light telat
bangun dan tidak memasak, membuat yang lainnya belum memakan sarapan karena
terlalu mengandalkan Light.
"Ahhhh....
Lapar..." Ender menyenderkan diri ke sofa dengan sangat lemas. "Masak
aja sonoo......" Jawab Austin dengan sama lemasnya.
"Gamauu..."
Jawab Ender sekali lagi. "Kamu aja Light..." Terus Ender sambil
melirik sedikit ke pinggirnya, terdapat Light yang sedang berbaring di atas
satu sofa penuh.
"Aku ga ada
gairah..." Mereka bertiga terlihat sedang terdampar tanpa semangat di atas
sofa.
"S-selamat
pagiiii...." Ox keluar dari ruangannya dengan kelopak mata yang sangat
hitam karena bergadang semalaman penuh untuk mengerjakan tangan Habiki.
"Selamat
paGII.. KAMU KENAPA..?" Ender langsung bangun dengan terkejut.
"Hah...? Aku kehabisan kofi..." Ox berjalan ke salah satu sofa dan
tertidur tanpa mengatakan satu patah kata lagi.
"Oalah.. Baru
aja mau disuruh masak...." Ender yang asalnya sudah mulai bangkit perlahan
tertarik oleh hawa malas ke sofa itu.
"K-koraya..?!"
Teriak panik dari Lucy yang baru saja menerobos tenda terdengar oleh tim,
sambil membawa kotak makanan dan tas, Ia menengok kiri kanan. Tak lupa Dia juga
memakai seragam sekolah.
"Woah woah
tunggu nona.. Ini masih pagi..." Ender melirik dengan kecapean sementara
yang lainnya malas berkata apapun. Lucy berlari ke arah Ender dan menggoyang
goyang kan pundaknya berkali kali. "Dimana Korayaaaa..." bentaknya
perlahan lahan.
"Heeee...
Hee... pusing tau... Eh lanjutin deng.." Ender yang digoyangkan maju
mundur oleh Lucy masih saja lemas terbawa arus goyangan.
"Haa..?
Koraya...? Dia disana..." Light menunjuk ruang perawatan dengan sama
lemasnya.
Lucy bergegas lari
menuju jendela ruangan perawatan itu. Saat melihatnya, Lucy langsung terkejut,
Dia segera masuk ke ruangan itu lalu berjalan dan duduk di samping kasur
Koraya.
"Koraya...."
Lucy berkata dengan terbata bata, Khawatir.
"Dia belum
sadaran dari pertama melawan Dawn..." Habiki bangkit dari tidurnya sambil
memandangi Lucy yang terlihat sangat khawatir.
"Kenapa
Koraya..." Lucy menarik rok seragamnya dengan kesal sambil meneteskan
sedikit air mata.
"Ahaha... Kamu
cengeng banget dari dulu...." Koraya berkata dengan sangat pelan karena
baru saja sadaran diri, perlahan melirik Lucy.
"Koraya..?!"
Habiki terkejut.
"K-koraya...?!"
Lucy juga ikut terkejut, langsung menunduk di hadapan Koraya.
"Aku
mengkhawatirkan mu..." Ucap Lucy lebih lanjut lagi tanpa berani memandang
Koraya.
"Hahaha...
Santai saja..." Koraya tertawa perlahan lahan.
"Oh
iya...!!" Lucy membuka kotak makanan lalu memberikannya kepada Koraya.
"A-ah...
Terima kasih.." Koraya menerimanya dengan malu malu. "Sama
sama..!!" Jawab Lucy dengan senang dan lega.
"Kamu bisa
tahu tempat ini..?" Tanya Koraya.
"Pintu rumah
Mu terkunci, dan ada tenda aneh di sebelahnya jadi ya Ku masuki..".
"Kamu ga
kesekolah..?" Tanya Koraya sambil memakan beberapa suap sarapan buatan
Lucy. "Hmm..? Ini mau kok... Aku duluan ya.." Lucy berdiri lalu
meninggalkan ruangan tersebut sambil melambaikan tangan. "Terima
kasih.." Lucy berterima kasih pada Habiki yang sedang duduk menyimak
keadaan.
"Ya sama
sama.." Jawabnya tersenyum.
Selagi Dia
berjalan keluar, Ia berterima kasih pada Ender. "Makasih..!!" Ujarnya
sambil berjalan lalu meninggalkan tenda.
"Yaa..."
Jawab Ender, perlahan bangun lalu mendekati Ox. Ox yang tertidur dibangunkan
oleh Ender dengan menggoyangkannya beberapa kali "MASAK ANDAA... MALES
MALESAN AJA KEMAREN.." Teriak Ender.
"Yeeee kan Saya
bikin tangan Habiki..---" Ox menjawab sambil mengigau tapi akhirnya Ender
muak dan menarik telinganya sampai bangun "Shh masak sana..".
Akhirnya Ox bangun
karena dipaksa beberapa kali oleh Ender untuk memasak, setelah beberapa menit
akhirnya sarapan jadi.
Mereka semua pun
memakannya kecuali Floyd dan Ash yang masih tak sadaran lalu Koraya yang sudah
memakan sarapan terlebih dahulu dari pada yang lain.
Setelah banyak
waktu termakan akhirnya Ox memasuki ruangan medis untuk menemui Koraya dan yang
lainnya.
"Ox... Saat
Aku sembuh... Ayo Kita temui orang yang terakhir.." Koraya memanggilnya
selagi Ia sedang mengecek kondisi Floyd melalui komputer.
"Ya
tentu.." Jawab Ox sambil tersenyum semangat.
Beberapa jam sudah
berlalu dan jam pulang sekolahnya Lucy sudah tiba. Karena khawatir Ia segera
kembali ke tempat Koraya untuk menjenguknya sekali lagi.
"Selamat
sore" Lucy menyapa dengan ramah selagi membukakan pintu masuk.
"Selamat sore~" Ia, disambut oleh Ender yang terlihat sedang
menduduki punggung Ash saat sedang push up.
"Ha..?"
Lucy menatap dengan kebingungan. "Saya akan langsung menjenguk
Koraya..." Lanjut Lucy, berjalan melewati mereka berdua yang sedang asik
sendiri dan Light yang sedang menonton mereka sembari meminum secangkir teh.
"Ya tentu
silahkan... Ayo 20 lagi Ash...!!!" Ender berteriak dengan semangat,
mengangkat kedua tangannya.
"HAAAAAA..!!"
Lalu Ash berteriak, mempercepat gerakan push upnya.
"Halo
Koraya..." Lucy memasuki ruangan dengan ceria.
"Hai Lucy..! Kamu
datang untuk mengambil tempat makan Mu ya...?" Tanya Koraya, menyerahkan
tempat makan tersebut ke arah Lucy.
"A--- Iya iyaa...."
Lucy tampak malu namun tetap saja menerima tempat makan tersebut dari tangan
Koraya.
"Oh ya
Koraya... Apa yang sebenarnya Kamu rencanakan... Dimensi lah apapun itu.."
Lucy duduk di sebuah kursi yang berada di sisi kasur Koraya lalu menatapnya dengan
serius.
"Hah... Kamu
tahu dari mana..?" Koraya mengangkat alisnya dengan tekejut lalu bertanya
balik. "Cade yang memberi tahuku..." Lucy berbicara lebih jelas.
"Oh...
Begini.... Mereka semua bukan hanya orang yang Ku temukan di dimensi lain....
Apa Kamu familiar dengan orang bertelinga kambing itu..?" Koraya menunjuk
Ash yang sedang push up dari dalam jendela besar ruangan medis itu.
"SEMBILAN
PULUH DELAPANNN..!!!" Teriak Ash dengan sangat lantang sampai terdengar ke
ruangan medis. "Yaaa~~ Ayo teruskann~~" Tawa Ender perlahan lahan
mendukungnya.
"Y-ya orang
itu...." Koraya menatap Ash dengan keanehan dan penuh penyesalan.
"Oh iya.. Dia
familiar ya... Seperti karakter yang Kamu suka gambar..." Jawab Lucy
dengan santai, masih melihat ke arah Ash.
"Ya... Mereka
semuanya adalah karakter ku..." Jawab Koraya dengan membicarakan langsung
ke intinya.
"Hahhh???!
Beneran..??!" Lucy bangkit dari duduknya karena terkejut dan tidak
percaya.
"Y-ya
sepenuhnya begitu sih.. Tapi Lucy.. Bisakah Kamu merahasiakan ini..?" Koraya
memohon, menggaruk pipi sebelah kanannya.
"Ya tentu
saja.... Aku berjanji..!" Lucy memberi jari kelingkingnya kepada Koraya.
Lalu mereka berdua melakukan pinky promise atau bisa disebut janji jari
kelingking.
Setelah melepaskan
jari Lucy, Koraya mengambil remot lalu menyalakan TV yang ada di ruangan
tersebut. Hal yang pertama kali muncul adalah berita tentang kejadian yang
terjadi di festival tempo hari.
'Diduga
penyerangan dari pasukan tak dikenal menyerang festival tadi malam.. Menurut
saksi pasukan tersebut memakai gas mask.. Dan diduga ada sekelompok orang yang
melawan mereka... Apakah mereka musuh atau teman...? Polisi tengah sedang
menyelidiki keberadaan mereka yang terlibat di peristiwa tersebut..'
"Itu Kalian yakan..."
Lucy memfokuskan diri kepada berita tersebut. "Ya." Jawab Koraya,
menghembuskan nafas dalam dalam.
"Ah Kita akan
mendapatkan waktu yang buruk kalau diselidiki polisi.." Ox memasuki
ruangan medis dengan secangkir kopi di tangannya.
"Ya..."
Koraya mengucapkannya kedua kali nya.
"Lagi pula Kamu
siapa..?" Tanya Ox, melirik ke arah Lucy yang sedang duduk.
Lucy segera
berdiri lalu sedikit membungkuk "Saya teman masa kecil Koraya, Lucy...
Salam kenal..." Lalu Ia kembali berdiri tegak.
"Ah ya
sudah.. Kamu terlanjur mengetahui tempat ini.... Tapi jangan kasih tahu seorang
pun tentang tim dan tempat ini.." Ox meminum seteguk kopinya lalu
meninggalkan ruangan itu perlahan lahan.
"Siap...
Terima kasih..!" Ender membungkuk sekali lagi lalu tersenyum.
"Ya sudah Aku
pulang dulu ya Koraya.... Segera lah ke sekolah ok..??" Lucy pergi
meninggalkan ruang perawatan sambil melambaikan tangannya seperti tadi pagi.
Koraya juga melambaikan tangannya.
"Terimakasih
semuanya Aku pulang duluan...!" Lucy berlari keluar tenda tanpa
menghentikan lambaian tangannya.
"Bai
baii~" Ender juga melambaikan balik walau masih saja duduk si atas
punggung Ash.
"A-Aku lelah
Enderrr..." Ash sudah terdampar di atas lantai karena kecapaian, tetapi
Ender tetap saja belum menyingkir.
"Kamu sendiri
yang memintanya..." Jawab Ender sambil tertawa kecil.
Setelah
meninggalkan tenda Lucy segera pulang dengan berjalan kaki.
Keesokan harinya
Koraya masih belum sehat secara menyeluruh... Floyd masih beristirahat dengan
tidak banyak melakukan aktivitas sedangkan Ash melakukan aktivitas setiap
waktu. Habiki juga sudah dibuatkan tangan baru oleh Ox yang langsung dikenakan
olehnya tengah subuh. Lucy juga menjenguknya seperti biasanya.
Keesokan harinya
lagi semuanya sudah terlihat lebih sehat dari biasanya dan hari minggu tiba
jadi Koraya tidak perlu bersekolah dan beraktivitas seperti kemarin.
"Selamat
pagiii...." Sapa Koraya dengan bersemangat memasuki tenda, memulai hari.
"Pagi....!!!"
Semuanya sudah terlihat semangat dan sudah bangun dari tidurnya sambil memakan
sarapan mereka yang dibuatkan oleh Light seperti biasa, di atas sofa.
"Ox Aku akan
memakan sarapan.. Kamu siapkan portal untuk orang terakhir...." Koraya
berjalan menuju dapur untuk mengambil sepiring sarapan.
"Ok ok...
Seperti apa kekuatannya...?" Ox meletakan piring sarapannya lalu mengambil
PD untuk mengaturnya.
"Ah.. Dia
mempunyai kekuatan Telekenesis dan dunianya terdapat perang...?" Koraya
menengok dari dapur menuju Ox.
"Telekenesis...?
Apa Kamu mengetahui betapa kuatnya kekuatan seperti itu..?" Ox berhenti
mengotak ngatik PD untuk sejenak.
"Aku
tahuu.... Tapi sepertinya Dia baik.." Koraya kembali dari dapur membawa sepiring
sarapan lalu duduk di sebelah Ox untuk makan.
"Sepertinya..?!
Ah ya sudahlah..." Ox menghela nafas dalam dalam lalu kembali mengatur PD.
"AHH
Korayaaa..!! Bisakah Aku ikut kali inii..?!!" Ash menaruh piringnya dengan
lantang lalu menghampiri Koraya.
"Bolehhh.."
Jawab Koraya, walau Dia tetap fokus makan. "Aku pun akan ikut.."
Austin mengangkat tangannya dari ujung ruangan.
"Tentu
saja..! Kalau Kalian mau semuanya juga bisa...!" Koraya berbicara dengan
makanan yang masih ada di mulutnya.
"Ya sudah Aku
akan mengawasi bocah bodoh ini ok..??" Ender menghampiri Ash lalu menepak
punggungnya dengan kencang.
"Haaahhh...??!!"
Ash menoleh kepada Ender yang berada di belakangnya, kesal.
"Ya sudahh
sudahh... Kalian akan ikut ok..?" Koraya melambaikan tangannya perlahan
kepada mereka berdua.
"Tangkap....!!"
Disaat yang tepat setelah Koraya baru saja menyuapkan suapan terakhirnya, Ox
melemparkan PD ke arahnya.
Koraya meraih dan
hapir meleset namun tetap menangkapnya, "Kalian siapp...?" Koraya
meletakan piringnya di atas meja.
"Im born
ready..!" Ash mengepalkan tangannya di atas dada lalu berkata bahasa
Inggris.
"Pfft..
HAHAHA..." Ender tertawa kencang tak tertahan. Ash mulai kesal dan
memelototinya perlahan akhirnya tawa Ender juga mulai memelan "Maaf
maaf..!!!" Ujar Ender sekali lagi.
Austin yang
menyendiri di ujung akhirnya menghampiri mereka semua. Lalu akhirnya juga
Koraya pun memasang portal ke dimensi dimana OC terakhir Koraya berada, lebih
tepatnya OC dengan kekuatan telekenesis berada. Mereka ber 4 memasuki portal
tersebut satu persatu. Dimulai dari Koraya lalu diakhiri oleh Austin, dari situ
mulailah pencarian mereka.
Red Aura saga
Part 2 : The sorcerer
Saat
mereka menginjakan kaki di sisi lain, pemandangan yang mereka lihat adalah sebuah
rumah kuno yang besar, di kelilingi oleh kebun dan tempat beribadah tepat di sebelahnya.
Koraya segera
mematikan portal lalu memasukan PD ke dalam saku celananya.
"Ok apa Kita salah
tempat...?" Austin menengok kepada Koraya yang sedang melirik kesana kemari.
"Ah pasti
tidak salah.. Tanya dulu aja ke rumah ini..." Koraya tanpa panjang pikir
langsung mendekati depan pintu rumah yang ada di hadapannya tersebut.
"Permisi.."
Koraya mengetuk perlahan dengan sopan.
"Ya ada
apa...?" Seorang wanita membuka dan menjawab pintu dengan jubah hitam
setengah badan. Rambutnya berwarna ke coklat coklatan dan dikepang sebelah.
Wajahnya terlihat dewasa dan sangat cantik.
"Dia..?"
Austin terpAku memandangnya dan diam diam mengatakan sebuah kata dalam hati.
"Ah.. Apa Kamu
mengenal purple ghost..?" Koraya membukakan tangannya ke arahnya.
"Ah tidak
tidak... Aku tidak memakai nama itu lagi..." Wanita itu melambaikan
tangannya sambil tersenyum.
"Kamu adalah
Dia..?!" Koraya terkejut, memiringkan kepalanya. "Ya.. Namaku Magenta..
Salam kenal.." Wanita itu tersenyum lagi.
"Saya Koraya,
mereka Ender, Ash, dan Austin..".
"Salam
kenal..!" Saut Ender.
"Bundaa....!!!!"
Seorang anak perempuan berteriak dan berlari ke arah Magenta dari dalam rumah.
"Mary..
Kenapa Kamu tidak main bersama yang lainnya..?" Magenta menengok ke belakangnya
lalu tertawa dengan lembut.
"Bunda..
mereka siapa..?" Mary berhenti di belakang Magenta, bersembunyi lalu
menarik narik kakinya.
"Mereka
adalah orang yang berkunjung ke sini mary... Ayo berkenalan..!" Magenta
mengelus kepala Mary perlahan.
"Halo
Mary...!!" Ender berjalan mendekati Mary sambil perlahan membungkuk ke
arahnya.
"H-halo..."
Mary menjawab sambil menyembunyikan wajahnya. "Namaku Ender salam
kenal..!!" Ender memberikan tangannya selagi tersenyum.
"Namaku
Mary..." Mary perlahan menjabat tangan Ender. "Ayo Mary main sana
sama yang lainnya..." Setelah Magenta mengucapkan itu Mary langsung
melepas tangan lalu berlari ke dalam rumah.
Magenta senyum
sendiri. "Apa itu anak Mu atau siapa mu..?" Tanya Ash, sementara itu
Ender perlahan lahan berdiri. "Itu adalah anak asuh ku... Saya cuman
seorang perawat disini.." Magenta merapihkan bajunya perlahan lahan.
Setelah percakapan
tiba tiba berhenti sejenak, Magenta bertanya "Jadi apa yang Kalian butuhkan..?".
"Kami ingin
merekrut Mu untuk menjadi salah satu anggota dari tim kami..." Koraya
membukakan tangannya sekali lagi ke arahnya.
"Aku akan
senang menerima permohonan Mu itu.. Tapi pertama.. Aku sudah tidak sudi bekerja
bersama militer... Kedua.. Aku tidak bisa meninggalkan mereka..!" Magenta
menunduk meminta maaf.
"Tenang....
Kami bukanlah militer.. Lagi pula tim Kita ini akan melindungi semua orang
termasuk anak dari semua penjuru dimensi..!" Austin berjalan mendekati
mereka berempat yang berada di depan, mengikuti perbincangan mereka.
"Dimensi..?
Walaupun begitu.... Anak anak tidak akan memperbolehkan ku.." Magenta
berhenti menunduk namun berkata kata seolah ragu.
"Bagaimana
iniiii...? Gimana kalau Aku paksa dengan cara berkelahi..?? " Ash
menyondong ke Ender lalu berbisik pelan pelan.
"Bodoh..!! Kamu
ga boleh ngomong gitu...!" Ender memukul Ash sekuat tenaga tepat di atas
kepalanya.
"Tenang
Magenta... Kalau Kamu punya waktu Kamu selalu bisa berkunjung kembali kesini
untuk menjenguk mereka.." Austin memberikan senyuman dengan maksud
bujukan.
"Oh iya Aku ga
pernah kepikiran.." Mata Koraya terbuka lebar karena tak sangka.
"Kalau
begitu.. Kalau tujuan Kalian memang untuk menyelamatkan orang lain, akan Ku ikuti..
Jika Kalian punya tujuan lain Aku akan segera meninggalkan tim itu.. Sekarang
Aku akan berpisahan dengan mereka dulu..." Magenta menghela nafasnya dan
akhirnya menyetujui tawaran dari tim Koraya.
"Bisakah
Kalian mengantar ku...? " Magenta membalikan badannya dan perlahan masuk
ke dalam rumah.
"Tentu
saja..!" Jawab Koraya, mengikutinya dari belakang. Mereka akhirnya
memasuki panti asuhan itu yang dipenuhi oleh anak anak muda yang sedang
berlarian dan bermain bersama di ruang tengah.
"Anak
anak....." Magenta berhenti di depan anak anak lalu menepuk tangannya
perlahan. "Bunda..!!" Semua anak berhenti bermain dan mulai
memperhatikan Magenta sambil tertawa tawa.
"Kakak ini
namanya Ender bersama teman temannya yang akan bekerja sama dengan bunda mulai
dari sekarang... Jadi mohon Kalian mengerti.. Nanti bunda akan berkunjung kapan
kapan...." Magenta membuat raut wajah yang sedikit sedih walau tersenyum.
"Bunda mau
kemanaaa....!!!" Anak anak di ruangan tersebut menyaut bersama sama. Ada
beberapa anak yang berlari untuk memeluk Magenta dan ada juga yang hanya diam
menangis.
"Jangan
pergii....!!" Mary, berlari di antara anak anak yang lain memeluk Magenta
paling erat.
"Sudah
sudah... Bunda akan sering berkunjung kok....!" Magenta tertawa dan
mengelus rambut Mary perlahan.
Setelah memeluk
balik mereka, Magenta melepaskan semua pelukan anak anak satu persatu dan
perlahan lahan. Dia segera pergi ke sebuah ruangan untuk mengambil sebuah tas
lipat yang menyimpan barang pribadinya. Beberapa menit berlalu dan Sesaat Magenta
keluar Ia meminta sesuatu kepada Koraya dan yang lainnya.
"Bisakah
Kalian bermain bersama mereka dulu...? Aku akan pergi untuk berdoa
sebentar...." Magenta menengok ke Koraya dan juga Ender.
"Tentu
saja..!" Koraya tersenyum dan langsung mengumpulkan anak anak untuk
bermain.
"Terima
kasih..!" Magenta meninggalkan rumah tersebut dengan tas di tangan.
Setelah keluar Dia segera berbelok menuju tempat ibadah yang berada tepat di
sebelah rumah.
"Oiiii...!!
Siapa yang mau main kuda kudaan sama kakak ini..??" Ender berteriak dengan
kedua tangannya di pinggir mulut.
"Hei hei
tunggu dulu---" Ash menyenggol Ender tapi sepertinya sudah terlambat.
"Mauuu
Mauuuu...!!" Kebanyakan anak sudah berlarian ke arah Ash dengan semangat
dan penuh energi.
"Tungguuuuuu...
" Ash berucap sendiri dengan kesal. Di sisi lain Koraya dan Ender
menertawainya bersama sama.
Austin di sana
hanya diam melihat lihat, lama lama Ia bosan dan akhirnya meninggalkan rumah
tersebut tanpa memberi tahu siapa pun. Dia terpikiran untuk mengunjungi Magenta
yang berada di dalam tempat ibadah, Saat dalam perjalanan Austin merasakan
suasana dan cuaca yang sangat cerah dan indah, menyinari kebun tersebut.
Austin berhenti di
depan pintu besar depan tempat ibadah tersebut. Saat membukanya Dia melihat
Magenta yang sedang berdiri di atas lututnya berdoa, di tengah lorong besar.
"Kenapa Kamu
kesini..?" Magenta bertanya tanpa melepas konsentrasi sama sekali, dan
tetap menghadap ke depan.
"Ah Aku cuman
mengecek sekitar... Lagi pula kenapa Kamu berdoa...?" Austin berdiam di
dekat pintu sambil bertanya tanya.
"Berdoa
adalah wujud cintaku kepada Tuhan..." Jawab Magenta dengan datar, tetap
saja menghadap ke depan.
"Jadi kalau Kamu
mencintaiku Kamu akan berdoa kepadaku..?" Austin berbicara dengan datar
namun dengan niat bercanda kepada Magenta.
"Ga gitu lah
konyol..." Magenta yang sedang fokus langsung terganggu lalu tertawa
dengan lembut, Ia akhirnya menoleh ke belakang. Austin yang melihatnya ikut
tertawa.
"Mencintai
manusia dan Tuhan itu berbeda..." Magenta memandang menuju langit langit.
"Jika Kita mencintai Tuhan Kita akan bersumpah melayaninya dan tetap
berdoa kepadanya sampai mati..." Magenta lanjut berbicara sambil
tersenyum.
"Tapi jika
Kita mencintai manusia.... Kita akan bersumpah untuk menemaninya sampai mati..."
Pandangannya sekarang tertuju pada Austin. Masih saja tersenyum namun kali ini
lebih lebar.
Austin
memandangnya dengan kagum lalu memberikan senyuman kembali kepada Magenta.
"Ya
sudahlah.... Aku sudah beres..." Magenta mengambil tasnya yang Dia taruh
di depannya, berdiri lalu pergi berjalan keluar dari tempat itu. Setelah
keluar, Dirinya disusul oleh Austin dari belakang.
Austin
memerhatikannya dari belakang sambil tersenyum senyum sendiri selama
perjalanan. Saat sampai kembali di rumah, Magenta membukakan pintu, disambut
oleh anak anak yang sedang menaiki punggung Ash secara bergantian, tertawa tawa
bahagia.
"Yayyy...!!!"
Teriak anak anak bersama sama sambil melompat lompat. "Helppp
mee...." Ash bergumam dengan lelah dan kesal.
Magenta tertawa pelan
pelan dengan tangan menutupi mulutnya, dilanjut oleh Austin yang tersenyum di
belakang.
Pada akhirnya
saatnya untuk pergi datang, Magenta pun mengucapkan selamat tinggal terakhirnya
ke anak anak panti asuhan dan juga pengasuh pengasuh yang lainnya. Setelah
meninggalkan rumah Dia melambaikan tangannya sementara Koraya memasang portal.
Di sisi lain Ender dan Ash tertawa, melambaikan tangannya dengan bahagia kepada
para anak kecil.
Para anak anak ditinggal
tanpa tangisan, mereka tertawa dengan bahagia mengetahui suatu saat Magenta
akan kembali.
"Ayo
masuk..." Koraya mengajak yang lainnya untuk memasuki portal yang baru
saja dipasang olehnya.
Austin memasukinya
lalu Magenta memasukinya terakhir, masih dalam keadaan tersenyum kepada anak
anak asuhnya.
Saat mereka
sampai, mereka langsung berada di dalam tenda. Ox langsung berari ke arah
Koraya yang terdepan. Yang lainnya hanya memerhatikan sambil tertawa.
"Korayaaa...
Kita akhirnya beres...!" Ox tertawa, memegang pundak Koraya.
"Ya..---" Tiba Koraya menunduk, memegang kepalanya karena mendapatkan
sebuah kilasan kilasan kejadian mimpi aneh yang minggu lalu Ia dapatkan.
"A-apa..?!" Mata Koraya bergetar dengan terkejut.
"Koraya..?! Kamu
kenapa..?!" Ox dan yang lainnya mendekati Koraya dengan serentak, yang
tidak menghampirinya hanyalah Floyd yang duduk dengan santai.
"A-Aku tidak
apa apa..." Koraya mengangkat kepalanya kembali lalu segera mematikan
portalnya dengan tombol di PD.
"Untunglah...."
Ox mengelap keringat pada dahinya. "Halo... Namaku adalah Magenta salam
kenal.." Magenta tersenyum di tengah keributan.
"Oh ya Kita belum
memperkenalkan diri dengan benar untuk semuanya..." Ox menepuk tangannya
sekali. "Ash ayo Kita memperkenalkan diri dulu...!" Lalu Ox pergi
menunjuk Ash yang berada di dekat Koraya dan Ender.
"Ah ok..!!! Namaku
adalah Ash.. Di dimensiku, Aku dinobatkan menjadi pahlawan termuda yang ada...!
Orang terkuat dengan kekuatan api sejagad raya....!!" Ash tertawa dengan
angkuh, namun terlihat bodoh.
"Aku Aku...!"
Sela Ender dalam perkataan Ash. "Namaku Ender... Black Knight adalah
sebutanku yang sering orang ucapkan... Dan orang yang tadi adalah manusia
setengah kambing yang suka api..." Ender memberikan jempol dan sebuah
senyuman.
"H-hei..!!"
Ash melirik kepada Ender dengan kesal.
"Ah bagian ku...
Namaku Floyd... Adik dari Ash..." Floyd masih duduk dengan santai tanpa
semangat sama sekali.
"Namaku Light
pangeran dari kerajaan cronox..." Light yang tadi menghampiri Koraya
menunduk dengan formal.
"Kalau Aku...
Namaku Austin.. Seorang ilmu sihir spesialis air..." Dari belakang Ash,
Austin berjalan dengan santai.
Habiki yang baru
saja duduk, kembali berdiri dengan lengan besinya yang tampak baru, sudah
dipasang kembali. "Aku Habiki anak dari dimensi sama dengan
Koraya..." Ujar Habiki dengan ceria.
"Kalau Aku adalah
orang yang mengusulkan ke Koraya untuk membuat tim ini... Namaku Ox yang akan
menjadi otak di tim ini.." Ox mengangkat setengah tangannya.
"Sekarang
bagian Mu Koraya..." Light menengok ke arah Koraya. Namun saat yang
lainnya melihat Koraya, Ia tampak pucat dan memandang ke bawah sambil melamun.
"Oi oi Kamu
kenapa sih Koraya...!!" Ox mendekati Koraya dengan kebingungan.
"Sepertinya....
Aku melupakan satu OC... Tapi Aku tak mau Dia ada... Dia adalah
monster..." Koraya mengingat segalanya, mengingat siapa sosok di mimpi
itu.
"Hah..?
Siapa..??!" Ox terkejut dan langsung mendengarkan Koraya perlahan.
"Nama julukan
yang kuberikan adalah Red Aura... Tapi nama aslinya masih belum Ku ingat...
Hanya Dia seorang yang kubuat sepenuhnya menjadi penjahat... Kita tidak mungkin
bisa menemuinya..." Koraya masih saja merenungkan diri seperti banyak
masalah.
"Tidak apa
apa.. Ayo Kita temui dia... Coba saja ajak.. Kalau gagal Kita hanya perlu
mengalahkannya kan...! Lagi pula jika Kita tidak menemuinya tak lama Kita harus
melawannya saat melindungi dimensi ini..." Ox memberikan senyuman kepada
Koraya.
"Tidak
mungkin...! Tidak mungkin Kita bisa menghadapinya..!!" Koraya
menggelengkan kepalanya dengan frustasi.
"Ayolah
Koraya... Kita kan tim...!" Akhirnya Ox mengulurkan tangannya kepada
Koraya dengan mempertahankan senyumannya. Sementara yang lain ikut tersenyum
memandangnya
"Hmm.."
Koraya perlahan melirik ke arah Ox dan ikut tertawa. "Kalian memang luar
biasa... Ya sudah mari Kita lakukan...!" Koraya menggenggam tangan Ox
dengan semangat.
"Setelah
ini.... Kita harus mengalahkan Poison... Terutama The Last..." Koraya
menatap Ox dengan serius.
"Ya..."
Ox menjawab dengan ekspresi yang serius.
"Koraya Kamu
belum memperkenalkan diri...!" Ox merubah ekspresinya sambil tertawa
"Oh iya...
Aku Koraya...." Ujar Koraya perlahan lahan, satu per satu.
"Dan Aku adalah.."
"Pencipta
kalian..."
Red Aura saga
Part 3 : Monster
“Tunggu..!
Kamu penciptaku..?! Bukan..! penciptaku kan Tuhan..!!" Magenta membanting tangannya
dengan ke tidak percayaan.
"Ya tentu
Magenta... Tuhan menciptakan Ku untuk menciptakan mu.. Jadi orang yang
menciptakan Mu pertama adalah Tuhan.." Koraya melirik ke arahnya, berusaha
untuk menenangkannya perlahan.
"Tunggu
tunggu... Benarkah..?!" Austin mendekati Koraya, memegang pundaknya.
"Oh
begitu.... Syukurlah... " Jawab Magenta, menghela nafasnya dan memegang
dadanya.
"Y-ya.."
Dengan ragu Koraya menjawab sekali lagi.
"Kita sih
sudah tau.." Ash mendekati Floyd dan menyenggolnya perlahan.
"Woah woah..
Masa sih..? Walau Aku tak percaya tapi ya sudahlah..." Ender menggelengkan
kepalanya, untuk menolak kenyataan.
"Ya sudah
mari Kita bahas rencananya...." Ox berdiri di tengah tengah mereka sambil melambaikan
tangannya untuk berkumpul.
Setelah semua team
mereka terkumpul di sekitar sofa, Ox mulai membahas rencananya untuk mencari
Red Aura. Pada akhir pembahasan, mereka memutuskan untuk pergi mencarinya sabtu
depan, setelah Koraya selesai sekolah minggu itu.
"Ingat...
Persiapkan diri kalian... Kita akan menunjunginya sabtu depan..!!" Ox
berucap dengan semangat, mengangkat dan mengepalkan tangannya.
"Ya..!!
Light...! Latih Aku lagi..!!" Habiki berlari ke pinggir ruangan dimana
panah dan pedangnya berada. Pergi mendekati Light dengan semangat.
"Tentu..."
Light berdiri, menepak pundak Habiki lalu berjalan ke luar tenda. Habiki
tertawa dan berjalan mengikutinya dari belakang.
"Floyd..!!
Kita juga harus berlatih..!!" Ash memandangi wajah Floyd dengan semangat.
Setelah melirik Ash, Floyd menjawab "Aku sudah terlalu kuat Ash.." Ia
berdiri lalu melangkahkan kakinya keluar tenda.
"Hahhhhh!!!"
Wajah Ash memerah dengan kesal, Ia mengejar Floyd dari belakang.
"Magenta..
Maukah Kamu melihat tempat tempat disekitar..?" Austin tersenyum lalu
mengulurkan tangannya kepada Magenta setelah menghampirinya.
"Hahaha..."
Magenta menutupi mulutnya saat tertawa. "Ya tentu.." Meraih dan
memegang tangannya Austin, lalu menariknya keluar tenda untuk berjalan jalan.
"Aduduhh..!!
Aku lupa memberitahu ada ruang latihan disini.." Ox memegang kepalanya
dengan kewalahan.
"Dimana..?"
Ender menengok ke arahnya dengan cepat dan semangat. Ox menunjuk ke sebuah
pintu di ujung koridor "Disana.." Ujar Ox.
Ender segera
berlari menuju pintu tersebut, saat di depannya Dia membuka pintu lalu
melambaikan tangannya kepada Koraya. "Koraya.... Maukah Kamu berbicara
dengan Ku sebentar...?" Ender memanggil dengan lantang.
"Ya
tentu.." Koraya perlahan melangkah ke arah Ender, dan saat sudah dekat
Ender langsung memasukinya diikuti Koraya.
Di lihat oleh
mereka, ruangan itu cukup lega. Seperti sebuah lapangan mini dengan senjata
senjata asli dan miniatur di pinggir ruangan. Banyak pilihannya, dari mulai
tombak, pedang, perisai, sampai senjata api sekaligus.
"Jadi ada
apa...?" Koraya berjalan jalan di sekitar sambil bertanya.
"Ah.. Jadi
begini.." Ender langsung terpAku pada senjata yang beragam, perlahan
menjawab Koraya. "Uuu.. Ini bagus..." Ender senyum sendiri, Ia mengambil
dua buah pedang kayu.
"Koraya
tangkap..!" Ender melemparkan salah satu pedang kayu yang ada ditangannya
ke Koraya yang sedang melamun.
"W-wupss..!"
Koraya menangkapnya walau hampir terselip dari tangannya sedikit.
"Hah..?" Koraya dengan refleks menoleh kepada Ender.
"Jadi...
Sejujurnya.. Dipertarungan waktu itu Kamu lumayan merepotkan... Atau bisa
dibilang beban bagi Ash dan Floyd.." Ender menatap Koraya dengan serius
dengan pedang kayu di tangannya.
"Aduh..
Nyesek...!!" Koraya terasa murung dalam hatinya.
"Aku
serius... Jadi... Mulai sekarang persiapkan mental.. Aku akan mengajarkan Mu untuk
bertarung..." Ender menghunuskan pedangnya ke arah Koraya tanpa hesitasi.
"Serius..?"
Koraya menurunkan pedangnya terkejut. "Iya... Kamu keberatan...?"
Tanya Ender dengan memasang wajah licik.
"Tidak
tidak---" Koraya mengipas wajahnya sendiri. "Ya sudah kalau begitu
mari dimulai..." Tanpa membiarkan waktu untuk bicara, Ender langsung
berlari kepada Koraya.
Koraya langsung
mengangkat pedangnya di depan karena refleks setelah melihat Ender. Tanpa kuda
kuda dan pengalaman, Ia terlihat kAku.
Saat Ender sudah
di hadapan Koraya, Dia mengayunkan pedangnya. Walau Koraya berhasil menahannya,
itu hanya untuk sementara. Tekanan kekuatan dari pedang Ender membuatnya kewalahan.
Saat Koraya mulai
melemah dan kehilangan fokus Ender langsung menendang kaki Koraya. Koraya
langsung melepaskan pedangnya lalu menunduk, memegang kakinya kesakitan.
"Tuh kan...
dengan ini Aku mengetahui betama lemahnya Kamu.." Ender menertawakannya
sambil mengulurkan tangannya. Koraya terlihat jengkel, namun Ia menerima tangan
Ender dan perlahan bangkit.
"Sekarang Aku
akan mengajarkan dasar dasarnya ok.." Ender melepaskan tangan Koraya yang
telah bangkit, dan langsung kembali dalam keadaan kuda kuda.
Pada akhirnya
Ender mengajarkan Koraya dasar dari bela diri sepanjang hari. Sore hari pun
telah datang, Koraya sudah terlihat sangat sangat kecapean disisi lain Ender
juga sama.
"Ah mantap..!
Kamu bisa juga..!" Ender yang kehabisan nafas memberikan jempol kepada
Koraya yang berbaring kecapean.
"Ahhh..
Ahh.... K-kenapa Kamu melakukan ini...?! Padahal Kamu bisa melakukan hal
lain..?" Koraya memejamkan matanya perlahan lahan sambil menghembuskan
nafasnya yang berat.
"Ya itu sih
kehendak Ku sendiri tapi... Aku ingin Kamu kuat supaya suatu hari nanti bisa
melindungi yang Kamu sayangi...." Ender melihat ke arah Koraya, tersenyum.
Walau itu senyuman, senyuman tersebut tampak sedih.
"Ya tentu
saja... Kenapa Aku tidak menyadarinya..." Koraya membuka matanya, sadar.
"Lain kali Aku yang akan melindungi kalian..." Senyum Koraya dalam
hati, perlahan membayangkan timnya secara keseluruhan.
"YES..!
Ender..! Aku akan menanti latihan selanjutnya darimu..!" Koraya bangkit
dengan penuh tenaga.
"Gitu dong
semangatnya..!!" Ender berjalan kepada Koraya lalu menepaknya di punggung
dengan kencang. "Duh..!" Koraya terdorong sedikit.
"Aku akan
menantimu satu minggu ke depan...! Walau itu hanya latihan angka waktu
sebentar, setidaknya saat Kita melawan karakter Mu yang satu itu Kamu akan bisa
melindungi diri sendiri..." Ender menghadap ke depan pintu. "Sekarang
istirahatlah dengan benar sana..!" Ender menarik, lalu mendorongnya keluar
pintu yang baru saja Ia buka sambil tersenyum.
Saat sudah di luar
Koraya kehilangan keseimbangan karena terkejut, melirik ke arah Ender,
melihatnya sedang melambaikan tangan. Koraya membalas lambaian tersebut lalu
perlahan melangkah keluar tenda. Tenda tampak sepi karena semuanya mempunyai
urusannya masing masing pada saat itu.
Saat keluar tenda,
Koraya segera melangkah ke pintu rumahnya. Membukanya, memasuki lalu menutupnya
kembali. Dia segera pergi ke kamarnya untuk beristirahat, bersiap untuk hari
esok yang akan datang. Bermenit menit terlewati, berjam jam terlewati, dan pada
akhirnya besok hari datang tanpa di sadari siapa pun.
Hari demi hari
terlewati, rutinitas sehari hari mereka tetap berjalan. Habiki mengasah
kemampuannya bersama dengan Light. Ox yang terus mengembangkan teknologi
buatannya. Magenta dan Austin yang lebih mengenal satu sama lain. Lucy, Shoko,
dan Koraya yang menjalani kehidupan sekolahnya. Dan tidak lupa kegiatan baru
Koraya yaitu berlatih seni berpedang dengan Ender.
Lalu akhirnya hari
itu pun datang.
Di pagi itu,
Seluruh team Koraya sudah bersiap siap setelah baru saja bangun. Mereka sudah
berkumpul di tengah tengah markas. Seperti biasanya Light menyiapkan sarapan
untuk mengisi energi mereka semua. Sesudah mereka semua memakan sarapan buatan
Light mereka bersiap dengan seluruh perlengkapannya, seperti senjata dan
topeng.
"Yang akan
Kita lakukan adalah mencari Red Aura... Lalu bernegosiasi dengannya... Kalau
Dia melawan Kita akan mengalahkannya... Kalau Ia menolak ya biarkan.." Ox
sekali lagi mengumpulkan tim untuk membicarakan rencana untuk terakhir kalinya.
"Tangkap..!!"
Ox melemparkan sebuah perangkat kecil ke masing masing orang. Satu persatu dari
mereka menangkapnya dengan sempurna.
"Ini adalah
alat komunikasi yang ditaruh di telinga Kalian untuk berinteraksi denganku dan
juga yang lainnya..." Ox mendemonstrasikannya dengan cara memasangkan alat
yang tersisa pada telinganya sendiri.
Yang lainnya
langsung bersiap siap memasang alat komunikasi tersebut, seperti yang
dijelaskan Ox.
Ox menghampiri
Magenta yang sedang memakai perangkat komunikasi darinya. "Ini pakai...
Untuk menyembunyikan identitas sementara.." Ox menyerahkan sebuah topeng
polos kepadanya.
"Terimakasih.."
Magenta menerimanya langsung.
"Kita akan
dibagi menjadi 4 team.... Team satu Ash dan Floyd..." Koraya memasuki
percakapan tiba tiba.
"Team dua
Light dan Habiki.." Lanjut Koraya sambil melirik ke masing masing tim.
"Team tiga
Magenta dan Austin.." Melirik Magenta dan Austin.
"Dan terakhir
team empat Aku dan Ender.." Terakhir Ia menunjuk kepada Dirinya sendiri.
"Kita akan berpencar mencarinya dan Kita akan tetap berkomunikasi.. Kalau
ketemu Kita akan segera ke lokasi... Kalau tidak Kita akan kembali ke tempat
asal.." Koraya menepuk tangannya sesekali.
"Tunggu tunggu...
Kenapa Aku harus bersama Dia.?! Ga ada yang lebih bagus..?" Floyd menunjuk
Ash yang berada di sebelahnya dengan sekuat tenaga.
"HAHHH..?!!"
Ash meneriaki Floyd tepat di wajahnya dengan kesal.
"Mohon kerja
samanya Austin.." Magenta tersenyum setelah melirik ke Austin. "Ya
tentu.." Austin juga menjawab dengan senyuman.
"Oi bocah...
Tunjukan latihan Mu selama ini...!!" Light memberikan High Five kepada
Habiki yang di sebelahnya. "Ya..!!!!" Habiki menepak tangannya itu
sekuat tenaga sambil tertawa.
"Kalian sudah
siap..?" Ox memandang satu persatu tim. Yang lainnya perlahan lahan
memakai topengnya masing masing, setelah mengangguk.
"Ok..."
Ox memasang portal yang sebelumnya sudah Dia setel lalu akhirnya portal
tersebut muncul kembali. Ox memberikannya kepada Koraya untuk kembali pulang ke
dimensi ini, "Hati hati..." Ujar Ox.
Mereka memasuki
portal satu persatu bersama timnya masing masing. Dimulai oleh Koraya seperti
biasa, lalu di akhiri oleh Austin. Menginjakan kaki di sana, mereka disambut
oleh pemandangan kota yang sangat normal tidak berbeda dari dunia Koraya. Namun
dengan langit yang berwarna merah pekat, seperti darah.
Mereka langsung
berpisah tanpa basa basi yang panjang, lebih tepatnya setelah Koraya mematikan
portal. "Ya sudah... Aku dan Koraya akan langsung pergi ke inti
kota..." Ender berjalan dan memisahkan diri terlebih dahulu dan berjalan
menuju inti kota, bersama dengan Koraya yang mengikutinya.
"Aku akan
memeriksa dan menanyakan orang orang sekitar sini..." Austin dan Magenta
berjalan bersama menuju tempat tempat yang tak jauh dari lokasi datangnya
portal.
"Aku akan
keluar kota ini... Ya kan Floyd..?!" Ash menoleh ke sebelahnya dengan
semangat.
"Ya
terserah.." Floyd berjalan keluar kota tanpa memberi tahu Ash dan
meninggalkan yang lain di belakang.
"Woii
tunggu..!!!" Ash memanggil Floyd dari belakang.
"Aku akan
mengecek pinggiran kota bersama Habiki..." Light berbicara kepada Ash
sebelum Dia berlari mengejar Floyd dari belakang.
Mereka akhirnya
berpisah dari tempat pertemuan, dan mulai mencari karakter buatan Koraya yang
terakhir.
Koraya bersama
Ender yang pergi menuju inti kota segera menanyakan kepada orang orang sekitar
tentang keberadaan Red Aura. Sangat sedikit orang yang berjalan jalan di kota
ini tapi selagi ada orang yang melewati jalanan Ender segera mencari informasi
dengan bertanya.
"Hey...!"
Ender melambaikan lengan kepada seorang wanita yang sedang berjalan santai
melewati mereka.
"Hmm..? Ada
apa..?" Jawab wanita itu, menoleh perlahan ke arah Ender yang berlari
kepadanya. Koraya mengikuti Ender dari belakang perlahan lahan.
"Boleh Aku menanyakan
sebuah pertanyaan..?" Tanya Ender, membukakan tangannya
"Tentu...?"
Wanita tersebut tampak ramah namun, Dia sangat kebingungan.
"Apa Kamu
mengenal orang dengan julukan Red Aura..?" Tanya Ender sekali lagi kepada
wanita tersebut, berusaha bertampang ramah semaksimal mungkin namun mungkin itu
tidak bekerja.
Wanita itu
menunjukan tampang terkejut, Dia menjawab pertanyaan Ender dengan panik. "T-tidak.."
Wanita itu langsung berjalan melewati Ender tanpa percakapan tambahan.
"Terimakasih..?"
Bicara Ender dengan kAku, Ia memiringkan kepalanya.
Hal hal serupa
juga terjadi saat Ender menanyakan hal ini kepada orang orang sekitar yang
lainnya. Ada yang tidak menjawab ada juga yang panik ketAkutan seperti wanita
sebelumnya. Seakan akan mereka menyembunyikan sebuah rahasia negara.
Sampai akhirnya
seorang pria memakai jas hitam pergi menghampiri Ender dan Koraya yang masih
saja mondar mandir mencari informasi.
"Kalian benar
benar bodoh ya karena telah menanyakan hal hal seperti itu... Apa lagi ditambah
topeng aneh.." Dia berjalan sambil tertawa ke arah Koraya dan Ender.
"Kasarrrr..!!!"
Ender mengkerutkan alisnya sesaat melihat pria tersebut.
"Hahaha
maafkan... Aku akan menjelaskan semua hal yang Aku tahu tentang orang yang Kamu
cari..." Dia tertawa. Rambutnya pirang wajahnya sangat tampan, seperti
artis holywood di luar sana. Tingginya jauh di atas Ender dan Koraya.
"Tapi
disininya sepertinya ga enak... Aku akan traktir Kalian ok...?" Pria
tersebut menggaruk belakang lehernya.
"Benarkah..?!"
Ender dan Koraya mengepalkan tangannya dengan semangat.
"Ya
tentu.." Pria tersebut membalikan badan lalu berjalan menelusuri kota.
Mereka berdua
dituntun oleh orang misterius itu ke sebuah cafe kopi di pinggir jalan yang
ternyata tidak terlalu jauh. Saat sudah di depan cafe tersebut Ia berkata,
"Nah ini tempat kesukaan ku..." tersenyum sendiri.
Mereka langsung
memasuki cafe tersebut "Selamat siang...?" Seorang pelayan yang
menyambut memandangi topeng, pedang dan aksesoris Ender bersama Koraya. Dirinya
melongo keanehan.
"Maaf tuan...
Membawa senjata ke sini dilarang..." Pelayan tersebut menunduk sedikit,
meminta maaf kepada mereka bertiga.
"Tenang
tenang... Mereka cuman memakai kostum..." Pria tersebut menghampiri
pelayan dan langsung memegang tanganya, perlahan, juga selagi tersenyum.
Dia mencoba membujuknya supaya mereka berdua bisa masuk.
"A-ah
silahkan masuk.." Godaannya berhasil, pelayan itu langsung tersipu malu
dan memperbolehkan mereka masuk.
Mereka menduduki
beberapa tempat duduk yang ada di sana, Koraya duduk di sebelah Ender dan Pria
tersebut di sebrangnya. Mereka memesan beberapa minuman, setelah pelayan telah
pergi Koraya langsung bertanya "Jadi... Bagaimana dengan Red
Aura..?".
"Yaya maaf
Aku lupa tentang itu...." Pria tersebut menggaruk kepalanya. "Red
Aura itu seorang pembunuh tak berhati yang ada di dimensi ini..."
Lanjutnya, perlahan memandang Koraya.
"Dimensi..?!
Dia menyadari adanya dimensi dimensi...?" Koraya membuka matanya lebar
lebar dan berucap dalam hati.
"Iya Aku Aku
tahu tentang keberadaan banyak dimensi...." Ujar pria tersebut dengan
polosnya sambil tertawa lagi.
Koraya dan Ender
terkejut secara bersamaan mereka terbangun dari senderan. "B-bagaimana Kamu
bisa mengetahui pikiran ku..?!" Koraya berdiri dengan terkejut, menepak
meja dengan kencang.
"Tenang
tenang.. Aku akan menjelaskan semuanya... Mungkin harusnya dimulai dari nama
ya..." Pria tersebut menunduk ragu.
"Namaku Scott...
Perkenalkan..." Dia mengulurkan tangannya dan memberikan senyuman kepada
Koraya.
"Aku Koraya
dan Dia Ender..." Koraya meraih dan menjabat tangannya.
"Apa yang Kamu
lakukan.?! Jika Dia mengetahui nama kita---" Ender segera melirik ke arah
Koraya, tampak kesal.
"Kita takkan
bisa menyembunyikannya..." Koraya memandang Scott dengan waspada.
"Haha.. Kamu
tahu saja Koraya..." Scott tertawa kepada Koraya. "Jelaskan Kami lebih
banyak Scott.." Koraya melepaskan tangan Scott lalu perlahan duduk.
"Apa Kalian disini
mengetahui tentang pencipta dan kreasinya..?" Tanya Scott kepada mereka
dengan serius namun santai secara bersamaan.
"Maksud mu..?"
Ender memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Oh seperti
ini.... Di setiap dimensi pasti ada pencipta dan juga kreasi.... Seperti
contoh... Kamu Koraya---" Scott yang asalnya berbicara dengan santai tiba
tiba berhenti. "Tunggu... Koraya Kamu adalah seorang pencipta..?"
Tanya Scott dengan serius.
"Kalau benar
bagaimana...?" Koraya bertanya dengan pandangan yang masih kebingungan.
"Bodoh...!!
Apa Red Aura yang Kamu cari itu kreasimu..?!" Scott dengan kesalnya
berdiri lalu menyondong, mendekati Koraya.
"Iya..."
Koraya meneteskan keringat dengan ragu.
"Tch.."
Scott kembali duduk ke kursinya dengan benturan kencang. "Satu.. Kamu
telah menciptakan seorang monster... Dua... Kamu baru saja melakukan rencana bunuh
diri..." Scott satu persatu menunjukan jarinya.
"Separah apa
dia memangnya..?" Ender memegang kepalanya dengan bingung.
"Jadi
begini... Pertama Orang orang yang merupakan kreasi di dimensi ini menyadari
bahwa diri mereka kreasi dan mereka mengetahui pencipta mereka..." Scott
mencoba menjelaskan menggunakan pergerakan tangan secara detail.
"Mengetahui
pencipta..?! Seperti Ox dan Ash.." Koraya berucap dalam hatinya lagi.
"Dan
mengetahui kegilaan Red Aura Kalian pasti diburu... Kedua, orang orang di dimensi
ini mempunyai kekuatan yang bernama aura... Auraku berupa gelembung
kecil.." Scott mengeluarkan auranya dari tangannya. Sama seperti yang Dia
bicarakan, Ia mengeluarkan sebuah gelembung kecil berwarna kuning yang sedikit
tembus pandang.
"Aku dapat
melancarkan serangan dan juga mengetahui isi pikiran orang lain jika gelembung
Ku mengenai otak mereka.." Perlahan Scott meremas gelembungnya sampai
hilang.
"Jadi
begitu.." Koraya mengelus dahinya, mulai mengetahui keadaan.
Di tengah
percakapan mereka, pelayan datang untuk mengantarkan minuman jadi mereka diam
sejenak. Setelah beberapa menit akhirnya Scott mulai menjelaskan keadaan lagi.
"Aura dari
Red Aura adalah tentakel tentakel panjang yang keluar dari banyak daerah di tubuhnya...
Kekuatan dari tentakel itu sangat luar biasa... Ditambah Teknik bertarungnya
yang tidak biasa, Dia memang tak terkalahkan..." Scott memandang Ender dan
Koraya lebih serius lagi.
"Terakhir..."
Scott menghirup nafas dalam dalam lalu berbicara sekali lagi. "Untungnya
telah 1 bulan Red Aura menghilang dari dunia ini... Maksudku, tidak pernah
membunuh selama 1 bulan ini.. Mungkin Dia pensiun atau apa lah... Tapi dilihat
dari kebiasaannya... Hal seperti itu tak mungkin terjadi.." Ujarnya.
"Menghilang..?"
Koraya mulai bingung pada situasi lagi. Untuk meredakan otaknya, Dia meminum
beberapa teguk Kopi yang Ia pesan, samanya dengan Ender.
"Ya....
Bahkan para polisi yang biasanya menemukannya kali ini tak bisa
menemukannya...." Scott meminum tehnya, kini mulai santai.
"Begitu....
" Koraya memencet tombol alat komunikasi yang berada pada telinganya
"Halo... Apa ada yang sudah menemukan petunjuk..?" Tanya Koraya yang
terlihat berbicara sendiri.
"Tidak..."
Jawaban Light terdengar melewati telinga Koraya. "Sejauh ini sih
tidak..." Jawaban Austin juga. "Lah gimana mau ketemu pentunjuk..?!
Nyari orang aja susah..." Jawab Ash dengan kesal dan lantang.
"Ya sudah
sudah... Sepertinya Kita batalkan saja misi kali ini..." Koraya memberikan
perintah dengan tegas. "Kembalilah ke tempat semula..." Lanjut
perkataan Koraya.
Scott tersenyum
kepada Koraya, "Sepertinya Kamu bersama banyak orang....".
"Ya..."
Koraya meneguk kopinya sampai habis lalu menaruhnya gelas kosongnya di atas
meja.
"Semoga
beruntung....." Scott memberikan jempol kepada Koraya.
"Tentu..
Terimakasih.." Jawab Koraya, perlahan bangkit dari duduknya. "Ayo
Ender.." Koraya menengok.
"Tidak
jadi..? Ya sudahlah..." Ender pun bangkit dari duduknya mengikuti Koraya.
"Terimakasih
Scott atas info dan traktirannya..." Ender menunduk sedikit ke arah Scott.
"Ya
tentu..." Jawab Scott sambil tertawa.
Sesaat Koraya dan
Ender meninggalkan cafe tersebut, Scott memandangnya dari dalam melalui jendela
selagi tersenyum.
Mereka berdua
segera kembali ke tempat datangnya mereka melalui portal, untuk berkumpul lagi
dengan yang lainnya. Saat Koraya dan Ender sampai, Ash, Floyd, Austin, dan juga
Magenta sudah datang mendahului mereka.
"Yo..!"
Saut Light dari kejauhan setelah melihat yang lainnya sudah berkumpul. Ia mempercepat
langkahnya dengan Habiki.
"Koraya Kamu
benar benar ingin membatalkan misi ini...?" Austin menoleh ke arah Koraya
dengan bimbang.
"Ya... Ini
adalah misi yang mustahil... Tapi lain kali Kita akan lakukan..." Koraya
menjawab dengan datar, lalu memasang portal untuk kembali ke dimensi 1
menggunakan PD yang Ia bawa.
"Terserah
lah...." Floyd tidak terlalu memperdulikan keadaan, hanya melihat lihat
sekitar saja. Tanpa percakapan lanjut mereka semua memasuki portal dengan
urutan yang hampir sama dengan saat masuk
Saat sampai di
sisi lain, mereka disambut oleh Ox yang sedang duduk santai "Bagaimana
bagaimana..??!! Kalian bahkan tak menelpon ku..!!" Ox berdiri lalu
menghampiri mereka dengan semangat.
"Kami tidak
mampu menemukannya..." Jawab Koraya, tertawa canggung. "Tapi Aku mendapatkan
informasi.." Koraya menunjukan jari telunjuknya.
"Red Aura
menghilang sejak sebulan yang lalu..." Sambil mematikan portal, Koraya
berusaha menjelaskan keadaan kepada tim. "Lah..? Lalu..?" Tanya Ox
sambil mendengarkan serius.
"Walaupun Ia menghilang,
Ia tetap berbahaya... Kedua Dia mengetahui keberadaan Ku sebagai
penciptanya..." Koraya meneruskan perjelasannya lebih tegas lagi.
"Mengetahui
katamu..? Sepertiku ya..." Ox dengan mudahnya menerima dan mengetahui
keadaan. "Ya... Tapi dari sifatnya kalau Dia bertemu denganku pasti Ia langsung
membunuh ku..." Koraya menunduk dengan ragu.
Ox yang terkejut
menutupinya dengan senyuman. "Aku takkan membiarkan itu..!" Ujarnya
dengan tegas sekali.
"Oi oi
kacamata Kamu sangat mencurigakan... Apa Kamu merahasiaan sesuatu..?" Floyd
yang biasanya tidak peduli mulai mendekati Ox.
"Hm.... Kamu
jeli juga Floyd... Jadi seperti ini... Jika Koraya mati.. Kita semua akan
mati.." Ox memberikan senyuman terpaksa.
"Apa?!!"
Semua orang memandang dengan terkejut, terutama Ash dan Ender.
"Bodoh, kalau
begitu buat apa mengikut sertakan Koraya untuk misi berbahaya seperti mencari
karakter buatannya..?" Floyd membantah.
"Itu resiko
yang harus diambil... Karena hanya Dia yang mengetahui identitas
karakter..." Jawab Ox, menelan air liurnya dengan penyesalan.
"Akan
kulindungi Kamu sepenuh hati...! " Light menghunuskan pedangnya tanpa alasan.
"Ya..! Kami juga..!!" Ash dan yang lainnya tertawa memandangi Koraya.
"Terima
kasih..." Jawab Koraya dengan senyuman yang tulus dan bahagia.
"Ah ya sudah lahh..."
Floyd perlahan berjalan ke arah meja untuk mengambil remot lalu menyalakan TV
karena bosan. Namun yang pertama muncul adalah sebuah berita siaran langsung
berisi.
'Makhluk dengan
kekuatan aneh seperti tentakel menyerang kota barat tapi sekarang sedang
dilawan oleh pria dengan kain menutupi wajahnya yang tampak bisa
berteleportasi? Walau Kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi polisi
akan segera menangkap mereka berdua yang membuat kerusuhan.’.
"A-apa..?!!"
Pandangan semua orang terpAku pada berita tersebut, mereka semua terkejut.
Walau terkejut mereka tak sekaget Ender dan Koraya yang mengetahui siapa mereka
itu.
"Red
Aura..." Koraya menatap lalu berbicara pelan pelan.
"R-red
aura..?!" Habiki dan juga Ash yang asalnya terfokus pada berita langsung
menengok kepada Koraya.
"Y-ya...."
Jawab Ender dengan ragu dan sedikit panik.
"Siapkan diri
kalian... " Light melakukan beberapa perenggangan tangan untuk bersiap
siap.
Saat Koraya baru
saja akan beranjak pergi Ender menghentikannya "Sepertinya Kamu harus
mengundurkan diri kali ini... " Ender terpaksa mengatakannya.
"Kenapa..?!"
Koraya menolak dengan keras.
"Terlalu
beresiko.." Jawab Ender dengan dinginnya. Tanpa berbicara dengan Koraya
lagi mereka berangkat menuju lokasi menggunakan portal yang Ox baru saja
pasang. Dipimpin Light dan Ash, diakhiri oleh Ender. Tak lama setelah mereka
masuk portal menutup dengan sendirinya, namun tak ada satu pun dari mereka yang
membawa PD.
Di lokasi tersebut
banyak polisi sekali polisi dan tim SWAT yang mengelilingi Red Aura dan satu
orang lagi yang sedang bertarung habis habisan.
"Hahaha....
HAHAHA... Sepertinya Kamu tidak tahu kapan harus menyerah ya...!!" Red
Aura tertawa di hadapan orang yang terjatuh dengan penuh luka.
"Tidak... Aku
akan menang..." Jawab orang tersebut, namun terdengar dari suaranya dan
juga dari kekuatannya Dia adalah Black Eye atau bisa dibilang Cade.
Red Aura tersenyum
sinis. Rambutnya coklat berantakan. Matanya merah dengan tatapan psikopat.
Bajunya sebuah rompi tangan panjang dengan bagian lengan sebelahnya robek. Ia juga
memakai syal yang dipakai disekitar lehernya. Di seluruh tubuhnya dipenuhi
tentakel merah yang tembus pandang.
"Aku sih
males main main sekarang... Jadi boleh langsung Ku bunuh kan..?" Tanya Red
Aura kepada Dirinya sendiri, tersenyum.
"Kalau
bisa---" Sebelum kata kata Cade selesai, tentakel Red Aura sudah melaju
cepat dan meninggalkan luka gores di pipi Cade, tentu Ia tak sempat menghindar
sepenuhnya.
"LUAR
BIASA..!!! " Red Aura tertawa seperti psikopat. "Cih Dia gila....
" Cade membuang air liurnya ke atas permukaan tanah.
Para polisi yang
mengepung mulai beraksi dan meneriaki kepada mereka. "ANGKAT TANGAN Kalian
DAN MENYERAHLAH...!" Panggil salah satu polisi sambil mengarahkan
pistolnya ke arah Red Aura dan juga Cade, diikuti polisi lainnya.
"BODOH..! APA
YANG Kalian LAKUKAN..!!" Cade menengok ke sekelilingnya, berteriak kesal.
"Sudahlahhh...."
Red Aura memberikan senyuman tanpa henti saat memandang Cade.
"Aku akan
menghabisi mereka dulu ok..?" Lanjut Red Aura. Dalam sekejap mata semua
tentakelnya menyerang mereka sekaligus sampai tak ada yang tersisa dalam satu
serangan. Mereka semua terlemparkan ke berbagai tempat sampai tak sadaran diri.
"C-cepatnya..."
Cade membuka matanya menolak kenyataan.
"Yah...
Padahal asalnya Aku berniat untuk memotong kepala mereka tapi ya
sudahlah..." Red Aura melihat satu persatu manusia yang masih hidup lalu
mengipasi Dirinya sendiri.
"Tch...
Dengan ini Aku tak akan bisa menang...." Cade mulai meragukan kekuatannya
sendiri dalam hati.
"Nah...
Sekarang hanya Kita berdua ya kan..." Red Aura memegang pipinya sendiri,
mengeluarkan lebih banyak tentakel.
Tapi sebelum
menyerang, tiba tiba pandangannya teralihkan ke atas salah satu gedung. Di sana
ada Habiki yang menarik busur panah kepada Red Aura. Saat Red Aura menyadari
tembakannya, Ia sempat menghidarinya lalu mendapatkan serangan belakang kejutan
dari Ender.
Ender berlari ke
arahnya dari belakang lalu menebas beberapa kali, sesudah itu kembali melompat
mundur.
Tetapi Red Aura
tak terluka sama sekali karena Dirinya menangkis semua serangan Ender dengan
tentakelnya yang ada dimana mana, tanpa menggerakan anggota tubuh sedikit pun.
"Uuuu..
Menarik... Walaupun Aku bisa membunuh Kalian sekarang juga tapi melihat dari
jumlah Kalian ini agak curang ya...." Red Aura menggaruk rambutnya,
tertawa.
"Ah masa....
Engkau yang disebut sebut sebagai kriminal paling mematikan masa tAkut dengan 3
orang..." Ledek Ender, Dia terdengar tertawa dari balik topeng.
"Ya walaupun
Aku pernah mengalahkan 87 orang sekaligus... Tapi Kalian ber 8 menyergapku...
Ini tidak adil kan..." Red Aura mengangkat telunjuknya seperti lelucon.
"Ber 8...?!
Bagaimana Kamu tahu..?!" Ender terkejut oleh kata kata Red Aura, tersenyum
ragu dari balik topengnya.
"Yah itu sih
firasat... Tapi... Aku akan melarikan diri kali ini.... Tapi tenang... Kalian akan
segera bertarung dengan ku... Ups salah.. Dibunuh oleh ku..." Sambil melambaikan
tangan, Red Aura melarikan diri dengan cepat menggunakan tentakel tentakelnya
untuk menambah kecepatannya dua kali lipat.
"Apa
apaan...." Ender memandang Red Aura yang melompat lompat dari gedung ke
gedung dengan keanehan, tanpa mengejarnya sama sekali.
Cade yang terjatuh
tanpa daya, tersenyum, perlahan lahan bangkit "Kamu datang telat..."
meledek Ender, lalu kain di wajahnya terjatuh.
"Bukankah
pahlawan selalu datang telat...?" Balas Ender dengan senyum di balik
topeng, namun tetap saja terlihat dari luar.
"Kenapa Ia kabur...?"
Tanya Light, menghampiri Ender bersama Austin dan Magenta lalu disusul oleh
Floyd dan Ash di belakangnya layaknya saudara.
"Aku juga
tidak tahu... Dia tak bisa ditebak sama sekali..." Ender mengkerutkan
wajahnya kebingungan.
"Kamu tak apa
Cade..?" Light meraih tangannya saat mendekatinya, dengan maksud peduli.
"Menjauh...."
Cade menolaknya mentah mentah karena harga diri.
"Tapi Kamu
perlu dirawat Ox sekarang juga... Kamu terluka parah.." Ender memandangi
wajah Cade yang babak belur.
"Aku akan
menyembuhkan diri dimarkas kalian.. Tapi sesudah itu Aku akan langsung
pergi..." Cade terlihat terpaksa mengikutinya.
"Ya
ok..!" Jawab Ender dengan senyuman yang tak terlihat lagi.
"Hei
tungguuu...!!!" Teriak Habiki dari kejauhan sambil berlari menuju mereka
dengan secepat mungkin.
"Iya
iyaa...." Jawab Ender, menyilangkan tangannya. "Ayo Kita segera
kembali ke tempat Koraya..." Sekarang tampaknya Ender menjadi pemimpin
pengganti Koraya.
Mereka akhirnya
pergi kembali ke markas bersama sama dengan santainya. Namun sepertinya mereka
terlalu lambat dan tak membaca keadaan.
Sesaat mereka
sampai pemandangan yang menyambut mereka sangat mengejutkan semua orang.
"A-apa
apaan...." Ash menghentikan langkahnya, di sisi lain Ender tak kuat
melihatnya hingga menutup wajahnya yang sudah tertutupi.
Bagian depan rumah
Koraya sudah hancur berkeping keping tanpa adanya jejak jejak bom atau hal
penghancur sebagainya.
"Tch..!"
Tanpa berpikir panjang Light berlari memasuki rumah Koraya, diikuti oleh Ash di
belakangnya.
"T-tunggu...!!!"
Habiki yang sama paniknya juga mengikuti mereka berdua di belakang.
"Bodoh...
Kalian tidak melihat hal yang lebih penting..." Cade meremas tangannya
dengan sangat frustrasi.
"Ya... Aku tahu..."
Floyd mengikuti perkataan dengan pemikiran yang sama dengan Cade.
"Kain depan
tenda sudah dirobek seperti bekas benda tajam..." Floyd menunjuk depan
tenda.
"Lebih
tepatnya tentakel yang tajam..." Cade menghela nafasnya lalu memperjelas
perkataan Floyd.
Pandangan Ender
terpAku pada depan tenda. Karena khawatir, Ia bergegas memasuki tenda dengan
terburu buru. "Oi tunggu..!!" Magenta dan Austin yang berusaha untuk
tetap tenang mengikuti Ender dari belakang selagi Floyd berjalan dengan
perlahan bersama Cade untuk tetap dalam keadaan siaga.
Saat memasuki
dalam tenda Ender disambut oleh pemandangan yang lebih mengerikan lagi. Ox
sudah terbaring dengan banyak luka di dekat dinding dan Koraya yang sedang
diangkat kepalanya dengan satu tangan Red Aura.
"Oh
halo...!!" Red Aura melambaikan tangannya yang kosong kepada Ender setelah
menyadari keberadaannya.
"Kata Aku juga....
Kita akan segera bertarung lagi... Akan Ku bunuh..." Lanjutnya kepada
Ender, Austin, dan Magenta yang baru masuk. Ia tersenyum sinis, tidaklah
normal.
Keadaan di markas
mereka seketika menjadi sunyi dan dingin. Melihat keadaan Koraya dan Ox, Ender
tidak bisa diam saja, Ia menjadi terbawa emosi.
"Turunkan
Koraya..." Ender tidak kuat memandangnya, hanya melihat ke bawah
sambil menggertak.
"Ho..??
Yakin...?? Padahal Aku sama Koraya baru saja bermain.. Ya kan ..?" Red
Aura menengok ke arah Koraya seperti hanya mainannya.
"M..
Musnahlah..." Koraya perlahan membuka matanya dengan benci.
"Kok Kamu
begitu sih... Bukannya Kamu sendiri yang mencariku..." Red Aura menutup
wajahnya sendiri dengan tangan satunya, lalu tertawa kecil kecilan.
"Akan Ku kalahkan...."
Ender perlahan lahan memegang gagang pedangnya dengan bergetar.
"Hah
apa..?" Red Aura menaruh tangannya di telinga.
"Bukan apa
apa..." Ender berusaha tetap tenang lalu berlari menuju Red Aura dengan
pedang di tangannya.
Ender menebasnya
beberapa kali tapi tetap saja serangannya dapat ditahan oleh tentakel Red Aura
tanpa membuat tubuhnya bergerak.
"Tch..."
Pada serarangan terakhir, pedang Ender tertelan oleh tentakelnya membuatnya
tidak bisa kabur dengan pedangnya. Pilihannya hanya menunggu di depan Red Aura
atau melepaskan pedangnya.
"Woah...
Keren juga ya..." Red Aura terlihat pura pura kagum. Melepaskan kepala
Koraya membuat Koraya terjatuh di hadapannya. Ender tidak fokus karena
memperhatikan Koraya yang sedang terjatuh, tanpa disadari Red Aura bersiap
untuk memukulnya tepat di wajah.
"Hah...?"
Tapi balasannya, lengan yang asalnya ingin memukul Ender terhenti, tak bisa
bergerak. Red Aura yang merasakannya langsung melihat ke sekitarnya, Ia segera
melihat dan menyadari Magenta yang sedang mengulurkan kedua tangannya kepada
Red Aura.
"Takkan
kubiarkan...!" Magenta kehabisan nafasnya perlahan namun tetap saja
memaksakan untuk bicara.
"Wanita
sialan--" Red Aura yang sedang berbicara menerima tendangan sikut dari
Ender tepat di wajahnya membuat pedang Ender terlepas dari tentakelnya, karena
kurang fokusnya Red Aura. Saat Red Aura memegang kepalanya sendiri karena
kesakitan, Ender segera mengambil pedangnya lalu melompat mundur ke belakang.
"Uhhhh
menarik...." Red Aura mengusap kepalanya sambil tertawa. "Ayo Kita tingkatkan
1 tingkat..." Ia mempertahankan senyumnya yang sinis sampai sekarang.
Tanpa disadari
oleh Red Aura, Austin mengeluarkan serangan untuk mengurung Red Aura dalam
kurungan air yang tebal.
"Sepertinya
fisiknya tidak sekuat Dawn jadi---" Austin yang sedang berbicara tiba tiba
diserang dengan tentakelnya Red Aura yang menembus kurungannya tersebut. Austin
berhasil menghindari serangannya di detik detik terakhir namun serangan kejutan
tersebut membuatnya tidak fokus dan kurungannya itu terbuka sendiri karena kurang
konsentrasinya Austin.
"Oalah... Apa
Kalian memang berpikir akan mengalahkan Ku semudah itu...?" Red Aura
perlahan lahan mendekati mereka, tertawa.
Red Aura memegang
syalnya dan matanya terlihat lebih merah dari sebelumnya. Tentakelnya juga
terlihat lebih banyak, seakan akan tumbuh dalam sekejap. "Akan Ku tunjukan
apa artinya kekalahan sebenarnya..." Tatapnya, dengan tatapan pembunuh
yang sesungguhnya.
Ender bersiap siap
dengan kuda kudanya setelah melihat betapa seriusnya keadaan sekarang.
Red Aura berlari
menuju Ender dengan semua tentakelnya mengarah ke depan, seperti bersedia untuk
menyerang. Saat Ender sudah bersedia untuk menahan serangannya, melainkan menyerang
Red Aura malah melompat ke belakang Ender melalui atas kepalanya. Saat mendarat
Ender menjadi panik dan bertindak gegabah. tekanan padanya membuatnya menebas
asal asalan saat membalikan badan.
Red Aura
menghindari serangannya yang kAku lalu diam diam melilitkan tentakelnya di
leher Ender, perlahan tekananya mengeras membuat pergerakan Ender berhenti
,"Akh..!!" Ender meraba lehernya.
Tentakel Red Aura
mengangkat Ender, berniat untuk mengangkatnya selama bertarung. Red Aura
memandang Austin dengan serius karena waspada.
Red Aura berlari
ke arahnya tanpa hesitasi, menarik Ender yang sedang sesak di lehernya.
Austin yang hanya
bagus dalam pertarungan jarak jauh, dipaksa menghadapi Red Aura secara
langsung. Tetapi saat Red Aura ingin menyerang dengan memukulnya, seluruh
tubuhnya terhenti dengan paksa seperti kejadian sebelumnya. Red Aura melirik ke
arah Magenta secepatnya, Ia memerintah salah satu tentakelnya untuk menampar
Magenta hingga terjatuh. Setelah pergerakannya pulih Dia langsung melemparkan
Ender ke arah Magenta.
Saat pandangan Red
Aura kembali pada Austin, Dirinya melihat ombak air berada tepat di
belakangnya.
"Musnahlah.."
Austin menlancarkan ombak air yang sangat deras tersebut, membuat Red Aura yang
menangkis dengan tentakelnya itu kesusahan. Namun serangan itu juga berdampak
banyak kepada markas mereka yang menjadi lebih rusak lagi.
"Hah...
Hah... Sudah beres..?" Austin menghembuskan banyak nafas kecapean.
Markasnya tampak
sangat hancur, banyak hal yang sudah tak terbentuk. Red Aura tergeletak di
depannya dengan banyak puing puing bangunan di atasnya.
Namun,
"HAHAHAHA.... MENYENANGKAN..." Red Aura tertawa dan bangkit kembali
dari tumpukan reruntuhan tersebut.
"KITA
TINGKATKAN LAGI..!!" Red Aura membukakan lengannya lebar lebar.
"I-itu bukan
kekuatan sepenuhnya..?!" Austin meremas tangannya keras keras. "Aku
juga bisa meningkatkan kekuatanku tapi Aku...." Austin memikirkan hal
tersebut dalam hati.
"Sepertinya
Kalian bersenang senang..." Cade berjalan memasuki tenda dengan luka yang
belum juga pulih.
"Oh..!! Kamu..!!
Mau Aku siksa lagi..?" Red Aura menoleh ke arahnya
"Ngga ngga...
Bukan Gw..." Cade mengipas ngipas wajahnya.
Dari luar tenda
Kayu kayu panjang melaju ke dalam dan menyerang Red Aura, disusul oleh api yang
merambat di kayu tersebut.
Red Aura kurang
cepat menyadarinya, walau begitu tetap saja melompat pada waktunya.
Ash dan Floyd
memasuki tenda tersebut dengan kekuatan mereka yang sudah mereka keluarkan.
Floyd dengan kayu dipunggungnya dan Ash dengan api di tangannya.
"WOAHH
FLOYD..!! SERANGAN TADI Kita NAMAIN APA..?!" Ash menengok ke sebelahnya
dengan semangat.
"Diam..!!"
Floyd berusaha menenangkan saudaranya yang gaduh.
"Yang akan
menghajar Mu adalah mereka.." Cade memandang Red Aura, sambil menunjuk ke
arah Ash dan Floyd dengan jempolnya.
"Tentakel Mu terlihat
berbeda dengan tentakel ku...." Red Aura memiringkan kepalanya..
"Apaan sih ga
jelas...." Floyd memasang wajah yang tidak peduli sama sekali.
"HAHAHA.." Di sebelahnya Ash menyenggol sambil tertawa.
"Kamu lagi
samanya.." Floyd mendorong jauh jauh Ash. "Ayo Kita akhiri..."
Lanjutnya, selagi menghadap ke arah Red Aura.
"Ash.."
Floyd tetap menetapkan pandangan pada pergerakan Red Aura "Dapat
dimengerti.." Jawab Ash sambil memperbesar api yang terdapat pada tangannya.
Ash langsung
berlari ke arah Red Aura dengan secepat mungkin untuk menyerangnya. Red Aura
meremehkannya, memang benar pergerakan Ash tampak mudah ditebak,maka Dia hanya
memukul balik dengan mudahnya. Namun saat pukulannya sampai, Ash tersebut berubah
menjadi gumpalan api lalu menghilang. Red Aura terkejut dan langsung melirik ke
kiri dan kanan. Ia segera menoleh ke belakang dan menerima pukulan dari Ash,
sesudah itu Ash mundur beberapa langkah ke belakangnya.
"Kalian luar
biasa---" Red Aura yang sedang berbicara diserang oleh salah satu kayu
Floyd yang melaju ke arahnya. Sayangnya Ia masih dapat melompat dan menghindari
serangan tersebut.
"Tidak ada
waktu untuk berbicara.." Floyd menatap Red Aura dengan serius, kali ini
yang meremehkannya adalah Floyd. Dia terus menerus menyerang Red Aura dengan
kayunya yang menusuknya satu persatu. Red Aura berusaha semaksimal mungkin
untuk menghindari dan menangkisnya dengan tentakelnya, hal itu membuatnya
berhasil menghindari 90% serangan Floyd.
Selagi Floyd menyerang,
terkadang Ash melawan Red Aura dari belakang secara acak untuk membuat Red Aura
kebingungan dan kewalahan. Walaupun hanya mendapatkan sedikit serangan yang
mengenainya, tapi Ash dan Floyd tetap saja berhasil mengimbangi Red Aura.
Setelah banyak kesalahan,
akhirnya Red Aura menahan salah satu kayu Floyd lalu menariknya sampai patah.
Ia menggunakan
kayu patah itu untuk melemparkannya ke arah Ash yang akan menyerangnya tiba
tiba dari belakang.
"Ya tentu Aku
akan serius sedikit...." Red Aura memijit lehernya sendiri lalu memandang
Floyd dengan serius. Di sisi lain, Cade muncul di belakang Red Aura. Sebelum
Red Aura dapat menghindari sepenuhnya, Cade menebasnya dengan pisau.
Red Aura
mendapatkan luka dari serangan itu, tepat di sisi punggungnya. Dia segera
memukul Cade ke belakang dengan tentakelnya. Saat menoleh kembali, Ia langsung
menerima pukulan berturut turut dari Ash menggunakan tangan apinya. Red Aura
berusaha dengan sangat keras untuk menahannya kembali.
Namun dikarenakan
kekuatan dan kecepatan Ash yang luar biasa, akhirnya Red Aura tak mampu
menghindari, hanya menahan sebagian besar pukulan Ash dengan tentakelnya. Namun
entah kenapa, tangan Ash yang tertahan tentakel tetap saja mengenai dan melukai
wajah Red Aura. Membuatnya kecoh dan Ash memukulnya sekali lagi membuatnya
terpukul mundur.
"Apikan tidak
berwujud samanya dengan tentakel mu... Jadi itu akan menjadi kelemahan
mu..." Ash melipat tangannya dengan sombong.
"Halah... Itu
ide dariku..." Jawab Floyd dari kejauhan. "Diam..!!" Ash menengok
ke belakang dengan kesal.
"Aduh Aduh
Kalian kuat juga ya... Kalau begitu--" Red Aura yang sedang perlahan bangkit,
dipotong lagi perkataannya dengan serangan air yang tiba tiba meluncur menuju
wajah Red Aura.
Red Aura yang
terkejut langsung bertindak spontan, Ia menutupi depan wajahnya dengan
tentakelnya supaya menangkis serangannya tersebut. Namun saat serangan Austin
hampir mengenai tentakelnya, airnya berputar ke belakang Red Aura dan berubah
bentuk menjadi 4 buah jarum panjang yang bersiap menyerangnya dari belakang.
Baru saja sesaat
Red Aura menoleh ke belakangnya untuk bertahan, Ender menyerangnya dari depan
bersamaan dengan kayu Floyd. Secara serentak Ash melompat ka atas Red Aura
bersiap menyerangnya dari posisi tak terlihat.
Seketika tubuh Red
Aura juga tak bisa bergerak karena kekuatan dari Magenta. Saat itu Red Aura di
kelilingi oleh 5 serangan sekaligus. Orang biasa tak mungkin bisa
menghindarinya sama sekali, namun dalam kasus ini tentakelnya masih tetap bisa
bergerak.
Red Aura tersenyum,
Ia menggerakan tentakelnya dengan acak dan kencang ke sekitarnya membuat
serangan Austin dan kayu Floyd hancur. Lalu mendorong jauh Ender, Ash,
dan juga Magenta yang padahal terletak paling belakang. Serangan mereka semua
gagal, kali ini Red Aura lebih unggul dari yang lainnya.
"HAHAHaha..?"
Red Aura yang mulanya tertawa, setelah mendengar langkah kaki yang sedang
berlari ke dalam tenda Dia terhenti.
Sebuah tebasan
cahaya melintasi ruangan di tenda tersebut. Red Aura berusaha menahannya dengan
tentakel, tapi usahanya gagal karena cahaya tersebut langsung menembus
tentakelnya, membuat Red Aura terbawa dan terdorong ke ujung ruangan.
Saat Red Aura baru
saja mengenai tembok, Light berlari ke arah Red Aura dari luar tenda ke dalam.
Ia melancarkan banyak tebasan menggunakan pedang kepada Red Aura.
Red Aura yang baru
saja terlemparkan, kesusahan saat mencoba menangkis semua serangan dengan
tentakelnya. Serangan terakhir, Light mengeluarkan cahayanya lagi membuat Red
Aura menunduk dengan paksa untuk menghindarinya. Dia menebasnya dan
meninggalkan luka di pundak Red Aura. Untuk beristirahat, Light melompat ke belakang
sejenak.
"MENARIK..!"
Teriak Red Aura, Dia mengeluarkan tentakelnya lebih banyak lagi untuk menyerang
Light.
Light menghindari
tentakelnya dengan cara berlari berkeliling ruangan. Namun tentakel Red Aura
tetap mengikutinya, merusak semua interior ruangan markas mereka saat melaju,
membuat dalam markas lebih kacau lagi.
Saat pandangan Red
Aura terfokus pada Light, sebuah anak panah ditembakan dari luar tenda mengenai
Red Aura di bagian pipi karena kelambatannya dalam menghindar.
Pandangan Red Aura
sesaat teralihkan menuju pintu keluar tenda, membuat Light bisa bergerak bebas.
Dia berlari ke arah Red Aura dengan pedang di tangannya siap menebas bersamaan
dengan Habiki yang baru saja masuk tenda sambil berlari dengan pedangnya.
Saat itu juga Red
Aura terkepung untuk kedua kalinya, sekarang oleh Habiki dari depannya dan
Light di belakangnya.
"ITU TAKKAN
MEMPAN..!!" Red Aura berteriak, menganyunkan tentakelnya ke arah Light dan
Habiki secara bersamaan, membuat mereka terlemparkan menuju sebuah dinding.
Namun tepat saat hal itu terjadi Cade muncul di atas Red Aura, Dia menendang
kepalanya membuat Red Aura terlemparkan ke dinding sama seperti Light dan
Habiki.
Saat baru saja Red
Aura terbentur, Ash datang kepadanya dan memukul kepalanya ke bawah membuatnya
terjatuh. "Dapat.!!" Teriak Ash, Dia melangkah mundur secepat
mungkin.
Magenta
mengarahkan tangannya ke Red Aura sambil mengeluarkan kekuatannya untuk membuat
Red Aura diam. Disusul dengan kayu Floyd yang dililitkan di badan sekitar Red
Aura. Setelah itu Austin juga membuat kurungan air di sekeliling Red Aura.
"HAHAHA..
Menang.!!" Ash berteriak sembari menunjuk nunjuk Red Aura yang terkurung.
"Berisik..!!" Sentak Floyd dari belakang, dengan emosi kepada Ash.
"Hahahaha...
HAHAHA.. LUCU.. Kalian MEMANG LUCU..!" Red Aura terdengar tertawa dari
dalam kurungan.
"Akan Ku tunjukan
kekuatan Ku yang sebenarnya..." Sekali lagi Dia berbicara. Tiba tiba
tentakel tentakelnya keluar dari kurungan tersebut, lebih panjang dan lebih
banyak dari sebelumnya. Tentakel tentakel tersebut menyerang ruangan secara
acak dan sangat ganas membuat seisi ruangan ancur.
Austin mulai
memprioritaskan keselamatannya sendiri, Ia tidak fokus lagi kepada kekuatannya
dan melepaskan kurungan air yang menahan Red Aura. Dia lalu berusaha membuat
dinding air di depannya untuk melindungi Magenta yang ada di belakang. Light
dan Habiki melindungi diri mereka sendiri dengan pedangnya di atas kepala.
Floyd memasang tembok kayu untuk melindungi Ash, Koraya, dan Cade. Lalu Ender
melindungi Ox dan Dirinya sendiri dengan pedangnya yang tipis .
Red Aura yang
terlepas dari kurungan air terlihat sudah mematahkan kayu yang melilitnya,
menunduk sambil tersenyum ke bawah, sementara tentakelnya menyerang yang
seluruh hal di sekitarnya.
"Ender..."
Ox baru sadaran diri, memaksakan diri untuk berbicara.
"Ox..!!
Bertahanlah..!!" Jawab Ender dengan tegas kepada Ox.
Ox menggapai PD
lalu memberi tahu Ender sesuatu, "Ender... Aku tak tahu ini akan
membawanya kemana tapi... Aku akan memasang portal ini lalu Kamu akan berusaha
mendorongnya ke portal itu.. Sesudah itu Kita akan mengurungnya di dimensi
itu...".
"Tapi..!!
Nanti warga dimensi itu akan dibunuh olehnya..!!" Jawab Ender selagi
menangkis serangan tentakel yang terus menerus datang.
"Kita akan
merencanakannya untuk beberapa jam, lalu Kita akan menyerangnya lagi.. Kita butuh
rencana dan persiapan..!" Ox berusaha meyakinkan Ender lagi.
"Tapi banyak
orang akan mati..!!" Ender membantahnya terus menerus.
"Kehilangan
100 orang itu lebih baik dari pada Kita semua mati dan akhirnya semua orang
akan mati olehnya karena Kita tidak bisa melindungi mereka..!!" Sambil
terdampar di belakang Ender, Ia mempertegas perkataanya sekali lagi..
"Tapi..."
Ender menunduk, menolak kenyataan yang ada.
"Lakukanlah..
Kumohon.." Ox memohon kepadanya.
"Ya
sudah..." Ender bangkit, Ox segera menyiapkan PD yang ada di tangannya
lalu memberinya ke Ender.
Ender menyiapkan
mentalnya, Dia berlari ke arah Red Aura sambil menahan serangan serangan yang
ada dengan pedangnya. Red Aura melirik Ender dengan terkejut. Saat sudah di
hadapan Red Aura, Ender mendorongnya dengan bahu sekencang mungkin. Ox memasang
portal secepatnya dari kejauhan, membuat Red Aura terjatuh ke dalam portal
tersebut bersamaan tentakelnya.
Ender tersenyum
lega, menatap Red Aura yang terjatuh dari atas.
Namun.
Tentakel terakhir
Red Aura melilit dan menarik kaki Ender, membuatnya terjatuh dan tertarik ke
dalam portal bersamaan dengan Red Aura. Karena telat, Ox sudah menutup portal
tersebut terlebih dahulu, membuat Ender terjebak dengan monster tersebut.
"ENDER..!!"
Teriak Ash, yang lainnya memandangi tempat terakhir Ender berada dengan tak
percaya dan gelisah.
Red Aura saga
Part 4 : Showdown
Sesampainya
di sisi lain, Ender dan Red Aura terguling guling lalu tergeletak di sebuah
aula lega dengan banyak hiasan antik di pinggirnya dan juga kaca kaca yang berjajaran
di sepanjang dinding.
"Aduh nona...
Gimana nih Kamu terpisah dengan teman teman...!!" Red Aura bangun lalu
meledeknya dari belakang.
Ender perlahan
lahan bangun, "Malahan bagus.... Aku bisa mengeluarkan kekuatan penuh Ku tanpa
ragu..." Jawab Ender, tersenyum
"Kalau begitu
tunjukan lah..!!" Red Aura mengeluarkan tentakelnya kembali.
"Kalau Aku mengeluarkannya
sekarang Dia pasti tahu akan kekuatan Ku lebih cepat jadi..." Ucap Ender
dalam hati, Ia berusaha mencari solusi terbaik yang ada. "Akan Ku kerahkan
seluruh kekuatan Ku sebagai manusia..!!" Ender menggunakan kuda kudanya,
mencoba untuk menerobos batas kekuatannya.
"Maju..!!"
Tawa Red Aura dengan sombongnya.
Ender berlari ke
arah Red Aura secepat mungkin sambil menangkis tentakel tentakel Red Aura yang
menyerangnya dengan cepat. Ender berhasil mendekatinya dan mulai menebasnya
berkali kali tanpa henti. Walaupun kebanyakan serangan Ender tertangkis tetapi
serangan Ender menjadi semakin kuat dan cepat seiring waktu berjalan membuat
Red Aura sangat kewalahan.
Saat Red Aura
sudah terkena banyak serangan, Ia berniat memukul Ender mundur dengan
tentakelnya. Dia memukulnya, Tapi saat sudah terpukul mundur Ender tak tahu
istirahat, Ia segera bangkit kembali lalu berlari ke arah Red Aura sekali lagi
membuatnya heran, Dia mulai tersenyum.
"Baiklah akan
Ku keluarkan semua kekuatan Ku juga HAHAHA..!!" Red Aura mengeluarkan
tentakelnya lebih banyak lagi, sangat banyak, Mungkin 5 kali lipat dari
tentakel asalnya. Ender yang sudah terlanjur dipenuhi tekad, tidak peduli lagi
sebanyak apa tentakel yang ada. Dia tetap berlari menuju Red Aura dengan sekuat
tenaga.
Tapi tekadnya
terhenti seketika saat tebasan pertamanya tertahan dan tidak bisa bergerak sama
sekali karena tentakel Red Aura. Saat Ender mulai risau, Red Aura memegang kaki
Ender dengan tentakelnya lalu membantingnya berkali kali sampai Ender tak bisa
berkutik sama sekali dan sampai putus asa.
"TUH KAN..
KOK KALAH SIH.. AYO Kita BERKELAHI LAGI..!! KALAU ENGGA.. Akan Ku bunuh.."
Red Aura berkali kali berteriak seperti orang gila, Ia terus membantingnya,
lagi dan lagi.
"Ya.. Bunuh
aja... Lagi pula Aku ini lemah..." Ender sudah pasrah, Dia memikirkan
untuk mati saja dalam pikirnya.
"Tapi Aku mempunyai
orang yang perlu Ku lindungi di dunia ini..." Tapi Dirinya sadar, tak ada
waktu untuk putus asa. Wajah Koraya dan yang lainnya terlintas dibenaknya.
"Karena itu
Aku akan menjadi kuat... Walaupun Aku akan termakan kutukan sekalipun..."
Sekali lagi, untuk sekali lagi Ender membulatkan tekadnya.
"Η κατάρα
βγαίνει" Kata tersebut Ender ucapkan kembali. Membuat seluruh tubuh
Ender kembali menjadi hitam seperti waktu itu.
Saat Ender
dibanting lagi, Dia menahan tubuhnya dengan memegang permukaan lantai aula
tersebut dengan erat. Walau datar, walau licin, Ender menggali pengangannya
sendiri dan menahannya.
"Hah..?!"
Red Aura terkejut lalu menengok kepada Ender. "Kamu kok jadi
begitu..?" Ia mulai menyadari perubahan Ender.
"Hah.? Gimana
Aku dong..!!" Jawab Ender dengan tegas.
"Ah ya
sudahlah.." Red Aura menarik Ender lebih kuat lagi sampai sampai lantai
yang Ender pegang retak. "Kamu keras kepala ya..!!!" Red Aura
menariknya lebih kencang lagi sampai lantainya hancur dipegang oleh Ender.
Saat diangkat,
lantai pegangannya itu dilemparkan ke arah Red Aura, membuatnya terjatuh dan
akhirnya Ender pun terlepas. Ender segera melompat menjauhi diri
"Ah Ender..
Tumben Kamu melepaskan ku...." Ender mulai berbicara pada Dirinya sendiri
selagi melakukan beberapa pemanasan.
"Menarik...!!!
Tampaknya ini wujud Mu yang sesungguhnya..!!!" Red Aura berteriak, perlahan
Dia bangkit dari reruntuhan lantai yang Ender lempar.
"Oh tuan...
Nama mu..?!!" Balas Ender, melompat lompat, dan merubah tangannya sendiri
menjadi pisau tajam.
"Hmm..?"
Red Aura memiringkan kepalanya, bingung. Perlahan tertawa, "Panggilan Ku Red
Aura.. Namun nama asliku Nicholas.. Kamu orang pertama yang Ku perbolehkan
memanggil nama asliku...".
"Gw
kepribadian lain Ender.. salam kenal..." Ender yang terkutuk membalas
perkenalannya.
Nicholas tersenyum
lalu menyerang Ender dengan tentakelnya dari jauh. Ender menghalangi wajahnya
dengan tangannya untuk mencegah serangan langsung ke wajah. Tetapi tentakel
Nicholas tak melukai Ender sedikit pun karena wujud barunya ini.
Ender tersenyum
lalu berlari menuju Nicholas secepat mungkin dan langsung menebasnya. Serangan
pertama ditahan olehnya. Namun Ender tak mau menyerah dan terus melancarkan
serangan tanpa henti, diakhiri oleh tendangan dari sisi tapi tetap ditahan oleh
tentakelnya.
"Menarik..."
Ender tertawa. "MARI Kita TINGKATKAN LAGI..!!" Ender dan Nicholas berteriak
bersamaan, mereka sekarang memiliki sifat yang tak jauh beda. Sekarang mereka
berdua adalah monster yang haus kekuatan.
Ender menumbuhkan
duri duri tajam di seluruh kulitnya. Melainkan Red Aura mengeluarkan Tentakel
terbanyaknya dan juga terpanjang mungkin 8 kali lipat dari jumlah asal.
Ender berlari ke
arahnya dengan kekuatan penuhnya sambil menghindari semua serangan yang
dilancarkan oleh Nicholas, mau itu dari sisi dan atas.
Saat sampai Ender
menumbuhkan cakar dijari jarinya lalu menyerang Nicholas habis habisan.
Walaupun Nicholas menangkis serangan serangannya tapi Dia mulai kesusahan dan
akhirnya terkena banyak serangan Ender.
Untuk serangan
terakhirnya, Ender mundur dengan cepat lalu menyerangnya kembali seakan akan
ingin menyerang dengan tangan kanannya. Tapi rencana Ender adalah untuk menipu
Nicholas.
Saat sudah dekat
dan sudah hampir memukul wajah Nicholas. Nicholas menangkis serangan pukulan
Ender dengan tentakelnya. Tapi tanpa disadari tangan kirinya sudah menjadi
pisau tajam yang siap menusuk perutnya dari bawah.
Ender tersenyum
dengan angkuh dan mengatakan "Selamat tinggal...".
Tanpa disadarinya,
saat Ender baru saja akan mengakhiri pertarungan tersebut Dia tak bisa bergerak
sama sekali.
Seluruh tubuh
Ender sudah diikat oleh tentakel Nicholas yang melilit dari mulai kaki tangan
dan juga leher, membuatnya tak bisa bergerak sama sekali.
"Hahaha..HAHAHA..!!"
Dia tertawa sinis, mengangkat Ender ke atas dimana Ender tak bisa berbuat apa
apa. Ia mencekik dan meremas seluruh tubuhnya dengan tentakel.
"Yang Ku tahu
Kamu yang sekarang ini kebal tapi... KAMU INI MASIH MANUSIA YANG
LEMAH..!!" Teriak Nicholas sambil menusukan tentakelnya yang tersisa
kepada Ender berkali kali, terus menerus.
Karena kekebalan
wujud Ender saat ini, Dia tak mendapat luka fatal tetapi lama kelamaan luka
Ender mulai terlihat dari balik kulitnya yang keras.
"G-gawat...
Kalau terus begini...." Pandangan Ender mulai memudar.
"Aku akan
mati..." Ender yang ditusuk tidak bisa berbuat apa apa.
"HAHAHAHA...."
Nicholas tertawa.
"HAHAHAHA..."
Ia tertawa lagi.
"HAha..
haha..?" Namun lantai di bawah kaki Nicholas perlahan lahan bergetar dan
tiba tiba dua tangan air keluar dari tanah tersebut, menarik kedua kakinya ke
dalam tanah.
Nicholas terkejut
namun terpukau, segera menoleh ke sekitarnya sambil menjatuhkan Ender. Ender
terbentur lantai dan berubah ke wujud asalnya dengan penuh luka.
Nicholas dapat
melihat 5 sosok dari kejauhan, di ujung aula tersebut.
Mereka adalah
Austin, Light, Habiki, Ash, dan Floyd.
Sebelum mereka
semua datang untuk menyelamatkan Ender, sesuatu terjadi kembali di markas.
"ENDER..!!"
disaat Ender tertarik ke dalam portal semuanya terpAku diam, dan Ash berteriak
terkejut.
"OX...!!
Bukalah portal ke tempat Ender sekarang..!!" Ash mendekati Ox secepat
mungkin.
"Aku tak tahu
Dia dimana.." Jawab Ox, menunduk.
"Bodoh..!!
Aku tahu Kamu yang membukakan portal itu..!!" Bentak Ash sekali lagi kepada
Ox.
"Tch.. Aku tahu..!!
Tapi Kita tak bisa menyelamatkannya sekarang...!!" Ox membantah sekali
lagi dengan kesal walau sedang terbaring dekat sebuah dinding dengan banyak
luka.
Ash mendekatinya
lagi, menunduk lalu menarik bajunya, "Apa yang Kamu lakukan... Buka portal
itu sekarang..!!!" Ia menatapnya dengan sangat frustasi.
"H-hei
hei..!!!" Magenta berlari ke arah mereka untuk melerainya.
"Ash benar
Kita harus menyelamatkannya bersama.." Light menghampiri mereka sambil
mencoba untuk tetap tenang.
"Itu akan
percuma..!! Kalian melawannya sekali disini saja sudah berbuah kekalahan..!!
Kita harus menyusun rencana dulu setidaknya Kita akan menyelamatkan Ender
besok..." Ox membentak dengan terpaksa.
"Besok..?!! Kamu
gila..?!!!" Ash melepaskan bajunya dengan dorongan keras, lalu kembali
berdiri.
"Bodoh...
Kita harus punya rencana... Kamu mau Kita mati sia sia...?!" Floyd di sisi
lain membela Ox bukannya Ash.
"Ya...
Setidaknya Kita harus membuat rencana..." Austin yang sepemikiran dengan
Floyd bertindak setenang mungkin.
"Kalau Aku tidak
tahu harus berbuat apa... Maaf..." Habiki diam dan menunduk.
Cade di sisi lain
hanya diam dan tidak ikut campur dalam urusan tim ini.
"Kalian..
KALIAN..!!!" Ash menaikan nadanya lalu memukul dinding sekeras mungkin
sampai sampai retak.
"Ox...."
Ash mengepalkan tangannya keras keras.
"Jangan
bilang.. Kalau Kamu tAkut mati...?" Ucap Ash dengan perlahan melirik ke
arah Ox.
Ox membalas
perkataan Ash hanya dengan ekspresi panik dan dengan menunduk perlahan lahan.
"Ternyata
benar..." Ash mengeluarkan apinya selagi menatap Ox. Mengarahkan tangannya
kepada Ox bersiap menyerang tapi seketika Light, Magenta dan Habiki mengarahkan
senjata dan kekuatannya kepada Ash, menahannya supaya tak terjadi apa apa.
"Sudahlah
Ash..." Light mengarahkan pedangnya ke arah Ash.
"Bodoh..!!!
Bagaimana Aku bisa tenang kalau ada pengecut di depan mataku..!!" Emosi
Ash mulai bertambah membuatnya mulai kehilangan kendali.
"YA..!! Aku TAKUT
MATI..!!" Ox menggertak, membantingkan tangannya. "Memangnya buat apa
Aku mengumpulkan Kalian hah..?!! Untuk melindungiku..!!" Ox menatap mereka
dengan tegas.
"Kamu.."
Floyd terbawa emosi sama seperti kakaknya, mulai mengarahkan kekuatannya ke
arah Ox. Saat baru saja mau menyerang Ox terdengar sepatah kata panggilan dari
seseorang.
"F-floyd..."
Suara tersebut terdengar patah patah dan lemah.
Floyd menoleh
menuju sumber suara tersebut dan melihat Koraya yang baru saja sadaran diri.
"Kalian... Kalian seharusnya menyepakati sesuatu dengan seksama..."
Koraya memaksakan diri untuk tersenyum.
"Aku tidak
peduli pendapatn mu, asalnya... Tapi, setidaknya Kamu sudah membuktikan bahwa Kau
tidak berniat jahat kepadaku.." Floyd menurunkan kayu kayunya, menuruti
pendapat dari Koraya.
Ash sudah tidak
peduli pendapat siapapun, Dia menghampiri Ox lalu merebut PD dari tangannya.
"Aku tidak
peduli siapa akan ikut.. Tapi Aku akan menyelamatkan Ender..." Ash
mengangkat PD tersebut.
"Aku
ikut..." Habiki dan juga Light mengangkat tangannya bersamaan.
"Aku akan
ikut...." Floyd menghampiri Ash.
"Yah kalau
semuanya ikut begini Aku akan ikut..." Perlahan Austin mengangkat
tangannya juga.
"Maaf Aku tak
akan ikut... Sepertinya Aku akan merawat Koraya dan Ox disini..." Magenta
menundukan kepalanya.
"Aku juga
takkan ikut... Jika terjadi apa apa disini Aku akan melindungi mereka.."
Cade yang diam saja mulai ikut berkomentar.
"Ya.."
Ash mengangguk.
Ash selalu ikut
bersama Koraya, dan Ia suka memperhatikan Koraya memasang portal jadi Dia
mengerti cara memunculkan portal.
Mereka memasuki
portal satu persatu, dipimpin oleh Ash menuju ke tempat dimana bahaya menunggu.
"Ender...!"
Habiki berlari menuju Ender secepatnya, langsung menunduk untuk memeriksa
keadaannya.
"Kamu terluka
sangat banyak..." Habiki memandangnya dengan ketAkutan. "Hehe... Itu
tak apa.... Ayo Kita kalahkan orang itu..." Ender perlahan lahan bangkit
dengan kesakitan, memaksakan diri.
"Aduh..!"
Ender terjatuh kembali setelah berusaha bangun. "Apa yang Kamu lakukan..!!!
Beristirahatlah...!" Teriak Ash dari kejauhan, membanting tangannya.
"Tapi..."
Ender menunduk karena tidak bisa apa apa.
"Biarkan Kami
yang melawannya..." Ucap Light selagi perlahan lahan melangkah ke depan.
Ender kembali
berbaring dengan Habiki di sisinya untuk menjaganya dan yang lainnya bersiap
siap melawan Nicholas yang berada di hadapan mereka semua.
"Red Aura...!
Kamu akan Kami kalahkan sekarang juga....!!" Light mengarahkan pedangnya
ke arah Nicholas.
"Silahkan..!!"
Nichola keluar dari tanah dimana, Ia terperangkap lalu mengeluarkan tentakelnya
sebanyak yang Dia pakai saat melawan Ender.
Light berlari ke
arahnya bersamaan dengan kayu kayu Floyd di sekitarnya. Saat Nicholas
menyerangnya menggunakan semua tentakelnya, serangan tersebut tertangkis oleh
kayu kayu Floyd yang di sekitar Light.
Saat Light sudah
dekat dengan Nicholas, Ia menebasnya berkali kali sama seperti saat pertama
kali melawannya. Tapi kali ini dibantu oleh kayu kayunya Floyd, membuat
serangannya dua kali lipat lebih ampuh.
Nicholas mulai
kewalahan karena kecepatan serangan beruntun mereka berdua. Light mengeluarkan
serangan cahayanya lagi, namun Nicholas dapat menghindarinya lalu menendang
Light jauh jauh. Kayu Floyd tetap menyerang, sampai Ia tak punya celah untuk
kabur ataupun menyerang balik.
Disaat yang
bersamaan Ash menyerangnya dari belakang. Nicholas ingin melompat tetapi
kakinya tertahan oleh tangan air Austin yang datang dari bawah tanah.
Ini sudah ketiga
kalinya Red Aura terkepung oleh mereka. Namun usaha itu tak pernah berhasil
dikarenakan kecerdikan dan insting dari Nicholas.
Dengan tentakelnya
yang cepat, Nicholas menyerang Austin yang berada jauh darinya, membuatnya
terjatuh dan tangan air yang menahannya pun terlepas.
Dia segera
melompat dengan bantuan tentakelnya untuk menambah kecepatan, hal tersebut
membuat serangan kayu dari Floyd mengenai Ash bukan Nicholas.
"Ash..!"
Floyd yang tidak sengaja mengenai Ash, mulai menghampirinya.
"Aku tak
apa..." Ash yang terjatuh langsung melirik Floyd yang memanggilnya.
"AWAS...!!"
Ash berteriak, saat melihat Nicholas yang berada tepat di belakang Floyd.
Floyd perlahan
menengok ke belakangnya, tiba tiba terlempar jauh oleh tentakel Nicholas yang
menghantamnya dari belakang.
"Kamu..!!!"
Ash bangkit dan berusaha memukul Nicholas dengan terbawa emosi.
Tapi sayangnya
pukulannya tersebut tertahan oleh Nicholas, seluruh tubuhnya dibelit oleh
tentakelnya sama seperti saat Ender waktu itu membuatnya tak berdaya.
Austin mencoba
membantu dengan airnya, tapi serangannya kurang cepat dan Dirinya terlanjur
dibelit oleh tentakel seperti Ash.
Light berlari
menuju Nicholas lalu bersiap menebaskan serangan terakhirnya, namun Nicholas
memukul pedang Light dengan tentakel, membuatnya terlempar jauh dari tangannya.
"Aku tahu
kekuatan Mu dari pedang itu..." Nicholas yang di hadapannya hanya
tersenyum sombong.
Light yang
terpancing mencoba memukulnya berkali kali namun tak satu serangannya berhasil.
Nicholas menarik rambut Light dengan tentakelnya lalu memukulnya berkali kali
sampai tak bisa berbuat apa apa.
"TUHKAN...!"
Nicholas berteriak tanpa alasan.
Habiki mulai
bergetar dan ketAkutan saat memandang dari kejauhan. Austin, Ash, dan Light
saat ini berada dalam genggaman tentakel Nicholas. Ia ingin membantu mereka
namun Dia juga harus melindungi Ender secara bersamaan. Tapi karena terpaksa,
Habiki bangkit.
"Tunggu
dulu....!!" Saut Floyd dari kejauhan.
"Aku membuat
kesalahan karena tak menggunakan kekuatan Ku ini saat melawan Dawn tapi... Akan
kulakukan sekarang..." Floyd merenungkan diri dalam hati.
"Red
Aura....!! Lepaskan mereka Kita akan bertanding satu lawan satu..!" Saat
Nicholas menoleh, Floyd langsung menatapnya tepat di wajahnya.
"Bodoh..!!
Apa yang Kamu lakukan ..!" Ash yang masih terlilit tentakel membantah
perkataan Floyd.
"Tenang Ash...
Aku tahu Red Aura hanya menginginkan kesenangan kan...?" Floyd melakukan
peregangan pada tangannya.
"Oh.. TENTU
SAJA..!!!" Teriak Nicholas, melepaskan Austin dan kawan kawan dengan cara
melemparkan mereka semua sekeras mungkin.
"Ya...."
Kayu kayu Floyd mulai merambat dari pinggir pipinya menuju tangan kanannya
membuat tangannya itu sepenuhnya tertutupi kayu. Kayu yang di belakangnya
pun melebar dan membesar membuatnya terlihat seperti sayap. Lebih tepatnya
sekarang Dia terlihat seperti malaikat, malaikat penakluk hutan.
"Mari Kita mulai..."
Floyd menatap Nicholas dengan tajam.
"Floyd..! Aku
akan bantu...!!" Ash perlahan lahan bangkit sambil memanggil nama adiknya.
"Jangan Ash..
Akan kulakukan ini sendiri... Dan akan Ku penuhi janjiku..." Ujar Floyd,
menengok ke arah Ash lalu memberikan senyuman
"Red Aura..!!
Ayo maju..!" Saut Floyd selantang lantangnya.
"Hahaha..!!
Yakin nih..?!" Dengan angkuhnya Nicholas bertanya.
"Tentu
saja...!" Floyd memasang kuda kuda untuk pertarungan terakhirnya melawan
Nicholas.
"Kalau
begitu... Mari Kita mulai.." Ia mulai berlari ke arah Floyd bersamaan
dengan semua tentakelnya.
Floyd bersiap siap
dengan kayu kayunya di depannya dan saat Nicholas datang di hadapannya, Dia
segera menangkis serangan pertamanya dengan kayunya yang sekarang lebar
membuatnya lebih mudah untuk menahan.
Red Aura tak
menyerah, tetap menyerang Floyd berkali kali dengan tentakelnya tetapi kali ini
pertahanan Floyd meningkat pesat ke titik dimana susah sekali untuk
meninggalkan luka di atas kulit Floyd.
Kecepatan Kayu
Floyd sekarang bisa mengimbangi tentakel Nicholas. Tentakelnya memang lebih
banyak dari kayu Floyd tapi soal ukuran, Floyd jauh lebih unggul dari padanya.
Ada saat saat
dimana kayu Floyd hancur oleh tentakel Nicholas namun kayunya itu dengan
cepatnya tumbuh kembali atau lebih tepatnya, beregenerasi kembali.
Floyd yang melihat
kesempatan atau terbukanya jalan langsung menebas perut Nicholas dengan Kayu
tajam yang memenuhi tangan kanannya.
Tapi tanpa
disadari, Nicholas menutupi tangan kanannya juga dengan tentakelnya lalu
menangkis serangan dengan tangan tersebut.
"Dengan ini
kekuatan Kita imbang..." Nicholas memberikan senyuman.
Sebelum terjadi
apa apa, Floyd mendorongnya mundur lalu Dia sendiri mundur beberapa langkah,
memberikan jeda di antara mereka berdua.
Floyd langsung
menyiapkan strategi dan kuda kuda untuk melawannya. Di sisi lain Nicholas
menyiapkan tentakelnya untuk menyerang tanpa berpikir panjang.
Karena waktu yang
terbatas, Floyd segera berlari menuju Nicholas tanpa strategi yang padat. Ia menyerangnya
dengan kayu yang di tangannya secepat dan setepat mungkin sambil menggunakan
kayu di belakangnya untuk melindunginya dari serangan tentakel Nicholas yang
menyerang dari seluruh arah.
Sebaliknya,
tentakel yang di sekeliling Red Aura dipakai untuk menyerang Floyd dan tentakel
di tangannya dipakai untuk melindunginya sendiri, sesekali Dia juga menyerang
Floyd dengan tangan tersebut.
Mereka bertarung
selagi berlari dan melompat dari dinding ke dinding membuat pertandingan semakin
intens dan sulit untuk didukung dan dibantu oleh orang lain.
Tapi pada akhirnya
Floyd mempunyai rencana yang padat. Dirinya mundur dari jangkauan Nicholas
secepat mungkin, tetapi Nicholas melompat ke arahnya dan menyerangnya dari
atas, membuatnya terpukul lalu terjatuh ke atas permukaan tanah.
Floyd terlihat
kesusahan bangkit berdiri, membuat Nicholas menyempatkan untuk menyombongkan
diri. "AHAHAHA..! KAMU EMANG KUAT DARI MANA...?!!!" Dia mengarahkan
semua tentakelnya termasuk yang ada di tangannya ke arah Floyd. Floyd yang
dipandang rendah oleh Nicholas tersenyum kepadanya.
Kayu kayu Floyd
tiba tiba muncul dari tanah di belakang Nicholas, Dia terkejut saat
menyadarinya. Karena refleks Ia segera menghancurkannya dengan tentakel
tentakelnya sesaat menoleh ke belakang.
Tanpa disadarinya,
Floyd sudah bangkit, menghampirinya, dan menatapnya dengan penuh dendam. Sesaat
Nicholas menoleh kembali, "balas dendam.. Itu yang membuat Ku kuat.."
bisik Floyd dengan serius.
Nicholas yang
ingin menahan serangannya dengan tentakelnya, terhenti, karena semua
tentakelnya itu tertahan oleh kayu kayu. Walau tentakelnya bisa menembus kayu
Floyd, karena Nicholas tak bisa berpikir jernih tentakelnya jadi tertahan. Saat
Floyd mempunyai kesempatan, Ia segera menggunakan kayu di tangannya untuk
menusuknya tepat di bagian fatal yang bisa membuatnya mati dalam beberapa
menit, yaitu perutnya.
"AKH..!"
Nicholas memuntahkan darahnya ke arah Floyd setelah perutnya tertembus.
"Berhasil..?!"
Ash berteriak senang, Dia melihat kejadian tersebut dari sudut pandang belakang
Nicholas. Walau Ia salah satu orang yang tidak menyukai pertarungan sampai
kematian. tetapi Ia senang bahwa tidak ada yang gugur di pertempuran itu.
Tapi hal itu
bukanlah kenyataannya.
Darah bercucuran
dari mulut Floyd, seperti Nicholas.
Walaupun Floyd
menahan tentakel tentakelnya, tetapi Ia tak bisa menahan tentakel yang ada di tangannya.
Sebaliknya Nicholas tak sempat menahan serangan Floyd jadi yang Dia lakukan
adalah, Menusuknya seperti Floyd menusuk dirinya.
Nicholas yang
kesakitan menarik Tentakelnya dari tubuh Floyd, sambil mematahkan kayu yang
menusuk perutnya. Dia mundur beberapa langkah lalu terjatuh di atas lututnya,
kesakitan.
"FLOYD...!!"
Ash akhirnya melihat Floyd yang tertusuk, dengan penuh luka, dan wajah yang
datar.
Ash segera
mengeluarkan apinya untuk mempercepatnya saat berlari ke arah Floyd. Dia
berlari secepat mungkin lalu memegang tubuh Floyd sebelum terjatuh ke atas permukaan.
"F-floyd.. Kamu
tak apa..?!" Kata kata dari mulut Ash keluar dengan kAku, ketAkutan.
Floyd hanya
menjawab Ash dengan senyuman, membuatnya lebih ketAkutan lagi. Ash perlahan
duduk dan membaringkan Floyd di atas pahanya.
"B-bertahanlah...!!
Ox pasti bisa menyembuhkan Mu kan..?!" Ash menengok ke sekitarnya dan
memaksakan diri untuk tersenyum.
"M-maaf...
Sepertinya tidak.." Ucap Habiki dengan sama kAkunya, menghampiri Ash
dengan Ender yang digendong di punggungnya tak sadaran diri.
"H-hah..?"
Ash menoleh ke arah Habiki dengan mata yang berkaca kaca.
"Ox pernah
bilang kepadaku bahwa Ia bisa menyembuhkan luka kecil dan luka tembakan peluru
yang tidak fatal tapi kalau luka yang lebih parah dan besar, Dia tak bisa melakukannya..."
Habiki menunduk karena merasa lemah.
"K-Kamu
bercanda kan...?!" Air mata menetes dari wajah Ash.
"Maaf...."
Habiki masih saja menunduk.
Ash memukul lantai
di bawahnya sekeras mungkin, berusaha menahan rasa amarahnya. Floyd yang
sekarat meraih dan memegang tangan Ash.
"A-ash.... Tidak
apa.... Yang utama adalah... Kita bisa mengalahkannya kan...?!" Floyd
memaksakan diri untuk berbicara dan tersenyum.
"Floyd...."
Ash memandangnya tak berdaya.
"AKH....
Tidak tidak mungkin Aku mati...!!" Teriak Nicholas yang perlahan menunduk sambil
memegang perutnya kesakitan.
"TIDAK..!!!"
Perlahan lahan menunduk dan akhirnya, terjatuh.
"Tapi
bohong..." Dia segera bangkit dan memberikan senyum sinis.
"Kalian kira
Aku akan mati hah..?!! HAHAHA..!!!" Luka bolong yang terdapat di perut
Nicholas lama lama tertutupi kembali dengan regenerasi yang sangat luar biasa.
Floyd perlahan
lahan melirik Nicholas dengan hampa.
Ash dan juga
Habiki memandangnya dengan tAkut, namun mata Ash lebih dipenuhi oleh kemurkaan
daripada ketAkutan.
Light dan Austin
yang terkejut sama seperti yang lainnya langsung bertindak dan memasang kuda
kuda. "Kalian lindungi Floyd dan Ender..!!" Saut Light selagi
menyiapkan pedang di hadapannya.
"Yah... Aku memang
kurang kuat...." Floyd menatap Nicholas dengan kesal namun dengan lemah
secara bersamaan.
"F-FLOYD
BERTAHANLAH...!!!" Teriak Ash kepadanya.
"Tapi Kamu
kuat..." Floyd melirik kembali kepada Ash yang berada di hadapannya.
"Tidak..!!
Apa yang Kamu bicarakan..?!" Ash perlahan lahan meneteskan air matanya di
wajah Floyd.
"Kamu tahu
ada sihir terlarang yang bisa Kita pelajari di kota lain bernama
Legacy..?" Tanya Floyd satu kata ke kata yang lain.
"Y-ya...?"
Jawab Ash sambil menghapus air mata dari wajahnya.
"Jangan
jangan..?!" Ash memandang Floyd dengan terkejut, matanya melebar. Floyd
hanya menjawab dengan senyuman.
"Bodoh....
Kalau Kamu menggunakan itu Kamu akan dipastikan mati...!!!" Teriak Ash
dengan kesal kepada Floyd.
"Hasilnya
sama kan..?" Floyd tersenyum.
"Bodoh..
Bodoh.. Bo.. Doh...." Air mata Ash perlahan menetes kembali, Ia mengepalkan
tangannya keras keras. "Aku tidak ingin menjauh darimu lagi...."
Menutup matanya dengan kesal.
"Hahaha..."
Floyd tertawa perlahan lahan. "Sudahlah sekarang peganglah tangan Ku dan
Aku akan mewariskan segalanya kepada mu...." Lanjut Floyd dari tawanya.
Ash sudah tak
kuat, menangis lebih banyak lagi dan tidak mau membukakan matanya.
"Ayolah..
Seorang kakak tak boleh menangis di depan adiknya...!" Perkataan yang
keluar dari mulut Floyd itu membuat Ash kembali tersenyum dan membuatnya berani
melihat wajah adiknya, lalu Dia melihat adiknya sedang tersenyum.
Ash menghapus air
mata dari wajahnya, segera menggenggam tangan Floyd.
"Aku
siap..." Ash memaksakan diri untuk tersenyum, walau dalam senyuman itu
tetap terukir kesedihan.
"Ok..!"
Floyd tersenyum kembali ke arahnya.
Ash menutup
matanya, kesadarannya langsung lenyap dan matanya langsung tertutup. Floyd
melirik ke arah Habiki yang berada di sisinya dan mengucapkan sesuatu
kepadanya.
"Titipkan
pesan kepada Koraya.. Maaf Aku salah
menilainya.. Aku kira Aku mempunyai hidup yang buruk.. Namun Aku sadar... Aku mempunyai
banyak orang di sekitar Ku sepanjang hidup ku.." Floyd menitipkan pesan
terakhir pada penciptanya kepada Habiki, sambil tersenyum.
"Ya... Yentu
saja..." Habiki menjawab dengan air mata yang ikut terjatuh dari wajahnya.
"Floyd.. Maafkan
Aku yang sempat tidak memaafkan mu.. Maaf.. Aku egois.." Habiki menunduk,
wajahnya tampak kAku.
"Ya.. Tidak
apa apa.. Selamat tinggal.." Floyd memberikan senyuman sekali lagi.
Red Aura saga
Part 5 : Floyd
Ini
kisah dari seorang anak bernama Floyd. Kisah yang tidak diketahui oleh siapapun
bahkan oleh orang orang terdekatnya.
Floyd adalah
seorang anak laki laki buangan, yang sejak bayi sudah diasuh oleh sebuah panti
asuhan di pinggir kota. Ia menjalani hidup tanpa mengetahui orang tuanya dan
juga apa arti dari hidup.
Tapi suatu hari
cahaya muncul di hatinya saat kedatangan seseorang ke panti asuhan pada
saat usianya hanya 6 tahun.
Dari tempat
bermain, Floyd mendengar suara wanita di arah pintu masuk yang sedang berbicara
dengan pengurusnya. "Dia ada dimana....?" Suaranya lembut membuat
Floyd penasaran, Dia akhirnya pergi untuk mengintip ke depan.
"Floyd...!"
Wanita yang tengah berbicara itu tersenyum kepada Floyd setelah melihatnya.
Floyd yang menyadarinya langsung malu dan menunduk "H-halo..."
Jawabnya.
Wanita tersebut
mempunyai telinga layaknya seekor kambing namun dengan wajah dan tubuh layaknya
seorang manusia.
"Ayo Ash
sambut Dia....!" Wanita itu mengelus kepala seorang anak yang berada di belakangnya,
anak itu mempunyai telinga yang sama dengannya.
"Haloo...!!!"
Dia melompat ke Floyd dan langsung memeluknya. "Namaku Ash..!! Mulai
sekarang Kamu akan menjadi adik ku...!!" Ash tersenyum dengan amat ceria
dan bahagia.
Ibu angkatnya
Helen, Ayah angkatnya Ethan, dan juga kakak barunya Ash mulai dari saat itu
sudah menjadi keluarga barunya, hari itu adalah hari dimana Floyd memulai hidup
barunya.
Helen ibunya
adalah seorang ibu rumah tangga, tapi terkadang Dia suka menjual bunga bunga
yang dirawat di taman belakang rumah.
Ethan ayahnya
adalah seorang ilmuan pintar di dimensi tersebut, terkadang Ia menjadi incaran
beberapa perusahaan karena beberapa penemuannya.
Dari saat itu Ash
dan Floyd sudah menjadi layaknya saudara kandung sendiri. Karena Ash yang
sangat aktif, Floyd jadi sangat dekat dengannya.. Mereka menjalani sekolah
bersama.. Bermain bersama.. Sampai melakukan banyak kenakalan bersama.
Setelah beberapa
bulan berlalu, di pagi hari minggu Ash mengajak Floyd ke sebuah tempat yang tak
Ia pernah kunjungi.
"Floyd..!!"
panggil Ash, Dirinya berlari menuju Floyd yang sedang duduk di atas kursi meja
makan.
"Hmm..??"
Tanya Floyd.
"Main ke
tempat prasasti pembuat yu..!! Aku mau tahu apa Kamu ada pembuat atau
tidak..!!" Ajak Ash.
"Hayu..!!"
Jawab Floyd dengan semangat, Ia bangkit dari duduknya.
Mereka pun
berjalan keluar rumah lalu menuju tempat tersebut. Prasasti pembuat adalah
kumpulan batu batu besar yang terukir semua nama orang di dimensi itu bersama
nama pembuatnya. Terkecuali orang yang tak mempunyai pembuat sama sekali atau
orang yang merupakan pembuat.
"Ash..? Kamu
punya pembuat ga..?" Sambil berjalan, Floyd bertanya kepada Ash yang
berada di depannya.
"Tentu..!!
Sungguh hebat kalau Aku gak punya pembuat.. " Jawab Ash, Ia menengok ke belakang,
tertawa.
"Kamu tahu ga
namanya..?" Tanya Floyd sekali lagi kepada Ash.
"Terakhir Aku
cek sih... Kalau ga salah Koraya..? Ayah juga mempunyai pembuat walau Aku ga
tau namanya.. Kalau ibu mah ngga.. Hebat kan..!!" Ash mengangkat tangannya
semangat.
"Iya..!!"
Floyd yang di belakangnya ikut tersenyum senang.
Setelah berjalan
selama beberapa menit mereka pun akhirnya sampai di tempat prasasti pembuat. Di
sana banyak sekali batu besar, orang orang yang baru lahir biasanya terdapat di
ujung kanan, sedangkan paling tua di ujung kiri, jadi semakin mudah untuk
mencari nama.
Mereka berdua
mencari nama Floyd selama beberapa menit, mungkin sekitar setengah jam, dan
akhirnya mereka menemukan namanya.
"Wahh..!!!! Kamu
sama pembuatnya sama Aku..!!!" Ash melompat dan langsung memeluk Floyd
dengan senang dan terkejut.
"Ahaha
iya..!!!" Floyd ikut senang dan tertawa.
Dari situlah
mereka mengetahui takdir mereka, mengapa mereka bertemu, dan mengapa mereka
jadi hidup bersama.
Tapi kejadian yang
membuat kisah Floyd terbentuk baru saja dimulai pada saat hari terakhir liburan
musim panas, saat Ia berumur 10 tahun dan Ash berumur 11 tahun.
*BRUK* Suara
bantingan pintu rumah Ash dan Floyd terdengar di tengah malam akhir liburan
Musim panas mereka.
Floyd yang sedang
tertidur, terbangun dengan terkejut lalu segera bangkit dari ranjangnya.
"Shh..."
Ash sudah berada di depan pintu melirik keluar. Floyd perlahan berjalan
mendekati Ash, lalu mereka pergi keluar pintu kamar bersama sama. Mereka
melihat menuju pintu depan rumah dari atas, karena kamar Floyd dan Ash berada
di lantai 2.
Mereka terkejut,
terpAku saat melihat kejadian yang sedang terjadi dibawah.
"HENTIKAN..!!"
Teriak dari ibu mereka yang sedang menarik suaminya terdengar oleh mereka
berdua.
"Lepaskan Aku
helen..." Ethan menunduk terpaksa. "Ayo...!!" Yang mengejutkan
adalah terdapat 8 orang tentara bersenjata api yang sedang bersama Ethan dan
Helen. Mereka memaksa dan menarik Ethan sambil mengarahkan senjata mereka.
"T-tunggu
dulu...!!" Helen dengan kesal terpaksa memohon, menunduk kepada salah satu
tentara.
"Berisik..!!"
Helen didekati lalu ditendang oleh salah satu tentara membuatnya terlempar,
terjatuh kesakitan.
"HELEN..!!"
Ethan yang marah melepaskan Dirinya sendiri lalu memukul salah satu tentara
yang menahannya.
Tapi usahanya sia
sia, Ia ditahan kembali oleh 2 tentara lalu dipukul terus terusan oleh yang
lainnya. "Ayo ikut saja... Istrimu takkan Kita apa apakan lagi..."
Salah satu tentara tersebut mendekati Ethan.
"AYA---"
Floyd berteriak dengan khawatir, namun langsung ditutup mulut nya oleh Ash yang
di sebelahnya. "Shh..!!" Dia mencoba membuat adiknya diam.
"Hah..?"
Perhatian salah satu tentara langsung teralihkan oleh suara Floyd. Ethan yang
menyadari suaranya itu segera mengalihkan perhatian tentara dengan cara
merelakan dirinya.
"Ya sudah..
Bawa Aku...!" Akhirnya Ethan menyerahkan diri, berbicara dengan lantangnya
untuk menutupi suara yang dibuat oleh Floyd.
"Gitu
dong..." Dirinya langsung ditarik keluar rumah oleh para tentara.
"Ethan!!!"
Helen yang melihat kejadian itu langsung berlari ke arah pintu, namun pintu
tersebut dibanting dari luar. Ia menangis dengan kencang sambil memukuli pintu,
semalaman. Di sisi lain Floyd yang menangis ditarik oleh Ash menuju dalam
kamar.
"Shh..!!
Bertindaklah seperti biasa nanti pagi ok..?" Ash menutup pintu kamar lalu
menoleh ke arah Floyd.
"T-tapi..."
Perkataan Floyd menjadi kAku, terus menangis.
"Anggap saja
itu urusan kantor.. Ayah pasti tak akan kenapa napa.. Dia kan hebat..!"
Ash menepuk pundak adiknya dengan niat untuk mencoba menenangkannya.
"T-tapi kak..
Kenapa Kamu tak menangis...?" Floyd menghapus air matanya dan bertanya.
"Seorang
kakak tak pernah menangis di depan adiknya.!" Ash menunjuk Dirinya sendiri
lalu tersenyum
Floyd yang
menangis mulai berhenti dan membalas senyuman Ash.
"Sana tidur..
Sudah malam..." Ash mendorong Floyd perlahan ke kasur.
Akhirnya Floyd
kembali berbaring di kasur setelah ditenangkan oleh kakaknya. "Makasih
ka.." Ucap Floyd perlahan selagi memasang selimut.
"Tentu..!!"
Jawab Ash dengan senang.
Ash melangkah ke
kasurnya dan segera berbaring menghadap ke sebuah dinding, berlawanan dengan
kasur adiknya. Tanpa disadari Floyd, Dirinya menangis semalaman setelah
mengetahui kejadian tersebut, namun Ia menahan tangisannya di hadapan adiknya.
Di keesokan
harinya, pagi itu Ash dan ibunya bertingkah seolah tak ada yang terjadi pada
tadi malam.
Saat Floyd dan Ash
menuju tempat makan setelah mandi, Mereka melihat ibunya yang mengucapkan
selamat pagi sambil memasak sarapan, "Selamat pagi anak anak..".
"Pagi
ibu...!!" Ash berlari ke arah ibunya dengan semangat, langsung memeluknya
dari belakang.
Floyd mendekati
Ash dan Helen dari belakang lalu memandang mereka dengan ketAkutan.
"Ibu... Ayah kemana..?" Tanya Floyd saat itu.
Tentu Ash dan juga
Ibunya terkejut. Helen berhenti memasak sejenak, Dia memegang kepala Floyd lalu
mengusapnya.
"Ayah pergi
karena ada pekerjaan sayang...." Balas Helen selagi memberikan senyuman.
Ash yang juga
terkejut, menarik Floyd menuju ruangan di sebelah dapur ,"Tunggu sebentar
buu..." Ia berlari dengan Floyd di genggamannya.
Helen tidak
membalasnya, Dia lanjut memasak.
Saat sampai di
ruangan sebelah, Ash bersembunyi bersama Floyd di balik pintu. "Kita harus
merahasiakan bahwa Kita melihat kejadian tadi malam... Aku tidak mau membuat
ibu khawatir.." Ash menunjuk nunjuk Floyd.
"Ayah
kan.." Jawab Floyd satu kata ke kata yang lain perlahan lahan.
"Kamu
mengerti...?" Ash menyentuh pundak adiknya perlahan lahan.
"Ya...." Jawab Floyd sambil menunduk.
"Ok..!!"
Ash keluar dari ruangan tersebut dengan ceria, segera menghampiri ibunya untuk
memakan sarapan dikuti oleh Floyd dari belakang yang berjalan pelan pelan.
"Sarapan..!!!"
Saut Ash dengan semangat, Ia langsung duduk di atas kursi meja makan.
Floyd yang
mengikutinya segera mengambil tempat duduk di depan kakaknya.
"Sarapan
sudah siap..!!" Helen menghampiri meja makan lalu menaruh dua piring
omelette di hadapan mereka berdua.
"Selamat
makan...!!" Ash menyuapkan sarapannya dengan wajah yang bahagia.
"Selamat
makan.." Floyd menjawab perkataan Ash dan langsung memakan sarapan dengan
perlahan.
"Ash Kamu
siap untuk field trip ?!" Helen mendekatinya dengan semangat.
"Tentuu..!!".
"Tasnya sudah
Ibu siapkan didekat pintu ok..?" Helen menunjuk pintu sambil perlahan
duduk di sebelah Floyd. Floyd terlihat cemberut karena kelasnya tak mengikuti
field trip.
"Tak apa
Flo..!! Aku akan segera pulang..!!" Ash yang menyadari bahwa Floyd
terlihat murung langsung menyemangatinya.
Kejadian tadi
malam berlalu terlalu cepat, mereka melanjutkan kehidupan seperti biasa namun
tanpa ayahnya.
Setelah beberapa
menit, Ash dijemput dengan bis untuk pergi field trip. Dia mengambil tasnya
lalu meninggalkan Floyd sendiri. Floyd yang biasanya berjalan ke sekolah
bersama, kini hanya sendirian tanpa kakaknya.
Saat sampai di
sekolahnya Floyd menjalani kehidupannya seperti biasa, namun saat istirahat
tiba muncul sebuah peristiwa yang tidak terduga sama sekali.
"Woi liat
tuh..!!" Seorang anak yang sedang bersama kumpulan anak lainnya berjalan
mendekati Floyd di sebuah lorong, saat Ia baru saja akan pergi ke kantin.
Mereka adalah anak
senior yang suka membully adik kelas hanya untuk menunjukan mereka jagoan.
"Nah nah..!!
Kenapa Kamu nunduk aja.!!" Sautnya, meledek Floyd yang membunyikan
wajahnya.
"K-kak Gordo
ga ikut field trip..?" Floyd menunduk lebih lama lagi ketAkutan.
Namanya Gordo,
walau Dia tak mengenal Floyd namun nama Gordo sudah terdengar di seluruh
kalangan. Rambutnya panjang dan tidak teratur, bajunya dikeluarkan seperti anak
nakal pada umumnya. Gordo memandangnya dengan jijik, mulai kesal lalu menampar
Floyd dengan kencang sampai terjatuh.
Floyd yang
terjatuh hanya bisa menunduk ketAkutan karena tak mempunyai perlindungan
kakaknya yang dikenal kuat di angkatannya dan bisa melindungi Floyd jika saat
seperti ini datang, setidaknya itu yang Floyd ketahui.
"Pegang
tangannya..." Gordo menunjuk Floyd, memberi kode kepada teman teman yang
sedang bersamanya.
Teman teman Gordo
pun langsung bertindak, mereka mendekati Floyd lalu mengangkat kedua tangannya,
menahannya.
Floyd yang cemas
menatap ke bawah tak bisa berbuat apa apa, saat Gordo mendekatinya pun Ia masih
tak bisa memandangnya.
"Hahaha..
Kayaknya Kita dapat yang lemah..." Gordo menoleh kepada teman temannya,
tertawa.
Gordo mengelus
tangannya sendiri membuatnya mengeras sedikit demi sedikit, sepertinya itu
kekuatannya. Setelah itu Dia meninju Floyd di perutnya sekali, membuatnya
memuntahkan sedikit cairan.
"Hahaha
menjijikan..!!" Tawa Gordo, meneruskan pukulannya kepada Floyd sampai
sampai Dia tidak bisa berkutik.
"Kalau kakak
tahu Kamu memukuliku Kalian pasti sudah kalah.." Floyd memaksakan Dirinya sendiri
untuk berbicara.
"Emang kakak
Mu siapa ha..??" Gordo memberhentikan tinjuannya sejenak.
"Ash.."
Perlahan Floyd menyebutkan nama tersebut.
"Hah..?
HAHAHA...!!" Gordo tertawa kencang, diikuti oleh kedua temannya yang
menahan Floyd dari sisi.
"Ash itu
Lemah..!! Dan juga Bodoh..!! Dari dulu dia selalu menangis sebelum Kamu ada di sekolah
ini..!!" Gordo meneruskan tawanya, namun Floyd tampak kesal, menatap Gordo
dengan sangat tajam.
"Kakak.."
Ujar Floyd perlahan lahan membuat perhatian Gordo dan temannya terpAku padanya.
"Hahh..?!"
Gordo kebingungan, memiringkan kepalanya.
"Kakak itu
kuat...." Lanjut Floyd sekali lagi.
"Kamu
membuatku kesal..." Gordo berhenti tertawa, Dia mulai serius dan berusaha
memukulnya sekali lagi, namun.
Pukulan Gordo
tertahan oleh seseorang yang tiba tiba datang, menahan serangannya dengan
tangan kanan. Dia terlihat tinggi sekali, seperti anak smp saja. Rambutnya
pirang dan sedikit panjang.
"A-apa apaan Kamu
ini.." Gordo tampak sangat kesal.
"Hmmm...
Harus nya Aku yang nanya gitu.. Kalian apa apaan membully adik kelas..?"
Orang itu tertawa kepada Gordo.
Kedua teman Gordo
melepaskan Floyd lalu mendekati orang yang tiba tiba datang itu.
Mereka berdua
memukulnya bersamaan namun orang itu menunduk membuat mereka saling pukul.
Gordo terkejut
lalu menatap Orang itu dengan kesal "K-Kamu..!!". "Haahh.."
Orang itu menghempaskan nafasnya lalu memutarkan tangan Gordo sampai Dia
menjerit kesakitan "ADUDUH..!! IYA AMPUN..!!".
Ia melepaskan
tangan Gordo, mereka bertiga melarikan diri dengan ketAkutan ke arah yang
berbeda dan berlawanan. "Awas aja kalian.!!" Teriak Gordo sesaat Dia
melarikan diri.
Floyd mengelap
keringat yang bercucuran dari wajahnya, mengambil tas yang tergeletak di lantai
lalu perlahan bangkit.
"K-kakak
siapa..?" Tanya Floyd dengan malu malu.
"Hm..?
Kakak..?" Dia tertawa terbahak bahak. Setelah mulai berhenti, Ia mengulurkan
tangannya kepada Floyd "Aku seangkatan sama Kamu, kelas 5A... Namaku Adam
Ayo Kita temenan.." sambil memberikan senyum yang ceria.
"A-ah.. Namaku
Floyd.." Floyd menjabat tangan Adam. "Ayolah jangan malu malu.. Nanti
Kita ketemuan lagi ya..." Dia melepas tangan Floyd lalu melangkah menjauh
darinya.
Sesudah bertemu
dengan teman barunya, Floyd segera kembali ke kelasnya untuk melanjutkan
pembelajaran, lupa akan niatnya ke kantin sebelumnya.
Setelah beberapa
jam terlewatkan, sekolah pun akhirnya sudah selesai untuk hari ini. Floyd
pulang ke rumahnya seorang diri hari ini, itu yang Ia pikir. Namun saat
perjalanannya keluar sekolah, Adam berlari ke arahnya.
"Hei pulang bareng
yuuu..!!" Dia mengagetkan Floyd dari belakang.
"HA..!"
Floyd terkejut. "Hahahha.. Iya hayu.. Rumah Mu dimana..?" Floyd cepat
setuju, Ia bertanya kembali.
"Ohh di jalan
St Andreas.." Jawab Adam sambil berjalan di sisinya.
Mereka mengobrol
terus menerus sampai sampai mereka berpisah di sebuah perempatan dekat rumah
Floyd.
"Dadahh Floyd
sampai ketemu besokk..!!" Adam melambaikan tangannya dari kejauhan.
"Yaa
dadahh.." Floyd melambaikan tangannya kembali, lalu melanjutkan perjalanan
pulang.
Sesampainya di
rumah, Dia disambut oleh ibunya yang sedang menyiapkan makan malam di dapur
yang letaknya dekat pintu depan rumah.
"Selamat
datang..!! Ada kejadian seru di sekolah..?" Tanya Helen, sesaat menengok
ke arah pintu depan rumah.
"Ngga kok
bu.." Floyd tersenyum, Ia berlari ke kamarnya untuk mengganti baju dan
beristirahat sendirian sementara waktu.
Pagi hari tiba,
Floyd tak sengaja tertidur setelah selesai memakan makan malamnya. Floyd
membukakan matanya, disambut oleh Ash yang tepat di depannya.
"Selamat
pagi..!!" Ia menyambut pagi Floyd sambil tersenyum.
"Kak..! Kapan
Kamu datang..?" Tanya Floyd, tetap berbaring di kasur memandang Ash.
"Tadi
malam... Oh Floyd Kamu berkelahi dengan Gordo ya..?" Ash perlahan beranjak
dari kasur lalu berjalan menuju pintu kamar.
Floyd terkejut, Ia
segera bangkit lalu menjawab, "A-Aku nggak mukul sama sekali ko..!".
Ash meliriknya,
"Syukurlah Kamu tak apa..." Dia tersenyum. "Nah Floyd cepetan
mandi sana... Udah mau telat nih..." Ash tertawa ke adiknya.
"Ah iya
iya.." Floyd berdiri dari kasurnya.
"Ash...."
Floyd berjalan melewatinya tanpa memandangnya.
"Hm..?"
Ash menengok ke belakangnya, melihat Floyd yang sedang mengepalkan tangannya.
"Aku akan
berjanji suatu saat Aku yang akan melindungimu...!" Floyd mengarahkan
tangannya itu kepada Ash.
"Apaan sih
tiba tiba.." Ash memiringkan kepalanya, bingung.
Ash tersenyum
"Dan jika saat itu datang Aku berjanji akan menjadi lebih kuat darimu.."
Lalu mengepalkan, menempelkan tangannya ke tangan Floyd.
Mereka berdua
tersenyum, dari titik itulah janji mereka telah dimulai.
Beberapa hari
berlalu, mereka melewatkan hari hari seperti biasanya. Adam telah menjadi
sahabat terdekat Floyd, mereka selalu saja bertemu saat jam istirahat tiba.
Tapi suatu hari,
suatu saat, ketika semua tugas dan pekerjaan di sekolah sudah selesai dan
mereka diperbolehkan pulang, lagi lagi Gordo dan kawan kawan mencegat Floyd
yang baru saja menggendong tasnya dan meninggalkan kelas.
"Lah lah ini
Dia Floyd..!!" Saut Gordo, secara lantangnya Ia datang bersamaan dengan teman
temannya yang lebih banyak lagi dari waktu itu.
"K-kak Gordo
tahu dari mana namaku..?" Floyd gemetar ketAkutan.
"Lahh..?!
Buat apa Aku ngasih tau?" Gordo dan temannya mengelilingi Floyd.
"Sudah lah ka
Gordo, Aku sudah tidak mau berkelahi.." Floyd menunduk, memohon.
"HAH..? Kamu
tAkut karena tidak ada Dia hah..? Orang tanpa kekuatan emang lemah..!"
Gordo tertawa, meledek, dan menunjuk nunjuk Floyd.
"Kakak juga
tak punya kekuatan.." Floyd mengepalkan tangannya kesal, namun tAkut.
"Kamu
gila..?!! Apa Kamu tak tahu..?!" Gordo membanting tangannya, kesal.
"Apa..?"
Floyd mengangkat kepalanya kebingungan.
"Ash itu
murid pertama yang bisa mengeluarkan kekuatan keturunannya... Sejak itu Dia
sering dibilang monster karena kekuatannya itu..!!" Teman di sebelah Gordo
langsung memotong percakapan mereka dengan kesal.
"Bodoh..!!
Ngapain dikasih tau..!" Gordo mendorong temannya tersebut karena terbawa
emosi.
"Bisakah
Kalian menceritakan itu sekali lagi ?" Floyd menatap mereka dengan sangat
serius.
"Ogah..! Buat
apa nyeritain hal seperti itu ke orang lemah.." Tawa Gordo bersamaan
dengan teman temannya.
"Weits
weittss... Apa sih salahnya ngasih sedikit informasi.." Adam tiba tiba
datang, menaruh lengannya di sekitar pundak Gordo seperti teman saja.
"A-Apaan Kamu..!!"
Gordo langsung memukul kepala Adam yang berada di pinggir kanan pundaknya.
Namun Adam dengan cepat menahannya dengan tangan kanan.
"Jangan kasar
lah..!!" Adam tertawa, diam diam meledek. Teman teman Gordo yang ada di sana
mulai mencoba mendekatinya, namun saat Adam menatap mereka dengan tajam. Mereka
langsung diam, tegang.
"Mau apa sih Kamu..!!"
Gordo melirik Adam dengan sangat kesal, berusaha melepas tangannya yang berada
di genggaman Adam.
"Hmm...?
Mening ceritain deh.." Adam menekan tangan Gordo lebih keras lagi selagi
menengok kepadanya. "Tentang Kakaknya Floyd.." Ia tertawa.
"Adududuh..!!
I-iya iya..!! Kakak Mu punya kekuatan api..! Dia ga pernah berantem tapi semua
orang selalu tAkut kepadanya karena kekuatannya yang besar. " Gordo
berbicara dengan paniknya, akhirnya Adam melepaskan dan menjauhinya.
"Floyd...!!
Oh ternyata Kamu disa---"
"--na..?"
Ash yang sedang berjalan mendekati Floyd, terkejut, adiknya sedang dikepung
oleh Gordo dan teman temannya.
"K-kakak...!"
Floyd memandang Ash dengan senang, namun masih bingung akan informasi yang
diberikan Gordo.
"Awas saja..!
Liat lain kali..!" Gordo menunjuk nunjuk Adam lalu melarikan diri diikuti
oleh teman temannya di belakang. Di sisi lain Adam hanya tersenyum dan
melambai.
"Floyd.. Ayo
pulang.." Ash mengajaknya dari kejauhan, Floyd perlahan berjalan
kepadanya. "Hmm..? Kamu juga, Kamu siapa..?" Ash melirik ke arah
Adam. Walau Adam telah menjadi sahabat Floyd, Ia tak pernah diperkenalkan
dengan Ash ataupun Helen.
"Aku sahabat Floyd,
Adam... Halo..!" Adam membalikan badannya lalu memberikan senyuman kepada
Ash.
"Aku kakaknya
Floyd, Ash... Adam, mau ikut pulang bareng..?" Ash membalas senyuman Adam.
"Tentu..!"
Adam menghampiri Ash dengan senang hati.
Mereka berjalan
keluar sekolah bersama sama, setelah Ash bertanya tentang lokasi tempat tinggal
Adam mereka akhirnya memulai percakapan biasa.
"Oh iya...
Adam apa yang kau lakukan sampai Kamu bisa mengusir mereka semua..?" Ash
yang berjalan terdepan menengok ke belakang.
"Hm..?
Sebenarnya Aku cuma menAkut nAkuti mereka.." Jawab Adam setelah sedikit
berpikir.
"Hahaha
keren..!" Ash tertawa. "Makasih ya.." Lanjutnya.
"Iya santai
aja..!" Adam tertawa balik. "Floyd bisa dengarkan Aku sebentar..?"
Adam menoleh kepada Floyd yang berada di sebelahnya.
"Ada
apa..?" Floyd menjawab.
"Aku tau ini
akan terdengar lebay dan dilebih lebihkan tapi... Floyd.. Kumohon.. Terus
biarkan Aku melindungimu.. Setidaknya itu yang bisa Ku lakukan sebagai
teman.." Adam menunduk, dan terlihat memaksakan sebuah senyuman.
Floyd yang
melihatnya, membalas "Ya tentu, akan Ku pegang janjimu..!" Ia tertawa,
Adam melirik dan tertawa. Ash yang turut melihat percakapan mereka, ikut tertawa.
Setelah lama
berjalan, Adam berpisah dengan Ash dan Floyd. Sesudah Melanjutkan perjalanan
pulang, Ash dan Floyd memasuki rumah disambut dengan bau masakan yang sungguh
enak. Waktu berlalu dan malam berakhir dengan sekejap.
Di esok pagi,
Helen berbicara dengan seseorang di telepon rumah.
"Apa..?!!
Floyd melakukan itu..?!! Ya ampun..!!" dengan kesal Helen berbicara
dengan seseorang melalui telepon rumah, menyambut pagi kedua anak itu.
"Hmm..."
Floyd yang baru bangun bangkit dari kasurnya, melirik ke arah pintu kamar.
"Kak... Kamu
sedang apa..?" Tanya Floyd dengan bingung, Ia melihat Ash yang sedang
mengintip keluar kamar.
"A-ah.. Ga
papa..!!" Ash menyingkir dari pintu lalu langsung berlari keluar dari
kamar.
"Hm..?"
Floyd yang bingung berjalan keluar kamar langkah demi langkah, akhirnya melihat
Ibunya Helen duduk dengan kesal di meja makan.
"Ibu..?"
Floyd berjalan ke bawah tangga untuk memberi salam pagi kepada ibunda.
"Floyd..!! Kamu
menghajar Gordo dan teman temannya..?!" Helen yang memandang Floyd,
langsung membentaknya.
Floyd terkejut
dengan perkataan ibunya, Dia berlari ke arahnya dan berusaha menjelaskan
kejadian tersebut kepada Helen "I-ibu..!" dengan kAku.
"Ibu..! Floyd
tidak salah..!! Ia sama sekali tidak memukul Gordo.!!" Dari ruangan lain
Ash mencoba untuk membela Floyd.
"Diam Ash ini
bukan masalah mu..!!" Helen berteriak, memukul meja membuat Ash dan Floyd
sangat terkejut, langsung terdiam.
Ash menunduk,
menutup pintu ruangan sebelah dimana Ia berada. Floyd perlahan menangis, menarik
kain celananya.
Helen melirik ke
arah Floyd yang menangis, terkejut. Tangannya bergetar karena rasa bersalah.
"F-floyd
sayang.. Maafkan..." Helen mengahmpiri Floyd. Ia memegang kepalanya lalu
menghapus air mata yang mengalir di wajah Floyd dengan ibu jarinya.
"Maafkan Aku..
Maafkan Ibu.. Tapi mereka--" Floyd mau menjelaskan kejadian sebenarnya,
tapi sangat sulit baginya.
"Nanti jangan
lakukan lagi ya..." Helen memandang Floyd lalu tersenyum
Floyd memandang
balik wajah ibunya dengan sedih selagi mengatakan "Ya bu...". Saat
ini Floyd seperti mengAkui perbuatannya, dimana kenyataannya Dia tidak melakukan
kesalahan apapun.
Ash membuka pintu
perlahan lahan, memandang Floyd dengan rasa penuh penyesalahan. "Kenapa
Dia harus menanggung ini..?" Tanyanya dalam hati.
Hari demi hari pun
berlalu dengan cepatnya, akhirnya hari tersebut telah lupakan oleh Helen, Ash,
dan juga Floyd. 2 minggu sudah terlewat tidak terasa. Baru saja Floyd move on
dari kejadian tersebut, Gordo mendekati Floyd lagi di lorong sekolah untuk ketiga
kalinya pada saat pulang sekolah.
"Hahaa..!!!
Floyd Floyd..! Enak ga tuhh dimarahin sama ibunda tersayang Hahaha..!!"
Gordo sepertinya melapor kepada guru, lalu meledek Floyd seolah olah Ia sudah
menang.
Namun kali ini ada
yang berbeda, Gordo membawa teman lebih banyak lagi. Kira kira sebanyak 15
orang memenuhi lorong sekolah tersebut hanya untuk mencegat Floyd.
"Ibu tak
memarahiku kok..!" Jawab Floyd dengan tegasnya mengelak kenyataan.
"Lho..?!
Temen Mu mana..? OH IYA..! Bukannya lagi ekskul ya...?" Gordo memberikan
senyuman yang sangat menjengkelkan.
"Aku
sendirian juga kuat..." Floyd berpura pura berani di hadapan Gordo dan
teman temannya.
"Hahh..??!!
" Karena kesal, Gordo melancarkan pukulan langsung ke wajah Floyd setelah
mendekatinya. Namun.
Tangannya tertahan
oleh Ash yang tiba tepat waktu di hadapan Floyd dan Gordo. Gordo terkejut,
namun tangannya tetap ditahan.
"K-kakak..!!"
Floyd tersenyum senang.
"Yo..!"
Jawab Ash dengan senyuman yang lebih lebar lagi, setelah Dia menoleh ke belakang.
Gordo menarik
paksa tangannya dari tahanan tangan Ash.
"Ash... Kami tidak
tAkut lagi terhadap mu..." Gordo mengepalkan tangannya.
"Lho..?
Selama ini Kamu tAkut ya..?! Lucunyaa...!!" Ash tertawa geli terbahak
bahak seperti meledeknya.
"K-Kamu..!!"
Gordo mengarahkan pukulan yang sama kepada Ash. Namun Dia dengan mudahnya
menunduk untuk menghindar.
Ash tertawa
"Floyd..!! Kabur yu.. Kamu duluan... Kalau Aku belum keluar dalam 5 menit
panggil ambulan ok...?" Ia membuat lelucon disaat saat tersebut, karena
Dia pikir akan menang.
Pada akhirnya
teman teman Gordo ikut campur dan menyerang Ash secara bersamaan dari sisi
kiri, kanan. Alhasil semua serangan mereka berhasil dihindari oleh Ash, walau
kesulitan. Pukulan kedua pukulan ketiga maupun ke delapan tidak ada yang
mengenainya sama sekali. Ash melompat, menunduk dan bergelinding ke sana
kemari.
"Ya ampun kak
Aku takkan kabur tanpa mu..." Floyd memandang Ash dengan ragu.
"Masa..---"
Ash menoleh ke belakang, kepada Floyd, karena itu Dia kehilangan fokus.
"Akh..!!" Ash yang selalu bisa menghindar dengan gampangnya, terkena
pukulan kencang dari Gordo tepat di perut. Lalu teman teman disekitarnya segera
memukul kepala Ash ke bawah membuatnya terjatuh kesakitan.
"KAKAK..!!"
Floyd terbawa suasana dan mulai panik, Ia segera berlari ke arah Ash tanpa
berpikir panjang.
Pada akhirnya
Floyd ditendang mundur oleh salah satu teman Gordo yang masih tidak melakukan
apa apa, membuatnya terjatuh di hadapan mereka. 'Diam.." Ujar orang
tersebut.
Saat Ash memegang
kepalanya kesakitan, Dia berusaha bangkit. Namun teman teman Gordo mengangkat
dan menahan kedua tangannya supaya tak bisa berbuat apa apa.
"HAHAHA...!!
Tak kusangka mengalahkan sang monster bisa semudah ini..!!" Gordo
menertawai Ash tepat di hadapan wajahnya. Dia mengepalkan tangannya lalu
memukul perut Ash sekali.
"Kak..!!
Gunakan kekuatan mu..!!" Floyd berteriak kepada Ash.
"Tidak..!!
Kekuatan itu bisa menyelakakan yang lainnya..!! Kamu kabur duluan
Floyd..!!" Ash menyempatkan diri untuk menjawab Floyd, walaupun Ia sendiri
sedang kesakitan.
"Tapi
Kak..!!" Floyd terus menerus memanggil kakaknya, perlahan meraihnya.
"Ah sudah lah
diam..!!" Gordo tersenyum sinis, Dia mulai memukul perut Ash untuk kedua
kalinya
Lalu ketiga
kalinya.
Keempat kalinya.
Floyd memaksakan
diri untuk berdiri. Dari punggungnya mulai keluar sedikit akar akar kayu.
Namun sebelum Dia
bisa bertindak, salah satu teman Gordo berlari ke arah Floyd lalu memukul
wajahnya. Floyd terjatuh tak berdaya dan tak sadaran diri seketika.
Di sisi lain Ash
tak menyadari kondisi Floyd, menerima semua pukulan Gordo lalu pingsan samanya
seperti Floyd.
Beberapa menit
berlalu, Floyd membuka matanya perlahan lahan.
Pandangannya
disambut oleh Adam yang sedang berdiri kelelahan di hadapannya. Gordo dan kawan
kawan sudah tidak terlihat dimanapun. Lalu Ash yang sama sama baru sadaran diri
sedang perlahan lahan bangkit.
"A-adam..?"
Floyd pelan pelan berdiri mengikuti Ash.
"Maafkan..."
Adam menunduk malu. "Aku.. Tidak menepati janjiku untuk melindungimu....."
Dia menekan rahangnya keras keras.
"Kamu sudah
banyak membantu kok..!" Ash menghampiri Adam, segera.
"Tapi.."
Adam tampak lebih menyesal lagi.
"Ngga ngga..
Makasih loh..!" Floyd mendekati Adam lalu merangkulnya selagi tersenyum
lebar.
Adam yang
merasakannya langsung ikut senang, Ia menjawab "Ya.. Ga papa..".
"Kamu apakan
mereka..?" Ash memegang pundak Adam.
"Cuman
sedikit dipukul terus ditakut takutin..." Adam menoleh ke Ash dengan
blahbloh.
"Ahaha..
Boleh lahh..!!" Jawab Ash sambil tertawa.
"Yu.. Pulang
bareng.." Lanjut Ash sekali lagi.
Mereka bertiga
akhirnya meninggalkan sekolah bersama seperti biasa. Mereka mengobrol lalu
berpisah di jalan yang biasanya.
Sesampainya di rumah
Ash membukakan pintu rumah, Helen menyambut mereka dengan sebuah pertanyaan,
"Bagaimana sekolah...?".
"Emm..."
Tangan Floyd bergetar, Ia tak tahu harus menjawab seperti apa, namun Ash selalu
selalu membantunya dalam hal hal seperti ini.
"Sekolah luar
biasa..!!" Ash tawanya, kencang.
"Ah
keren..!!" Helen tertawa balik, selagi Ash berlari masuk ke kamarnya
setelah menaiki tangga. Floyd yang sudah memandang kakaknya sebagai idolanya
membuatnya lebih kagum lagi saat itu.
Floyd mengikuti
Ash, menaiki tangga dengan senyuman yang sama dengan kakaknya kepada Helen.
Setelah menjalani
malamnya seperti biasa, berganti baju, makan malam dan lain lain, Pagi hari
tiba. Anehnya pagi ini Ash tidak ada untuk menyambut pagi Floyd.
Setelah bangun,
Floyd berjalan keluar kamarnya langkah demi langkah untuk menemui Ash yang
mungkin berada di luar.
Dia mengintip ke bawah
lalu melihat Ash yang sedang duduk di meja makan bersama Helen. Mereka berdua
berwajah tegang dan juga serius. Floyd terheran heran melihat mereka berdua.
"Ash kenapa Kamu
tidak menghentikan Floyd..?" Helen bertanya dengan serius.
"Kamu tahu kan Gordo dan beberapa temannya mengalami cedera yang
parah..?!" Helen membentak Ash, namun lama lama nadanya menurun.
"I-ini
kesalahan bu..! Aku sama Floyd tidak tahu apa apa..!" Ash menaikan sedikit
suaranya kepada Ibunya.
"Lantas
siapa..?!" Helen membalas perkataan Ash dengan tegas.
"Kita dibuat
tak sadaran diri oleh mereka lalu saat Kita bangun.. Mereka sudah tidak ada dan
Adam di sana membantu kita.." Jelas Ash lebih detail lagi untuk meyakinkan
ibu.
"Adam..? Dia
sudah didrop out.." Helen memelankan suaranya karena bingung.
Mata Ash
memperbesar karena sangat terkejut.
"D-drop
out.." Floyd yang sedang menuruni tangga tiba tiba terhenti di tengah
tengah.
"Floyd.."
Ash menengok ke arah Floyd dengan pilu.
"Floyd...
Ceritakan yang sebenarnya.." Helen melirik lalu bertanya dengan serius
kepadanya.
"A-adam cuman
menolong kita... Gordo dan teman teman mengepung Aku sama kakak.. Saat Kita sudah
pingsan.. Adam datang untuk menolong.." Floyd mencoba menjelaskan selagi
menahan rasa kesal yang terdapat di lubuk hatinya.
"Ch..! Nanti
Ibu ngomong sama pihak sekolah..." Helen menunduk dengan kesal, Ia sadar
akan kesalah pahaman yang besar ini.
Floyd dan juga Ash
segera menyelesaikan sarapan dan melakukan kegiatan pagi mereka setelah
pembicaraan yang mengesalkan terjadi.
Mereka berdua
berjalan ke sekolah bersama sama setelah berpamitan dengan ibunda.
Sesampainya di
sekolah mereka menjalankan kegiatan sehari hari mereka seperti biasa. Namun
mereka berdua terlihat lebih murung dari biasanya.
Floyd kesal karena
sahabatnya dikeluarkan dan Ash merasa sedih kepada adiknya.
Sepulang sekolah
Ash menghampiri Floyd yang baru saja keluar kelas.
"Yu
pulang.." Ash tersenyum, Dia mencoba membahagiakan Floyd.
"Ah tidak
tidak... Kamu dulan aja.. Aku ada urusan.." Floyd menjawab, membalas
senyuman Ash dengan paksa.
"Oh.. Ya
sudah.." Ash berjalan meninggalkan Floyd di belakang.
Setelah beberapa
menit berlalu akhirnya Floyd beranjak dari depan kelasnya untuk pergi keluar
sekolah.
Ia berjalan dan
berjalan melalui jalan biasanya, sendirian. Tapi sebelum sampai pada rumahnya,
Dia berbelok ke jalan yang lain.
Kini Ia menempuh
jalan yang biasanya Adam lalui. Floyd berhenti di hadapan sebuah rumah kecil di
sisi jalan setelah, melangkah untuk sementara waktu.
Floyd mentekadkan
diri untuk menyaut, "A-adam..!!" mengepalkan tangannya keras keras.
Setelah beberapa
detik tanpa respon akhirnya seseorang membukakan pintu rumah tersebut dari
dalam.
"L-lho..?
Floyd..?!" Adam terpAku diam memandangnya.
"Ya...."
Floyd menunduk kesal.
"Ada apa
kesini..?" Adam keluar dari rumahnya menggunakan kaos biasa.
"Ada yang
ingin Ku bicarakan.." Floyd menjawab pertanyaan Adam dengan sangat
tertekan.
Adam tidak
menjawab, Ia berjalan menuju sebuah bangku di pinggir pintu rumahnya. Dia duduk
lalu menepuk tempat kosong di sebelahnya, "sini duduk..." Panggil
Adam, satu kata ke kata yang lain.
Floyd berjalan
melalui gerbang yang sudah terbuka dari tadi, lalu mengambil tempat duduk
sebelahnya.
"Sebenarnya Aku--"
Floyd menunduk, menunjukan sebuah penyesalan.
"Kamu tahu..
Hidup ini sulit.. Menolong Mu adalah pilihan ku, jadi jika ada konsekuensinya
Aku yang harus menanggungnya.." Adam memotong perkataan Floyd sambil
tertawa.
"Tapi tetap
saja!!" Floyd membalikan badan kepada Adam secepatnya.
"Haha..
sudahlah jangan dibawa ke hati.." Tawa Adam mulai memudar.
Floyd kembali ke
posisi semulanya. "Malah Aku yang harusnya kesal.. Aku sudah diDO, terus
Aku tidak bisa menepati janjiku..." Adam menatap langit langit dengan
hampa.
"Bodoh..! Gak
gitu juga...!" Floyd memegang pundak Adam kencang kencang.
Adam menoleh dan
hanya memberikan senyuman. "Aku sudah dapet sekolah baru ko.. Walaupun
sangat jauh dari sini..." Dia mempertahankan senyumannya itu.
"Kalau
begitu..." Floyd melepaskan pundak Adam perlahan lahan. "Santai ajaa...
Nanti Kita bisa ketemu lagi kan..?" Adam tertawa lagi, Dia ingin terlihat
bahagia di mata Floyd.
"Gak ada
jaminannya..." Floyd tampak lebih murung lagi.
Adam menoleh ke
arah Floyd lalu memberikan jari kelingkingnya, "Aku berjanji Kita akan
bertemu lagi.. Pasti.. Kali ini takkan teringkari..", Ia tetap saja
mempertahankan senyumannya itu.
Floyd tak tahu
harus bereaksi seperti apa lagi, Dia sedih dan juga senang. Tapi tetap saja Ia memberikan
kelingkingnya lalu melakukan janji jari kelingking.
"Ya sudah..
" Floyd tertawa, melepaskan jari Adam lalu berdiri. "Aku pulang
dulu.." Floyd melangkah keluar pagar.
"Ya.! Hati
hati.!!" Adam menjawab dengan lantang.
"Selamat
tinggal.." Floyd melangkah menjauh dari rumah tersebut, tanpa menoleh dan
berkata apapun lagi.
Setelah hari
tersebut terlewatkan, semua hal tak terasa berlalu. Gordo dan yang lainnya tak
pernah mengganggu Floyd dan Ash lagi. Helen sudah mencoba menolong Adam tapi
kini sudah terlambat dan akhirnya Adam pun pergi keluar kota ke sekolah
barunya. Hari ke hari berlalu, Helen mulai melupakan kejadian tersebut, namun
Ash dan Floyd selalu mengingatnya.
Satu tahun berlalu
Ash dan Floyd sudah naik kelas. Ash menjadi kelas 1 SMP dan Floyd menjadi kelas
6 SD. Akhirnya belakangan ini Ash bisa memberanikan diri untuk menggunakan
kekuatannya, karena itu kini Ia bisa mengendalikannya.
Sifat dari Floyd
mulai berubah. Ia yang dulu penAkut, kini menadi lebih berani lagi. Floyd yang
dulu tergantung pada kakaknya sekarang mulai bisa sendiri, dan kini sifatnya
mulai menyebalkan terhadap Ash.
"Floyd.. Mau
liat kekuatan Ku ngga..?" Pagi pagi Ash menghampiri Floyd yang sedang
sarapan, selagi lain Helen sedang mandi.
"Mau..."
Jawab Floyd dengan santai sambil makan.
Ash mengeluarkan
api kecil dari tangannya membuat Floyd memandang api tersebut lama.
"Cuman gini
aja..?" Floyd melirik wajah Ash.
"HAAA..?!!"
Ash memadamkan apinya dengan kesal.
Kira kira seperti
itu percakapan pertama mereka tentang kekuatan Ash. Tetapi sampai saat ini
kekuatan dari Floyd masih tidak diketahui.
Satu tahun
berlalu, kini Ash berada di kelas 2 SMP, dan Floyd pun sekarang berada di kelas
1 SMP. Hari demi hari, Ash jadi lebih sering menggunakan kekuatannya untuk
menyombongkan diri dan menambahkan popularitasnya di kalangan para siswa.
Suatu hari saat
berada di lapangan sekolah, Ash terlihat sedang bermain basket bersama teman
temannya dan juga bersama Floyd. Pada saat shoot terakhir Ash membakar bola
basket membuat lemparannya lebih keren, menurutnya.
"Ash...!!!~"
Banyak anak perempuan yang menghampiri Ash dengan botol minum di tangannya
sambil berteriak.
"Ash..!!
Ambil air minum ini..!" Jauh tak jauh itulah yang dikatakan para
perempuan, berebut dengan murid lain.
"Iya iya..
Aku cuman cukup satu botol ko..!" Ash melirik ke arah Floyd lalu tersenyum
sombong.
Floyd sedang
memandang Ash balik merasa kesal melihat hinaannya yang sangat jelas.
"Ayolah Ash berhenti main main.." Floyd menggaruk kepalanya.
"Iyaa iyaa...
Tenang Flo.. Nanti Kamu juga dapat Fans---" Ash yang sedang berjalan
keluar lapangan bersama anak perempuan di belakangnya menoleh ke arah Floyd.
Namun karena tidak fokus Ia menabrak tiang basket yang berada di depannya,
membuatnya langsung terjatuh.
"Ash Kamu gak
apa apa.?!" Para anak perempuan, mengelilinginya dengan panik.
"Ya ampun tuh
kan..." Floyd perlahan menertawakan Ash. Lama lama Floyd dihampiri oleh
seorang perempuan dengan rambut merah panjang dan jepit rambut yang menempel di
pinggir poninya.
"Nihh..."
perempuan tersebut melemparkan sebuah botol air minum ke arah Floyd.
"Ups..?
Amie..? Makasih.." Floyd menangkap botol tersebut dari kejauhan.
Perempuan tersebut
adalah Amelia. Dia suka dipanggil teman temannya dengan sebutan Amie. Dialah
teman Floyd yang berbeda kelas. Amie adalah teman yang sangat dekat dengannya,
Ia selalu ada untuk Floyd walau sifatnya yang terkadang tak tertebak.
"Kamu iri
bukan sama Ash?.." Amie dengan datarnya berkata di sebelah Floyd.
"Berisik
lahh.. Malah kakakku cari perhatian banget jadinya ceroboh.." Floyd
menggaruk kepalanya lagi dengan kesal.
Amie perlahan
tertawa dengan menutupi mulutnya.
Hari hari mereka,
jauh tidak jauh berjalan seperti itu. Ash yang digemari banyak perempuan dan
juga Floyd yang selalu berada di sisinya.
Suatu hari, "Aku
pulangg..!!" Ash membukakan pintu depan rumah dengan semangat.
"Halooo.."
Floyd mengikuti Ash dari belakang memasuki rumah dengan menggunakan seragam.
"Selamat
datang.!" Helen membalas mereka sambil memberi senyuman lalu mengambil
suatu barang dari meja.
"Ini
ambilah..! Dua pakaian ini ibu yang bikin lho..!!" Helen menghampiri,
memberikan sebuah kemeja hijau dan juga syal merah kepada mereka berdua.
"Wah
keren..!!!" Ash langsung mengambil syal merah dan memakainya di sekitar
lehernya.
Floyd kemudian
mengambil kemeja hijau dan mencoba memakainya. Tetapi ternyata kemeja tersebut
sedikit terlalu besar baginya.
"Aduh...
Kegedean ya..?" Helen menutup mulutnya. "Ah engga ko bu..!! Nanti
juga cukup kok..!!" Floyd senyum senang.
Ash berlari,
mengambil jaket biru yang digantung dekat pintu lalu memakainya bersamaan
dengan syal tersebut.
"Keren
ga..?!" Ash tertawa, menunjuk Dirinya sendiri.
"Iya lah
gimana Kamu aja.." Floyd, sambil tersenyum kesal.
Waktu banyak
terlewati. Popularitas Ash entah mengapa mulai naik setiap harinya. Floyd
semakin dekat lagi dengan Amie sebagai sahabat baiknya. Namun sampai saat ini
Ia belum bertemu Adam lagi. Akhirnya satu tahun berlalu dan Ibunya pun tiba
tiba mengucapkan salam perpisahan kepada mereka.
"Ibu.. Mau
kemana..?" Tanya Ash saat pagi hari telah tiba, melihat ibunya yang sudah
berkemas membawa koper dari depan pintu kamar.
"Sepertinya
ibu akan pergi sementara waktu untuk mencari pekerjaan...." Jawab Helen
setelah menyadari keberadaan Ash dan Floyd.
"Tapi kan
bu.. Ibu bisa mencari pekerjaan sekitar sini kan..?!" Floyd membalas
ucapan Ibunya dengan tegas.
"Floyd... Ibu
sudah mencari seluruh pekerjaan disekitar sini.." Helen menunduk, tak
ingin memandang kedua anaknya.
"Kalau
begitu..! Biarkan Kami yang bekerja..!" Ujar Ash, mengeraskan kedua
tangannya, diikuti oleh Floyd yang mengangguk di belakangnya.
"Terimakasih..
Tapi Kalian harus fokus sekolah.. Nanti ibu akan suruh orang terpercaya ibu
untuk mengantarkan uangnya ok..?" Helen tersenyum kepada mereka berdua.
Tanpa berbicara lagi Dia membukakan pintu rumah dan melangkah keluar.
Di saat pintu
tertutup, Helen tak pernah kembali lagi ke rumah.
"Ash.. Apa
ibu akan baik baik saja..?" Tanya Floyd, memandang pintu yang baru saja
ditutup oleh Helen.
"Tentu..! Ibu
itu orang yang kuat..!" Jawab Ash dengan senyuman kepada Floyd, seperti
biasa Ia berusaha menenangkan adiknya.
Setelah setahun
berlalu lagi, perlahan lahan Ash dan Floyd pun menjadi mulai mandiri. Mereka
tinggal berdua di rumah tanpa ayah dan juga ibunya.
Saat hari libur
tiba, di pagi hari, "Oi Floyd..! Beliin sayuran sana ke pasar..!" Ash
melemparkan uang ke arah Floyd dari sofa dan Floyd yang sedang di dekat pintu
menangkapnya.
"Kenapa ga Lo
aja sih..? Nanti juga ujungnya Gw yang masak..." Floyd melirik kesal.
"Ya deh..
Nanti minggu depan Gw yang belanja.." Ash tertawa, Ia menggaruk kepalanya
pelan pelan.
"Ampunnn..."
Floyd menunduk malas.
Disaat itu Floyd
dan Ash memakai pakaian yang pernah dirajut oleh ibunya sendiri sebagai kenang
kenangan. Floyd segera keluar rumah dan memakai sepatunya di depan rumah.
"Duluan..!!"
Teriak Floyd kepada Ash yang sedang berada di ruang tamu dari luar pintu.
"Yaaa..!!" Balasnya sambil melambaikan tangan.
Floyd berangkat
menuju pasar yang berada tidak jauh dari rumah, untuk membeli sayuran yang
disuruh oleh Ash.
Saat dalam
perjalanan Ia melewati gedung gedung dengan gang gang kecil di antaranya, gelap
dan mengerikan walaupun itu pagi hari.
Tidak ada hal hal
aneh yang terjadi, Floyd tetap bejalan sampai suara lantang laki laki terdengar
membentak seseorang dari salah satu gang di sisi kanan.
"HAH..?!
KERJA YANG BENER..!!" Suaranya sangat terdengar sangat kencang. Walaupun
begitu tidak ada orang yang memperdulikannya.
Floyd juga tak mau
bermasalah dengan siapa siapa, Dia melewati gang itu tanpa menengok. Tapi tak
sengaja melihat wajah yang dikenal olehnya di ujung mata. Ia kembali mundur
beberapa langkah untuk melihat ke arah gang tersebut. Floyd terkejut, melihat
seorang yang berharga baginya.
"HAH..!"
ibunda dari Floyd dan Ash, Helen sedang tergeletak di pinggir gang tersebut
dengan kaki pria tersebut yang menginjak perutnya.
Floyd yang
terkejut hanya bisa berdiam diri dan memandang selama beberapa detik dengan ketAkutan.
Sampai akhirnya Ia memberanikan diri untuk menghampiri, walau tangannya
bergetar.
"IBU..!!"
Floyd berteriak, berlari. Namun Helen menyadari keberadaan anaknya, Ia menggunakan
kekuatan terakhirnya untuk membuat dinding api yang sangatlah tinggi dan besar
menghalangi gang tersebut dan menghalangi Floyd untuk masuk.
Floyd terhenti
tapi Dia masih tidak menyerah untuk menyelamatkan Ibunya. Dirinya memukul
tembok tersebut berkali kali membuat lengannya gosong terbakar.
"Ibu..!!"
Floyd yang terus menerus memukul dinding tersebut. Setelah mulai menyerah, Dia
melihat ke arah dinding yang Ia pukul tersebut. Ternyata tanpa disadarinya
sudah terukir sebuah kata dari api, berucap "Larilah, bertahanlah, jadilah
anak yang baik... Aku sayang Kamu dan kakak mu..".
Floyd meneteskan
air mata, menyesal karena tak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan ibunya.
Floyd dengan sekuat tenaga berlari kembali ke rumah mengabaikan apa yang disuruh
Ash.
Floyd berlari
kembali ke rumah dengan panik, kakinya tak dapat menjalankan langkahan yang
benar, air mata terus mengucur dari matanya. Saat Floyd tiba di rumah, Ia langsung
membanting pintu dengan tangan penuh luka api.
"Selamat
datang Floyd mana sayurannya..?" Ash berbicara dengan santai, saat
menengok ke arah pintu depan, Ia berdiri terkejut.
"Fl-floyd
tangan Mu kenapa..?!!" Ash berlari ke depan pintu. Floyd bersender ke
dinding kehabisan nafas.
Ash memegang dan
memeriksa lengannya. Namun Floyd langsung menarik lengan Ash dengan paksa.
"A-Ash..!!
Bantu Aku..!" Lengan Floyd bergetar.
"Tunggu
Floyd..! Apa apaan Kamu ini tangan Kamu terluka begini..!!" Bentak Ash, Ia
melepaskan genggaman tangan Floyd.
"Tapi..
IBU.." Floyd membentak balik dengan tAkutnya.
"Hah..?
HAH..?! Ibu..?!" Ash terpAku diam atas perkataan Floyd.
"Ibu
dimana..? Suruh ke rumah lahh..!" Ash yang tidak tahu keadaan, tertawa
dengan biasa saja.
"IBU DALAM
BAHAYA..!!" Floyd menarik baju Ash sekuat tenaga.
Ash yang ditarik,
berhenti tersenyum. Ia menatap hampa Floyd sementara waktu lalu menunduk entah
mengapa.
"Ash..?
Ash..?" Tanya Floyd perlahan, menarik dan mendorong baju Ash berkali kali.
"Kamu
bercanda.. Kan..?" Ash masih menundukan wajahnya.
"Ngga..!! Ibu
benar benar--" Floyd melepaskan baju kakaknya itu.
"Floyd waktu
itu Aku bilang bahwa ibu itu kuat kan..?" Tanya Ash perlahan lahan.
"Ya..."
Jawab Floyd, Ia mengepalkan tangannya keras keras.
"Kamu percaya
kan..?" Tanya Ash sekali lagi kepadanya.
"Tapi kak..!!
Ibu benar benar..!" Bentak Floyd, Dia sangat memerlukan bantuan Ash yang
mempunyai kekuatan.
Ash melangkah
perlahan menuju sebuah meja dengan telepon rumah di atasnya. Mengangkat telepon
lalu mengetikan sebuah nomor.
"Ya..?
Polisi.. Ada peristiwa darurat.. Mohon selidiki jalan menuju pasar.. Ya..
Terima kasih.." Ujar Ash kepada telepon tersebut sebelum Ia meletakannya
kembali.
"Ash--"
perkataan Floyd terpotong. "Sudah kupanganggil petugas pusat untuk
menyelamatkan ibu..." Jawab Ash menghadap ke dinding.
"KAKAK..! INI
IBU..!!" Floyd berteriak kepada kakaknya sendiri, dengan dipenuhi amarah
menghampiri Ash.
"Aku
tahu..." Ash tetap tidak mau memandang wajah adiknya.
"Kenapa..?!
Kenapa Kamu tidak mau membantu..!!" Nada ucapan Floyd terdengar lebih
pelan dari sebelumnya.
"Aku tidak
ingin kehilangan keluarga lagi.." Ash mengepalkan tangannya.
"Makanya..!!"
Bentak Floyd sekali lagi dengan lantangnya, mendekati kakaknya lebih dekat
lagi.
"Kamu takkan
mengerti.." Ash membalikan badannya kepada Floyd.
"Cih..!!
Logika Mu kacau..!! Biarkan Aku sendiri aja yang pergi..!" Floyd
membalikan badannya, dan langsung berjalan menuju pintu rumah.
Setelah beberapa
langkah Dia ambil, akhirnya Ash berbicara lagi kepadanya "Floyd
jangan.." Namun perkataannya diabaikan.
Karena
keinginannya untuk Floyd tidak pergi, Ash bertindak. Mengeluarkan semua yang Ia
telah tahan, semua api darinya Dia lancarkan. Semua jalan keluar seperti pintu
dan jendela tertutupi. Floyd langsung menengok ke belakang.
"FLOYD..!"
Kali ini kakaknya berani membentak.
"Ash apa
apaan..?!!" Floyd membanting tangannya dalam kobaran api.
"Aku.. Aku tidak
mau mengambil resiko.." Perkataan Ash mulai memelan lagi.
"Jelaskan..!"
Bentak tegas Floyd.
"Jika Aku ikut
dan gagal... Aku akan melihat ibu dalam bahaya.. Atau mungkin sampai
kematian... Jika Kamu ikut... Aku akan kehilangan segalanya..." Ash
menunduk dan berusaha menjelaskan isi hatinya.
"Tapi
Ash..!!" Floyd membantah, Dia tetap ingin menolong ibunya
"DIAM..!
Diam..." Tangan Ash mulai bergetar ketAkutan.
Floyd memandang
Ash, Ia mengerti perasaannya. Namun Dia tetap bertindak seperti kata hati.
"Ash..
Maaf..." Floyd berlari secepatnya menembus tembok api buatan Ash.
Ash yang melihat
Floyd pergi, langsung menghilangkan api dan mengejarnya dari belakang.
Ash melihat Floyd
dengan luka bakar di seluruh tubuh, namun entah mengapa kemeja buatan ibunya
tak terbakar sama sekali.
Floyd berhenti di hadapan
sebuah gang yang sebelumnya. Namun semuanya sudah terlambat.
Floyd terpAku
diam, para polisi sudah datang dan mengamankan sebuah mayat. Tanpa melihat
mayat tersebut pun Floyd sudah tahu bahwa itu adalah ibunya.
Laki laki yang
sebelumnya menginjak Helen pun sudah berada di tangan polisi.
Saat Ash sampai di
dekat Floyd, Dirinya langsung terjatuh di atas lututnya.
Dia memukul aspal
sekuat tenaga lalu berteriak, "AAAGGHHHH!!!". Ia kesal, Ia kecewa,
"Mengapa Aku tidak bisa menyelamatkan Ibu..?" Tanya Ash dalam hati.
Hari tersebut
menjadi hari yang paling tidak bisa mereka berdua lupakan, mereka pulang dengan
tidak ada harapan. Mereka berduka dalam waktu yang sangat lama, disaat itu
mereka harus benar benar hidup mandiri dengan mencari uang sendiri.
Semua hal buruk yang terjadi pada Floyd tidak hanya itu.
Waktu berlalu sangat banyak kini Floyd telah berumur 17 tahun.
"Huaaggghhh"
Floyd berjalan keluar kelas sepulang sekolah, melihat Amie yang sedang berjalan
di hadapannya.
Floyd pura pura
tidak melihatnya dan hanya berjalan melewati Amie. Namun Amie juga
mengabaikannya.
Floyd agak kesal
dan akhirnya berbicara kepada Amie yang kini di sebelahnya, "Kok
diem..??".
Amie menoleh dan
menjawab dengan wajah datar "Kamu juga diem kan?...".
"Iya
sih.." Floyd memandangi bingung.
Amie yang melihat
wajah Floyd sedang bingung, tertawa, "Iya iya deh.. Mau ngobrol
apa..?"
Floyd tersenyum,
mereka berdua berjalan pulang berdua. Di dalam perjalanan pulang, Ash juga
berjalan melewati tempat yang sama.
"Aduhhh...!"
Keluh Ash, Dia tampak sedang menggaruk kepalanya kesal.
"Ahhh..!!
Floyd..!!" Ash yang menyadari keberadaan adiknya langsung memanggil.
"Oii..!" Sautnya.
"Bukannya Kamu
harus berjaga..?" Floyd menoleh ke arah Ash yang sedang menghampiri
mereka. Floyd dan Amie tampak sedang saling menggenggam tangan walau keduanya
tak sadar.
"Ah ngga
kok.. Hari ini belum ada panggilan---", "ASH..!!!" Ash yang
sedang mengobrol dengan Floyd, tiba tiba mendengar banyak jeritan perempuan
yang berlari ke arahnya.
"A-ampun
dah..." Ash menunduk kesal lalu mulai melarikan diri lagi, tanpa
berpamitan dengan Floyd.
"Susah juga
ya jadi pahlawan termuda.." Amie menoleh ke wajah Floyd.
"Iya Ash
mempunyai terlalu banyak penggemar....." Floyd menunduk dan akhirnya
menyadari bahwa Ia sedang menggenggam tangan Amie.
Setelah sadar
Floyd langsung melepas tangan itu dan wajahnya mulai memerah.
Amie yang baru
sadar juga, mulai memerah wajahnya namun tak semerah Floyd. Amie berpura pura
tidak malu dan bertanya "Kenapa..?".
"H-hahh..?
Ngga ngga..." Floyd mengipaskan tangannya.
Floyd kini tumbuh
anak remaja yang sudah berpasangan dengan teman masa kecilnya Amie selama satu
tahun. Di sisi lain Ash baru saja lulus dari sekolahnya, dan kini memasuki
aliansi pahlawan dan menjadi pahlawan termuda yang sangat populer dikalangan
remaja.
Beberapa minggu
terlewati, Amie mengunjungi rumah Ash dan Floyd pada saat itu.
"Floyd.. mau
teh ngga..?" Amie memanggil Floyd dari dapur rumahnya. Ash pada saat itu
masih berpatroli keliling.
"Yaaaa
mauu..!!" Floyd menjawab dari arah ruang tamu.
Setelah beberapa
menit, Amie datang dari dapur membawa segelas teh untuk Floyd, Ia taruh teh
tersebut di atas meja depan sofa.
Floyd mengambil
secangkir teh tersebut lalu bangkit dari duduknya. "Mau diem di depan
rumah ngga...?" Tanya Floyd.
"Hmm..?
Hayu.." Amie melirik Floyd lalu berjalan duluan keluar rumah.
Floyd mengikutinya
dari belakang. Pada saat itu jam 8 malam, bintang bintang sudah menyinari bumi.
Floyd langsung
duduk di sebuah bangku depan rumah setelah melihat Amie yang duluan duduk.
Floyd menyesap tehnya
yang masih panas sambil memandangi bintang. "Indah bukan..?" Tanya
Floyd kepada Amie yang di sebelahnya.
"Floyd..."
Amie tidak menjawab pertanyaan itu, Dia hanya memanggil namanya saja.
"Iya..?"
Floyd melirik sedikit ke sebelahnya.
"Bolehkah Aku
bertanya sesuatu..? Tapi maaf kalau ini sedikit menyinggung..." Amie yang
biasanya suka bertindak cool tiba tiba berubah.
"Tentu
saja...!" Jawab Floyd dengan senang hati.
"Kenapa Kamu
bisa sebahagia ini? Setelah Kamu kehilangan ibu dan ayah mu..?" Amie
memandang Floyd dengan merasa kasihan.
Floyd memandang
wajah Amie sejenak lalu berkata, "Selain kehilangan kedua orang tuaku..
Aku juga kehilangan sahabat baik ku.. Namun Aku selalu berpikir, Aku masih
mempunyai orang orang berharga yang lain... Lebih baik jika Aku memikirkan yang
masih ada, dari pada bertindak putus asa kepada yang sudah tiada...".
Floyd memandangi bintang bintang, di sisi lain Amie hanya bisa memandang wajah
Floyd.
"Floyd, Aku mengenal
Mu dari kelas 1 smp... Aku sudah menjadi pacar Mu selama 1 tahun.. Dan Aku tahu
bahwa Kamu orang yang sangat luar biasa, itulah hal yang membuat Ku kagum
kepada mu.." Amie tersenyum malu.
"Aku tahu...
Aku juga mempunyai hal yang sama kepada mu.." Floyd tertawa sendiri.
"Tapi inget inget
deh wajah Kamu pas nembak Aku.." Amie menutup mulutnya sambil tertawa.
"Berisik
ah..!!!" Floyd menggaruk kepalanya kesal.
Jam Jam berlalu,
pada akhirnya hari semakin larut malam, Amie memutuskan untuk pulang sebelum
tengah malam.
"Anter Aku ya..."
Amie berjalan ke depan gerbang rumah Floyd.
Floyd mengikuti
Amie dari belakang setelah menutup nutup pintu dan gerbang rumahnya. Mereka
berjalan menuju rumah Amie yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi mereka
sekarang.
Setelah berjalan
dan mengobrol sepanjang pernalanan yang sepi dan gelap, mereka melihat sebuah
sosok yang menghalangi jalan.
Orang tersebut
tinggi, memakai jubah dan topeng di wajahnya.
Sosok itu hanya
diam menghalangi jalan, "Ayo lewatin aja.." Floyd memegang tangan
Amie lalu menariknya perlahan sambil menggiringnya melewati sosok itu.
Sesaat mereka
melewatinya, sosok misterius itu mengeluarkan pisau dan menebas ke arah Floyd.
Untungnya Floyd
sadar, Ia langsung menarik Amie untuk menjauh dari orang itu, serangannya
meleset.
"A-apa
apaan...?! Kamu siapa!!" Bentak Floyd, kesal. Ia tAkut Amie bisa terluka.
Orang itu diam
memandang Floyd tanpa menjawab apapun. "Sialan..!!" Floyd berdiri dan
menghalangi Amie.
"Kamu diam di
belakang..." Floyd melirik sedikit ke Amie yang berada di belakangnya.
Amie yang biasanya
cool kini tampak tAkut. "H-hati hati..." Amie hanya bisa mendukungnya
dari belakang.
"Ya.."
Pandangan Floyd kembali ke arah sosok misterius itu.
Orang itu berlari
menuju Floyd dengan cepat, mungkin melebihi kecepatan manusia biasa. Dia
memukul Floyd tepat di perutnya dengan kencang sesaat sudah dekat.
"Akh..!"
Floyd terpentalkan ke belakang, Amie untungnya berada sedikit di pinggir jadi
tidak terkena tubuh Floyd.
"F-floyd..!!"
Amie segera berlari ke arahnya dengan khawatir.
"Amie
mundur...." Floyd berdiri secepatnya di depan, melindungi Amie yang berada
di belakang.
"Apa maumu..?"
Lanjut Floyd sesaat Ia berdiri.
Seperti
sebelumnya, orang itu hanya diam memandang tanpa berbicara.
"Kami tidak
melakukan apapun..!" Teriak Floyd dengan terbawa emosi.
Orang itu sekali
lagi berlari ke arah Floyd secepatnya selagi Amie menunduk cemas. Sosok
tersebut langsung memukul Floyd berkali kali.
Floyd berhasil
menahan beberapa serangannya namun pada akhirnya Dia sudah tidak kuat, Ia mulai
melemas dan melepas tangannya membuat pukulan pukulan itu sampai pada dadanya.
Dia menunduk
kesakitan membuat sebuah lahan terbuka untuk semua serangan. Akhirnya orang
tersebut memutuskan untuk mengakhirinya dengan pukulan kencang tetapi,
pukulannya tiba tiba tertahan oleh lengan kanan Floyd dan tangan kirinya
meninju perut orang itu disaat bersamaan.
Ia terpukul mundur
kesakitan dan Floyd berdiri memandangnya dengan kecapean.
Namun rasa sakit
itu terasa sebentar bagi manusia aneh itu, Dirinya lekas berdiri tegak dan
mengeluarkan sebuah pistol dari balik jubahnya.
Menarik pelatuknya
ke arah Floyd, untungnya Dia berhasil menghindar. Namun hal itu membuat Amie
tak terlindungi sama sekali.
Manusia itu segera
berlari menuju Amie, sebelum disadari Floyd. Dia menahan leher Amie dengan
lengannya lalu pistol di kepalanya.
"AMIE..!!"
Floyd berteriak dengan penuh amarah dan kecemasan.
Orang tersebut
melambaikan tangannya yang satunya ke arah Floyd, menunjukan bahwa Dirinya harus
mendekat.
"Lepaskan
Dia..!!" Floyd membentak sekali lagi, namun manusia itu tetap melambaikan
tangannya.
Floyd yang sadar
langsung memberikan senyumaN terpaksa, "Ah... Jadi seperti itu..?" Ia
berjalan mendekati Amie.
"Jangan
Floyd....!" Bentak Amie, matanya mulai berkaca kaca.
"Jangan...!!!!" Lanjut Amie.
Sosok tersebut
menunjuk ke permukaan di hadapannya, lalu Floyd berhenti di sana. Dia
mengarahkan pistolnya ke kepala Floyd tanpa ragu.
"Amie..
Terimakasih.." Floyd membukakan tangannya lebar lebar selagi tersenyum.
Namun sebelum
pelatuk ditarik, Amie menggigit tangan yang menahannya. Tentu tahanannya
langsung terbuka dan Amie langsung berlari ke hadapan Floyd menghalangi arahan
pistol.
Namun sosok itu
tetap saja menarik pelatuk dan akhirnya tidak mengenai Floyd melainkan Amie. Ia
terjatuh, langsung menutup usia dengan sekejap karena mengenai kepalanya.
"A-AMIE..!!"
Floyd berlari menuju Amie tanpa berpikir panjang.
"A-amie
amie... Jawab Aku..." Floyd menahan kepala Amie sambil perlahan menunduk.
"Amie...
Amiee..." Floyd meneteskan air matanya ke wajah Amie. Namun tiba tiba
cabang cabang kayu mulai tumbuh dari dalam punggungnya, merambat ke seluruh
tempat.
Orang tersebut
tetap tidak bereaksi, memandang selagi masih mengarahkan pistolnya.
"AMIEE..!!!"
Floyd dengan penuh amarah segera melajukan 3 cabang kayunya ke sosok tersebut.
Satu mengenai perutnya, satu mengenai pundaknya dan satu meleset namun dapat
memotong tali topengnya, menunjukan wajah asli sosok itu.
Floyd syok,
Dirinya terpAku memandang wajah tersebut. "A-adam...?" Air matanya
mulai bercucuran karena bingung.
"Ah.. Halo..
Floyd.. Maafkan.. Topeng bodoh ini mengendalikan ku.." Adam dengan kayu di
perutnya memaksakan diri untuk berbicara.
"K-Kamu..
HARUSNYA Aku YANG MINTA MAAF..." Floyd membentak dengan emosi.
"Kalau aja...
Aku membuka topeng Mu lebih awal..." Dia menarik bajunya sendiri kesal.
"Pokoknya..
Aku minta maaf... Tapi benerkan Kita tetap bertemu lagi..?" Adam tersenyum
walau dari mulutnya meneteskan darah.
"Tidak
TIDAK... Tolong setidaknya Kamu jangan mati.. ADAM HIDUP..." Floyd
menangis lebih deras lagi.
Adam memberikan
senyuman lagi "Maaf.. Aku tidak bisa melindungimu.." Matanya mulai
lemas dan akhirnya tertutup, tidak akan terbuka lagi.
"A-adam..?
ADAM.." Floyd menarik kayunya dari tubuh Adam lalu mendekati jasadnya
perlahan, sambil menggendong Amie.
Memeluk mereka
berdua erat erat di sampingnya selama air mata terus bercucuran.
"Ada apa
ini..!" Aliansi pahlawan yang sedang berpatroli sontak melihat Floyd
dengan kayu berlumuran darah dan 2 jasad di tangannya.
"F-floyd..."
Ash yang sedang berpatroli juga terpAku diam, dalam hati Dia memanggil nama
adiknya.
Floyd diam
memandang mereka tanpa berkata kata, Ia tAkut, Ia tak tahu harus berbuat apa
apa.
"WOI KAMU..."
Orang orang aliansi langsung mengarahkan senjata mereka ke arah Floyd yang tak
memiliki harapan.
Namun Floyd
melihat wajah kakaknya yang perlahan berbicara tanpa suara.
"Apa?--"
Floyd bertanya pada Dirinya sendiri.
"Larilah dari
sini..." Ucapan bibir Ash terbaca olehnya. Dirinya sempat terkejut namun
tetap saja melakukannya.
Floyd membaringkan
Amie dan Adam di atas permukaan tanah. Berdiri lalu memandang Ash terakhir
kalinya. Dia segera berlari dan melompat dari atap ke atap meninggalkan tempat
itu dengan bantuan kayunya.
"TUNGGU..!"
Para aliansi berusaha mengejarnya, namun tidak ada yang bisa.
Ada juga yang langsung menolong Amie dan Adam. Namun Ash hanya memandang
adiknya pergi, berpikir apa mereka akan bertemu lagi.
Hari hari, minggu
terlewati. Floyd tetap saja berjalan. Setelah banyak hal dilalui, akhirnya Dia
sampai di sebuah kota jauh yang dipenuhi oleh puluhan bahkan ratusan kriminal
dan juga orang orang buangan. Floyd mungkin berniat untuk tinggal disitu, tetap
berjalan dan berjalan dengan lesu.
"Yo..! Bocah
kayak Kamu ngapain disini..?!" Seorang pria dengan topi berbulu menyaut
Floyd, selagi perlahan mendekati nya.
Floyd tidak
menjawab, melainkan tetap berjalan mengabaikannya.
"Woi woii..!!
Jawab lah..!!" Pria tersebut tetap mengikuti Floyd dari belakang.
"Apa keperluan
Mu hah..?!" Floyd menengok ke arah nya. Matanya melirik lalu menatapnnya
dengan mata yang penuh dendam, walaupun pria tersebut tak melakukan apa apa.
"Mata itu...
Mata yang sama dengan Ku ketika Aku kehilangan istriku..." Dia tersenyum.
Floyd yang melihatnya berhenti sejenak.
Floyd terkejut
"Maaf" Ucapnya. Dia melanjutkan perjalanannya, mengabaikan orang
tersebut lebih lama lagi.
"Woiii..!!
Tunggu lah di sini bahaya mening ikut sama Aku..!" Pria itu tetap saja
mengikuti Floyd dari belakang, tanpa alasan yang pasti.
"Apa
sihhh..!!" Floyd berhenti dengan kesal, menghentakan kakinya lalu melirik
ke belakang.
"Nah gitu
dong.. Mau ga Kita nongkrong dulu di bar..?" Laki laki itu memegang
pundak Floyd.
"Aku belum 21
tahun.." Floyd melepaskan tangan pria itu dari pundaknya.
"Sudah lah
pesan lah soda atau apalah..!" Ia tertawa membalas perkataan Floyd.
Mereka berdua
berjalan bersama menuju bar yang letaknya tak jauh dari lokasi mereka saat ini.
Mereka tiba dan
segera memasuki bar tersebut, isinya hanya segerombolan orang dengan senjata
dan tatoo.
"Kenapa anak
muda sepertimu bisa ada di sini ha..?" Pria itu mengambil sebuah kursi
dekat bartender.
"Aku membuat
sebuah kesalahan.." Floyd menjawab, perlahan duduk di sebelah orang yang
baru Dia temui itu.
"Semua orang membuat
kesalahan..." Ia merespon, tangannya melambai lambai untuk memanggil
bartender.
"Ini adalah
sebuah kesalahan yang sangat besar.." Floyd menghela nafasnya besar besar.
"Pesen Broola
2.. Yah Kamu bisa memperbaikinya.." Perhatian pria itu sempat teralihkan
dan akhirnya berbicara pada Floyd lagi setelah memesan minuman.
"Kesalahan Ku
tak bisa diperbaiki... Dan apa itu Broola..?!" Floyd tampak murung, namun
Dia tetap saja bisa menyelipkan sebuah pertanyaan.
"Ah itu Soda
tenang... Ya sudah abaikan.. Apa yang telah Kamu lakukan..?" Ia menoleh
kepada Floyd berusaha untuk menyimak dengan serius.
"Sahabat Ku membunuh
pacar ku, lalu Aku membunuhnya.. Namun ternyata Dia hanya dikendalikan.. "
Floyd memandang hampa meja di hadapannya.
"Dikenalikan...."
Pria itu diam sejenak.
"Ada
apa..?" Floyd menoleh ke arahnya, kebingungan.
"Ah
maafkan... Aku juga seperti itu.. Istriku dibunuh oleh seorang pembunuh.."
Laki laki itu memandang Floyd dengan pilu.
"Maaf..."
Floyd memalingkan wajahnya dari pria itu.
"Ah sudah
sudah..." Bartender meletakan dua gelas minuman tepat di hadapan mereka
berdua.
"Oh ya.. Namaku
Tim salam kenal..!" Tim mengangkat gelasnya, tersenyum.
"Aku
Floyd.." Mereka membenturkan gelas bersamaan, mungkin biasa disebut
cheers. Kemudian mereka langsung meminumnya bersama sama.
"Mm..
Enak.." Ucap Floyd perlahan lahan.
"Yakan..!"
Tim menyenggol dengan senang.
Mereka berdua
terus berbincang bincang sampai malam hari datang. Setelah berbicara, akhirnya
Floyd memutuskan untuk tinggal dirumah Tim untuk sementara waktu.
"Oi Floyd
tahukah Kamu..?" Tim bertanya kepada Floyd. Kini setengah tahun berlalu,
mereka sudah sangat bersahabat. Mereka berdua baru saja pulang dari tempat
magang.
"Hah..?"
Floyd menengok ke arahnya bingung.
"Rumornya ada
portal yang membuat Kita bertemu dengan pembut Kita lho..! Tapi sih belum ada
kepastian..." Tim menunjukan jari telunjuknya.
"Wah..
Benarkah..? Aku ingin tahu seperti apa Dia.." Floyd menjawab dengan
polosnya.
"Hah..? Kamu
ga dendam gitu..?!!" Tim terkejut, berhenti sejenak dari langkahannya
"Hahh..?"
Floyd yang sedang berjalan pun ikut berhenti.
"Bukannya
pembuat Mu yang membuat Mu mempunyai hidup seperti ini..?!" Tim membentak
Floyd seakan akan kesal kepadanya.
"Aku tak pernah
memikirkan itu... Memang Aku sudah melewati banyak hal..." Floyd menunduk
dan berpikir.
"Ya kalau
begitu mari Kita serang mereka...!!" Tim tertawa sambil menunjuk Dirinya sendiri.
"Nanti akan
Ku pikirkan lagi.." Floyd memalingkan diri dari hadapan Tim lalu kembali
berjalan.
"Woii
tunggu..!!" Tim mengejarnya dari belakang setelah sadar.
Informasi tentang
portal tersebut telah dipikirkan oleh Floyd setiap saat sejak percakapan itu.
Tanpa Tim sadari Dia telah mengumpulkan informasi lebih dalam lagi tentang
portal tersebut.
"Tim.. Antar Aku.."
Floyd yang baru saja pulang magang mengajak Tim.
"Mau
apa..?" Tim bertanya kebingungan.
"Ikut
dulu.." Floyd menuntun Tim menuju sisi kota kriminal itu. Floyd memasuki
sebuah kedai yang aneh di pinggir jalan, bersama dengan Tim di belakangnya.
"Apa tempat
ini..?" Tim masih saja bertanya kebingungan. Di dalamnya terdapat banyak
alat alat sihir dan kertas kertas aneh.
"Ah ada
tamu..." Ada orang yang keluar dari tirai ujung ruangan, Ia memakai jubah,
rambutnya dipenuhi dengan rambut rambut putih. Namun wajahnya muda.
"Ya.. Saya
mau mempelajari Legacy.." Floyd menunduk.
"Apa apaan Kamu
ini..?! Mau belajat Legacy buat apa..??" Tim menoleh dengan keanehan, nada
bicaranya naik.
"Hanya untuk
berjaga jaga.." Balasnya.
"Ayo ulurkan
tangan mu... Masalah pembayarannya bisa Kamu lakukan kapan saja.." Jawab
pria di kedai tersebut.
Floyd mengulurkan
tangan kepadanya. Tangannya itu mulai bersinar terang, ini adalah tahapan
tahapan mudah tidak perlu memakan waktu yang lama sama sekali. Akhirnya semua
itu selesai, Floyd melakukan pembayaran dan meninggalkan kedai itu dengan ilmu
baru.
Pada akhirnya
berbulan bulan berlalu mereka lewati tanpa disadari dan dirasa. Walau hanya
berbulan bulan, Floyd kini sudah berumur 18.
"Yha
perempuan yang tadi cantik juga..!!" Tim menyenggol Floyd dalam perjalanan
pulang dari bar setelah magang.
"Halah apa
sih isi pikiran Mu itu..?" Floyd melirik sedikit dengan kesal.
"Cewe.."
Mereka berdua tertawa kencang, bahagia layaknya sahabat. Namun tahu tahu
segerombolan pria bertubuh besar menghalangi jalan mereka. Anehnya seragam
mereka semua terlihat familiar di mata Floyd.
"S-seragam
itu.." Floyd berhenti sejenak dan menyisi.
"Kenapa
emang..?" Tanya Tim, bingung.
"Seragam
mereka terlihat familiar.." Lanjut Floyd, menatap segerombolan pria itu.
"Mereka
adalah orang orang yang buruk.. Tentara utusan sebuah lab pemerintah.. Mereka
sering menculik orang pintar, dan juga menjadikan orang sebagai tikus
percobaan.." Tim juga bertatap kesal.
Floyd menyadari
sesuatu, mengapa seragam itu terlihat sangat familiar. Seragam tersebut adalah
seragam orang orang yang pernah menculik ayahnya pada saat itu. Pupil matanya
mengecil, stress. Dia menghampiri mereka tanpa berpikir panjang sama sekali.
"T-tunggu
bodoh apa yang Kamu lakukan..!!" Tim menyautnya dari belakang, meraihnya.
"Hei.. Apa
yang Kalian telah Kalian lakukan kepada ayah ku..?" Floyd memegang salah
satu pundak mereka dari belakang.
"Hah..? Apa
apaan bocah..?!" Orang itu menoleh ke belakang.
"Oh..? Kamu..?"
Lanjutnya, Ia ingat akan wajah Floyd.
"Jadi Kamu
anaknya Ethan..?! Hahahaaha..!!" Dia tertawa sekencang kencangnya.
Floyd hanya bisa
menatapnya dengan kesal. Di sisi lain salah satu tentara lain menghampiri mereka.
"Iyaa.. Kan
topeng prototype buatan Ethan ditargetkan ke bocah ini oleh boss..!" Orang
satunya lagi tertawa.
Floyd menatap
lebih tajam lagi, dendam meluap luap dalam hatinya, tangannya Ia kepalkan keras
keras sampai menyakiti Dirinya sendiri.
"Oh yang lebih
aneh lagi orang yang dipasangkan topengnya itu kenalannya.. Waa Kamu selamat
ya, beruntung..!" Mereka lanjut tertawa, tanpa menyadari keberadaan Floyd.
"Floyd..."
Tim dari kejauhan memandang Floyd, Dia tahu hal ini akan berakhir buruk.
"Kamu.. Apa
apaan.." Floyd memandang mata orang orang disitu dengan hampa. Dia
teringat kembali semua hal yang telah dilaluinya.
Tanpa hesitasi,
Floyd mengeluarkan kayu kayunya, melancarkannya kepada dada semua orang
berpakaian tentara yang ada di sana. Floyd menarik kembali kayunya lalu menatap
rendah mereka yang terjatuh.
"Tim... Aku akan
pergi.." Floyd menunduk mendekati Tim
Tim menjawab
kepadanya, "Ku tebak... Mencari portal..?".
Floyd yang
memandangnya hanya mengangguk, selagi hujan perlahan turun dari atas mereka.
"Akan Ku wakilkan
Kamu Tim..." Lanjut Floyd, meraih tangan Tim.
Tim menjabat
tangan temannya itu, "Ya.. Balaskan dendam pembuat mu.." Dia
tersenyum.
Keesokan harinya
Floyd mengemas semua barangnya yang berada di rumah Tim termasuk kemeja hijau kesayangannya.
Setelah
mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya yang telah berada di sisinya selama
satu tahun. Dia segera melangkah dan meninggalkan kota tersebut di sore hari,
kembali menuju kota dimana Ash berada.
Walau Floyd
membutuhkan 1 minggu untuk sampai kota dimana Dia berada sekarang dari rumah
Ash. Namun ternyata Ia berjalan dengan terbelat belit sehingga menempuh jalan
yang jauh. Jalan yang sebenarnya hanya membutuhkan 1 hari.
Kebetulan Ash
sedang menjalankan misi bersama teman pahlawannya di hutan yang berada
dipinggir kota, saat Floyd berjalan.
Untuk sampai ke
kampung halamannya, Floyd harus melewati hutan dimana kini Ash sedang
menjalankan misi. Saat berjalan melewatinya Floyd melihat Ash sedang duduk di
atas potongan kayu dekat api unggun sendirian.
Floyd yang sadar
akan keberadaannya segera menghapirinya sedang beristirahat.
Suara semak semak
terdengar oleh Ash, Ia menoleh ke arah sumber tersebut. "F-floyd..?!"
Dia memandang wajah Floyd yang baru saja muncul. Terkejut dan segera
menghampirinya.
"Apa yang Kamu
lakukan disini..?!" Ash membentaknya perlahan.
"Tidak apa
apa... Aku disini untuk menepati janjiku untuk melindungimu..." Floyd
memberikan senyuman terpaksa, namun tulus.
"Aku tahu
satu tahun sudah terlewati, tetapi Kamu telah menjadi buronan..! Jika Kamu
terlihat oleh para pahlawan yang lainnya Kamu bisa saja ditangkap.....!"
Ash rindu, namun kesal disaat yang bersamaan.
"Kenapa Kamu
seperti mengusir ku..?" Floyd terpancing perkataan Ash, Dia mulai kesal
juga.
"Haduh... Bukan
seperti itu.. Aku ingin Kamu selamat..." Jawab Ash sesudah, menghela
nafasnya.
Floyd menuruti
perkataan kakaknya, Ia melangkah satu kaki ke kaki yang lainnya, keluar arena
perkemahan tersebut.
"Ash.."
Langkahan Floyd berhenti sejenak. "Tenanglah akan Ku bunuh Koraya dan Kita
akan hidup bahagia.." Floyd melanjutkan perjalanannya tanpa menoleh
ataupun berhenti.
"Apa.. Hah..!
Tunggu..!!" Ash meraihnya, berjalan secepatnya tapi pada akhirnya para
pahlawan lain datang memanggil Ash dari belakang sehingga tak sempat mengejar
Floyd.
Setelah malam itu
berakhir Floyd kembali berjalan. Karena urusan utamanya kembali ke kampung
halaman untuk menemui Ash sudah terpenuhi, Ia langsung melewatinya dan pergi
menuju sebuah gurun pasir yang berada di sebelah timur kampung halamannya.
Padang pasir
dilewatinya, berhari hari terus berjalan. Dia sudah mempersiapkan hal ini
secara matang matang sehingga bisa melewati gurun pasir tersebut dengan
selamat.
Floyd berjalan
jalan selama satu hari penuh di sebuah desa kecil di ujung gurun. Mencari sebuah
artifak yang rumornya digunakan untuk membuka portal. Berdasarkan penelitian
Floyd, lokasi artifak tersebut diketahui oleh rakyat desa itu.
Setelah bertanya
tanya selama beberapa jam, akhirnya Dia mendapat informasi tentang sebuah piramida
di tengah gurun yang konon memiliki artifak tersebut.
Ia kembali
berjalan melewati gurun tersebut menuju dan menemui sebuah piramida, setelah 1
setengah hari berjalan.
Sesampainnya, Dia
segera memasuki dan melewati labirin yang diperlukan satu hari penuh
hanya untuk melewatinya. Akhirnya Floyd berhasil mendapatkan artifak tersebut
yang berada tepat di ruang atas piramida tersebut, anehnya tidak ada jebakan
sama sekali.
Keluar dari
piramida tersebut melalui pintu yang tiba tiba terbuka. Kembali melewati
melewati gurun dan tiba sebuah hutan di bagian selatan kampung halamannya.
Hutan tersebut adalah tempat yang konon portal dimensi berada. Seluruh cadangan
minuman dan makanannya kini telah habis dipakainya, tubuhnya sudah kelelahan.
Setelah berjalan
jalan tak lama, akhirnya Ia menemukannya. Memandangi sebuah portal bundar dari
batu dengan tulisan tuisan kuno di sekelilingnya. Di tengahnya terdapat pilar
dimana ada lubang di tengahnya yang mungkin berupa tempat ditaruhnya artifak.
"Ini untuk kalian...."
Floyd berjalan mendekati pilar tersebut, tanpa berpikir panjang menaruh artifak
diatasnya.
Artifak tersebut
bersinar terang dan portal hampa itu mulai bercahaya biru dengan tekanan angin
yang besar yang membuat Floyd hampir terpental saat detik detik pertama.
Floyd memandang
portal itu sejenak, namun mendengar suara retakan dari atas portal yang hampir
runtuh, Floyd terkejut dan bergegas memasuki portal tersebut tanpa ragu.
Tanpa disadarinya,
Ash mengintip dari belakang pohon. Setelah mengetahui Floyd ingin menemui
Koraya, Dia mencari informasi dan berkemah di dekat portal selama 2 hari.
Setelah Floyd
memasuki portal, Ash mengejarnya dari belakang. memasuki portal dengan resiko
meninggalkan semua hal yang Dia punya di belakang, statusnya, kepahlawanannya,
dan lain lain, hanya untuk adiknya itu.
Saat mereka berdua
telah masuk, portal tersebut runtuh menutup jalur antara dimensi Floyd dengan
dimensi Koraya.
Saat Ash sampai,
Floyd sudah tak ada di hadapannya, mungkin sudah pergi mencari Koraya terlebih
dahulu. Ash langsung memfokuskan diri untuk mencari Koraya dan melindunginya
sebisa mungkin. Di sana Dia mencari informasi sebisanya dan akhirnya menemukan
asal sekolahnya.
Dari sana
pertemuan Ash dan Koraya dimulai, pertarungan Ash dengan Floyd juga. Sampai
sampai Koraya dan Ash pun mulai mengembalikan hatinya. Sampai pada akhirnya
Floyd mempunyai keluarga di rumah barunya yang membuatnya mengetahui kembali
siapa sebenarnya Floyd itu.
Semua memori
kehidupan terlintas di kepala Ash, Ia merasa semua ingatan tersebut adalah
miliknya sendiri. Ia merasa bahwa jiwanya dan jiwa Floyd telah menjadi satu
kesatuan.
Tanpa disadarinya
semua kilasan ingatan tersebut sudah ternanam dalam benaknya. Setelah menjalani
kehidupan yang terlintas, Dia pun sampai di sebuah ruangan hampa berwarna putih
yang sangatlah luas sampai tak terlihat ada ujungnya.
Ash yang baru saja
tiba langsung melihat sosok adiknya yang seharusnya sekarang sedang berada di
medan tempur. Kini Floyd memandang wajah Ash dengan hampa.
"F-floyd..!"
Ash segera berlari ke arah adiknya, langsung memeluknya dari depan.
"Maafkan..
Maafkan Aku..!!" Ash meneteskan air matanya, tetes demi tetes.
"Hahaha.. Ash
Kamu tahu saat Kita pertama kali bertemu Kamu memeluk Ku seperti ini..?"
Senyum Floyd selagi melepaskan lengan Ash yang di sekitarnya.
"Nah
Ash.." Floyd memegang kedua pundak Ash.
"Ku serahkan
semuanya kepada Mu ok..?" Floyd tersenyum dengan tulusnya, terukir sekali
di wajahnya banyak makna dari senyuman itu.
"T-tunggu apa
apaan sih Kamu..! " Ash membantahnya, Menghapus air mata yang ada di
pipinya.
"Jangan
membohongi dirimu sendiri.. Kamu tahu ini kenyataan..." Jawab Floyd dengan
pelannya, namun tegas.
"Tch..."
Ash menunduk dan hampir mengeluarkan air mata lagi, tapi Floyd mengatakan
sesuatu sebelum Ash dapat menangis.
"Seorang
kakak tidak boleh menangis... Kata tersebut sering Kau ucapkan saat
dulu.." Perkataan Floyd membuat, Ash yang asalnya menunduk mengangkat
kepalanya dan kini memandang wajah adiknya.
"Flo..."
Ash memanggil nama panggilan adiknya.
"Oh iya Ash..
Aku sudah melindungimu jadi janjiku sudah beres ya..!" Floyd tertawa.
Ash yang murung
tiba tiba tersenyum "Ya..! Tinggal giliran Ku untuk melampauimu..!".
Floyd tertawa,
memutarkan tubuh Ash ke arah yang berlawanan lalu mendorongnya.
"Kalau begitu
sana lampaui Aku...!" Floyd tersenyum lebar dari bekakang.
"Tapi..!! Aku
ingin menetap lebih lama..!" Ash menoleh ke belakang, menyaut dengan
lantang.
"Pergilah..
Mereka masih bertarung diluar sana..!" Floyd menunjuk kakaknya.
Ash memandang
Floyd untuk terakhir kalinya, matanya berkaca kaca, Ia tersenyum dengan paksa
lalau berkata "Aku duluan Floyd..!".
"Ya..!!"
Floyd tersenyum lalu Ash berlari menuju jalan tanpa ujung tersebut.
Red Aura saga
Part 6 : The conclusion
Mata
Ash yang selama ini terpejam saat pertempuran terjadi, akhirnya terbuka.
Dia melihat Floyd
yang sudah kehilangan nyawa tepat di hadapannya, dengan tangan Floyd yang Ash
sedang genggam perlahan Ia taruh di atas dada adiknya.
"Terima
kasih... Selamat tinggal.." Ash melepaskan tangan Floyd lalu berdiri,
menghadapkan diri ke medan pertempuran.
Ia berdiri tepat
depan Habiki yang sedang menunduk pilu, menggendong Ender yang tak sadaran diri
hingga sekarang.
Di depannya Dia
melihat Light yang sudah sangat babak belur dan juga Austin yang bertarung di
belakangnya dengan lebih sedikit luka.
Di hadapan mereka
ada Nicholas yang tertawa sinis kepada Ash dengan luka yang sangatlah minimum.
"Oh tampaknya
sang pahlawan sudah mendapatkan banyak tidur.. " Nicholas melirik Ash setelah
menyadari keberadaannya.
"Ash..! Kamu
sudah bangun ayo Kita lawan Dia bersama..!!' Austin membuka bukunya sekali
lagi.
Ash berjalan
melewati Austin, menghalangi jalannya, dan mengangkat tangan memberi tanda
bahwa Dia tak perlu ikut campur.
"Red Aura..
Akan kubuktikan pada Floyd bahwa Aku bisa melampauinya.... Dan akan Ku bunuh.. Kamu..."
Ash menatap hampa Nicholas. Mengeluarkan kayu kayu dari setiap sudutnya lalu
menyelimutinya dengan api tanpa membakarnya.
"Wah luar
biasa..!!!" Nicholas tersenyum sinis, sambil menunjuk ke arah Ash yang
sedang memandanginya dengan dendam.
"Jangan sok
keren Ash---" Austin membanting tangannya. Namun, "Biarkan Aku melawannya
sendirian..." Austin yang berusaha membantu ditolak mentah mentah oleh
perkataan Ash.
Ash menunjuk
Nicholas dengan tangan kanannya, terlihat jelas dari gerakan badannya Ia sedang
dipenuhi dengan benci. Menjentikan jarinya lalu banyak serpihan kayu yang terbang
dengan kencang ke arah Nicholas. Serpihan tersebut berasal dari kayu yang sudah
tumbuh di punggung Ash.
Nicholas berhasil
menangkis serangan serangan asalnya, tapi lama kelamaan serangan Ash menjadi
lebih cepat lagi membuatnya mulai kesusahan dan menerima banyak serangan.
"Cepatnya--"
Sebelum Dia sadar, Ash sudah berada tepat di hadapannya dengan kayu kayu yang
diselimuti api mengarah ke wajahnya.
Kayu Ash
menyerangnya tanpa ampun dengan kecepatan tinggi. Nicholas tak bisa kabur, Dia
hanya bisa menangkis sebisanya dengan tentakelnya.
Tanpa
sepengetahuan Nicholas untuk kedua kalinya, salah satu kayu Ash Ia kubur ke
dalam tanah, menggali ke belakang untuk melancarkan serangan kejutan.
Kayu itu keluar
disaat Nicholas menangkis kayu yang di hadapannya. Namun Dia tak tertipu. Ia sadar
akan itu dan menangkis kayu tersebut dengan salah satu tentakel yang tidak
digunakan.
Tapi ternyata
itulah jebakan Ash yang sebenarnya. Konsentrasinya terpAku pada satu kayu di belakangnya.
Ash menaikan kecepatan serangan kayunya yang menyerang dari depan, menjadikan
Nicholas lengah dan menerima banyak serangan fatal kepada seluruh bagian
tubuhnya.
Nicholas yang
kesulitan, terpaksa menahan kayu Ash dengan cara melilitkan tentakelnya di
sekeliling kayu. Lalu mendorongnya mundur untuk membuat sebuah jeda untuk
istirahat di tengah pertarungan.
Nicholas terlihat
sangat kelahan, Dia mendapat banyak luka fatal. Memegang lengan kirinya dengan
lengan kanan, karena mendapat luka terbanyak adalah lengan kirinya. Tapi
setelah semua itu Nicholas tetap tersenyum, layaknya seorang orang gila.
"Lah kenapa Kamu
tidak beregenerasi..?" Tanya Ash, Memandang rendah Nicholas, matanya
melirik ke wajahnya dengan hina.
"Apa mungkin jika
Kamu beregenerasi kecepatan.. Kekuatan.. Dan ukuran tentakel Mu berkurang..?"
Ash memotong sebuah serpihan kayu dari punggungnya lalu melemparkannya ke
arah Nicholas, kayu tersebut melayang kencang dan cepat.
Dia tinggal
menggerakan sedikit tubuhnya untuk menghindari serpihan kecil itu, tetapi saat
serpihan kayu tersebut menancap pada tanah, kayu itu meledak mengeluarkan api
membara dalam jangkauan yang besar.
Light, Austin, dan
Habiki menutup matanya karena terkejut. Ledakan tersebut membuat asap muncul,
menutupi pandangan dimana Nicholas berada.
"HAHAHA...!
Pengguna dua elemen mendadak memang luar biasa..!!!" Dia tertawa dari
dalam kabut asap itu.
Perlahan asap
memudar menunjukan Nicholas dengan setengah luka lukanya pulih dan tentakelnya
yang kini kembali memendek, jauh lebih pendek dan kecil dari sebelumnya.
"Mari Kita mulai
serius demi adik Mu itu..." Nicholas mengangkat rambutnya dengan senyuman.
Nicholas
menjulurkan lengan kanannya ke arah Ash, disaat yang bersamaan semua
tentakelnya menghilang ditarik kembali.
Ash sudah
menyangka bahwa itu adalah jebakan, namun Dia tetap saja berlari ke arah
Nicholas dengan api yang memenuhi tangannya dan kayu yang melindungi
punggungnya.
Nicholas yang
menyadari serangan Ash, mengeluarkan satu tentakel panjang dari telapak
tangannya. Ia melompat mudur dan mengayunkan tangannya supaya tentakelnya
menyerang seperti cambuk.
Ash gagal
menyerangnya, melompat dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri terus menerus
untuk menghindari serangan tentakel tersebut.
Setelah beberapa
serangan, tentakelnya menyerang Ash dari arah yang merepotkan membuat Ash tak
mempunyai waktu untuk menghindar. Dia mencoba menangkisnya dengan kayu yang
dikeluarkan secara mendadak, khusus untuk menahan.
Tapi sayangnya
usaha Ash gagal. Tentakelnya menembus kayu Ash, langsung menyerang wajah Ash
dengan kencang, membuatnya terpental jauh.
"Akan
kukalahkan Kamu sepertiku kalahkan adik mu..!" Nicholas tersenyum,
perlahan Dia menghampiri Ash.
Ash yang terbaring
kesakitan perlahan bangkit dengan sekuat tenaga, memaksakan diri. Ia membukakan
kedua tangannya lebar lebar.
Kayu kayu pun
menutupi kedua lengannya dan membuat sayap kayu seperti kekuatan tersembunyi
Floyd sebelumnya. Tapi yang berbeda adalah keadaan telapak tangannya yang tak
tutupi sama sekali.
Ash menyelimuti
kayu kayunya tersebut dengan api yang membara tanpa membakarnya.
Ash memasang kuda
kuda lalu menatap musuhnya dengan sangat murka.
"Menarik..."
Nicholas memberikan sebuah senyuman. Perlahan Dia menarik kembali tentakel
panjang yang ada di telapak tangannya lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan tentakel
sisa untuk membuat pertahanan yang kokoh.
Ash berlari menuju
Nicholas dengan kecepatan tinggi. Mengayunkan sayap kayunya nengakibatkan
sebuah dorongan, dan menyiapkan tangannya dengan dipenuhi api di depan
tubuhnya.
"Cepatnya..!"
Dia terkejut, walau begitu tetap saja meremehkan Ash. Melihat, menyadari ayunan
lengan api Ash dari kanan saat baru saja tiba di hadapannya. Tanpa waktu
berpikir Ia segera menahan dengan lengannya yang telah dilapisi tentakel.
Walaupun lengannya
sudah diperkuat oleh tentakelnya tetap saja Nicholas kesulitan menahan tekanan
dan kekuatan dari lengannya tersebut.
"Tch..!"
Nicholas mendorong pedang Ash sekuat tenaga, setelah pedangnya terlepas Dia
berusaha meninju wajah Ash. Namun Ash dapat menahannya tepat waktu dengan sayap
kayunya yang membengkok ke depan.
Nicholas kehabisan
tenaga, meneteskan keringat. Tetapi Ash tak memberinya waktu untuk
beristirahat, terus menerus menebasnya dengan lengannya yang berapi, kiri
menuju kanan, atas menuju bawah.
Nicholas yang
belum sepenuhnya pulih dari serangan serangan sebelumnya mulai kesulitan
menghindar, akhirnya mulai menahan. Tapi pada akhir akhir serangan, saat
Nicholas menahan dengan sebelah lengan, Ash membuat lengannya lebih panjang dan
tajam dengan api. Membuatnya langsung menembus tentakel, memotong lengan kanan
Nicholas.
"H-HAh
hahah...!" Nicholas perlahan melirik menuju lengannya yang terjatuh di hadapannya,
lalu memandang Ash yang masih saja menatap dengan dendam.
"Haha.."
Dia tertawa kecil namun dengan sedikit ragu. Dirinya melompat ke belakang dan
terus melompat, menjauh dari medan pertarungan. Namun Ash tetap mengejarnya,
terbang menggunakan sayapnya.
"Bodohnya Aku..."
Nicholas mengeluh dalam hati. "Kalau saja Aku tak terluka oleh orang
pengguna kayu sebelumnya pasti Aku bisa dengan mudahnya mengalahkannya.."
Ia tertawa sedikit.
"Aku akan
kalah dari kedua makhluk bodoh ini..." Nicholas memandang Ash yang sudah
ada di depan matanya siap menebas dan membunuhnya. Di sisi lain Nicholas tak
mempunyai celah untuk kabur ataupun menghindar.
"Tunggu balas
dendam ku..." Dia Tertawa, akhirnya Ash menebas Nicholas secara menyilang
di udara, dibantu oleh tekanan dari api apinya. "AAGH..!!" Ash
berteriak mengeluarkan seluruh yang kekuatan Dia punya.
Ash mendarat,
bersamaan dengan Nicholas yang terjatuh dengan tubuh terpisah.
Dia berdiri
memandang ke langit langit aula dengan kelelahan sambil perlahan menghilangkan
kayu dan api api dari tubuhnya.
"Kita
menang..." Raut wajah Light tidak bisa dijelaskan, dari antara sedih
ataupun gembira. Dia sedang menjaga dekat dekat Habiki dan yang lainnya di
belakang.
"Aku.. Tidak
ingin membunuh..." Tangan Ash bergetar ketAkutan, Dia terbawa emosi dan
tak sengaja membunuh Nicholas hanya untuk dendamnya.
"Maaf.."
Light menunduk dari belakang.
Ash perlahan
berjalan kepada Floyd yang terbaring tak bernyawa, melewati Light yang di
depannya, lalu duduk di sebelahnya. Ash menyerahkan PD kepada Austin yang di sisinya.
Austin
menerimanya, Dia menyenderkan Floyd kepada Ash lalu berdiri, tanpa berkata
sepatah kata pun kepada Ash maupun kepada yang lainnya.
Austin memasang
portal yang sudah disetel itu, untungnya Ia mengetahui cara memakainya. Habiki
yang menggendong Ender masuk terlebih dahulu disusul oleh Light dan Austin di
belakangnya, mereka semua tidak berbicara apa apa wajahnya terlalu murung dan
sedih. Selagi portal masih terbuka Ash menopang, lalu berbicara kepada Floyd.
"Floyd.. Kita
menang.." Ash memaksakan senyuman. Ia mengangkat lalu menggendong Floyd
memasuki portal yang masih ada itu.
"Ah kalian..!!"
Di sisi lain Magenta dengan semangatnya menyambut kedatangan Ender yang masih
selamat digendong oleh Habiki disertai senyuman dari Koraya memandang mereka.
Austin yang baru
saja tiba bersama Light menunduk dan tidak mau menjawab, samanya dengan habiki.
"A-apa..?!
Ada apa..?!" Koraya mulai kebingungan, Dia memaksakan diri untuk berdiri
walau sakit.
Sedangkan Cade
memerhatikan mereka dari ujung ruangan, terlihat sedikit kesal.
Akhirnya, Ash
keluar dari portal tersebut selagi menggendong Floyd di atas kedua tangannya
dalam keadaan tak bernyawa.
"Floyd
mengorbankan Dirinya untuk kita..." Suara Light bergetar, Dia masih saja
menunduk.
"M-maafkan Aku..."
Ox membukakan matanya lebar lebar terkejut.
"Ash..."
Koraya memanggil dengan lembut. Sedangkan Magenta menunduk tanpa kata kata.
"Ah tidak..
Aku yakin pasti ini kematian yang Dia inginkan.." Ash merelakan adiknya,
menoleh dan memberi senyuman kepada Ox.
Hari kepergian
Floyd berlalu, kini sudah 4 hari sejak kejadian itu. Koraya belum juga pergi ke
sekolah, karena lukanya masih dalam pemulihan. Hari ini, hari rabu Koraya
memutuskan untuk tidak sekolah satu hari lagi untuk latihan.
"Ah sudah
lahh Aku capeekkk...!!" Keluh Koraya yang perlahan berbaring di lantai
tempat latihan yang berada di dalam markas.
"Yah payah..!
Kamu bolos sekolah cuman buat malas malasan gini..?" Ucap Ender
meledeknya, menodongkan pedang ke arah Koraya.
"Ya engga
lah..! Lagi pula Kamu sendiri yang maksa Aku bolos..! Padahal niatnya hari ini
Aku sekolah karena kemarin sudah bolos.." Jawab Koraya, dengan kesal
bangkit kembali.
"Huhh salah
sendiri kemaren kemaren ga sekolah..." Ender memasukan pedangnya ke
tempatnya yang ada di pinggir pinggang.
"Ya kan
kemaren Aku masih belom pulih..! Kamu juga samanya padahal luka Mu lebih parah
kok Kamu bisa sembuh secepat itu..!" Koraya menunjuk nunjuk Ender dengan
kesal.
"Efek kutukan
Ku mungkin..." Jawab Ender dengan kebingungan.
"Enaknya.."
Ujar Koraya dalam hati sambil perlahan kembali berbaring di lantai.
"Lagipulakan senin pemakamannya Floyd... Jadi otomatis Aku takkan
sekolah.." Lanjut Koraya.
"Ya
benar...." Ender yang sedang berjalan jalan tiba tiba mendengar panggilan
dari luar ruangan tersebut.
"Woii kesini
dulu..!!" Teriak Ox dari luar ruangan kepada Ender dan Koraya.
Koraya bangkit dan
mereka berdua pun keluar dari ruangan tersebut. "Ada apa..?" Tanya
Koraya kepada Ox yang ternyata sedang duduk di atas sofa.
Dengan Ox terlihat
ada Magenta, Light, dan Habiki sedang duduk berkumpul di sofa. "Aku ingin
membicarakan sesuatu.." Panggil Ox sekali lagi.
"Sebelum itu
dimana Austin dan Ash...?" Tanya Koraya sambil menengok ke sekeliling
ruangan.
"Austin sudah
pergi sejak tadi pagi tak tahu kemana..." Jawab Magenta dengan lembut
seperti biasanya.
"Kalau Ash
Dia bilang kepadaku akan mengunjungi makam Floyd lagi..." Jawab Light,
menjelaskan dengan gerakan tangan.
"Oh Ox..
Bagaimana proses depan rumah ku..?" Koraya bertanya dari kejauhan.
"Tenang..
Robot Ku sebentar lagi menyelesaikannya, mungkin besok selesai..".
"Ngomongin
rumah.. Ini markas gimana bisa cepet dibenerinnya..?" Ender menengok
kebingungan kepada Ox.
"Huh.. Ini
markas yang berbeda.. Barang barang Kalian otomatis ditransferkan menuju pocket
dimension cadangan Ku yang ini.. Anggap ini markas kedua, markas yang kemaren
sekarang sedang diperbaiki.." Jelas Ox.
"Kalau
begi--" Ox yang ingin bicara terhenti setelah mendengar teriakan dari arah
pintu masuk tenda.
"KORAYAAA..!!"
Teriakan tersebut adalah teriakan dua orang, dari seorang laki laki dan seorang
perempuan.
Pada akhirnya dua
orang tersebut memasuki tenda, belari ke arah Koraya.
"L-lucy..?
Shoko..?" Koraya terkejut melihat mereka berdua.
Semua orang di
dalam ruangan ikut kaget saat melihat mereka berdua. Lucy yang asalnya berlari
untuk memeluk Koraya tapi sudah terdahului oleh Shoko yang memeluk Koraya
sampai terjatuh.
"Kamu kemana
aja..?! 2 minggu yang lalu Lo ga sekolah sakit, minggu sekarang juga..? Gw
belum sempet menjenguk Kamu karena ekskul Ku maaf..!" Ucap Shoko dengan
lantangnya menggunakan nada dan ekspresi yang sangat berlebihan.
"Lepass..!!!'
Koraya melepaskan tangan Shoko dengan paksa.
"Lho mereka
siapa..?" Shoko menengok nengok kebingungan.
"Ehemm..!!"
Ox membuat suara sambil menunjuk dan memandang Lucy memberi sebuah kode untuk
segera pergi ke arahnya.
"Hah Aku..?"
Lucy menunjuk Dirinya sendiri lalu akhirnya berjalan ke arah Ox.
"Kamu tahu
kan bahwa Kita OC nya Koraya..? Tolong keluarkan Dia sekarang dan jaga rahasia
ya..!" Ox tampak kesal, Dia terenyum terpaksa.
"H-hah
ya..!!" Lucy pergi ke arah Shoko lalu menarik bagian belakang kerah
bajunya. "Koraya nanti Kita ngobrol lagi ya dadahh..!!" Lucy
tersenyum selagi berjalan keluar tenda dan menyeret shoko keluar. Shoko
terseret melambai lambai tangannya ke arah Koraya.
"Dah..?"
Koraya tersenyum kebingunan, perlahan bangkit dan mengambil tempat duduk,
samanya dengan Ender.
"Ok ok..
Jadii---"
"Ahh..!
Lelahnya..!" Perkataan Ox terpotong sekali lagi karena Austin yang datang
sambil melakukan perenggangan tangan.
Ox terlihat kesal
dan yang lainnya pun tersenyum dengan ragu.
"Hah ada
apa..?" Tanya Austin dengan polosnya.
"Tidak
tidak... Kamu dari mana saja..?" Tanya Ox dengan sedikit menahan rasa
kesal.
"Cuman
mencari udara segar.." Austin berjalan dan mengambil spot kosong di sofa
untuk duduk.
"EHEm..!!
Jadi begini--"
"Oii Aku pulang..!"
Ucap Ash dengan cerianya datang memasuki tenda.
Ash kali ini
memakai pakaian yang berbeda. Syal merahnya tetap dipakai, namun kini Dia tidak
lagi menggunakan jaket birunya melainkan kemeja hijau Floyd.
"Ash..!! Kamu
tampak bahagia.." Tanya Ender, tersenyum bahagia karena melihat Ash yang
juga sedang senang.
"Iya..! Aku tahu
Floyd ingin Ku menetap ceria seperti biasa... " Ash menoleh ke arah Ox,
melihatnya tersenyum dengan aura yang sangat dingin.
Ash memberi senyum
ragu, lalu berjalan perlahan untuk menduduki spot sofa terakhir.
"Ini yang
terakhir..! Aku bersumpah kalau ada lagi yang masuk dari pintu itu akan Ku lempar
pot ini..!" Ox mengambil pot yang ada di tengah meja.
"Jadi--"
"Oi maafin ga
datang ngasih tau Kalian tapi Gw kehabisan stok makanan bisakah
kalian----"
*PLETENG*
Sekali lagi Ox
yang sedang bicara diganggu oleh orang kali ini Cade yang datang menanyakan
makanan. Ox pun langsung melemparkan pot bunga ke dinding di sebelah pintu
masuk yang nyaris mengenai kepala Cade.
"ADA MASALAH
Mu HAH..?!" Cade berteriak dengan kesal.
Ox yang masih
kesal mencoba mendinginkan diri. "Ambil saja sana ke dapur..." Ox
menunjuk ke dapur tanpa memandang wajah Cade dan Dia pun akhirnya masuk untuk
mengambil makan.
"Nah sudah
sudah.. Semua orang yang Kita kenal sudah masuk..." Ucap Ox setelah
menghela nafas panjang.
"Jadi--"
"Terimakasih..!"
Cade berjalan keluar dari tenda.
"SAMA
SAMA..!" Jawab Ox dengan nada yang tinggi membuatnya terlihat sangat
kesal. "Heee..." Semua orang tersenyum ragu.
"JADI
BEGINI..! Ehem.. Semua anggota team sudah terkumpul dan bagaimana dengan nama
team kita..?!" Tanya Ox kepada semua team Koraya yang sudah berkumpul
"Oh oh..!
Bagaimana dengan Ash and gang..?!' Ash berdiri semangat, dengan mata yang
bersinar sinar.
"Ash and gang
mata mu..!!" Jawab Ender dengan kesal.
"Hmmm.."
Semuanya berpikir keras.
"Oh bagaimana
dengan Dimension Shield..?! Kita akan melindungi dimensi kan? jadi ini saran
ku." Saut Habiki memberi saran pertama yang serius.
"Bagus juga..
Ada yang lain..? Ok ya sudah..." Ox menutup kasus karena tak ada lagi yang
menjawab, namanya sudah ditentukan.
"Ini adalah
awal yang baru untuk Dimension Shield.." Senyum Ox.
"Sekarang
apa..?" Tanya Ash, melirik ke arah Koraya.
Koraya melirik
balik lalu berkata, "Kita hentikan.. Para anggota poison yang
tersisa....".
FIN?
Sneak
Peak
“Ah.. Luar biasa...
Baru pertama kali Aku melihat seorang anak yang mampu mengalahkan seorang
monster bikinannya sendiri sebelum membangkitkan kekuatan mereka..."
Seseorang tampak berbicara dengan suara pria, namun tanpa wujud.
"Lalu apa yang harus Kami lakukan...?"
Tanya seorang pria dengan topeng bertuliskan A. Bersamanya adalah seorang pria
yang memakai topeng yang serupa bertuliskan B.
"Pertama.. Aku akan suruh Dr Cooper
mencari orang untuk menyerang mereka,... Kemudian Kalian akan membuat sebuah
kerusuhan yang membuatnya bertemu dengan Ku..." Ia melanjutkan omongannya.
"Setelah itu Kalian berdua jangan
dulu maju... Aku akan menyuruh Parasyte maju terlebih dahulu... Jika Dia gagal
membangkitkan kekuatannya Kalian berdua akan maju untuk mengalihkan
perhatiannya.." Dia terus berbicara.
"Terakhir.. Akan Ku tes kemampuannya
sendiri, Kita tes apa dia mempunyai kekuatan untuk melawan musuh Kita nanti...".
Bonus
scene
*Tok tok* Suara ketukan pintu terdengar
oleh Ox pada malam hari saat Dia sedang membuat lengan untuk Habiki di malam
saat Floyd melawan Virus.
"Oi apa..?!" Tanya Ox saat
membuka pintu kamarnya dan Dia pun melihat Light yang diam diam mengetuk
pintunya.
"Gini gini.. Besok Aku ingin
membuatkan sarapan untuk Kalian semua... Tempat masaknya dimana ya...?"
Tanya Light perlahan.
Ox keluar dari kamarnya lalu menunjuk
dapur "Nah di sana...".
"Ok terima kasih..!' Jawab Light.
Ox menutup pintunya lalu melanjutkan
pekerjaannya. Tapi tak lama kemudian.
*Tok tok* .
Ox membukakan pintunya lagi "Apa
lagii...?" Tanya Ox yang sangat mengantuk.
"Arangnya dimana ya..?" Tanya
Light.
"Hah...." Seketika keadaan
menjadi sunyi untuk beberapa detik.
"Oh iya Dia dari jaman
kerajaan...." Sebut Ox dalam hati.
"Kita pake gas..." Jawab Ox.
"Ohhh..." Keadaan pun menjadi
sunyi kembali untuk beberapa detik.
"Apa itu gas..?" Tanya Light
dengan polosnya.
"Haduhh.." Ox berjalan keluar
ruangannya menuju dapur diikuti Light dari belakang...
"Jadi gini... Kamu tinggal mengambil
panci.." Ox mengambil panci. "Lalu meletakannya di atas
kompor..." Ia meletakannya di atas kompor.
"Sesudah itu untuk menyalakan api Kamu
tinggal memutar tombol ini... Mengerti..?" Ucap Ox setelah menerangkannya
kepada Light.
"Oh ya ya..!!" Jawab Light.
"Ya sudah Aku duluan..." Ox
kembali pergi ke kamarnya untuk menyelesaikan lengan Habiki tetapi tak lama
kemudian.
*Tok tok*
"Apa lagi sihh..?!" Ox
membukakan pintunya dengan kesal.
"Apinya emang sebesar itu
kah..?" Tanya Light kepada Ox sambil menunjuk kompor yang mengeluarkan api
sangat besar sampai ke atap atap, membakar panci yang di atasnya juga.
"YA AMPUN..!!" Ox berlari
mengambil air untuk memadamkan api tersebut.
"Selamat pagii..!!" Teriak Ash
dengan semangat. Dia melihat ke langit langit dapur dan melihat sebuah tanda
gosong besar berwarna hitam.
"Lho itu apa..?".
No comments:
Post a Comment