Sunday, September 20, 2020

The Imaginator

  Part 0 : Who Am I?

Namanya Koraya, seorang murid SMA terpadu di Tokyo. Dia tinggal seorang diri, Kedua orang tuanya bekerja di luar kota dan hanya kembali beberapa bulan sekali. Rambutnya yang hitam sedikit gondrong menutupi sebagian matanya yang hitam pekat. Posturnya bias dibilang ideal di kalangannya, tidak terlalu pendek, dan tidak tinggi juga. Ia sering berpergian ke sekolahnya dengan sepeda, dan biasa kembali dengan kedua sahabat dekatnya. Namun di samping hal biasa tadi, Koraya mempunyai passion bear terhadap pembuatan karakter imajinatif yang suka disebut OC (Original Character), Dia berharap bisa mencurahkan semua hasil karyanya ke sebuah media, seperti novel maupun komik. Namun hal yang terjadi melampaui itu. Koraya dipertemukan dengan salah satu karakter buatannya di dunia nyata. Mengapa bisa? Dan petualangan apa yang menanti Mereka bersama?


Team recruit saga

Part 1 : Prologue

Koraya membukakan kedua matanya, Dirinya sadar sedang berdiri diam di dalam ruang yang terbilang hampa dengan sangat kebingungan, penuh kegelapan dan kabut. Melihat ke sekelilingnya mencari tahu dimana keberadaanya.

"Dimana Aku!?" Ia bertanya pada Dirinya sendiri seakan akan mempunyai pasangan untuk berbicara.

"Mungkin Aku harus keliling." Koraya membulatkan tekad untuk mencari tahu keberadaannya dengan berkeliling.

Berkeliling untuk sementara waktu mempelajari tempatnya untuk mencari jalan keluar, saat berjalan jalan untuk waktu lama Koraya terhenti, sadar bahwa jalan keluar adalah hal yang mustahil digapai.

"Dimana sih Aku sebenarnya." Koraya mengeluh, berhenti sesaat melihat seseorang berdiri diam dengan samar samar dari kejauhan seperti bayangan hitam yang tinggal di dalam kegelapan.

"A-ada orang! Mungkin Dia tahu tempat ini.." Ia segera mendekati orang tersebut. Langkah demi langkah, mendekat.

"Hei siapa Kamu? Bisakah Kamu memberi tahu tempat ini sebenarnya dimana?" Koraya mendekatkan diri dengan orang itu, tetapi semakin dekat tempat itu semakin semakin tertutupi oleh kabut hitam, membuat Koraya tak bisa melihat apapun dengan jelas.

"Aku tidak bisa melihat apapun.." Ujarnya dalam hati, ragu.

Tetap berjalan ke arahnya, "H-halo... Bisakah Kamu membantuku?" Ucap Koraya sambil menghalangi mata dengan sebelah tangannya.

Seberapa banyak pun Koraya memanggilnya, tetapi orang tersebut tak pernah menyaut kembali.

Saat kabut mulai memudar akhirnya Koraya bisa melihat orang tersebut dengan jelas.

"Bisakah Kamu mem—" Koraya terdiam, tidak bisa bergerak sedikit pun walaupun hanya sekecil jari tak bisa gerakan.

"A-apa?!" Terkejut karena tidak bisa bergerak, seakan akan gravitasi menekan tubuhnya seperti bumi dengan isinya.

Seorang sosok yang berdiri tepat dihadapannya menatap Koraya dengan dingin. Kabut mulai mengelilingi orang itu seakan akan Ialah adalah sumber kabut itu sendiri. Sosok misterius itu berkata "Cari Aku..” dengan nada yang sangat rendah membuat suasana yang sudah buruk menjadi lebih buruk lagi.

"HAAA?!" Koraya terbangun dari mimpi buruk di kamarnya yang berantakan, di atas ranjangnya. Angin berhembus dari jendelanya yang lupa ditutup semalaman di hadapan ranjangnya, Terik matahari memasuki kamarnya mengenai wajah Koraya seakan akan membangunkannya.

"Cuman mimpi ya..?" Ucap Koraya, lega.

"Mimpi apaan sihh..?! Kok kayak gitu.." Koraya menggaruk kepalanya dengan kedua tangan, keras keras saking kebingungannya.

Berdiri lalu menengokan kepalanya ke arah jam dinding yang berada tepat di atas televisi nan Ia pakai khusus untuk bermain game. Jam tersebut menunjukan pukul 06:45 sedangkan jam masuk sekolah Koraya tepat pada pukul 07:00.

"APA..?!" Berlari keluar kamarnya dengan kepanikan. " Aku harus segera pergi ke sekolah!".

Karena saking paniknya Dia kembali ke kamarnya untuk mengambil handuk yang tertinggal. Lalu berlari kembali ke kamar mandi. Mandi dan menggosok gigi dengan terburu buru, keluarnya dari kamar mandi Dia segera memakai seragam, jam tangan, dasi dan perlengkapan sekolah lainnya. Koraya segera pergi ke dapur untuk memakan sarapan.

"K-kalau Aku sarapan di rumah Aku akan terlambat, apa sempat? Tidak tidak.... Hmmm, Aku bekal saja dah! " Koraya berbicara dengan sendiri dalam lubuk hati.

Dirinya menyiapkan sarapan untuk dimakan di sekolah, membawa beberapa roti dan sebuah apel yang berada di atas meja makan lalu mengemasnya dalam sebuah wadah makanan, Ia menyimpannya dalam tas yang berada di ruang tamu dekat pintu depan rumah. Menggendong tasnya, segera keluar rumah dan mengunci ngunci pintu rumah. Setelah itu semua telah dilaksanakan, Dia segera mengendarai sepedanya yang  tersenderkan di depan rumah.

Mengayuh sepeda secepat mungkin karena tak ingin telat datang dan dimarahi guru.

Setelah beberapa waktu akhirnya Koraya mulai mendekati sekolahnya. Terlihat dari beberapa rumah dan gedung sekolah yang tinggi

"Sepertinya Aku tepat waktu." Ucap Koraya dalam hati, sambil terus mangayuh dengan lelah.

Saat sampai di sekolah, Ia langsung menyimpan sepedanya di tempat penyimpanan sepeda, memasang rantai sambil memegang megang perutnya karena lapar. Melihat jam tangannya, jam itu menunjukan jam 06:55, 5 menit sebelum kelas dimulai.

"Ahhh.. Untunglah.." Dia menghempaskan nafasnya dengan penuh lega.

Segera berlari ke kelasnya karena kelasnya terletak sedikit jauh dari gerbang masuk. Sesampai di kelas beberapa menit kemudian, lalu membuka pintu kelasnya. Sangat kelelahan, bersender sebentar menuju sebuah tembok.

Suasana kelas Koraya yang ramai sudah dipenuhi murid murid. Jarang ada murid yang telat datang di kelasnya karena kelas itu terkenal dengan anak anak yang rajin. Kelasnya terpasang jendela panjang di kedua sisi yang bersebrangan. Tempat duduknya terletak pada tengah tengah dekat jendela. Ia memilih tempat itu supaya bisa memerhatikan guru sekaligus menggambar tanpa sepengetahuan gurunya.

Dia segera pergi ke tempat duduknya, menyimpan tasnya di atas meja, duduk, lalu mengeluarkan sarapannya. Menyimpan tasnya di pinggir meja supaya tak menghalangi kemudian membuka tempat makannya. Koraya mulai memakan rotinya dengan lahap berharap waktunya cukup untuk makan dan tahu tahu seseorang menepak punggungnya beberapa kali dengan kencang, dari belakang.

"Oi oi belum makan..? " Orang tersebut tersenyum lebar.

"Uhuk.. uhuk" Koraya tersedak oleh rotinya sendiri karena tertepak. "NGAPAIN NEPAK GW SIH..?" Marah karena tidak bisa mendapat ketenangan pada saat makan, Ia pun melihat ke belakangnya.

"Ternyata Kamu Shoko... Kirain siapa. Makanya jangan ngagetin dah..!" Terlihat sahabatnya Koraya, Shoko.

Seorang anak basket. Dia lebih tinggi dari pada Koraya dan memiliki berat badan yang tidak jauh dengan Koraya, mempunyai rambut galing yang berwarna kecoklat coklatan. Sama seperti Koraya Ia pun suka membuat karakter karakter imaginasi yang disebut OC.

"Ya ya maaf deh, Gw ga bakalan ngagetin lagi.." Ucap Shoko sambil menempelkan kedua tangannya meminta maaf.

Koraya melanjutkan sarapannya sambil mengabaikan Shoko.

Shoko menepak pundak Koraya pelahan, "Ya lanjutkan saja sarapanmu Aku tidak akan mengganggu kok..!" Shoko menggaruk kepalanya.

Ia berjalan kembali ke tempat duduknya lalu mengobrol dengan teman temannya yang duduk di sekitarnya. Koraya tetap memakan rotinya sampai habis, menyimpan apelnya untuk nanti, menutup tempat makan lalu memasukannya ke kolong meja.

Tak lama kemudian jam kelas pun datang, dan guru matematika pun memasuki kelas. Ibu Emilia. Dia adalah guru yang paling disukai oleh anak anak walaupun begitu Koraya tidak menyukainya, Ibu Emilia tidak menyadari bakat Koraya dan suka memarahinya ketika menggambar, Bu Emilia sedikit gemuk dan memakai kaca mata.

Murid murid menyapanya, Bu Emilia mulai menerangkan, namun seperti biasanya Koraya mengeluarkan buku sketsanya dan menggambar gambar sketsa saat guru menerangkan.

Setelah beberapa menit menerangkan Bu Emilia menyadari bahwa Koraya tidak memperhatikannya. Karena Koraya sudah beberapa kali tak pernah mendengarkan Bu Emila jadi kali ini Ia dimarahi lebih parah dari biasanya.

"Koraya!" Ibu emilia memanggilnya selagi memukul tangannya ke meja.

"Y-ya bu.?" Koraya melepaskan pensilnya terkejut dan menjawab dengan gugup.

"Coba apa yang ibu terangkan?" Tanya Ibu Emilia, menunjuk ke arah Koraya.

"Matematika?" Koraya menjawab asal asalan, menggaruk kepalanya. Semua murid kelas menertawakannya.

"Jangan bercanda! Apa yang Ibu tadi jelaskan?!" Tanya Bu Emilia sekali lagi kepada Koraya dengan tegas.

"Eh... Maaf bu Saya tidak tahu.." Menunduk dengan malu.

"KELUAR!" Teriak Bu Emilia menunjuk pintu keluar.

"I-iya bu" Koraya berjalan ke arah pintu depan kelas.

Membuka pintunya lalu keluar selagi para murid yang lainnya memperhatikan, terdiam takut berbicara samanya dengan Shoko yang sudah menduga apa yang akan terjadi. 

Tetapi saat Ia menutup kembali pintu dari luar, seseorang tiba di belakangnya. Saat membalikan badan, orang tersebut membuat Koraya tertidur entah bagaimana caranya.

Koraya dibawa pergi oleh orang misterius tersebut dengan cara digendong pada punggungnya. Saat itu saat jam pelajaran jadi lorong lorong sangat sepi sehingga kejadian tersebut tak diketahui oleh siapa pun. Koraya dibawa ke ruangan kosong dekat kelasnya. Ruangan itu jarang dipakai, dulunya ruangan itu adalah suatu kelas, tetapi karena terbangunnya kelas yang lebih bagus pada lantai 2, kelas itu tidak terpakai dan didiamkan sampai saat ini.

Saat sampai Koraya di tempatkan dekat jendela, terbaring di lantai dan disenderkan ke tembok.

Setelah beberapa menit kemudian Dirinya terbangun, bertanya tanya keadaannya " D-dimana Aku..? kenapa Aku di sini..?" Tanyanya sambil melihat ke sekelilingnya terkejut.

"Aku butuh bantuanmu, koraya" Orang misterius itu berbicara dari bagian ujung ruangan, tertutupi oleh bayangan.

"S-siapa Kamu?" Dengan tegang, menatap ke arahnya.

Sosok misterius itu mendekatinya, menunjukan wajah yang awalnya tak terlihat. Ia memiliki telinga kambing yang panjang, Mata berwarna biru, rambut yang tak jauh berbeda dengan Koraya namun tubuh yang lebih pendek darinya. Ia memakai jaket biru, kaos putih, celana jeans dan syal merah yang dipakai di sekitar lehernya.

"Namaku Ash... Salah satu OC milikmu"  Ash tersenyum, dilanjut oleh tawa.

"A-ash..? Kok Kamu tau tentang Ash, terus kenapa Kamu berdandan sepertinya..?" Koraya tidak percaya atas perkataan tersebut, disangkanya Ia hanyalah orang yang berdandan seperti salah satu dari karakter buatannya, Ash.

"Kamu ga percaya?! Hahaha!"  Tertawa dengan puas. "Ini benar benar Ash lho... Aku butuh bantuanmu." Ujarnya sekali lagi.

"T-tidak mungkin.. tidak mungkin OCku benar benar nyata!" koraya benar benar bingung dengan kejadian ini, melihat salah satu OCnya di hadapan kedua matanya sendiri.

"Apa yang harus kulakukan supaya Kamu percaya huh?" Ash memberikan senyuan, membuka kedua tangannya lalu mengulurkannya ke arah Koraya.

"Aku tidak tahu..".

Ash mengeluarkan sebuah percikan api dari kedua telapak tangannya, perlahan lahan menjadi sebuah api kecil "Ya begini, Ash OCmu itu memiliki kekuatan api kan? Apakah ada orang di dimensi ini yang memiliki kekuatan seperti ini?".

Koraya terkejut, langsung berdiri tegap "Dimensi?! Apa maksudmu?".

Ash segera memadamkan apinya lalu memasukan tangannya ke dalam saku jaketnya, "Aku akan menjelaskannya nanti... Aku benar benar memerlukan bantuanmu sekarang..." Kata Ash dengan serius.

Keadaan tiba tiba menjadi lebih serius setelah mendengar kata kata Ash, angin berhembus dari semua jendela di ruang kosong tersebut.

"Jadi ini benar benar Kamu... Tapi apa yang Aku perlu bantu?" Menghela nafas panjang.

"Floyd.. salah satu OCmu, saudaraku... Ia pergi ke dunia ini melewati portal kuno.. Portal tersebut satu satunya portal yang menyambungkan duniaku dan dunia lain... Lebih tepatnya dunia ini sih.." Jawab Ash.

"Wah? Floyd juga ada di dimensi ini ? Jadi..? Apa masalah nya?" Bertindak biasa saja, tak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi.

"Dia itu berbahaya Koraya. Dia pernah membunuh seseorang. Sekarang Dia mengincarmu." Lanjut Ash selagi mengepalkan tangan kanannya dengan keras.

"A-apa tujuannya?" Ia terkejut terhadap perkataan Ash, terpaku.

"Aku pun tidak tahu alasannya. Mungkin.. Tapi Dia memberitahuku 'Aku akan mengincar pembuatku' Dengan penuh dendam. Seakan akan Ia pernah bertemu denganmu" Ucap Ash.

"Apa yang Aku harus lakukan?!" koraya panik, keringat mulai bercucuran di tubuhnya.

"Sekarang tetap tenang dan coba lindungilah dirimu sendiri." Kata Ash sambil membalikan badannya, dari pandangan Koraya.

"Siap..!! Tapi apa Kau akan menemaniku?" Tanya Koraya sambil menghampirinya dari belakang.

"Nanti Aku akan temani.. Tapi untuk sekarang cobalah lindungi dirimu sendiri saja.." Jawab Ash, berjalan perlahan menuju pintu keluar.

"Kamu mau kemana?" Tanya Koraya sekali lagi.

"Mencari Floyd." Ash keluar dari ruangan kosong tersebut melompat menuju atap ke atap, entah kemana.

Koraya keluar dari ruangan itu dan berkata kepada Dirinya sendiri, "Ash ya... Berarti masih banyak yang lainnya bukan..?". Katanya dengan penuh harapan, Ia pun tersenyum.

Koraya berlari secepat mungkin menuju kelas, tak tahu berapa lama telah diam dan menetap di ruangan tersebut. Sesampai di depan kelas kelelahan seperti tadi pagi, bersandar ke dinding untuk beberapa detik sampai Shoko mendekatinya.

"Kemana aja Kamu...?!" Tanya Shoko, ikut bersender di sebelahnya.

"Itu.. Ada kepentingan sebentar.." Dengan kelelahan dan menghela nafasnya setiap beberapa detik sekali.

"Sebentar atau 2 jam..?" Dirinya tertawa sambil menunjuk Koraya.

"HAH?! 2 JAM?" Koraya berteriak terkejut, memegang kepalanya.

"Bercandaaa.... Ayo masuk kelas pelajaran ke 2 mau dimulai.." Shoko memegang pundak Koraya.

"O-oke deh" Kebingungan.

Mereka memasuki kelas lalu duduk di kursinya masing masing. Guru selanjutnya pun datang dan harinya berlanjut, sampai pulang sekolah.

"Ok anak anak sampai segini saja hari ini, sampai ketemu senin depan...!" Guru tersebut membawa tasnya lalu pergi keluar kelas.

Diikuti oleh murid murid yang lainnya, mereka memasukan buku buku pelajarannya ke dalam tas lalu menggendongnya, meninggalkan kelas, pulang. Koraya sedikit lebih lama memasukan bukunya karena terbiasa menyimpan seluruh bukunya di dalam kolong meja.

"Hei Koraya mau pulang bareng ga?" Tanya Shoko dari pintu masuk kelas kepada Koraya dengan suara yang lantang.

"Duluan saja, Aku pulang sendiri aja..!" Koraya memasukan buku bukunya.

"Ok kalau begitu, duluan!".

Koraya membalas lagi "Siap!" Shoko meninggalkan kelas lalu pergi pulang sendiri.

Setelah beberapa menit Koraya selesai memasukan buku bukunya ke dalam tas, menggendong tasnya lalu pergi keluar kelas.

Ia menutup pintu kelas, pergi. Sekolah cepat sepi, banyak anak yang ingin cepat cepat pulang. Saat sudah keluar dari sekolahnya. Dia mengeluarkan kunci dari kantongnya lalu membuka rantai sepeda yang mengunci, memasukan rantainya ke dalam tas. Koraya mengendarai sepedanya keluar sekolah dan memulai perjalanannya ke rumah.

Jalan yang dipakai Koraya dari sekolahnya ke rumah sangat sepi pada jam pulang sekolah. Cuma beberapa anak yang rumahnya tinggal di dekat Koraya dan juga orang yang melewati jalan tersebut. Bisa dibilang jalan tersebut jalan yang rawan akan pencurian dan lain lain.

Saat Koraya sedang mengendarai sepedanya pulang. Ia melihat seseorang menghalangi jalannya.

"Permisi.." Perlahan dan sopan kepada orang yang berada di depannya tersebut,.hanya berdiri diam menghalanginya, menghadap ke arah yang berbalikan dengan Koraya.

"permisi... Anda menghalangi jalan pulang saya mohon menepi.." sekali lagi Koraya berkata dengan sopan kepadanya.

"Koraya.. Kan?" Dengan nada yang rendah membuatnya terdengar tidak enak.

"I-iya Aku Koraya. Kamu siapa ya..?" Dengan gugup perlahan menepikan sepedanya ke pinggir jalan dan menyenderkannya kepada dinding.

"Hahaha..." Orang tersebut tertawa perlahan membuat Koraya keanehan, merinding.

Sore itu sangatlah gelap, Koraya tidak bisa melihat orang tersebut dengan jelas, hanya bisa melihat nafas orang itu yang berwarna putih karena cuaca yang dingin.

Tumbuhan yang berupa kayu kayu panjang keluar dari tulang ekor, juga dari punggungnya. Menyebar ke setiap sudut punggungnya, seperti tentakel gurita yang keluar dari belakang tubuh, namun terlihat keras layaknya pepohonan.

Ia membalikan badannya lalu menatap Koraya. Berkata "Floyd... Salah satu OCmu... Kalau benar Kamu adalah salah satu creator, atau pencipta Kami para OC kan? Kamu menciptakan beberapa dari Kami dan mengatur hidup Kami.".

Floyd mengatakan kata kata tersebut dengan penuh benci, terlihat dari nada dan tatapannya.

"F-floyd?! Bagamana kalau Dia membunuhku?!" Koraya mulai panik, berbicara dalam hati dengan penuh ketegangan.

"Apa yang Kamu mau Floyd?" Dirinya bertanya, menahan semua ketakutannya supaya terlihat tegas, tidak lemah.

"Kamu tahu... Hidupku asalnya baik baik saja, sama seperti hidup normal orang lain. Tapi... Kamu mengatur hidupku supaya Aku sengsara... Menjauhiku dengan orang yang kucintai... Membuatku dipaksa tinggal jauh dari rumah.. Kamu mengaturnya.. Kan?" Ucapnya dengan tatapan tajam, ekspresi yang tidak tenang sambil membuka kedua telapak tangannya.

Semua Tumbuhan yang keluar hari punggung nya mengarah ke arah Koraya siap menyerang.

"A-aku tidak mengatur hidup siapa pun... Aku tidak mengerti maksudmu itu apa..!!" Bicara seadanya, sebenarnya tidak tahu apapun yang dibicarakan Floyd.

"Jadi ini intinya... Kalau Kamu yang membuat hidupku seperti ini Kamu pasti bisa mengembalikannya kembali kan?..." Floyd perlahan menghampiri Koraya.

"Sudah kubilang Aku tidak mengatur hidup siapapun. Aku hanya membuat kalian. Aku bahkan tidak mengetahui hidup kalian, bagaimana Aku bisa mengaturnya kalau tidak mengetahuinya!" Koraya membanting tangannya, melangkah selangkah ke belakang untuk menghindari Floyd.

Floyd terlihat sangat kesal "Tidak mungkin... Kamu pasti mengatur hidup OC.".

"Sudah kubilan—".

"Tapi...." Floyd memotong perkataan yang baru saja keluar dari mulut Koraya.

"Kamu penuh dengan omong kosong!" Floyd berlari ke arah Koraya dengan cepat bersamaan dengan kayu kayu yang menempel di belakangnya.

Ia berhenti tepat di hadapan Koraya, Menatapnya dan berkata "Semua yang Kau katakan hanya untuk menipuku... Kan?" Floyd sedikit membatasi kata demi kata seakan akan ragu terhadap omongannya sendiri.

"Apapun yang kau katakan, Aku akan selalu berkata sesuai kenyataannya!" Koraya menatap balik Floyd.

"Baiklah..." Floyd membalikan badannya lalu mulai menjauhi Koraya langkah demi langkah.

Namun mendadak berhenti saat telah melangkah cukup jauh, "Kau tahu? Bagaimana kalau Aku menghabisimu sekarang? Mungkin itu akan mempermudah jalan hidupku.." Floyd menengok ke belakang, menatap Koraya dengan datar dan hampa.

"A-apa?!" Koraya terkejut, secara refleks mundur beberapa langkah ke belakang saking takutnya akan perbedaan kekuatannya dengan Floyd.

Floyd membalikan badannya kembali ke arah Koraya, kayu kayu dari punggungnya mulai mendekati Koraya dengan cepat. Seperti banyak ular besar yang memangsa Koraya dari udara. Salah satu kayunya berusaha melukai Koraya tapi gagal karena Ia menghindar dengan melompat ke samping.

"A-apa apaan.." Detak jantung Koraya mulai berdetak dengan kencang karena situasi yang mengancam nyawanya itu.

"Ini adalah kekuatan dari balas dendam.." Ucap Floyd yang memandang Koraya dari jauh.

Kayu kayunya yang panjang pun menjebak Koraya dari dua sisi lalu melilitnya dengan cepat dan mudah. Koraya tak mempunyai cara untuk membela diri.

"K-kok bisa?!" Ujar Koraya dalam hati, gelisah.

Floyd maju mendekati Koraya, Dia menodongkan salah satu kayu ke wajah Koraya dalam satu gerakan tanpa Koraya bisa berkutik. "Kamu tidak akan pernah merasakan dendam sebesarku... Jadi Aku akan membalas dendamku dengan melenyapkanmu dari dunia ini... Dengan itu Kamu bisa merasakan sedikit dendam ini.." Tanpa ekspresi, walaupun matanya dengan jelas menyatakan dendam yang besar.

"F-floyd.." Seluruh bagian tubuhnya yang asalnya melawan kayu Floyd perlahan melemas dan menyerahkan diri.

Tetapi sontak semburan api datang dari atas sebuah rumah mengenai kayu kayu yang melilit Koraya. Semua kayu itu terbakar namun anehnya Koraya tidak terkena api sedikit pun.

"K-Kamu?!" Floyd menengok ke arah sumber api, murka.

Terlihat Ash tengah berdiri di atas atap sambil mengarahkan tangan nya ke Floyd.

"Iya ini Aku... Dik" Ash tersenyum kepadanya.

"Ash?!" Koraya merasa lega atas kedatangannya.

Ash melihat ke arah Koraya lalu tersenyum sedikit, "Kan sudah kubilang akan membantumu...".

"Tapi Aku hampir mati tau." Tawa perlahan, memikirkan semua ini sebagai lelucon agar tidak terlalu panik.

Ash dan Koraya mengobrol seakan akan tidak ada Floyd di hadapan mereka. Floyd mengeluarkan lebih banyak tumbuhan dari tulang ekornya, berkata "Hentikanlah candaan Kalian kalau ingin tetap hidup.."  memandang Ash lalu menengok ke arah Koraya.

Ash melompat ke bawah, lebih tepatnya melompat ke hadapan Koraya, "Floyd, Floyd... Kamu tidak pernah menghargai kakakmu ini ya.".

"Lagipula bagaimana Kamu kesini hah..?!" Ujar Floyd dengan sedikit emosi.

"Maaf... Tapi Aku mengikutimu." Tersenyum, menggaruk kepalanya dengan tangan kirinya

"Lebih baik jangan ganggu Aku kalau Kamu juga ingin bahagia..." Jawab Floyd, perlahan melirik kepada Ash.

"Sudah sudah lebih baik Kita pulang saja... Masalah disana biar Aku selesaikan." Ash mengulurkan tangannya

"Hahaha... Emangnya Kita bisa pulang?!" Floyd tertawa dengan terpaksa.

"Pasti ada jalan lain..!".

"Ya sudah.. Kalau begitu Aku berikan kesempatan padamu untuk kembali dan berhenti mengganguku.. Kalau tidak, Kita akan melalui jalan keras." Floyd mendekati Ash langkah demi langkah.

"Kalau mau juga Aku tidak bisa... Berarti jalan keras adalah jawabannya..." Ash mendekatinya juga.

"Ya sudah kalau begitu.." Floyd berhenti.

"Berlindung dibelakangku" Ash membukakan sebelah tangannya melindungi Koraya.

"O-oke" Koraya yang kepanikan berjalan kebelakang Ash.

Ash memasang kuda kuda lalu mengeluarkan api dari kedua tangannya. Floyd hanya berdiri diam, mengeluarkan kayu kayunya yang akan menyelesaikan pertarungan tanpa harus melakukan pergerakan tubuh yang melelahkan.

"Bersiap untuk kalah?" Ash meledek Floyd, menjulurkan lidahnya.

"Bodoh..".

Ash berlari ke arah Floyd dengan cepat, di sisi lain Floyd hanya diam ditempat, membiarkan tumbuhannya menyerang Ash dari segala arah. Kayunya mengincarnya dari bawah maupun atas, kiri maupun kanan. Ash hanya bisa menghindarinya dan tidak bisa mendekatinya sedikit pun.

"Ash yang terkenal, cuma ini yang Kamu bisa..?" Floyd tertawa.

"Jadi Kamu ingin menaikan level?" Ash masih menghindari kayu kayunya.

Ash mengarahkan kedua tangannya ke bawah lalu mengeluarkan api dari kedua tangannya, meluncurkannya ke atas dengan dorongan api tersebut. Saat di atas, Ia segera membakar semua kayu di bawah dengan api dari tangannya, langsung meluncur ka arah Floyd. Mendarat di belakang Floyd lalu melilitkan lehernya dengan kedua lengan dari belakang.

"Game over?"  Tanya Ash, meledek.

Floyd tertawa kecil, perlahan menengok ke belakang.

Ash yang sedang berada di belakang Floyd terjebak oleh kayu yang datang dari belakang punggungnya.

"Masih ingin bertarung, Ash?" Perlahan melirik ke belakang.

"Siapa bilang Aku ingin berhenti?" Perlahan tertawa.

Ash mengeluarkan api dari seluruh tubuhnya untuk membakar tumbuhan tumbuhan yang melilit Dirinya. Mereka berdua melompat ke belakang untuk menghindari sesama serangan lawannya.

"Sudahlah... Kita berhenti saja.. Karena Kita tidak bisa pulang mungkin Kita bisa tinggal di sini sementara." Ujarnya perlahan membujuk Floyd untuk menenangkan diri.

"Kalau Kau mengalahkanku Aku akan menurutimu... Tapi kalau Aku mengalahkanmu, Kamu harus menjauhi urusanku" Tantang Floyd.

"Kalau begini keadaan semakin gampang." Ash memberikan senyuman yang meremehkan.

Ash memenuhi kedua tangannya dengan api, mereka berlari ke arah satu sama lain. Floyd mengerahkan seluruh kekuatannya, mengeluarkan Tumbuhan tumbuhan yang merambat ke tangannya seperti pedang yang menempel pada tangannya. Serangan yang dilontarkan oleh Floyd, tumbuhan dari tulang ekornya maupun oleh kayu yang ada ditangannya semuanya ditangkis oleh Ash menggunakan tangan apinya.

"Masih kurang.!" Floyd berteriak.

Kecepatan Floyd meningkat pesat, pergerakan tubuhnya dan juga tumbuhan tumbuhannya pun ikut meningkat kecepatannya. Saking cepatnya Ash yang asalnya bisa menghindar kini sempat menerima serangannya. Kayu mengenai sisi kepalanya, meninggalkan luka. Ash melompat ke belakang untuk menghindari serangannya.

"haa... ha..." Suara Ash yang terdengar kelelahan karena terlalu sering menghindar dan memaksakan diri.

"Sepertinya Kamu kecapean" Floyd menunjuk Ash dengan lengannya yang dipenuhi kayu.

"Kamu kuat juga adikku.. Sepertinya Aku harus mengerahkan seluruh kekuatanku" Ash kembali berdiri tegak lalu menunjuk balik Floyd.

"Coba saja kalau bisa." Memiringkan kepalanya perlahan.

Sayap api yang membara keluar dari punggung Ash. Ia memasang kuda kuda untuk menyerang kembali, di sisi lain Floyd bersiap siap menyerang, juga melindungi diri secara bersamaan.

Ash melompat tinggi ke atas untuk menyerang Floyd, mencari titik lemahnya yang terlihat dengan mudah dari sudut pandang tinggi.

"KENA KAU!" Floyd melihat celah, semua tumbuhannya melaju ke arah Ash dengan cepat.

Namun Ash mempunyai rencana lebih dahulu, Ia terbang dengan cepat ke belakang Floyd, mendarat perlahan menggunakan sayap apinya lalu membakar pusat munculnya Tumbuhan Floyd. Tumbuhannya pun berjatuhan dari atas karena penopangnya sudah terbakar terlebih dahulu. Ash mengarahkan tangannya ke tulang ekornya, memegang leher dengan tangan yang satunya.

"Kalau Kamu mengeluarkan tumbuhan tumbuhanmu lagi Aku akan langsung membakarnya... Jadi Aku menang.." Ash memberikan senyuman licik kepada Floyd.

"Aku kalah...".

"'Kalau Kamu menang Aku akan menurutimu.. bla bla bla' Janji adalah janji." Ash memandang Koraya.

"Kamu pulang saja dulu... Aku akan urus Dia.. Lain kali Kita bertemu Kita bertiga akan berteman..." Ash masih saja menahan Floyd erat erat.

"T-teman.." Floyd berberat hati menolak.

"Ok Ash..!" Dirinya melangkah ke sisi jalan untuk mengambil sepedanya yang disenderkan lalu mengendarainya pulang. Ia melambaikan tangannya. Ash melambai balik dengan senang.

Beberapa menit berlalu, akhirnya sampai di rumah. Koraya segera memarkirkan sepedanya lalu cepat cepat membuka kunci pintu, masuk, dam menguncinya kembali.

Langsung berlari memasuki kamarnya, berbaring diranjang tanpa mengganti pakaiannya sama sekali.

"Ash, Floyd. Selanjutnya mungkin saja Light, Ender, Ox, Austin, semuanya... Aku menanti kalian." Ucapnya sambil memandang langit langit kamarnya tersenyum senyum sendiri.

Ini pun awal dari cerita panjang yang akan tercatat di sejarah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Team recruit saga

Part 2 : The scientist

Beberapa hari terlewatkan, Koraya menjalani hari harinya seperti biasa, tanpa adanya  hal aneh terjadi. Ia belum juga bertemu Ash maupun Floyd lagi. Dirinya uga melakukan kegiatan sekolahnya tanpa ada gangguan.

Namun hari ini, hari sabtu Koraya tinggal di rumahnya sendirian. Setelah bangun tidur, segera pergi ke dapur untuk memasak sarapannya. Mengambil wajan lalu menaruhnya di kompor,  dipanaskan dan diberi mentega. Ia mengambil telur dari lemari es lalu memecahkannya di sebuah mangkuk, memberinya sedikit garam dan merica setelah itu menggorengnya di wajan yang sudah disiapkan. Saat matang Dia menyiapkan piring dan memasukan telur yang sudah digoreng ke dalamnya, membuka rice cookernya lalu mengambil beberapa sendok nasi. Setelah itu Dia pergi ke meja makan untuk memakan sarapannya sendiri.

Beberapa temannya yang biasa diajak main pada hari libur tidak bisa dihubungi karena kesibukannya masing masing, oleh sebab itu Koraya tidak mempunyai banyak kegiatan untuk dilakukan pada hari itu. Saat Koraya baru saja menyelesaikan sarapannya Ia mendengar ketukan dari luar rumahnya tepatnya di depan pintu rumahnya.

"Tunggu sebentar!" Saut Koraya.

Segera berjalan ke arah pintu depan rumahnya, meninggalkan piring kotornya di meja makan karena terburu buru.

"Tunggu sebentar..." Ucapnya sekali lagi di dekat pintu depan.

Saat pintu telah terbuka Koraya melihat seseorang dengan mantel putih panjang yang biasanya digunakan oleh ilmuwan ilmuwan di lab, di dalamnya Ia mengenakan kemeja biru dan celana panjang hitam. Ia juga mengenakan sebuah kacamata, Rambutnya pirang dengan model rambut yang cukup gondrong, Tubuhnya juga cukup tinggi.

"Hi.. do you recognize me..?" Orang tak dikenal itu mengatakan sesuatu dengan aksen Bahasa inggris yang sangat lancar.

"Emm.. Do I know you...?" Jawab Koraya, sebenarnya tidak terlalu lancar berbahasa inggris namun Ia bisa mengerti dasar dasarnya.

"Pfft.. Hahahaha..!" Orang tersebut tertawa, menahan perutnya.

Perlahan berhenti tertawa, mengulurkan tangan, berkata "Perkenalkan nama saya Ox.. Dr Ox dari dimensi 97 salam kenal" tersenyum.

"Wahhh Ox benar dugaanku..! Ngomong ngomong namaku Koraya kalau Kau tidak tahu.!" Koraya menjabat tangannya Ox. Koraya pun tersenyum balik.

"'Dugaanmu? Apa maksudmu Koraya? " Melepas jabatan tangan Koraya, dengan perlahan. Memandang Koraya keanehan.

"Nanti Aku jelaskan di dalam. Ayo masuk!" Koraya mempersilahkan Ox masuk.

Mereka berdua memasuki rumah didahului dengan Koraya lalu Ox yang mengikutinya dari belakang, Koraya mengantarkannya ke ruang tamu untuk berbincang bincang sedikit.

"Silahkan duduk Ox..!" Kata Koraya sambil menunjukan sofa yang berlawanan arah dengan tempat yang akan diduduki oleh Koraya.

"Iya terima kasih" Jawab Ox, mendekati sofa yang ditunjukan Koraya. Mereka berdua duduk di tempat yang disediakan, dengan itu mulai berbincang bincang.

"Jadi bagaimana Kamu bisa menduga kedatanganku disini, Koraya..?" Ox mengepalkan kedua tangannya bersamaan.

"Sebenarnya Aku tidak menduga Kamu akan datang kesini... Aku hanya menduga Kamu ada di dimensi lain..." Koraya dengan santainya melemaskan badannya.

"Kalau begitu bagaimana Kamu menebak Aku ada di dimensi lain?" Tanya Ox untuk kedua kalinya kepada Koraya.

"Ahhh itu... Sebenarnya Ash pernah ke sini... Floyd juga.. Jadi kutebak yang lainnya ada dimensi lain.." Koraya menghitung jari.

"Aku tidak mengerti.." Ox mematahkan keseriusannya dengan menggaruk belakang kepalanya perlahan.

"Ah.. Jadi OC selain Diriku telah datang mendahuluiku..? Begitu..?" Ox menurunkan tangannya.

"Benar sekali!" Koraya menunjuk Ox dengan semangat.

"Hmmm... Padahal Aku ingin membuat kejutan kepadamu.." Ujarnya dengan nada kecewa, menundukan kepalanya.

"Hahaha maaf!" Koraya tersenyum ragu,  meminta maaf kepada Ox.

"Oh iya!" Ox memeriksa kantong jas labnya lalu mengeluarkan semacam remote dari sakunya.

"Tujuanku sebenarnya ke sini sebenarnya adalah..!" Mengangkat kembali kepalanya.

"Hmmm?" Koraya memiringkan kepalanya menunjukan ucapan tanya yang tak terungkapkan oleh kata kata.

Ox menunjukan alat yang menyerupai remote itu kepada Koraya. "Untuk membuat sebuah tim!!".

"Tim?! Tunggu tunggu tapi untuk apa remote ini..? Menyalakan TV? Hahahahaha.!" Koraya tertawa terbahak bahak, mukanya memerah.

"BUKAN!" Mengeraskan suaranya kesal.

"Ini adalah alat teleportasi antar dimensi.... Atau pembuat portal.. Aku menyebutnya 'portal deployer" Ucap Ox, menunjukan remot tersebut lebih jelas kepada Koraya dengan cara menaruhnya di meja supaya Koraya bisa melihatnya sendiri.

"Jadi seperti yang Aku bicarakan.. Aku ingin membuat sebuah tim!" Ox mengulurkan kedua tangannya sementara Koraya melihat lihat remot tersebut.

"Iya tim apa yang Kamu maksud?!" Tanya Koraya dengan sangat kebingungan.

"Hihihi..." Ox tertawa kecil, membenarkan kaca matanya.

"Aku akan membuat tim yang berisi Ocmu, lalu menciptakan sebuah aliansi pelindung dimensi dimensi.. Aku sebenarnya tidak tahu siapa saja OCmu, tapi Aku tahu pasti kalau Kamu punya banyak OC.".

"Hmm.. Kamu ada benarnya sih... Tapi bagaimana?" Kebingungan, menggaruk kepalanya.

"Aku senang Kamu bertanya..." Ia menjentikan jarinya lalu menunjuk ke arah Koraya.

"Aku akan mengumpulkan mereka dengan portal deployer'ku ini dari berbagai dimensi dan mengumpulkannya di dimensi ini!".

Koraya mengelus ngelus dahinya perlahan mencerna keadaan, "Jadi... Kita berkeliling dari dimensi ke dimensi untuk mengumpulkan mereka..?".

"Mhm... yup." Jawab Ox. Ia menggapai Koraya lalu menepak pundaknya.

"SUNGGUHAN?!" Koraya menaruh remot tersebut kembali lalu mengepalkan tangannya dengan semangat.

"Sung-gu-han" Ia menjawab sambil menyekat kata katanya, terlihat sombong namun senang di saat yang bersamaan

"Mau kubuktikan?" Ajak Ox, awalnya datang dengan serius tiba tiba berubah menjadi sangatlah ceria.

"Apakah boleh?!" Koraya dengan semangat menggenggam tangan Ox. "Tentu saja..!" Ox melepaskan tangan Koraya lalu mengarahkan portal deployernya menuju lantai, sebelah kursi ruang tamu. Menekan nomor 9 dan 7, lalu tombol hijau dengan gambar lingkaran setelahnya. Munculah sedikit demi sedikit portal berwarna biru muda dan tua yang bercampur aduk dengan putih, Seperti ada retakan besar yang ada di udara yang perlahan melebar.

"J-jadi ini adalah portal..?" Koraya mengulurkan tangannya perlahan ke portal biru itu namun kurang berani untuk menyentuhnya. "Ayo masuk. Kamu duluan, Aku akan menyusul." Ox menunjuk ke arah portal tersebut.

"Siap komando." Senyum Koraya. Melangkah perlahan ke arah portal tersebut lalu memasukan kaki kanan ke dalamnya, mengambil nafas dalam dalam, memasukan seluruh tubuhnya ke dalam portal. Setelah tiba Dirinya disambut dengan pemandangan baru di dimensi 97.

"Wah...!" Pemandangan teknologi canggih yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Disusul oleh Ox di belakang, datang lalu menarik kembali portalnya dengan portal deployer yang langsung dimasukan kembali ke dalam kantongnya.

Mobil melayang, Kereta yang melaju begitu cepat dan kota yang mengambang. Seperti dalam film film saja.

"Keren bukan?.." Ox tersenyum, Dirinya merasa bangga dengan dimensi kampung halamannya ini. Memandang langit langit bangunan seakan akan dimensinya miliknya sendiri.

"Ya...." Koraya takjub, selain karena teknologi yang di luar nalar, namun juga karena bisa berpindah antar dimensi.

"Ya ya tapi waktuku habis.. Mari pulang." Ox mengeluarkan, lalu memasang kembali portal.

"Ayo lahh.. keliling bentar kan bisa..." Bujuk Koraya. "Waktuku hampir habis.. Kita harus segera menjemput yang lain.." Jawab Ox, menghela nafasnya.

"Yaaa.... Ini tidak akan memakan waktu lama kok.. plis.." Koraya memohon, merapatkan kedua tangannya.

"Ughh.. Fine." Ia menarik portalnya lalu memasukan portal deployer kembali ke dalam saku.

"Yeahh..!" Dengan senangnya mengangkat kedua tangan lalu langsung berlari ke arah gedung gedung mengapung berada. "Tunggu..!" Ox berlari menyusul Koraya.

Mereka berkeliling melalui gedung gedung yang berwarna gelap bersinar ungu neon, setelah itu menaiki taxi terbang yang disebut 'Flaxi' di dimensinya. Berhenti di tempat belanja yang dipenuhi mesin arcade. Kita bisa memilih benda apa yang ingin Kita beli dan benda itu akan muncul di sebelah Kita, menggunakan uang online untuk membeli barang barang yang diinginkan. Mereka selesai berjalan jalan dan pergi ke tempat semula.

"Sudah puas?" Ox terlihat sangat kelelahan. "Tentu!!" Koraya menjawab dengan semangat walaupun Ia menahan kelemasan yang sama dengan Ox.

Ox mengeluarkan kembali portal deployernya dan memasang portal untuk kembali ke dimensi Koraya.

Segera memasuki portal disusul oleh Koraya di belakangnya perlahan mengikuti. Sesampainya mereka sudah kembali berada di ruang tamu rumah Koraya.

"Sudah begini.. Sekarang Kita berkeliling untuk mencari OCmu dari penjuru dimensi..". Ox menutup portal lalu mengambil tempat duduk seperti tadi.

"Kalau hanya Kita berdua mungkin akan susah mungkin mereka melawan atau sebagainya." Jawab Koraya sambil mengikuti pergerakan Ox.

"Iya juga sih... Aku tidak menguasai bela diri apa pun apalagi kekuatan, Kalau begitu bagaimana kalau mulai dengan OCmu yang lemah?.." Menjentikan jarinya, mendapat ide.

"Hmmm.. Biar kupikirkan sejenak... Ash dan Floyd mereka sudah ada di dimensi ini jadi Kita cukup mencari mereka... Light, Ia mempunyai bela diri yang lumayan kuat, tapi pedangnya memiliki kekuatan yang luar biasa. Black eye atau nama aslinya Cade, Dia akan menjadi sulit sama halnya dengan Red—Hmm The virus.. Austin mungkin bisa, Aku membuatnya dengan memiliki sifat yang baik, tapi kalau Dia melawan bisa bahaya. Kalau Ender, Dia memiliki bela diri yang di luar kemampuan manusia, lebih baik dihindari untuk saat ini.." Koraya menjelaskan hal hal mengenai OCnya kepada Ox.

"Sepertinya hampir mustahil.. Kalau mau dicoba juga Austin jadi yang perta—" Saat Ox baru saja akan menyelesaikan kalimatnya tiba tiba mereka mendengar suara ketukan pintu yang mengalihkan perhatian mereka berdua.

"Koraya buka saja dulu pintunya." Ox berhenti berbicara, menyandar ke belakang sofa. "Ok tunggu sebentar.".

Koraya melangkah ke depan pintu. Saat sudah sampai di depan pintu, membukanya. 

"Siapa?" Tanya Koraya.

Koraya melihat untuk ketiga kalinya OC bertelinga kambingnya, kali ini dengan saudaranya yang pernah mencoba membunuh Dirinya beberapa hari ke belakang. "Yo!" Ash tersenyum, melambaikan tangannya.

Floyd terlihat kesal menunduk ke bawah di samping Ash yang tampak ceria. "Hey Ash! Dan.... Floyd...."  Koraya melambaikan tangannya kembali ke arah Ash namun, perlahan melangkah ke belakang untuk berjaga jaga.

"Hmph.." Keluh Floyd dengan nada yang terkesan kesal.  Ash menyinggul pundaknya berbisik "Shhh... Awas kalo macem macem.." Ash kembali memandang Koraya tersenyum, "Hehe".

Ash menggaruk telinga kanannya, berkata "Jadi Kita disini untuk meminta maaf karena membuat kesalahan..." Mendorong Floyd ke arah Koraya. 

"Uh. Maafin.".

"Yaelah... Ga usah minta maaf.. Malah senang bertemu dengan OC sendiri..." Dirinya tertawa.

Mereka bertiga berbincang sebentar walaupun sebenarnya Floyd hanya berdiri dan diam. Sementara itu Ox menunggu di dalam sendirian.

"Lebih baik Aku susul Dia." Ox beranjak, menghampiri Koraya yang terlihat sedang berbicara dengan seseorang dari dalam rumah. "Oyyy bisa ikutan ngobrol ga..?" Menundukan badan tanpa sepengetahuan bahwa yang ada di depan pintu itu adalah OC dari Koraya.

Sesaat melihat ke depan, melihat Ash dengan telinga kambingnya. "Woahhh... Di dimensiku tidak ada manusia bertelinga kambing..! Apa Dia itu Ash, Koraya? atau Floyd..?!" Ox terkejut namun juga penasaran.

"Ash.." Jawab Koraya dengan ragu serta kebingungan. 

Ox meghampiri Ash lalu mulai memainkan telinganya. "Apa apaan..." Ash menatap Ox dengan canggung. "Kamu dari dimensi 71 kan..? Dimensi human animals..?" Tanyanya dengan penasaran. "Bukan sih.. Aku gak tau persis nomer dimensinya tapi Aku tau dimensiku itu sepertinya dimensi fantasy social..." Perlahan mendorong Ox pergi.

"Dimensi fantasy social?!.." Ox membuka buku catatan kecilnya, disimpan di saku kanannya dengan terburu buru. "Fantasy fantasy..." Ox mencari dimensi yang Dia catat satu persatu. "Aha dimensi 13... Dimensi yang sama seperti dunia social ini kan tetapi mempunyai berbagai ras yang berbeda..?".

"Yap, sepertinya benar.?".

Kali ini mereka bertiga berbincang bincang sementara Floyd berdiam menyender ke tembok sendirian, tidak mempunyai keinginan untuk berinteraksi sama sekali.

"Eh Ox.. Bagaimana tentang misi kita..?". 

Ox yang tadinya masih mengobrol dengan Ash menoleh ke arah Koraya. "Iya juga.. Selagi ada Ash dan Floyd di sini Kalian bisa membantu!..." Dia tampak senang.

"Bantu apa..?" Floyd yang asalnya menyender tidak peduli, segera berdiri dengan sendirinya.

"Kita akan mengumpulkan semua OC Koraya dan membangun sebuah team untuk melindungi dimensi!" Ox mengepalkan tangannya lalu meluncurkannya ke udara.

"WAH??? Benar? Luar biasa..!" Ash juga tampak senang, seperti Koraya sebelumnya.

"Nope.. Aku tidak akan ikut campur.." Floyd berjalan menjauh dari rumah, perlahan.

"Woi Floyd Kamu mau kemana?" Teriak Ash, Floyd yang sudah berjalan jauh menjawab "Kemana aja.". 

"Kau tau Aku bisa mencarimu kan...?" Teriaknya sekali lagi. 

"Yap." Jawabnya terakhir lalu pergi tak terlihat kemana. "Ah biarkan saja, yang penting ada Kamu Ash.. Dengan ini Kamu dan Koraya bisa menjemput OC pertama Kita!" Seru Ox.

"Hayu..!" Ucap girang Ash. "Tapi siapa yang pertama...?" Tanya Ox sambil menoleh ke arah Koraya.

"Menurutku Light... Dengan kekuatan Ash mungkin Kita punya kesempatan lalu Kita bisa membujuk Light.. Jika Kita berhasil membujuknya Kita tak perlu kesusahan dalam pengumpulan anggota yang lain..!" Jawab Koraya dengan antusiasnya.

"Kalau begitu Aku akan mulai membuat markas, Aku akan memakai halamanmu di sini.. Selama itu Kalian berkunjung ke dimensi.. umm.. tunggu.." Ox membuka kembali buku catatannya untuk mencari dimensi yang berkemungkinan dimana Light berada. 

"Light seperti apa...?" Tanya Ox.

"Dia seorang pangeran yang diberkahi pedang suci, mungkin Dia berada di dimensi kerajaan..?".

"Ah ini dia dimensi 103... Tapi dimensi ini adalah dimensi sejarah jadi Kita harus memasukan waktu yang tepat juga.. masukan saja angka dijit 103025. Itu pasti berhasil..!"

 Ox memberikan portal deployer nya ke Koraya lalu berjalan ke halaman rumah Koraya sambil mengeluarkan meteran dari saku nya.

"Apa halamanku cukup untuk sebuah markas Ox..?" Saut Koraya dengan ragu. Ox membalas dengan menunjukan gaya tangannya yang dikepalkan lalu mengeluarkan jempol yaitu 'sip'.

Koraya memasukan kode angka yang diberikan oleh Ox ke dalam portal deployer lalu memasang portalnya. "Kamu siap Ash..?" Koraya senyum senyum sendiri. "Im always ready." Jawab Ash dengan senyuman yang sama dengan Koraya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Team recruit saga

Part 3 : The prince

Mereka memasuki portal ke dimensi 103 dan periode waktu 25 untuk mencari Light, bersama sama.

*tap tap* Suara hentakan kaki mereka, saat baru saja meninggalkan jejak di sana. Menginjakan kaki di tengah padang pasir yang luas tanpa terlihat apapun oleh mata kosong.

"Oi Kamu yakin ini tempat yang benar?" Tanya Ash dengan ragu, menggaruk kepalanya dengan tangan kanan.

"Tentu... Mungkin... " Balas Koraya. "Ya.. Sementara waktu Kita berkeliling saja.." Koraya berjalan mendahului Ash, perlahan.

"Ok ya sudah.." Ash mengikuti Koraya dari belakang di bawah terik matahari yang sangat panas.

Mereka berkeliling selama sekitar 15 menit dan akhirnya melihat sebuah kota besar di kelilingi benteng yang tinggi di kejauhan.

"Itu kah apa yang Kita cari Koraya?.." Ash menunjuk tembok tersebut.

"Mungkin... Di dunia ini mungkin saja ada beberapa kerjaan jadi Aku tidak yakin.. Ya patut dicoba..." Mereka berdua menghampiri benteng tersebut, saat sampai di depan gerbang kota, mereka menyadari sesuatu.

Benteng tersebut sangat tinggi, besar, dan kokoh membuatnya sangat mustahil untuk dipanjat dan juga diterobos menggunakan alat apapun. Di tengah tengahnya terdapat gerbang yang berukuran raksasa digunakan untuk transportasi pedagang dan juga hal lain.

Gerbang itu dikawal oleh 2 prajurit berzirah perak dengan tombak besi sebagai senjatanya. Koraya dan Ash dalam perjalanan untuk memasuki kerajaan tersebut, namun tertahan oleh tombak kedua prajurit tersebut.

"Dari kerajaan mana kalian...?! Untuk apa Kalian memasuki kerajaan Cronox?!" Tanya penjaga kesatu dengan nada yang tegas selagi menahan Ash dan prajurit kedua menahan Koraya.

"Anu..." Koraya ingin memberi alasan tetapi sulit untuk memikirkannya. "Sudah kubilang kan ada kemungkinan bahwa ada beberapa kerajaan di dunia ini." Koraya menengok ke arah Ash dengan cepat untuk berbisik selagi memikirkan alasan.

Salah satu penjaga dengan tangkasnya mengarahkan tombaknya tepat ke hadapan wajah Koraya.

"Apa yang Kalian baru saja omongkan?!" Prajurit tersebut menatap wajah Koraya.

"O-oh... Jadi begini Kami dari kerajaan.." Koraya dengan tegang menatap ke langit langit lalu menengok ke arah Ash sekali lagi untuk berbisik, "K-kerajaan apa?". "Mana Aku tau!!" Jawab Ash dengan lantang.

Kedua prajurit mendekatkan tombaknya ke wajah Koraya dan juga Ash, "Lanjutkan!" Tegas mereka.

"Anu.. Kami mendapat amnesia...! Kami tidak bisa mengingat dari kerajaan mana... Kami telah berkeliling selama beberapa hari mencari sebuah kerajaan untuk menjadi tempat tinggal Kami..." Ia menahan ketegangannya sedikit demi sedikit, namun terlihat jelas ia sedang berbohong. Disisi lain Ash hanya bersiul, melihat ke langit langit seperti tak ada hal apapun yang terjadi.

"Sepertinya itu kebenarannya... Mereka tidak memakai pin kerajaan.." Jawab prajurit kedua kepada prajurit kesatu.

Kedua tombak mereka diturunkan dengan tegas lalu Koraya dan Ash dibiarkan masuk. "Maafkan Kami silahkan masuk" Kedua prajurit menyisi, memberi mereka jalan.

"Terima kasih?"  Ucap Koraya kebingungan. Mereka masuk ke dalam kerajaan yang bernama Cronox itu. "Tak kusangka mereka akan tertipu" Bisik Ask, tak bisa menahan tawanya.

Tanpa mereka sadari ada sosok Kesatria berzirah putih yang mengawasi mereka dari atas benteng kerajaan.

"Orang yang menarik, namun auranya terasa familiar." Ujarnya.

Mereka berdua diguncangkan oleh pemandangan sebuah kota yang unik dan berbeda dari kedua dimensi asal mereka berdua. Terdapat suasana pasar yang terkesan kuno semperti ada di film film sejarah.

"Ayo beli sayur...!! Cuma 4 Coin per kilo!!", "Daging! Daging!!!" Suara gaduh dari kios kios di pinggir jalan menarik perhatian pelanggan.

Kios kios memenuhi seluruh pinggir jalan. Pemandangan di sana seperti sebuah kota yang masih segar tanpa mesin hanya kios kios dan beberapa pohon yang ditanam di sebelahnya.

"Wah suasana di sini seperti di pasar tradisional saja ya.." Koraya berjalan perlahan di antara kios bersama Ash disisinya.

"Pasar di duniaku berbentuk gedung besar sih.." Ash membalas Koraya dengan pernyataan yang sangatlah berbeda.

"Y-ya itu sih beda.." Koraya tersenyum ragu saat mengatakannya.

"Ayo sate daging sate daging..!" Teriak seorang pedagang di pinggir kanan mereka.

"Aaaaa.... Baunya enak sekaliiii... Aku akan pergi membeli satu.." Ash yang terpikat berjalan mendekati kios makanan tersebut.

Koraya langsung menahan tangan Ash "Tunggu tunggu... Kita kan tidak punya uang... Maksudnya ko--" "Coba dulu saja kan?" Ash melepas tangannya setelah memotong perkataan Koraya.

Menghampiri kios sate tersebut dengan cepat, segera memesan pada pedagangnya. "Pak pesan 3 tusuk ya!" dengan semangat.

"Siap laksanakan. 3 tusuk sate daging", Sang pedagang langsung membakar tusuk daging jualannya itu.

Koraya menghampiri Ash perlahan. "Sebenarnya apa apaan yang Kamu lakukan.." Koraya bertanya kepadanya dengan nada yang terdengar kesal.

"Ya Aku memesan makanan lah... Aku sangatlah lapar.." Jawabnya selagi memegang perut dan tersenyum.

Setelah selesai membakar, sang pedagang menyuguhkannya ke Ash, "Nih nak. Total nya menjadi 9 Coin Cronox."

"Ya ampun tuhkan Aku juga bilang apa Ash." Dirinya menepak wajah perlahan dengan kesal.

"Hehehe..." Ia melirik ke arah Koraya lalu pandangannya kembali pada si pedagang " Apa Anda menerima ini pak?" Ash memberi mata uang yang Dia gunakan di dimensinya dulu, kepada pedagang tersebut.

"Maaf Aku tidak bisa mene--" Pedagang tersebut berbicara dengan biasa saja sambil menggaruk kepalanya, namun Ia menyadari sesuatu "Tunggu dulu.. Itu bukan uang kerajaan kita.. Kamu mata mata!!" Bentak sang pedagang dengan terkejut.

"Tunggu---" Koraya menghampiri pedagang tersebut namun perkataannya langsung disekat. "PRAJURIT!!!" Teriak pedagang itu.

Banyak prajurit berzirah perak yang serupa dengan sebelumnya, menghampiri Koraya dan Ash. Dengan serentak membawa pedang dan juga tombak. Bahkan beberapa membawa perisai juga.

"I-ini cuma kesalah pahaman..!" Koraya terbata bata. Para penjaga mengarahkan pedang, tombaknya ke arah mereka berdua tanpa peduli alasan apapun.

"Sudah ikuti Kami saja ke kastil...!" Salah satu prajurit memberi penegasan kepada Ash dan Koraya. Mungkin Dia pimpinan pasukan. Kedua tangan mereka diikat oleh rantai besi yang kuat lalu dibawa menuju kastil yang berada tepat di tengah kerajaan tak jauh dari situ.

Mereka pun dipaksa berjalan dengan para prajurit mengelilingi dan menjaga Koraya dan Ash dari setiap sisi, tanpa adanya celah.

"Yahh cuma karena sate daging? Beneran nih..?" Ucap Ash setelah menghela nafas yang panjang.

"Kamu tidak tegang ya..." Koraya hanya melihat ke depan tanpa menengok ke sana sini.

"Kalau Kamu tegang, Aku bisa membuat Kita lolos... Mau coba..?" Bisik Ash kepada Koraya.

"Tunggu. Aku penasaran Kita akan dipertemukan dengan siapa.." Koraya memandang kastil yang akan mereka masuki dalam beberapa langkah lagi.

Mereka sampai di kastil setelah beberapa langkah berjalan, memasuki lalu berhenti di ruangan besar di tengah kastil. Banyak lukisan antic dan sebuah tahta di hadapan mereka, tentu pemandangan ini terasa sangat asing baginya. Para prajurit melempar Koraya dan Ash ke tengah ruangan. "Ini Kita mendapatkan penyusup komandan." Lapor salah satu prajurit kepada seseorang di sana.

"Ohh... Mari Kita pertimbangkan... pertemukan mereka dengan Pangeran..".

Orang yang disebut sebut komandan itu berzirah hitam, dan mempunyai pedang yang sangat besar. Rambutnya kecoklat coklatan, dan tubuhnya bias dibilang tinggi dan kekar.

"Siap laksanakan..!!" Jawab semua prajurit, mereka semua meninggalkan ruangan untuk kembali berpatroli.

"Kalian berdua ikuti Saya..." Ucapnya sambil berjalan ke dalam sebuah koridor di ujung ruangan besar tersebut.

"O-okay.." Jawab Koraya dengan ragu dan ketakutan, keadaan seperti ini baru dialami dalam kehidupannya, jadi tak aneh jika Ia bisa sampai cemas begitu.

mereka berjalan melalui koridor terbuka. Di pinggir koridor menunjukan sebuah pemandangan indah dengan tanaman tanaman hijau yang subur dan beberapa ekor burung yang sedang berterbangan.

"Jadi Kalian sebenarnya dari kerajaan mana..?" Tanya sang Komandan tersebut kepada Koraya dan Ash yang sedang berjalan tepat di belakangnya.

"Sebenarnya Kami kehilangan ingatan dan---", "Kita dari dimensi yang berbeda..." Perkataan Koraya dipotong oleh Ash dengan mudahnya, dengan santainya.

"Dimensi??" Komandan tersebut tak tampak terlalu terkejut walau menengok ke belakang sedikit.

"Ash?! Seharusnya Kita menyembunyikan identitas Kita!!!" Kesal Koraya, melirik ke hadap Ash.

"Ahhhh.. Tapi sudah terlanjurkan?" Ash mengangkat tangannya dengan pasrah, walau terlihat jelas itu sebenarnya disengaja.

"Ya sudahlah...".

"Apa itu dimensi..?" Tanya Sang Komandan selagi terus berjalan dan sementara burung berbunyi di belakang mereka.

"Ah ok.. Jadi.." Koraya mencoba menjelaskan apa dimensi itu selagi burung bertebangan melewati mereka. "Anggap saja dimensi itu dunia yang berbeda dari dunia ini.." Lalu berhasil menjelaskan dengan singkat padat dan sejelas mungkin.

"Ohh jadi seperti itu.. Kalau begitu maafkan ketidak sopanan Kami... Tapi maaf Saya tidak bisa mengembalikanmu..." Ucapan maaf dari sang komandan terdengar sia sia di telinga mereka berdua. 

"Ya sudah.. Kalau begitu Kita harus apa..?" Tanya Koraya. Ash yang tidak terlalu peduli dengan situasi, bersiul dengan tenangnya bersama dengan burung burung.

"Ya Kalian harus bicara dengan pangeran... Tunggu maafkan.. nama Saya Edward.. Salam kenal.. Saya komandan utama, dan juga mentor sang pangeran.." Edward berhenti, menjulurkan tangan untuk menjabat tangan dengan Koraya.

"Nama saya Koraya dan Dia Ash... Salam kenal!" Mereka berjabat tangan.

"Salam kenal... Dan Kalian sudah sampai.." Edward melepas tangan Koraya, melihat ke arah taman. Ada seorang Pria berzirah putih bersih yang bercahaya sedang berlatih pedang kepada sebuah boneka sawah. Tubuhnya sangat ideal, rambutnya pirang, lalu matanya berwarna biru muda.

"Sudah sampai..? Mana sang Pangeran..? Apa yang harus kulakukan?" Koraya bertanya tanya, tak tahu harus bertindak apa di tempat tak familiar ini.

"Itu beliau sedang berlatih pedang di taman... Tenang saja... Kalian hanya perlu membujuk Pangeran untuk tidak menghukum kalian.. Aku mendoakan kalian.." Edward tersenyum dengan penuh dukungan.

"Okay!!..." Koraya maju beberapa langkah mendekati Pangeran itu. "Tunggu siapa nama sang pangeran..?" Tanya Koraya setelah berhenti, menoleh ke belakang.

"Oh iya Aku hampir lupa.. Nama beliau adalah Light Cronox... Pangeran Cahaya dari kerajaan Cronox.".

"L-light Cronox?!" Koraya terkejut.

"Ya.. Pangeran Light Cronox... Apa nama itu terdengar familiar...?" Edward sedikit heran.

"Tidak... Ash ayo..!" Bujuknya. "Yo!" Balas Ash.

"Terima kasih Edward Kita akan berusaha..!" Koraya memberikan thumbs up dari kejauhan.

"Yosh.. Good luck!.." Edward meninggalkan taman selagi Koraya dan Ash membalikan badan mereka, menghampiri Light.

“Dia OCku…” Bisik Koraya perlahan memberi tahu Ash. Ash yang mendengarnya tersenyum tanpa memberikan balasan apapun.

Light yang dikenal dengan julukan 'Pangeran Cahaya' sedang berlatih dengan tongkat kayu, dipukul ke arah orang orangan sawah. Pedang aslinya disimpan di atas tanah bersamaan dengan zirah kepalanya. Terlihat gagah.

"Lig-- Pangeran.." Dengan hormat menunduk kepada Light.

"Huh..? Tunggu sebentar..." Light menaruh tongkatnya di dekat kakinya, mengambil pedangnya lalu memasukannya ke dalam wadah di sisi pinggang. "Jadi... Kalian sang penyusup.?" Tanya Light sambil tersenyum kepada keduanya.  

"Bagaimana Kamu bisa tahu??" Koraya kaget, Ash terlihat biasa saja. Ia berdiri di belakang Koraya dengan santainya.

"Aku harus mengetahui semua yang terjadi di kerajaanku.... Jadi apa mau Kalian ke sini?" Tanya Light, meninggalkan semua hal yang sedang dilakukannya untuk berbincang dengan 2 orang yang tidak dikenal.

"Namaku Koraya, Dia Ash.. Dan Ka--"
"Kami ingin
Anda masuk ke organisasi Kami.." Seperti biasanya Ash memotong perkataan Koraya saat sedang berbicara, tidak sopannya.

"Tunggu Ash..!" Dia bertindak di luar rencana yang telah Koraya rancang dalam pikirannya.

"Organisasi?! Hahaha...." Tawa Light dengan perlahan menunjukan betapa sombongnya Dirinya, meremehkan Ash dan Koraya.

"Dengar.. Aku tidak perlu berorganisasi dengan orang yang tidak setara denganku seperti Kalian..." Dengan sombongnya, dengan tatapan merendah.

"Kami cuma-"
"Hahh?! Orang tak setara..?!" Ash berulang kali memotong perkataan Koraya karena kesal dan terbawa emosi.

"Koraya biarkan Aku saja yang bicara sekarang..." Berjalan maju mendekati Light mengedepankan emosinya dari pada kemungkinan lain.

"Bagaimana kalau begini Light... Kita adakan sebuah duel saja...  Kalau Aku menang Kamu akan memasuki organisasi Kami ini.." Ash membukakan kedua lengannya dengan percaya diri.

"Hahaha.... Kalau Aku menang...?".

"Kami akan menjadi bawahanmu.." Tanpa berpikir panjang.

"WOAH WOAH.... TUNGGU DULU ASH..." Bentak Koraya mendekati Ash dengan kesal.

"Kamu pikir Kamu akan menang semudah itu Ash?!" Bisiknya ke dalam telinga, perlahan dengan banyak kejengkelan terdengar.

"Tentu... Liat saja..." Dirinya tersenyum, terukir banyak hal di wajahnya itu. Mungkin rasa kesal karena direndahkan, atau rasa sombong karena kekuatan besar yang sesungguhnya Ia miliki.

"Hahaha! ya sudah.. Mari adakan duel ini... Sore ini di arena belakang kastil ini... Aku akan menyuruh Edward untuk menyiapkan kamar untuk Kalian beristirahat." Light menjulurkan tangan. "Deal?" Light tersenyum dengan tulus kali ini.

"Deal!" Ash menjabat tangan Light dengan senyuman yang sama. Yang berarti duel antara Ash dan Light sudah sah untuk dilakukan.

Ash melepas jabatan lalu meninggalkan taman tersebut tanpa ingin mengucapkan sepatah kata pun, Koraya mengikutinya butut Ash tanpa bisa menebak apa yang akan datang.

"Good Luck....." Ucap Light dengan suara yang kecil, meninggalkan taman ke arah yang berbeda.

Mereka berdua kembali berjalan di lorong yang sebelumnya mereka lewati, mengingat jalan yang asalnya mereka tempuh. "Ash.... Kamu tau ga?" Tanyanya.

"Hahh?" Melirik sedikit ke arah Koraya, mengangkat alisnya bertanya tanya. "Dia adalah salah satu karakter yang kubuat penuh dedikasi... Jadi... Mungkin.." Koraya berkata dengan ragunya.

"Lalu...? Aku takkan dengan mudahnya menyerah kan?" Senyum Ash menunjukan betapa semangatnya Dia. Walau keringat bercucuran dari wajahnya menunjukan Dia cemas, namun karena Ash menyukai tantangan, semua kecemasan itu tertutupi dengan adrenalin.

Koraya melirik ke arah Ash, menatapnya tersenyum dengan harapan "Ya tentu saja!".

Mereka sampai di ruangan tengah semula, di sana terdapat Edward yang telah menunggu mereka berdua, sambil menjinjing sebuah lentera entah sejak kapan.

"Koraya.. Ash.. Ikuti saya..".

"Lah.. Bagaimana Kamu bisa dengan cepat tau?" Kejut Ash selagi menghampiri Edward. Kini giliran Koraya yang mengikuti Ash dari belakang.

"Tentu..." Senyumnya, Dia membalikan badan ke kanannya "Cepat ikuti Saya ke ruangan Kalian selamanya.." Edward pergi keluar ruangan tersebut menuju koridor lainnya yang berada tepat di sebrang koridor sebelumnya. Koridor tersebut gelap, kelam tanpa penerangan apapun. Ia menyalakan lentera kecil yang dibawanya untuk menerangi jalan.

"Hei Hei! Tunggu!" Ash mengejarnya sesegera mungkin sementara Koraya mengejarnya pelan pelan, terlihat kelelahan. "H-hei tunggu sebentar." Saut Koraya dari belakang.

Ash menepak bahu Edward supaya berhenti sejenak. "Apa maksudmu 'Selamanya' Hah??" Dengan kesal dan juga dengan bingung bertanya kepada Edward.

"Kesepakatnya... Kalau Kalian kalah Kamu akan menjadi bawahan Light kan...? Jadi ruangan yang akan kutunjukan akan menjadi ruangan Kalian selamanya..." Jawab Edward dengan polosnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Ash, dan juga Koraya yang sedang berjalan dengan kelelahan di belakang mereka berdua.

"Liat saja apa hasil dari duel itu ya... Jangan dulu menentukan hasil sebulum pertandingan itu dimulai....." Ash menatap Edward tepat diwajahnya.

"Sudah sudahhhh...." Koraya melerai mereka berdua walau Dirinya tampak kelelahan.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka dalam kesunyiaan, hanya bayangan dan beberapa serangga yang dapat dilihat oleh mereka. Pada akhirnya beberapa lampu lentera pun mulai terpasang di dinding koridor menunjukan adanya sebuah keberadaan makhluk hidup di sana, lebih tepatnya manusia.

"Ini tempatnya..." Ucap Edward, berhenti di hadapan sebuah pintu kayu yang bisa dibilang agak bobrok.

"Ya sudah..." Ash menghela nafas berat berat, Ia tampak jengkel atas semua perlakuan yang didapatkannya di sini. Tetapi juga yakin bahwa Dia bisa membalaskan semua itu.

Edward melanjuti perjalanannya melalui koridor selagi Ash dan Koraya ditinggal di hadapan pintu tersebut.

"Yaaa Kita sampai.." Kata Koraya dengan lemas dan pasrah.

Mereka membuka pintu dan di dalamnya terdapat dua kasur yang terlihat lumayan nyaman, sebuah lemari dan sepasang kursi dan meja. Ruangan itu terbuat dari bata bata yang masih kasar. Tidak terdapat jendela jadi sangat sedikit udara yang masuk, membuat ruangannya tidak hanya sedikit pengap.

"Jadi bagaimana rencananya Ash...?" Tanya Koraya selagi memejamkan mata lalu saat Ia membuka matanya, menoleh sebelahnya. Ash sudah tidak ada.

"Zzzzzzzzz......" Dengan pulasnya Ash tertidur di atas salah satu ranjang tersebut.

"Ah ya sudah lah... Lagipula Ox dan Floyd bisa menyelamatkan Kami jika terjadi apa apa..." Koraya pergi menghampiri kasur yang satunya dan berbaring.

"Tapi semoga saja Kita menang..." Koraya mengucapkan kata kata tersebut sebelum akhirnya ikut tertidur.

Beberapa jam kemudian. Ash dan Koraya sudah tertidur, mengisi energi mereka untuk saat dimana mereka harus mencurahkan segalanya.

*Tok Tok* Suara ketukan pintu kamar Koraya dan Ash terdengar, "Ash Koraya... Pangeran sudah siap untuk bertanding...".

Ujar Edward, perlahan Ia membukakan pintunya.

Dia melihat Ash dan Koraya sedang duduk di tepi kasur menatap ke arah Edward. Ash mengeluarkan api kecil dari tangannya lalu berkata "Kita siap...". 
Mereka keluar dari kamar bersama sama. Mengikuti Edward keluar istana dengan kesiapan yang matang dan rencana yang sudah di
sempurnakan.

Sesampainya di luar, mereka dituntun menuju arena besar yang berada di dekat istana tepatnya di belakangnya.

"Woah.. Gede banget..!" Ash terpukau. Arena mirip koloseum itu walaupun besar namun Kita tak dapat melihatnya sampai Kita menyisi ke pinggir istana.

Koraya menatap tajam arena, mengepalkan telapak tangannya dengan erat, hatinya dipenuhi oleh adrenalin walaupun bukan Ia yang akan bertanding.

"Kita sudah sampai... Saat nanti Kita di dalam Saya dan Koraya akan diam di tepi arena sebagai saksi dan Ash silahkan ke tengah arena.." Ujar Edward di hadapan Arena yang amat besarnya.

Walau jika dilihat dari jauh terlihat seperti coloseum namun jika dilihat dari dekat model bangunannya berbeda sekali, terlihat dari bentuk bentuk dinding dan pilar yang sekilas terlihat seperti arsitektur ke Asia-an.

Mereka memasuki arena tanpa sepatah kata apapun, ketegangan Koraya membuatnya tak bisa mengajak bicara Edward bahkan Ash. Lalu Koraya berhenti di tepian arena bersama Edward. Sedangkan Ash melanjuti perjalannya menuju tengah arena.

"Berjuanglah Ash...! Im counting on you..!" Teriak Koraya dari kejauhan dengan kedua telapak tangannya di pinggir mulutnya.

Ash memberikan thumbs up tanpa membalikan badannya, terlihat gagah karena semua harapan ada di tangannya.

Sesampainya Ash di tengah arena *Trekk....* Gerbang besi yang amatlah besar terbuka. Gerbang tersebut berada tepat di hadapan Ash yang berarti gerbang tersebut berada di arah yang berlawanan dengan pintu masuk mereka sebelumnya.

Light menggunakan pedang aslinya, juga memakai baju tempurnya yang bersilau. Keluar dari gerbang tersebut dengan gagah sama seperti lawannya.

Dia berhenti sekitar 6 meter di hadapan Ash, menjaga jarak untuk bertempur. "Apakah Kamu---" Perkataan Light dipotong oleh Ash. Memotong perkataan orang memang kebiasaannya.

"Tanpa basa basi... Kamu siap Light..?" Memberikan senyuman sombong yang selalu ditunjukannya untuk menurunkan semangat musuh.

"Kamu memang tidak sopan ya... Tentu Aku siap.." Light mengeluarkan pedang putihnya. Anehnya pedang tersebut mengeluarkan aura yang sangat berbahaya.

"1...."

"2...."

"3...."

"Start!!" Edward menghitung mundur awal pertandingan Mereka.

Ash berdiam untuk beberapa detik setelah hitungan selesai hanya untuk mengetes kesabaran lawannya, Light.

"Apa yang Kamu lakukan...?" Light yang sedang memasang kuda kuda dari awal pertandingan bertanya kepada Ash.

"Hah..? Lagi diam memang kenapa..?" Ash bertanya balik, berpura pura bodoh sekali lagi mengetes Light.

"Kamu benar benar mempermainkanku... Akan kuakhiri sekarang juga.." Light menatap Ash dengan setengah serius dan juga setengah sombong.

Pedang Light bersinar terang seperti sumber cahaya yang menerangi sekitar dengan cerahnya.  Light mengucapkan sesuatu dengan halus dari mulutnya, "Gleaming Slash.." menatap dengan tajam lalu mengayunkan pedangnya secara vertikal.

Sebuah cahaya besar keluar dari pedangnya melaju ke arah Ash dengan sangat cepat seperti pisau besar yang terbang secara kilat.

Ash terkejut, segera berpindah menggunakan api yang Ia keluarkan dengan sekejap. Menggunakan dorongannya untuk berpindah lokasi dengan cepat.

Sisi arena yang berada di belakang Ash hancur seketika dan abu bekas reruntuhan dinding menutupi daerah tersebut.

"Apakah Ash baik baik saja?! Dia tanpa ragu menghancurkan arenanya.. Apa Dia gila?!" Saut Koraya dengan kesal.

"Dia baik baik saja.. Dia berhasil kabur di detik terakhir... Walau Aku heran, selama ini hanya 2 orang saja yang berhasil serangan maut tersebut dari Light, salah satunya Ash.." Jawab Edward yang tampak heran.

"Wah... Semangat Ash..!" Koraya mengangkat lengannya tinggi tinggi, menyemangati Ash, Ia melihat sebuah harapan sekali lagi.

"Bagaimana Kamu bisa menghindar?!" Light mulai mengakui kekuatan Ash.

"Hohohooo...~" Abu yang asalnya menutupi sisi arena itu mulai memudar, menunjukan Ash di tengahnya dengan api membaranya. "Sepertinya Kamu yang telah meragukan kemampuanku... Lets have fun!" Ash tertawa kecil, memandang Light tepat ke wajahnya.

"Ahli sihir? Jadi begitu.. Kali ini Aku akan serius.. Akan kupertaruhkan harga diriku ini sebagai pangeran.." Light menegakan tubuhnya, menyimpan pedang tepat di hadapannya.

Sekali lagi pedang Light bersinar terang, Dirinya mulai berlari ke arah Ash.

Ash menutupi kedua tangannya dengan api yang membara dari ujung jari sampai siku untuk memberi perlindungan. Light mengayunkan pedangnya tepat dari atas kepalanya Ash menuju ke bawah untuk menebasnya secara vertikal. Ash dapat menangkisnya dengan kedua tangannya yang sudah tertutupi api tersebut. Tekanan yang besar keluar dari benturan antara lengan Ash dan pedang Light membuat seluruh arena terguncang.

"Tanganmu kuat juga ya?" Ucap Light menahan pedangnya sekuat tenaga supaya Ash tak mendapat kesempatan menyerang.

"Oh iya ini.... Sebenernya Aku juga baru tau..." Balas Ash dengan senyuman licik, juga selagi keringat bercucuran dari wajahnya. Ia mendorong pedang Light ke belakang lalu berdiam diri sejenak.

Perut Ash berbunyi, dengan santainya Ia berkata "Kamu tahu Aku belum sarapan mening Kita makan dulu.." Sambil memegang perutnya.

Light mengabaikannya, menancapkan pedangnya ke dalam tanah. "Ground Breaker..." Selagi enunduk ke bawah.

Tanah mulai berguncang di sekitar pedangnya, tentu terkecuali tempat dimana Light sendiri berdiri.

"Oh cmon.." Ash menghela nafas. Ia melompat ke udara lalu mengeluarkan sayap api. Dirinya melayang di udara dan bilang "Kalau seperti itu Aku juga punya jurus tunggu saja.." Ash memberi tawa kecil.

Ash mengangkat sebelah tangannya, mengeluarkan bola api yang merah membara. Dia menyebutkan "F-fire... ummm.. Fire Fire puw paw puw.." lalu melemparkan bola itu ke arah Light setelah kebingungan memikirkan nama. 

Bola api tersebut melaju ke arah Light dengan cepat. Dia berniat untuk menangkis namun saat melakukannya bola api tersebut meledak, menghasilkan banyak api dan asap.

Ash turun kembali menuju daratan, setelah itu menghilangkan seluruh api apinya. "HAHAHAHA!! Makan tuh!" Ash menertawakan Light, menunjuk ke arah asap dimana bola api itu meledak.

Secara mendadak, Light berlari dengan cepat dari asap tebal itu menuju Ash. Dipenuhi luka lecet ringan dan juga debu asap. Sampai di hadapan Ash, sebelum bisa melakukan apapun. Menahan lengan Ash yang menunjuk ke arahnya lalu meletakkan pedang di lehernya.

"Aku telah menang tak ada cara lagi untuk kabur... SkakMat" Light perlahan membisikkan perkataannya ke sebelah telinga Ash.

Seluruh keadaan arena menjadi sunyi seketika, sebuah keadaan tak terduga bagi Koraya terjadi. Padahal Ash sudah unggul dari awal pertandingan.

"A-apa yang terjadi..?" Koraya menoleh kebingungan.

"Light menang!!" Edward mengepalkan, mengangkat tangannya ke udara.

"Kamu pasti bercanda..." Koraya terpaku, matanya memandang kekalahan yang sudah pasti. Ash menatap Light dengan mata hampa. Light melepaskan tangannya, menurunkan pedang. Ash terjatuh, putus asa.

Light memalingkan diri, berkata "Kembali keruangan.. Nanti Edward akan menyiapkan kebutuhan kalian.. Nanti--"

"Kamu bercanda..!!" Ash menggelengkan kepalanya, kesal. Ia memenuhi sekitarnya dengan api yang membara.

Koraya menutupi matanya dengan sebelah lengan. "Oi..!!" Edward mengeluarkan pedang, menatap Ash dengan sangat waspada.

Light mengangkat tangan kanannya, memberi kode kepada Edward untuk tetap diam dalam posisi. Membalikan badan, mengucapkan  "Ku beri kesempatan terakhir..".

"A-apa? Tunggu pangeran...!" Edward membantah perkataan Light.

"Apa..?" Api apinya perlahan lahan memudar.

"Serangan pertamaku tadi.. Jangan menghindar, tahanlah.. Jika Kamu berhasil selamat, Aku akan memasuki team apapun itu.." Light mengangkat kembali pedangnya.

"Kamu sudah gila Light..?!" Edward segera menghampiri Light dan Ash.

"Wah Aku senang Kamu memanggilku tanpa formal kali ini..! Jadi ingat dulu.." Light tertawa.

"Bodoh, Ash bisa mati jika mengenai seranganmu itu secara langsung..!" Edward menghilangkan formalitasnya yang selalu Ia gunakan.

"Mati..?!" Koraya yang tadi sedang berjalan menuju mereka, baru saja tiba.

"Iya Aku tahu.. Tapi Ash tidak selemah itu kan?" Light menoleh kepada Ash, memberikannya senyuman yang misterius.

"Tentu.." Ash kembali bangkit, perlahan tapi pasti. Semangat dalam hatinya tampak bangkit kembali.

"Kalian sudah gila.." Edward membanting tangannya kesal.

"Ash.. Kamu yakin..?" Koraya perlahan menghampiri Ash yang sedang mempersiapkan Dirinya sekali lagi.

"Tentu saja.. Akan kuakhiri pertandingan yang kuawali ini sekarang juga.." Ash tertawa, walau Ia terlihat sedikit ragu akan apa yang Dia setujui.

"Kamu siap..?" Light menyiapkan kuda kuda. Di sudut lain Koraya dan Edward menyisi ke pinggir arena, tempat mereka menonton awal pertandingan.

"Ya..." Ash mengeluarkan, lalu mempertebal api di daerah tangannya. Ia menyimpan kedua tangannya di depan dan menyilangkannya.

Light mengangkat pedangnya tinggi tinggi lalu menebas udara secara vertikal. Sama seperti sebelumnya, cahaya besar melaju ke arah Ash.

Ash kali ini tidak diperbolehkan untuk menghindar, Ia memperkuat kekuatan kakinya untuk menopang dan kekuatan tangannya untuk berlindung.

cahaya tersebut diam tepat di hadapan Ash, tertahan oleh kedua tangan Ash yang diselimuti api. Tekanan dari cahaya tersebut sangatlah besar sampai sampai pijakan Ash mulai retak dan perlahan hancur.

"Ayolahhh...!!" Koraya memohon dalam hati.

Cahaya itu perlahan menembus api, meninggalkan sedikit luka di tangannya.

"AYOO..!!" Ash berteriak, Ia mendorong kakinya menambah tenaga. Sampai akhirnya cahaya tersebut puda dengan sendirinya, seperti sebuah kabut putuh yang tertiup angin.

"Haa... Haa.." Ash menghilangkan api di tangannya lalu melemaskan kedua tangannya.

"Yang benar saja..?" Edward terheran heran, mulutnya terbuka lebar terkejut, matanya tidak dapat tertutup kebingungan.

"MANTAP..!!" Koraya membanting tangannya, lalu melompat dengan senang sekali.

"Hohoo.. Sudah kuduga Kamu bisa menahannya.." Light tertawa, perlahan Ia menghampiri Ash. "Sesuai janji Aku akan memasuki organisasimu..".

"Pangeran.. Kamu benar benar akan meninggalkan kerajaan..?" Edward menghampiri mereka bersama Koraya.

"Tenang, Aku takkan selamanya bersama mereka.. Suatu saat nanti Aku akan kembali ke kerajaan ini.. Kamu adalah mentorku.. Selama Aku pergi jagalah kerajaan ini.." Light mengulurkan tangannya ke arah Edward.

"Ha... Apa boleh buat.." Edward tersenyum, menjabat tangan Light.

"Ah iya tadi ada berapa anggota dari organisasi ini..? Adakah orang yang lebih kuat dari Ash..?" Light menghadapkan diri ke arah Koraya dengan wajah yang ingin tahu.

"Ah.. kesatu.. sebenarnya baru ada lima anggota termasuk Kamu.. Kamu adalah salah satu anggota pertama... Dan kedua ada..!" Ash menjawab pertanyaan Light itu dari tempat lain.

"Siapa?" Light menoleh secepatnya kepada Ash.

"Kamu.." Jawab Ash, senyum ragu.

"Ah..." Light menepak dahinya sendiri dengan kesal. "Kalau begitu selamat datang Light...!" Koraya mengulurkan tangannya, menerima hangat kedatangan sekutu barunya itu.

"Ya terima kasih..." Light mengangkat, lalu menjabat tangan Koraya erat ert.

Light mengadakan sebuah pengumuman dadakan namun besar besaran terhadap para rakyat di sana. Setelah mengucapkan sebuah pidato, para rakyat menerimanya.

Mereka berkeliling menemui kenalan dekat Light, bahkan sampai mengucapkan selamat tinggal sementara kepada semua prajurit dan penjaga di istana.

Mereka kembali ke dalam istana untuk memasang portal pulang. Seperti saat dating, Koraya menekan tombol pada portal deployer, lalu munculah portal.

"Jadi ini alat transportasi perpindahan dimensi..." Light berpikir terheran heran.

"Hei sebelum Kita masuk... Kenapa Kamu memberi Ash kesempatan kedua, Light?" Tanya Koraya. Walau Ia bersyukur, Dia tetap tidak bisa memikirkan alasan akan hal itu.

"Aku mengakui kekuatannya.. Jadi Aku mencoba mengetesnya sekali lagi.." Jawabnya, tidak menengok sekali pun ke arah Koraya maupun Ash, hanya memandang ke depan dengan serius.

"Ah... Terima kasih..." Ash tersipu malu.

Koraya memasuki portal terlebih dahulu, disusul Ash, dan Light terakhir. Selagi kerabatnya melambaikan tangan dari belakang. Light membalas dengan senyuman, juga lambaian yang tulus kepada kerajaannya yang pernah Ia pimpin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Team recruit saga

Part 4 : The water bender

Saat mereka sampai disisi lain, mereka disambut dengan Ox yang sedang menghias tenda di halaman. Juga Floyd yang sedang duduk di depan pintu rumah menyender kepada pintu, dan sebelah kakinya di tekuk.

Koraya segera menekan kembali tombol pada portal deployer sesaat semuanya telah tiba. Ash menengok terkejut, "Floyd.. Kamu kembali!" Ujarnya lantang.

"Ya ya.. Kalau dipikir pikir Aku tak punya tempat tinggal disini..." Floyd menghela nafas panjang lalu menunduk.

"Aku tahu Kamu akan kembali..!" Senyum Koraya. "Tch.." Floyd segera menundukan kepala lebih rendah lagi, malu.

"Oh Ox jadi tenda markasnya..?" Tanya Koraya, menghampiri Ox.

"Tenang tampak luarnya memang begini tapi berbeda di dalam.." Ox menggaruk telinganya. "Oh ya Koraya tadi ada orang kesini yang mencarimu... Dia mengatakan takdir mimpi apalah Aku juga tidak tahu.." Ox mengangkat kedua bahunya.

"Sekarang Dia dimana?" Tanya Koraya, memiringkan kepalanya.

"Didalam rumah mu.." Tangan Ox menunjuk ke arah pintu yang disenderi Floyd.

"Yang benar saja! Kamu tidak boleh mengijinkan orang masuk tanpa sepengetahuan pemilik rumah..!!" Jawab Koraya dengan kesal, tubuhnya menyondong sedikit kepada Ox.

"Ohh Maa--" "Sudahlah biar kuurus..." Koraya mengipas ngipas udara dihadapannya dengan maksud 'Jangan hiraukan'.

Koraya menghampiri pintu depan rumah, Floyd yang sedang bersandar menyisi. Saat membukanya, Ia melihat seseorang dengan jaket jeans, membawa backpack. Dia berambut coklat keemasan yang panjang. Wajahnya terlihat sangat muda, mungkin di bawah Koraya. Dirinya tengah duduk di ruang tamu. 

"Halo?" Ujar Koraya perlahan sesaat telah menginjakan sebelah kakinya ke dalam rumahnya.

Orang itu mengangkat kepalanya, tersenyum, "Hai..".

"Kamu siapa..?" Koraya bertanya dengan seserius mungkin.

"Oh ya betapa tidak sopan nya Aku..." Orang tersebut bangkit dari duduknya, "Namaku Habiki... Apakah Kamu pemilik rumah ini??".

Dari postur tubuhnya dan wajah yang terlihat lebih jelas kini terbukti kira kira Habiki berada di bangku SMP. Tingginya di bawah Koraya.

Habiki mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Koraya. Koraya menghampirinya, menjabat tangan, dan berkata. "Ya... Namaku Koraya... Apa Kamu ada perlu..?".

"Oh iya Aku ingin memberi tahumu sesuatu.." Habiki melepas jabatan tangan Koraya.

"Kalau begitu mari Kita duduk dahulu..." Mereka duduk bersamaan di sofa yang berhadapan.

"Emmm jadi begini... Saya telah mengalami banyak mimpi tentang rumah ini... Sejak 2 bulan yang lalu... Saya juga bermimpi tentang anda... Dan orang berkacamata yang ada diluar... Tapi beberapa hari yang lalu mimpi saya menjadi jelas... Alamat rumah ini pun tercatat dalam mimpiku..." Jelas Habiki.

"Mengerikannn... Ia mengetahui alamat ku..." Ucap Koraya dalam hati sambil membuat ekspresi kAku.

"Jadi untuk beberapa hari kemarin saya menyelidiki alamat ini dan mencoba untuk datang... Dan disini saya sekarang.." Lanjut Habiki lalu berhenti sejenak.

*Ehem* "Terus.... Apa yang akan Kamu lakukan sekarang....?".

"Aku kurang tahu..." Habiki tersenyum ragu. "Aku harap ini takdir atau apalah..".

Sontak Ash membuka pintu secara, lantangnya suara benturan pintu tersebut terdengar oleh Koraya dan Habiki yang berada di dalam rumah.

"Korayaaa... Yu Kita mengumpulkan anggota lagi..." Kata Ash, berbicara seperti seorang anak yang mengajak temannya main.

"Sekarang?!" Koraya terkejut, perlahan lahan Ia berdiri.

Habiki membalikan badannya perlahan. Sesaat Dia melihat Ash, Dirinya terkejut "Aku melihat Mu juga di mimpiku ..!" Berbicara dengan lantangnya.

"Ehh mimpi apa?" Ash menoleh sedikit, melirik ke arah Habiki.

"Itu mimpi--" "Nanti saja menjelaskannya... Kita akan pergi dulu... bisa Kamu tunggu beberapa jam??.." Koraya menghampiri Ash lalu menyeretnya keluar.

"Ya bisa saja.... Akan kutunggu..." Habiki tersenyum sabar.

"Kalau mau minum ambil saja sendiri Ok?... Ayo Kita pergi Ash..!". "Ayooo... Selanjutnya siapa...?" Ash  dengan paksa melepas tangan Koraya yang menyeretnya setelah tiba diluar.

"Menurutku... Ayo Kita jemput Austin.." Ujar Koraya.
Koraya dan Ash segera berjalan menjumpai, menghampiri Ox.

"Ox... Tolong setelkan portal deployer ini ke dimensinya Austin..!" Koraya melemparkan portal deployer tersebut kepada Ox dari kejauhan.

"Kamu sudah mau pergi lagi?!" Ox menangkapnya dengan kedua tangan. " Ya sudah... Dimensi seperti apa Austin berada..?" Ia mengutak ngatik portal deployer.

"Ah sepertinya dunia sihir..? Dia mempunyai kekuatan air.." Koraya menggaruk leher belakangnya.

"Oh begitu... Tunggu sebentar..". Sementara Koraya dan Ox sedang berbincang Ash menghampiri Light dan Floyd yang terlihat seperti sedang duduk bersama sambil berbicara.

"Heyyaaaaaa.... Ga ngajak ngajak.." Saut Ash di hadapan mereka berdua.

"Kita cuman kenalan kok..." Jawab Light, menengok ke arah Ash menunjukan senyuman.

"Oh kalau begitu apa Kalian berdua mau ikut menjemput anggota baru...?" Tanya Ash dengan sangat antusias.

"No thank you... " Jawab Floyd dengan ekspresi datar.

"Ga nanya ke Kamu.... Bagaimana Light..?!"  Tanyanya setelah melirik sebentar ke arah Floyd.

"EHH?! KAMU BILANGNYA Kalian BERDUA BODOH..!!!" Floyd berdiri, mendekati Ash sambil menatapnya kesal.

"HAAA? SIAPA BILANG??" Mereka berdua saling menatap dengan emosi selagi mengangkat kepalanya sedikit.

"Sudahhh... Dengan senang hati Aku akan ikut Ash..." Light berdiri, melerai mereka dengan lengan kanannya yang  diletakan di antara mereka. "Lagi pula Aku selalu penasaran dengan kekuatan orang lain..".

"Sungguh?!.. Ehem.. Ok.." Ash yang sedang kesal perlahan mereda seperti tidak ada yang terjadi.

"Haaaa..." Floyd duduk kembali, melipat kedua tangannnya di depan dadanya dengan kesal.

"Apa Kamu sudah siap Ash??" Saut Koraya sambil perlahan menghampiri Ash.

"Yaaaa tentu saja... Light juga mau ikut..!" Ash menunjuk kepada Light yang berada di belakangnya dengan jempol.

"Oh ya sudah kalau begitu... Ayo Kita pergi ke dimensi 81...!" Koraya memasang portal dari portal deployer lalu masuk bersama Light dan Ash tanpa basa basi apapun.

Sesaat mereka menginjakan kaki satu persatu disisi lain, mata mereka dimanjakan oleh sebuah pasar sihir yang biasanya hanya terdapat di sebuah film film fantasi berkisah tentang penyihir dan goblin.

"Woaaaahhh..... Keren bangettt..... Aku sangat terkejut..." Ash mengungkapan ekspresi yang sesuai dengan perkataannya.

"Sebenarnya ini tidak jauh dengan di kerajaan ku..." Jawab Light dengan polosnya.

"Shhhh..." Ash meletakan jarinya di bibirnya lalu mendesis sekencang mungkin.

"Ah..." Light berespon datar, Ia baru saja sadar telah meledek Ash secara tak langsung.

Mereka berjalan di pasar tersebut untuk beberapa saat. Melihat pemandangan yang hampir sama dengan kerajaan Light namun dengan hal yang tidak biasanya ada. Seperti tongkat sihir, buku sihir sampai ramuan ramuan aneh yang berwarna warni.

Mereka berjalan dan menanyakan menanyakan pertanyaan ke para penduduk tentang keberadaan Austin, OC dari Koraya.

"Selamat pagi... Apa anda mengenal penyihir bernama Austin..?" Tanya Koraya kepada seorang Ibu ibu yang kebetulan sedang lewat.

"Maaf saya tidak tahu..." Ibu ibu tersebut lewat begitu saja setelah ditanya.

"Tunggu.. TUNGGU... OC Mu SEORANG PENYIHIR...?!" Kejut Ash yang baru saja menyadari sesuatu tentang Austin.

"Shhhhh...! Jangan keras keras..!!" Koraya perlahan berbicara sambil menutup mulut Ash.

"Kamu tahu kau selalu terkejut akan hal kecil." Light sedikit melirik ke arah Ash.

"Shhhhh... " Ia menurunkan tangan Koraya lalu Sekali lagi meletakan jari diatas bibir tapi kali ini di atas bibir Light.

"Kamu tahu Aku ini bangsawan...?!" Jawab Light perlahan menurunkan tangan Ash sambil memberi senyum kesal.

"Tentu...!! Aku juga bangsawan..."  Ash melepaskan lengan Light darinya.

"Benarkah?" Light mempercayainya, Ia terkejut.

"Ga.." Jawabnya dengan polosnya.

"Begitu." Respon Light, menatap ke bawah dengan tatapan hampa.

"Sudahhhh... Mari Kita lanjutkan..." Koraya menyempil tepat diantara percakapan mereka untuk melerainya.

Mereka melakukan perjalanan, menanyakan keberadaan Austin satu persatu kepada penduduk tapi tidak ada satu pun rakyat yang tahu.

"Kayanya Kita salah dimensi deh... Balik yagi yu... Males.." Ucap Ash dengan keringat yang bercucuran darinya.

"Ngga mungkin.. Pasti benar kok...!" Dengan positifnya Koraya menjawab.

"Kalau begitu---" Tiba tiba seseorang berlari dengan cepat menabrak mereka yang sedang berjalan bersampingan. Orang tersebut memakai jubah hitam membawa sebuah dompet. Kakinya terlihat bercahaya seperti diberi sihir.

"Malingg...!!!" Seorang wanita teriak dari belakang Koraya dan yang lainnya, menunjuk nunjuk orang yang berlari tersebut.

"Akhirnya ada sesuatu yang rame...." Ujar Ash selagi tersenyum dan melakukan stretching.

"Oi apa maksudmu rame?!" Tanya Koraya setelah menengok ke Ash dan saat melihat ke arah Light, Dia telah mengeluarkan pedang dan berkata "Tentu saja" Sambil tersenyum.

Ash mengeluarkan api dari kedua tangannya disertai dengan sayap api.

Light berlari dengan cepat menuju maling tersebut lalu mengayunkan pedangnya dari atas untuk mengenai maling tersebut. Namun maling tersebut menagkis dengan semacam sihir proteksi yang ada di telapak tangannya. Pedang Light terpantulkan membuat badannya pun ikut terbawa.

Ash berusaha terbang menyusulnya mencoba untuk mengepungnya dari depan dan juga belakang.

"HAHAHA KAMU TIDAK AKAN BISA MENGALAHKANKU...!!" Teriak orang tersebut mengeluarkan sebuah pedang sihir yang bercahaya dari udara.

Tapi tanpa sepengetahuan maling tersebut Light menerkamnya dengan meletakan pedangnya disekitar leher orang tersebut dari belakang.

"Letakan pedang itu, serahkan dompet itu dan Kamu tidak akan melukai siapapun!!" Dengan tegas layaknya seorang pangeran.

"I-iya iya tunggu..." Katanya terbata bata.

"Tunggu tunggu sekalian..." Ash menghilangkan apinya untuk menghampiri orang itu.

"Apa Kamu mengenal Austin?" Tanya Ash dengan datarnya.

"Kamu sempet sempetnya....." Ujar Light sambil membuat muka jengkel.

"M-maksudmu penjual bir illegal itu..?" jawab orang tersebut dengan kAku.

"Hahhh??!!" Jawaban tersebut membuat Ash dan Light terkejut secara bersamaan.

“Beritahu Kami detailnya..!” Light melepaskan pedang dari leher pencuri tersebut namun kedua tangannya masih ditahan.

“I-iya..” Dengan kAku Ia menjawab.

Penjaga penjaga daerah situ segara datang untuk menangkap maling tersebut. Mereka berterima kasih kepada Ash dan juga Light. Kembali lagi ke tempat Koraya berada.

"Apa yang Kalian pikirkan?!! Kalian bisa dalam masalah besar..!" Dengan kesal, Ia juga terlihat sangat kecapean seakan akan, telah mencoba mengejar sang pencopet juga tetapi kurang cepat.

"Gak rugi.." Ash menggaruk telinga panjangnya dengan kelingking seolah olah, tidak peduli.

"Hhhhhh..." Koraya mergumam.

"Lewati tindakan kami... Kami mengetahui siapa dan dimana Austin..." Light memasukan pedangnya untuk menceritakan kejadian tersebut lebih detail lagi kepada Koraya.

"Hahhh?! Bagaimana..?!" Koraya mengakat kepalanya beberapa derajat dengan terkejut.

"Ash dengan nekatnya menanyakan tentang Austin kepada maling tersebut... " Sambil menunjuk ke arah Ash, Light menggeleng kepalanya. Ash pun tersenyum, membuat tanda peace dari tangannya.

"Ampun.... Ya sudah mari Kita cari... " Jawab Koraya setelah menghela nafasnya dalam dalam.

"Ayo... Dia ada di rumah yang terletak di daerah sini... Dan satu hal lagi..." Light menunjukan telunjuknya.

"Dia itu penjual bir illegal.." Memandang Koraya untuk mengetahui ekspresi yang akan ditunjukannya.

"Hah...?!" Koraya Terkejut dan menunjukan ekspresi yang unik membuat Light sedikit tertawa. "Sepertinya yang lebih sering terkejut sekarang adalah Kamu Koraya.." Ujar Ash, Ia mengangkat kedua alisnya.

"Tentu saja siapa yang tidak terkejut akan hal itu?!" Tanya Koraya dengan menunjuk Ash.

"Aku lah.."  Ash dengan sombongnya, Ia berbohong.

"Kamu juga kaget.." jawab Light menjitak Ash dengan keras.

"Diam plis lah ya..." Ash kehilangan kepercayaan dirinya, memandang kebawah dengan kesal.

"Sudah sudahhhh Ayo Kita cari..!" Ajak Koraya kepada mereka, melambaikan tangannya ke depan dan belakang.

"Yossshhh..!" Jawab mereka berdua dengan semangat.

Mereka bertiga berjalan di sekeliling mencari lokasi yang telah diberikan oleh pencuri tadi itu. Dengan Light yang memimpin di depan dan Ash yang berjalan bersebelahan dengan Koraya. Pada akhirnya mereka sampai di tempat yang telah diberi tahu tadi.

"Apa ini tempat yang benar......?" Tanya Ash dengan sangat kebingungan, Ia menunjukan wajah yang sangat menyebalkan, yang sangat meremehkan.

Lokasi itu menunjukan sebuah rumah kotor dengan spanduk yang bertulisan "Home Decor Ala Me". Dinding depannya terbuat dari batu bata yang hampir rubuh lalu diganjal oleh beberapa batang kayu.

"Apa apaan arti dari spanduk tersebut..." Keluh Ash sekali lagi menunjukan ekspresi yang membuat kesal.

"Sudah sudah mari masuk.." Ujar Light. Dia membuka pintu lalu masuk pertama memimpin Ash dan Koraya.

Didalam rumah tersebut terdapat peralatan peralatan dekorasi rumah dan banyak botol kaca yang sudah kosong. Interior rumah itu terlihat sangat kumuh dan sangat tua. Di ujung ruangan itu terdapat meja dan kursi yang tertulis nama Austin yang dicoret dengan spidol merah.

"Halo..?" Suara Koraya sedikit bergema di ruangan tersebut, walaupun berbicara dengan pelan suaranya tetap bisa terdengar dari segala penjuru ruangan.

*Bruk!!* Suara seseorang yang kepalanya terbentur meja terdengar oleh mereka bertiga.

"WIS WIS..!!" Ash terkejut, ketAkutan, dengan refleks Ia pergi memeluk Light dengan terburu buru.

Koraya pun terkejut tapi tidak separah Ash. Di sisi lain Light hanya menggerakan sedikit kepalanya.

Ash perlahan menengok menuju wajah Light yang sedang dipeluknya lalu melepaskan pelukannya sesegera mungkin. "Ehem... Kesalahan Teknis." Ash membuat batuk paksaan.

Light hanya menggelengkan kepalanya perlahan kesal. Pandangannya terfokus kepada sumber suara tersebut.

Tiba tiba terlihat sebuah tangan yang menyentuh bagian atas meja. Perlahan lahan seseorang terlihat setelah tangan tersebut. Orang tersebut terlihat baru saja bangun tidur karena bangkit dengan kAkunya. Dirinya memakai jubah biru yang tebal, rambutnya coklat kegelap gelapan dengan belakang rambutnya diikat.

"O-oh Hii... G-Gw Austin..~"  Ucapnya dengan linglung.

"Oh no he's drunk.." Ash memutarkan bola matanya dengan kAku.

"Ngga kali dia cuman baru bangun tidur." Ucap Koraya, menengok ke arah Ash secepatnya.

"Hah drang?~" Jawab Austin dengan lemasnya.

"Sudah terbukti...!" Ash menunjuk lalu menengok ke arah Koraya. Dirinya melirik ke Ash dan kembali melihat ke arah Austin.

"Austin..?" Tanya Koraya perlahan, Ia menghampirinya pelan pelan.

"Ok.. Ada apa..?~" Jawab Austin sambil menggaruk lehernya dengan tangan kanan.

"Ok dia pasti mabuk berat.... " Bisik Koraya kepada Light dan juga Ash tapi bisikannya terlalu kencang membuat Austin mendengar perkataannya.

"Hahh?? Of course not~~" Jawab Austin sambil mengangkat salah satu botol minumnya dari meja.

"Hadeuh... Kalau begitu... Kamu mau masuk team Kita ga di dimensi lain..?" Tanya Ash, mengulurkan tanganya setelah menghembuskan nafas dari mulutnya.

Austin meletakan botolnya  sekencangnya, memukul meja dengan kedua telapak tangannya semangat. "Hahh??? Berarti Aku akan pergi dari tempat ini??!!" Austin Terkejut, suaranya terlihat lebih lancar dari biasanya dan wajahnya pun tampak segar seketika.

"S-sepertinya efek mabuknya ilang.." Dengan bingung, Ash tertawa dengan pelannya sampai tak ada seorang pun yang mendengarnya.

"Ya Kamu akan tinggal di tempat kami." Koraya menjawab pertanyaannya.

Austin berlari menuju sebuah pintu yang ada di ujung ruangan dan masuk secara tiba tiba. Saat masuk Ia berteriak "Beri Aku 1 jam Kalian boleh jalan jalan lagi... Nanti mari bertemu lagi didepan rumah ku!!".

"Oh ya sudah ayo kita---" Ucapan Ash dipotong oleh Austin yang sontak mengintip dari balik pintu tersebut.

"Jangan sebut sebut nama Austin.. " Saut Austin sambil tersenyum. "Kalau iya awas saja..!" Kali ini dengan senyum sinis. Dirinya membanting pintu tersebut dengan kencang.

"Iyeeee..!!!" Ash berteriak dengan kesalnya.

"Gw denger.!!!" Jawab Austin dari balik pintu tersebut walaupun suaranya terdengar tertahan oleh pintu tetapi tetap terdengar dengan lantang.

"Tch.... ayo.." Ash mengajak Koraya dan Light untuk pergi berkeliling untuk sementara waktu, mereka meninggalkan tempat tersebut. Berjalan di sekeliling tidak jauh dari rumah Austin supaya tidak tersesat dan supaya bisa mengenal tempat jika perlu apa apa.

Beberapa menit berlalu, mungkin sudah 15 menit. "Lama bangettt..." Keluh Ash, Dia jongkok memegang kepalanya tepat ditengah jalan.

Orang orang yang sedang berjalan memandangi Ash dengan keanehan tapi mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun.

"Hei.. Ini ditengah jalan.." Koraya dan Light melihat Ash dengan kebingungan namun kesal. Sementara itu semua orang yang sedang lewat menyisi supaya tak menabrak.

*Ngung---* Suara yang lantang terdengar dari langit membuat semua orang terkejut dan melihat ke atas termasuk Ash yang sedang jongkok.

"Apa..?" Ash dan yang lainnya memandang sebuah kapal yang terbang diatas kepala mereka semua. Bentuknya menyerupai drone.

Tapi anehnya kenapa ada drone sebesar itu.

Sontak banyak tali yang turun dari kapal tersebut disusul oleh banyaknya orang menuruninya.

Orang orang tersebut memakai baju serba hitam dan memakai topeng gas yang sangat aneh. Mereka membawa senjata yang bermacam macam jenisnya. Pedang, tombak, namun mayoritasnya menggunakan senjata api.

"Angkat tangan!!!" Semua dari mereka mengarahkan pistol dan senjata kepada orang orang di sekitar.

Penjaga penjaga disekitar berusaha melawan, namun kebanyakan dari mereka dikalahkan oleh senjata api.

Ash tersenyum lalu berbisik perlahan kepada Dirinya sendiri sambil jongkok, "Menarik..".

Semua orang disekitar mengangkat tangannya termasuk Light, Ash, dan Koraya yang sedang berada di dalam kerumunan orang. Dan juga para penjaga juga takluk.

"Apa apaan senjata itu..?" Light mengacu pada senjata api yang tadi mengalahkan banyak penjaga.

"Senjata api, pistol, atau apapun namanya.. Sebuah senjata mematikan yang bisa mengahiri nyawa hanya dengan menarik pelatuk..." Ash mengetahui senjata itu.

"Mengerikan.. Sekarang Ikuti dulu.." Light perlahan berbisik kepada Ash. "Aku tahu..." Jawabnya dengan senyuman liciknya.

"Semuanya duduk dan letakan tangan Kalian dibelakang kepala..! SEKARANG!!" Salah satu dari banyaknya tentara memerintah para rakyat untuk menunduk.

Semua orang terlihat sangat ketAkutan dan menurut. Walaupun ini dunia sihir tapi sepertinya tidak semua orang bisa melakukannya. Mereka semua duduk perlahan dengan senjata diarahkan kepada mereka.

"SIALAN..!!!" Seorang bapa bapa tidak kuat menerima kenyataan, Ia tidak menuruti perintah mereka. Menyerbu dengan serangan es ke arah salah satu penjahat yang memakai seragam hitam tersebut. Penjahat itu terkejut saat melirik ke arahnya. Tetapi tahu tahu seorang laki laki berlari dengan kecepatan tidak normal untuk menangkis serangan tanpa kesakitan.

Ia berhenti lalu melirik ke arah bapa bapa itu. Dirinya memakai mask yang berbeda dari yang lain. Yang lain memakai gas mask yang menutupi seluruh wajahnya tapi punyanya hanya menutupi bagian mulut nya saja. Ia memakai tanduk rusa palsu di kepalanya dan baju kulit hitam. Rambutnya panjang Berwarna biru tua dan warna matanya merah darah.

"Apa a-apaan..??" Koraya syok, walaupun telah melihat kekuatan dari Light dan Ash. Ia baru saja melihat kecepatan yang tak wajar.

"Dia cepat sekali... Aku sampai tidak tahu dari mana datangnya dia..." Light pun sampai terkejut.

Ash tersenyum kesal kepada situasi yang dialaminya tersebut.

"Oi Kamu... Jangan lakukan itu lagi.." Orang dengan tanduk rusa itu melambaikan tangannya.

"TCH..." Bapa itu mulai menyerang dengan banyak serangan es yang bertujuan untuk melukai orang tersebut. Namun semua serangannya dihindarinya dan orang bertanduk rusa tersebut menghampiri bapa itu dengan cepat lalu mematahkan lehernya.

Walaupun orang tersebut tak membunuhnya tapi teknik tersebut dalam kemiliteran terkenal cukup mematikan, cukup untuk hanya melumpuhkannya.

"Ada orang lain yang mau bernasib seperti dia...? Tidak kan..." Ucapnya untuk menunjukan ancaman, untuk menunjukan kekuasaanya.

Sontak seorang perempuan yang memiliki gas mask serupa seperti orang rusa itu berjalan mendekatinya. Dia memiliki rambut biru langit yang pendek. Tubuhnya pendek dan warna matanya sama dengan warna rambutnya. Tapi anehnya dia mengenakan baju tidur kelinci.

Dirinya dikawal oleh banyak orang, lalu dia berhenti disebelah orang rusa itu. Berdiri tegak dihadapan para orang orang yang sedang duduk menunduk.

"Komandan 7 Usagi, Komandan 2 Shika selamat datang..!" Salah satu penjahat mengucapkannya dengan tegas dan hormat.

Semua orang yang memakai pakaian hitam dan gas mask pun memberi hormat pada mereka berdua.

"Ko... Man.. Dan..?!" Koraya, Ash, dan Light mengucapkan hal yang sama dengan terkejut.

Semua penjahat terlihat sangat hormat kepada Shika dan Usagi seakan akan jabatan mereka berdua jauh diajas mereka. Semuanya terlihat tegak dan tegang dihadapan mereka berdua.

"Aaaa... Sekarang Kalian boleh mulai mencari ramuan dan alat sihir sesuai rencana.." Ucap Usagi dengan nada lucu dan imut layaknya seorang anak kecil.

Semua pasukan penjahat tersebar luas ke semua warung warung yang berada disisi jalan, mulai merampas barang barang warga, dari mulai ramuan dll.  Sementara itu para warga terdiam tak bisa melakukan apapun setelah datangnya Shika dan Usagi, semuanya terpAku ketAkutan.

"Satu...." Ash berbisik. "Dua....." Dilanjut oleh Light yang berada di sisinya.

"Bodoh apa yang Kalian lakukan?!" Sentak Koraya dengan bisikan berusaha supaya tidak ketahuan.

"Tiga!" Mereka berdua mengatakannya bersamaan dengan serentak.

Ash berdiri lalu mengangkat kedua tangannya. "Bisa Aku meminta sesuatu..?" Tanyanya dengan pandangan ke arah Shika.

Semua prajurit bertopeng gas mengarahkan senjatanya ke arah Ash. Usagi mengangkat tanganya untuk memberi kode supaya para prajurit menurunkan senjatanya.

"Apa yang Kamu mau...?" Ujar Shika, Ia perlahan memiringkan kepalanya ke arah yang agak aneh.

"Aku mau...---" Secara mendadak usagi berlari ke depan Shika, meletakan tangannya di depan. Dirinya memfokuskan pandangannya menuju Ash.

"Mengalahkanmu.." Light berdiri dengan gesit dan menyerbu Usagi. Shika yang tak menyangkanya, terkejut, tetapi Usagi sadar. Ia menghindari serangan pertama Light lalu menangkis serangan kedua Light dengan pedangnya yang Dia tarik dari dalam baju tidurnya.

"Indra Mu sangat tajam ya.." Light menahan pedang Usagi dengan sekuat tenaganya. "Apa apaan... Dari mana pedang itu asalnya.." Light memikirkannya dalam hati.

"Tentu saja.." Usagi mendorong pedangnya, Light pun terlontar kebelakang.

"Tch terlalu banyak orang disini untuk mengeluarkan kekuatan pedangku.." Light berpikir keras.

Ash kemudian berlari ke arah Shika untuk menendangnya dengan kaki kosong. Shika menangkisnya dengan kaki lalu menendangnya. Ash yang terdorong berlari kembali menuju Shika, namun kali ini Ia berencana memukul dengan tangan apinya. Dirinya gagal mengenainya karena serangannya tiba tiba ditangkis dengan pedang Usagi. Ash melompat kebelakang lalu berdiri di pinggir Light.

"Fiuh... Kalian kuat..." Ash mengusap keringat yang bercucuran dari dahinya.

"Kamu juga manusia kambing..." Usagi berbicara dengan santainya seperti tak menganggap Ash dan Light halangan baginya.

"Hahaha.. Ini baru saja dimulai..." Ash tertawa.

Light dan Ash memasang kuda kuda untuk menyerang mereka untuk kedua kalinya. Sedangkan Usagi dan Shika hanya berdiri diam dihadapan mereka.

"Hei... Sebelum Kita mulai... Aku suka Stylemu..."  Ash menunjuk Shika sambil menunjukan senyuman yang menjengkelkan.

"Terima kasih...." Jawab Shika dengan polos dan datarnya.

"Walaupun tandukmu sangat mengganggu..!" Ash mengeluarkan api dari kedua tangannya setelah menetapkan senyumannya yang menjengkelkan itu.

"Hoo...? Ini hadiah adikku.." Shika tersenyum dari balik gas masknya.

Ash berlari ke arah Shika, bersiap menyerangnya dari depan. Saat Shika berusaha untuk menangkis, Ash mengeluarkan sayap apinya, terbang. Dia menyerang Shika dari atas dengan tendangannya. Shika menahan tendangan Ash dengan kedua tangannya walaupun hampir tidak sempat.

Sementara itu Light berlari ke arah Usagi. Usagi menyiapkan pedangnya, menangkis serangan pertama Light. Light mundur dan pedangnya pun bersinar "Light Thrust" Light mengarahkan pedangnya lurus kearah Usagi yang sedang bersiap siap. Sontak sinar lurus muncul dari pedang Light setelah mendorong maju pedangnya, membelah pedang Usagi lalu saat Usagi mencoba menghindar sinar itu mengenai Usagi, menembus gas masknya , dan meninggalkan luka di pipinya.

"Hanya serangan itu yang tak terlalu merusak.." Light berbicara pada dirnya sendiri.

"Usagi..." Kaget Shika dengan pelan namun tegas kepada Dirinya sendiri.

perhatian Shika teralihkan saat melawan Ash, Ia tertendang kencang oleh Ash. Shika membalasnya dengan memukul Ash, kencang diperut lalu dilanjut dengan tendangan yang membuat Ash melayang dan terhantam ke sebuah dinding.

Ash yang terhantam langsung tak sadaran diri saat keadaan tergeletak di tanah.

Shika menghampiri Usagi dengan terburu buru dan secepatnya.

"Kamu tidak apa apa..?!" Tanyanya sambil memeriksa luka yang berada di pipi Usagi.

"Aku tidak apa apa kak.." Jawab Usagi, menggenggam tangan Shika. Shika menengok ke arah Light seketika dan segera berlari dengan kecepatan luar biasa ke arah Light untuk menendangnya.

Light terlemparkan ke dinding oleh Shika sampai sampai dindingnya retak. Shika segera menghampiri Light dan mengatakan.

"Kita menang telak." Kata Shika, meletakan kaki diatas badan Light yang tergeletak di pinggir dinding.

"B-bagaimana ini..?!" Koraya perlahan berbisik kepada Dirinya sendiri selagi bersembunyi.

"Oi oi.... "  Seseorang dari jauh memanggil Shika dan juga Usagi dengan lantang dan nada yang menyebalkan.

Shika dan Usagi segera menengok ke arah suara itu berasal, Light juga mengikuti mereka dengan perlahan.

Terlihat seseorang dengan jubah biru dan topeng oni alias topeng setan sedang membawa buku di tangan kanannya.

"A-austin...?" Light perlahan begumam sambil kesakitan.

"Yo..!" Jawab Austin terhadap Light yang tampak terkejut baginya.

Ash yang terbaring di depan sebuah dinding masih tetap tak sadaran diri sampai saat ini sehingga tidak mengetahui keadaan kini.

"I-itu.... Oni..!!" Teriak beberapa wanita dikerumunan orang orang yang sedang menunduk.

"Oni..?" Koraya heran.

"Apa yang terjadi disini..??" Ujar Austin, Ia membuka buku yang ada ditangannya dengan santainya.

"Haha... Ku suka gaya mu..." Jawab Shika setelah menoleh kepada Austin. Ia menendang Light dan menghampiri Austin.

"Tanpa basa basi.." Bukunya yang terbuka tiba tiba mencari halamannya sendiri. Austin membuka tangan, mengarahkannya ke arah Shika. Tangannya bercahaya, tahu tahu Shika terkurung di kurungan bola air yang penuh dengan rantai diluarnya.

Usagi menoleh kepada kakaknya kebingungan saking cepatnya teknik Austin. Tetapi kurungan tersebut dengan mudahnya ditembus oleh Shika. Dia berlari menghampiri Austin untuk meninjunya tapi air yang berupa borgol tiba tiba menahan kakinya. Shika terjatuh dan tergeletak dihadapan Austin. Dirinya menghampiri lalu menginjak Shika.

Usagi memasang muka kesal, berlari menuju Austin dengan pedangnya. Mengayun pedangnya dari pinggir tapi sontak ditangkis dengan dinding air yang dibuat oleh Austin secara dadakan dihadapannya.

"Air yang kubuat tetap cair... Tetapi air Ku selalu mengalir deras jadi Kamu takkan bisa menembusnya dengan mudah..." Austin tersenyum dibalik topengnya, sedikit tertawa sehingga Shika dan Usagi bisa mendengarnya.

"Tch.---" Usagi mengkerutkan wajahnya, dari wajahnya saja sudah terlihat betapa marahnya Dia.

"Dan kakakmu tidak akan bisa kabur karena borgol nya mengalir sangat deras jadi Dia merasakan sakit jika berusaha keluar.." Austin memiringkan sedikit kepalanya.

Shika mendadak menarik kaki Austin, membuatnya terjatuh. Sebelum Usagi dapat melakukan sesuatu Ia mengeluarkan mantra air supaya Usagi terdorong jauh dengan dorongan air. Shika tetap menahan kakinya supaya Austin tidak kabur. Tetapi sebelum Austin bisa melakukan sesuatu seseorang menghampirinya, mengarahkan pistol ke arahnya. Saat ditembakan, Ash berlari dan berdiri dihadapan Austin sehingga Dirinya yang tertembak. Ia tertembak dibagian pundaknya,  Ash pun langsung terjatuh di atas lututnya.

"H-hah..? Apa apaan Kamu ini..?" Austin terlihat sebal atas perlAkuan Ash kepadanya, walau sebenarnya niatnya untuk membantu.

Orang itu memakai baju kemeja hitam dengan dasi hitam. Memakai full gas mask yang berwarna emas. Ia juga memakai memakai cincin dan jam tangan emas layaknya orang kaya.

Dirinya menghampiri Shika lalu duduk di dekat kakinya. Ia meletakan telapak tangannya di atas borgol air lalu mengancurkannya hanya dengan gengamannya. 

"Huh..?" Orang itu melihat tangannya yang mendadak berdarah sejak menghancurkan borgol. "Aliran airnya kuat juga ya.." Lanjutnya.

"Komandan 8.. Sejak kapan anda kesini..?" Tanya Shika, perlahan berusaha berdiri. Dari nada yang Shika keluarkan tampaknya orang tersebut dihormati atau mungkin kekuatannya di atasnya.

Ia menoleh ke arah Shika sebentar lalu memandang para pasukan yang sedang berjaga dan mencuri peralatan sihir. Orang tersebut berdiri dan setelah itu berteriak "Kita mundur kali ini!".

Para pasukan musuh sontak menghilang satu persatu seperti teleportasi ke kapal di atasnya layaknya film film alien. Shika melirik Austin dan pergi berteleport ke kapal. Usagi melambaikan tangannya seperti anak kecil, pergi. Lalu orang bertopeng emas itu sudah pergi duluan tanpa disadari oleh siapapun.

Saat semua pasukan musuh pergi, semua orang kembali berdiri setelah stress parah dan membersihkan warung warung mereka dengan masih ketAkutan. Koraya yang mulai dari pertama bersembunyi berlari menghampiri Austin dan Ash. Light yang terluka perlahan menghampiri mereka berdua.

"Kamu tidak apa apa Ash?!" Dengan cemas memeriksa luka yang dialami Ash.

"Hah bukan apa apa!! " Ash tersenyum, Ia mengepalkan tangannya menyembunyikan sakitnya.

"Kita bahkan belum kenal.. Kenapa Kamu menyelamatkan ku?!" Tanya Austin dengan kesal. '"Kamu tidak tahu rasa terima kasih ya.." Jawab Ash dengan senyuman dan tawa yang kecil.

"Hah..?" Pandangan Austin sangatlah merendah, Ia tak merasa tertolong sama sekali.

"TUNGGU DISANA..." semua penjaga sekitar yang masih sanggup berdiri mengelilingi mereka bertiga termasuk Light yang baru saja hampir sampai.

"Hah ada apa?!" Light menengok kebingungan.

"Oni ikut dengan kami..!" Ujar seorang prajurit yang mungkin adalah sang ketua pasukan.

"Tadi itu bentuk terima kasih terakhir Ku untuk negri ini selamat tinggal.." Jawab Austin, melambaikan tangannya. Ia mengangkat Ash dan berbicara ke Koraya, "Bawa Kita pergi dari sini segera..!" Bentak Austin.

"Jangan kemana mana!!!" Semua prajurit mengarahkan senjata mereka ke arah Austin dan kawan kawan. Senjata mereka hanya berupa pedang dan juga tongkat sihir tapi sebenarnya kalau dibandingkan pasukan di kerajaan Light mungkin pasukan disini lebih mematikan. 

"Apa bisa Kita pergi...?" Tanya Koraya, dengan ragu menengok ke arah Austin . "Percayalah..." Jawabnya tanpa menengok kembali karena pandangannya terfokuskan kepada para pasukan yang mengepung mereka.

Koraya mengeluarkan portal deployernya dan segera menekan tombol merahnya. ketika portal muncul para prajurit yang dibelakang mulai melemparkan berbagai sihir tapi terhenti oleh sihir air Austin yang ternyata telah melindungi Koraya dan kawan kawan dari pertama. Para prajurit yang memegang pedang sama sekali tidak bisa maju karena bahayanya sihir Austin.

"Ayo masuk..!" Ajak Koraya dengan lantang, suaranya terdengar sangat panik terbata bata. Koraya memasuki portal duluan disusul oleh Light lalu Austin yang menggendong Ash.

Sesampainya mereka, Koraya langsung menutup portalnya secepat mungkin karena khawatir datangnya para pasukan sihir.

 

 

 

Team recruit saga

Part 5 : The virus

Ox berlari menuju Koraya dan mengatakan sesuatu "Koraya..!! Orang-- Ash kenapa?!" Perkataan Ox teralihkan oleh keaadaan Ash yang sedang terluka dan digendong Austin.

"Aku tak apa kok dok.." Ash yang terluka masih tetap bisa bercanda saja.

"Hai Aku Austin..!" Austin memperkenalkan diri dengan datarnya. "Simpan perkenalannya nanti..." Ujar Ox dengan serius.

"Ash akan segera kuurus di ruang yang telah kubuat... Tapi sekarang ada yang lebih penting.." Ox terdengar sangat cemas.

"Lebih penting..?" Tanya Koraya, menyondongkan kepalanya sedikit ke depan, ke arah Ox.

"Ya.. Tamu yang tadi datang mulai teriak ga jelas semenjak Aku suruh Floyd pergi untuk membeli sesuatu.." Ox menatap Koraya dengan serius, Dirinya melirik kesekitar, terkejut saat melihat Light yang mendapat luka juga.

"Light..!! Kamu juga harus segera dirawat..!" Ox mendekati Light perlahan, menengok ke arah Koraya setelah di tanyakan pertanyaan.

"Teriak seperti apa?!" Tanya Koraya dengan nada yang masih tidak beraturan karena keadaan sebelumnya.

"Teriak kesakitan....".

"Kesakitan?!" Kejut Koraya , perlahan Ia berjalan menuju pintu rumah dan berbicara sekali lagi kepada Ox, Austin, dan juga Light, "Jaga jaga disini Ku serahkan Ash kepada Ox.."

Koraya membuka pintu rumah disambut dengan Habiki yang tengah duduk di sofa seperti tadi. Koraya melihatnya dari belakang memanggilnya sekencang mungkin tanpa mengganggu tetangganya "Habiki?".

"Ah..  Koraya.." Jawabnya sambil tetap terdiam tanpa menggerakan tubuhnya sedikit pun. Saat Koraya semakin menghampirinya, Ia memanggil Habiki sekali lagi "Kamu tidak apa apa??".

"Aku merasa sangat baik Koraya..." Habiki menjawab dengan aksen intonasi dan nada yang berbeda dari saat mereka pertama kali bertemu.

"Katakan yang sebenarnya.." Tanya Koraya untuk terakhir kalinya, memegang pundak Habiki dari belakang.

Habiki menoleh menunjukan wajahnya yang sedang tersenyum sinis. Di pinggir wajahnya terdapat benda berwarna kuning tercampur dengan biru yang aneh, kalau dilihat dari tekstur wujudnya seperti lendir aneh. "Sudah kubilang Aku tak apa..." Koraya terkejut, Habiki memukulnya jauh sampai pintunya terbuka terbanting dan Koraya sampai keluar rumah. Tangan yang dipakai oleh Habiki untuk memukul terlihat berwarna kuning dan bengkak. Tangannya menjadi sangat besar dan panjang, tapi hanya sebelah tangannya saja yang begitu, tangan yang satunya tak apa apa.

"Ahk...." Koraya batuk sampai sampai keluar darah saat mengenai pagar luar rumah, dikarenakan saking kencangnya Habiki memukul.

"Hah..?!" Austin dan juga Light menoleh, terkejut melihat Koraya yang tiba tiba terlemparkan dari dalam rumah. Sementara itu Ox sedang merawat Ash didalam tenda dan Floyd belum juga pulang.

"Kamu tidak apa apa Koraya..?!" Tanya Light menghampirinya secepat mungkin walaupun sendirinya masih mempunyai beberapa luka. "A-Aku tidak kenapa napa..." Jawab Koraya perlahan dengan kesakitan saat Ia masih bersadar ke arah tembok dengan salah satu lengannya di atas perut.

"K-Kamu..." Dengan kesal Light melihat pintu yang sudah terbuka lebar dan sedikit lecet karena hantaman tadi. Keluar sosok Habiki dengan sebelah tangan panjang yang berwarna kuning dan biru itu.

"H-habiki..." Ujar Koraya sambil kesakitan memandang Habiki.

"Aku bukan Habiki yang Kalian kenal... Namaku Virus..." Jawab sosok yang baru itu sambil senyum kepada mereka bertiga.

"Virus----" "Diam dulu saja beristirahatlah..." Koraya perlahan berusaha berbicara dihentikan oleh Light supaya bisa istirahat sejenak.

 "Ayo Kita duel..!" Austin memandang wajah Habiki yang kini dirasuki oleh virus dengan kesal.

"Woah woah... Jangan disini.." Light mengeluarkan kedua tangannya dan menghalangi mereka berdua.

"Apa Kamu akan repot jika perlu mengikuti kami..?" Tanyanya, memandang Habiki alias the Virus.

"Hahaha.... Dengan senang hati Aku akan mengikuti kalian." Jawab Virus meremehkan Light, Ia mengulurkan kedua tangannya.

Mereka bertiga berjalan keluar dari rumah meninggalkan Koraya dibelakang. Hari yang sudah sore pada saat itu menandakan sedikitnya orang yang berada di luar rumah. Mereka berjalan menuju sebuah taman yang luas terletak sedikit jauh dari rumah warga. Light memasuki taman tersebut dan mengeluarkan pedangnya. Disusul Austin sambil memasang topengnya.

"Sekarang..?" Tanya Virus kepada mereka berdua yang sudah memasuki taman dan membelakanginya.

"Tentu..." Jawab Light selagi membalikan diri bersamaan waktunya dengan Austin. 

Pedang Light bersinar terang. "Gleaming Slash." Ucapnya. Light menggunakan jurus yang sama yang Ia gunakan terhadap Ash, tapi kali ini digunakan secara Horizontal. Virus dengan mudahnya menangkis jurus tersebut dengan tangan bengkaknya, Walaupun begitu tangannya itu tetap saja terluka.

"Ah.. Aku kira Aku akan selamat.." Keluh kesah Virus walaupun masih tampak meremehkan.

Light berlari ke arahnya lalu mengayunkan pedangnya dari atas. Sekali lagi Virus menangkisnya dengan tangan besarnya. Light menahannya selagi Virus terluka dan Austin pun berusaha menembakinya dengan air yang tajam dan deras. Tapi Virus mendorong Light, menghindari semua serangan Austin. 

Virus pada akhirnya mengeluarkan sesuatu dari tangannya berupa sebuah gumpalan aneh berwarna kuning. Melemparnya ke arah Light, Ia membelahnya menjadi dua. Tapi gumpalan yang telah terbelah menjadi dua itu menyerang dari belakang dan membuat Light terjatuh. Gumpalan tersebut menempel pada tubuh Light membuatnya terjebak di tanah taman.

Austin mengarahkan sihirnya kepada gumpalan yang terdapat pada tubuh Light tapi Dirinya terlalu lama mengarahkannya dikarenakan ragu, sehingga Virus berlari terlebih dahulu dan menahan Austin ke atas permukaan tanah dengan tangan besar nya.

"A-apa..?!" Austin terguncang. Walaupun kecepatannya tak seberapa Austin tetap tidak bisa mengelak.

"Fufufu.. Kalian telah menggangguku, saatnya pergi ke Koraya.." Virus tertawa dengan kencang. Tangannya itu mulai menutupi seluruh badan Austin dari mulai punggung yang ditahan sampai menuju pinggang dan leher.

Saat tangannya itu mulai menutupi wajah Austin.

Pundak Virus tertusuk kayu dari belakang. Ia menengok perlahan dengan kAku dan juga kesakitan hanya untuk melihat Floyd yang menggunakan kekuatannya untuk menusuknya dari kejauhan.

"Jangan dekati mereka..." Floyd menatap dingin Virus.

Suasana disekitar mereka tiba tiba menjadi suram dan berkabut membuat keadaan semakin tegang.

Virus melepaskan Austin yang sudah mulai pengap lalu menghampiri Floyd perlahan lahan. "Siapa yang peduli dengan pertemanan kalian..." Ujarnya, tersenyum dan menekuk kedua tangannya meremehkan mereka bertiga.

Austin berdiri dan berlari ke arah Virus yang sedang berjalan. Tetapi sebelum bisa bertindak Ia terpukul jauh oleh Virus lengannya yang amat panjang. Saat Virus teralihkan perhatiannya kepada Austin, Floyd berlari melewati Virus dengan sekejap.

*Bruk* Sesuatu telah terjatuh di tanah dekat Virus.

"AGH.!!' Virus dengan kesakitan berkata karena tanpa disadari lengan besarnya telah buntung dan terjatuh di tanah, "B-bodoh yang Kamu lukai itu bukan tubuh---".

"Sekali lagi.." Floyd memotong perkataan Virus, menengok kembali ke arahnya. "Jangan lukai orang di sekitar ku..!" Tegas Floyd dengan amarah..

Dia berlari ke Virus dan bertarung tangan ke tangan melawannya walaupun tangan Virus hanya tersisa satu Virus bisa menumbukan kembali gumpalan gumpalan kuning, menyelimuti tangannya itu. Gumpalan bengkak pada tangan yang terpotong hilang, Ia mengunggulinya dengan tangan besar baru itu. Tapi pada akhirnya Floyd mengeluarkan kayunya lagi dan melancarkan serangan untuk menusuknya tepat di pudak.

Namun disaat yang tepat Virus dapat menghindar melompat kebelakang. "H-hampir saja.. Yang Kamu telah Kamu lakukan itu hal bodoh.. Aku akan kembali untuk Habiki dan Koraya, liat saja.." Semua benda kuning yang menempeli tubuh Habiki perlahan mengalir ke bawah tanah. Sebelum mereka semua menyadarinya tiba tiba Habiki kembali berakal sehat.

"Akhh..!! T-tangan ku...?!" Pikiran Habiki langsung terpAku kepada tangan kanan yang sudah buntung.

"H-habiki....?" Light menghampirinya, selagi menghampirinya Floyd menghalangi Light untuk menghampiri Habiki dengan lengannya

"Apa Kita tahu bahwa Dia itu tidak jahat..? Tidak kan.." Flody berbicara dengan Light tanpa memandangnya sedikit pun. Pandangannya hanya tertuju pada Habiki yang kesakitan.

"Tapi..!" Light mendorong lengan Floyd yang menghalangi. "Kita harus menolongnya..!" Light bersikeras menolongnya.

"Lihat..!! Dia mencoba membunuh kalian..!!" Pada akhirnya Floyd menengok ke belakangnya, ke arah Light dan menatapnya.

"Floyd... Kumohon..." Light memohon, namun Ia masih masih mementingkan harga Dirinya dan tidak menunduk. Floyd memandang Light dengan sedih dan pilu, teringat suatu kejadian pada masa kecilnya disaat teman dekatnya berkata hal yang sama "Floyd... Kumohon ". Kata kata Light membuat Floyd sadar dan memperbolehkan Light lewat. Dirinya segera berlari untuk menggotong Habiki ke markas, tanpa berpikir panjang.

Perlahan Light menggendongnya dengan hati hati. Saat Light sudah berjalan, menggendong Habiki, Austin mengikuti dari belakang. "Floyd Ayo..!" Panggil Light dari depannya.

"Aku ada dibelakang.." Floyd dengan perlahan berjalan memikirkan masa lalunya.

Ia terlalu terbawa masa lalu sehingga tanpa disadari semua temannya sudah berjalan lebih cepat darinya dan sudah sampai terlebih dahulu. 

Saat Ia sudah sampai di rumah koraya, Dia memasuki tenda dengan wajah yang sedikit lebih ceria dari sebelum sebelumnya.

"Ah Floyd selamat datang..!" Ox menyambutnya dengan hangat setelah baru saja memindahkan Habiki ke ruang pengobatan.

"Besarnya...!" Austin yang baru saja sampai dengan Habiki terpukau atas kemegahan tenda itu.

Di dalam tenda tersebut sangatlah besar dan juga modern. Walaupun tampang luarnya biasa saja dan kecil tapi di dalam sudah seperti sebuah rumah masa depan saja.

"Tentu... Sebenarnya ini adalah pocket dimension yang Aku buat..!" Ox menghampiri Austin dengan sombongnya menunjukan kemampuannya. "Aku mempunyai dua pocket dimension, satu yang ini dan yang satunya lagi sebagai cadangan.".

"Pocket dimension?" Tanya Light dengan polosnya karena tak tahu apapun tentang dimensi dimensi.

"Ya... Pocket dimension adalah dimensi kecil yang bisa orang gunakan...  Saat Kalian memasuki pintu masuk Kalian otomatis dipindahkan ke pocket dimension ini..!" Ujar Ox sekali lagi menjelaskan.

"Wahh..?! Floyd Kamu tidak terlihat terkejut.." Light menengok ke Floyd.

"Saat Kalian pergi Aku sudah masuk duluan..." Jawabnya.

"Uwahh.. gara gara pertengkaran tadi semua bajuku menjadi basah.." Austin mengeluh, Ia mengeluarkan bukunya.

"Apaan? Bajumu kering..?" Light memandangnya keanehan.

"Bukan bukan..." Austin menarik sebuah gumpalan air dari bukunya. Di dalamnya terlihat jelas banyak pakaian yang tentu sudah basah kuyup. "Oh itu.." Light memandangnya heran.

Austin memasukan semua pakaiannya kembali ke dalam bukunya.

"Dimana Ash sekarang..?" Tanya Floyd kepada Ox.

"Dia terluka dipertarungan... Dengan bodohnya Ia berdiri di depan ku saat sebuah senjata di arahkan kepadAku.." Austin menoleh. Floyd yang pandangannya tertuju kepada Ox langsung menengok ke arah Austin secepatnya.

"Kenapa Kamu tidak menyelamatkannya..?" Floyd perlahan mendekati Austin.

"Hei anak sok pinter... Dia sendiri yang datang ke hadapan ku.." Austin menatap Floyd sedikit kesal.

"Tch.. Dia selalu seperti itu.." Floyd berlari ke arah ruang pengobatan dengan kesal namun sedih? Memandang dari luar karena terdapat kaca besar di dinding ruang medik itu. "Sialan!" keluh kesal Floyd.

Terlihat olehnya Koraya, Ash, dan Habiki sedang berbaring dengan berbagai selang tertancap di sekitar tubuhnya, sedang mengobati mereka. 

"Kalau Aku ada disana untuknya.." Ucap Floyd dengan kesal kepada Dirinya sendiri.

"Jangan memikirkannya... Ox Aku pinjam pemasang portal mu, beberapa barang Ku tertinggal..." Light menghampiri, menepak pundak Floyd. Lalu segera mendekati Ox.

"Sebentar..." Ox mengutak ngatik portal deployer untuk sementara waktu lalu memberikannya kepada Light. "Ini" Ucapnya. Light yang menerimanya segera memasang portal dan kembali menuju dimensinya.

Ox melihat Floyd sedang menatap ke ruang pengobatan, Ia segera menghampirinya, "Sudah sudah mereka akan sembuh besok pagi...". 

"Aku sudah menyediakan kamar di ujung lorong untuk Kamu tidur ok..? Aku duluan." Ox meninggalkan Floyd sendiri lalu masuk ke ruangan lain di dekat ruang pengobatan tersebut. Sedangkan Austin sudah terlanjur masuk ke kamar yang disediakan oleh Ox, tanpa disadari oleh Floyd.

"Ash... Aku akan membalaskan terima kasih Ku pada mu..." Ucapnya kepada Ash yang tak sadaran diri. Dirinya tahu Ash tak akan mendengarnya tapi tetap saja mengatakannya berharap pesan tersebut sampai ke hatinya.

Malam hari berlalu. Floyd tidak tertidur di kamar yang sudah disediakan Ox melainkan di sofa ruang tengah tenda tersebut.

"Selamat pagiii..." Ash berteriak ke seisi ruang tengah.

"S-selamat pagi..." Austin baru saja keluar dari kamarnya. Ia menengok dan melihat ke arah Ash, bertanya "Lha Kamu sudah sembuh..?".

"Udah lah.." Jawab Ash yang berdiri di tengah ruangan dengan semangat.

Ash menghampiri Floyd yang sedang tidur di atas sofa lalu berteriak telat di telinganya "SELAMAT PAGI...!!!".

Floyd terkejut, langsung bangun lalu berteriak kembali kepada Ash, "APA KAMU GILA?!". 
Ash lalu membalas dengan senyuman tanpa dosa yang pasti membuat semua orang kesal.

"Selamat pagi......" Ox dengan muka pucat terlihat keluar dari ruangannya sambil memegang secangkir kopi dengan tulisan 'no sleep club'.

"Apa Kita membiarkan zombie ke sini?" Tanya Ash berusaha melawak ke semuanya.

"Aku tidak tidur tahu..." Jawab Ox. Dari wajahnya saja sudah terlihat Ia terlalu banyak berpikir, apalagi dari suaranya.

"Selamat pagi semuanyaaaaa....." Light yang tampak baru saja keluar dari dapur,  berteriak sambil membawa 2 piring omelet.

"Wahh Kamu rajin ya Light.." Ujar Ash kepadanya sesaat baru saja menoleh.

"Tidak juga.." Jawab Light sambil membawakan piring yang tersisa setelah menaruh dua piring tersebut di meja.

Semuanya mengambil dan memegang satu piring masing masing,  lalu semua orang yang sudah bangun mencicipinya.

"Aaaaaaa... Enakk..." Ash memasang muka bahagia yang tak bohong.

"Tidak kusangka kau bisa masak Light..." Ujar Ox masih dengan nada yang lemas.

"Enaknya.." Austin juga kali ini memuji hasil masakan Light.

Semua orang tampak menyukai sarapan yang Light telah buat.

"Selamat pagi..." Koraya bersamaan Habiki, keluar dari ruang berobat.

Light menghampiri mereka berdua selanjutnya memberikan mereka masing masing satu piring. "Nih makan..!" Ujarnya.

"Terima kasih.." Ucap Koraya setelah menerima piring dari Light.

Setelah menerimanya Habiki terlihat memandang makanan tersebut, karena kehilangan sebelah tangannya dan tidak tahu bagaimana cara memakannya hanya dengan satu tangan.

"Habi--" 

"Oh ya Habiki ikuti Aku ke ruangan Ku Aku membuatkan Mu sesuatu semalaman..!" Floyd yang asalnya mau memanggil Habiki, didahului oleh Ox yang melambaikan tangannya menuju sebuah ruangan.

"Enak!!" Koraya tersenyum setelah menyuapkan satu sendok omelet ke mulutnya sendiri.

"Iya kan?!" Jawab Ash dengan semangat, menoleh ke arah Koraya tapi tidak tahu mengapa, Dirinya begitu bersemangat.

Habiki mengikuti petunjuk dari Ox. Dia menaruh sepiring sarapannya di sebuah meja yang terletak di pinggirnya. Berjalan ke arah ruangan tersebut lalu memasukinya.

Di dalam ruangan itu terdapat banyak teknologi teknologi yang luar biasa canggih, Ox memberikan sebuah lengan robot kepada Habiki.

"Duduk sini.." Ox menarik kursi, Habiki lalu duduk.

"Ku pikir Aku tak akan bisa menumbuhkan kembali tangan mu.. Jadi bagaimana kalau Aku menggantikannya saja..." Ox menempelkan lengan robot tersebut ke bagian tubuh Habiki yang sebelumnya terpotong.

"Terimakasih..!!" Habiki tersenyum senang.

"Sebentar.. Gigit ini.." Ox menyerahkan sebuah batang kayu ke mulutnya. "Apa..?" Habiki terlihat kebingungan namun tetap menggigitnya.

"Tahan.." Pada ujung lengan besi dekat pundak terdapat 2 lubang kecil. Ox mengambil 2 buah tabung tajam yang seukuran dengan lubang tersebut lalu menancapkannya ke dalam, menembus kulit.

"HGhh..!" Habiki sekeras mungkin menggigit batang kayu, menahan rasa sakit. Namun dengan cepat rasa sakit itu memudar.

"Benda itu berguna untuk menyambungkan saraf dan tangan besi barumu.. Coba gerakan.." Ox tersenyum senang.

Habiki menggerakan tangan barunya dengan mudah, dari ujung jari jemarinya sampai menekukan tangannya. Dari wajahnya Habiki terlihat sangat senang, "Sekali lagi terima kasih..!".

"Ya sama sama..".

Mereka berdua keluar dari ruangan tersebut, disambut oleh mendengar yang lainnya tentang the Virus.

"The Virus adalah OC ku..." Koraya, mata melirik menuju semua orang. "Jadi apa mungkin Habiki juga OC ku.. Tapi apa bisa OC dan pembuatnya satu dimensi?!" Tanya Koraya kepada mereka yang ada disana, masih kebingungan. Namun semua orang disana tidak mengerti.

"Bisa saja..." Ox perlahan menghampiri mereka semua sedangkan Habiki berjalan ke piring omeletnya. "Ada kemungkinan tak terbatas untuk hal berhubungan dengan OC.." Jawab Ox sekali lagi, menunjukan jari telunjuk.

"Kalau begitu... Kamu mau masuk tim? Habiki....!!" Koraya berdiri tegas mengulurkan tangannya ke arah Habiki

"Aku masih bingung. Kenapa Aku bisa ada disini. Kenapa Aku dirasuki Virus. Tapi karena Aku sudah tidak bisa mundur lagi, dan untuk memecahkannya.." Habiki mendekati Koraya lalu menjabat tangannya. "Tentu Aku akan masuk..".

"Kamu tahu bela diri Habiki..?" Tanya Light, mendekati Habiki belum juga menghabisi sarapannya.

"Masuk dalam tim ini tidak selalu harus bisa bela diri.." Ox menyela pertanyaan Light.

"Sejak kecil Aku sudah bisa berpanah, Aku juga pernah mengikuti lomba bela diri sekali.." Jawabnya.

"Ayo ikut denganku... Akan Ku latih lagi bela dirimu..." Ajak Light.

"Kamu yakin..? Kalau Kamu terjun di bidang bela diri sekarang akan banyak bahaya yang akan Kamu lewati.." Ox menghampirinya perlahan.

"Tidak apa apa akan Ku lakukan.." Jawab Habiki

"Bagaimana kalau sekarang..?!" Lanjut Dia dengan semangat, menaruh sarapannya meja bundar di tengah ruangan.

"Hahaha Tentu..!" Light pergi keluar tenda, diikuti Habiki dibelakangnya.

"Ah Ox.... Mari Kita mencari anggota lagi..." Ujar Koraya dengan antusiasnya, menengok ke arah Ox.

"Ah luKamu sudah sembuh..? Berikan Aku portal deployer mu... Siapa yang Kamu cari..?" Tanya Ox, mendekati Koraya.

"Ender... Ksatria kegelapan... Seorang perempuan yang ditAkuti banyak orang karena kemampuan berpedangnya.." Jawab Koraya dengan nada sekeren mungkin padahal kenyataannya tidak, Ia pun memberikan portal deployernya kepada Ox.

"Ah... Sepertinya di dimensi berpedangan... Tunggu sebentar..." Sementara Ox mengotak ngatik portal deployer, Koraya menghampiri para OCnya untuk mengajak mereka.

"Siapa yang mau ikut...?" Tanya Koraya dengan lantang, mengangkat tangannya.

"Aku..!!!" Ash mengangkat tangannya juga sama seperti Koraya.

"Yang lain..?!" Tanya Koraya sekali lagi, menoleh ke kiri dan kanan.

Floyd dengan perlahan berdiri lalu menepak pundak Koraya dari belakang saat sudah menghampirinya. "Aku melakukan ini untuk diriku sendiri.." Floyd berbisik ke telinganya.

Melepas pundaknya lalu melangkah mendekati Ox tanpa memerdulikan apapun, "Aku yang pimpin..".

"Ahhh tidak adill!!!" Ash mengejar Floyd dengan hentakan yang kencang dan kesal.

"Kalau Kamu Austin..?" Tanya Koraya untuk ketiga kalinya kepada OC OCnya.

"Aku akan diam disini menjaga Ox.." Jawab Austin sesudah menoleh sedikit ke arah Koraya.

"Ok kalau begitu Ox--" "Oi Osh portal sudah siap?" Ucapan Koraya terpotong oleh gertakan Floyd yang lantang sampai terdengar ke ujung ruangan. Tidak tahu untuk menutupi perkataan Ash atau untuk mencari perhatian.

"Ox... Bukan Osh.. Dan ya portal sudah siap..." Ox mendekati Koraya lalu memberikan portal deployer kembali kepadanya. 

Koraya segera memasang portal seperti biasa, Ox pun bicara " Selamat menempuh perjalanan di dimensi 40..!" Ia terenyum

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Team recruit saga

Part 6 : The dark assassin

Mereka akhirnya melangkahkan kaki di dimensi 40. Dimensi dimana seni berpedang menjadi proritas pertama. Sesampainya Koraya segera mematikan portalnya, disambut oleh ladang bunga yang luas. Dari mulai tulip sampai bunga lainnya.

"Indah...." Floyd perlahan menikmati pemandangan indah yang membentang dari ujung ke ujung. "Ahhaaa... Liat siapa yang menjadi lembut begini..?!" Ash tersenyum licik sambil mendekati Floyd dan menertawakannya.

"Berisik!" Jawabnya dengan kesal selagi menatap ke mata Ash.

"Tunggu.. Ini terasa ganjal..." Koraya menengok dan melihat kesekitar, kebingungan.

"Shh..." Floyd mendesis, menyuruh semuanya untuk diam.

Suara hentakan orang yang berlari terdengar oleh Floyd. Suara itu perlahan terdengar lebih kencang lagi sampai akhirnya ada orang yang melompat dari semak semak menyerbu Koraya dengan sebuah pedang katana. Tetapi Floyd berhasil menangkisnya dengan kayu yang mendadak keluar karena insting.

"Oh..?" Suara lembut tapi berintonasi sedikit tomboy dari seorang gadis bertopeng hitam yang menyerupai seperti robot dengan lensa hijau. Dirinya memakai jaket ketat berwarna hitam yang menutupi rambut coklatnya. Celananya berupa legging hitam yang sangat cocok dengan jaketnya. Ia memegang katana putih dengan beberapa gem atau bisa disebut permata di gagangnya.

"Siapa Kamu hah..?" Teriak dan saut Ash kepada gadis tersebut yang baru saja mendarat di atas tumpukan bunga. "Bukannya sebaliknya..? Siapa kalian..?" Tanya gadis misterius tersebut.

"Tenang.. Kami disini cuma untuk mencari Ender.. Mungkin Kamu mengetahuinya..." Koraya menyempil ditengah percakapan, menghampirinya sedikit sedikit.

"W-winston..?" Gadis tersebut sempat diam terkejut saat melihat wajah Koraya. Walau tidak terlihat wajahnya, dari gerakannya sudah terlihat bahwa Dirinya kaget.

"Winston..?" Koraya bertanya tanya.

"Tidak tidak.. Mau apa Kamu dengannya...? Dengan Ender.." Tanya balik gadis tersebut kepada Koraya dengan santainya.

"Kami cuma ingin memasukannya ke dalam sebuah team..." Koraya perlahan mendekati, mengangkat tangannya.

"Ah... Kukira Kamu adalah utusan Stephen... Maaf..." Gadis itu membuka topengnya menunjukan wajahnya yang cantik dengan matanya yang berwarna coklat muda. Ia terlihat seperti gadis yang seumuran dengan Koraya.

"C-cantiknya....." Ujar Koraya dalam hati sambil memandangnya dengan malu, Koraya adalah tipe orang yang tidak mudah menghadapi perempuan.

"Jadi... Apa yang Kalian butuh kan...? Tapi sebelumnya ikuti Aku ke rumah ku." Bujuk gadis tersebut, menaruh topeng dan katananya di pinggir pinggang.

Mereka semua mengikuti gadis tersebut ke sebuah rumah di tengah ladang bunga nan indah itu. Rumahnya kecil dan terbuat dari kayu. Mereka memasuki rumahnya dan gadis itu berkata "Make yourself at home..!" melemparkan topengnya dan lalu berbaring di atas sofa.

"K-kotor..." Ucap Koraya dalam hati. Rumahnya sangat lah kotor, setidaknya bagi seorang wanita tempat ini tidak cocok. terdapat banyak bekas makanan dan baju dimana mana.

"Oiii..! Kasih tahu aja lah dimana keberadaan Ender..?!" Bentak Ash dengan kesal.

"Yak elah Aku ini Ender..!" Ia menengok setelah identitasnya terbocorkan.

"Wah iya juga... Penampilannya tak jauh beda dengan designku..." Koraya bergumam dalam hati.

"Ya sudahh...!! Kalau gitu Kamu mau ikut ga nih ke team...?!" Ash yang tak sabaran memanggilnya sekali lagi.

Ender bangkit dan membentak Ash balik "Eh?!!! Yang sabar dong..!" Mereka saling bertatap tatapan dengan kesal.

"Ya seperti yang dikatakannya Kamu jadi masuk tidak...?" Ucap Floyd dengan lembut tetapi tegas.

"Ah.. Tim apa dulu..?" Ender langsung menanyakan inti dari percakapan tersebut.

"Tim yang berisikan petarung petarung untuk melindungi dimensi.." Jawab Floyd sambil menghampiri Ender.

Ender yang tak terbiasa dengan keadaan mendadak ini merespon dengan apa adanya tapi sesuai dengan isi hatinya.

"Jadi begitu..." Ucap Ender sambil membenarkan rambutnya. "Ayo aja sih tapi... Aku ingin tau niat Kalian baik atau tidak..." Tanya Ender sambil tersenyum santai.

"Tentu saja baik Kamu penyihir...!" Ash menatap Ender bermaksud meledeknya.

"Haaahhh...?! Asal Kamu tahu umurku 19 tahun!!" Jawabnya sambil mendekati Ash dan menatapnya dengan kesal.

"Lebih tua 1 dengan Ku ya...?" Ujar Koraya dalam hati. "Bagaimana cara Kami meyakinkanmu..?" Tanya Koraya kepada Ender , mendekatinya.

"Hah membuktikan? Kalian tidak perlu membuktikan... Aku langsung ikut aja... Tapi kalau Kalian mempunyai niat buruk akan langsung Ku bantai kalian..." Ender melirik ke arah semuanya.

"Berisik pendekkkk...!!!" Ledek Ash ketiga kalinya.

"HAHH..?! Kamu dari tadi baru kenal sudah ngajak ribut... Mau berantem..?!" Jawab Ender dengan sangat kesal karena disebut pendek.

"Hayu..!! Siapa tAkut...!!" Ash tersenyum sambil meremehkannya.

"Siap siap Kita akan bertarung diladang depan rumah ku..!!!" Jawab Ender sambil tersenyum dengan senyuman yang sama dengan Ash. "SIAPA TAKUT...!!!" Jawab Ash dengan lantangnya.

"Ok... Aku pulang duluan... " Floyd perlahan melangkah keluar rumah.

"T-tunggu..." Koraya segera mengulurkan tangannya ke Floyd. Tapi Floyd menutup pintu di hadapannya.

"Ya ampun.." Ucap Koraya setelah menghela nafas, memandang Ender dan Ash yang sedang saling tatap dengan kesal.
Mereka berdua segera keluar dari rumah dengan kesal dan sombong, segera memasang kuda kuda tanpa pembicaraan apapun lagi. Disusul dengan Koraya yang terlihat kebingungan Ia melirik dari arah Ender ke Ash. Floyd yang asalnya bilang akan pulang duluan memandang dari kejauhan.

"Kamu siap pendek.?" Tanya Ash, menjulurkan lidahnya meledek Ender.

"Tunggu saja hah...!" Ender memasang topengnya lalu mengeluarkan pedang miliknya.

"Tanpa basa basi..." "Mulaii...!" Saut mereka berdua secara bergantian dari Ash lalu Ender.

Koraya yang tidak terlalu mendalami bela diri hanya bisa diam memandangi mereka berdua yang akan bertarung.

Ender berlari menuju Ash dengan pedang di depannya untuk melindungi sekaligus menyerang. Ash mengeluarkan api dari tangannya dan berusaha menangkis serangan yang akan datang tetapi Ender memutarkan pedangnya, berlari ke belakang Ash lalu menebasnya dari belakang.

Namun Ash menahan serangan Ender dengan sayap apinya yang segera muncul, Dirinya melompat kebelakang untuk mencari aman.

"HAHAHA... Kalau tidak ada sayap Ku pasti Aku sudah mati.. HAHAHA..!" Tawa Ash dengan sarkas.

Ender meluruskan pedangnya secara horizontal dan menatap Ash tepat di mata. Ender berlari ke arahnya, berusaha menebas Ash dari atas tapi tentu Dia menahannya dengan tangan yang dipenuhi dengan apinya itu.

"Kamu tidak akan menang kalau begini..!" Ucap Ash sambil menahan pedang Ender sekuat tenaga. "Masa sih..?" Ender menendang kakinya lalu mundur dengan satu lompatan yang jauh.

"Aduduhhh..." Ash dengan kesakitan memegang sebelah kakinya, melompat lompat dengan kaki yang satunya. "Emang itu fairr hahh..??" Saut Ash kepada Ender dengan kesal.

Ender menutup mulut nya sendiri lalu Ia tertawa sedikit, "Maaf maaff.." wajahnya sedikit memerah menahan tawa

"Aaaahh... Tapi cape Aku berantem terus.." Ash melepas kakinya lalu perlahan duduk di atas tumpukan rumput.

"Eh..?!" Ender terkejut dan juga kebingungan. "Ah ya sudah lah.. Akhiri saja pertandingan ini.. Masalah tim itu, memang niat pertamaku itu untuk mencari kehidupan baru jadi tentu Aku akan ikut.." Jelas Ender.

"Oh begitu.." Jawab Koraya.

"Kalau begitu Aku akan menyiapkan barang Ku lalu ikut dengan kalian.." Ujar Ender, menengok ke arah Koraya yang berada di pinggir rumahnya.

Ender kembali masuk ke dalam rumahnya untuk menyiapkan barang barang bawaannya.

Setelah beberapa jam berlalu Ender keluar dari rumahnya dengan segar, membawa tas ransel yang cukup besar yang kira kira diisi dengan baju baju dan lain lain. Di pinggirnya juga membawa pedang katana.

Ash terlihat berbaring di atas rerumputan pendek sedangkan Koraya sedang duduk di dekat rumah Ender. Di sisi lain Floyd berdiri diam memperhatikan bunga bunga.

"Lah kok Kamu seger gitu? Abis mandi?" Tanya Ash, Ia bangkit dari baringnya.

"Yaiya dong..!!" Jawab Ender tersenyum. Dia tidak memakai topeng, topengnya terlihat digantung pada belakang tasnya.

"Kamu siap..?" Tanya Koraya yang sedang duduk di potongan kayu.

"Tentu.." Pandangan Ender langsung tergantikan kepada Koraya.

Koraya berdiri lalu memasang portal dengan portal deployer miliknya yang selalu Ia simpan di dalam sakunya.

"Apa apaan ini..?" Ender terkejut melihat portal yang tiba tiba muncul di hadapannya.

"Ini portal miss..." Ash berusaha meledeknya. 

"Ya mana Gw tau ini apaan..." Ender melirik kesal.

Mereka lalu meninggalkan dimensi tersebut di dahului oleh Floyd, Ash, dan Ender lalu di akhiri oleh Koraya di belakang mereka semua.

Mereka tiba tepat di halaman rumah Koraya dan di dekat tenda, "Aku pulang.."  Ash berlari keluar dari portal dengan semangat setelah Floyd pertama keluar. 

"Selamat datang.." Jawab Ox yang terlihat baru keluar dari tenda.

Disusul oleh Ender dan juga Koraya yang baru saja datang dari portal. Koraya segera menutup portal lalu langsung duduk di pinggir tenda, kelelahan.

"Selamat datanggg..." Ucap Koraya kepada Ender dengan sambutan yang hangat.

"Thank youu~" Jawab Ender kepadanya. "Dimana Aku menyimpan barang ku...?" Tanya Ender, memandang Koraya namun yang menjawab adalah.

"Oh kesini M'Lady.. Ikuti saya..." Ox mengulurkan tangannya kepada Ender.

"Uuuuu baik sekali pelayan disini Ash..." Kata Ender dengan senyum canda.

"Tentu.. Aku membayarnya mahal.." Jawab Ash dengan senyum yang serupa.

"HAHAHA..." Mereka berdua pun tertawa bersamaan. "Oioioi... Aku bukan pelayan...!" Ox menjawab dengan lesu dan kesal.

Ender akhirnya mengikuti Ox ke ruangannya setelah tertawa bersama dengan Ash.

"Ash.. Kan OC Ku tersisa dua lagi... Bagaimana kalau Kamu istirahat dulu sekarang...?" Koraya berdiri lalu menghampiri Ash.

"Hee...??" Ash kaget. "Tapi Aku kuat..." mengelak sangat ingin ikut.

"Aku akan menggatikanmu..." Ender yang baru saja keluar dari tenda langsung memasuki pembicaraan.

"T-tapi..." Kata kata Ash terbata bata, sebenarnya bukan karena ingin menangis tapi hanya bingung untuk memberi alasan. "Yah...  cengeng..!" Ucap Floyd seenaknya ikut ikut pada pembicaraan.

"Haa?! " Bentak Ash, segera menengok ke arah Floyd. "Ya sudah kali ini Aku akan istirahat...!" Ash memasuki tenda dengan hentakan kaki yang kencang.

"Berarti yang kali ini akan pergi Ender... Aku... Floyd apa Kamu ikut..?"  Koraya berhitung, menunjuk Ender lalu Dirinya sendiri.

"Ya.." Jawab Floyd dengan datar.

"Oh ya sudah.. Dikarenakan Austin menemani Ox dan Habiki sedang latihan dengan Light Kita bertiga saja." Usul Koraya, menyimpulkan keadaan.

"Siapp boss..." Ender menyenggol pundak Koraya.

"E-eh..." Koraya tersipu malu karena seperti yang sudah dikatakan, bisa dibilang Ia tidak bisa berhadapan dengan lawan jenis.

"Kamu sudah menentukan dimensi Koraya..?" Tanya Ox yang baru saja keluar dari tenda.

"Ya...." Koraya berjalan lalu memberikan portal deployer kepada Ox.

"Maaf memotong pembicaraan... Ox bisakah Kamu mempersingkat nama portal deployer itu menjadi PD? Supaya lebih mudah memanggilnya.." Floyd bersaran.

"Oh tentu.. silahkan.." Ox menerimannya. "Lalu bagaimana Koraya..?" Lanjutnya.

"Mungkin ini akan menjadi yang paling berbahaya tapi... Mari mengunjungi Cade, alias Black Eye..." Lanjut Koraya.

"Seperti apa dia...?" Tanya Ox dengan serius karena Koraya baru saja mengatakan kata berbahaya yang membuatnya ragu.

"Ku buat dia menjadi tukang main hakim sendiri, berbuat keadilan di dalam peraturan sendiri, keadaan dunianya sangat hancur..." Ujar Koraya membalas pertanyaan Ox.

Ox mengutak ngatik portal deployer, sejenak lalu memberikannya kembali kepada Koraya.

"Berhati hatilah..." Ox meletakan PD di tangan Koraya.

"Ya tentu.." Koraya memandang ke arah Floyd dan juga Ender lalu mengangguk.

"Ayo.." Koraya memasang portal dari PD yang sudah diatur oleh Ox lalu mereka semua masuk dipimpin Floyd lalu Koraya sebagai penutup.

 

 

Team recruit saga

Part 7 : The black eyed human

Akhirnya mereka sampai juga di dimensi yang dibilang bilang berbahaya, langkahan pertama mereka dimulai dengan Floyd lalu Ender dan Koraya disisinya.

Mereka disambut oleh suasana kota yang sudah sangat hancur. Bangunan terlihat sangat kumuh dan sangat gelap. Beberapa gedung pun terlihat hancur dan berasap.

"Hmmm sangatlah suram..." Ucap Ender sambil memasang topengnya kembali.

"Ayo Kita langsung saja berkeliling." Ajak Koraya, Koraya berjalan menelusuri kota tersebut bersama dengan Floyd didepannya dan Ender berada disampingnya.

Mereka mencari keanehan keanehan yang menunjukan petunjuk mengenai keberadaan Black Eye, atau mungkin bertemu Black Eye itu sendiri.

"T-tolong...!!" Suara teriakan seseorang dari sebuah gedung yang disusul oleh suara tembakan terdengar oleh mereka bertiga.

"A-apa..?!" Koraya terkejut, Ender dan Floyd juga menyadarinya, menengok secara refleks.

Ender dan Floyd tanpa basa basi menghampiri dan berlari ke arah gedung tersebut meninggalkan Koraya di belakang. Gedung tersebut terletak sekitar 1 blok dari lokasi mereka sekarang.

Mereka berdua berlari dan saat sampai mereka melihat 3 orang teroris bertopeng yang membawa senjata api.

Disana juga terdapat 4 orang sandra yang diikat lalu 2 Orang yang sudah mati tergeletak di pinggir ruangan. Pistol para teroris terdapat di kepala masing masing sandra. 

"OI OI... APA APAAN KALIAN..." Para teroris mengarahkan senjatanya ke arah Floyd dan Ender yang telah mengalihkan perhatian mereka.

"Benda apa apaan yang ada ditangan mereka..?" Ender juga tidak tahu akan adanya senjata api sama halnya seperti Light,

Floyd mengusap kepalanya sendiri, bersiap siap untuk mengeluarkan kayunya, "Itu senjata api, alat yang bisa mengeluarkan peluru dan membunuh hanya dengan tarikan jari..".

"Huhh.. Tunggu..." Ender menghalangi Floyd dengan tangan kanannya. "Biarkan Aku menunjukan kekuatan ku..." Lanjut Ender.

Ender mengeluarkan pedangnya dengan perlahan namun para teroris tidak peduli dan langsung mulai menembaki Ender.

"TEMBAK..!" Teriak salah satu teroris yang terlihat memimpin yang lainnya. Ender menangkis semua peluru yang dilontarkan oleh mereka hanya dengan ayunan pedangnya.

"A-apa..?!" Para teroris terkejut lalu melangkah beberapa langkah kebelakang karena tAkut.

Tetapi tanpa disadari siapapun seorang sosok muncul di belakang para teroris, hanya diam berdiri. Saat satu teroris menoleh perlahan Ia langsung dibunuh, dengan kejam memenggal kepalanya. Sosok itu menghilang menjadi abu saat 2 teroris lain mulai panik dan berlarian, namun muncul kembali dan hilang lagi terus menerus hanya untuk memenggal mereka satu persatu. Lalu sosok itu pun berdiri di hadapan Ender.

"Tch..." Floyd dengan refleks mengeluarkan kayunya untuk berjaga jaga. "Siapa Kamu...?" Tanya Ender kepada sosok di hadapannya.

Koraya yang baru tiba di pintu gedung langsung disambut dengan percakapan mereka bertiga.

"Aku heran Kamu tidak mengetahuiku..." Sosok itu terlihat bingung tapi tampaknya itu hanyalah sarkas.

Dia memakai jaket kulit dan celana jeans hitam. Rambutnya panjang diatas namun tipis dipinggir seperti gaya punk. Ia memakai anting di sebelah kupingnya. Tingginya mungkin lebih tinggi dari semua anggota tim Koraya. Tapi uniknya sebelah matanya berwarna hitam dengan pupil putih.

"Aku dikenal dengan Black Eye disini, panggil Aku Cade jika Kita bukan musuh.." Ia menunjukan identitas aslinya.

"B-black eye..." Koraya yang baru saja datang terkejut mendengar nama tersebut.

Cade menyadari keberadaan Koraya lalu meneriakinya "Oi apa Kamu liat liat..?!".

"Tenang dia kenalanku..." Ender menahan Cade dengan tangan kirinya untuk berjaga jaga.

"Ah..." Cade mulai mengabaikan Koraya, Ia mengeluarkan permen karet dari saku celananya lalu memakannya.

"Black eye..." Floyd menghampirinya secara perlahan.

"Hah..? Sudah kubilang panggil Gw Cade.." Cade meniup permen karet dengan santainya.

"Namaku Floyd, Mereka Ender dan Koraya.. Aku tahu ini akan terdengar gila.. Tapi Kami dari dimensi lain mengundangmu untuk memasuki team Kita untuk melindungi dimensi lain..." Floyd perlahan mengajaknya, entah mengapa motivasinya dalam mengumpulkan anggota meningkat.

"Kamu bercanda..?! Untuk melindungi satu kota ini saja sudah membuatku gila..!" Nada suara Cade naik, mungkin terpancing emosi oleh sesuatu.

"Kita ini bersama Kita pasti bisa melakukannya--" Ender mencoba melanjutkan penjelasan Floyd sebelumnya tapi.

"Bicara sekali lagi akan kubunuh..." Cade mengeluarkan pisaunya lalu mengarahkannya ke arah Ender dengan tatapan tajam.

"Sebenarnya silahkan kalau bisa.." Ender memasang kuda kuda dengan pedangnya.

"Mau kubantu ..?" Tanya Floyd kepada Ender yang sudah siap bertarung.

"Tidak terimakasih.." Jawab Ender, Ia tersenyum.

Cade menghilang lalu muncul di belakang Ender untuk menebasnya. Namun Ender berbalik badan dan berhasil menahan pisau Cade dengan pedangnya.

"Hah.. Jarang sekali ada orang yang bisa menahannya." Cade terlihat sedang meledek Ender.

"Yang kugunakan tidak hanya pengelihatan--" Saat Ender ingin menjelakan tiba tiba Cade mengeluarkan pisau dari lengan kiri jaketnya dan berusaha menusuk Ender.

"Apa yang Kamu coba katakan putri..?" Kalimat tersebut Cade ucapkan saat Ia hendak menusuk Ender.

Namun Floyd menahan lengannya dengan kayu supaya Dia tidak bisa bergerak dan menyerang Ender. Namun Dirinya kabur dengan mudahnya dengan menghilang. Dia muncul kembali di sisi Ender

"Kenapa Kalian begitu memaksaku hah..?!" Tanya Cade dengan kesal.

"Kamu adalah bagian penting di team ini, menurut Koraya... Lagi pula tempat tinggal akan Kita sediakan untuk mu.." Kata Ender.

"Tempat tinggal..?! Memangnya dimana Aku akan tinggal...?" Cade bertanya tanya lagi.

"Jauh dari sini..." Lanjutnya.

Cade tersenyum licik dan berkata "Ya sudah antarkan Aku ke tempat tersebut....".

"Dapat dimengerti..." Ender membalas pertanyaannya tanpa menyadari apakah Ia berbohong atau tidak. Ender pun memanggil Koraya ke tempatnya, memintanya untuk memasang portal.

Koraya segera mengeluarkan PD dari kantongnya. Tetapi disaat portal dipasang oleh Koraya Cade segera berlari memasukinya.

Ender, Floyd, dan juga Koraya pun terkejut. Mereka segera menyusul Cade dari belakang.

Saat sampai di dimensi Koraya, mereka tiba sedikit lebih jauh dari tempat biasanya. Cade tidak dapat ditemukan di sekitar portal. Telah kabur entah kemana di dimensi ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

Poison saga

Part 1 : New life

"Aku pulangg.." Koraya, Floyd, dan Ender memasuki tenda setelah berjalan beberapa langkah dari tempat portal terpasang.

"Haiiii... Aku membuatkan kue untuk Kalian semua...!" Ash membawakan semangkuk kue kering kepada orang orang yang baru datang.

"Ah terima kasih..." Koraya dan juga Ender mengambil satu butir kue.

"Floo.... Ambil satu dongg.." Ash menawarkan kuenya kepada Floyd dengan mendorong dorong mangkuk ke arahnya.

"Tidak.." Jawab Floyd dengan polosnya.

"Plss..." Tetapi Ash tetap memaksanya.

"TIDAK.." Sentak Floyd mulai kesal.

Orang orang dibelakang Ash menggelengkan kepalanya dengan kencang sambil menyilangkan tangannya kepada Ender dan Koraya.

Namun mereka berdua tak menyadarinya. Saat Koraya mencoba gigitan pertama, Ia menunduk dan memuntahkannya mentah mentah. "Hoek... Asin..!" Suara Koraya tidak karuan.

Ender juga memakannya bersamaan dengan Koraya, langsung memuntahakannya ke arah Ash.

Ash menghindari muntahan Ender lalu berkata dengan polosnya, "Oh ya Aku lupa bilang yang Aku kira gula itu garam..".

Setelah kapok mencicipi masakan kue buatan Ash, Koraya dan juga Ender pergi menuju sofa untuk bersantai.

"Aaaaaa.... Lelahnya..." Ujar Koraya menyandar kecapean kepada senderan sofa.

"Koraya mana Cade..?" Ox menghampiri Koraya yang sedang kelelahan lalu duduk di sebelahnya.

"Melarikan diri.." Respon Koraya dengan lemas.

"Hahh... Sudah kuduga sih jika asal mula dimensinya di sana.." Kata Ox, Ia ikut menyandar seperti Koraya.

"Koraya.... Kamu masih sekolah kan...? Bagaimana jika Kita istirahat selama 5 hari selama itu Aku akan menyiapkan perlengkapan kalian... Lagi pula cuman satu lagi kan Oc yang perlu dicari...?" Tanya Ox sambil duduk disebelahnya.

"Bukannya itu nanggung..?" Floyd sedang berdiri di sisi pintu masuk juga ikut merespon.

"Tidak tidak.. Koraya perlu istirahat Kita lanjut nanti saja..." Ox berusaha membela Koraya yang kelelahan.

"Ya sudah...." Floyd menjawabnya dengan wajah datar.

"Kalian cape kan...?" Light terlihat baru saja keluar dari dalam dapur bersama dengan Habiki, membawa banyak cupcake.

"AAA....!!" Teriak bahagia Ender, nerlari ke arah Light lalu mengambil satu buah cupcake.

"Sudah lama Aku tidak makan seperti ini heuuuheuu.." Ucap Ender dengan muka yang mulai memerah, mendekatkan cupcake ke mulutnya namun Ash tidak sengaja menyenggolnya saat sedang berjalan menuju Light. Cupcakenya pun terjatuh dari genggaman Ender.

Ender memandang ke arah cupcakenya yang terjatuh itu dengan terlihat amarah di dalamnya. "Ash.." Ender memanggilnya.

"Hah ada apa--- Ohh... Oh..?" Ash menengok lalu menyadari cupcake Ender yang terjatuh, Ia menghampiri Ender lalu berkata.

"Ah tidak apa apaaaa...." Ash menepak nepak kepalanya beberapa kali dari belakang, tersenyum mengesalkan.

Ender menengok, menatap Ash dengan dingin. Ender senyum, Ia perlahan menarik tangan Ash yang sedang menepak kepalanya lalu memutarnya.

"Aduduhh..!! Ampun..!!" Ash menahan tangannya kesakitan.

"Hmph..." Ender akhirnya melepaskan tangan Ash dengan kesal.

"Jadi sekarang Kita akan istirahat dan kapan kapan saat sepulang Koraya sekolah Kita akan membuat design buat topeng..." Ox menyelipkan sebuah percakapan baru di antara kesalnya Ender kepada Ash.

"Hahh..? Buat apa topeng...?" Floyd mengangkat kedua alisnya.

"Setelah Kita telah beres persiapan Kita akan melindungi dimensi... Akan repot jika ada orang yang mengetahui wajah kita..." Ox mempertegas ucapannya.

"Ah ya sudah... Akan kuusahakan besok Ku pulang tidak sore..."Koraya menegakkan tubuhnya lalu menengok ke sebelahnya.

"Ya sudah Aku akan ada di ruangan Ku kalau Kalian butuh..." Ox bangkit dari duduknya lalu memasuki ruangannya.

"Ka Light... Bagaimana dengan Latihan lagi..!" Ajak Habiki, menaruh piring dengan cupcake di meja setelah  dipegang selama ini.

"Ah ya sudah ambil panah dan pedang mu..! Aku akan menunggu diluar..." Jawab Light perlahan melangkah keluar tenda.

"Siappp...!!" Habiki berlari ke dalam ruangannya lalu mengambil sebuah panah dan juga pedang kayu, lalu kembali keluar untuk menyusul Light.

"Kapan dia mempunyai itu?" Tanya Koraya kebingungan.

"Tunggu.." Floyd meraih tangan Habiki lalu menahannya sebelum Ia bisa keluar dari tenda.

"Ada apa..?" Habiki menoleh kebelakang, melepaskannya dari genggaman tangan Floyd.

"Tentang tangan mu.. Maaf.." Floyd meminta maaf setulus mungkin.

Habiki menunduk, terlihat kesal. "Aku tahu, Kamu perlu memotong lenganku supaya Virus pergi.. Aku tahu.. Sebesar besarnya Aku ingin memaafkanmu, ada bagian dalam diriku yang takkan memaafkanmu.." Habiki menatap Floyd.

"Maaf..".

"Ya sudah Aku terlebih dahulu.." Habiki melanjutkan perjalanannya keluar tenda untuk berlatih bersama dengan Light.

"Ah.. Aku akan hibernasi sebentar..." Ujar Ash sambil melangkah pelan pelan ke dalam kamarnya.

"B-bukannya hibernasi itu lama ya..." Koraya tersenyum ragu terhadap ucapan Ash.

"Aku juga..." Floyd mengikuti Ash di belakang lalu berbelok ke kamarnya.

"Koraya..." Austin memegang pundak Koraya dari belakang.

"Hm..?" Koraya menengok ke belakangnya.

"Aku akan pergi jalan jalan ok..." Setelah mengatakan itu Dirinya segera pergi meninggalkan tenda entah kemana.

"Hah... Apa masalah setiap orang sampai berpergian..?!" Tanya Ender dengan kesal, menggaruk kepalanya kebingungan.

"Ahahaha... Sebenarnya Ender Aku juga harus mengerjakan tugas... Kamu beristirahat saja di sini... Kalau ada perlu kunjungi rumah Ku yang ada tepat diluar tenda." Terus Koraya, Ia juga ikut berdiri seperti yang lainnya.

"Awhh... Ok.." Ender melirik dan menjawab.

Koraya meninggalkan tenda, meninggalkan Ender sendiri. Setelah itu Ia berjalan mendekati, membuka pintu rumahnya.

"Ah..... Istirahat... Besok sekolah lagi... Yaa... " Koraya memasuki, menutup pintu depan rumahnya lalu berjalan memasuki kamar untuk mengerjakan tugas tugasnya.

Setelah beberapa jam berlalu akhirnya Koraya selesai mengerjakan semua pekerjaan rumahnya.

"Ahhh akhirnya beres.....!" Dengan lega Koraya menggeliat di atas ranjangnya.

"Jam 10? Ah masa sih Aku ngerjain tugas selama itu..."  Koraya lalu segera pergi ke kasurnya, berbaring.

"Tidur aja kali.." Koraya memejamkan matanya, tapi tak lama Dirinya mendengar suara ketukan dari pintu depan rumah.

"Siapa malem malem gini..." Karena terkejut Koraya segera membuka matanya kembali. Dia bangun dari tidurnya lalu keluar dari kamar.

Ia melihat surat di atas lantai dekat pintu, menghampiri lalu membacanya. Di dalamnya berisi sebuah kertas bertuliskan "Ayo keluar Kita menikmati malam ini..! -Ender...".

"H-hahh..?!" Kejut koraya dengan wajah yang memerah, karena sikapnya yang tidak bisa menangani perempuan, Ia terkejut.

"Tenang Korayaaa..." Koraya menampar wajahnya dengan kedua tangan untuk menenangkan diri.

Koraya membuka pintu perlahan, terlihat Ender yang sedang bersandar ke pagar sambil melihat menuju bintang bintang di angkasa.

"Ah Koraya.. Aku cemas Kamu tidak membaca surat ku.." Ender menoleh ke arah Koraya dengan senang.

"A-ah tidakk..." Kata kata Koraya terdengar sangat terbata bata.

"Bukannya bintang sangat indah Koraya...?" Ender melihat ke langit sekali lagi dengan matanya yang bersinar.

"Ya..." Jawab Koraya, memandang Ender yang terpukau kepada bintang bintang.

"Ah mari Kita melihat dari atas pasti akan lebih terlihat...!" Ender lalu melompat tinggi ke atas atap rumah Koraya, meninggalkannya di bawah.

"H-hei tungguuu..!!!" Koraya berlari ke dalam rumahnya, menaiki tangga ke loteng tanpa menutup pintunya sama sekali. Saat sudah di atas, Dia membuka jendela dan keluar ke atap melaluinya. Disana sudah ada Ender yang sedang duduk di ujung atap.

Koraya menghampirinya lalu duduk di sebelahnya. "Hei.. Kenapa Kamu tidak mengajak yang lain? Seperti Ash sebagai contoh... Kamu terlihat cukup dekat dengannya.." Koraya mencoba memulai percakapan dengannya walaupun tidak melakukan eye contact.

"Hmmm.. Dia kan tidur, Floyd pun samanya... Terus pangeran yang bisa masak itu dan adiknya kecapean sesudah latihan.. Orang berkaca mata itu tidak bisa diganggu dan Orang berjubah itu masih belum pulang..." Ender juga membalas tanpa menoleh ke Koraya.

"Ah jadi begitu..." Koraya memandangi langit sama seperti Ender.

"Lagipula Kamu mengingatkan Ku dengan seseorang..."  Ujar Ender setelah melirik Koraya, dan tersenyum.

"Hmm..?" Koraya menoleh, memulai eye contact.

"Tidak tidak... Hei.. Apa Kamu tahu...? Di tempat asal Ku bintang dipercaya sebagai impian setiap orang.. Dari antara ratusan... Tidak... Ribuan impian itu ada impian mu... dan impian ku..." Ender mencoba mengalihkan perhatian, Dirinya mulai memandangi langit lagi sambil menunjuk bintang bintang.

"Begitu...." Jawab Koraya sambil memandang kembali langit langit mengikuti Ender. "Indah.." Terus Koraya, tiba tiba Ia tersenyum.

"Ah Koraya... Maaf mengganggu, Sepertinya Kamu besok harus sekolah.... Kamu harus segera istirahat...! Aku akan segera ke tenda.." Ender segera berdiri dengan cepat.

"Ah ya sudah...." Jawab Koraya juga ikut berdiri.

Ender melompat turun dari atas atap. Sesaat sudah di bawah Dia melambaikan tangannya kepada Koraya lalu pergi memasuki tenda.

Koraya melambai balik ke arahnya lalu memasuki rumahnya melalui jendela. Ia menutup jendela lalu berjalan menuju pintu yang  belum ditutup sebelumnya. Setelah menutupnya Dia segera menuju kamarnya dan menempati posisi terenak di ranjangnya, untuk tidur sekali lagi.

Setelah banyaknya waktu terlewat karena pulasnya Koraya tertidur, akhirnya Koraya bangun dari tidurnya itu.

"Huaaaaaaaaoohhh...." Koraya yang baru saja bangun tidur langsung menguap dan menggeliat.

Dirinya segera melihat ke arah jam dindingnya, menunjukan pukul 06:18.

"Ahhhh masih cukup..." Koraya berbicara kepada Dirinya sendiri dengan nada yang masih terdengar lemas.

Koraya bangkit dari ranjangnya, mengambil handuk yang digantung dekat pintu lalu keluar dari kamarnya.

"Selamat pagi...!" Saut Habiki dan Ender secara bersamaan. Mereka berdua sedang duduk di meja makan dengan santai.

"Oi oi apa yang Kalian lakukan pagi pagi di rumah ku...?!" Jawab Koraya dengan nada yang terdengar lumayan kesal, namun lelah.

"Yah pintunya tidak terkunci jadi Kami pikir kenapa tidak membuat sarapan untuk Koraya.." Jawab Ender sambil tersenyum, walaupun sebenanya hanya senyum biasa di mata Koraya senyum tersebut terlihat sangat mengesalkan.

"Ya terserahlah... Aku mau mandi dulu.." Jawab Koraya.

Ia memasuki kamar mandi lalu menaruh handuknya di meja sebelah wastafel. Dia segera menggosok giginya dengan sikat gigi yang baru saja diambil dari dalam gelas, di atas meja.

Selesai menggosok giginya, Dirinya segera menyalakan shower dan mandi.

Setelah beberapa menit di kamar mandi, akhirnya Koraya selesai. Mengeringkan badannya menggunakan handuk tadi lalu memakai bajunya kembali. Koraya pun keluar kamar mandi dengan handuk di lehernya terlihat lebih segar dari sebelumnya. 

"Koraya makan sudah siap..!" Panggil Light yang keluar dari dapur sambil melirik ke Koraya setelah Ia baru saja keluar dari kamar mandi.

"Yaya tunggu sebentar..." Koraya kembali memasuki kamarnya lalu mengambil seragam untuk dipakai ke sekolah. Dirinya lalu keluar dari kamarnya lagi dan pergi ke meja makan, duduk di samping Ender.

"Ini diaa...!" Light memberikan satu porsi nasi kari untuk Koraya, Ender, Dirinya sendiri, dan juga Habiki.

"Kamu suka suka banget sama memasak..." Koraya mengambil suapan pertama.

"Sebenarnya sih dari dulu udah dipaksa untuk masak sendiri.. Jadi kebiasaan deh.." Jawab Light,  mengambil tempat duduk di sebelah Habiki.

Semuanya pun mulai memakan makanan hasil masakan Light. Koraya mengambil remot yang ada di meja lalu menyalakan TV.

"Benda apa lagi ini..?" Light terdengar seperti kakek kakek yang ketinggalan jaman, samanya dengan Ender yang melirik kebingungan.

"Televisi, sumber informasi dan juga hiburan.." Habiki berusaha menjelaskannya.

"Pembunuhan di jalan Steint Maverick pada malam tadi... Diduga terdapat banyak barang yang membeku dan es dimana mana... Korban bersuhu sangat dingin... Tapi Korban terbunuh karena ditusuk di daerah perut..." Begitu isi berita di TV pada saat itu yang muncul pertama kali di Televisi yang dinyalakan Koraya.

"Steint Maverick?! Itu di daerah sini...." Koraya terkejut dan sempat meletakan sendoknya.

"Es....?! Mana ada pembunuhan seperti itu di dunia kita...!" Habiki ikut terkejut, Ia memandang TV dengan kaget.

"Ya.... Mungkin itu dari dimensi lain.." Terus Light untuk meluruskan yang Dia lihat.

"Tapi bagaimana.?!" Koraya bertanya tanya kepada Dirinya sendiri, saking terkejutnya Ia mulai melambat saat makan.

"Kita urus nanti.... Hati hati di jalan saja..." Light tersenyum walau sambil makan dan mengunyah. Disisi lain Ender hanya makan tanpa berkomentar pada berita tersebut.

"Ah ok siap..!" Koraya mulai menenangkan diri lalu kembali makan dengan santai.

Setelah beberapa menit pada akhirnya Koraya membereskan makanannya, segera berdiri lalu dan membawa tasnya pergi keluar rumah.

"Dadah Aku duluan..! Nanti Kalian jaga ya rumah ini..!" Koraya melambaikan tangannya ke arah mereka yang sedang makan sambil tersenyum.

"Ya hati hati di jalan...!" Light dan Habiki menjawabnya melainkan Ender hanya tersenyum tulus kepadanya.

Koraya segera pergi menaiki sepedanya yang selalu diparkirkan di depan rumah, menuju ke sekolahnya.

Dia melewati jalan staint maverick yang ada pada berita, disana terdapat banyak polisi akibat insiden tersebut. TKP dipenuhi dengan es yang belum juga meleleh dari saat berita disiarkan.

"Anehnya..." Koraya yang sedang mengayuhkan sepedanya sempat melirik ke arah TKP. 

Lalu meneruskan perjalanannya kesekolah tanpa memikirkan hal itu lagi. Sesampainya Dia melakukan rutinitasnya, seperti mengunci sepedanya.

Menuju kelas, kali ini dengan santai. Saat sampai kelas juga disambut oleh Shoko seperti biasanya.

"Oiiii... Mau main sepulang sekolah..?" Tanya Shoko menghampiri Koraya yang sedang berjalan memasuki kelas.

"Ah liat nanti ok.." Jawab Koraya dengan ragu.

Koraya berjalan menuju tempat duduknya lalu menaruh tasnya disamping meja seperti biasa.

Sebelum Koraya bisa duduk Dirinya mendengar teriakan seorang gadis dari luar kelas "Korayyaaaaaaa!!".

"L-lucy..." Koraya tampak terkejut di dalam hati.

"Selamat pagii...~" Saut gadis yang muncul dari pintu secara tiba tiba dengan semangat.

Dia adalah Lucy. Teman masa kecil Koraya dan Shoko. Rambutnya panjang berwarna kuning keemasan, Dia ikat sebagian rambutnya di belakang kepalanya. Matanya kuning dan juga cukup tinggi.

"Ahh Lucy..!! Kamu kemana saja..?" Tanya Koraya sambil tersenyum senang.

"Duhhh... Kamu ini.. Kan Aku dah kasih tau.." Ujar Lucy, dengan kesal. Lucy perlahan memasuki kelas dan menghampiri Koraya.

"Ehehe...." Koraya menunduk dengan malu karena melupakan hal yang Lucy katakan.

"Oi..!" Shoko menghampiri mereka berdua yang sedang berbincang.

"Ah pasti terus terusan ada Lo..!" Lucy melirik Shoko, jengkel.

"Jangan gitu lahh..! Kita kan temenan dah lama.." Shoko tertawa.

"Iyaaa iyaa...".

"Oh sebentar.. Nih Koraya...." Lucy mengeluarkan sebatang coklat dari kantongnya lalu memberikannya kepada Koraya. "Coklat dari kampung halamanku... Kamu pasti suka..." Lucy tersenyum walaupun Koraya sudah melupakan sesuatu yang Lucy katakan.

"A-ahh... Terima kasih..." Koraya menerimanya dengan malu malu, walau Lucy teman masa kecilnya tetap saja Koraya tidak bisa menangani perempuan.

Disana Shoko hanya bisa memandang mereka kebingungan dan terheran heran, seperti nyamuk saja.

"U-umm... Koraya..?" Tanya Lucy dengan malu malu samanya dengan Koraya.

"Hm..?" Koraya melirik Lucy.

"Bisakah Kamu meluangkan waktu sebentar sepulang sekolah... Kalau gamau sih gapapa..." Lucy malingkan diri supaya tak bertatapan dengan Koraya.

"Y-ya... Ok Aku bisa...." Jawab Koraya, menunduk tidak jauh seperti Lucy.

"Ya sudah Aku tunggu di taman sepulang sekolah..." Ujar Lucy, segera berjalan keluar kelas.

"Hummm..." Shoko semakin mendekat ke arah Koraya dengan wajahnya yang menjenjengkelkan, meledeknya.

"Peka dongg..!! Seperti biasa Kalian deket..!!" Shoko tertawa dengan lantang di sisi Koraya.

"Duh apa sih...." Koraya membalasnya selagi duduk di kursinya.

Tak lama setelah Lucy pergi, guru pun datang dan pelajaran segera dimulai.

Setelah berjam jam terlewati, dari mulai pelajaran inggris sampai science dijalani dan pada akhirnya semua pelajaran selesai, murid murid pun diperbolehkan pulang.

"Koraya jangan sampai kAku ya ...!" Shoko berlari keluar kelas menertawai Koraya, bukan berniat meledek tapi hanya memberinya saran dengan cara yang menyebalkan.

"Hmmmm...!" Wajah Koraya megkerut.

Dia memasukan buku bukunya ke dalam tas dari kolong meja. Keluar kelas untuk segera pergi menuju taman sekolah dimana mereka berjanji. Koraya berlari secepat mungkin supaya tidak telat, dan saat sampai Lucy sudah menunggu di depan air mancur yang terletak tepat di tengah tengah taman.

"K-koraya..." Lucy yang sedang melamun menoleh ke arah Koraya dengan kaget.

"Haii...." Saut Koraya sambil menghampiri Lucy.

"Aku senang dengan pemandangan siang hari... Kita bisa melihat pemandangan dengan jelas...!" Lucy memandang ke atas langit perlahan,  berusaha menutupi matanya dari sinar matahari dengan tangannya.

"Ya..." Koraya teringat kata kata Ender yang menyatakan bahwa Ia menyukai bintang bintang di malam hari.

"A-ah... Koraya.." Lucy baru saja teringat niatnya memanggil Koraya dan wajahnya pun memerah.

"Jadi.. Kenapa Kita janjian...?" Koraya penasaran, berusaha memandang Lucy.

"A-Aku... Aku..." Wajah Lucy memerah seiring waktu. "Aku cuman mau nunjukin langit kok.." Wajah Lucy terlihat konyol dan mengesalkan membuat Koraya menyianyikan waktunya.

"Pfftt..." Koraya menahan perutnya dan tertawa. "E-ehh..!!" Lucy berteriak malu.

"Kamu ini gak pernah berubah yaa...!!" Koraya memandang ke arahnya walau masih tertawa.

Lucy yang berhadapan dengan Koraya hanya bisa memandang Koraya dengan malu tapi entah mengapa, Ia tersenyum.

"Ah ya sudah sih kalau Kamu gak peduli..." Lucy membalikan badannya dari hadapan Koraya.

"Yah jangan murung dong.." Tawa Koraya perlahan mulai pudar, Ia melambaikan tangannya kepada Lucy.

"Tenang Aku gak murung kok..!" Lucy menoleh ke arah Koraya sejenak sambil tersenyum lalu menoleh kembali ke depan.

Lucy perlahan berjalan meninggalkan taman, dan saat melakukannya Ia mengucapkan salam "Dahh sampai ketemu nanti...".

"Ah iyaa Aku juga duluan..." Koraya melambaikan tangannya walau Lucy tak melihatnya. Koraya lalu pergi berjalan meninggalkan taman dan menuju sepedanya.

Seperti biasa Dia melepas gembok sepeda dan mengendarai sepeda tersebut ke rumah. Sesampainya Ia disambut oleh Ash dan Floyd yang sedang bertengkar tepat di depan rumah.

"HHHH JIKA Aku IKUT Kita PASTI AKAN MENDAPATKANNYA...!" Teriak Ash sambil menyondongkan tubuhnya menuju wajah Floyd.

"Hahh.?!!! Kamu sendir sekarat waktu itu.!" Samanya, Ia juga menyondongkan wajahnya menuju Ash. Mereka berdua saling menatap dengan kesal.

"Ah selamat datang Koraya.." Ox menyambut dan menyapa Koraya yang baru saja pulang dari sisi tenda.

Koraya memarkirkan sepedanya di tempat biasa, sambil berusaha mengabaikan Ash Ia menyapa Ox kembali, "Halo Ox...".

"Besok Kita akan membuat topeng bisa menyempatkan waktu..?" Tanya Ox.

"Tentu" Koraya menjawabnya dengan semangat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Poison saga

Part 2 : Festival

“Selamat datang..!" Seorang pria bertopeng gas dengan sebelah mata tertutupi dan sebelah tidak, tersenyum walau tak terlihat. Ia menyambut kedatangan 3 orang yang berjalan dari pintu besar di hadapannya menuju lorong. Semua orang atau pasukan yang berada di sisi ruangan memberi hormat kepada mereka bertiga.

"Diam Goose...." Shika membentak, orang yang ternyata bernama Goose itu.

Lebih detailnya lagi selain memakai gas mask yang unik, Goose memakai jas pesta berwarna ungu dan kuning bersamaan dengan dasi. Rambutnya berwarna putih dan matanya berwarna ungu.

"Sudah kak..." Usagi menyentuh tangan Shika untuk menenangkannya.

"Ahaha..~ Kenapa Kamu bisa sebegitu jahatnya kepada sesama komandan...?" Goose tertawa kecil, mengulurkan tangannya kepada Shika. 

"Tch..." Shika terdengar kesal. "Goose... Apa Kami dipanggil oleh tetua..?" Tanya komandan 5 bertopeng emas itu menyusul Shika yang berada di depan.

"Ahaha~ Komandan Dawn memang luar biasa...! Tetua telah menunggu di ruangan..." Dari tadi Goose hanya bisa tertawa layaknya seorang badut yang hanya ingin perhatian.

"Terimakasih... Shika, Usagi..." Dawn perlahan melewati Goose, Shika dan Usagi juga mengikutinya dari belakang.

Dawn adalah orang yang terlihat kuat sebelumnya, orang yang dapat menghancurkan mantra Austin dengan mudahnya.

Mereka berjalan langkah demi langkah menuju ruangan dengan pintu yang sangat besar di ujung lorong. Pintu pun terbuka dengan sendirinya, mereka disambut oleh seseorang bertopeng gas biasa namun bertopi fedora. Pakaiannya sangat formal, Ia memakai kemeja dan juga dasi. Rambutnya juga terlihat sedikit berwarna pirang. Dia sedang duduk di kursi tertinggi di ruangan tersebut.

"Tetua..." Mereka bertiga Shika, Usagi, dan juga Dawn menunduk memberi hormat.

"Ah apa laporan kalian...?" Orang yang disebut sebagai tetua itu bertanya sambil memandang ke bawah, mereka bertiga.

"Ada kumpulan orang yang berhasil mengalahkan Usagi dan Shika." Dawn berusaha melaporkan kejadian.

"Ah begitu begitu...." Orang tersebut mulai duduk tegak. "Apa Kamu mengetahui lokasinya...?" Ia bertanya sekali lagi.

"Tentu saja... Dengan prediksiku Aku menebak mereka ada di dimensi 1..." Jawab Dawn dengan kepala yang masih menunduk ke arah sang tetua.

"Dimensi 1..? Apa bagusnya dimensi itu.." Sang tetua bersender kembali ke tahtanya. "Ya sudah... Beri perintah ke seluruh pasukan untuk menyerang dimensi itu dalam beberapa hari lagi...." Menunjuk ke arah pintu besar berada.

"Dapat dimengerti..." Usagi, Shika, dan juga Dawn mengangkat kembali kepala mereka.

"Ajak Goose dan Benedict bersama kalian... Aku ingin mereka kalah..." Tatapan dingin sang tetua terasa dari balik topeng, membuat Dawn mulai serius lagi.

Keesokan harinya, Koraya pergi kesekolah lalu mengobrol dengan Lucy saat jam istirahat seperti sahabat dekat, terkadang percakapan mereka juga ditemani oleh Shoko yang berupa teman dekat mereka juga. Sepulang sekolah Ia pulang bersama Lucy dengan sepedanya dikarenakan setengah dari perjalanan pulang mereka sejalur.

"Sudah disini saja..." Lucy menepak punggung Koraya sambil turun dari sepeda di perempatan rumahnya dan juga rumah Koraya.

"Kamu yakin tidak mau diantar ke rumah...?" Tanya Koraya, menoleh ke arah Lucy yang baru saja turun.

"Ya... Duluan ya...!" Lucy melabaikan tangannya lalu perlahan berjalan menjauh menuju rumahnya sendiri.

Koraya melambai balik, tersenyum. Lalu segera pulang kerumah secepat mungkin, karena Ia mempunyai janji dengan Ox. Sesampainya Dia memarkirkan sepedanya di tempat biasa lalu segera memasuki tenda.

"Aku pulanggg...." Saut Koraya dengan lantang.

"Selamat datang....!" Ujar Ox sambil menghampiri Koraya di dekat pintu masuk tenda.

Ox memberinya selembar kertas bersamaan dengan sebuah pensil. "Ini untuk apa..?" Tanya Koraya dengan kebingungan saat menerimanya.

"Kan sudah kubilang Kita akan membuat design topeng...." Ox menggelegkan kepalanya lalu berjalan kembali ke sebuah sofa untuk rebahan.

Semua orang duduk di atas sofa dan terlihat sedang fokus menggambar di atas selembar kertas. Hal itu terkecuali Ender, Light, dan juga Austin.

"Lho kok Kalian gak ikut mendesign...?" Tanya Koraya sambil berjalan melewati mereka bertiga yang duduk di sofa yang terpisah dari yang lainnya.

"Hah.? Kita kan udah punya topeng..." Jawab Ender mengangkat kedua bahunya.

"Ah ok.." Koraya mengambil tempat duduk, tepatnya di sebelah Ash dan Habiki dan mulai menggambar di atas selembaran kertas tadi.

"Ahhhh beres...!" Ucap Ash sambil berdiri dengan semangat dan senang.

"Ah biar Aku liat...." Ujar Ox, Ia berdiri menghampiri Ash lalu mengambil kertas dengan gambaran buatannya.

"A-ah.." Di kertas itu tergambarkan topeng rubah yang biasa ada di tradisi dan budaya Jepang namun di gambarkan dengan sangat jelek.

"Kamu kan kambing...?" Ender bertanya tanya saat melirik gambaran Ash setelah pergi menghampiri Ox.

"Ah..! Tidak masalah dong....!" Jawab Ash dengan kesal namun malu kepada Ender.

Floyd juga menghampiri Ox dan memberikan hasil gambarannya kepada Ox. Isi kertasnya sangat mirip dengan Ash. Topeng rubah, hanya saja dengan motif berbeda dan digambar dengan jauh lebih baik.

"Lho..? Kok bisa sama..?" Ender bertanya tanya kepada Floyd dengan bingung.

"Aku kehabisan ide.." Floyd menjawab dengan santai.

"Ini punyAku..!" Habiki berdiri berjalan menuju Ox, sambil memberikan kertasnya kepadanya.

Digambarkan olehnya sebuah topeng kulit hitam dengan lensa lingkaran di bagian mata, di sana juga tertuliskan sebuah catatan 'Kalau bisa lensanya bisa ngezoom'.

"Wah keren...." Ucap Ender terpukau oleh hasil gambaran Habiki. "Tinggal Kamu Koraya...!" Ia menoleh ke arah Koraya yang masih juga meggambar.

Koraya akhirnya selesai. Dia berajalan lalu memberikan kertasnya yang menggambarkan topeng putih sederhana dengan motif diamond ditengahnya kepada Ox. 

"S-simple..." Ender dan juga Ox samanya terkejut. "Maaf kalau jelek.." Koraya tersenyum kAku, menggaruk kepalanya.

"Tidak tidak.... Akan Ku proses dari sekarang..." Ox tersenyum lalu langsung membalikan badannya. Ia pun segera memasuki ruangannya untuk langsung membuat, mengerjakan projek topeng tersebut.

"Aku keluar dulu...." Austin seperti biasanya keluar tanpa ada alasan yang mendasar, meninggalkan tenda tanpa adanya basa basi.

"Ya..." Jawab Koraya walaupun takkan terdengar oleh Austin karena sudah terlanjur keluar.

"Aku duluan..." Koraya melambaikan tangannya ke arah semuanya. "Ok..." Mereka menjawab.

Koraya keluar berjalan keluar tenda lalu menuju rumahnya. Membuka pintu rumah lalu memasuki dan menutupnya.

Saat memasuki kamar Ia berbaring, dan melakukan semua pekerjaan rumah yang ada sampai malam hari tiba, Ia tertidur.

"Waaaahhhhh....." Pagi hari telah tiba, Koraya pun baru bangun tidur, disambut oleh sinar matahari yang tak terlalu silau, menyinari kasurnya.

Koraya bangkit dari ranjangnya, berjalan keluar kamar membawa handuk seperti biasanya. Sejak hari dimana Light memasak sarapan pertama kali, kini para anggota tim Koraya bergantian memasak sarapan untuk bersama. Ya tidak semua sih, hanya Light, Ender, dan Habiki saja.

"Selamat pagiii....!" Sambut Habiki dan juga Light bersamaan dari meja makan seperti biasa.

"Selamat pagi..." Koraya langsung menuju kamar mandi, segera menggosok gigi dan mandi, begitu lah rutinitas pagi sehari harinya.

Seusai Koraya mandi dan mengeringkan badan, Dirinya memakai kembali bajunya. Meninggalkan handuknya di kamar mandi lalu langsung keluar, menuju kamarnya untuk mengganti ke seragamnya.

"Siapa yang memasak hari ini..?" Koraya membuka pintu kamarnya sesudah memakai seragamnya.

"Kak Ender..!" Ujar Habiki sesaat menoleh menuju Koraya.

"Lho? Kamu menjadi lebih sopan makin kesini Habiki..!" Ender keluar dari dapur memakai celemek, membawa beberapa piring sayur sop dengan nasi. "Ah Koraya sarapan jadi..." Ender tersenyum kepadanya.

"Ah terimakasih... " Balas Koraya. Koraya langsung berjalan menduduki kursi yang kosong di sekitar meja makan. Pada akhirnya Dia duduk tepat di sebelah Light.

Ender membagikan piringnya ke masing masing orang termasuk ke bagian meja dengan kursi yang belum diduduki oleh siapapun.

Saat sudah beres membagikan, akhirnya Ender duduk di kursi kosong itu yaitu di sebelah Habiki.

"Selamat makan...!" Ucap Light, Habiki, Koraya, dan juga Ender secara bersamaan. Mereka memakan gigitan pertama bersamaan juga.

"Ah enakk..!" Habiki dan Light menyuapkan lebih banyak lagi.

"Ah iya enak... Kamu bisa makan juga ya..?!" Koraya bertanya selagi memakan sarapannya, Dia sesekali melirik Ender.

"Ah tidak tidak, cuma satu, dua hal yang bisa Aku masak..." Ender tertawa, mengipaskan tangannya, dan akhirnya juga lanjut makan.

"Ah begitu..." Koraya mengambil remot dan menyalakan TV seperti biasa. Berita yang muncul pertama kali sama seperti dua hari yang lalu mengenai pembunuhan dengan es namun di tempat yang berbeda.

"Pembunuhan lagi..?!" Sautnya dengan kaget, berhenti makan seperti sebelumnya.

"Sepertinya belakangan ini itu sering terjadi.. Pembunuhan dengan es..." Terus Light kali ini dengan serius karena kesal akan kejadian tersebut.

"A-ada apa sebenarnya...." Habiki terlihat sangat kebingungan.

"Tenang nanti akan Kita tangkap pelAku nya... Iya kan...?!" Ender tersenyum lalu menoleh ke semua temannya satu persatu.

"Tentu..!" Jawab Light, tersenyum semangat.

Sementara itu Austin sedang memandang mereka dari arah pintu rumah, berdiri jelas jelasan di dekat pintu.

Setelah percakapan tersebut berakhir akhirnya mereka melanjutkan sarapannya. Sesudah suapan demi suapan akhirnya makanan mereka semua pun sudah habis. Koraya lalu mengambil tasnya di dekat meja makan dan pergi keluar rumah dengan terburu buru.

"Semuanya Aku duluan..!" Koraya melambaikan tangannya kepada mereka bertiga dan mereka juga membalas dengan lambaian tangan.

 "Oh selamat pagi Austin..!" Setelah keluar rumah, Ia menyadari keberadaan Austin yang sedang berdiri diam di dekat pintu.

"Hati hati..!" Jawab Austin tertawa.

Koraya memberikan senyuman kembali lalu memakai sepatu. Ia menaiki sepedanya di tempat parkir biasa lalu pergi ke sekolah secepat mungkin.

Sesampainya disana, Dia melakukan hal seperti biasa setelah itu bergegas pergi menuju kelasnya. Tapi saat dalam perjalannanya ke kelas, Lucy mencegatnya di lorong beberapa ruangan sebelum kelas Koraya.

"Korayaa...." Lucy membentangkan tangannya, menghalangi Koraya supaya telat datang ke kelasnya.

"Ahh apa Cy..?" Koraya bertanya kepada Lucy layaknya tak tahu apa apa.

"Hmphh!" Lucy tampak lebih cemberut dari biasanya. "Kamu kok biasa aja sihh...!" Lucy membentak Koraya dengan kesal.

"E-eh maaf.. Ada apa Cy..?" Tanya Koraya sekali lagi kepada Lucy walaupun merasa bersalah.

"A-anu... Besok sore kan akan ada festival di dekat sini..." Lucy menunduk malu.

"Terus...?" Tanya Koraya ketiga kalinya sambil memiringkan kepalanya.

"Y-yang benerrr...!!!!!" Teriak Lucy dengan kesal sekali lagi.

"Apaan sihhh..." Koraya menunduk bingung namun kesal dan juga ada rasa dimana Koraya malu dekat perempuan secara bersamaan, tapi dilihat dari keadaan ini Koraya sangat tidak peka.

"Bagaimana kalau Kita ke sana besok....?" Tanya Lucy dengan malu malu selagi menyentuh ujung jari telunjuk satu sama lain.

Keaadaan disekitar mereka seketika menjadi deg degan bagi Lucy yang mungkin mencoba mendekati Koraya dan juga Koraya yang sulit menangani perempuan.

"S-sebentar...." Jawab Koraya, menunduk sejenak.

"Waduhh..!! Gimana nihh.." Dia mulai panik, bertanya tanya kepada Dirinya sendiri dalam hati.

"Lucy emang temen masa kecil Ku sihh.. Tapi ya baru pertama kali dia ngajak pergi bareng selain cuma pulang sekolah bareng.." Lagi lagi Koraya bingung, tapi pada akhirnya mendapatkan jawaban.

"S-sama Shoko..?" Jawab Koraya dengan wajah mengesalkan.

"H-hah..?!!" Lucy membentak kesal. "Oy ada apa..?" Tanya Shoko yang kebetulan sedang melewati lorong tersebut untuk mencari udara segar dari kelasnya yang pengap.

"Ini Lucy ngajak ke festival.." Jawab Koraya kepadanya.

"Wah ide bagus..!!" Shoko terlihat sangat senang, namun Ia melirik Lucy dengan wajah yang kesal. "Tapi yah.. Sepertinya Gw ga bisa ikut.." Shoko berbicara sekali lagi.

Wajah Lucy terlihat senang seketika, "Ayo Kita ke kelas abis urusanmu beres.." Shoko menepak pundak Koraya lalu berjalan kembali ke kelasnya.

"Ahh..!! Ya sudah lah ayo Kita lakukan..!!" Koraya membulatkan tekad untuk pergi bersama Lucy besok hari.

"Ya sudah.. Kita akan ketemu di gerbang jam 5 besok ok..." Ujar Lucy, Ia tersenyum sendiri sambil melangkah ke arah kelasnya melewati Koraya.

"Ayeeeeeayaeyeyyyeyy..."  Shoko yang tadi sudah kembali ke kelas, muncul kembali  menyoraki Koraya dari kejauhan.

"Kamu lagi..." Ucap Koraya menghelas nafas, lalu berjalan dan masuk ke kelas untuk memulai hari.

Pembelajaran pun berlalu dengan cepat dan tak terasa. Saat Koraya sudah pulang dengan sepedanya, Ia berbincang bincang dengan rekan satu timnya seperti biasa sampai malam hari datang. Keesokan harinya juga sama, Ia mendapat sarapan dari Light dan kawan kawan, berangkat ke sekolah dan memulai harinya. 

Namun sepulang sekolah Koraya bergegas pulang tidak seperti biasa, terburu buru berpamitan dengan Shoko lalu pulang menaiki sepedanya yang selalu dipakainya itu.

Saat tiba di rumahnya, Ia segera berlari ke dalam setelah memarkirkan sepeda. "Selamat dat-" Sambut Light dari meja makan namun Koraya langsung pergi ke kamar lalu menutupnya.

"Aku pulang..!" Teriak Koraya dari dalam kamar.

Koraya segera membuka lemari dan mengeluarkan bajunya satu persatu. Koraya menghabiskan waktu lama memilih baju untuk dikenakannya pada saat festival dimulai dan pada akhirnya Dia tak bisa memutuskan. "Perlu bantuan....? " Ender tiba tiba membuka pintu kamarnya sambil tersenyum.

"A-ah Ender..." Jawab Koraya dengan panik, Ia mencoba menyembunyikan baju bajunya yang berserakan dengan menghalangi pandangan Ender.

"Hmm..?" Ender melihat sekitarnya dengan bingung. Walaupun Koraya sudah menghalanginya tapi Ender masih bisa melihat baju yang berserakan. "Kencan?" Tanya Ender kepada Koraya.

"H-hah..?! Bukan bukan..!" Jawab Koraya dengan panik dan juga malu malu. 

"Aku cuma diajak jalan jalan ke festival nanti sore.." Koraya tetap memberi alasan.

Ender tersenyum "Sini Aku bantu memilihkan baju..." menghampiri baju baju Koraya lalu merapihkannya satu persatu.

"Dulu Aku pun punya kekasih jadi Aku mungkin tahu apa yang Kamu harus kenakan..." Kata Ender, memilah beberapa baju yang berserakan sambil duduk di sisi ranjang.

"Kata Aku juga dia itu bukan kekasih ku..!!" Koraya berteriak malu.

"Hahaha iyaa iyaa.." Ender pun tertawa.

"Kemana Dia sekarang...?" Tanya Koraya, Ia ikut duduk di sebelah Ender lalu menengok sedikit kepadanya.

Dia hanya bisa melihat Ender tersenyum sambil memilih dan memilah baju Koraya tanpa membalasnya. Baru kali ini sifat feminim dari Ender terlihat jelas oleh Koraya. Koraya yang hanya diam saja dari awal Ender tiba akhirnya membantu untuk memilah milah baju.

"Bagaimana kalau yang ini...?" Ender menunjukan sebuah kemeja dan kaos kepada Koraya.

"Bukankah itu terlalu simpel....?" Tanya Koraya kepada Ender setelah melihat kaos tersebut.

"Tidak tidak.... Menurutku cewe tidak terlalu suka yang terlalu mencolok... Tapi kalau Kamu cuman menggunakan kaos pun Kamu akan dianggap tidak ada usaha... Menurutku ini pilihan terbaik.." Ucap Ender sambil memberikan set baju itu kepada Koraya.

"Ah terimakasih..." Jawab Koraya sambil tersenyum senang, Koraya tiba tiba cemberut setelah melirik Ender.

"Kamu kok kayak yang nganggap Aku mau kencan ya..?" Koraya menghela nafas dalam dalam.

"Lah emang mau kencan kan..?" Ender berpura pura bodoh. "Nggaakk..!!" Koraya pun mulai kesal.

Ender tertawa manis, akhirnya Dia pun berdiri dari ranjang.

Ia meninggalkan ruangan sambil berkata. "Semoga berjalan lancar ok..!" Sambil menunjukan jari isyarat ‘ok’, Ender menutup pintu kamarnya.

Setelah Ender meninggalkan dan menutup pintu kamar Koraya pun bersiap siap memakai baju yang dipilihkan oleh Ender itu, Ia juga memasang parfum yang sebenarnya jarang dipakai olehnya. Setelah semua persiapan selesai Koraya meninggalkan kamar dan memasang sepatu tepat di dekat pintu keluar.

"Woii semangat..!" Saut Ender dari ruang tamu, dengan Light dan juga Habiki.

"Yaaa..!!".

Ia berdiri dan berkata kepada Dirinya sendiri "Hmm... Aku pasti bisa..!".

Koraya sudah membulatkan tekadnya untuk berjalan jalan bersama seorang perempuan untuk pertama kalinya, walau sering pulang bersama hal ini terasa berbeda baginya. Dia segera berangkat menuju festival dengan berjalan kaki karena tidak ingin capek capek menjaga dan mengkhawatirkan sepedanya saat berada di festival.

"Gawat..!" Koraya berlari menuju festival setelah melihat jam tangannya dan sadar bahwa jam sudah menunjukan pukul 05:04.

Setelah beberapa menit terlewatkan akhirnya Koraya sampai dengan keringat di wajahnya. Koraya melihat Lucy dengan baju dingin imut yang membuatnya terpesona sampai mukanya memerah.

"Lucy...!"  Koraya menyaut, mendekati Lucy perlahan. "K-koraya..?!" Lucy terkejut dengan keberadaanya yang tiba tiba, Dia langsung membenarkan rambutnya.

"Kamu kemana aja..!" Ujar Lucy, menarik tangan Koraya masuk Festival.

"E-eh maafin deh... Aku kan ga pake sepeda.." Jawab Koraya dengan malu malu.

Lucy tertawa perlahan lalu menutup mulutnya. Koraya memandang mandang Lucy lalu tersenyum.

"Ayo main itu..!" Lucy lalu menarik Koraya ke arah permainan melempar bola. Koraya yang digenggam tangannya oleh Lucy tak bisa apa apa dan hanya bisa menuruti.

"Ah neng.... Mau main berapa bola..?" Tanya sang penjaga stan disana.

"4 deh..!" Sebut Lucy dengan semangat, memberikan lembaran uang kepada orang di stan tersebut.

Penjaga stan itu lalu memberikan Lucy 4 buah bola. "Nih Koraya.." Lucy memberikan Koraya 2 buah bola. 

"Aku pengen tuh boneka anjing yang besar itu...!"  Lucy menunjuk nunjuk boneka anjing besar yang bergantung di depan stan.

"Lah kok Aku harus dapet..?!" Koraya menoleh ke Lucy dengan kebingungan.

"Masih mending dibayarin..." Lucy membalas perkataan Koraya dengan cemberut.

"Y-yaa..! Akan kuusahakan...!" Koraya pun terpaksa bersemangat dan melemparkan kedua bolanya tapi tidak ada satu bola pun yang masuk ke poin. "Y-yah..." Koraya menunduk dengan kecewa walaupun dari pertama Ia sudah tahu takkan memasuki satu bola pun.

"Giliranku..!" Lucy melempar bolanya dan salah satunya mendapatkan poin terbesar yang berada di stan tersebut. "Yeayy...!!" Lucy melompat lompat kegirangan. Koraya memerhatikan Lucy sambil tertawa tawa sendiri.

"Ini hadiah anda.." Sang penjaga mengambil boneka anjing yang sebelumnya Lucy inginkan lalu memberinya kepada Lucy. Dia menerimanya dan langsung memeluknya.

"Untuk anda ini hadiah partisipasi anda...." Penjaga stan itu memberikan sebuah pin kecil kepada Koraya. "Terima kasih........" Koraya menerimanya dengan kecewa.

"Hahahaha!!" Lucy tertawa terbahak bahak dengan boneka besar yang menutupi wajahnya.

Namun..

*DUAR..!* Terdengar suara ledakan besar dari arah tengah festival. Orang orang di sekitar festival tersebut teralihkan perhatiannya kepada asal suara tersebut.

"A-apa itu....?!" Koraya menoleh dengan terkejut. Lucy yang di sebelahnya pun terlihat ketAkutan dari raut wajahnya.

Namun pandangan Koraya mulai terpAku ketika melihat orang orang bertopeng gas datang dari kejauhan, dari asal suara tersebut.

"Kesini...!!" Dengan refleks Koraya menarik Lucy lalu berlari jauh dari tempat orang bertopeng gas berada. Boneka anjing Lucy pun terjatuh dari gengaman Lucy.

"A-ada apa..?!" Tanya Lucy dengan kebingungan, raut wajahnya menunjukan ketAkutannya akan hal yang tidak diketahui. "Sudah ikuti Aku dulu..!" Tegas Koraya.

"Aduh..!" Lucy tersandung baju dan terjatuh, Dirinya tidak bisa menyamai kecepatannya dengan kecepatan Koraya. Koraya terhenti untuk membantu Lucy, mereka sudah hampir sampai gerbang untuk keluar.

"Kamu tidak apa apa...?!' Koraya mengulurkan tangannya. "Ya..." Lucy membalas, Koraya membantunya bangkit, tetapi.

"Hahhh..??! Siapa yang membolehkan Kalian pergi.." Saut orang dengan topeng gas yang berjas pesta bernama Goose. Koraya melirik dan saking terkejutnya, Dia terpAku.

"Ah sudahlah..!" Goose mengeluarkan pistol dan mengarahnya kepada mereka berdua. Saat Goose menarik pelatuknya Koraya dan Lucy ditarik lari oleh seseorang.

"Hah.....? Kamu siapa..?" Koraya perlahan melirik ke arah wajahnya. 

"Diam Kamu..!" Balas orang itu, suara dan nadanya tersebut terdengar familiar di telinga Koraya.

"Cade..?!"  Koraya terkejut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Poison saga

Part 3 : Heist

“Berisik.! Ikut aja dulu napa..?" Bentak Cade. Ia terus menarik mereka berdua sampai ke belakang sebuah stan untuk bersembunyi, Cade menundukan kepala mereka berdua.

"Shh diam disini..." Perlahan Dirinya berbisik,

"A-ada apa ini...?!" Lucy bertanya tanya, detak jantungnya perlahan mempercepat seiring keadaan berlanjut.

"Susah untuk menjelaskannya..." Jawab Koraya dengan raut wajah yang sangat murung.

*DOR* Suara tembakan pistol terdengar, sebuah peluru meleset mengenai Koraya dan yang lainnya.

"A-apa..?!" Koraya perlahan melirik ke arah tembakan tersebut, terkejut. Goose yang menembak pistol itu perlahan mendekati mereka.

 "Awh.... Kalian pikir Kalian bisa sembunyi begitu saja..?! Kalian lucu dehhh... Kalau Kalian jago bela diri mungkin saja Aku merekomendasikan Mu ke bos..!" Ujar Goose membasa basi sambil mengarahkan pistolnya menuju kepala Lucy.

Cade merubah sebelah matanya menjadi hitam. Ia menghilang menjadi asap lalu muncul di hadapan Goose. Membengkokan tangan Goose supaya mengarahkan pistolnya ke wajahnya Goose sendiri. 

"Lho? Bukannya dimensi ini lemah semua..?" Goose menengok ke wajah Cade, Dia terdengar tertawa.

Goose menarik pelatuk pistolnya. Wajar semua orang di sekitar terkejut. Namun berhasil menghindari pelurunya dengan membengkokan lehernya dengan cara yang sangat tidak wajar.

"Apa..?!" Cade terkejut, membuat Dirinya lengah. Dia ditendang jauh oleh Goose menuju sebuah tembok. Tetapi Cade bangkit lalu menghilang beberapa kali menjadi abu, perlahan mendekatinya dan akhirnya meninju Goose dari depan. Goose menghindarinya dengan fleksibelitas yang tidak wajar seperti sebelumnya, lebih detailnya Ia membengkokan seluruh tubuhnya kebelakang.

Cade membuka jaket kulitnya, melemparnya, lalu berkata. "Aku akan menang dan akan Kamu sesali sepanjang hidup mu...!" Ia memasang kuda kuda dan memberikan senyuman licik kepada Goose.

"Hohoho.... Kita belum berkenalan kan... Namaku--" Sebelum Goose dapat menyelesaikan kalimatnya Cade membalas.

"Siapa yang peduli dengan namamu..!!" Dia berlari ke arah Goose untuk meluncurkan pukulan. Namun tahu tahu Dawn sang topeng emas datang di hadapan Goose menahan serangan Cade.

"Dia..?!" Mata Koraya terbuka lebar lebar, terkejut.

"Heh.." Cade berusaha sekuat tenaga mendorong tangannya namun tetap saja ditahan.

 "Aaa..! Dawnnn.... Ada apa Kamu kesini..?" Goose memegang pundak Dawn.

"Goose... Bukannya saya menyuruhmu untuk bersama Shika dan Usagi..?" Dawn menengok sedikit ke wajah Goose.

"Maafkan saya.... Saya akan segera kesana saat sudah beres menghajarnya..." Goose melepas pundak Dawn lalu mengipas ngipas dirinya.

"Tidak tidak....  Kamu kesana sekarang... Biar Aku urus dia.." Dawn mendorong tangan Cade lalu menatapnya dari dalam topeng.

Lama kelamaan keaadaan festival tersebut menjadi seperti medan perang. Teriakan banyak orang yang ditahan dan tersiksa terdengar oleh mereka. Ada beberapa kebakaran dan ledakan yang membuat suasana menjadi kacau. Polisi pun masih belum bertindak sampai saat ini.

"Selamat sore Black Eye..."  Dawn membukakan tangannya kepada Cade.

"Siapa ya..?" Jawab Cade sambil membenarkan kaosnya yang tertutupi debu. 

"Ah Kamu tidak tahu saya..." Dawn menjawab,  tersenyum di balik topeng emasnya itu.

"Lantas kenapa 'Anda' bisa mengetahui saya..?" Tanya Cade, Ia mengeluarkan pisau dari saku celana kanannya.

"Insting.." Dawn terlihat menutup matanya dari balik kaca gas masknya. "Mana Gw peduli...." Cade menghilang dan tiba tiba muncul dibelakang Dawn,  mencoba menebasnya. Tetapi Dawn dengan mudahnya menghindar, lalu memukulnya di perut adalah tindakan selanjutnya.

"Sudah kubilang insting..." Dawn menarik rambutnya ke belakang.

Cade tergeletak di atas lantai, memegang megang perutnya "Argh..!" Berteriak.

Setelah beberapa detik berlalu Cade berhasil menahan rasa sakitnya, Dia bangkit lalu membingungkan Dawn dengan menghilang dan muncul beberapa kali di sekitarnya.

"Kemungkinanmu muncul di hadapanku adalah 5%...." Ujar Dawn dengan tenang, sementara Cade sedang berteleportasi mengelilinginya.

"Kemungkinan muncul di samping dan belakangku 25%..."  menengok ke sekelilingnya perlahan.

"Jadi kuambil paling besar.." Dawn mangangkat tangannya ke atas kepala. Dengan timing yang sangat pas Ia mencekik Cade yang mendadak muncul di atasnya. Setelah itu Dawn segera membantingnya ke atas permukaan tanah sekencang mungkin. Cade tidak sadaran diri tergeletak dihadapan Dawn.

"K-kok bisa..?!" Lucy yang sedang bersembunyi bersama Koraya kelepasan berbicara. "Shh..!" Koraya yang mengerti keadaan langsung menutupi mulutnya.

"Lho... Kamu...?" Dawn perlahan melirik ke arah Koraya. "Kamu ada di tempat itu kan anak muda..?" Ia memiringkan kepalanya.

Koraya memandang dengan tegang, matanya melebar saking ketAkutannya. "Kamu juga punya kekuatan..?" Tanya Dawn, Dia menghadapkan diri kepada Koraya.

"Mundur Lucy..." Koraya menghalangi Lucy dengan tangannya sendiri, menatap Dawn.

"T-tapi..." Jawab Lucy dengan ketAkutan juga. 

"Lakukan saja..." Terus Koraya, Lucy lalu mundur beberapa langkah dari tempat Koraya. 

"Ya... Aku punya kekuatan... " Koraya berdiri sambil bercucuran keringat, Ia membulatkan tekadnya walau tidak bisa apa apa.

"Hahaha... Ya sudah tunjukan.." Dawn perlahan berjalan mendekati Koraya, dan lama kelamaan berlari menyiapkan tinjuan.

Tiba tiba.

"Hmmm.? Apa ini.." Pergerakan Dawn tiba tiba terhenti oleh lilitan kayu yang mengelilingi tubuhnya. Terlihat dari atas salah satu stan, Floyd sedang mengeluarkan kayu dengan topeng yang telah dibuatkan Ox.

"Balasan mu..." Ucap Floyd perlahan. Dawn membebaskan diri dengan menghancurkan semua kayu kayu yang melilitnya. Tapi saat bebas Ia langsung ditendang oleh Ash yang sontak datang, sampai sampai terlempar ke tembok.

"Ahahaha.... AHAHAHA.... Telinga kambing... Kamu yang waktu itu kutembak... SANGAT TAK TERDUGA... MENARIK... AYO Kita LANJUTKAN...!" Teriaknya perlahan kembali bangkit dengan penuh pecahan semen.

"S-sudah gila..." Cade kembali sadaran diri, perlahan Dirinya bangkit dengan kesakitan.

"Dimana yang lainnya...?" Ujar Koraya sambil mendekati Ash yang ada di depannya.

"Habiki, Light, Ender dan Austin sedang mengurus pasukan yang lain... Lalu Ox menjaga markas.." Jawabnya.

"Oh begitu.." Koraya merasa lega.  "Ash... Bisakah Kamu membawa Lucy jauh dari sini..." Koraya memohon.

"Tentu.. Tapi bersamamu.." Jawabnya.

"Apa maksudmu Ash..?" Tanya Koraya sekali lagi.

Ash menengok ke sebelahnya, "Kamu harus pergi dari sini Koraya...".

"Aku bisa membantu..!" Terus Koraya. "Ikut dengan Ku Koraya..!!" Bujuk Lucy dari belakangnya.

"Aku bisa.." Sekali lagi Koraya membantah.

"Tapi--" "Ya sudah lah biarlah..!! Mau mati ya mati... Dia mau mencoba jadi pahlawan biarlah.." Floyd memotong perkataan Ash dengan nada yang kesal, namun mulai percaya dengan Koraya.

"Terima kasih.." Balas Koraya.

"Ya sudah --" "Biar Aku saja... " Sebelum Ash sempat mengajak Lucy pergi, Cade memotong perkataannya. Perlahan lahan menghampiri Lucy

"Aku akan membawanya ke taman dekat lokasi pertama saat portal muncul dari dimensiku..." Cade meneruskan perkataannya.

"Ya sudah terima kasih.." Jawab Koraya sambil tersenyum. "Koraya..! Kamu yakin Kamu tidak apa apa..?!" Lucy berkata dengan khawatir.

"Ya tak apa..." Sekali lagi Koraya tersenyum.

"H-hati hati..." Lucy melambaikan tangannya perlahan sementara Cade menariknya dengan terburu buru.

"Sekarang... Mari Kita hadapi orang aneh ini.." Ash memandang Dawn sementara Floyd mendekati Koraya lalu mengamati Dawn juga.

Di saat keadaan sudah parah di sekitar festival seseorang membuatnya lebih parah. Pertarungan antara Ash, Floyd dan Dawn telah dimulai saat ambang kehancuran dimensi Koraya ditangan mereka.

"Ayo ayo... Serang duluan.." Dawn membuka tangannya selebar mungkin seperti meremehkan Floyd dan juga Ash.

Floyd mengarahkan kayunya untuk menyerang Dawn namun Ash menyerangnya terlebih dahulu. Ia mengeluarkan api di tangannya disertai sayapnya juga.

Dirinya terbang ke atas Dawn lalu menyemburnya dengan api. setelah itu pergi kebelakang Dawn,  berusaha untuk memukulnya namun, Ia ditahan oleh tangan Dawn yang menyadari pergerakannya.

"Kalau lama tangan Mu bisa terbakar lho...." Ash tertawa. Saat itu terjadi Floyd menyerang dengan kayunya. Tetapi tetap saja dengan mudahnya dihancurkan olehnya dengan tangan yang satunya tanpa melirik sedikit pun.

"Seperti yang kuucapkan insting..." Dawn menarik Ash lalu melemparnya ke arah Floyd.

"Sejak pertarungan dengan Cade, Ia selalu satu langkah di depan..." Koraya menghampiri Floyd yang baru saja terjatuh tertimpa Ash.

Aura jahat yang sangat besar keluar dari diri nya membuatnya terlihat sangat menAkutkan bagi semua orang disekitarnya.

Floyd bangkit menyingkirkan Ash yang di atasnya, langsung menyerang Dawn dengan kayu kayunya. Dari dekat, Dawn menghancurkannya kayu satu demi satu tetapi, kayu Floyd tetap berdatangan kepadanya. Ash pun terbang, menyerangnya dari atas selagi Floyd menyerang dari depan, belakang.

Dawn menarik kayu Floyd lalu memakainya, mengayunkannya sebagai senjata untuk memukul Ash pergi.

"Bisa seperti itu ya..." Koraya berbicara dengan ragu. "Begitu.. Aku akan mulai serius.." Floyd menghampiri Ash yang terdampar. diikuti oleh Koraya dari belakang.

"Tapi bagaimana Kita menang..." Ujar Ash perlahan lahan bangkit dari jatuhnya.

"Ash Aku punya rencana.." Bisik Koraya kepada mereka.

Sementara di dekat gerbang festival Ash dan Floyd sedang bertarung melawan Dawn, di pusat Festival Light, Austin, dan Habiki sedang menghadapi Usagi dan Shika.

"Ah Shika Usagi... Lama tak jumpa..." Light melambaikan tangannya dari kejauhan memanggil mereka berdua. Ia memakai armor full yang sebelumnya pernah Dia pakai untuk melawan mereka berdua, dengan armor kepala di tangan kanannya.

"Kamu... Beraninya anda menghadapi Kami lagi..." Shika berbicara seiring waktu didekati Light.

"Kamu..?" Light tertawa, memasang armor kepalanya yang sebelumnya Ia pegang. "Aku tak sendiri...." Senyum Light.

Usagi mengeluarkan pedang secara refleks lalu menangkis anak panah yang tiba tiba datang mengarah ke Shika dari belakang. "Ah terima kasih Usagi.." Shika menepuk kepala Usagi perlahan.

Usagi melirik ke kejauhan, diatas sebuah rumah terdapat Habiki dengan topeng barunya sedang mengarahkan panahnya ke arah mereka berdua.

"Begitu ya..." Ujar Shika dengan pelan. "3 lawan 2..?" Shika tiba tiba melirik Austin yang sedang menyiapkan serangan dari belakang sebuah stan. Dengan topengnya yang tampak baru dibersihkan, Ia berkata.

"Walaupun Kamu telah menyadarinya Kamu tak akan bisa kabur...!!" Austin melancarkan serangannya tersebut, berupa air berbentuk naga besar yang menyerbu Shika dan Usagi.

"Tch..!" Shika membuka tangannya lebar lebar mencoba melindungi Usagi dari depan walau Dirinya tahu itu takkan berdampak besar.

Tetapi.

"Hahahaha.. Komandan 2 memang hebat...." Sesorang yang wajah sangatlah pucat tampak menahan serangan Austin tanpa terlihat kesakitan. Tapi tetap saja akhirnya bisa menghentikannya serangan dasyat tersebut.

Namun anehnya Ia tidak memakai gas mask seperti komplotan musuh lainnya.

"Aha... Bisa bisanya Kamu menjaga adikmu disaat seperti ini..." Orang itu tertawa.

"Aku melakukan apa yang harus dilakukan Benedict.." Shika berjalan perlahan mendekatinya.

Dia adalah Benedict komandan 5 di kelompok jahat bertopeng gas itu. Ia mengenakan pakaian serba lusuh, juga celana pendek plus rantai. Tidak lupa Dia memakai perban yang memenuhi tangan kanannya.

Habiki menembakan anak panah kedua kalinya yang mengenai pungung Benedict. Tetapi anehnya Ia tak terlalu bereaksi, melainkan mencabutnya lalu berkata.

"Usagi... bisakah Kamu mengurus orang yang menggangu di atas sana..?" Ujar Benedict, menunjuk ke arah Habiki.

"OI OI...! Kenapa gak Kamu lakukan sendiri hah..?!" Bentak Shika, menarik bajunya.

"Aku dibutuhkan disini untuk menahan serangan sihir orang berjubah itu... Lalu orang dengan panah itu terlihat paling lemah jadi Ku serahkan pada adikmu.... Sudah jelas...?" Jawab Benedict dengan santainya.

"Tch ya sudah..." Shika melepaskan baju Benedict yang Ia tarik lalu mendorongnya. "Usagi... Hajar orang itu..." Shika menunjuk Habiki dari jauh.

"Siap laksanakan kak..." Usagi mengejar Habiki, melompat lompat ke atas rumah tersebut.

"Ah jadi dengan begini jadi 1 lawan 1 kan..?" Light mengeluarkan pedangnya lalu mengarahkannya kepada mereka berdua.

"Tentu.." Shika memasang kuda kuda sama seperti Benedict.

*BOOM* Suara dari serangan Austin yang berbenturan dengan Benedict sebelumnya membuat semua orang panik karena ledakannya yang besar.

"Aku harus segera pergi ke tempat mereka..!" Ender yang sedang berkelahi dengan semua anak buah mereka langsung teralihkan perhatiannya. Ia dapat mengalahkan mereka semua. Tetapi pada saat Ender akan pergi ke lokasi Austin dan kawan kawan.

"Ah nona manis... Tapi Kamu akan lebih manis kalau tidak mengenakan topeng..." Goose perlahan menghampiri Ender dengan kedua tangan di sakunya.

"Ah sepertinya Kamu salah satu orang yang kuat..." Ender melepas penutup kepalanya atau bisa disebut hoodienya.

"Tentu... Saya Goose komandan 6 dari kelompok ‘Poison’..." Goose menunduk ke hadapan Ender.

"Poison..?" Tanya Ender. "Saya tak perlu menjelaskannya jika anda akan kalah disini..." Tatapnya dengan sangat tajam sambil memberikan senyuman.

Ender menatap balik, tersenyum "Lebih baik jangan dulu sombong sebelum pertarungan dimulai.." Ender lalu memasang kuda kuda dengan pedangnya menyondong ke depan. Berlari untuk menyerangnya dengan serius dari depan. Ender beberapa kali mencoba untuk menebasnya namun tidak pernah mengenainya, Goose menghindari semua serangan Ender dengan kelenturan yang luar biasa.

"Sesuai dugaan ku.. Kamu memang hebat... Tapi Aku lebih hebat..." Ender mundur beberapa langkah lalu bersiap menyerang kedua kalinya.

Kali ini saat menyerang, Ender berusaha mengelabui Goose dengan gerakan cepat lalu menukar pedangnya yang di kanan menjadi wadah pedang dan pedangnya kini ada di tangan kiri. 

Dirinya mencoba menebas dengan wadah pedang itu supaya Goose fokus terhadap itu lalu menebas kakinya dari bawah.

Ender melompat beberapa langkah kebelakang untuk merencanakan serangan selanjutnya.

"Ah.. Kamu berhasil mengenaiku... Rasa sakit tebasan... Sudah lama tak Ku rasakan... Karena itu Kamu akan mendapat balas budi dengan rasa sakit yang berkali lipat..!!" Goose memberikan senyuman yang tertutupi topeng sambil memegang sebelah pipinya.

"Ayo kesini..!" Ender memasang kuda kuda karena merasa tertantang.

Saat penyerangan terjadi, Usagi mengejar Habiki ke atas rumah dimana Dia berada.

"Ada yang kesini..." Ucap Habiki dalam hati, Ia membalikan badan lalu mengeluarkan sebuah pedang dari belakang punggungnya. Pedang tersebut adalah pedang cadangan yang Light berikan padanya.

"Perempuan..?!" Habiki terkejut, dalam hatinya kata tersebut terungkap.

Usagi tanpa basa basi menyerang Habiki dari depan dengan pedangnya yang baru saja Dia keluarkan dari belakang badannya.

Habiki berhasil menahan kebanyakan serangannya dengan pedangnya, berkat latihannya dengan Light dan juga hasil bela Dirinya tahun tahun ke belakang. "Yang benar saja..! Aku harus melawan perempuan..." Ucapnya dalam hati sambil menahan serangan dari Usagi.

Usagi pun menyerang beberapa kali dengan cara maju mundur lalu menebas selagi mengelilingi Habiki. Tapi Habiki tidak menyerang melainkan hanya menahan.

Usagi berhenti sesaat lalu menatap Habiki, "Yang benar saja... Bisa kah Kamu serius sedikit...?" dengan kesal.

"Hah..? Mana mungkin.. Aku tidak bi--" "Jangan bercanda..! Aku tidak bisa melawan perempuan... Itu yang ingin Kamu bilang kan..?" Sebelum Habiki bisa berucap, nada omongan Usagi melunjak.

"Y-ya...." Jawab Habiki dengan ragu. "Asal Kamu tahu... perempuan tidaklah lemah... Itu alasanku terpilih menjadi komandan 7...!" Omong Usagi dengan sangat kesal.

"Maafkan saya..." Habiki meminta maaf, menundukan badan.

"Aku Usagi... Adik dari Kak Shika komandan 2..." Usagi mengulurkan tangannya setelah memindahkan pedangnya ke tangan kiri.

Habiki menatapnya, menggenggam tangannya "Aku Habiki....".

"Habiki ya..." Usagi melepaskan tangannya lalu menyiapkan kuda kuda.

"Kalau begitu Habiki... Mari Kita bertarung dengan sepenuh tenaga...!" Setelah jeda beberapa detik, Ia melanjutkan omongannya, "Walau.... Nyawa menjadi taruhannya...!".

"A-apa..!" Habiki terhenti, terkejut Ia pun tiba tiba diserang oleh Usagi lagi sekali lagi. Tapi kali ini teknik kecepatan dan kekuatannya bertambah. Membuatnya semakin sulit untuk ditahan.

"Kalau begini terus Aku akan..!" Suara habiki yang gelisah dalam hati. "Tidak..! Aku tidak akan kalah..! Walaupun latihan Ku cuma dalam jangka waktu sedikit. Tapi Aku mengorbankan semua tenaga dan waktuku untuk itu..! Dan Aku tidak akan...." Saat Usagi menebas serangannya yang sangat sulit untuk dihindari setelah ke puluhan kalinya, Habiki menatapnya, menahan pedang yang akhirnya Dia bisa dapatkan.

"Tidak akan... Mengecewakan Light....!!!" Habiki membalas Usagi dengan serangan tebasannya di wajah Usagi. Serangan itu berhasil membuat Usagi terjatuh dan topengnya terbelah dua tanpa luka.

"A-ahh..!!" Wajah Usagi memerah dengan malu. Dia segera bangkit dengan kekesalan.

"M-maafkan Aku..!!" Habiki meminta maaf untuk kedua kali nya kepada Usagi sambil menunduk nunduk. Ternyata saat topeng Usagi terbuka terlihat bahwa Usagi adalah anak yang seumuran dengan Habiki, sekitar anak SMP.

"Kamu meremehkan Aku lagi hah..?!" Usagi merasa kesal lagi terhadap Habiki.

"Kamu telah melihat wajah Ku setidaknya Kamu menunjukan wajah mu..." Usagi memalingkan wajahnya dari hadapan Habiki.

"Ah..?? Itu--" Habiki menggaruk garuk rambutnya. "Apa yang Kamu tAkutkan..!" Usagi mencoba menggertak Habiki lagi.

"Ya sudah.." Habiki membuka topengnya dengan satu tangan, menunjukan wajah aslinya.

"Ah jadi begitu..." Setelah Usagi melirik, Ia menunjuk Habiki. "Habiki..!" Dia memanggilnya sekali lagi.

"Mari Kita mulai... Duel sesungguhnya." Lanjut Usagi.

Melainkan dii tempat lain.

"Shika....! Aku takkan kalah...!" Saut Light dengan lantangnya sambil menyiapkan pedangnya.

"Baru kali ini Aku mendengar orang berinteraksi dengan lawannya... Tapi... Kekalahan Mu sudah terpastikan..." Kata Shika, tertawa kecil terdengar darinya, dan Ia menyiapkan kuda kuda.

Austin menatap Light dengan ragu karena kekalahannya yang sebelumnya mereka dapatkan.

"Oi bocah air...!" Austin menengok kepada benedict yang memanggilnya dari kejauhan. "Lawanmu adalah Aku...." selagi menunjuk ke Dirinya sendiri Benedict berkata.

"Ya... Tentu saja.. "Austin mengeluarkan butiran butiran air dari belakangnya.

Akhirnya pertarungan mereka telah dimulai. Light menyiapkan tenaga dan membuat pedangnya bersinar sementara Shika berlari ke arahnya secara zig zag. Saat sampai Shika mengelilingi Light lalu menyerangnya dari belakang. Light menyaradarinya, berusaha untuk menebasnya. Shika menunduk lalu memukul Light dari bawah.

Light terdorong sedikit ke belakang lalu menancapkan pedangnya ke dalam tanah membuat gelombang ledakan besar yang membuat Shika terlempar.

"Hahh..? Teman Mu jago juga..." Benedict meremehkan Austin dan juga Light, mencoba untuk menurunkan kepercayaan diri mereka.

"Bukan hanya Dia.." Austin menembakan butiran butiran air tadi seperti peluru yang membuat Benedict menghindar. Benedict memang tidak terlalu pintar menghindar jadi Dirinya terkena banyak serangan Austin. Tetapi, Ia tersenyum seolah tidak terjadi apa apa walau sekarang tubuhnya dipenuhi luka.

"Cih.. Kekebalan tubuhnya terlalu kuat..." Ujar Austin dalam hatinya sendiri.

Austin berlari menuju Benedict namun Ia diam, seperti meremehkan. Saat sampai Austin menendang Benedict jauh lalu mengurungnya di dalam kurungan air.

Austin melirik Light yang sedang melawan Shika dikarenakan suara kencang yang mereka buat. Light menoleh balik lalu mereka mengangguk bersamaan.

"Jangan abaikan Aku..!" Teriak Benedict yang menendang Austin kebelakang setelah baru saja keluar dari kurungan tersebut.

"Austin...!!" Teriak Light dari kejauhan selagi bertarung dengan Shika. "Sekarang...!" lanjutnya.

"Ya.." Austin mengalirkan kekuatan airnya ke dalam pedang Light supaya tebasannya berkali kali lebih kuat dari sebelumnya karena dibantu sihir.

"KAMU...!" Benedict berlari ke arah Austin berniat untuk menggagalkannya tapi sayangnya Austin segera mememasang kurungan air kepada Dirinya sendiri untuk menahan segala serangan.

"Kalau begitu..." Light memasang kuda kuda dengan serius.

"Jangan bercanda..!!!" Shika berlari menuju arah Light untuk menyerangnya namun sayangnya Dirinya kurang cepat.

"Horizontal slash...!" Light mengayunkan pedangnya secara horizontal, menghasilkan sebuah tebasan besar yang mengenai Shika, Benedict, dan juga Austin. Banyak stan dan gerobak yang hancur oleh kekuatan itu. Tetapi Austin terlindungi oleh kurungannya yang berhasil menerima kekuatan airnya lalu memantulkan balik cahaya Light.

Mereka sudah merencanakan ini terlebih dahulu. Dikarenakan kebanyakan pasukan sudah dikalahkan oleh Ender, banyak orang di dalam festival tersebut yang sudah melarikan diri. Jadi kekuatan besar dari Light tersebut aman untuk dilakukan Shika dan Benedict yang terlemparkan kebelakang oleh jurus kolaborasi Light dan Austin. Mereka merasa kesakitan dan terjatuh di dekat salah satu stan yang ikut hancur.

"Sudah menyerah....?" Light dan Austin berbicara selagi menghampiri mereka.

"Belum cukup..!!" Shika bangkit dengan kesakitan, memaksakan diri.

"Kalau Aku selemah ini bagaimana mungkin Aku akan melindungi adik ku..!" bentaknya kepada Dirinya sendiri.

"Kalian memang sudah terlanjur lemah..." Saut seseorang dari sisi lain tempat tersebut menghampiri mereka.

Mereka semua menoleh dengan terkejut.

"K-Kamu... Bukannya Kamu sedang melawan Ash dan Floyd..?!" Light menatapnya dengan kebingungan, namun sedikit merinding.

Dirinya tertawa tertawa dengan perlahan, "Tentu saja..." Sang topeng emas pun berulah lagi.

Beberapa waktu sebelum Dawn datang menuju tempat Benedict dan Shika, pertarungan Ash dan Floyd dimulai dengan serius.

"Ash Aku punya ide..." Koraya berbisik kepada Ash, namun Floyd yang disisinya ikut mendengarkan.

"Oi oi jangan main rahasia lah..!!!" Dawn menghentakan kakinya dengan kesal, mendekati mereka perlahan lahan.

"Lawan Mu adalah Aku untuk sementara ini..." Floyd pergi meninggalkan perbincangan, menghalangi jalan Dawn menuju Ash dan Koraya.

Floyd pun melawan Dawn untuk sementara waktu untuk mengulur waktu pembicaranya rencana Ash dengan Koraya.

Floyd menyerangnya dengan kayu kayu yang menyerbu bagaikan ular. Walaupun serangannya tidak dapat mengenainya satu kali pun, Ia dapat menahan Dawn supaya tak mendekat.

"Oh seperti itu... Ya sudah..." Ash berhenti berbicara dengan Koraya lalu mendekati Floyd yang tengah melawan Dawn.

"Floyd..." Panggil Ash dari sisinya. "Ya..." Jawabnya.

Floyd menyerang dawn dari segala arah membuatnya terkepung dengan kayu. "Kamu takkan bisa..!" Gertak Dawn.

Ash mendekatinya dengan bantuan sayap api, lalu menendang kakinya. Dawn berusaha menahan tetapi pistolnya terjatuh tanpa disadarinya. Ash mengalihkan perhatian Dawn sambil menendang pistol itu ke belakang ke arah Koraya.

Sementara Ash dan Floyd melawan Dawn, Koraya mengambil pistol itu lalu mengarahkannya kepada Dawn.

Saat Ash dan Floyd sudah menyingkir dari pandangannya, Koraya menarik pelatuknya membuat peluru tertembak kepada Dawn. Dirinya terkejut mendengar suara tembakan itu, menghindar di detik detik terakhir tetapi saat perhatiannya teralihkan Ash datang dan menendangnya di kepala.

"Sudah kuduga..." Koraya mengepalkan tangannya dengan senang. "Seperti pertandingan melawan Cade... Dia tidak tahu Kalian akan datang.. Dan saat ini.. Dia tidak tahu Aku akan menembak.. Itu berarti.. Ia hanya bisa menebak orang yang Dia perhatikan...!!" Koraya mencoba menjelaskannya kembali dalam hati.

"Ahaha..! Kalian memang luar biasa bisa mengetahui hal itu.. Tapi.." Dawn bangkit perlahan lahan dan menatap mereka dengan tajam. "Aku tak akan mudah terpuaskan seperti itu.." mengepalkan tangannya.

Dawn berlari menuju Koraya terlebih dahulu lalu mengangkat, melemparnya ke dinding membuatnya langsung tidak sadaran diri sesudahnya.

"K-Kamu..!!!" Ash mengeluarkan semua apinya kemudian menyerang dengan segenap kekuatannya dari belakang Dawn.

Namun Dawn menduganya dan menghindari semua serangan itu. Ia memegang kepala Ash lalu dipukulkan ke tanah membuat retakan besar, menjadikan Ash sangat terluka.

"ASH..!!!" Floyd mengeluarkan kayu kayunya ke arah Dawn dan beberapa ke dalam tanah untuk serangan kejutan. Tapi Dawn menghindarinya dengan santai namun secepat mungkin.

Dirinya mendekati Floyd secepat cepatnya lalu menendang sekuat kuatnya, membuat Floyd terpental jauh.

"Sudah kubilang..." Dawn menghampirinya, menginjak kepala Floyd dengan keras.

"Agh.!!!" Teriak Floyd dengan kesakitan. Dawn lalu menendangnya sekali lagi ke tembok membuatnya tak sadaran diri sama seperti Koraya.

"Lemah..." Dawn pun meninggalkan lokasi tersebut dan pergi menuju tempat Shika dan Benedict berada.

"Benedict, Shika.... Kalian berhasil dikalahkan oleh mereka..? Benar benar menyedihkan..." Tawa Dawn lama lama memelan saat Dia berjalan lebih dekat lagi.

"B-bagaimana bisa.... 2 lawan satu tetap dimenangi olehnya... Lagi pula auranya itu..." Light berbicara pada Dirinya sendiri dalam hati, Ia merasa risau.

"Tidak Dawn... Kami masih belum kalah.." Shika membantah perkataan Dawn, membanting lengannya kencang kencang. "Oi oi jangan bergerak.." Austin melirik ke arah nya, langsung menodongkan tangannya kepada Shika.

"Shika Shika.... Jangan berbohong..." Dawn mendekakan diri dengan Shika, suara cekikikannya terdengar perlahan.

"Tch.." Benedict bergumam sendiri, perlahan bangkit. Light memasang kuda kuda bersiap siap menyerang Benedict namun, daripada mendekati Light atau Austin, Dirinya mendekati Dawn lalu menarik bajunya seperti sebelumnya Ia ditarik oleh Shika.

"Ketahuilah posisimu Dawn.. Kami adalah senior mu...!" Bentak Bendict, menggertak sampai wajahnya memerah.

"Oi Benedict... Kamu tahu kan kekuatannya jauh melampaui Kita semua...?" Shika mendekati mereka, berusaha melerainya.

"Ahahaha..!! AHAHAHA...! Kamu memang lucu Benedict... Bukannya Kamu sendiri yang bilang bahwa kekuatan nomor satu..?" Jawab Dawn selama Ia ditarik lebih keras lagi oleh Benedict.

"Hah..?!!" Benedict menariknya lebih kencang lagi. "Akan kutunjukan kekuatan yang sebenarnya.." Pancaran aura jahatnya terlihat lebih jelas dan lebih serius lagi.

Perlahan Dia memegang tangan Benedict lalu memutarkannya kencang kencang sampai patah "AGH..!!" Teriaknya setelah dengan refleks melepaskan tangan.

Setelah itu Dawn menunduk dan memukul leher Benedict membuatnya tak sadaran diri untuk sementara.

"Dawn.. Bukannya itu berlebihan..?" Shika menghalangi Dawn dari hadapan Benedict. "Tidak...." Dawn menjawab, kembali berdiri.

"Kamu tidak berhak mengatakan itu Shika.." Dawn menepak bahu Shika dari depan.

Tanpa disadari siapa pun Ia mencekik Shika "Orang gagal tidak berhak menyuruh ku.. Hanya Dia yang berhak..." Perlahan lahan menangkat Shika dari permukaan tanah.

"Akh... K-Kamu..!" Shika meraba lehernya perlahan lahan mencoba melepaskan diri, tapi Dia terlanjur dilempar ke bawah oleh Dawn.

"Kamu benar benar parah.." Light menghunuskan pedang kepada Dawn. "Ah... Kamu pun tidak berhak mengatakan itu..." Dawn tertawa kecil.

“Aku akan melawan kalian.. Tapi permisi Aku akan memberi mereka hukuman dahulu.." Dawn mendekati Shika sekali lagi lalu mengangkatnya dari atas kepalanya, meremas kepala tersebut dengan keras. "ARGHH..!!" Shika berjerit kesakitan.

"Aku muak.!!" Light segera menghampirinya lalu menebasnya, namun pedangnya dengan mudahnya Dawn hindari dengan beberapa langkahan ke belakang. Setelah menghindar, Ia memutarkan diri dan menendang balik Light ke tempat asal.

"Selamat tinggal... Komandan 2.." Dawn tersenyum sementara Shika sedang menderita di genggamannya.

Namun tanpa disadari siapapun sebuah pisau tertancap ditanah. Melewati tali yang mengikat topeng Dawn membuatnya putus dan terjatuh. Menunjukan wajahnya yang menawan dengan mata merah yang ganas, tak disangka sangka Ia mempunyai wajah seorang anak SMA biasa.

"Menarik...!! Sangat menarik..!! " Dawn melepaskan kepala Shika, membuatnya terjatuh. Lalu menengok ke arah orang yang melempar pisau tersebut. Disana terdapat Ender yang sedang berdiri tegak di depan sebuah stan makanan.

Sebelum kedatangan Ender di lokasi Light dan yang lainnya, Ender harus menghadapi Goose terlebih dahulu yang telah menghalangi jalannya.

"Ayo kesini.!!" Saut Goose, Ender memasang kuda kuda untuk melawan Goose yang berada di hadapannya. 

"Silahkan...!!" Ender menyerangnya dari depan dengan banyak tebasan pedang yang sangatlah cepat dan dengan teknik yang luar biasa, sangat berbeda dari gaya berpedang Usagi, Light, dan Habiki. Di sisi lain Goose mampu menghindari sebagian besar serangannya.

"Luar biasa..!! Tak kusangka ada banyak orang yang kuat di luar sini..!" Goose sempat tertawa selagi menghindari serangan Ender. "Tapi...." setelah beberapa serangan, Goose menghindari serangannya lalu memegang tangan Ender untuk menahannya.

"Aku lebih kuat..." Goose memutarkan tangannya berniat untuk mematahkan tangan Ender, Tetapi. Ender memutarkan balik tangannya membuat Goose termakan jebakannya sendiri.

"Sepertinya Kamu salah deh..!" Ender tertawa balik.

Goose melepaskan diri dari tahanan lengan Ender dengan kelenturannya lalu menjauhkan diri untuk mencari aman. "Hahaha Aku terlalu meremehkan mu..." Tawa Goose sekali lagi. "Kalau Kamu mau Aku bisa merekomendasikanmu menjadi salah satu komandan.." Goose membukakan tangannya lebar lebar.

"Ah itu tidak perlu.. Saya sudah berada di team yang luar biasa..." Jawab Ender dengan pergerakan tangan yang melambai lambai.

"Oh ya sudah kalau begitu..." Jawab Goose perlahan. Ia menatap Ender dengan tajam tepat ke dalam matanya "Jangan menyesal....".

Goose berlari menuju Ender tanpa persiapan apapun. Ender memasang kuda kudanya dan pada saat datang, Goose tidak menghindari tusukan pedang Ender tapi melainkan membiarkannya menancap di dadanya. Dia pergi ke belakang Ender lalu memeluk dengan seluruh tubuhnya dengan sangat erat sampai sampai Ender tidak bisa bernafas.

"A-agh.... K-Kamu.. A--" Ender terlalu kehabisan nafas untuk berbicara sepeser kata pun.

"Sudah lah diam.. Aku akan menang dipertarungan ini.." Jawab Goose sambil menekan tubuhnya lebih kencang lagi, Dirinya menahan rasa sakit dari tusukan pedang Ender yang masih menancap di dadanya.

"AAA..." Ender berteriak.

"AHAHAHAHAH-------" Suara tawa Goose yang asalnya sangatlah kencang pun mulai memudar dan tahanannya pun mulai merenggang. Ender melirik ke belakangnya dan melihat Goose yang sudah terbaring tanpa nyawa dengan pedang Ender di dadanya dan satu pisau tepat dilehernya.

"Apa...." Dengan kehabisan nafas Ender perlahan menengok ke belakang. Disana ada Cade dengan pisaunya yang tertutupi darah.

"Jangan kalah disini.... Ada musuh yang jauh lebih kuat darinya... Yang mampu mengalahkan Ash dan Floyd sendirian..." Tanpa basa basi Cade melemparkan pisaunya kepada Ender.

"Yang benar saja..." Setelah menangkapnya Ender segera mencabut pedang dari jasad Goose.

"Cepat ke lokasi Light... Sepertinya Dia ada disana.... Aku akan datang disaat yang tepat.." Cade membalikan badannya dari hadapan Ender.

Tanpa mengerti situasi Ender pun berjalan ke arah lokasi Light dan yang lainnya. Saat sampai di dekat lokasi, Ia melihat Shika yang sedang disiksa oleh Dawn.

Ender melemparkan pisau yang telah diberikan oleh Cade untuk mengalihkan perhatiannya dari Shika, lalu pertarungan pun kembali berlanjut untuk kedua kalinya.

Saat Cade mengantarkan Lucy untuk melarikan diri, Lucy menanyakan beberapa hal. "H-hey Kamu... Apa yang sebenarnya terjadi...?" Tanya Lucy dengan ketAkutan selagi Ia ditarik Cade.

"Sebuah bencana yang telah datang dari dimensi lain..." Jawab Cade sambil berlari bersama Lucy.

"Hah..!! Dimensi lain...??!" Lucy berhenti sejenak lalu menarik Cade supaya ikut berhenti.

"Beri tahu Aku lebih lanjut...!" Tatapnya dengan sangat serius kepada Cade.

"Tch... Kamu tau gadis muda...? Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan semua ini... Aku harus segera kembali dan membantu mereka..!" Bentak Cade, melepaskan tangannya dari Lucy.

"Bukannya Kamu telah diberi perintah untuk mengantarkanku..?! Dan Kamu berjanji akan mengantarkanmu dengan selamat...!" Lucy menyondongkan tubuhnya ke depan.

"Hah..? Lalu..?" Tanya Cade sambil menghindari wajah Lucy.

"Aku takkan mengikutimu sampai Aku menjelaskanku semuanya...!!" Lucy menghempaskan nafasnya kencang kencang dengan kesal.

"Dih.. Ya sudah lah.." Cade menutup mukanya sendiri.

"Jadi teman Mu itu dan teman temannya yang lain pergi ke dimensiku untuk mengumpulkan orang orang kuat... Kata mereka untuk melindungi dimensi atau apalah... Aku menolak dan kabur... Tapi dengan tiba tiba para pasukan ini tiba tiba menyerang dimensi ini tanpa alasan... Hanya itu yang Aku tahu..." Cade menjelaskannya kepada Lucy.

"Hahh..?! Kok Koraya tidak memberi tahuku hal ini sih..." Ujar Lucy dengan kesal, menghentakan kakinya perlahan.

"Cepat lah ikuti Aku..." Mereka berdua pun akhirnya melanjutkan perjalanannya ke taman untuk memberi tempat yang aman bagi Lucy.

Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai dan Cade sudah bersiap untuk kembali. Ia meninggalkan Lucy di bangku taman dan perlahan melangkah pergi "Hei Kamu... Siapa nama mu...?" Saut Lucy dari bangku tersebut.

"Panggil saja Cade.." Jawabnya tanpa memandang wajah Lucy sama sekali.

"Bisa kah Kamu melindungi Koraya..?" Lucy memohon dan membungkuk kepadanya.

"Akan kuusahakan.. Tapi Aku tak berjanji..." Cade melirik ke belakangnya. "Sekarang Kamu bisa pulang ke rumahmu, Aku akan kembali kesana untuk menolong mereka..." Cade pun menghilang sekejap mata supaya sampai lebih cepat daripada sebelumnya.

"Koraya... Semoga Kamu baik baik saja..." Lucy perlahan menengok menuju bintang bintang, memohon supaya teman baiknya selamat dari bencana tersebut.

Saat Cade tiba disana, Ia disambut oleh kekalahan Koraya, Ash, dan Floyd yang sudah tak sadaran diri dan terluka banyak di dekat gerbang festival. Terkejut dan tampak kesal kepada Dirinya sendiri. Saat baru saja ingin beranjak meninggalkan tempat tersebut untuk mencari Dawn, Dirinya terpanggil oleh seseorang.

"O-oi... K-Kamu... " Ash melirik Cade dari atas permukaan tanah dengan tubuh yang tidak bisa apa apa.

"Iya apa..." Cade menengok ke bawah untuk memandang Ash.

"Kelemahan..Nya.. A-adalah... Dia hanya bisa menebak... Pergerakan orang.. Yang Ia. Perhatikan... Tolong kalahkan Dia.." Ash sempat tersenyum lalu mengistirahatkan matanya sekali lagi.

"Akan Ku lakukan.... Tunggulah di sini sebentar... Akan Ku kalahkan orang idiot itu..." Cade mengepalkan tangannya kencang kencang.

Akhirnya Dia memutuskan untuk berkeliling festival untuk menemukan Dawn. Tapi melainkan menemukan Dawn Ia menemukan Ender yang sedang ditahan oleh Goose. Tanpa pikir panjang Cade menghampiri dan membantunya.

"ARGH..!!" Suara teriakan Shika yang sedang disiksa oleh Dawn sangat lah kencang, membuatnya terdengar oleh Habiki dan Usagi yang sedang bertarung.

"Kakak..!!" Usagi menengok dengan refleks, Dia terkejut.

"Bukannya Kamu ingin serius berkelahi sekarang Usagi..?" Ujar Habiki setelah Ia memasang topengnya kembali.

"Aku tidak peduli lagi..." Usagi sama sekali tidak mendengarkan Habiki, melainkan mengabaikannya. Setelah itu Dirinya langsung berlari menuju dimana kakaknya berada.

"Tunggu...!" Habiki menyautnya dan akhirnya mengikutinya.

Mereka melompat dari rumah ke rumah dan akhirnya sampai ke sebuah medan perang yang sesungguhnya.

Usagi terkejut dan terpAku ketAkutan setelah memandang tubuh Shika yang sudah tergeletak ditanah.

"KAKAK..!!" Teriak Usagi yang berlari mendekati Shika secepat mungkin.

"Woi tunggu..!" Panggil Habiki selagi berlari dari belakang Usagi.

"K-kakak... Kamu tidak apa apa...?!" Dengan khawatir, Usagi duduk di sebelah shika menopang kepalanya. "U-sagi... pergi dari sini... Sekarang..." Jawab Shika perlahan lahan.

"Kalian...." Usagi melirik ke belakangnya ke tempat Light dan Austin berada dan tiba tiba berlari, menyerang Light dengan pedang yang ada di genggamannya, tetapi Light menahannya dengan pedangnya, ragu.

"Bukan Kami yang menyakitinya sekeras itu..." Selagi menahan tekanan pedang Usagi, Light mencoba menjelaskan.

"Melainkan teman kalian.... Orang gila itu..." Austin berusaha meneruskan perkataan Light, menunjuk Dawn.

"DAWN...!!" Teriak Usagi dengan kesal, Dirinya berlari dan menyerang Dawn dengan sekuat tenaga dengan pedangnya. Tapi seperti biasa Dawn menghindarinya lalu mematahkan pedang Usagi hanya dengan kakinya.

"Dilihat dari keaadaannya Kamu berteman dengan anak panah itu ya..?" Dawn mondorong Usagi lalu tersenyum lebar.

"Kamu sama saja dengan penghianat..." Dawn menghampirinya sekali lagi lalu menendangnya sekeras mungkin.

"HENTIKAN..!!" Teriak Habiki dari sisi lain tempat itu.

Dawn mengeluarkan pistol cadangannya lalu mengarahkannya ke arah Usagi. "Aku akan menghabiskan Mu dahulu lalu kakak mu...." Ia tertawa.

Semua tim Koraya yang disana menyiapkan kuda kuda untuk menyerang Dawn dan melindungi Usagi.

Di sisi lain Usagi meneteskan air mata karena ketAkutan akan kehilangan kakaknya. "K-kakak..." Ucapnya dengan terbata bata.

Shika membuka matanya lalu melihat Usagi yang dalam keadaan gawat, "U-us... USAGII..!!!" Ia berteriak.

*DOR* Suara dari pelatuk pistol Dawn yang menembakan peluru ke arah Usagi terdengar oleh semua orang.

.

.

Tetapi tanpa dikira siapapun, Dirinya berhasil diselamatkan oleh Habiki yang tiba tiba berdiri di antara Usagi dan Dawn. Dan berkat tangan besi dari Ox, Ia juga bisa melindungi tubuhnya.

"Untunglah...." Light menghela nafas dengan lega.

Habiki menyilangkan tangannya di depan dadanya, dengan tangan besinya di atas tangan yang satunya.

"H-habiki...?" Usagi memandang Habiki dari bawah. "Sudah kubilang.. Aku takkan kalah darimu..." Jawab Habiki, menoleh ke belakang lalu tersenyum.

"Dawn..." Shika bangkit lalu memegang pundak Dawn dari belakang. Setelah Dawn perlahan melirik ke belakang, Dia melihat Shika yang sedang menatap Dawn dengan penuh benci. "Takkan kumaafkan..." Dengan sangat cepat Shika menghempaskan Dawn dengan pukulan telak dari belakang.

"Mohon kerjasamanya..." Light tertawa, menghunuskan pedangnya.

"Cih mana sudi Aku kerja sama sama kalian..." Shika memukul telapak tangannya sendiri dengan kesal. "Habiki... Aku takkan kalah.." Usagi perlahan lahan bangkit lalu berdiri di samping Habiki.

"Tentu saja..." Habiki tersenyum senang.

Ender juga mendekati mereka lalu menyiapkan kuda kuda yang berbeda dengan yang lainnya.

Dengan ini ada 6 orang di satu sisi dan 1 orang disisi yang lainnya.

"HAHAHA.... SEPERTINYA 6 LAWAN 1 CUKUP MEMUASKAN.... AKAN KUKALAHKAN Kalian SEMUA..." Dawn yang asalnya terjatuh kembali bangkit sambil tertawa terbahak bahak.

"Jadi.. Mari Kita mulai..." Lanjutnya sekali lagi.

Dengan ini pertempuran terakhir di medan perang telah dimulai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Poison saga

Part 4 : The betrayal

Setelah sebuah jeda, akhirnya Habiki memulai pertempuran tersebut. Ia menarik busur panahnya untuk menembak Dawn. Setelah melepasnya, Dawn menangkap anak panah yang melayang tersebut. Tak lama Dirinya diberi serangan kejutan oleh kecepatan Shika yang langsung menyerangnya dari depan secara beruntun. Tapi sayangnya Dawn menangkis semua serangannya.

Shika mundur lalu air Austin menerjang dari belakang Dawn seperti sebuah ombak besar. Dawn segera melompat dan menghindar tanpa mengenai serangan dari siapa pun.

"Ah... Aku lupa mengatakan sesuatu... Kekuatannya adalah memprediksi gerakan seseorang yang Ia perhatikan.." Shika berhenti sejenak untuk memberi tahu sebuah informasi dari sebelah Ender, Light, Austin, dan Habiki.

"Terima kasih atas infonya...." Ender mengeluarkan pedangnya lalu menyerbu Dawn dari depan. Dawn berhasil menghindari sebagian besar serangannya walau terkena sedikit karena teknik berpedang Ender yang luar biasa. Setelah beberapa serangan akhirnya Dawn menendang balik Ender.

"Ah... Kamu lagi yang membuatku lengah nyonya muda..!!" Dawn mengelap darah dari luka yang Ender buat. "Oh iya bapa..." Jawab Ender sambil tertawa.

"Brust Of Shine!" Light menebas pedangnya beberapa kali ke udara di hadapannya membuat banyak potongan cahaya yang akhirnya terlontar kepada Dawn. Dia berusaha menghindar tapi tetap saja terkena salah satu potongan itu. Lebih tepatnya pada lengan kanannya

"Ah... Luar biasa... Giliranku ya...." Ujar dawn selagi merenggangkan tubuhnya, berlari ke arah Austin untuk menyerangnya. Austin berusaha untuk bertindak dengan mengeluarkan lengan air di depannya tetapi Dawn melompat kebelakangnya lalu melemparkan Austin menuju tembok dari belakang.

Tembok itu sampai retak dan keropos, sampai sampai Austin memuntahkan beberapa hal.

Shika segera menyerangnya dengan kecepatan tinggi, tetapi Dawn melompat pada waktu yang tepat lalu menendang Shika menuju tembok yang sama mengenai dan menimpa Austin.

"Kakak..!!" Usagi mengeluarkan pedangnya lalu berlari menyerang Dawn berkali kali. Tapi sayangnya Dawn selalu menghindar dari serangannya. Habiki menembakan beberapa anak panahnya kepada Dawn untuk mencegah kekalahannya.

Namun Dawn memukul Usagi yang sempat lengah selama beberapa detik lalu menendangnya jauh jauh.

"Beraninya Kamu..!!" Dengan emosi, Habiki menghunuskan pedangnya lalu menyerang Dawn. Tetapi hanya dalam beberapa serangan Dawn dapat memukul mundur Habiki dengan keras.

"Ender.." Bisik Light kepada Ender yang berada di sisinya. "Ya.." Ender mengangguk.

Mereka berdua menyerang secara bersamaan, dengan kompak untuk memperbaiki keadaan. Setelah berlari dan melakukan kombinasi serangan pedang oleh Ender dan Light seperti tebasan beruntun dan tebasan tipuan, Dawn dibuat kewalahan dan mendapatkan banyak sekali serangan.

Tapi akhirnya Dawn menghindari semua serangan akhir akhir mereka yang memelan lalu menyerang mereka balik. Pertama Ia menendang Ender, setelah itu melempar Light ke arah Ender.

Saat semua itu sudah selesai Dawn mengelap tangannya sendiri. Mengeluarkan pistolnya kembali lalu mengarahkannya kembali kepada Usagi yang berada di dekatnya.

Shika langsung menyerangnya dengan terbawa emosi namun Dawn tetap menghindarinya, Dia memukul balik Shika beberapa kali sampai terlemparkan.

"Selamat ting---" Dawn yang hampir saja menarik pelatuk tersebut, diberi kejutan.

"AGH!!" Dawn terkena serangan tiba tiba dari belakangnya. Cade datang tanpa disadari siapapun, dengan kemampuannya untuk menghilang, Dia menusuk Dawn dari belakang membuatnya terluka fatal.

"Dengan begini Kamu akan mati..." Cade menatapnya dari atas bahu, mendekatkan wajahnya, lalu menusukan pisaunya lebih dalam lagi ke punggungnya.

"ARgh..." Dawn kesakitan selagi berdiam diri menerima serangan Cade. "A-Aku takkan mati... Takkan mati di tangan orang lain...!!" Dawn memberontak, mengepalkan tangannya dengan keras.

"Cih... Akan Ku akhiri sekarang juga..." Ujar Cade dengan kesal. Ia mencabut pisaunya lalu mengarahkannya ke kepala Dawn.

Tapi dengan refleks yang sangat cepat Dawn, memegang tangan Cade yang sedang mengarah ke kepalanya itu.  "Aku takkan kalah..." Dawn memutarkan tangannya tetapi Cade sempat menghilang di waktu yang tepat lalu kembali muncul di belakangnya untuk menyerangnya kedua kali.

Dawn menyadari hal itu lalu membantingkan Cade yang baru saja muncul.

"AGHH...." Dawn menarik bajunya supaya pendarahan yang mengalir di punggungnya berhenti. Dawn tiba tiba mengeluarkan sebuah tekanan besar yang dapat dirasakan oleh seluruh orang di sekitarnya. Ender dan yang lainnya pun merasakan pergantian hawa tersebut.

"Sekarang... Sekarang.. Aku bisa mengetahui semua langkah Kalian ras lemah... Sekarang Aku adalah makhluk yang tidak terkalahkan...!!" Teriak Dawn dengan sangat sinister.

"Takkan kubiarkan..!!" Usagi kembali bangkit dan menyerang Dawn, tetapi Dawn seperti kejadian sebelumnya dengan mudahnya menghindar lalu memegang kepala Usagi yang berusaha mengalahkannya. Sesudah itu berlari menuju sebuah dinding lalu membenturkan kepalanya beberapa kali. "Ayo mau apa..!!" Usagi yang terlihat kesakitan membuat Shika marah dan berlari juga ke arahnya.

Saat Shika baru saja mau mengeluarkan serangan Dawn sudah menghindar dan memegang pundaknya sambil perlahan melepaskan Usagi. Lama kelamaan Dawn meremas pundak Shika dengan keras sampai hancur berdarah. "AHH..!" Shika meremas tangan Dawn kembali walau kesakitan.

"Tak bisa kumaafkan..!" Habiki berlari dengan pedangnya, penuh emosi kepada Dawn. Ia berusaha menebasnya tapi Dawn bereaksi duluan. Dia memegang lengan metalnya lalu meremasnya sampai kAku. Habiki terjatuh dan Dawn menginjak tangan sisa Habiki dengan kencang, membuat bentuknya makin tak karuan.

Austin bersiap membuat serangan kejutan tapi tanpa disadarinya Ia terkena serangan kejutan terlebih dahulu. Dawn melemparkan tubuh Shika yang melemah ke arah Austin membuatnya terjatuh kesakitan seperti sebelumnya.

Light dengan terpaksa mendekati Dawn untuk menyerangnya untuk kesekian kalinya. Tetapi seperti yang lainnya, Ia juga tak mampu. Kepalanya digengam lalu dibenturkan ke dengkul Dawn dengan keras lalu menendangnya mundur.

"YAKAN YAKAN.. Aku TAKKAN KALAH...." Teriak Dawn, Dia tersenyum lebar lebar.

"Tch..." Ender terlihat diam saja memikirkan strategi untuk menyerang dan mengalahkanya.

"Ah ah.. Akan Ku berikan sebuah rahasia yang bahkan Shika dan Usagi tidak ketahui...." Ujar Dawn dengan angkuhnya. "Saya bukan memprediksi kekuatan kalian... Mana ada kekuatan seperti itu... Yang bisa Ku lakukan adalah... Membaca pergerakan orang dengan jiwa mereka..." Lanjutnya, sambil membukakan lengannya lebar lebar di tengah tengah orang orang yang sudah tumbang.

"Jiwa..?!" Ender terhenti, sebuah ide melintasi pemikirannya.

"Yah.. WALAUPUN Kalian AKAN TETAP KALAH HAHAHA...!" Dawn menginjak tubuh Habiki membuatnya lebih kesakitan "AGHHH..!!".

"H-... Ha...biki.." Usagi dengan perlahan meraih Habiki yang sedang terbaring di sebelahnya.

"U-usagi... Aku tidak apa apa.." Habiki berpura pura kuat, tersenyum.

Ender bangkit dari pemikiran lamanya lalu menghampiri Dawn.

"Tunggu Kamu Ender apa yang Kamu lakukan..!!" Cade tiba tiba menggenggam kaki Ender yang sedang berjalan menuju Dawn

Ender melepaskan tangannya dengan paksa, menggoyangkan kakinya berkali kali "Ada yang harus Ku coba.." Dia berkata.

"Hohoho... Sepertinya Kamu yang paling sehat disini..!!" Dawn meraih tangan Ender yang di hadapannya.

Ender melepaskan topengnya lalu menyebutkan suatu kalimat dari bahasa yang asing "Η κατάρα βγαίνει" .

Begitu ucapannya selesai tiba tiba seluruh tubuh Ender berubah jadi hitam pekat dengan beberapa titik kuning di bawah matanya menuju mulunya, dan tampaknya kulitnya sekarang menjadi mengeras seperti baja.

"Ender.. Ender Ku sayang... Kamu benar benar melakukannya ya sekarang..." Ender yang telah berubah berkata, dan tertawa kepada Dirinya sendiri.

"Hah...?!" Seketika semua orang menyadari bahwa Dia bukanlah Ender yang biasanya, melainkan sebuah sosok yang jauh berbeda.

"A-apa...?!" Dawn terkejut, tangannya bergetar. Dirinya mengetahui ada hal yang aneh. "Mengapa..! Mengapa Aku tidak bisa membaca jiwa mu..?!" Dia membanting lengannya keras keras, karena frustrasi.

"Ha...?! Jiwa...?? Hahaha.. Kamu lucu sekali.... Aku tidak mempunyai hal yang dinamakan jiwa" Jawab 'Ender' sambil tersenyum.

"Apa apaan orang ini..." Dawn mengambil beberapa langkah mundur. "Ya sudah... Sekarang kan kutunjukan kekuatanku tanpa memprediksi..." Tapi setelah diam sejenak, Dawn memutuskan untuk berbuat nekat.

Dia berlari ke arah Ender dengan cepat untuk menyerangnya hanya dengan tangan kosong. Ender menghindar dengan mudah, tersenyum seperti Dawn biasa tersenyum pada musuhnya. Lalu Ender menendangnya balik, kembali pada asalnya.

Dawn yang kesal lalu segera bangkit, mengejar dan memukul Ender balik dengan kencang. "AH..." Dawn melirik lengannya yang memukul, bergetar kesakitan sampai kAku. "Ah Aku lupa... Kulit Ku sangat keras..." Ender menghempaskan rambutnya lalu menendang Dawn lagi untuk kedua kalinya.

"TAKKAN KUMAAFKAN..!" Teriak Dawn, tanpa istirahat Dia bangkit kembali untuk menyerang 'Ender'.

Sesaat Dawn berlari, wujud jari jari Ender berubah menjadi tajam dan panjang. Dawn datang dan tanpa ampun dadanya ditusuk oleh semua jari jemari yang ada di ujung tangan Ender.

"HAHAHA... AKU TAKKAN MATI... AKU AKAN MENGHANTUIMU SAMPAI KAMU GILA.. 'DIA' AKAN MENGALAHKAN KALIAN..." Dawn menjadi gila akan kematiannya, Ia berteriak, menteriakan sosok 'Dia'.

"Berisik..."  Jawab Ender, menatap Dawn lebih dalam lagi. Dia menusukan seluruh lengannya ke tubuh Dawn sampai menembus ke sisi lain dan tubuhnya tak lagi berbentuk.

Tusukannya Dawn Ender lepaskan perlahan dan Pada saat itu pun kematian Dawn sudah terpastikan oleh semua orang, Ia terjatuh tanpa nyawa. Walau orang orang merasa lega karena selamat tapi tetap saja kematiannya itu terlalu brutal untuk disaksikan. Banyak orang yang masih berpikir Kita tidak harus membunuh.

"A-akhirnya..." Austin dan Light yang sudah kehabisan tenaga menghela nafasnya dalam dalam karena lega.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Poison saga

Part 5 : The last

Usagi yang terlihat paling terluka memaksakan diri untuk bangkit dan menghampiri Ender perlahan lahan.

"T-tunggu dulu Usagi..!" Habiki yang asalnya berada di sisinya, perlahan duduk.

"T-..terima kasih" Usagi berhenti di hadapan Ender, tersenyum.

"Tunggu dia bukan Ender yang sebenarnya..!!" Cade berteriak dari kejauhan untuk mencegah terjadinya apa apa, tapi hal itu sudah terlambat.

"Kamu lemah..." Ujar Ender dengan nada yang sangat datar. Setelah itu Dia menendang Usagi kembali ke dekat Habiki tanpa melihatnya sama sekali.

Usagi yang terhantamkan terlihat sangat kesakitan dan pasrah, kondisinya melemah disaat saat terakhir. Habiki yang samanya sedang kesakitan mendekatkan diri kepada Usagi yang kembali di sisinya "Kamu baik baik saja..?!" Panggilnya.

"Oi oi..!!" Shika berlari ke arah Ender karena terbawa emosi untuk melontarkan pukulan, tetapi dengan mudahnya Ender tangkap dan putarkan lengannya.

"Yah sudahlah... Kalau Aku berperilAku berlebih pasti Ender tak akan memperbolehkan Aku kembali.." Ender yang terkutuk itu melepaskan tangan Shika yang sudah ditahan, sambil senyum senyum sendiri.

"Dadah semuanya..." Kulit Ender kembali menjadi warna kulit normal biasanya dan pikirannya kembali seperti semula kala.

"Kita menang..?" Ender memegang kepalanya, seperti sedikit pusing "Ya" Jawab yang lain, namun dengan suasana yang sedikit tegang membuat Ender mempunyai firasat buruk.

"Kamu..!!" Shika yang asalnya terjatuh di hadapan Ender bangkit lalu menarik jaket Ender dari depan. "Kamu melukai adik ku..!!" Bentaknya sepenuh tenaga.

Ender terkejut. Tanpa berani memandang wajah Shika, Dirinya meminta maaf sedalam dalamnya " Maaf... Maaf... Maaf.." Dengan penuh rasa penyesalan.

"Cih.." Shika muak, melepaskan lalu mendorong Ender ke belakang.

Namun tanpa disadari. Benedict yang selama ini tak sadaran diri bangun dan langsung mencekik Ender dari belakang dengan kedua lengannya. "HAHA MENYERAHLAH SEKARANG.... lho.. Shika Usagi.. APA YANG Kalian LAKUKAN..!!" Pandangan Benedict langsung terpAku pada Shika dan Usagi yang tak melawan Light dan kawan kawan sama sekali.

"Kita akan keluar dari Poison..." Shika melirik ke arahnya lalu menjawab dengan serius.

"Dasar BODOH..!!" Benedict berteriak dengan kesal tanpa melepas Ender yang tampak masih bisa menahan Benedict.

"Ehhh ga boleh gituuu Benedict..." Ternyata masih ada satu kejutan yang tidak disadari siapapun. Ada seseorang yang menyaut kepada Benedict dari jauh.

Orang tersebut sedang bersama dua orang lainnya yang berjalan di sisi kiri dan kanannya, mereka bertiga lama kelamaan mendekati Benedict dan yang lainnya.

"K-Kamu..?!" Benedict dengan terkejut langsung membukakan tangan yang sedang mengekang Ender keras keras.

Light, Cade, dan Austin menyiapkan kuda hanya untuk berjaga jaga. Di sisi lain Shika hanya menatap mereka dengan kesal.

"Eh... Aku tak melihat kalian... Hallo semuanya.. Perkenalkan.. Namaku adalah Corvino.." Corvino melambaikan tangannya sambil berbicara dengan nada yang ceria. Ia mengenakan jaket musim dingin dan gas mask yang berbentuk seperti paruh gagak. Rambutnya berwarna merah tua.

Di pinggirnya ada seorang wanita dengan gas mask berwarna pink kegelapan dan gaun hitam yang sedikit membuka kan tubuhnya. "Aduh Corvino Kamu terlalu kekanak kanakan.." Wanita tersebut memegang dagunya sendiri.

"Yahh Ayoklah cepat perkenalkan diri Hana..!" Corvino perlahan lahan menyenggol Hana 3 kali.

"Iya iya Aku tahu..!! Namaku Hana...." Hana mendorong Corvino darinya lalu memandang ke arah Light dan yang lainnya

"Dannnn..!!" Corvino membukakan tangannya lebar lebar menunjuk ke pria kekar di sebelah satunya dengan baju tentara dan jenggot tipis, tubuhnya luar biasa besar dan tinggi, namun gas masknya hanya digantung di lehernya.

"Gustavo..." Pria itu menjawab dengan singkat padat dan jelas.

"Hana, Gustavo, dan Aku adalah salah satu anggota The Last..." Ujar Corvino dengan angkuhnya mengangkat setengah lengannya ke atas.

"The Last..?" Ender membekokan lehernya perlahan dengan bingung.

"Yahh jadi begini---" Corvino menunjuk langit namun perkataannya tiba tiba terhenti.

"The Last adalah sebuah team elit di dalam oranisasi Kami yang bertujuan untuk menjadi harapan terakhir.... Mereka tak akan bertugas kecuali keadaan sudah kritis... Ada Gustavo yang merupakan anggota dengan fisik terkuat tetapi kalau masalah insting Dia paling lemah, namun Hana dan Corvino harus sangat diwaspadai.. Kekuatan mereka setara dengan Dawn, bahkan mungkin Corvino jauh lebih kuat lagi... Satu hal lagi ada 2 anggota terakhir yang tidak Aku kenali, tapi tetua bilang mereka anggota terkuat.." Shika yang berdiri di sebelah Ender memberikan penjelasan secara rinci setelah memotong perkataan Corvino.

"Shikaaa..!! Kenapa Kamu memotong perkataan kuuu...!! Yaa lagi pula Kamu mau keluar poison..??" Corvino menghentakan kakinya seperti anak kecil yang sedang mengeluh.

"Ya Aku akan keluar dari organisasi merugikan itu..." Jawab Shika sambil menatap mereka bertiga dalam dalam.

"Ya boleh sih.... Tapi Ketua tak akan senang loh...." Jawab Corvino selagi menggaruk belakang lehernya perlahan lahan.

"Ya sudah lah.... Tapi Kami akan membawa kembali Benedict..." Hana melambaikan tangannya ke arah Benedict sambil tersenyum.

"Hei..!! Masa sih..!! Mereka sudah babak belur terus Kita kan ber 4, pasti menang..!!' Teriak Benedict, perlahan emosinya naik.

"Alahk sudah lah banyak omongan Anda yahh...." Corvino menarik Benedict hanya dengan menggerakkan jari jemari tangannya. Benedict yang asalnya berada di sisi lain dari mereka tiba tiba terbang dengan kecepatan tinggi menuju Corvino.

"Aduh.." Benedict terjatuh di hadapan Corvino dengan kencang. Semua orang di sisi lain yang melihatnya tampak kaget kecuali Shika dan Usagi.

"T-telekenesis....? " Austin bertanya tanya pada Dirinya sendiri. "Tidak..." Jawab Shika, meneteskan keringat ketAkutan. "Itu adalah benang tipis yang sangatlah kuat..." Lanjut perkataannya.

"Ya.. Kamu bisa melihatnya kalau teliti..." Ender melengkapi perkataannya.

"Ya sudah ya gaiss... Kita pergi dulu sampai nanti!!!" Corvino melambaikan kedua tangannya menuju Light dan kawan kawan sebagai perpisahan.

Gustavo menunduk lalu mengangkat Benedict yang terjatuh, menggendongnya di bahu.

"Oi oi tunggu..!!" Benedict memukul pundak Gustavo beberapa kali dengan kesal.

Sinar yang pernah muncul sekali di dimensi Austin muncul kembali di dimensi Koraya ini dan menarik mereka berempat ke atas. Seluruh pasukan mereka yang masih selamat juga ikut terbang ke atas meninggalkan permukaan bumi.

"A-akhirnya...." Habiki menghela nafasnya lalu memaksakan diri untuk berdiri perlahan.

Shika pergi ke arah Usagi, menunduk lalu menggendongnya layaknya seorang putri. Tanpa kata kata, Ia meninggalkan mereka semua di belakang.

"Oi oi... Mari bertarung lagi kapan kapan ya Shika..." Light menunjuk Shika dari belakang sambil berdiri, tersenyum.

"Akan Ku lakukan dan akan Ku kalahkan..." Jawab Shika tanpa membalikan badannya sama sekali. Light kembali tersenyum mendengar jawabannya.

"U-Usagi..!!!" Saut Habiki dari kejauhan kepada anak berbaju kelinci itu. "Kita akan bertemu lagi kan..! Dan lalu melanjutkan pertarungan tadi..!!" menatap dan menggertak sekuat tenaga.

"Jangan dekati adik ku..." Shika melirik ke belakang, ke arah Habiki dengan dingin dan kesal.

"Y-ya..!! Maafkan..." Habiki menunduk dengan malu dan tAkut. Saat Habiki melihat mereka kembali Usagi tersenyum ke Habiki dari balik Shika dan melambaikan tangannya dengan perlahan.

Habiki tersipu malu lalu melambai balik kepadanya.

"Hei semuanya..... Light, Austin, dan Cade... Cari Koraya, Ash, dan Floyd lalu gotong mereka ke markas... Aku akan kembali ke markas duluan bersama Habiki untuk melapor kepada Ox..." Ender menghampiri Habiki yang terdampar di dekat tembok.

"Oi oi Kamu... Kenapa harus Kami hah..?" Cade mengepalkan tangannya keras keras.

"Kan Aku perempuan dan Habiki paling terluka ya ga..?" Ender menggendong habiki lalu langsung berlari dan melompat pergi secepatnya pergi.

"Ah tunggu Ender..!" Ujar Habiki dengan terkejut, tiba tiba dibawa lari oleh Ender.

"HAHHH..??" Cade kesal, memukul tembok selagi meneriaki Ender dari belakang.

"Ya ampun... Ayo cepat..." Light memimpin mereka berdua di depan saat mencari Ash dan kawan kawan.

Setelah beberapa menit berjalan akhirnya mereka bertiga menemukan Ash dan yang lainnya yang tergeletak dalam keadaan tak sadaran diri, tanpa basa basi mereka menggotongnya masing masing lalu segera kembali ke markas.

 

 

 

 

 

 

 

Red Aura saga

Part 1 : After battle

Tak lama setelah semua pihak tim Koraya dan tim Poison meninggalkan festival tersebut, para polisi dan tim SWAT baru saja datang untuk mengamankan keadaan yang sudah diselesaikan.

Saat mereka semua sampai di markas, Ash, Floyd dan juga Koraya langsung diberi perawatan di ruangan medis yang telah disediakan Ox. Habiki juga mendapatkan luka yang cukup berat jadi Dia ikut dirawat di sana. disisi lain Ender, Light, Austin, dan Cade hanya diberi pengobatan ringan.

"Apa mereka akan baik baik saja..?" Tanya Ender, memandangi mereka bertiga dari balik jendela ruangan medis. "Tentu... Walaupun mungkin agak lama tapi mereka baik baik saja.." Jawab Ox dengan tenang supaya Ender tidak ragu dan ikut tenang.

"Lalu Dia siapa..?" Tanya Ox sambil menunjuk ke arah Cade yang baru saja di pasang perban. "Heh.." Cade bergumam sendiri, seperti meledek Ox.

"Oh Dia..? Dia Black Eye atau panggil saja Cade.. Orang yang kabur pada saat itu..." Jawab Ender setelah, menengok ke arah Cade yang sedang santai diatas sofa.

"Oh tentu saja... Sini Aku siapkan ruangan---" Ox yang asalnya sudah berjalan tiba tiba berhenti. "Cihhh lagian siapa yang pengen tinggal disini..? Aku akan tinggal di tempat lain.. Aku pun tidak akan ikut ikutan tim ini... Tapi kalau Kalian butuh Aku ya silahkan..." Ucapan Ox dipotong  mentah mentah oleh Cade yang terdengar sangat meremehkan.

"Yeee... Masa sih..?! Ya sudah lah.. Aku akan membuat tangan Habiki yang baru sekarang.. Kalian harus segera istirahat.. Ini sudah larut.." Ox berjalan menuju ruangannya untuk segera menyelesaikan tangan Habiki.

Di sisi lain Cade berdiri lalu berjalan meninggalkan tenda tanpa kata kata. "Oi oi.. Kamu mau kemana??!" Panggil Ender dengan lantangnya.

"Oh lupa.. Mau pergi.." Jawab Cade dengan datarnya, dan dengan tangannya yang dimasukan ke dalam saku. "Gimana kalau Kita jalan jalan dulu.." Ender menggodanya sambil perlahan membuka penutup kepalanya.

Cade tidak menoleh sekejap lalu menjawab "Ogah..".

"Heiiiii jahat amet..!!" Teriak Ender dengan menyondongkan badannya ke depan, kesal.

Austin dan Light sudah istirahat terlebih dahulu di ruangan mereka masing masing. Ender yang tak punya kegiatan lain pergi keluar tenda untuk melihat bintang bintang sepanjang malam.

Tanpa disadari malam sudah terlewatkan oleh mereka. Keesokan hari telah datang, Light telat bangun dan tidak memasak, membuat yang lainnya belum memakan sarapan karena terlalu mengandalkan Light.

"Ahhhh.... Lapar..." Ender menyenderkan diri ke sofa dengan sangat lemas. "Masak aja sonoo......" Jawab Austin dengan sama lemasnya.

"Gamauu..." Jawab Ender sekali lagi. "Kamu aja Light..." Terus Ender sambil melirik sedikit ke pinggirnya, terdapat Light yang sedang berbaring di atas satu sofa penuh.

"Aku ga ada gairah..." Mereka bertiga terlihat sedang terdampar tanpa semangat di atas sofa.

"S-selamat pagiiii...." Ox keluar dari ruangannya dengan kelopak mata yang sangat hitam karena bergadang semalaman penuh untuk mengerjakan tangan Habiki.

"Selamat paGII.. KAMU KENAPA..?" Ender langsung bangun dengan terkejut. "Hah...? Aku kehabisan kofi..." Ox berjalan ke salah satu sofa dan tertidur tanpa mengatakan satu patah kata lagi.

"Oalah.. Baru aja mau disuruh masak...." Ender yang asalnya sudah mulai bangkit perlahan tertarik oleh hawa malas ke sofa itu.

"K-koraya..?!" Teriak panik dari Lucy yang baru saja menerobos tenda terdengar oleh tim, sambil membawa kotak makanan dan tas, Ia menengok kiri kanan. Tak lupa Dia juga memakai seragam sekolah.

"Woah woah tunggu nona.. Ini masih pagi..." Ender melirik dengan kecapean sementara yang lainnya malas berkata apapun. Lucy berlari ke arah Ender dan menggoyang goyang kan pundaknya berkali kali. "Dimana Korayaaaa..." bentaknya perlahan lahan.

"Heeee... Hee... pusing tau... Eh lanjutin deng.." Ender yang digoyangkan maju mundur oleh Lucy masih saja lemas terbawa arus goyangan.

"Haa..? Koraya...? Dia disana..." Light menunjuk ruang perawatan dengan sama lemasnya.

Lucy bergegas lari menuju jendela ruangan perawatan itu. Saat melihatnya, Lucy langsung terkejut, Dia segera masuk ke ruangan itu lalu berjalan dan duduk di samping kasur Koraya.

"Koraya...." Lucy berkata dengan terbata bata, Khawatir.

"Dia belum sadaran dari pertama melawan Dawn..." Habiki bangkit dari tidurnya sambil memandangi Lucy yang terlihat sangat khawatir.

"Kenapa Koraya..." Lucy menarik rok seragamnya dengan kesal sambil meneteskan sedikit air mata.

"Ahaha... Kamu cengeng banget dari dulu...." Koraya berkata dengan sangat pelan karena baru saja sadaran diri, perlahan melirik Lucy.

"Koraya..?!" Habiki terkejut.

"K-koraya...?!" Lucy juga ikut terkejut, langsung menunduk di hadapan Koraya.

"Aku mengkhawatirkan mu..." Ucap Lucy lebih lanjut lagi tanpa berani memandang Koraya.

"Hahaha... Santai saja..." Koraya tertawa perlahan lahan.

"Oh iya...!!" Lucy membuka kotak makanan lalu memberikannya kepada Koraya.

"A-ah... Terima kasih.." Koraya menerimanya dengan malu malu. "Sama sama..!!" Jawab Lucy dengan senang dan lega.

"Kamu bisa tahu tempat ini..?" Tanya Koraya.

"Pintu rumah Mu terkunci, dan ada tenda aneh di sebelahnya jadi ya Ku masuki..".

"Kamu ga kesekolah..?" Tanya Koraya sambil memakan beberapa suap sarapan buatan Lucy. "Hmm..? Ini mau kok... Aku duluan ya.." Lucy berdiri lalu meninggalkan ruangan tersebut sambil melambaikan tangan. "Terima kasih.." Lucy berterima kasih pada Habiki yang sedang duduk menyimak keadaan.

"Ya sama sama.." Jawabnya tersenyum.

Selagi Dia berjalan keluar, Ia berterima kasih pada Ender. "Makasih..!!" Ujarnya sambil berjalan lalu meninggalkan tenda.

"Yaa..." Jawab Ender, perlahan bangun lalu mendekati Ox. Ox yang tertidur dibangunkan oleh Ender dengan menggoyangkannya beberapa kali "MASAK ANDAA... MALES MALESAN AJA KEMAREN.." Teriak Ender.

"Yeeee kan Saya bikin tangan Habiki..---" Ox menjawab sambil mengigau tapi akhirnya Ender muak dan menarik telinganya sampai bangun "Shh masak sana..".

Akhirnya Ox bangun karena dipaksa beberapa kali oleh Ender untuk memasak, setelah beberapa menit akhirnya sarapan jadi.

Mereka semua pun memakannya kecuali Floyd dan Ash yang masih tak sadaran lalu Koraya yang sudah memakan sarapan terlebih dahulu dari pada yang lain.

Setelah banyak waktu termakan akhirnya Ox memasuki ruangan medis untuk menemui Koraya dan yang lainnya.

"Ox... Saat Aku sembuh... Ayo Kita temui orang yang terakhir.." Koraya memanggilnya selagi Ia sedang mengecek kondisi Floyd melalui komputer.

"Ya tentu.." Jawab Ox sambil tersenyum semangat.

Beberapa jam sudah berlalu dan jam pulang sekolahnya Lucy sudah tiba. Karena khawatir Ia segera kembali ke tempat Koraya untuk menjenguknya sekali lagi.

"Selamat sore" Lucy menyapa dengan ramah selagi membukakan pintu masuk. "Selamat sore~" Ia, disambut oleh Ender yang terlihat sedang menduduki punggung Ash saat sedang push up.

"Ha..?" Lucy menatap dengan kebingungan. "Saya akan langsung menjenguk Koraya..." Lanjut Lucy, berjalan melewati mereka berdua yang sedang asik sendiri dan Light yang sedang menonton mereka sembari meminum secangkir teh.

"Ya tentu silahkan... Ayo 20 lagi Ash...!!!" Ender berteriak dengan semangat, mengangkat kedua tangannya.

"HAAAAAA..!!" Lalu Ash berteriak, mempercepat gerakan push upnya.

"Halo Koraya..." Lucy memasuki ruangan dengan ceria.

"Hai Lucy..! Kamu datang untuk mengambil tempat makan Mu ya...?" Tanya Koraya, menyerahkan tempat makan tersebut ke arah Lucy.

"A--- Iya iyaa...." Lucy tampak malu namun tetap saja menerima tempat makan tersebut dari tangan Koraya.

"Oh ya Koraya... Apa yang sebenarnya Kamu rencanakan... Dimensi lah apapun itu.." Lucy duduk di sebuah kursi yang berada di sisi kasur Koraya lalu menatapnya dengan serius.

"Hah... Kamu tahu dari mana..?" Koraya mengangkat alisnya dengan tekejut lalu bertanya balik. "Cade yang memberi tahuku..." Lucy berbicara lebih jelas.

"Oh... Begini.... Mereka semua bukan hanya orang yang Ku temukan di dimensi lain.... Apa Kamu familiar dengan orang bertelinga kambing itu..?" Koraya menunjuk Ash yang sedang push up dari dalam jendela besar ruangan medis itu.

"SEMBILAN PULUH DELAPANNN..!!!" Teriak Ash dengan sangat lantang sampai terdengar ke ruangan medis. "Yaaa~~ Ayo teruskann~~" Tawa Ender perlahan lahan mendukungnya.

"Y-ya orang itu...." Koraya menatap Ash dengan keanehan dan penuh penyesalan.

"Oh iya.. Dia familiar ya... Seperti karakter yang Kamu suka gambar..." Jawab Lucy dengan santai, masih melihat ke arah Ash.

"Ya... Mereka semuanya adalah karakter ku..." Jawab Koraya dengan membicarakan langsung ke intinya.

"Hahhh???! Beneran..??!" Lucy bangkit dari duduknya karena terkejut dan tidak percaya.

"Y-ya sepenuhnya begitu sih.. Tapi Lucy.. Bisakah Kamu merahasiakan ini..?" Koraya memohon, menggaruk pipi sebelah kanannya.

"Ya tentu saja.... Aku berjanji..!" Lucy memberi jari kelingkingnya kepada Koraya. Lalu mereka berdua melakukan pinky promise atau bisa disebut janji jari kelingking.

Setelah melepaskan jari Lucy, Koraya mengambil remot lalu menyalakan TV yang ada di ruangan tersebut. Hal yang pertama kali muncul adalah berita tentang kejadian yang terjadi di festival tempo hari.

'Diduga penyerangan dari pasukan tak dikenal menyerang festival tadi malam.. Menurut saksi pasukan tersebut memakai gas mask.. Dan diduga ada sekelompok orang yang melawan mereka... Apakah mereka musuh atau teman...? Polisi tengah sedang menyelidiki keberadaan mereka yang terlibat di peristiwa tersebut..'

"Itu Kalian yakan..." Lucy memfokuskan diri kepada berita tersebut. "Ya." Jawab Koraya, menghembuskan nafas dalam dalam.

"Ah Kita akan mendapatkan waktu yang buruk kalau diselidiki polisi.." Ox memasuki ruangan medis dengan secangkir kopi di tangannya.

"Ya..." Koraya mengucapkannya kedua kali nya.

"Lagi pula Kamu siapa..?" Tanya Ox, melirik ke arah Lucy yang sedang duduk.

Lucy segera berdiri lalu sedikit membungkuk "Saya teman masa kecil Koraya, Lucy... Salam kenal..." Lalu Ia kembali berdiri tegak.

"Ah ya sudah.. Kamu terlanjur mengetahui tempat ini.... Tapi jangan kasih tahu seorang pun tentang tim dan tempat ini.." Ox meminum seteguk kopinya lalu meninggalkan ruangan itu perlahan lahan.

"Siap... Terima kasih..!" Ender membungkuk sekali lagi lalu tersenyum.

"Ya sudah Aku pulang dulu ya Koraya.... Segera lah ke sekolah ok..??" Lucy pergi meninggalkan ruang perawatan sambil melambaikan tangannya seperti tadi pagi. Koraya juga melambaikan tangannya.

"Terimakasih semuanya Aku pulang duluan...!" Lucy berlari keluar tenda tanpa menghentikan lambaian tangannya.

"Bai baii~" Ender juga melambaikan balik walau masih saja duduk si atas punggung Ash.

"A-Aku lelah Enderrr..." Ash sudah terdampar di atas lantai karena kecapaian, tetapi Ender tetap saja belum menyingkir.

"Kamu sendiri yang memintanya..." Jawab Ender sambil tertawa kecil.

Setelah meninggalkan tenda Lucy segera pulang dengan berjalan kaki.

Keesokan harinya Koraya masih belum sehat secara menyeluruh... Floyd masih beristirahat dengan tidak banyak melakukan aktivitas sedangkan Ash melakukan aktivitas setiap waktu. Habiki juga sudah dibuatkan tangan baru oleh Ox yang langsung dikenakan olehnya tengah subuh. Lucy juga menjenguknya seperti biasanya.

Keesokan harinya lagi semuanya sudah terlihat lebih sehat dari biasanya dan hari minggu tiba jadi Koraya tidak perlu bersekolah dan beraktivitas seperti kemarin.

"Selamat pagiii...." Sapa Koraya dengan bersemangat memasuki tenda, memulai hari.

"Pagi....!!!" Semuanya sudah terlihat semangat dan sudah bangun dari tidurnya sambil memakan sarapan mereka yang dibuatkan oleh Light seperti biasa, di atas sofa.

"Ox Aku akan memakan sarapan.. Kamu siapkan portal untuk orang terakhir...." Koraya berjalan menuju dapur untuk mengambil sepiring sarapan.

"Ok ok... Seperti apa kekuatannya...?" Ox meletakan piring sarapannya lalu mengambil PD untuk mengaturnya.

"Ah.. Dia mempunyai kekuatan Telekenesis dan dunianya terdapat perang...?" Koraya menengok dari dapur menuju Ox.

"Telekenesis...? Apa Kamu mengetahui betapa kuatnya kekuatan seperti itu..?" Ox berhenti mengotak ngatik PD untuk sejenak.

"Aku tahuu.... Tapi sepertinya Dia baik.." Koraya kembali dari dapur membawa sepiring sarapan lalu duduk di sebelah Ox untuk makan.

"Sepertinya..?! Ah ya sudahlah..." Ox menghela nafas dalam dalam lalu kembali mengatur PD.

"AHH Korayaaa..!! Bisakah Aku ikut kali inii..?!!" Ash menaruh piringnya dengan lantang lalu menghampiri Koraya.

"Bolehhh.." Jawab Koraya, walau Dia tetap fokus makan. "Aku pun akan ikut.." Austin mengangkat tangannya dari ujung ruangan.

"Tentu saja..! Kalau Kalian mau semuanya juga bisa...!" Koraya berbicara dengan makanan yang masih ada di mulutnya.

"Ya sudah Aku akan mengawasi bocah bodoh ini ok..??" Ender menghampiri Ash lalu menepak punggungnya dengan kencang.

"Haaahhh...??!!" Ash menoleh kepada Ender yang berada di belakangnya, kesal.

"Ya sudahh sudahh... Kalian akan ikut ok..?"  Koraya melambaikan tangannya perlahan kepada mereka berdua.

"Tangkap....!!" Disaat yang tepat setelah Koraya baru saja menyuapkan suapan terakhirnya, Ox melemparkan PD ke arahnya.

Koraya meraih dan hapir meleset namun tetap menangkapnya, "Kalian siapp...?" Koraya meletakan piringnya di atas meja.

"Im born ready..!" Ash mengepalkan tangannya di atas dada lalu berkata bahasa Inggris.

"Pfft.. HAHAHA..." Ender tertawa kencang tak tertahan. Ash mulai kesal dan memelototinya perlahan akhirnya tawa Ender juga mulai memelan "Maaf maaf..!!!" Ujar Ender sekali lagi.

Austin yang menyendiri di ujung akhirnya menghampiri mereka semua. Lalu akhirnya juga Koraya pun memasang portal ke dimensi dimana OC terakhir Koraya berada, lebih tepatnya OC dengan kekuatan telekenesis berada. Mereka ber 4 memasuki portal tersebut satu persatu. Dimulai dari Koraya lalu diakhiri oleh Austin, dari situ mulailah pencarian mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Red Aura saga

Part 2 : The sorcerer

Saat mereka menginjakan kaki di sisi lain, pemandangan yang mereka lihat adalah sebuah rumah kuno yang besar, di kelilingi oleh kebun dan tempat beribadah tepat di sebelahnya.

Koraya segera mematikan portal lalu memasukan PD ke dalam saku celananya.

"Ok apa Kita salah tempat...?" Austin menengok kepada Koraya yang sedang melirik kesana kemari.

"Ah pasti tidak salah.. Tanya dulu aja ke rumah ini..." Koraya tanpa panjang pikir langsung mendekati depan pintu rumah yang ada di hadapannya tersebut.

"Permisi.." Koraya mengetuk perlahan dengan sopan.

"Ya ada apa...?" Seorang wanita membuka dan menjawab pintu dengan jubah hitam setengah badan. Rambutnya berwarna ke coklat coklatan dan dikepang sebelah. Wajahnya terlihat dewasa dan sangat cantik.

"Dia..?" Austin terpAku memandangnya dan diam diam mengatakan sebuah kata dalam hati.

"Ah.. Apa Kamu mengenal purple ghost..?" Koraya membukakan tangannya ke arahnya.

"Ah tidak tidak... Aku tidak memakai nama itu lagi..." Wanita itu melambaikan tangannya sambil tersenyum.

"Kamu adalah Dia..?!" Koraya terkejut,  memiringkan kepalanya. "Ya.. Namaku Magenta.. Salam kenal.." Wanita itu tersenyum lagi.

"Saya Koraya, mereka Ender, Ash, dan Austin..".

"Salam kenal..!" Saut Ender.

"Bundaa....!!!!" Seorang anak perempuan berteriak dan berlari ke arah Magenta dari dalam rumah.

"Mary.. Kenapa Kamu tidak main bersama yang lainnya..?" Magenta menengok ke belakangnya lalu tertawa dengan lembut.

"Bunda.. mereka siapa..?" Mary berhenti di belakang Magenta, bersembunyi lalu menarik narik kakinya.

"Mereka adalah orang yang berkunjung ke sini mary... Ayo berkenalan..!" Magenta mengelus kepala Mary perlahan.

"Halo Mary...!!" Ender berjalan mendekati Mary sambil perlahan membungkuk ke arahnya.

"H-halo..." Mary menjawab sambil menyembunyikan wajahnya. "Namaku Ender salam kenal..!!" Ender memberikan tangannya selagi tersenyum.

"Namaku Mary..." Mary perlahan menjabat tangan Ender. "Ayo Mary main sana sama yang lainnya..." Setelah Magenta mengucapkan itu Mary langsung melepas tangan lalu berlari ke dalam rumah.

Magenta senyum sendiri. "Apa itu anak Mu atau siapa mu..?" Tanya Ash, sementara itu Ender perlahan lahan berdiri. "Itu adalah anak asuh ku... Saya cuman seorang perawat disini.." Magenta merapihkan bajunya perlahan lahan.

Setelah percakapan tiba tiba berhenti sejenak, Magenta bertanya "Jadi apa yang Kalian butuhkan..?".

"Kami ingin merekrut Mu untuk menjadi salah satu anggota dari tim kami..." Koraya membukakan tangannya sekali lagi ke arahnya.

"Aku akan senang menerima permohonan Mu itu.. Tapi pertama.. Aku sudah tidak sudi bekerja bersama militer... Kedua.. Aku tidak bisa meninggalkan mereka..!" Magenta menunduk meminta maaf.

"Tenang.... Kami bukanlah militer.. Lagi pula tim Kita ini akan melindungi semua orang termasuk anak dari semua penjuru dimensi..!" Austin berjalan mendekati mereka berempat yang berada di depan, mengikuti perbincangan mereka.

"Dimensi..? Walaupun begitu.... Anak anak tidak akan memperbolehkan ku.." Magenta berhenti menunduk namun berkata kata seolah ragu.

"Bagaimana iniiii...? Gimana kalau Aku paksa dengan cara berkelahi..?? " Ash menyondong ke Ender lalu berbisik pelan pelan.

"Bodoh..!! Kamu ga boleh ngomong gitu...!" Ender memukul Ash sekuat tenaga tepat di atas kepalanya.

"Tenang Magenta... Kalau Kamu punya waktu Kamu selalu bisa berkunjung kembali kesini untuk menjenguk mereka.." Austin memberikan senyuman dengan maksud bujukan.

"Oh iya Aku ga pernah kepikiran.." Mata Koraya terbuka lebar karena tak sangka.

"Kalau begitu.. Kalau tujuan Kalian memang untuk menyelamatkan orang lain, akan Ku ikuti.. Jika Kalian punya tujuan lain Aku akan segera meninggalkan tim itu.. Sekarang Aku akan berpisahan dengan mereka dulu..." Magenta menghela nafasnya dan akhirnya menyetujui tawaran dari tim Koraya.

"Bisakah Kalian mengantar ku...? " Magenta membalikan badannya dan perlahan masuk ke dalam rumah.

"Tentu saja..!" Jawab Koraya, mengikutinya dari belakang. Mereka akhirnya memasuki panti asuhan itu yang dipenuhi oleh anak anak muda yang sedang berlarian dan bermain bersama di ruang tengah.

"Anak anak....." Magenta berhenti di depan anak anak lalu menepuk tangannya perlahan. "Bunda..!!" Semua anak berhenti bermain dan mulai memperhatikan Magenta sambil tertawa tawa.

"Kakak ini namanya Ender bersama teman temannya yang akan bekerja sama dengan bunda mulai dari sekarang... Jadi mohon Kalian mengerti.. Nanti bunda akan berkunjung kapan kapan...." Magenta membuat raut wajah yang sedikit sedih walau tersenyum.

"Bunda mau kemanaaa....!!!" Anak anak di ruangan tersebut menyaut bersama sama. Ada beberapa anak yang berlari untuk memeluk Magenta dan ada juga yang hanya diam menangis.

"Jangan pergii....!!" Mary, berlari di antara anak anak yang lain memeluk Magenta paling erat.

"Sudah sudah... Bunda akan sering berkunjung kok....!" Magenta tertawa dan mengelus rambut Mary perlahan.

Setelah memeluk balik mereka, Magenta melepaskan semua pelukan anak anak satu persatu dan perlahan lahan. Dia segera pergi ke sebuah ruangan untuk mengambil sebuah tas lipat yang menyimpan barang pribadinya. Beberapa menit berlalu dan Sesaat Magenta keluar Ia meminta sesuatu kepada Koraya dan yang lainnya.

"Bisakah Kalian bermain bersama mereka dulu...? Aku akan pergi untuk berdoa sebentar...." Magenta menengok ke Koraya dan juga Ender. 

"Tentu saja..!" Koraya tersenyum dan langsung mengumpulkan anak anak untuk bermain.

"Terima kasih..!" Magenta meninggalkan rumah tersebut dengan tas di tangan. Setelah keluar Dia segera berbelok menuju tempat ibadah yang berada tepat di sebelah rumah.

"Oiiii...!! Siapa yang mau main kuda kudaan sama kakak ini..??" Ender berteriak dengan kedua tangannya di pinggir mulut.

"Hei hei tunggu dulu---" Ash menyenggol Ender tapi sepertinya sudah terlambat.

"Mauuu Mauuuu...!!" Kebanyakan anak sudah berlarian ke arah Ash dengan semangat dan penuh energi.

"Tungguuuuuu... " Ash berucap sendiri dengan kesal. Di sisi lain Koraya dan Ender menertawainya bersama sama.

Austin di sana hanya diam melihat lihat, lama lama Ia bosan dan akhirnya meninggalkan rumah tersebut tanpa memberi tahu siapa pun. Dia terpikiran untuk mengunjungi Magenta yang berada di dalam tempat ibadah, Saat dalam perjalanan Austin merasakan suasana dan cuaca yang sangat cerah dan indah, menyinari kebun tersebut.

Austin berhenti di depan pintu besar depan tempat ibadah tersebut. Saat membukanya Dia melihat Magenta yang sedang berdiri di atas lututnya berdoa, di tengah lorong besar.

"Kenapa Kamu kesini..?" Magenta bertanya tanpa melepas konsentrasi sama sekali, dan tetap menghadap ke depan.

"Ah Aku cuman mengecek sekitar... Lagi pula kenapa Kamu berdoa...?" Austin berdiam di dekat pintu sambil bertanya tanya.

"Berdoa adalah wujud cintaku kepada Tuhan..." Jawab Magenta dengan datar, tetap saja menghadap ke depan.

"Jadi kalau Kamu mencintaiku Kamu akan berdoa kepadaku..?" Austin berbicara dengan datar namun dengan niat bercanda kepada Magenta.

"Ga gitu lah konyol..." Magenta yang sedang fokus langsung terganggu lalu tertawa dengan lembut, Ia akhirnya menoleh ke belakang. Austin yang melihatnya ikut tertawa.

"Mencintai manusia dan Tuhan itu berbeda..." Magenta memandang menuju langit langit. "Jika Kita mencintai Tuhan Kita akan bersumpah melayaninya dan tetap berdoa kepadanya sampai mati..." Magenta lanjut berbicara sambil tersenyum.

"Tapi jika Kita mencintai manusia.... Kita akan bersumpah untuk menemaninya sampai mati..." Pandangannya sekarang tertuju pada Austin. Masih saja tersenyum namun kali ini lebih lebar.

Austin memandangnya dengan kagum lalu memberikan senyuman kembali kepada Magenta.

"Ya sudahlah.... Aku sudah beres..." Magenta mengambil tasnya yang Dia taruh di depannya, berdiri lalu pergi berjalan keluar dari tempat itu. Setelah keluar, Dirinya disusul oleh Austin dari belakang.

Austin memerhatikannya dari belakang sambil tersenyum senyum sendiri selama perjalanan. Saat sampai kembali di rumah, Magenta membukakan pintu, disambut oleh anak anak yang sedang menaiki punggung Ash secara bergantian, tertawa tawa bahagia.

"Yayyy...!!!" Teriak anak anak bersama sama sambil melompat lompat. "Helppp mee...." Ash bergumam dengan lelah dan kesal.

Magenta tertawa pelan pelan dengan tangan menutupi mulutnya, dilanjut oleh Austin yang tersenyum di belakang.

Pada akhirnya saatnya untuk pergi datang, Magenta pun mengucapkan selamat tinggal terakhirnya ke anak anak panti asuhan dan juga pengasuh pengasuh yang lainnya. Setelah meninggalkan rumah Dia melambaikan tangannya sementara Koraya memasang portal. Di sisi lain Ender dan Ash tertawa, melambaikan tangannya dengan bahagia kepada para anak kecil.

Para anak anak ditinggal tanpa tangisan, mereka tertawa dengan bahagia mengetahui suatu saat Magenta akan kembali.

"Ayo masuk..." Koraya mengajak yang lainnya untuk memasuki portal yang baru saja dipasang olehnya.

Austin memasukinya lalu Magenta memasukinya terakhir, masih dalam keadaan tersenyum kepada anak anak asuhnya.

Saat mereka sampai, mereka langsung berada di dalam tenda. Ox langsung berari ke arah Koraya yang terdepan. Yang lainnya hanya memerhatikan sambil tertawa.

"Korayaaa... Kita akhirnya beres...!" Ox tertawa, memegang pundak Koraya. "Ya..---" Tiba Koraya menunduk, memegang kepalanya karena mendapatkan sebuah kilasan kilasan kejadian mimpi aneh yang minggu lalu Ia dapatkan. "A-apa..?!" Mata Koraya bergetar dengan terkejut.

"Koraya..?! Kamu kenapa..?!" Ox dan yang lainnya mendekati Koraya dengan serentak, yang tidak menghampirinya hanyalah Floyd yang duduk dengan santai.

"A-Aku tidak apa apa..." Koraya mengangkat kepalanya kembali lalu segera mematikan portalnya dengan tombol di PD.

"Untunglah...." Ox mengelap keringat pada dahinya. "Halo... Namaku adalah Magenta salam kenal.." Magenta tersenyum di tengah keributan.

"Oh ya Kita belum memperkenalkan diri dengan benar untuk semuanya..." Ox menepuk tangannya sekali. "Ash ayo Kita memperkenalkan diri dulu...!" Lalu Ox pergi menunjuk Ash yang berada di dekat Koraya dan Ender.

"Ah ok..!!! Namaku adalah Ash.. Di dimensiku, Aku dinobatkan menjadi pahlawan termuda yang ada...! Orang terkuat dengan kekuatan api sejagad raya....!!" Ash tertawa dengan angkuh, namun terlihat bodoh.

"Aku Aku...!" Sela Ender dalam perkataan Ash. "Namaku Ender... Black Knight adalah sebutanku yang sering orang ucapkan... Dan orang yang tadi adalah manusia setengah kambing yang suka api..." Ender memberikan jempol dan sebuah senyuman.

"H-hei..!!" Ash melirik kepada Ender dengan kesal.

"Ah bagian ku... Namaku Floyd... Adik dari Ash..." Floyd masih duduk dengan santai tanpa semangat sama sekali.

"Namaku Light pangeran dari kerajaan cronox..." Light yang tadi menghampiri Koraya menunduk dengan formal.

"Kalau Aku... Namaku Austin.. Seorang ilmu sihir spesialis air..." Dari belakang Ash, Austin berjalan dengan santai.

Habiki yang baru saja duduk, kembali berdiri dengan lengan besinya yang tampak baru, sudah dipasang kembali. "Aku Habiki anak dari dimensi sama dengan Koraya..." Ujar Habiki dengan ceria.

"Kalau Aku adalah orang yang mengusulkan ke Koraya untuk membuat tim ini... Namaku Ox yang akan menjadi otak di tim ini.." Ox mengangkat setengah tangannya.

"Sekarang bagian Mu Koraya..." Light menengok ke arah Koraya. Namun saat yang lainnya melihat Koraya, Ia tampak pucat dan memandang ke bawah sambil melamun.

"Oi oi Kamu kenapa sih Koraya...!!" Ox mendekati Koraya dengan kebingungan.

"Sepertinya.... Aku melupakan satu OC... Tapi Aku tak mau Dia ada... Dia adalah monster..." Koraya mengingat segalanya, mengingat siapa sosok di mimpi itu.

"Hah..? Siapa..??!" Ox terkejut dan langsung mendengarkan Koraya perlahan.

"Nama julukan yang kuberikan adalah Red Aura... Tapi nama aslinya masih belum Ku ingat... Hanya Dia seorang yang kubuat sepenuhnya menjadi penjahat... Kita tidak mungkin bisa menemuinya..." Koraya masih saja merenungkan diri seperti banyak masalah.

"Tidak apa apa.. Ayo Kita temui dia... Coba saja ajak.. Kalau gagal Kita hanya perlu mengalahkannya kan...! Lagi pula jika Kita tidak menemuinya tak lama Kita harus melawannya saat melindungi dimensi ini..." Ox memberikan senyuman kepada Koraya.

"Tidak mungkin...! Tidak mungkin Kita bisa menghadapinya..!!" Koraya menggelengkan kepalanya dengan frustasi.

"Ayolah Koraya... Kita kan tim...!" Akhirnya Ox mengulurkan tangannya kepada Koraya dengan mempertahankan senyumannya. Sementara yang lain ikut tersenyum memandangnya

"Hmm.." Koraya perlahan melirik ke arah Ox dan ikut tertawa. "Kalian memang luar biasa... Ya sudah mari Kita lakukan...!" Koraya menggenggam tangan Ox dengan semangat.

"Setelah ini.... Kita harus mengalahkan Poison... Terutama The Last..." Koraya menatap Ox dengan serius.

"Ya..." Ox menjawab dengan ekspresi yang serius.

"Koraya Kamu belum memperkenalkan diri...!" Ox merubah ekspresinya sambil tertawa

"Oh iya... Aku Koraya...." Ujar Koraya perlahan lahan, satu per satu.

"Dan Aku adalah.."

"Pencipta kalian..."

 

Red Aura saga

Part 3 : Monster

“Tunggu..! Kamu penciptaku..?! Bukan..! penciptaku kan Tuhan..!!" Magenta membanting tangannya dengan ke tidak percayaan.

"Ya tentu Magenta... Tuhan menciptakan Ku untuk menciptakan mu.. Jadi orang yang menciptakan Mu pertama adalah Tuhan.." Koraya melirik ke arahnya, berusaha untuk menenangkannya perlahan.

"Tunggu tunggu... Benarkah..?!" Austin mendekati Koraya, memegang pundaknya.

"Oh begitu.... Syukurlah... " Jawab Magenta, menghela nafasnya dan memegang dadanya.

"Y-ya.." Dengan ragu Koraya menjawab sekali lagi.

"Kita sih sudah tau.." Ash mendekati Floyd dan menyenggolnya perlahan.

"Woah woah.. Masa sih..? Walau Aku tak percaya tapi ya sudahlah..." Ender menggelengkan kepalanya, untuk menolak kenyataan.

"Ya sudah mari Kita bahas rencananya...." Ox berdiri di tengah tengah mereka sambil melambaikan tangannya untuk berkumpul.

Setelah semua team mereka terkumpul di sekitar sofa, Ox mulai membahas rencananya untuk mencari Red Aura. Pada akhir pembahasan, mereka memutuskan untuk pergi mencarinya sabtu depan, setelah Koraya selesai sekolah minggu itu.

"Ingat... Persiapkan diri kalian... Kita akan menunjunginya sabtu depan..!!" Ox berucap dengan semangat, mengangkat dan mengepalkan tangannya.

"Ya..!! Light...! Latih Aku lagi..!!" Habiki berlari ke pinggir ruangan dimana panah dan pedangnya berada. Pergi mendekati Light dengan semangat.

"Tentu..." Light berdiri, menepak pundak Habiki lalu berjalan ke luar tenda. Habiki tertawa dan berjalan mengikutinya dari belakang.

"Floyd..!! Kita juga harus berlatih..!!" Ash memandangi wajah Floyd dengan semangat. Setelah melirik Ash, Floyd menjawab "Aku sudah terlalu kuat Ash.." Ia berdiri lalu melangkahkan kakinya keluar tenda.

"Hahhhhh!!!" Wajah Ash memerah dengan kesal, Ia mengejar Floyd dari belakang.

"Magenta.. Maukah Kamu melihat tempat tempat disekitar..?" Austin tersenyum lalu mengulurkan tangannya kepada Magenta setelah menghampirinya.

"Hahaha..." Magenta menutupi mulutnya saat tertawa. "Ya tentu.." Meraih dan memegang tangannya Austin, lalu menariknya keluar tenda untuk berjalan jalan.

"Aduduhh..!! Aku lupa memberitahu ada ruang latihan disini.." Ox memegang kepalanya dengan kewalahan.

"Dimana..?" Ender menengok ke arahnya dengan cepat dan semangat. Ox menunjuk ke sebuah pintu di ujung koridor "Disana.." Ujar Ox.

Ender segera berlari menuju pintu tersebut, saat di depannya Dia membuka pintu lalu melambaikan tangannya kepada Koraya. "Koraya.... Maukah Kamu berbicara dengan Ku sebentar...?" Ender memanggil dengan lantang.

"Ya tentu.." Koraya perlahan melangkah ke arah Ender, dan saat sudah dekat Ender langsung memasukinya diikuti Koraya.

Di lihat oleh mereka, ruangan itu cukup lega. Seperti sebuah lapangan mini dengan senjata senjata asli dan miniatur di pinggir ruangan. Banyak pilihannya, dari mulai tombak, pedang, perisai, sampai senjata api sekaligus.

"Jadi ada apa...?" Koraya berjalan jalan di sekitar sambil bertanya.

"Ah.. Jadi begini.." Ender langsung terpAku pada senjata yang beragam, perlahan menjawab Koraya. "Uuu.. Ini bagus..." Ender senyum sendiri, Ia mengambil dua buah pedang kayu.

"Koraya tangkap..!" Ender melemparkan salah satu pedang kayu yang ada ditangannya ke Koraya yang sedang melamun.

"W-wupss..!" Koraya menangkapnya walau hampir terselip dari tangannya sedikit. "Hah..?" Koraya dengan refleks menoleh kepada Ender.

"Jadi... Sejujurnya.. Dipertarungan waktu itu Kamu lumayan merepotkan... Atau bisa dibilang beban bagi Ash dan Floyd.." Ender menatap Koraya dengan serius dengan pedang kayu di tangannya.

"Aduh.. Nyesek...!!" Koraya terasa murung dalam hatinya.

"Aku serius... Jadi... Mulai sekarang persiapkan mental.. Aku akan mengajarkan Mu untuk bertarung..." Ender menghunuskan pedangnya ke arah Koraya tanpa hesitasi.

"Serius..?" Koraya menurunkan pedangnya terkejut. "Iya... Kamu keberatan...?" Tanya Ender dengan memasang wajah licik.

"Tidak tidak---" Koraya mengipas wajahnya sendiri. "Ya sudah kalau begitu mari dimulai..." Tanpa membiarkan waktu untuk bicara, Ender langsung berlari kepada Koraya.

Koraya langsung mengangkat pedangnya di depan karena refleks setelah melihat Ender. Tanpa kuda kuda dan pengalaman, Ia terlihat kAku.

Saat Ender sudah di hadapan Koraya, Dia mengayunkan pedangnya. Walau Koraya berhasil menahannya, itu hanya untuk sementara. Tekanan kekuatan dari pedang Ender membuatnya kewalahan.

Saat Koraya mulai melemah dan kehilangan fokus Ender langsung menendang kaki Koraya. Koraya langsung melepaskan pedangnya lalu menunduk, memegang kakinya kesakitan.

"Tuh kan... dengan ini Aku mengetahui betama lemahnya Kamu.." Ender menertawakannya sambil mengulurkan tangannya. Koraya terlihat jengkel, namun Ia menerima tangan Ender dan perlahan bangkit.

"Sekarang Aku akan mengajarkan dasar dasarnya ok.." Ender melepaskan tangan Koraya yang telah bangkit, dan langsung kembali dalam keadaan kuda kuda.

Pada akhirnya Ender mengajarkan Koraya dasar dari bela diri sepanjang hari. Sore hari pun telah datang, Koraya sudah terlihat sangat sangat kecapean disisi lain Ender juga sama.

"Ah mantap..! Kamu bisa juga..!" Ender yang kehabisan nafas memberikan jempol kepada Koraya yang berbaring kecapean.

"Ahhh.. Ahh.... K-kenapa Kamu melakukan ini...?! Padahal Kamu bisa melakukan hal lain..?" Koraya memejamkan matanya perlahan lahan sambil menghembuskan nafasnya yang berat.

"Ya itu sih kehendak Ku sendiri tapi... Aku ingin Kamu kuat supaya suatu hari nanti bisa melindungi yang Kamu sayangi...." Ender melihat ke arah Koraya, tersenyum. Walau itu senyuman, senyuman tersebut tampak sedih.

"Ya tentu saja... Kenapa Aku tidak menyadarinya..." Koraya membuka matanya, sadar. "Lain kali Aku yang akan melindungi kalian..." Senyum Koraya dalam hati, perlahan membayangkan timnya secara keseluruhan.

"YES..! Ender..! Aku akan menanti latihan selanjutnya darimu..!" Koraya bangkit dengan penuh tenaga.

"Gitu dong semangatnya..!!" Ender berjalan kepada Koraya lalu menepaknya di punggung dengan kencang. "Duh..!" Koraya terdorong sedikit.

"Aku akan menantimu satu minggu ke depan...! Walau itu hanya latihan angka waktu sebentar, setidaknya saat Kita melawan karakter Mu yang satu itu Kamu akan bisa melindungi diri sendiri..." Ender menghadap ke depan pintu. "Sekarang istirahatlah dengan benar sana..!" Ender menarik, lalu mendorongnya keluar pintu yang baru saja Ia buka sambil tersenyum.

Saat sudah di luar Koraya kehilangan keseimbangan karena terkejut, melirik ke arah Ender, melihatnya sedang melambaikan tangan. Koraya membalas lambaian tersebut lalu perlahan melangkah keluar tenda. Tenda tampak sepi karena semuanya mempunyai urusannya masing masing pada saat itu.

Saat keluar tenda, Koraya segera melangkah ke pintu rumahnya. Membukanya, memasuki lalu menutupnya kembali. Dia segera pergi ke kamarnya untuk beristirahat, bersiap untuk hari esok yang akan datang. Bermenit menit terlewati, berjam jam terlewati, dan pada akhirnya besok hari datang tanpa di sadari siapa pun.

Hari demi hari terlewati, rutinitas sehari hari mereka tetap berjalan. Habiki mengasah kemampuannya bersama dengan Light. Ox yang terus mengembangkan teknologi buatannya. Magenta dan Austin yang lebih mengenal satu sama lain. Lucy, Shoko, dan Koraya yang menjalani kehidupan sekolahnya. Dan tidak lupa kegiatan baru Koraya yaitu berlatih seni berpedang dengan Ender.

Lalu akhirnya hari itu pun datang.

Di pagi itu, Seluruh team Koraya sudah bersiap siap setelah baru saja bangun. Mereka sudah berkumpul di tengah tengah markas. Seperti biasanya Light menyiapkan sarapan untuk mengisi energi mereka semua. Sesudah mereka semua memakan sarapan buatan Light mereka bersiap dengan seluruh perlengkapannya, seperti senjata dan topeng.

"Yang akan Kita lakukan adalah mencari Red Aura... Lalu bernegosiasi dengannya... Kalau Dia melawan Kita akan mengalahkannya... Kalau Ia menolak ya biarkan.." Ox sekali lagi mengumpulkan tim untuk membicarakan rencana untuk terakhir kalinya.

"Tangkap..!!" Ox melemparkan sebuah perangkat kecil ke masing masing orang. Satu persatu dari mereka menangkapnya dengan sempurna.

"Ini adalah alat komunikasi yang ditaruh di telinga Kalian untuk berinteraksi denganku dan juga yang lainnya..." Ox mendemonstrasikannya dengan cara memasangkan alat yang tersisa pada telinganya sendiri.

Yang lainnya langsung bersiap siap memasang alat komunikasi tersebut, seperti yang dijelaskan Ox.

Ox menghampiri Magenta yang sedang memakai perangkat komunikasi darinya. "Ini pakai... Untuk menyembunyikan identitas sementara.." Ox menyerahkan sebuah topeng polos kepadanya.

"Terimakasih.." Magenta menerimanya langsung.

"Kita akan dibagi menjadi 4 team.... Team satu Ash dan Floyd..." Koraya memasuki percakapan tiba tiba.

"Team dua Light dan Habiki.." Lanjut Koraya sambil melirik ke masing masing tim.

"Team tiga Magenta dan Austin.." Melirik Magenta dan Austin.

"Dan terakhir team empat Aku dan Ender.." Terakhir Ia menunjuk kepada Dirinya sendiri. "Kita akan berpencar mencarinya dan Kita akan tetap berkomunikasi.. Kalau ketemu Kita akan segera ke lokasi... Kalau tidak Kita akan kembali ke tempat asal.." Koraya menepuk tangannya sesekali.

"Tunggu tunggu... Kenapa Aku harus bersama Dia.?! Ga ada yang lebih bagus..?" Floyd menunjuk Ash yang berada di sebelahnya dengan sekuat tenaga.

"HAHHH..?!!" Ash meneriaki Floyd tepat di wajahnya dengan kesal.

"Mohon kerja samanya Austin.." Magenta tersenyum setelah melirik ke Austin. "Ya tentu.." Austin juga menjawab dengan senyuman.

"Oi bocah... Tunjukan latihan Mu selama ini...!!" Light memberikan High Five kepada Habiki yang di sebelahnya. "Ya..!!!!" Habiki menepak tangannya itu sekuat tenaga sambil tertawa.

"Kalian sudah siap..?" Ox memandang satu persatu tim. Yang lainnya perlahan lahan memakai topengnya masing masing, setelah mengangguk.

"Ok..." Ox memasang portal yang sebelumnya sudah Dia setel lalu akhirnya portal tersebut muncul kembali. Ox memberikannya kepada Koraya untuk kembali pulang ke dimensi ini, "Hati hati..." Ujar Ox.

Mereka memasuki portal satu persatu bersama timnya masing masing. Dimulai oleh Koraya seperti biasa, lalu di akhiri oleh Austin. Menginjakan kaki di sana, mereka disambut oleh pemandangan kota yang sangat normal tidak berbeda dari dunia Koraya. Namun dengan langit yang berwarna merah pekat, seperti darah.

Mereka langsung berpisah tanpa basa basi yang panjang, lebih tepatnya setelah Koraya mematikan portal. "Ya sudah... Aku dan Koraya akan langsung pergi ke inti kota..." Ender berjalan dan memisahkan diri terlebih dahulu dan berjalan menuju inti kota, bersama dengan Koraya yang mengikutinya.

"Aku akan memeriksa dan menanyakan orang orang sekitar sini..." Austin dan Magenta berjalan bersama menuju tempat tempat yang tak jauh dari lokasi datangnya portal.

"Aku akan keluar kota ini... Ya kan Floyd..?!" Ash menoleh ke sebelahnya dengan semangat.

"Ya terserah.." Floyd berjalan keluar kota tanpa memberi tahu Ash dan meninggalkan yang lain di belakang.

"Woii tunggu..!!!" Ash memanggil Floyd dari belakang.

"Aku akan mengecek pinggiran kota bersama Habiki..." Light berbicara kepada Ash sebelum Dia berlari mengejar Floyd dari belakang.

Mereka akhirnya berpisah dari tempat pertemuan, dan mulai mencari karakter buatan Koraya yang terakhir.

Koraya bersama Ender yang pergi menuju inti kota segera menanyakan kepada orang orang sekitar tentang keberadaan Red Aura. Sangat sedikit orang yang berjalan jalan di kota ini tapi selagi ada orang yang melewati jalanan Ender segera mencari informasi dengan bertanya.

"Hey...!" Ender melambaikan lengan kepada seorang wanita yang sedang berjalan santai melewati mereka.

"Hmm..? Ada apa..?" Jawab wanita itu, menoleh perlahan ke arah Ender yang berlari kepadanya. Koraya mengikuti Ender dari belakang perlahan lahan.

"Boleh Aku menanyakan sebuah pertanyaan..?" Tanya Ender, membukakan tangannya

"Tentu...?" Wanita tersebut tampak ramah namun, Dia sangat kebingungan.

"Apa Kamu mengenal orang dengan julukan Red Aura..?" Tanya Ender sekali lagi kepada wanita tersebut, berusaha bertampang ramah semaksimal mungkin namun mungkin itu tidak bekerja.

Wanita itu menunjukan tampang terkejut, Dia menjawab pertanyaan Ender dengan panik. "T-tidak.." Wanita itu langsung berjalan melewati Ender tanpa percakapan tambahan.

"Terimakasih..?" Bicara Ender dengan kAku, Ia memiringkan kepalanya.

Hal hal serupa juga terjadi saat Ender menanyakan hal ini kepada orang orang sekitar yang lainnya. Ada yang tidak menjawab ada juga yang panik ketAkutan seperti wanita sebelumnya. Seakan akan mereka menyembunyikan sebuah rahasia negara.

Sampai akhirnya seorang pria memakai jas hitam pergi menghampiri Ender dan Koraya yang masih saja mondar mandir mencari informasi.

"Kalian benar benar bodoh ya karena telah menanyakan hal hal seperti itu... Apa lagi ditambah topeng aneh.." Dia berjalan sambil tertawa ke arah Koraya dan Ender.

"Kasarrrr..!!!" Ender mengkerutkan alisnya sesaat melihat pria tersebut.

"Hahaha maafkan... Aku akan menjelaskan semua hal yang Aku tahu tentang orang yang Kamu cari..." Dia tertawa. Rambutnya pirang wajahnya sangat tampan, seperti artis holywood di luar sana. Tingginya jauh di atas Ender dan Koraya.

"Tapi disininya sepertinya ga enak... Aku akan traktir Kalian ok...?" Pria tersebut menggaruk belakang lehernya.

"Benarkah..?!" Ender dan Koraya mengepalkan tangannya dengan semangat.

"Ya tentu.." Pria tersebut membalikan badan lalu berjalan menelusuri kota.

Mereka berdua dituntun oleh orang misterius itu ke sebuah cafe kopi di pinggir jalan yang ternyata tidak terlalu jauh. Saat sudah di depan cafe tersebut Ia berkata, "Nah ini tempat kesukaan ku..." tersenyum sendiri.

Mereka langsung memasuki cafe tersebut "Selamat siang...?" Seorang pelayan yang menyambut memandangi topeng, pedang dan aksesoris Ender bersama Koraya. Dirinya melongo keanehan.

"Maaf tuan... Membawa senjata ke sini dilarang..." Pelayan tersebut menunduk sedikit, meminta maaf kepada mereka bertiga.

"Tenang tenang... Mereka cuman memakai kostum..." Pria tersebut menghampiri pelayan dan langsung memegang tanganya, perlahan,  juga selagi tersenyum. Dia mencoba membujuknya supaya mereka berdua bisa masuk.

"A-ah silahkan masuk.." Godaannya berhasil, pelayan itu langsung tersipu malu dan memperbolehkan mereka masuk.

Mereka menduduki beberapa tempat duduk yang ada di sana, Koraya duduk di sebelah Ender dan Pria tersebut di sebrangnya. Mereka memesan beberapa minuman, setelah pelayan telah pergi Koraya langsung bertanya "Jadi... Bagaimana dengan Red Aura..?".

"Yaya maaf Aku lupa tentang itu...." Pria tersebut menggaruk kepalanya. "Red Aura itu seorang pembunuh tak berhati yang ada di dimensi ini..." Lanjutnya, perlahan memandang Koraya.

"Dimensi..?! Dia menyadari adanya dimensi dimensi...?" Koraya membuka matanya lebar lebar dan berucap dalam hati.

"Iya Aku Aku tahu tentang keberadaan banyak dimensi...." Ujar pria tersebut dengan polosnya sambil tertawa lagi.

Koraya dan Ender terkejut secara bersamaan mereka terbangun dari senderan. "B-bagaimana Kamu bisa mengetahui pikiran ku..?!" Koraya berdiri dengan terkejut, menepak meja dengan kencang.

"Tenang tenang.. Aku akan menjelaskan semuanya... Mungkin harusnya dimulai dari nama ya..." Pria tersebut menunduk ragu.

"Namaku Scott... Perkenalkan..." Dia mengulurkan tangannya dan memberikan senyuman kepada Koraya.

"Aku Koraya dan Dia Ender..." Koraya meraih dan menjabat tangannya.

"Apa yang Kamu lakukan.?! Jika Dia mengetahui nama kita---" Ender segera melirik ke arah Koraya, tampak kesal.

"Kita takkan bisa menyembunyikannya..." Koraya memandang Scott dengan waspada.

"Haha.. Kamu tahu saja Koraya..." Scott tertawa kepada Koraya. "Jelaskan Kami lebih banyak Scott.." Koraya melepaskan tangan Scott lalu perlahan duduk.

"Apa Kalian disini mengetahui tentang pencipta dan kreasinya..?" Tanya Scott kepada mereka dengan serius namun santai secara bersamaan.

"Maksud mu..?" Ender memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Oh seperti ini.... Di setiap dimensi pasti ada pencipta dan juga kreasi.... Seperti contoh... Kamu Koraya---" Scott yang asalnya berbicara dengan santai tiba tiba berhenti. "Tunggu... Koraya Kamu adalah seorang pencipta..?" Tanya Scott dengan serius.

"Kalau benar bagaimana...?" Koraya bertanya dengan pandangan yang masih kebingungan.

"Bodoh...!! Apa Red Aura yang Kamu cari itu kreasimu..?!" Scott dengan kesalnya berdiri lalu menyondong, mendekati Koraya.

"Iya..." Koraya meneteskan keringat dengan ragu.

"Tch.." Scott kembali duduk ke kursinya dengan benturan kencang. "Satu.. Kamu telah menciptakan seorang monster... Dua... Kamu baru saja melakukan rencana bunuh diri..." Scott satu persatu menunjukan jarinya.

"Separah apa dia memangnya..?" Ender memegang kepalanya dengan bingung.

"Jadi begini... Pertama Orang orang yang merupakan kreasi di dimensi ini menyadari bahwa diri mereka kreasi dan mereka mengetahui pencipta mereka..." Scott mencoba menjelaskan menggunakan pergerakan tangan secara detail.

"Mengetahui pencipta..?! Seperti Ox dan Ash.." Koraya berucap dalam hatinya lagi.

"Dan mengetahui kegilaan Red Aura Kalian pasti diburu... Kedua, orang orang di dimensi ini mempunyai kekuatan yang bernama aura... Auraku berupa gelembung kecil.." Scott mengeluarkan auranya dari tangannya. Sama seperti yang Dia bicarakan, Ia mengeluarkan sebuah gelembung kecil berwarna kuning yang sedikit tembus pandang.

"Aku dapat melancarkan serangan dan juga mengetahui isi pikiran orang lain jika gelembung Ku mengenai otak mereka.." Perlahan Scott meremas gelembungnya sampai hilang.

"Jadi begitu.." Koraya mengelus dahinya, mulai mengetahui keadaan.

Di tengah percakapan mereka, pelayan datang untuk mengantarkan minuman jadi mereka diam sejenak. Setelah beberapa menit akhirnya Scott mulai menjelaskan keadaan lagi.

"Aura dari Red Aura adalah tentakel tentakel panjang yang keluar dari banyak daerah di tubuhnya... Kekuatan dari tentakel itu sangat luar biasa... Ditambah Teknik bertarungnya yang tidak biasa, Dia memang tak terkalahkan..." Scott memandang Ender dan Koraya lebih serius lagi.

"Terakhir..." Scott menghirup nafas dalam dalam lalu berbicara sekali lagi. "Untungnya telah 1 bulan Red Aura menghilang dari dunia ini... Maksudku, tidak pernah membunuh selama 1 bulan ini.. Mungkin Dia pensiun atau apa lah... Tapi dilihat dari kebiasaannya... Hal seperti itu tak mungkin terjadi.." Ujarnya.

"Menghilang..?" Koraya mulai bingung pada situasi lagi. Untuk meredakan otaknya, Dia meminum beberapa teguk Kopi yang Ia pesan, samanya dengan Ender.

"Ya.... Bahkan para polisi yang biasanya menemukannya kali ini tak bisa menemukannya...." Scott meminum tehnya, kini mulai santai.

"Begitu.... " Koraya memencet tombol alat komunikasi yang berada pada telinganya "Halo... Apa ada yang sudah menemukan petunjuk..?" Tanya Koraya yang terlihat berbicara sendiri.

"Tidak..." Jawaban Light terdengar melewati telinga Koraya. "Sejauh ini sih tidak..." Jawaban Austin juga. "Lah gimana mau ketemu pentunjuk..?! Nyari orang aja susah..." Jawab Ash dengan kesal dan lantang.

"Ya sudah sudah... Sepertinya Kita batalkan saja misi kali ini..." Koraya memberikan perintah dengan tegas. "Kembalilah ke tempat semula..." Lanjut perkataan Koraya.

Scott tersenyum kepada Koraya, "Sepertinya Kamu bersama banyak orang....".

"Ya..." Koraya meneguk kopinya sampai habis lalu menaruhnya gelas kosongnya di atas meja.

"Semoga beruntung....." Scott memberikan jempol kepada Koraya.

"Tentu.. Terimakasih.." Jawab Koraya, perlahan bangkit dari duduknya. "Ayo Ender.." Koraya menengok.

"Tidak jadi..? Ya sudahlah..." Ender pun bangkit dari duduknya mengikuti Koraya.

"Terimakasih Scott atas info dan traktirannya..." Ender menunduk sedikit ke arah Scott.

"Ya tentu..." Jawab Scott sambil tertawa. 

Sesaat Koraya dan Ender meninggalkan cafe tersebut, Scott memandangnya dari dalam melalui jendela selagi tersenyum.

Mereka berdua segera kembali ke tempat datangnya mereka melalui portal, untuk berkumpul lagi dengan yang lainnya. Saat Koraya dan Ender sampai, Ash, Floyd, Austin, dan juga Magenta sudah datang mendahului mereka.

"Yo..!" Saut Light dari kejauhan setelah melihat yang lainnya sudah berkumpul. Ia mempercepat langkahnya dengan Habiki.

"Koraya Kamu benar benar ingin membatalkan misi ini...?" Austin menoleh ke arah Koraya dengan bimbang.

"Ya... Ini adalah misi yang mustahil... Tapi lain kali Kita akan lakukan..." Koraya menjawab dengan datar, lalu memasang portal untuk kembali ke dimensi 1 menggunakan PD yang Ia bawa.

"Terserah lah...." Floyd tidak terlalu memperdulikan keadaan, hanya melihat lihat sekitar saja. Tanpa percakapan lanjut mereka semua memasuki portal dengan urutan yang hampir sama dengan saat masuk

Saat sampai di sisi lain, mereka disambut oleh Ox yang sedang duduk santai "Bagaimana bagaimana..??!! Kalian bahkan tak menelpon ku..!!" Ox berdiri lalu menghampiri mereka dengan semangat.

"Kami tidak mampu menemukannya..." Jawab Koraya, tertawa canggung. "Tapi Aku mendapatkan informasi.." Koraya menunjukan jari telunjuknya.

"Red Aura menghilang sejak sebulan yang lalu..." Sambil mematikan portal, Koraya berusaha menjelaskan keadaan kepada tim. "Lah..? Lalu..?" Tanya Ox sambil mendengarkan serius.

"Walaupun Ia menghilang, Ia tetap berbahaya... Kedua Dia mengetahui keberadaan Ku sebagai penciptanya..." Koraya meneruskan perjelasannya lebih tegas lagi.

"Mengetahui katamu..? Sepertiku ya..." Ox dengan mudahnya menerima dan mengetahui keadaan. "Ya... Tapi dari sifatnya kalau Dia bertemu denganku pasti Ia langsung membunuh ku..." Koraya menunduk dengan ragu.

Ox yang terkejut menutupinya dengan senyuman. "Aku takkan membiarkan itu..!" Ujarnya dengan tegas sekali.

"Oi oi kacamata Kamu sangat mencurigakan... Apa Kamu merahasiaan sesuatu..?" Floyd yang biasanya tidak peduli mulai mendekati Ox.

"Hm.... Kamu jeli juga Floyd... Jadi seperti ini... Jika Koraya mati.. Kita semua akan mati.." Ox memberikan senyuman terpaksa.

"Apa?!!" Semua orang memandang dengan terkejut, terutama Ash dan Ender.

"Bodoh, kalau begitu buat apa mengikut sertakan Koraya untuk misi berbahaya seperti mencari karakter buatannya..?" Floyd membantah.

"Itu resiko yang harus diambil... Karena hanya Dia yang mengetahui identitas karakter..." Jawab Ox, menelan air liurnya dengan penyesalan.

"Akan kulindungi Kamu sepenuh hati...! " Light menghunuskan pedangnya tanpa alasan. "Ya..! Kami juga..!!" Ash dan yang lainnya tertawa memandangi Koraya.

"Terima kasih..." Jawab Koraya dengan senyuman yang tulus dan bahagia.

"Ah ya sudah lahh..." Floyd perlahan berjalan ke arah meja untuk mengambil remot lalu menyalakan TV karena bosan. Namun yang pertama muncul adalah sebuah berita siaran langsung berisi.

'Makhluk dengan kekuatan aneh seperti tentakel menyerang kota barat tapi sekarang sedang dilawan oleh pria dengan kain menutupi wajahnya yang tampak bisa berteleportasi? Walau Kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi polisi akan segera menangkap mereka berdua yang membuat kerusuhan.’.

"A-apa..?!!" Pandangan semua orang terpAku pada berita tersebut, mereka semua terkejut. Walau terkejut mereka tak sekaget Ender dan Koraya yang mengetahui siapa mereka itu.

"Red Aura..." Koraya menatap lalu berbicara pelan pelan.

"R-red aura..?!" Habiki dan juga Ash yang asalnya terfokus pada berita langsung menengok kepada Koraya.

"Y-ya...." Jawab Ender dengan ragu dan sedikit panik.

"Siapkan diri kalian... " Light melakukan beberapa perenggangan tangan untuk bersiap siap.

Saat Koraya baru saja akan beranjak pergi Ender menghentikannya "Sepertinya Kamu harus mengundurkan diri kali ini... " Ender terpaksa mengatakannya.

"Kenapa..?!" Koraya menolak dengan keras.

"Terlalu beresiko.." Jawab Ender dengan dinginnya. Tanpa berbicara dengan Koraya lagi mereka berangkat menuju lokasi menggunakan portal yang Ox baru saja pasang. Dipimpin Light dan Ash, diakhiri oleh Ender. Tak lama setelah mereka masuk portal menutup dengan sendirinya, namun tak ada satu pun dari mereka yang membawa PD.

Di lokasi tersebut banyak polisi sekali polisi dan tim SWAT yang mengelilingi Red Aura dan satu orang lagi yang sedang bertarung habis habisan.

"Hahaha.... HAHAHA... Sepertinya Kamu tidak tahu kapan harus menyerah ya...!!" Red Aura tertawa di hadapan orang yang terjatuh dengan penuh luka.

"Tidak... Aku akan menang..." Jawab orang tersebut, namun terdengar dari suaranya dan juga dari kekuatannya Dia adalah Black Eye atau bisa dibilang Cade.

Red Aura tersenyum sinis. Rambutnya coklat berantakan. Matanya merah dengan tatapan psikopat. Bajunya sebuah rompi tangan panjang dengan bagian lengan sebelahnya robek. Ia juga memakai syal yang dipakai disekitar lehernya. Di seluruh tubuhnya dipenuhi tentakel merah yang tembus pandang.

"Aku sih males main main sekarang... Jadi boleh langsung Ku bunuh kan..?" Tanya Red Aura kepada Dirinya sendiri, tersenyum.

"Kalau bisa---" Sebelum kata kata Cade selesai, tentakel Red Aura sudah melaju cepat dan meninggalkan luka gores di pipi Cade, tentu Ia tak sempat menghindar sepenuhnya.

"LUAR BIASA..!!! " Red Aura tertawa seperti psikopat. "Cih Dia gila.... " Cade membuang air liurnya ke atas permukaan tanah.

Para polisi yang mengepung mulai beraksi dan meneriaki kepada mereka. "ANGKAT TANGAN Kalian DAN MENYERAHLAH...!" Panggil salah satu polisi sambil mengarahkan pistolnya ke arah Red Aura dan juga Cade, diikuti polisi lainnya.

"BODOH..! APA YANG Kalian LAKUKAN..!!" Cade menengok ke sekelilingnya, berteriak kesal.

"Sudahlahhh...." Red Aura memberikan senyuman tanpa henti saat memandang Cade.

"Aku akan menghabisi mereka dulu ok..?" Lanjut Red Aura. Dalam sekejap mata semua tentakelnya menyerang mereka sekaligus sampai tak ada yang tersisa dalam satu serangan. Mereka semua terlemparkan ke berbagai tempat sampai tak sadaran diri.

"C-cepatnya..." Cade membuka matanya menolak kenyataan.

"Yah... Padahal asalnya Aku berniat untuk memotong kepala mereka tapi ya sudahlah..." Red Aura melihat satu persatu manusia yang masih hidup lalu mengipasi Dirinya sendiri.

"Tch... Dengan ini Aku tak akan bisa menang...." Cade mulai meragukan kekuatannya sendiri dalam hati.

"Nah... Sekarang hanya Kita berdua ya kan..." Red Aura memegang pipinya sendiri, mengeluarkan lebih banyak tentakel.

Tapi sebelum menyerang, tiba tiba pandangannya teralihkan ke atas salah satu gedung. Di sana ada Habiki yang menarik busur panah kepada Red Aura. Saat Red Aura menyadari tembakannya, Ia sempat menghidarinya lalu mendapatkan serangan belakang kejutan dari Ender.

Ender berlari ke arahnya dari belakang lalu menebas beberapa kali, sesudah itu kembali melompat mundur.

Tetapi Red Aura tak terluka sama sekali karena Dirinya menangkis semua serangan Ender dengan tentakelnya yang ada dimana mana, tanpa menggerakan anggota tubuh sedikit pun.

"Uuuu.. Menarik... Walaupun Aku bisa membunuh Kalian sekarang juga tapi melihat dari jumlah Kalian ini agak curang ya...." Red Aura menggaruk rambutnya, tertawa.

"Ah masa.... Engkau yang disebut sebut sebagai kriminal paling mematikan masa tAkut dengan 3 orang..." Ledek Ender, Dia terdengar tertawa dari balik topeng.

"Ya walaupun Aku pernah mengalahkan 87 orang sekaligus... Tapi Kalian ber 8 menyergapku... Ini tidak adil kan..." Red Aura mengangkat telunjuknya seperti lelucon.

"Ber 8...?! Bagaimana Kamu tahu..?!" Ender terkejut oleh kata kata Red Aura, tersenyum ragu dari balik topengnya.

"Yah itu sih firasat... Tapi... Aku akan melarikan diri kali ini.... Tapi tenang... Kalian akan segera bertarung dengan ku... Ups salah.. Dibunuh oleh ku..." Sambil melambaikan tangan, Red Aura melarikan diri dengan cepat menggunakan tentakel tentakelnya untuk menambah kecepatannya dua kali lipat.

"Apa apaan...." Ender memandang Red Aura yang melompat lompat dari gedung ke gedung dengan keanehan, tanpa mengejarnya sama sekali.

Cade yang terjatuh tanpa daya, tersenyum, perlahan lahan bangkit "Kamu datang telat..." meledek Ender, lalu kain di wajahnya terjatuh.

"Bukankah pahlawan selalu datang telat...?" Balas Ender dengan senyum di balik topeng, namun tetap saja terlihat dari luar.

"Kenapa Ia kabur...?" Tanya Light, menghampiri Ender bersama Austin dan Magenta lalu disusul oleh Floyd dan Ash di belakangnya layaknya saudara.

"Aku juga tidak tahu... Dia tak bisa ditebak sama sekali..." Ender mengkerutkan wajahnya kebingungan.

"Kamu tak apa Cade..?" Light meraih tangannya saat mendekatinya, dengan maksud peduli.

"Menjauh...." Cade menolaknya mentah mentah karena harga diri.

"Tapi Kamu perlu dirawat Ox sekarang juga... Kamu terluka parah.." Ender memandangi wajah Cade yang babak belur.

"Aku akan menyembuhkan diri dimarkas kalian.. Tapi sesudah itu Aku akan langsung pergi..." Cade terlihat terpaksa mengikutinya.

"Ya ok..!" Jawab Ender dengan senyuman yang tak terlihat lagi.

"Hei tungguuu...!!!" Teriak Habiki dari kejauhan sambil berlari menuju mereka dengan secepat mungkin.

"Iya iyaa...." Jawab Ender, menyilangkan tangannya. "Ayo Kita segera kembali ke tempat Koraya..." Sekarang tampaknya Ender menjadi pemimpin pengganti Koraya.

Mereka akhirnya pergi kembali ke markas bersama sama dengan santainya. Namun sepertinya mereka terlalu lambat dan tak membaca keadaan.

Sesaat mereka sampai pemandangan yang menyambut mereka sangat mengejutkan semua orang.

"A-apa apaan...." Ash menghentikan langkahnya, di sisi lain Ender tak kuat melihatnya hingga menutup wajahnya yang sudah tertutupi.

Bagian depan rumah Koraya sudah hancur berkeping keping tanpa adanya jejak jejak bom atau hal penghancur sebagainya.

"Tch..!" Tanpa berpikir panjang Light berlari memasuki rumah Koraya, diikuti oleh Ash di belakangnya.

"T-tunggu...!!!" Habiki yang sama paniknya juga mengikuti mereka berdua di belakang.

"Bodoh... Kalian tidak melihat hal yang lebih penting..." Cade meremas tangannya dengan sangat frustrasi.

"Ya... Aku tahu..." Floyd mengikuti perkataan dengan pemikiran yang sama dengan Cade.

"Kain depan tenda sudah dirobek seperti bekas benda tajam..." Floyd menunjuk depan tenda.

"Lebih tepatnya tentakel yang tajam..." Cade menghela nafasnya lalu memperjelas perkataan Floyd.

Pandangan Ender terpAku pada depan tenda. Karena khawatir, Ia bergegas memasuki tenda dengan terburu buru. "Oi tunggu..!!" Magenta dan Austin yang berusaha untuk tetap tenang mengikuti Ender dari belakang selagi Floyd berjalan dengan perlahan bersama Cade untuk tetap dalam keadaan siaga.

Saat memasuki dalam tenda Ender disambut oleh pemandangan yang lebih mengerikan lagi. Ox sudah terbaring dengan banyak luka di dekat dinding dan Koraya yang sedang diangkat kepalanya dengan satu tangan Red Aura.

"Oh halo...!!" Red Aura melambaikan tangannya yang kosong kepada Ender setelah menyadari keberadaannya.

"Kata Aku juga.... Kita akan segera bertarung lagi... Akan Ku bunuh..." Lanjutnya kepada Ender, Austin, dan Magenta yang baru masuk. Ia tersenyum sinis, tidaklah normal.

Keadaan di markas mereka seketika menjadi sunyi dan dingin. Melihat keadaan Koraya dan Ox, Ender tidak bisa diam saja, Ia menjadi terbawa emosi.

"Turunkan Koraya..."  Ender tidak kuat memandangnya, hanya melihat ke bawah sambil menggertak.

"Ho..?? Yakin...?? Padahal Aku sama Koraya baru saja bermain.. Ya kan ..?" Red Aura menengok ke arah Koraya seperti hanya mainannya.

"M.. Musnahlah..." Koraya perlahan membuka matanya dengan benci.

"Kok Kamu begitu sih... Bukannya Kamu sendiri yang mencariku..." Red Aura menutup wajahnya sendiri dengan tangan satunya, lalu tertawa kecil kecilan.

"Akan Ku kalahkan...." Ender perlahan lahan memegang gagang pedangnya dengan bergetar.

"Hah apa..?" Red Aura menaruh tangannya di telinga.

"Bukan apa apa..." Ender berusaha tetap tenang lalu berlari menuju Red Aura dengan pedang di tangannya.

Ender menebasnya beberapa kali tapi tetap saja serangannya dapat ditahan oleh tentakel Red Aura tanpa membuat tubuhnya bergerak.

"Tch..." Pada serarangan terakhir, pedang Ender tertelan oleh tentakelnya membuatnya tidak bisa kabur dengan pedangnya. Pilihannya hanya menunggu di depan Red Aura atau melepaskan pedangnya.

"Woah... Keren juga ya..." Red Aura terlihat pura pura kagum. Melepaskan kepala Koraya membuat Koraya terjatuh di hadapannya. Ender tidak fokus karena memperhatikan Koraya yang sedang terjatuh, tanpa disadari Red Aura bersiap untuk memukulnya tepat di wajah.

"Hah...?" Tapi balasannya, lengan yang asalnya ingin memukul Ender terhenti, tak bisa bergerak. Red Aura yang merasakannya langsung melihat ke sekitarnya, Ia segera melihat dan menyadari Magenta yang sedang mengulurkan kedua tangannya kepada Red Aura.

"Takkan kubiarkan...!" Magenta kehabisan nafasnya perlahan namun tetap saja memaksakan untuk bicara.

"Wanita sialan--" Red Aura yang sedang berbicara menerima tendangan sikut dari Ender tepat di wajahnya membuat pedang Ender terlepas dari tentakelnya, karena kurang fokusnya Red Aura. Saat Red Aura memegang kepalanya sendiri karena kesakitan, Ender segera mengambil pedangnya lalu melompat mundur ke belakang.

"Uhhhh menarik...." Red Aura mengusap kepalanya sambil tertawa. "Ayo Kita tingkatkan 1 tingkat..." Ia mempertahankan senyumnya yang sinis sampai sekarang.

Tanpa disadari oleh Red Aura, Austin mengeluarkan serangan untuk mengurung Red Aura dalam kurungan air yang tebal.

"Sepertinya fisiknya tidak sekuat Dawn jadi---" Austin yang sedang berbicara tiba tiba diserang dengan tentakelnya Red Aura yang menembus kurungannya tersebut. Austin berhasil menghindari serangannya di detik detik terakhir namun serangan kejutan tersebut membuatnya tidak fokus dan kurungannya itu terbuka sendiri karena kurang konsentrasinya Austin.

"Oalah... Apa Kalian memang berpikir akan mengalahkan Ku semudah itu...?" Red Aura perlahan lahan mendekati mereka, tertawa.

Red Aura memegang syalnya dan matanya terlihat lebih merah dari sebelumnya. Tentakelnya juga terlihat lebih banyak, seakan akan tumbuh dalam sekejap. "Akan Ku tunjukan apa artinya kekalahan sebenarnya..." Tatapnya, dengan tatapan pembunuh yang sesungguhnya.

Ender bersiap siap dengan kuda kudanya setelah melihat betapa seriusnya keadaan sekarang.

Red Aura berlari menuju Ender dengan semua tentakelnya mengarah ke depan, seperti bersedia untuk menyerang. Saat Ender sudah bersedia untuk menahan serangannya, melainkan menyerang Red Aura malah melompat ke belakang Ender melalui atas kepalanya. Saat mendarat Ender menjadi panik dan bertindak gegabah. tekanan padanya membuatnya menebas asal asalan saat membalikan badan.

Red Aura menghindari serangannya yang kAku lalu diam diam melilitkan tentakelnya di leher Ender, perlahan tekananya mengeras membuat pergerakan Ender berhenti ,"Akh..!!" Ender meraba lehernya.

Tentakel Red Aura mengangkat Ender,  berniat untuk mengangkatnya selama bertarung. Red Aura memandang Austin dengan serius karena waspada.

Red Aura berlari ke arahnya tanpa hesitasi, menarik Ender yang sedang sesak di lehernya.

Austin yang hanya bagus dalam pertarungan jarak jauh, dipaksa menghadapi Red Aura secara langsung. Tetapi saat Red Aura ingin menyerang dengan memukulnya, seluruh tubuhnya terhenti dengan paksa seperti kejadian sebelumnya. Red Aura melirik ke arah Magenta secepatnya, Ia memerintah salah satu tentakelnya untuk menampar Magenta hingga terjatuh. Setelah pergerakannya pulih Dia langsung melemparkan Ender ke arah Magenta.

Saat pandangan Red Aura kembali pada Austin, Dirinya melihat ombak air berada tepat di belakangnya.

"Musnahlah.." Austin menlancarkan ombak air yang sangat deras tersebut, membuat Red Aura yang menangkis dengan tentakelnya itu kesusahan. Namun serangan itu juga berdampak banyak kepada markas mereka yang menjadi lebih rusak lagi.

"Hah... Hah... Sudah beres..?" Austin menghembuskan banyak nafas kecapean.

Markasnya tampak sangat hancur, banyak hal yang sudah tak terbentuk. Red Aura tergeletak di depannya dengan banyak puing puing bangunan di atasnya.

Namun, "HAHAHAHA.... MENYENANGKAN..." Red Aura tertawa dan bangkit kembali dari tumpukan reruntuhan tersebut.

"KITA TINGKATKAN LAGI..!!" Red Aura membukakan lengannya lebar lebar.

"I-itu bukan kekuatan sepenuhnya..?!" Austin meremas tangannya keras keras. "Aku juga bisa meningkatkan kekuatanku tapi Aku...." Austin memikirkan hal tersebut dalam hati.

"Sepertinya Kalian bersenang senang..." Cade berjalan memasuki tenda dengan luka yang belum juga pulih.

"Oh..!! Kamu..!! Mau Aku siksa lagi..?" Red Aura menoleh ke arahnya

"Ngga ngga... Bukan Gw..." Cade mengipas ngipas wajahnya.

Dari luar tenda Kayu kayu panjang melaju ke dalam dan menyerang Red Aura, disusul oleh api yang merambat di kayu tersebut.

Red Aura kurang cepat menyadarinya, walau begitu tetap saja melompat pada waktunya.

Ash dan Floyd memasuki tenda tersebut dengan kekuatan mereka yang sudah mereka keluarkan. Floyd dengan kayu dipunggungnya dan Ash dengan api di tangannya.

"WOAHH FLOYD..!! SERANGAN TADI Kita NAMAIN APA..?!" Ash menengok ke sebelahnya dengan semangat.

"Diam..!!" Floyd berusaha menenangkan saudaranya yang gaduh.

"Yang akan menghajar Mu adalah mereka.." Cade memandang Red Aura, sambil menunjuk ke arah Ash dan Floyd dengan jempolnya.

"Tentakel Mu terlihat berbeda dengan tentakel ku...." Red Aura memiringkan kepalanya..

"Apaan sih ga jelas...." Floyd memasang wajah yang tidak peduli sama sekali. "HAHAHA.." Di sebelahnya Ash menyenggol sambil tertawa.

"Kamu lagi samanya.." Floyd mendorong jauh jauh Ash. "Ayo Kita akhiri..." Lanjutnya, selagi menghadap ke arah Red Aura.

"Ash.." Floyd tetap menetapkan pandangan pada pergerakan Red Aura "Dapat dimengerti.." Jawab Ash sambil memperbesar api yang terdapat pada tangannya.

Ash langsung berlari ke arah Red Aura dengan secepat mungkin untuk menyerangnya. Red Aura meremehkannya, memang benar pergerakan Ash tampak mudah ditebak,maka Dia hanya memukul balik dengan mudahnya. Namun saat pukulannya sampai, Ash tersebut berubah menjadi gumpalan api lalu menghilang. Red Aura terkejut dan langsung melirik ke kiri dan kanan. Ia segera menoleh ke belakang dan menerima pukulan dari Ash, sesudah itu Ash mundur beberapa langkah ke belakangnya.

"Kalian luar biasa---" Red Aura yang sedang berbicara diserang oleh salah satu kayu Floyd yang melaju ke arahnya. Sayangnya Ia masih dapat melompat dan menghindari serangan tersebut.

"Tidak ada waktu untuk berbicara.." Floyd menatap Red Aura dengan serius, kali ini yang meremehkannya adalah Floyd. Dia terus menerus menyerang Red Aura dengan kayunya yang menusuknya satu persatu. Red Aura berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari dan menangkisnya dengan tentakelnya, hal itu membuatnya berhasil menghindari 90% serangan Floyd.

Selagi Floyd menyerang, terkadang Ash melawan Red Aura dari belakang secara acak untuk membuat Red Aura kebingungan dan kewalahan. Walaupun hanya mendapatkan sedikit serangan yang mengenainya, tapi Ash dan Floyd tetap saja berhasil mengimbangi Red Aura.

Setelah banyak kesalahan, akhirnya Red Aura menahan salah satu kayu Floyd lalu menariknya sampai patah.

Ia menggunakan kayu patah itu untuk melemparkannya ke arah Ash yang akan menyerangnya tiba tiba dari belakang.

"Ya tentu Aku akan serius sedikit...." Red Aura memijit lehernya sendiri lalu memandang Floyd dengan serius. Di sisi lain, Cade muncul di belakang Red Aura. Sebelum Red Aura dapat menghindari sepenuhnya, Cade menebasnya dengan pisau.

Red Aura mendapatkan luka dari serangan itu, tepat di sisi punggungnya. Dia segera memukul Cade ke belakang dengan tentakelnya. Saat menoleh kembali, Ia langsung menerima pukulan berturut turut dari Ash menggunakan tangan apinya. Red Aura berusaha dengan sangat keras untuk menahannya kembali.

Namun dikarenakan kekuatan dan kecepatan Ash yang luar biasa, akhirnya Red Aura tak mampu menghindari, hanya menahan sebagian besar pukulan Ash dengan tentakelnya. Namun entah kenapa, tangan Ash yang tertahan tentakel tetap saja mengenai dan melukai wajah Red Aura. Membuatnya kecoh dan Ash memukulnya sekali lagi membuatnya terpukul mundur.

"Apikan tidak berwujud samanya dengan tentakel mu... Jadi itu akan menjadi kelemahan mu..." Ash melipat tangannya dengan sombong.

"Halah... Itu ide dariku..." Jawab Floyd dari kejauhan. "Diam..!!" Ash menengok ke belakang dengan kesal.

"Aduh Aduh Kalian kuat juga ya... Kalau begitu--" Red Aura yang sedang perlahan bangkit, dipotong lagi perkataannya dengan serangan air yang tiba tiba meluncur menuju wajah Red Aura.

Red Aura yang terkejut langsung bertindak spontan, Ia menutupi depan wajahnya dengan tentakelnya supaya menangkis serangannya tersebut. Namun saat serangan Austin hampir mengenai tentakelnya, airnya berputar ke belakang Red Aura dan berubah bentuk menjadi 4 buah jarum panjang yang bersiap menyerangnya dari belakang.

Baru saja sesaat Red Aura menoleh ke belakangnya untuk bertahan, Ender menyerangnya dari depan bersamaan dengan kayu Floyd. Secara serentak Ash melompat ka atas Red Aura bersiap menyerangnya dari posisi tak terlihat.

Seketika tubuh Red Aura juga tak bisa bergerak karena kekuatan dari Magenta. Saat itu Red Aura di kelilingi oleh 5 serangan  sekaligus. Orang biasa tak mungkin bisa menghindarinya sama sekali, namun dalam kasus ini tentakelnya masih tetap bisa bergerak.

Red Aura tersenyum, Ia menggerakan tentakelnya dengan acak dan kencang ke sekitarnya membuat serangan Austin dan kayu Floyd hancur.  Lalu mendorong jauh Ender, Ash, dan juga Magenta yang padahal terletak paling belakang. Serangan mereka semua gagal, kali ini Red Aura lebih unggul dari yang lainnya.

"HAHAHaha..?" Red Aura yang mulanya tertawa, setelah mendengar langkah kaki yang sedang berlari ke dalam tenda Dia terhenti.

Sebuah tebasan cahaya melintasi ruangan di tenda tersebut. Red Aura berusaha menahannya dengan tentakel, tapi usahanya gagal karena cahaya tersebut langsung menembus tentakelnya, membuat Red Aura terbawa dan terdorong ke ujung ruangan.

Saat Red Aura baru saja mengenai tembok, Light berlari ke arah Red Aura dari luar tenda ke dalam. Ia melancarkan banyak tebasan menggunakan pedang kepada Red Aura.

Red Aura yang baru saja terlemparkan, kesusahan saat mencoba menangkis semua serangan dengan tentakelnya. Serangan terakhir, Light mengeluarkan cahayanya lagi membuat Red Aura menunduk dengan paksa untuk menghindarinya. Dia menebasnya dan meninggalkan luka di pundak Red Aura. Untuk beristirahat, Light melompat ke belakang sejenak.

"MENARIK..!" Teriak Red Aura, Dia mengeluarkan tentakelnya lebih banyak lagi untuk menyerang Light.

Light menghindari tentakelnya dengan cara berlari berkeliling ruangan. Namun tentakel Red Aura tetap mengikutinya, merusak semua interior ruangan markas mereka saat melaju, membuat dalam markas lebih kacau lagi.

Saat pandangan Red Aura terfokus pada Light, sebuah anak panah ditembakan dari luar tenda mengenai Red Aura di bagian pipi karena kelambatannya dalam menghindar.

Pandangan Red Aura sesaat teralihkan menuju pintu keluar tenda, membuat Light bisa bergerak bebas. Dia berlari ke arah Red Aura dengan pedang di tangannya siap menebas bersamaan dengan Habiki yang baru saja masuk tenda sambil berlari dengan pedangnya.

Saat itu juga Red Aura terkepung untuk kedua kalinya, sekarang oleh Habiki dari depannya dan Light di belakangnya.

"ITU TAKKAN MEMPAN..!!" Red Aura berteriak, menganyunkan tentakelnya ke arah Light dan Habiki secara bersamaan, membuat mereka terlemparkan menuju sebuah dinding. Namun tepat saat hal itu terjadi Cade muncul di atas Red Aura, Dia menendang kepalanya membuat Red Aura terlemparkan ke dinding sama seperti Light dan Habiki.

Saat baru saja Red Aura terbentur, Ash datang kepadanya dan memukul kepalanya ke bawah membuatnya terjatuh. "Dapat.!!" Teriak Ash, Dia melangkah mundur secepat mungkin.

Magenta mengarahkan tangannya ke Red Aura sambil mengeluarkan kekuatannya untuk membuat Red Aura diam. Disusul dengan kayu Floyd yang dililitkan di badan sekitar Red Aura. Setelah itu Austin juga membuat kurungan air di sekeliling Red Aura.

"HAHAHA.. Menang.!!" Ash berteriak sembari menunjuk nunjuk Red Aura yang terkurung. "Berisik..!!" Sentak Floyd dari belakang, dengan emosi kepada Ash.

"Hahahaha... HAHAHA.. LUCU.. Kalian MEMANG LUCU..!" Red Aura terdengar tertawa dari dalam kurungan.

"Akan Ku tunjukan kekuatan Ku yang sebenarnya..." Sekali lagi Dia berbicara. Tiba tiba tentakel tentakelnya keluar dari kurungan tersebut, lebih panjang dan lebih banyak dari sebelumnya. Tentakel tentakel tersebut menyerang ruangan secara acak dan sangat ganas membuat seisi ruangan ancur.

Austin mulai memprioritaskan keselamatannya sendiri, Ia tidak fokus lagi kepada kekuatannya dan melepaskan kurungan air yang menahan Red Aura. Dia lalu berusaha membuat dinding air di depannya untuk melindungi Magenta yang ada di belakang. Light dan Habiki melindungi diri mereka sendiri dengan pedangnya di atas kepala. Floyd memasang tembok kayu untuk melindungi Ash, Koraya, dan Cade. Lalu Ender melindungi Ox dan Dirinya sendiri dengan pedangnya yang tipis .

Red Aura yang terlepas dari kurungan air terlihat sudah mematahkan kayu yang melilitnya, menunduk sambil tersenyum ke bawah, sementara tentakelnya menyerang yang seluruh hal di sekitarnya.

"Ender..." Ox baru sadaran diri, memaksakan diri untuk berbicara.

"Ox..!! Bertahanlah..!!" Jawab Ender dengan tegas kepada Ox.

Ox menggapai PD lalu memberi tahu Ender sesuatu, "Ender... Aku tak tahu ini akan membawanya kemana tapi... Aku akan memasang portal ini lalu Kamu akan berusaha mendorongnya ke portal itu.. Sesudah itu Kita akan mengurungnya di dimensi itu...".

"Tapi..!! Nanti warga dimensi itu akan dibunuh olehnya..!!" Jawab Ender selagi menangkis serangan tentakel yang terus menerus datang.

"Kita akan merencanakannya untuk beberapa jam, lalu Kita akan menyerangnya lagi.. Kita butuh rencana dan persiapan..!" Ox berusaha meyakinkan Ender lagi.

"Tapi banyak orang akan mati..!!" Ender membantahnya terus menerus.

"Kehilangan 100 orang itu lebih baik dari pada Kita semua mati dan akhirnya semua orang akan mati olehnya karena Kita tidak bisa melindungi mereka..!!" Sambil terdampar di belakang Ender, Ia mempertegas perkataanya sekali lagi..

"Tapi..." Ender menunduk, menolak kenyataan yang ada.

"Lakukanlah.. Kumohon.." Ox memohon kepadanya.

"Ya sudah..." Ender bangkit, Ox segera menyiapkan PD yang ada di tangannya lalu memberinya ke Ender.

Ender menyiapkan mentalnya, Dia berlari ke arah Red Aura sambil menahan serangan serangan yang ada dengan pedangnya. Red Aura melirik Ender dengan terkejut. Saat sudah di hadapan Red Aura, Ender mendorongnya dengan bahu sekencang mungkin. Ox memasang portal secepatnya dari kejauhan, membuat Red Aura terjatuh ke dalam portal tersebut bersamaan tentakelnya.

Ender tersenyum lega, menatap Red Aura yang terjatuh dari atas.

Namun.

Tentakel terakhir Red Aura melilit dan menarik kaki Ender, membuatnya terjatuh dan tertarik ke dalam portal bersamaan dengan Red Aura. Karena telat, Ox sudah menutup portal tersebut terlebih dahulu, membuat Ender terjebak dengan monster tersebut.

"ENDER..!!" Teriak Ash, yang lainnya memandangi tempat terakhir Ender berada dengan tak percaya dan gelisah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Red Aura saga

Part 4 : Showdown

Sesampainya di sisi lain, Ender dan Red Aura terguling guling lalu tergeletak di sebuah aula lega dengan banyak hiasan antik di pinggirnya dan juga kaca kaca yang berjajaran di sepanjang dinding.

"Aduh nona... Gimana nih Kamu terpisah dengan teman teman...!!" Red Aura bangun lalu meledeknya dari belakang.

Ender perlahan lahan bangun, "Malahan bagus.... Aku bisa mengeluarkan kekuatan penuh Ku tanpa ragu..." Jawab Ender, tersenyum

"Kalau begitu tunjukan lah..!!" Red Aura mengeluarkan tentakelnya kembali.

"Kalau Aku mengeluarkannya sekarang Dia pasti tahu akan kekuatan Ku lebih cepat jadi..." Ucap Ender dalam hati, Ia berusaha mencari solusi terbaik yang ada. "Akan Ku kerahkan seluruh kekuatan Ku sebagai manusia..!!" Ender menggunakan kuda kudanya, mencoba untuk menerobos batas kekuatannya.

"Maju..!!" Tawa Red Aura dengan sombongnya.

Ender berlari ke arah Red Aura secepat mungkin sambil menangkis tentakel tentakel Red Aura yang menyerangnya dengan cepat. Ender berhasil mendekatinya dan mulai menebasnya berkali kali tanpa henti. Walaupun kebanyakan serangan Ender tertangkis tetapi serangan Ender menjadi semakin kuat dan cepat seiring waktu berjalan membuat Red Aura sangat kewalahan.

Saat Red Aura sudah terkena banyak serangan, Ia berniat memukul Ender mundur dengan tentakelnya. Dia memukulnya, Tapi saat sudah terpukul mundur Ender tak tahu istirahat, Ia segera bangkit kembali lalu berlari ke arah Red Aura sekali lagi membuatnya heran, Dia mulai tersenyum.

"Baiklah akan Ku keluarkan semua kekuatan Ku juga HAHAHA..!!" Red Aura mengeluarkan tentakelnya lebih banyak lagi, sangat banyak, Mungkin 5 kali lipat dari tentakel asalnya. Ender yang sudah terlanjur dipenuhi tekad, tidak peduli lagi sebanyak apa tentakel yang ada. Dia tetap berlari menuju Red Aura dengan sekuat tenaga.

Tapi tekadnya terhenti seketika saat tebasan pertamanya tertahan dan tidak bisa bergerak sama sekali karena tentakel Red Aura. Saat Ender mulai risau, Red Aura memegang kaki Ender dengan tentakelnya lalu membantingnya berkali kali sampai Ender tak bisa berkutik sama sekali dan sampai putus asa.

"TUH KAN.. KOK KALAH SIH.. AYO Kita BERKELAHI LAGI..!! KALAU ENGGA.. Akan Ku bunuh.." Red Aura berkali kali berteriak seperti orang gila, Ia terus membantingnya, lagi dan lagi.

"Ya.. Bunuh aja... Lagi pula Aku ini lemah..." Ender sudah pasrah, Dia memikirkan untuk mati saja dalam pikirnya.

"Tapi Aku mempunyai orang yang perlu Ku lindungi di dunia ini..." Tapi Dirinya sadar, tak ada waktu untuk putus asa. Wajah Koraya dan yang lainnya terlintas dibenaknya.

"Karena itu Aku akan menjadi kuat... Walaupun Aku akan termakan kutukan sekalipun..." Sekali lagi, untuk sekali lagi Ender membulatkan tekadnya.

"Η κατάρα βγαίνει" Kata tersebut Ender ucapkan kembali. Membuat seluruh tubuh Ender kembali menjadi hitam seperti waktu itu.

Saat Ender dibanting lagi, Dia menahan tubuhnya dengan memegang permukaan lantai aula tersebut dengan erat. Walau datar, walau licin, Ender menggali pengangannya sendiri dan menahannya.

"Hah..?!" Red Aura terkejut lalu menengok kepada Ender. "Kamu kok jadi begitu..?" Ia mulai menyadari perubahan Ender.

"Hah.? Gimana Aku dong..!!" Jawab Ender dengan tegas.

"Ah ya sudahlah.." Red Aura menarik Ender lebih kuat lagi sampai sampai lantai yang Ender pegang retak.  "Kamu keras kepala ya..!!!" Red Aura menariknya lebih kencang lagi sampai lantainya hancur dipegang oleh Ender.

Saat diangkat, lantai pegangannya itu dilemparkan ke arah Red Aura, membuatnya terjatuh dan akhirnya Ender pun terlepas. Ender segera melompat menjauhi diri

"Ah Ender.. Tumben Kamu melepaskan ku...." Ender mulai berbicara pada Dirinya sendiri selagi melakukan beberapa pemanasan.

"Menarik...!!! Tampaknya ini wujud Mu yang sesungguhnya..!!!" Red Aura berteriak, perlahan Dia bangkit dari reruntuhan lantai yang Ender lempar.

"Oh tuan... Nama mu..?!!" Balas Ender, melompat lompat, dan merubah tangannya sendiri menjadi pisau tajam.

"Hmm..?" Red Aura memiringkan kepalanya, bingung. Perlahan tertawa, "Panggilan Ku Red Aura.. Namun nama asliku Nicholas.. Kamu orang pertama yang Ku perbolehkan memanggil nama asliku...".

"Gw kepribadian lain Ender.. salam kenal..." Ender yang terkutuk membalas perkenalannya.

Nicholas tersenyum lalu menyerang Ender dengan tentakelnya dari jauh. Ender menghalangi wajahnya dengan tangannya untuk mencegah serangan langsung ke wajah. Tetapi tentakel Nicholas tak melukai Ender sedikit pun karena wujud barunya ini.

Ender tersenyum lalu berlari menuju Nicholas secepat mungkin dan langsung menebasnya. Serangan pertama ditahan olehnya. Namun Ender tak mau menyerah dan terus melancarkan serangan tanpa henti, diakhiri oleh tendangan dari sisi tapi tetap ditahan oleh tentakelnya.

"Menarik..." Ender tertawa. "MARI Kita TINGKATKAN LAGI..!!" Ender dan Nicholas berteriak bersamaan, mereka sekarang memiliki sifat yang tak jauh beda. Sekarang mereka berdua adalah monster yang haus kekuatan.

Ender menumbuhkan duri duri tajam di seluruh kulitnya. Melainkan Red Aura mengeluarkan Tentakel terbanyaknya dan juga terpanjang mungkin 8 kali lipat dari jumlah asal.

Ender berlari ke arahnya dengan kekuatan penuhnya sambil menghindari semua serangan yang dilancarkan oleh Nicholas, mau itu dari sisi dan atas.

Saat sampai Ender menumbuhkan cakar dijari jarinya lalu menyerang Nicholas habis habisan. Walaupun Nicholas menangkis serangan serangannya tapi Dia mulai kesusahan dan akhirnya terkena banyak serangan Ender.

Untuk serangan terakhirnya, Ender mundur dengan cepat lalu menyerangnya kembali seakan akan ingin menyerang dengan tangan kanannya. Tapi rencana Ender adalah untuk menipu Nicholas.

Saat sudah dekat dan sudah hampir memukul wajah Nicholas. Nicholas menangkis serangan pukulan Ender dengan tentakelnya. Tapi tanpa disadari tangan kirinya sudah menjadi pisau tajam yang siap menusuk perutnya dari bawah.

Ender tersenyum dengan angkuh dan mengatakan "Selamat tinggal...".

Tanpa disadarinya, saat Ender baru saja akan mengakhiri pertarungan tersebut Dia tak bisa bergerak sama sekali.

Seluruh tubuh Ender sudah diikat oleh tentakel Nicholas yang melilit dari mulai kaki tangan dan juga leher, membuatnya tak bisa bergerak sama sekali.

"Hahaha..HAHAHA..!!" Dia tertawa sinis, mengangkat Ender ke atas dimana Ender tak bisa berbuat apa apa. Ia mencekik dan meremas seluruh tubuhnya dengan tentakel.

"Yang Ku tahu Kamu yang sekarang ini kebal tapi... KAMU INI MASIH MANUSIA YANG LEMAH..!!" Teriak Nicholas sambil menusukan tentakelnya yang tersisa kepada Ender berkali kali, terus menerus.

Karena kekebalan wujud Ender saat ini, Dia tak mendapat luka fatal tetapi lama kelamaan luka Ender mulai terlihat dari balik kulitnya yang keras.

"G-gawat... Kalau terus begini...." Pandangan Ender mulai memudar.

"Aku akan mati..." Ender yang ditusuk tidak bisa berbuat apa apa.

"HAHAHAHA...." Nicholas tertawa.

"HAHAHAHA..." Ia tertawa lagi.

"HAha.. haha..?" Namun lantai di bawah kaki Nicholas perlahan lahan bergetar dan tiba tiba dua tangan air keluar dari tanah tersebut, menarik kedua kakinya ke dalam tanah.

Nicholas terkejut namun terpukau, segera menoleh ke sekitarnya sambil menjatuhkan Ender. Ender terbentur lantai dan berubah ke wujud asalnya dengan penuh luka.

Nicholas dapat melihat 5 sosok dari kejauhan, di ujung aula tersebut.

Mereka adalah Austin, Light, Habiki, Ash, dan Floyd.

Sebelum mereka semua datang untuk menyelamatkan Ender, sesuatu terjadi kembali di markas.

"ENDER..!!" disaat Ender tertarik ke dalam portal semuanya terpAku diam, dan Ash berteriak terkejut.

"OX...!! Bukalah portal ke tempat Ender sekarang..!!" Ash mendekati Ox secepat mungkin.

"Aku tak tahu Dia dimana.." Jawab Ox, menunduk.

"Bodoh..!! Aku tahu Kamu yang membukakan portal itu..!!" Bentak Ash sekali lagi kepada Ox.

"Tch.. Aku tahu..!! Tapi Kita tak bisa menyelamatkannya sekarang...!!" Ox membantah sekali lagi dengan kesal walau sedang terbaring dekat sebuah dinding dengan banyak luka.

Ash mendekatinya lagi, menunduk lalu menarik bajunya, "Apa yang Kamu lakukan... Buka portal itu sekarang..!!!" Ia menatapnya dengan sangat frustasi.

"H-hei hei..!!!" Magenta berlari ke arah mereka untuk melerainya.

"Ash benar Kita harus menyelamatkannya bersama.." Light menghampiri mereka sambil mencoba untuk tetap tenang.

"Itu akan percuma..!! Kalian melawannya sekali disini saja sudah berbuah kekalahan..!! Kita harus menyusun rencana dulu setidaknya Kita akan menyelamatkan Ender besok..." Ox membentak dengan terpaksa.

"Besok..?!! Kamu gila..?!!!" Ash melepaskan bajunya dengan dorongan keras, lalu kembali berdiri.

"Bodoh... Kita harus punya rencana... Kamu mau Kita mati sia sia...?!" Floyd di sisi lain membela Ox bukannya Ash.

"Ya... Setidaknya Kita harus membuat rencana..." Austin yang sepemikiran dengan Floyd bertindak setenang mungkin.

"Kalau Aku tidak tahu harus berbuat apa... Maaf..." Habiki diam dan menunduk.

Cade di sisi lain hanya diam dan tidak ikut campur dalam urusan tim ini.

"Kalian.. KALIAN..!!!" Ash menaikan nadanya lalu memukul dinding sekeras mungkin sampai sampai retak.

"Ox...." Ash mengepalkan tangannya keras keras.

"Jangan bilang.. Kalau Kamu tAkut mati...?" Ucap Ash dengan perlahan melirik ke arah Ox.

Ox membalas perkataan Ash hanya dengan ekspresi panik dan dengan menunduk perlahan lahan.

"Ternyata benar..." Ash mengeluarkan apinya selagi menatap Ox. Mengarahkan tangannya kepada Ox bersiap menyerang tapi seketika Light, Magenta dan Habiki mengarahkan senjata dan kekuatannya kepada Ash, menahannya supaya tak terjadi apa apa.

"Sudahlah Ash..." Light mengarahkan pedangnya ke arah Ash.

"Bodoh..!!! Bagaimana Aku bisa tenang kalau ada pengecut di depan mataku..!!" Emosi Ash mulai bertambah membuatnya mulai kehilangan kendali.

"YA..!! Aku TAKUT MATI..!!" Ox menggertak, membantingkan tangannya. "Memangnya buat apa Aku mengumpulkan Kalian hah..?!! Untuk melindungiku..!!" Ox menatap mereka dengan tegas.

"Kamu.." Floyd terbawa emosi sama seperti kakaknya, mulai mengarahkan kekuatannya ke arah Ox. Saat baru saja mau menyerang Ox terdengar sepatah kata panggilan dari seseorang.

"F-floyd..." Suara tersebut terdengar patah patah dan lemah.

Floyd menoleh menuju sumber suara tersebut dan melihat Koraya yang baru saja sadaran diri. "Kalian... Kalian seharusnya menyepakati sesuatu dengan seksama..." Koraya memaksakan diri untuk tersenyum.

"Aku tidak peduli pendapatn mu, asalnya... Tapi, setidaknya Kamu sudah membuktikan bahwa Kau tidak berniat jahat kepadaku.." Floyd menurunkan kayu kayunya, menuruti pendapat dari Koraya.

Ash sudah tidak peduli pendapat siapapun, Dia menghampiri Ox lalu merebut PD dari tangannya.

"Aku tidak peduli siapa akan ikut.. Tapi Aku akan menyelamatkan Ender..." Ash mengangkat PD tersebut.

"Aku ikut..." Habiki dan juga Light mengangkat tangannya bersamaan.

"Aku akan ikut...." Floyd menghampiri Ash.

"Yah kalau semuanya ikut begini Aku akan ikut..." Perlahan Austin mengangkat tangannya juga.

"Maaf Aku tak akan ikut... Sepertinya Aku akan merawat Koraya dan Ox disini..." Magenta menundukan kepalanya.

"Aku juga takkan ikut... Jika terjadi apa apa disini Aku akan melindungi mereka.." Cade yang diam saja mulai ikut berkomentar.

"Ya.." Ash mengangguk.

Ash selalu ikut bersama Koraya, dan Ia suka memperhatikan Koraya memasang portal jadi Dia mengerti cara memunculkan portal.

Mereka memasuki portal satu persatu, dipimpin oleh Ash menuju ke tempat dimana bahaya menunggu.

"Ender...!" Habiki berlari menuju Ender secepatnya, langsung menunduk untuk memeriksa keadaannya.

"Kamu terluka sangat banyak..." Habiki memandangnya dengan ketAkutan. "Hehe... Itu tak apa.... Ayo Kita kalahkan orang itu..." Ender perlahan lahan bangkit dengan kesakitan, memaksakan diri.

"Aduh..!" Ender terjatuh kembali setelah berusaha bangun. "Apa yang Kamu lakukan..!!! Beristirahatlah...!" Teriak Ash dari kejauhan, membanting tangannya.

"Tapi..." Ender menunduk karena tidak bisa apa apa.

"Biarkan Kami yang melawannya..." Ucap Light selagi perlahan lahan melangkah ke depan.

Ender kembali berbaring dengan Habiki di sisinya untuk menjaganya dan yang lainnya bersiap siap melawan Nicholas yang berada di hadapan mereka semua.

"Red Aura...! Kamu akan Kami kalahkan sekarang juga....!!" Light mengarahkan pedangnya ke arah Nicholas.

"Silahkan..!!" Nichola keluar dari tanah dimana, Ia terperangkap lalu mengeluarkan tentakelnya sebanyak yang Dia pakai saat melawan Ender.

Light berlari ke arahnya bersamaan dengan kayu kayu Floyd di sekitarnya. Saat Nicholas menyerangnya menggunakan semua tentakelnya, serangan tersebut tertangkis oleh kayu kayu Floyd yang di sekitar Light.

Saat Light sudah dekat dengan Nicholas, Ia menebasnya berkali kali sama seperti saat pertama kali melawannya. Tapi kali ini dibantu oleh kayu kayunya Floyd, membuat serangannya dua kali lipat lebih ampuh.

Nicholas mulai kewalahan karena kecepatan serangan beruntun mereka berdua. Light mengeluarkan serangan cahayanya lagi, namun Nicholas dapat menghindarinya lalu menendang Light jauh jauh. Kayu Floyd tetap menyerang, sampai Ia tak punya celah untuk kabur ataupun menyerang balik.

Disaat yang bersamaan Ash menyerangnya dari belakang. Nicholas ingin melompat tetapi kakinya tertahan oleh tangan air Austin yang datang dari bawah tanah.

Ini sudah ketiga kalinya Red Aura terkepung oleh mereka. Namun usaha itu tak pernah berhasil dikarenakan kecerdikan dan insting dari Nicholas.

Dengan tentakelnya yang cepat, Nicholas menyerang Austin yang berada jauh darinya, membuatnya terjatuh dan tangan air yang menahannya pun terlepas.

Dia segera melompat dengan bantuan tentakelnya untuk menambah kecepatan, hal tersebut membuat serangan kayu dari Floyd mengenai Ash bukan Nicholas.

"Ash..!" Floyd yang tidak sengaja mengenai Ash, mulai menghampirinya.

"Aku tak apa..." Ash yang terjatuh langsung melirik Floyd yang memanggilnya.

"AWAS...!!" Ash berteriak, saat melihat Nicholas yang berada tepat di belakang Floyd.

Floyd perlahan menengok ke belakangnya, tiba tiba terlempar jauh oleh tentakel Nicholas yang menghantamnya dari belakang.

"Kamu..!!!" Ash bangkit dan berusaha memukul Nicholas dengan terbawa emosi.

Tapi sayangnya pukulannya tersebut tertahan oleh Nicholas, seluruh tubuhnya dibelit oleh tentakelnya sama seperti saat Ender waktu itu membuatnya tak berdaya.

Austin mencoba membantu dengan airnya, tapi serangannya kurang cepat dan Dirinya terlanjur dibelit oleh tentakel seperti Ash.

Light berlari menuju Nicholas lalu bersiap menebaskan serangan terakhirnya, namun Nicholas memukul pedang Light dengan tentakel, membuatnya terlempar jauh dari tangannya.

"Aku tahu kekuatan Mu dari pedang itu..." Nicholas yang di hadapannya hanya tersenyum sombong.

Light yang terpancing mencoba memukulnya berkali kali namun tak satu serangannya berhasil. Nicholas menarik rambut Light dengan tentakelnya lalu memukulnya berkali kali sampai tak bisa berbuat apa apa.

"TUHKAN...!" Nicholas berteriak tanpa alasan.

Habiki mulai bergetar dan ketAkutan saat memandang dari kejauhan. Austin, Ash, dan Light saat ini berada dalam genggaman tentakel Nicholas. Ia ingin membantu mereka namun Dia juga harus melindungi Ender secara bersamaan. Tapi karena terpaksa, Habiki bangkit.

"Tunggu dulu....!!" Saut Floyd dari kejauhan.

"Aku membuat kesalahan karena tak menggunakan kekuatan Ku ini saat melawan Dawn tapi... Akan kulakukan sekarang..." Floyd merenungkan diri dalam hati.

"Red Aura....!! Lepaskan mereka Kita akan bertanding satu lawan satu..!" Saat Nicholas menoleh, Floyd langsung menatapnya tepat di wajahnya.

"Bodoh..!! Apa yang Kamu lakukan ..!" Ash yang masih terlilit tentakel membantah perkataan Floyd.

"Tenang Ash... Aku tahu Red Aura hanya menginginkan kesenangan kan...?" Floyd melakukan peregangan pada tangannya.

"Oh.. TENTU SAJA..!!!" Teriak Nicholas, melepaskan Austin dan kawan kawan dengan cara melemparkan mereka semua sekeras mungkin.

"Ya...." Kayu kayu Floyd mulai merambat dari pinggir pipinya menuju tangan kanannya membuat tangannya itu sepenuhnya tertutupi kayu.  Kayu yang di belakangnya pun melebar dan membesar membuatnya terlihat seperti sayap. Lebih tepatnya sekarang Dia terlihat seperti malaikat, malaikat penakluk hutan.

"Mari Kita mulai..." Floyd menatap Nicholas dengan tajam.

"Floyd..! Aku akan bantu...!!" Ash perlahan lahan bangkit sambil memanggil nama adiknya.

"Jangan Ash.. Akan kulakukan ini sendiri... Dan akan Ku penuhi janjiku..." Ujar Floyd, menengok ke arah Ash lalu memberikan senyuman

"Red Aura..!! Ayo maju..!" Saut Floyd selantang lantangnya.

"Hahaha..!! Yakin nih..?!" Dengan angkuhnya Nicholas bertanya.

"Tentu saja...!" Floyd memasang kuda kuda untuk pertarungan terakhirnya melawan Nicholas.

"Kalau begitu... Mari Kita mulai.." Ia mulai berlari ke arah Floyd bersamaan dengan semua tentakelnya. 

Floyd bersiap siap dengan kayu kayunya di depannya dan saat Nicholas datang di hadapannya, Dia segera menangkis serangan pertamanya dengan kayunya yang sekarang lebar membuatnya lebih mudah untuk menahan.

Red Aura tak menyerah, tetap menyerang Floyd berkali kali dengan tentakelnya tetapi kali ini pertahanan Floyd meningkat pesat ke titik dimana susah sekali untuk meninggalkan luka di atas kulit Floyd.

Kecepatan Kayu Floyd sekarang bisa mengimbangi tentakel Nicholas. Tentakelnya memang lebih banyak dari kayu Floyd tapi soal ukuran, Floyd jauh lebih unggul dari padanya.

Ada saat saat dimana kayu Floyd hancur oleh tentakel Nicholas namun kayunya itu dengan cepatnya tumbuh kembali atau lebih tepatnya, beregenerasi kembali.

Floyd yang melihat kesempatan atau terbukanya jalan langsung menebas perut Nicholas dengan Kayu tajam yang memenuhi tangan kanannya.

Tapi tanpa disadari, Nicholas menutupi tangan kanannya juga dengan tentakelnya lalu menangkis serangan dengan tangan tersebut.

"Dengan ini kekuatan Kita imbang..." Nicholas memberikan senyuman.

Sebelum terjadi apa apa, Floyd mendorongnya mundur lalu Dia sendiri mundur beberapa langkah, memberikan jeda di antara mereka berdua.

Floyd langsung menyiapkan strategi dan kuda kuda untuk melawannya. Di sisi lain Nicholas menyiapkan tentakelnya untuk menyerang tanpa berpikir panjang.

Karena waktu yang terbatas, Floyd segera berlari menuju Nicholas tanpa strategi yang padat. Ia menyerangnya dengan kayu yang di tangannya secepat dan setepat mungkin sambil menggunakan kayu di belakangnya untuk melindunginya dari serangan tentakel Nicholas yang menyerang dari seluruh arah.

Sebaliknya, tentakel yang di sekeliling Red Aura dipakai untuk menyerang Floyd dan tentakel di tangannya dipakai untuk melindunginya sendiri, sesekali Dia juga menyerang Floyd dengan tangan tersebut.

Mereka bertarung selagi berlari dan melompat dari dinding ke dinding membuat pertandingan semakin intens dan sulit untuk didukung dan dibantu oleh orang lain.

Tapi pada akhirnya Floyd mempunyai rencana yang padat. Dirinya mundur dari jangkauan Nicholas secepat mungkin, tetapi Nicholas melompat ke arahnya dan menyerangnya dari atas, membuatnya terpukul lalu terjatuh ke atas permukaan tanah.

Floyd terlihat kesusahan bangkit berdiri, membuat Nicholas menyempatkan untuk menyombongkan diri. "AHAHAHA..! KAMU EMANG KUAT DARI MANA...?!!!" Dia mengarahkan semua tentakelnya termasuk yang ada di tangannya ke arah Floyd. Floyd yang dipandang rendah oleh Nicholas tersenyum kepadanya.

Kayu kayu Floyd tiba tiba muncul dari tanah di belakang Nicholas, Dia terkejut saat menyadarinya. Karena refleks Ia segera menghancurkannya dengan tentakel tentakelnya sesaat menoleh ke belakang.

Tanpa disadarinya, Floyd sudah bangkit, menghampirinya, dan menatapnya dengan penuh dendam. Sesaat Nicholas menoleh kembali, "balas dendam.. Itu yang membuat Ku kuat.." bisik Floyd dengan serius.

Nicholas yang ingin menahan serangannya dengan tentakelnya, terhenti, karena semua tentakelnya itu tertahan oleh kayu kayu. Walau tentakelnya bisa menembus kayu Floyd, karena Nicholas tak bisa berpikir jernih tentakelnya jadi tertahan. Saat Floyd mempunyai kesempatan, Ia segera menggunakan kayu di tangannya untuk menusuknya tepat di bagian fatal yang bisa membuatnya mati dalam beberapa menit, yaitu perutnya.

"AKH..!" Nicholas memuntahkan darahnya ke arah Floyd setelah perutnya tertembus.

"Berhasil..?!" Ash berteriak senang, Dia melihat kejadian tersebut dari sudut pandang belakang Nicholas. Walau Ia salah satu orang yang tidak menyukai pertarungan sampai kematian. tetapi Ia senang bahwa tidak ada yang gugur di pertempuran itu.

Tapi hal itu bukanlah kenyataannya.

Darah bercucuran dari mulut Floyd, seperti Nicholas.

Walaupun Floyd menahan tentakel tentakelnya, tetapi Ia tak bisa menahan tentakel yang ada di tangannya. Sebaliknya Nicholas tak sempat menahan serangan Floyd jadi yang Dia lakukan adalah, Menusuknya seperti Floyd menusuk dirinya.

Nicholas yang kesakitan menarik Tentakelnya dari tubuh Floyd, sambil mematahkan kayu yang menusuk perutnya. Dia mundur beberapa langkah lalu terjatuh di atas lututnya, kesakitan.

"FLOYD...!!" Ash akhirnya melihat Floyd yang tertusuk, dengan penuh luka, dan wajah yang datar.

Ash segera mengeluarkan apinya untuk mempercepatnya saat berlari ke arah Floyd. Dia berlari secepat mungkin lalu memegang tubuh Floyd sebelum terjatuh ke atas permukaan.

"F-floyd.. Kamu tak apa..?!" Kata kata dari mulut Ash keluar dengan kAku, ketAkutan.

Floyd hanya menjawab Ash dengan senyuman, membuatnya lebih ketAkutan lagi. Ash perlahan duduk dan membaringkan Floyd di atas pahanya.

"B-bertahanlah...!! Ox pasti bisa menyembuhkan Mu kan..?!" Ash menengok ke sekitarnya dan memaksakan diri untuk tersenyum.

"M-maaf... Sepertinya tidak.." Ucap Habiki dengan sama kAkunya, menghampiri Ash dengan Ender yang digendong di punggungnya tak sadaran diri.

"H-hah..?" Ash menoleh ke arah Habiki dengan mata yang berkaca kaca.

"Ox pernah bilang kepadaku bahwa Ia bisa menyembuhkan luka kecil dan luka tembakan peluru yang tidak fatal tapi kalau luka yang lebih parah dan besar, Dia tak bisa melakukannya..." Habiki menunduk karena merasa lemah.

"K-Kamu bercanda kan...?!" Air mata menetes dari wajah Ash.

"Maaf...." Habiki masih saja menunduk.

Ash memukul lantai di bawahnya sekeras mungkin, berusaha menahan rasa amarahnya. Floyd yang sekarat meraih dan memegang tangan Ash.

"A-ash.... Tidak apa.... Yang utama adalah... Kita bisa mengalahkannya kan...?!" Floyd memaksakan diri untuk berbicara dan tersenyum.

"Floyd...." Ash memandangnya tak berdaya.

"AKH.... Tidak tidak mungkin Aku mati...!!" Teriak Nicholas yang perlahan menunduk sambil memegang perutnya kesakitan.

"TIDAK..!!!" Perlahan lahan menunduk dan akhirnya, terjatuh.

"Tapi bohong..." Dia segera bangkit dan memberikan senyum sinis.

"Kalian kira Aku akan mati hah..?!! HAHAHA..!!!" Luka bolong yang terdapat di perut Nicholas lama lama tertutupi kembali dengan regenerasi yang sangat luar biasa.

Floyd perlahan lahan melirik Nicholas dengan hampa.

Ash dan juga Habiki memandangnya dengan tAkut, namun mata Ash lebih dipenuhi oleh kemurkaan daripada ketAkutan.

Light dan Austin yang terkejut sama seperti yang lainnya langsung bertindak dan memasang kuda kuda. "Kalian lindungi Floyd dan Ender..!!" Saut Light selagi menyiapkan pedang di hadapannya.

"Yah... Aku memang kurang kuat...." Floyd menatap Nicholas dengan kesal namun dengan lemah secara bersamaan.

"F-FLOYD BERTAHANLAH...!!!" Teriak Ash kepadanya.

"Tapi Kamu kuat..." Floyd melirik kembali kepada Ash yang berada di hadapannya.

"Tidak..!! Apa yang Kamu bicarakan..?!" Ash perlahan lahan meneteskan air matanya di wajah Floyd.

"Kamu tahu ada sihir terlarang yang bisa Kita pelajari di kota lain bernama Legacy..?" Tanya Floyd satu kata ke kata yang lain.

"Y-ya...?" Jawab Ash sambil menghapus air mata dari wajahnya.

"Jangan jangan..?!" Ash memandang Floyd dengan terkejut, matanya melebar. Floyd hanya menjawab dengan senyuman.

"Bodoh.... Kalau Kamu menggunakan itu Kamu akan dipastikan mati...!!!" Teriak Ash dengan kesal kepada Floyd.

"Hasilnya sama kan..?" Floyd tersenyum.

"Bodoh.. Bodoh.. Bo.. Doh...." Air mata Ash perlahan menetes kembali, Ia mengepalkan tangannya keras keras. "Aku tidak ingin menjauh darimu lagi...." Menutup matanya dengan kesal.

"Hahaha..." Floyd tertawa perlahan lahan. "Sudahlah sekarang peganglah tangan Ku dan Aku akan mewariskan segalanya kepada mu...." Lanjut Floyd dari tawanya.

Ash sudah tak kuat,  menangis lebih banyak lagi dan tidak mau membukakan matanya.

"Ayolah.. Seorang kakak tak boleh menangis di depan adiknya...!" Perkataan yang keluar dari mulut Floyd itu membuat Ash kembali tersenyum dan membuatnya berani melihat wajah adiknya, lalu Dia melihat adiknya sedang tersenyum. 

Ash menghapus air mata dari wajahnya, segera menggenggam tangan Floyd.

"Aku siap..." Ash memaksakan diri untuk tersenyum, walau dalam senyuman itu tetap terukir kesedihan.

"Ok..!" Floyd tersenyum kembali ke arahnya.

Ash menutup matanya, kesadarannya langsung lenyap dan matanya langsung tertutup. Floyd melirik ke arah Habiki yang berada di sisinya dan mengucapkan sesuatu kepadanya.

"Titipkan pesan kepada Koraya.. Maaf  Aku salah menilainya.. Aku kira Aku mempunyai hidup yang buruk.. Namun Aku sadar... Aku mempunyai banyak orang di sekitar Ku sepanjang hidup ku.." Floyd menitipkan pesan terakhir pada penciptanya kepada Habiki, sambil tersenyum.

"Ya... Yentu saja..." Habiki menjawab dengan air mata yang ikut terjatuh dari wajahnya.

"Floyd.. Maafkan Aku yang sempat tidak memaafkan mu.. Maaf.. Aku egois.." Habiki menunduk, wajahnya tampak kAku.

"Ya.. Tidak apa apa.. Selamat tinggal.." Floyd memberikan senyuman sekali lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Red Aura saga

Part 5 : Floyd

Ini kisah dari seorang anak bernama Floyd. Kisah yang tidak diketahui oleh siapapun bahkan oleh orang orang terdekatnya.

Floyd adalah seorang anak laki laki buangan, yang sejak bayi sudah diasuh oleh sebuah panti asuhan di pinggir kota. Ia menjalani hidup tanpa mengetahui orang tuanya dan juga apa arti dari hidup.

Tapi suatu hari cahaya muncul  di hatinya saat kedatangan seseorang ke panti asuhan pada saat usianya hanya 6 tahun.

Dari tempat bermain, Floyd mendengar suara wanita di arah pintu masuk yang sedang berbicara dengan pengurusnya. "Dia ada dimana....?" Suaranya lembut membuat Floyd penasaran, Dia akhirnya pergi untuk mengintip ke depan.

"Floyd...!" Wanita yang tengah berbicara itu tersenyum kepada Floyd setelah melihatnya. Floyd yang menyadarinya langsung malu dan menunduk "H-halo..." Jawabnya.

Wanita tersebut mempunyai telinga layaknya seekor kambing namun dengan wajah dan tubuh layaknya seorang manusia.

"Ayo Ash sambut Dia....!" Wanita itu mengelus kepala seorang anak yang berada di belakangnya, anak itu mempunyai telinga yang sama dengannya.

"Haloo...!!!" Dia melompat ke Floyd dan langsung memeluknya. "Namaku Ash..!! Mulai sekarang Kamu akan menjadi adik ku...!!" Ash tersenyum dengan amat ceria dan bahagia.

Ibu angkatnya Helen, Ayah angkatnya Ethan, dan juga kakak barunya Ash mulai dari saat itu sudah menjadi keluarga barunya, hari itu adalah hari dimana Floyd memulai hidup barunya.

Helen ibunya adalah seorang ibu rumah tangga, tapi terkadang Dia suka menjual bunga bunga yang dirawat di taman belakang rumah.

Ethan ayahnya adalah seorang ilmuan pintar di dimensi tersebut, terkadang Ia menjadi incaran beberapa perusahaan karena beberapa penemuannya.

Dari saat itu Ash dan Floyd sudah menjadi layaknya saudara kandung sendiri. Karena Ash yang sangat aktif, Floyd jadi sangat dekat dengannya.. Mereka menjalani sekolah bersama.. Bermain bersama.. Sampai melakukan banyak kenakalan bersama.

Setelah beberapa bulan berlalu, di pagi hari minggu Ash mengajak Floyd ke sebuah tempat yang tak Ia pernah kunjungi.

"Floyd..!!" panggil Ash, Dirinya berlari menuju Floyd yang sedang duduk di atas kursi meja makan.

"Hmm..??" Tanya Floyd.

"Main ke tempat prasasti pembuat yu..!! Aku mau tahu apa Kamu ada pembuat atau tidak..!!" Ajak Ash.

"Hayu..!!" Jawab Floyd dengan semangat, Ia bangkit dari duduknya.

Mereka pun berjalan keluar rumah lalu menuju tempat tersebut. Prasasti pembuat adalah kumpulan batu batu besar yang terukir semua nama orang di dimensi itu bersama nama pembuatnya. Terkecuali orang yang tak mempunyai pembuat sama sekali atau orang yang merupakan pembuat.

"Ash..? Kamu punya pembuat ga..?" Sambil berjalan, Floyd bertanya kepada Ash yang berada di depannya.

"Tentu..!! Sungguh hebat kalau Aku gak punya pembuat.. " Jawab Ash, Ia menengok ke belakang, tertawa.

"Kamu tahu ga namanya..?" Tanya Floyd sekali lagi kepada Ash.

"Terakhir Aku cek sih... Kalau ga salah Koraya..? Ayah juga mempunyai pembuat walau Aku ga tau namanya.. Kalau ibu mah ngga.. Hebat kan..!!" Ash mengangkat tangannya semangat.

"Iya..!!" Floyd yang di belakangnya ikut tersenyum senang.

Setelah berjalan selama beberapa menit mereka pun akhirnya sampai di tempat prasasti pembuat. Di sana banyak sekali batu besar, orang orang yang baru lahir biasanya terdapat di ujung kanan, sedangkan paling tua di ujung kiri, jadi semakin mudah untuk mencari nama.

Mereka berdua mencari nama Floyd selama beberapa menit, mungkin sekitar setengah jam, dan akhirnya mereka menemukan namanya.

"Wahh..!!!! Kamu sama pembuatnya sama Aku..!!!" Ash melompat dan langsung memeluk Floyd dengan senang dan terkejut.

"Ahaha iya..!!!" Floyd ikut senang dan tertawa.

Dari situlah mereka mengetahui takdir mereka, mengapa mereka bertemu, dan mengapa mereka jadi hidup bersama.

Tapi kejadian yang membuat kisah Floyd terbentuk baru saja dimulai pada saat hari terakhir liburan musim panas, saat Ia berumur 10 tahun dan Ash berumur 11 tahun.

*BRUK* Suara bantingan pintu rumah Ash dan Floyd terdengar di tengah malam akhir liburan Musim panas mereka.

Floyd yang sedang tertidur, terbangun dengan terkejut lalu segera bangkit dari ranjangnya.

"Shh..." Ash sudah berada di depan pintu melirik keluar. Floyd perlahan berjalan mendekati Ash, lalu mereka pergi keluar pintu kamar bersama sama. Mereka melihat menuju pintu depan rumah dari atas, karena kamar Floyd dan Ash berada di lantai 2.

Mereka terkejut, terpAku saat melihat kejadian yang sedang terjadi dibawah.

"HENTIKAN..!!" Teriak dari ibu mereka yang sedang menarik suaminya terdengar oleh mereka berdua.

"Lepaskan Aku helen..." Ethan menunduk terpaksa. "Ayo...!!" Yang mengejutkan adalah terdapat 8 orang tentara bersenjata api yang sedang bersama Ethan dan Helen. Mereka memaksa dan menarik Ethan sambil mengarahkan senjata mereka.

"T-tunggu dulu...!!" Helen dengan kesal terpaksa memohon, menunduk kepada salah satu tentara.

"Berisik..!!" Helen didekati lalu ditendang oleh salah satu tentara membuatnya terlempar, terjatuh kesakitan.

"HELEN..!!" Ethan yang marah melepaskan Dirinya sendiri lalu memukul salah satu tentara yang menahannya. 

Tapi usahanya sia sia, Ia ditahan kembali oleh 2 tentara lalu dipukul terus terusan oleh yang lainnya. "Ayo ikut saja... Istrimu takkan Kita apa apakan lagi..." Salah satu tentara tersebut mendekati Ethan.

"AYA---" Floyd berteriak dengan khawatir, namun langsung ditutup mulut nya oleh Ash yang di sebelahnya. "Shh..!!" Dia mencoba membuat adiknya diam.

"Hah..?" Perhatian salah satu tentara langsung teralihkan oleh suara Floyd. Ethan yang menyadari suaranya itu segera mengalihkan perhatian tentara dengan cara merelakan dirinya.

"Ya sudah.. Bawa Aku...!" Akhirnya Ethan menyerahkan diri, berbicara dengan lantangnya untuk menutupi suara yang dibuat oleh Floyd. 

"Gitu dong..." Dirinya langsung ditarik keluar rumah oleh para tentara.

"Ethan!!!" Helen yang melihat kejadian itu langsung berlari ke arah pintu, namun pintu tersebut dibanting dari luar. Ia menangis dengan kencang sambil memukuli pintu, semalaman. Di sisi lain Floyd yang menangis ditarik oleh Ash menuju dalam kamar.

"Shh..!! Bertindaklah seperti biasa nanti pagi ok..?" Ash menutup pintu kamar lalu menoleh ke arah Floyd.

"T-tapi..." Perkataan Floyd menjadi kAku, terus menangis.

"Anggap saja itu urusan kantor.. Ayah pasti tak akan kenapa napa.. Dia kan hebat..!" Ash menepuk pundak adiknya dengan niat untuk mencoba menenangkannya.

"T-tapi kak.. Kenapa Kamu tak menangis...?" Floyd menghapus air matanya dan bertanya.

"Seorang kakak tak pernah menangis di depan adiknya.!" Ash menunjuk Dirinya sendiri lalu tersenyum

Floyd yang menangis mulai berhenti dan membalas senyuman Ash.

"Sana tidur.. Sudah malam..." Ash mendorong Floyd perlahan ke kasur.

Akhirnya Floyd kembali berbaring di kasur setelah ditenangkan oleh kakaknya. "Makasih ka.." Ucap Floyd perlahan selagi memasang selimut.

"Tentu..!!" Jawab Ash dengan senang.

Ash melangkah ke kasurnya dan segera berbaring menghadap ke sebuah dinding, berlawanan dengan kasur adiknya. Tanpa disadari Floyd, Dirinya menangis semalaman setelah mengetahui kejadian tersebut, namun Ia menahan tangisannya di hadapan adiknya.

Di keesokan harinya, pagi itu Ash dan ibunya bertingkah seolah tak ada yang terjadi pada tadi malam.

Saat Floyd dan Ash menuju tempat makan setelah mandi, Mereka melihat ibunya yang mengucapkan selamat pagi sambil memasak sarapan, "Selamat pagi anak anak..".

"Pagi ibu...!!" Ash berlari ke arah ibunya dengan semangat, langsung memeluknya dari belakang.

Floyd mendekati Ash dan Helen dari belakang lalu memandang mereka dengan ketAkutan. "Ibu... Ayah kemana..?" Tanya Floyd saat itu.

Tentu Ash dan juga Ibunya terkejut. Helen berhenti memasak sejenak, Dia memegang kepala Floyd lalu mengusapnya.

"Ayah pergi karena ada pekerjaan sayang...." Balas Helen selagi memberikan senyuman.

Ash yang juga terkejut, menarik Floyd menuju ruangan di sebelah dapur ,"Tunggu sebentar buu..." Ia berlari dengan Floyd di genggamannya.

Helen tidak membalasnya, Dia lanjut memasak.

Saat sampai di ruangan sebelah, Ash bersembunyi bersama Floyd di balik pintu. "Kita harus merahasiakan bahwa Kita melihat kejadian tadi malam... Aku tidak mau membuat ibu khawatir.." Ash menunjuk nunjuk Floyd.

"Ayah kan.." Jawab Floyd satu kata ke kata yang lain perlahan lahan.

"Kamu mengerti...?" Ash menyentuh pundak adiknya perlahan lahan. "Ya...." Jawab Floyd sambil menunduk.

"Ok..!!" Ash keluar dari ruangan tersebut dengan ceria, segera menghampiri ibunya untuk memakan sarapan dikuti oleh Floyd dari belakang yang berjalan pelan pelan.

"Sarapan..!!!" Saut Ash dengan semangat, Ia langsung duduk di atas kursi meja makan.

Floyd yang mengikutinya segera mengambil tempat duduk di depan kakaknya.

"Sarapan sudah siap..!!" Helen menghampiri meja makan lalu menaruh dua piring omelette di hadapan mereka berdua.

"Selamat makan...!!"  Ash menyuapkan sarapannya dengan wajah yang bahagia.

"Selamat makan.." Floyd menjawab perkataan Ash dan langsung memakan sarapan dengan perlahan.

"Ash Kamu siap untuk field trip ?!" Helen mendekatinya dengan semangat.

"Tentuu..!!".

"Tasnya sudah Ibu siapkan didekat pintu ok..?" Helen menunjuk pintu sambil perlahan duduk di sebelah Floyd. Floyd terlihat cemberut karena kelasnya tak mengikuti field trip. 

"Tak apa Flo..!! Aku akan segera pulang..!!" Ash yang menyadari bahwa Floyd terlihat murung langsung menyemangatinya.

Kejadian tadi malam berlalu terlalu cepat, mereka melanjutkan kehidupan seperti biasa namun tanpa ayahnya.

Setelah beberapa menit, Ash dijemput dengan bis untuk pergi field trip. Dia mengambil tasnya lalu meninggalkan Floyd sendiri. Floyd yang biasanya berjalan ke sekolah bersama, kini hanya sendirian tanpa kakaknya.

Saat sampai di sekolahnya Floyd menjalani kehidupannya seperti biasa, namun saat istirahat tiba muncul sebuah peristiwa yang tidak terduga sama sekali.

"Woi liat tuh..!!" Seorang anak yang sedang bersama kumpulan anak lainnya berjalan mendekati Floyd di sebuah lorong, saat Ia baru saja akan pergi ke kantin.

Mereka adalah anak senior yang suka membully adik kelas hanya untuk menunjukan mereka jagoan.

"Nah nah..!! Kenapa Kamu nunduk aja.!!" Sautnya, meledek Floyd yang membunyikan wajahnya.

"K-kak Gordo ga ikut field trip..?" Floyd menunduk lebih lama lagi ketAkutan.

Namanya Gordo, walau Dia tak mengenal Floyd namun nama Gordo sudah terdengar di seluruh kalangan. Rambutnya panjang dan tidak teratur, bajunya dikeluarkan seperti anak nakal pada umumnya. Gordo memandangnya dengan jijik, mulai kesal lalu menampar Floyd dengan kencang sampai terjatuh.

Floyd yang terjatuh hanya bisa menunduk ketAkutan karena tak mempunyai perlindungan kakaknya yang dikenal kuat di angkatannya dan bisa melindungi Floyd jika saat seperti ini datang, setidaknya itu yang Floyd ketahui.

"Pegang tangannya..." Gordo menunjuk Floyd, memberi kode kepada teman teman yang sedang bersamanya.

Teman teman Gordo pun langsung bertindak, mereka mendekati Floyd lalu mengangkat kedua tangannya, menahannya.

Floyd yang cemas menatap ke bawah tak bisa berbuat apa apa, saat Gordo mendekatinya pun Ia masih tak bisa memandangnya.

"Hahaha.. Kayaknya Kita dapat yang lemah..." Gordo menoleh kepada teman temannya, tertawa.

Gordo mengelus tangannya sendiri membuatnya mengeras sedikit demi sedikit, sepertinya itu kekuatannya. Setelah itu Dia meninju Floyd di perutnya sekali, membuatnya memuntahkan sedikit cairan.

"Hahaha menjijikan..!!" Tawa Gordo, meneruskan pukulannya kepada Floyd sampai sampai Dia tidak bisa berkutik.

"Kalau kakak tahu Kamu memukuliku Kalian pasti sudah kalah.." Floyd memaksakan Dirinya sendiri untuk berbicara. 

"Emang kakak Mu siapa ha..??" Gordo memberhentikan tinjuannya sejenak.

"Ash.." Perlahan Floyd menyebutkan nama tersebut.

"Hah..? HAHAHA...!!" Gordo tertawa kencang, diikuti oleh kedua temannya yang menahan Floyd dari sisi.

"Ash itu Lemah..!! Dan juga Bodoh..!! Dari dulu dia selalu menangis sebelum Kamu ada di sekolah ini..!!" Gordo meneruskan tawanya, namun Floyd tampak kesal, menatap Gordo dengan sangat tajam.

"Kakak.." Ujar Floyd perlahan lahan membuat perhatian Gordo dan temannya terpAku padanya.

"Hahh..?!" Gordo kebingungan, memiringkan kepalanya.

"Kakak itu kuat...." Lanjut Floyd sekali lagi.

"Kamu membuatku kesal..." Gordo berhenti tertawa, Dia mulai serius dan berusaha memukulnya sekali lagi, namun.

Pukulan Gordo tertahan oleh seseorang yang tiba tiba datang, menahan serangannya dengan tangan kanan. Dia terlihat tinggi sekali, seperti anak smp saja. Rambutnya pirang dan sedikit panjang.

"A-apa apaan Kamu ini.." Gordo tampak sangat kesal.

"Hmmm... Harus nya Aku yang nanya gitu.. Kalian apa apaan membully adik kelas..?" Orang itu tertawa kepada Gordo.

Kedua teman Gordo melepaskan Floyd lalu mendekati orang yang tiba tiba datang itu.

Mereka berdua memukulnya bersamaan namun orang itu menunduk membuat mereka saling pukul.

Gordo terkejut lalu menatap Orang itu dengan kesal "K-Kamu..!!". "Haahh.." Orang itu menghempaskan nafasnya lalu memutarkan tangan Gordo sampai Dia menjerit kesakitan "ADUDUH..!! IYA AMPUN..!!".

Ia melepaskan tangan Gordo, mereka bertiga melarikan diri dengan ketAkutan ke arah yang berbeda dan berlawanan. "Awas aja kalian.!!" Teriak Gordo sesaat Dia melarikan diri.

Floyd mengelap keringat yang bercucuran dari wajahnya, mengambil tas yang tergeletak di lantai lalu perlahan bangkit.

"K-kakak siapa..?" Tanya Floyd dengan malu malu.

"Hm..? Kakak..?" Dia tertawa terbahak bahak. Setelah mulai berhenti, Ia mengulurkan tangannya kepada Floyd "Aku seangkatan sama Kamu, kelas 5A... Namaku Adam Ayo Kita temenan.." sambil memberikan senyum yang ceria.

"A-ah.. Namaku Floyd.." Floyd menjabat tangan Adam. "Ayolah jangan malu malu.. Nanti Kita ketemuan lagi ya..." Dia melepas tangan Floyd lalu melangkah menjauh darinya.

Sesudah bertemu dengan teman barunya, Floyd segera kembali ke kelasnya untuk melanjutkan pembelajaran, lupa akan niatnya ke kantin sebelumnya.

Setelah beberapa jam terlewatkan, sekolah pun akhirnya sudah selesai untuk hari ini. Floyd pulang ke rumahnya seorang diri hari ini, itu yang Ia pikir. Namun saat perjalanannya keluar sekolah, Adam berlari ke arahnya.

"Hei pulang bareng yuuu..!!" Dia mengagetkan Floyd dari belakang.

"HA..!" Floyd terkejut. "Hahahha.. Iya hayu.. Rumah Mu dimana..?" Floyd cepat setuju, Ia bertanya kembali.

"Ohh di jalan St Andreas.." Jawab Adam sambil berjalan di sisinya.

Mereka mengobrol terus menerus sampai sampai mereka berpisah di sebuah perempatan dekat rumah Floyd.

"Dadahh Floyd sampai ketemu besokk..!!" Adam melambaikan tangannya dari kejauhan.

"Yaa dadahh.." Floyd melambaikan tangannya kembali, lalu melanjutkan perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah, Dia disambut oleh ibunya yang sedang menyiapkan makan malam di dapur yang letaknya dekat pintu depan rumah.

"Selamat datang..!! Ada kejadian seru di sekolah..?" Tanya Helen, sesaat menengok ke arah pintu depan rumah.

"Ngga kok bu.." Floyd tersenyum, Ia berlari ke kamarnya untuk mengganti baju dan beristirahat sendirian sementara waktu.

Pagi hari tiba, Floyd tak sengaja tertidur setelah selesai memakan makan malamnya. Floyd membukakan matanya, disambut oleh Ash yang tepat di depannya.

"Selamat pagi..!!" Ia menyambut pagi Floyd sambil tersenyum.

"Kak..! Kapan Kamu datang..?" Tanya Floyd, tetap berbaring di kasur memandang Ash.

"Tadi malam... Oh Floyd Kamu berkelahi dengan Gordo ya..?" Ash perlahan beranjak dari kasur lalu berjalan menuju pintu kamar.

Floyd terkejut, Ia segera bangkit lalu menjawab, "A-Aku nggak mukul sama sekali ko..!".

Ash meliriknya, "Syukurlah Kamu tak apa..." Dia tersenyum. "Nah Floyd cepetan mandi sana... Udah mau telat nih..." Ash tertawa ke adiknya.

"Ah iya iya.." Floyd berdiri dari kasurnya.

"Ash...." Floyd berjalan melewatinya tanpa memandangnya.

"Hm..?" Ash menengok ke belakangnya, melihat Floyd yang sedang mengepalkan tangannya.

"Aku akan berjanji suatu saat Aku yang akan melindungimu...!" Floyd mengarahkan tangannya itu kepada Ash.

"Apaan sih tiba tiba.." Ash memiringkan kepalanya, bingung.

Ash tersenyum "Dan jika saat itu datang Aku berjanji akan menjadi lebih kuat darimu.." Lalu mengepalkan, menempelkan tangannya ke tangan Floyd.

Mereka berdua tersenyum, dari titik itulah janji mereka telah dimulai.

Beberapa hari berlalu, mereka melewatkan hari hari seperti biasanya. Adam telah menjadi sahabat terdekat Floyd, mereka selalu saja bertemu saat jam istirahat tiba.

Tapi suatu hari, suatu saat, ketika semua tugas dan pekerjaan di sekolah sudah selesai dan mereka diperbolehkan pulang, lagi lagi Gordo dan kawan kawan mencegat Floyd yang baru saja menggendong tasnya dan meninggalkan kelas.

"Lah lah ini Dia Floyd..!!" Saut Gordo, secara lantangnya Ia datang bersamaan dengan teman temannya yang lebih banyak lagi dari waktu itu.

"K-kak Gordo tahu dari mana namaku..?" Floyd gemetar ketAkutan.

"Lahh..?! Buat apa Aku ngasih tau?" Gordo dan temannya mengelilingi Floyd.

"Sudah lah ka Gordo, Aku sudah tidak mau berkelahi.." Floyd menunduk, memohon.

"HAH..? Kamu tAkut karena tidak ada Dia hah..? Orang tanpa kekuatan emang lemah..!" Gordo tertawa, meledek, dan menunjuk nunjuk Floyd.

"Kakak juga tak punya kekuatan.." Floyd mengepalkan tangannya kesal, namun tAkut.

"Kamu gila..?!! Apa Kamu tak tahu..?!" Gordo membanting tangannya, kesal.

"Apa..?" Floyd mengangkat kepalanya kebingungan.

"Ash itu murid pertama yang bisa mengeluarkan kekuatan keturunannya... Sejak itu Dia sering dibilang monster karena kekuatannya itu..!!" Teman di sebelah Gordo langsung memotong percakapan mereka dengan kesal.

"Bodoh..!! Ngapain dikasih tau..!" Gordo mendorong temannya tersebut karena terbawa emosi.

"Bisakah Kalian menceritakan itu sekali lagi ?" Floyd menatap mereka dengan sangat serius.

"Ogah..! Buat apa nyeritain hal seperti itu ke orang lemah.." Tawa Gordo bersamaan dengan teman temannya.

"Weits weittss... Apa sih salahnya ngasih sedikit informasi.." Adam tiba tiba datang, menaruh lengannya di sekitar pundak Gordo seperti teman saja.

"A-Apaan Kamu..!!" Gordo langsung memukul kepala Adam yang berada di pinggir kanan pundaknya. Namun Adam dengan cepat menahannya dengan tangan kanan.

"Jangan kasar lah..!!" Adam tertawa, diam diam meledek. Teman teman Gordo yang ada di sana mulai mencoba mendekatinya, namun saat Adam menatap mereka dengan tajam. Mereka langsung diam, tegang.

"Mau apa sih Kamu..!!" Gordo melirik Adam dengan sangat kesal, berusaha melepas tangannya yang berada di genggaman Adam.

"Hmm...? Mening ceritain deh.." Adam menekan tangan Gordo lebih keras lagi selagi menengok kepadanya. "Tentang Kakaknya Floyd.." Ia tertawa.

"Adududuh..!! I-iya iya..!! Kakak Mu punya kekuatan api..! Dia ga pernah berantem tapi semua orang selalu tAkut kepadanya karena kekuatannya yang besar. " Gordo berbicara dengan paniknya, akhirnya Adam melepaskan dan menjauhinya.

"Floyd...!! Oh ternyata Kamu disa---" 

"--na..?" Ash yang sedang berjalan mendekati Floyd, terkejut, adiknya sedang dikepung oleh Gordo dan teman temannya.

"K-kakak...!" Floyd memandang Ash dengan senang, namun masih bingung akan informasi yang diberikan Gordo.

"Awas saja..! Liat lain kali..!" Gordo menunjuk nunjuk Adam lalu melarikan diri diikuti oleh teman temannya di belakang. Di sisi lain Adam hanya tersenyum dan melambai.

"Floyd.. Ayo pulang.." Ash mengajaknya dari kejauhan, Floyd perlahan berjalan kepadanya. "Hmm..? Kamu juga, Kamu siapa..?" Ash melirik ke arah Adam. Walau Adam telah menjadi sahabat Floyd, Ia tak pernah diperkenalkan dengan Ash ataupun Helen.

"Aku sahabat Floyd, Adam... Halo..!" Adam membalikan badannya lalu memberikan senyuman kepada Ash.

"Aku kakaknya Floyd, Ash... Adam, mau ikut pulang bareng..?" Ash membalas senyuman Adam.

"Tentu..!" Adam menghampiri Ash dengan senang hati.

Mereka berjalan keluar sekolah bersama sama, setelah Ash bertanya tentang lokasi tempat tinggal Adam mereka akhirnya memulai percakapan biasa.

"Oh iya... Adam apa yang kau lakukan sampai Kamu bisa mengusir mereka semua..?" Ash yang berjalan terdepan menengok ke belakang.

"Hm..? Sebenarnya Aku cuma menAkut nAkuti mereka.." Jawab Adam setelah sedikit berpikir.

"Hahaha keren..!" Ash tertawa. "Makasih ya.." Lanjutnya.

"Iya santai aja..!" Adam tertawa balik. "Floyd bisa dengarkan Aku sebentar..?" Adam menoleh kepada Floyd yang berada di sebelahnya.

"Ada apa..?" Floyd menjawab.

"Aku tau ini akan terdengar lebay dan dilebih lebihkan tapi... Floyd.. Kumohon.. Terus biarkan Aku melindungimu.. Setidaknya itu yang bisa Ku lakukan sebagai teman.." Adam menunduk, dan terlihat memaksakan sebuah senyuman.

Floyd yang melihatnya, membalas "Ya tentu, akan Ku pegang janjimu..!" Ia tertawa, Adam melirik dan tertawa. Ash yang turut melihat percakapan mereka, ikut tertawa.

Setelah lama berjalan, Adam berpisah dengan Ash dan Floyd. Sesudah Melanjutkan perjalanan pulang, Ash dan Floyd memasuki rumah disambut dengan bau masakan yang sungguh enak. Waktu berlalu dan malam berakhir dengan sekejap.

Di esok pagi, Helen berbicara dengan seseorang di telepon rumah.

"Apa..?!! Floyd melakukan itu..?!! Ya ampun..!!"  dengan kesal Helen berbicara dengan seseorang melalui telepon rumah,  menyambut pagi kedua anak itu.

"Hmm..." Floyd yang baru bangun bangkit dari kasurnya, melirik ke arah pintu kamar.

"Kak... Kamu sedang apa..?" Tanya Floyd dengan bingung, Ia melihat Ash yang sedang mengintip keluar kamar.

"A-ah.. Ga papa..!!" Ash menyingkir dari pintu lalu langsung berlari keluar dari kamar.

"Hm..?" Floyd yang bingung berjalan keluar kamar langkah demi langkah, akhirnya melihat Ibunya Helen duduk dengan kesal di meja makan.

"Ibu..?" Floyd berjalan ke bawah tangga untuk memberi salam pagi kepada ibunda.

"Floyd..!! Kamu menghajar Gordo dan teman temannya..?!" Helen yang memandang Floyd, langsung membentaknya.

Floyd terkejut dengan perkataan ibunya, Dia berlari ke arahnya dan berusaha menjelaskan kejadian tersebut kepada Helen "I-ibu..!" dengan kAku.

"Ibu..! Floyd tidak salah..!! Ia sama sekali tidak memukul Gordo.!!" Dari ruangan lain Ash mencoba untuk membela Floyd.

"Diam Ash ini bukan masalah mu..!!" Helen berteriak, memukul meja membuat Ash dan Floyd sangat terkejut, langsung terdiam.

Ash menunduk, menutup pintu ruangan sebelah dimana Ia berada. Floyd perlahan menangis, menarik kain celananya.

Helen melirik ke arah Floyd yang menangis, terkejut. Tangannya bergetar karena rasa bersalah.

"F-floyd sayang.. Maafkan..." Helen mengahmpiri Floyd. Ia memegang kepalanya lalu menghapus air mata yang mengalir di wajah Floyd dengan ibu jarinya.

"Maafkan Aku.. Maafkan Ibu.. Tapi mereka--" Floyd mau menjelaskan kejadian sebenarnya, tapi sangat sulit baginya.

"Nanti jangan lakukan lagi ya..." Helen memandang Floyd lalu tersenyum

Floyd memandang balik wajah ibunya dengan sedih selagi mengatakan "Ya bu...". Saat ini Floyd seperti mengAkui perbuatannya, dimana kenyataannya Dia tidak melakukan kesalahan apapun.

Ash membuka pintu perlahan lahan, memandang Floyd dengan rasa penuh penyesalahan. "Kenapa Dia harus menanggung ini..?" Tanyanya dalam hati.

Hari demi hari pun berlalu dengan cepatnya, akhirnya hari tersebut telah lupakan oleh Helen, Ash, dan juga Floyd. 2 minggu sudah terlewat tidak terasa. Baru saja Floyd move on dari kejadian tersebut, Gordo mendekati Floyd lagi di lorong sekolah untuk ketiga kalinya pada saat pulang sekolah.

"Hahaa..!!! Floyd Floyd..! Enak ga tuhh dimarahin sama ibunda tersayang Hahaha..!!" Gordo sepertinya melapor kepada guru, lalu meledek Floyd seolah olah Ia sudah menang.

Namun kali ini ada yang berbeda, Gordo membawa teman lebih banyak lagi. Kira kira sebanyak 15 orang memenuhi lorong sekolah tersebut hanya untuk mencegat Floyd.

"Ibu tak memarahiku kok..!" Jawab Floyd dengan tegasnya mengelak kenyataan.

"Lho..?! Temen Mu mana..? OH IYA..! Bukannya lagi ekskul ya...?" Gordo memberikan senyuman yang sangat menjengkelkan.

"Aku sendirian juga kuat..." Floyd berpura pura berani di hadapan Gordo dan teman temannya.

"Hahh..??!! " Karena kesal, Gordo melancarkan pukulan langsung ke wajah Floyd setelah mendekatinya. Namun.

Tangannya tertahan oleh Ash yang tiba tepat waktu di hadapan Floyd dan Gordo. Gordo terkejut, namun tangannya tetap ditahan.

"K-kakak..!!" Floyd tersenyum senang.

"Yo..!" Jawab Ash dengan senyuman yang lebih lebar lagi, setelah Dia menoleh ke belakang.

Gordo menarik paksa tangannya dari tahanan tangan Ash.

"Ash... Kami tidak tAkut lagi terhadap mu..." Gordo mengepalkan tangannya.

"Lho..? Selama ini Kamu tAkut ya..?! Lucunyaa...!!" Ash tertawa geli terbahak bahak seperti meledeknya.

"K-Kamu..!!" Gordo mengarahkan pukulan yang sama kepada Ash. Namun Dia dengan mudahnya menunduk untuk menghindar.

Ash tertawa "Floyd..!! Kabur yu.. Kamu duluan... Kalau Aku belum keluar dalam 5 menit panggil ambulan ok...?" Ia membuat lelucon disaat saat tersebut, karena Dia pikir akan menang.

Pada akhirnya teman teman Gordo ikut campur dan menyerang Ash secara bersamaan dari sisi kiri, kanan. Alhasil semua serangan mereka berhasil dihindari oleh Ash, walau kesulitan. Pukulan kedua pukulan ketiga maupun ke delapan tidak ada yang mengenainya sama sekali. Ash melompat, menunduk dan bergelinding ke sana kemari.

"Ya ampun kak Aku takkan kabur tanpa mu..." Floyd memandang Ash dengan ragu.

"Masa..---" Ash menoleh ke belakang, kepada Floyd, karena itu Dia kehilangan fokus. "Akh..!!" Ash yang selalu bisa menghindar dengan gampangnya, terkena pukulan kencang dari Gordo tepat di perut. Lalu teman teman disekitarnya segera memukul kepala Ash ke bawah membuatnya terjatuh kesakitan.

"KAKAK..!!" Floyd terbawa suasana dan mulai panik, Ia segera berlari ke arah Ash tanpa berpikir panjang.

Pada akhirnya Floyd ditendang mundur oleh salah satu teman Gordo yang masih tidak melakukan apa apa, membuatnya terjatuh di hadapan mereka. 'Diam.." Ujar orang tersebut.

Saat Ash memegang kepalanya kesakitan, Dia berusaha bangkit. Namun teman teman Gordo mengangkat dan menahan kedua tangannya supaya tak bisa berbuat apa apa.

"HAHAHA...!! Tak kusangka mengalahkan sang monster bisa semudah ini..!!" Gordo menertawai Ash tepat di hadapan wajahnya. Dia mengepalkan tangannya lalu memukul perut Ash sekali.

"Kak..!! Gunakan kekuatan mu..!!" Floyd berteriak kepada Ash.

"Tidak..!! Kekuatan itu bisa menyelakakan yang lainnya..!!  Kamu kabur duluan Floyd..!!" Ash menyempatkan diri untuk menjawab Floyd, walaupun Ia sendiri sedang kesakitan.

"Tapi Kak..!!" Floyd terus menerus memanggil kakaknya, perlahan meraihnya.

"Ah sudah lah diam..!!" Gordo tersenyum sinis, Dia mulai memukul perut Ash untuk kedua kalinya

Lalu ketiga kalinya.

Keempat kalinya.

Floyd memaksakan diri untuk berdiri. Dari punggungnya mulai keluar sedikit akar akar kayu.

Namun sebelum Dia bisa bertindak, salah satu teman Gordo berlari ke arah Floyd lalu memukul wajahnya. Floyd terjatuh tak berdaya dan tak sadaran diri seketika.

Di sisi lain Ash tak menyadari kondisi Floyd, menerima semua pukulan Gordo lalu pingsan samanya seperti Floyd.

Beberapa menit berlalu, Floyd membuka matanya perlahan lahan.

Pandangannya disambut oleh Adam yang sedang berdiri kelelahan di hadapannya. Gordo dan kawan kawan sudah tidak terlihat dimanapun. Lalu Ash yang sama sama baru sadaran diri sedang perlahan lahan bangkit.

"A-adam..?" Floyd pelan pelan berdiri mengikuti Ash.

"Maafkan..." Adam menunduk malu. "Aku.. Tidak menepati janjiku untuk melindungimu....." Dia menekan rahangnya keras keras.

"Kamu sudah banyak membantu kok..!" Ash menghampiri Adam, segera.

"Tapi.." Adam tampak lebih menyesal lagi.

"Ngga ngga.. Makasih loh..!" Floyd mendekati Adam lalu merangkulnya selagi tersenyum lebar.

Adam yang merasakannya langsung ikut senang, Ia menjawab "Ya.. Ga papa..".

"Kamu apakan mereka..?" Ash memegang pundak Adam.

"Cuman sedikit dipukul terus ditakut takutin..." Adam menoleh ke Ash dengan blahbloh.

"Ahaha.. Boleh lahh..!!" Jawab Ash sambil tertawa.

"Yu.. Pulang bareng.." Lanjut Ash sekali lagi.

Mereka bertiga akhirnya meninggalkan sekolah bersama seperti biasa. Mereka mengobrol lalu berpisah di jalan yang biasanya.

Sesampainya di rumah Ash membukakan pintu rumah, Helen menyambut mereka dengan sebuah pertanyaan, "Bagaimana sekolah...?".

"Emm..." Tangan Floyd bergetar, Ia tak tahu harus menjawab seperti apa, namun Ash selalu selalu membantunya dalam hal hal seperti ini.

"Sekolah luar biasa..!!" Ash tawanya, kencang.

"Ah keren..!!" Helen tertawa balik, selagi Ash berlari masuk ke kamarnya setelah menaiki tangga. Floyd yang sudah memandang kakaknya sebagai idolanya membuatnya lebih kagum lagi saat itu.

Floyd mengikuti Ash, menaiki tangga dengan senyuman yang sama dengan kakaknya kepada Helen.

Setelah menjalani malamnya seperti biasa, berganti baju, makan malam dan lain lain, Pagi hari tiba. Anehnya pagi ini Ash tidak ada untuk menyambut pagi Floyd.

Setelah bangun, Floyd berjalan keluar kamarnya langkah demi langkah untuk menemui Ash yang mungkin berada di luar.

Dia mengintip ke bawah lalu melihat Ash yang sedang duduk di meja makan bersama Helen. Mereka berdua berwajah tegang dan juga serius. Floyd terheran heran melihat mereka berdua.

"Ash kenapa Kamu tidak menghentikan Floyd..?" Helen bertanya dengan serius.
"Kamu tahu kan Gordo dan beberapa temannya mengalami cedera yang parah..?!" Helen membentak Ash, namun lama lama nadanya menurun.

"I-ini kesalahan bu..! Aku sama Floyd tidak tahu apa apa..!" Ash menaikan sedikit suaranya kepada Ibunya.

"Lantas siapa..?!" Helen membalas perkataan Ash dengan tegas.

"Kita dibuat tak sadaran diri oleh mereka lalu saat Kita bangun.. Mereka sudah tidak ada dan Adam di sana membantu kita.." Jelas Ash lebih detail lagi untuk meyakinkan ibu.

"Adam..? Dia sudah didrop out.." Helen memelankan suaranya karena bingung.

Mata Ash memperbesar karena sangat terkejut.

"D-drop out.." Floyd yang sedang menuruni tangga tiba tiba terhenti di tengah tengah.

"Floyd.." Ash menengok ke arah Floyd dengan pilu.

"Floyd... Ceritakan yang sebenarnya.." Helen melirik lalu bertanya dengan serius kepadanya.

"A-adam cuman menolong kita... Gordo dan teman teman mengepung Aku sama kakak.. Saat Kita sudah pingsan.. Adam datang untuk menolong.." Floyd mencoba menjelaskan selagi menahan rasa kesal yang terdapat di lubuk hatinya.

"Ch..! Nanti Ibu ngomong sama pihak sekolah..." Helen menunduk dengan kesal, Ia sadar akan kesalah pahaman yang besar ini.

Floyd dan juga Ash segera menyelesaikan sarapan dan melakukan kegiatan pagi mereka setelah pembicaraan yang mengesalkan terjadi.

Mereka berdua berjalan ke sekolah bersama sama setelah berpamitan dengan ibunda.

Sesampainya di sekolah mereka menjalankan kegiatan sehari hari mereka seperti biasa. Namun mereka berdua terlihat lebih murung dari biasanya.

Floyd kesal karena sahabatnya dikeluarkan dan Ash merasa sedih kepada adiknya.

Sepulang sekolah Ash menghampiri Floyd yang baru saja keluar kelas.

"Yu pulang.." Ash tersenyum, Dia mencoba membahagiakan Floyd.

"Ah tidak tidak... Kamu dulan aja.. Aku ada urusan.." Floyd menjawab, membalas senyuman Ash dengan paksa.

"Oh.. Ya sudah.." Ash berjalan meninggalkan Floyd di belakang.

Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Floyd beranjak dari depan kelasnya untuk pergi keluar sekolah.

Ia berjalan dan berjalan melalui jalan biasanya, sendirian. Tapi sebelum sampai pada rumahnya, Dia berbelok ke jalan yang lain.

Kini Ia menempuh jalan yang biasanya Adam lalui. Floyd berhenti di hadapan sebuah rumah kecil di sisi jalan setelah, melangkah untuk sementara waktu.

Floyd mentekadkan diri untuk menyaut, "A-adam..!!" mengepalkan tangannya keras keras.

Setelah beberapa detik tanpa respon akhirnya seseorang membukakan pintu rumah tersebut dari dalam.

"L-lho..? Floyd..?!" Adam terpAku diam memandangnya.

"Ya...." Floyd menunduk kesal.

"Ada apa kesini..?" Adam keluar dari rumahnya menggunakan kaos biasa.

"Ada yang ingin Ku bicarakan.." Floyd menjawab pertanyaan Adam dengan sangat tertekan.

Adam tidak menjawab, Ia berjalan menuju sebuah bangku di pinggir pintu rumahnya. Dia duduk lalu menepuk tempat kosong di sebelahnya, "sini duduk..." Panggil Adam, satu kata ke kata yang lain.

Floyd berjalan melalui gerbang yang sudah terbuka dari tadi, lalu mengambil tempat duduk sebelahnya.

"Sebenarnya Aku--" Floyd menunduk, menunjukan sebuah penyesalan.

"Kamu tahu.. Hidup ini sulit.. Menolong Mu adalah pilihan ku, jadi jika ada konsekuensinya Aku yang harus menanggungnya.." Adam memotong perkataan Floyd sambil tertawa.

"Tapi tetap saja!!" Floyd membalikan badan kepada Adam secepatnya.

"Haha.. sudahlah jangan dibawa ke hati.." Tawa Adam mulai memudar.

Floyd kembali ke posisi semulanya. "Malah Aku yang harusnya kesal.. Aku sudah diDO, terus Aku tidak bisa menepati janjiku..." Adam menatap langit langit dengan hampa.

"Bodoh..! Gak gitu juga...!" Floyd memegang pundak Adam kencang kencang.

Adam menoleh dan hanya memberikan senyuman. "Aku sudah dapet sekolah baru ko.. Walaupun sangat jauh dari sini..." Dia mempertahankan senyumannya itu.

"Kalau begitu..." Floyd melepaskan pundak Adam perlahan lahan. "Santai ajaa... Nanti Kita bisa ketemu lagi kan..?" Adam tertawa lagi, Dia ingin terlihat bahagia di mata Floyd.

"Gak ada jaminannya..." Floyd tampak lebih murung lagi.

Adam menoleh ke arah Floyd lalu memberikan jari kelingkingnya, "Aku berjanji Kita akan bertemu lagi.. Pasti.. Kali ini takkan teringkari..", Ia tetap saja mempertahankan senyumannya itu.

Floyd tak tahu harus bereaksi seperti apa lagi, Dia sedih dan juga senang. Tapi tetap saja Ia memberikan kelingkingnya lalu melakukan janji jari kelingking.

"Ya sudah.. " Floyd tertawa, melepaskan jari Adam lalu berdiri. "Aku pulang dulu.." Floyd melangkah keluar pagar.

"Ya.! Hati hati.!!" Adam menjawab dengan lantang.

"Selamat tinggal.." Floyd melangkah menjauh dari rumah tersebut, tanpa menoleh dan berkata apapun lagi.

Setelah hari tersebut terlewatkan, semua hal tak terasa berlalu. Gordo dan yang lainnya tak pernah mengganggu Floyd dan Ash lagi. Helen sudah mencoba menolong Adam tapi kini sudah terlambat dan akhirnya Adam pun pergi keluar kota ke sekolah barunya. Hari ke hari berlalu, Helen mulai melupakan kejadian tersebut, namun Ash dan Floyd selalu mengingatnya.

Satu tahun berlalu Ash dan Floyd sudah naik kelas. Ash menjadi kelas 1 SMP dan Floyd menjadi kelas 6 SD. Akhirnya belakangan ini Ash bisa memberanikan diri untuk menggunakan kekuatannya, karena itu kini Ia bisa mengendalikannya.

Sifat dari Floyd mulai berubah. Ia yang dulu penAkut, kini menadi lebih berani lagi. Floyd yang dulu tergantung pada kakaknya sekarang mulai bisa sendiri, dan kini sifatnya mulai menyebalkan terhadap Ash.

"Floyd.. Mau liat kekuatan Ku ngga..?" Pagi pagi Ash menghampiri Floyd yang sedang sarapan, selagi lain Helen sedang mandi.

"Mau..." Jawab Floyd dengan santai sambil makan.

Ash mengeluarkan api kecil dari tangannya membuat Floyd memandang api tersebut lama.

"Cuman gini aja..?" Floyd melirik wajah Ash.

"HAAA..?!!" Ash memadamkan apinya dengan kesal.

Kira kira seperti itu percakapan pertama mereka tentang kekuatan Ash. Tetapi sampai saat ini kekuatan dari Floyd masih tidak diketahui.

Satu tahun berlalu, kini Ash berada di kelas 2 SMP, dan Floyd pun sekarang berada di kelas 1 SMP. Hari demi hari, Ash jadi lebih sering menggunakan kekuatannya untuk menyombongkan diri dan menambahkan popularitasnya di kalangan para siswa.

Suatu hari saat berada di lapangan sekolah, Ash terlihat sedang bermain basket bersama teman temannya dan juga bersama Floyd. Pada saat shoot terakhir Ash membakar bola basket membuat lemparannya lebih keren, menurutnya.

"Ash...!!!~" Banyak anak perempuan yang menghampiri Ash dengan botol minum di tangannya sambil berteriak.

"Ash..!! Ambil air minum ini..!" Jauh tak jauh itulah yang dikatakan para perempuan, berebut dengan murid lain.

"Iya iya.. Aku cuman cukup satu botol ko..!" Ash melirik ke arah Floyd lalu tersenyum sombong.

Floyd sedang memandang Ash balik merasa kesal melihat hinaannya yang sangat jelas. "Ayolah Ash berhenti main main.." Floyd menggaruk kepalanya.

"Iyaa iyaa... Tenang Flo.. Nanti Kamu juga dapat Fans---" Ash yang sedang berjalan keluar lapangan bersama anak perempuan di belakangnya menoleh ke arah Floyd. Namun karena tidak fokus Ia menabrak tiang basket yang berada di depannya, membuatnya langsung terjatuh.

"Ash Kamu gak apa apa.?!" Para anak perempuan, mengelilinginya dengan panik.

"Ya ampun tuh kan..." Floyd perlahan menertawakan Ash. Lama lama Floyd dihampiri oleh seorang perempuan dengan rambut merah panjang dan jepit rambut yang menempel di pinggir poninya.

"Nihh..." perempuan tersebut melemparkan sebuah botol air minum ke arah Floyd.

"Ups..? Amie..? Makasih.." Floyd menangkap botol tersebut dari kejauhan.

Perempuan tersebut adalah Amelia. Dia suka dipanggil teman temannya dengan sebutan Amie. Dialah teman Floyd yang berbeda kelas. Amie adalah teman yang sangat dekat dengannya, Ia selalu ada untuk Floyd walau sifatnya yang terkadang tak tertebak.

"Kamu iri bukan sama Ash?.." Amie dengan datarnya berkata di sebelah Floyd.

"Berisik lahh.. Malah kakakku cari perhatian banget jadinya ceroboh.." Floyd menggaruk kepalanya lagi dengan kesal.

Amie perlahan tertawa dengan menutupi mulutnya.

Hari hari mereka, jauh tidak jauh berjalan seperti itu. Ash yang digemari banyak perempuan dan juga Floyd yang selalu berada di sisinya.

Suatu hari, "Aku pulangg..!!" Ash membukakan pintu depan rumah dengan semangat.

"Halooo.." Floyd mengikuti Ash dari belakang memasuki rumah dengan menggunakan seragam.

"Selamat datang.!" Helen membalas mereka sambil memberi senyuman lalu mengambil suatu barang dari meja.

"Ini ambilah..! Dua pakaian ini ibu yang bikin lho..!!" Helen menghampiri, memberikan sebuah kemeja hijau dan juga syal merah kepada mereka berdua.

"Wah keren..!!!" Ash langsung mengambil syal merah dan memakainya di sekitar lehernya.

Floyd kemudian mengambil kemeja hijau dan mencoba memakainya. Tetapi ternyata kemeja tersebut sedikit terlalu besar baginya.

"Aduh... Kegedean ya..?" Helen menutup mulutnya. "Ah engga ko bu..!! Nanti juga cukup kok..!!" Floyd senyum senang.

Ash berlari, mengambil jaket biru yang digantung dekat pintu lalu memakainya bersamaan dengan syal tersebut.

"Keren ga..?!" Ash tertawa, menunjuk Dirinya sendiri.

"Iya lah gimana Kamu aja.." Floyd, sambil tersenyum kesal.

Waktu banyak terlewati. Popularitas Ash entah mengapa mulai naik setiap harinya. Floyd semakin dekat lagi dengan Amie sebagai sahabat baiknya. Namun sampai saat ini Ia belum bertemu Adam lagi. Akhirnya satu tahun berlalu dan Ibunya pun tiba tiba mengucapkan salam perpisahan kepada mereka.

"Ibu.. Mau kemana..?" Tanya Ash saat pagi hari telah tiba, melihat ibunya yang sudah berkemas membawa koper dari depan pintu kamar.

"Sepertinya ibu akan pergi sementara waktu untuk mencari pekerjaan...." Jawab Helen setelah menyadari keberadaan Ash dan Floyd.

"Tapi kan bu.. Ibu bisa mencari pekerjaan sekitar sini kan..?!" Floyd membalas ucapan Ibunya dengan tegas.

"Floyd... Ibu sudah mencari seluruh pekerjaan disekitar sini.." Helen menunduk, tak ingin memandang kedua anaknya.

"Kalau begitu..! Biarkan Kami yang bekerja..!" Ujar Ash, mengeraskan kedua tangannya, diikuti oleh Floyd yang mengangguk di belakangnya.

"Terimakasih.. Tapi Kalian harus fokus sekolah.. Nanti ibu akan suruh orang terpercaya ibu untuk mengantarkan uangnya ok..?" Helen tersenyum kepada mereka berdua. Tanpa berbicara lagi Dia membukakan pintu rumah dan melangkah keluar.

Di saat pintu tertutup, Helen tak pernah kembali lagi ke rumah.

"Ash.. Apa ibu akan baik baik saja..?" Tanya Floyd, memandang pintu yang baru saja ditutup oleh Helen.

"Tentu..! Ibu itu orang yang kuat..!" Jawab Ash dengan senyuman kepada Floyd, seperti biasa Ia berusaha menenangkan adiknya.

Setelah setahun berlalu lagi, perlahan lahan Ash dan Floyd pun menjadi mulai mandiri. Mereka tinggal berdua di rumah tanpa ayah dan juga ibunya.

Saat hari libur tiba, di pagi hari, "Oi Floyd..! Beliin sayuran sana ke pasar..!" Ash melemparkan uang ke arah Floyd dari sofa dan Floyd yang sedang di dekat pintu menangkapnya.

"Kenapa ga Lo aja sih..? Nanti juga ujungnya Gw yang masak..." Floyd melirik kesal.

"Ya deh.. Nanti minggu depan Gw yang belanja.." Ash tertawa, Ia menggaruk kepalanya pelan pelan.

"Ampunnn..." Floyd menunduk malas.

Disaat itu Floyd dan Ash memakai pakaian yang pernah dirajut oleh ibunya sendiri sebagai kenang kenangan. Floyd segera keluar rumah dan memakai sepatunya di depan rumah.

"Duluan..!!" Teriak Floyd kepada Ash yang sedang berada di ruang tamu dari luar pintu. "Yaaa..!!" Balasnya sambil melambaikan tangan.

Floyd berangkat menuju pasar yang berada tidak jauh dari rumah, untuk membeli sayuran yang disuruh oleh Ash.

Saat dalam perjalanan Ia melewati gedung gedung dengan gang gang kecil di antaranya, gelap dan mengerikan walaupun itu pagi hari.

Tidak ada hal hal aneh yang terjadi, Floyd tetap bejalan sampai suara lantang laki laki terdengar membentak seseorang dari salah satu gang di sisi kanan.

"HAH..?! KERJA YANG BENER..!!" Suaranya sangat terdengar sangat kencang. Walaupun begitu tidak ada orang yang memperdulikannya.

Floyd juga tak mau bermasalah dengan siapa siapa, Dia melewati gang itu tanpa menengok. Tapi tak sengaja melihat wajah yang dikenal olehnya di ujung mata. Ia kembali mundur beberapa langkah untuk melihat ke arah gang tersebut. Floyd terkejut, melihat seorang yang berharga baginya.

"HAH..!" ibunda dari Floyd dan Ash, Helen sedang tergeletak di pinggir gang tersebut dengan kaki pria tersebut yang menginjak perutnya.

Floyd yang terkejut hanya bisa berdiam diri dan memandang selama beberapa detik dengan ketAkutan. Sampai akhirnya Ia memberanikan diri untuk menghampiri, walau tangannya bergetar.

"IBU..!!" Floyd berteriak, berlari. Namun Helen menyadari keberadaan anaknya, Ia menggunakan kekuatan terakhirnya untuk membuat dinding api yang sangatlah tinggi dan besar menghalangi gang tersebut dan menghalangi Floyd untuk masuk.

Floyd terhenti tapi Dia masih tidak menyerah untuk menyelamatkan Ibunya. Dirinya memukul tembok tersebut berkali kali membuat lengannya gosong terbakar.

"Ibu..!!" Floyd yang terus menerus memukul dinding tersebut. Setelah mulai menyerah, Dia melihat ke arah dinding yang Ia pukul tersebut. Ternyata tanpa disadarinya sudah terukir sebuah kata dari api, berucap "Larilah, bertahanlah, jadilah anak yang baik... Aku sayang Kamu dan kakak mu..".

Floyd meneteskan air mata, menyesal karena tak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan ibunya. Floyd dengan sekuat tenaga berlari kembali ke rumah mengabaikan apa yang disuruh Ash.

Floyd berlari kembali ke rumah dengan panik, kakinya tak dapat menjalankan langkahan yang benar, air mata terus mengucur dari matanya. Saat Floyd tiba di rumah, Ia langsung membanting pintu dengan tangan penuh luka api.

"Selamat datang Floyd mana sayurannya..?" Ash berbicara dengan santai, saat menengok ke arah pintu depan, Ia berdiri terkejut.

"Fl-floyd tangan Mu kenapa..?!!" Ash berlari ke depan pintu. Floyd bersender ke dinding kehabisan nafas.

Ash memegang dan memeriksa lengannya. Namun Floyd langsung menarik lengan Ash dengan paksa.

"A-Ash..!! Bantu Aku..!" Lengan Floyd bergetar.

"Tunggu Floyd..! Apa apaan Kamu ini tangan Kamu terluka begini..!!" Bentak Ash, Ia melepaskan genggaman tangan Floyd.

"Tapi.. IBU.." Floyd membentak balik dengan tAkutnya.

"Hah..? HAH..?! Ibu..?!" Ash terpAku diam atas perkataan Floyd.

"Ibu dimana..? Suruh ke rumah lahh..!" Ash yang tidak tahu keadaan, tertawa dengan biasa saja.

"IBU DALAM BAHAYA..!!" Floyd menarik baju Ash sekuat tenaga.

Ash yang ditarik, berhenti tersenyum. Ia menatap hampa Floyd sementara waktu lalu menunduk entah mengapa.

"Ash..? Ash..?" Tanya Floyd perlahan, menarik dan mendorong baju Ash berkali kali.

"Kamu bercanda.. Kan..?" Ash masih menundukan wajahnya.

"Ngga..!! Ibu benar benar--" Floyd melepaskan baju kakaknya itu.

"Floyd waktu itu Aku bilang bahwa ibu itu kuat kan..?" Tanya Ash perlahan lahan.

"Ya..." Jawab Floyd, Ia mengepalkan tangannya keras keras.

"Kamu percaya kan..?" Tanya Ash sekali lagi kepadanya.

"Tapi kak..!! Ibu benar benar..!" Bentak Floyd, Dia sangat memerlukan bantuan Ash yang mempunyai kekuatan.

Ash melangkah perlahan menuju sebuah meja dengan telepon rumah di atasnya. Mengangkat telepon lalu mengetikan sebuah nomor.

"Ya..? Polisi.. Ada peristiwa darurat.. Mohon selidiki jalan menuju pasar.. Ya.. Terima kasih.." Ujar Ash kepada telepon tersebut sebelum Ia meletakannya kembali.

"Ash--" perkataan Floyd terpotong. "Sudah kupanganggil petugas pusat untuk menyelamatkan ibu..." Jawab Ash menghadap ke dinding.

"KAKAK..! INI IBU..!!" Floyd berteriak kepada kakaknya sendiri, dengan dipenuhi amarah menghampiri Ash.

"Aku tahu..." Ash tetap tidak mau memandang wajah adiknya.

"Kenapa..?! Kenapa Kamu tidak mau membantu..!!" Nada ucapan Floyd terdengar lebih pelan dari sebelumnya.

"Aku tidak ingin kehilangan keluarga lagi.." Ash mengepalkan tangannya.

"Makanya..!!" Bentak Floyd sekali lagi dengan lantangnya, mendekati kakaknya lebih dekat lagi.

"Kamu takkan mengerti.." Ash membalikan badannya kepada Floyd.

"Cih..!! Logika Mu kacau..!! Biarkan Aku sendiri aja yang pergi..!" Floyd membalikan badannya, dan langsung berjalan menuju pintu rumah.

Setelah beberapa langkah Dia ambil, akhirnya Ash berbicara lagi kepadanya "Floyd jangan.." Namun perkataannya diabaikan.

Karena keinginannya untuk Floyd tidak pergi, Ash bertindak. Mengeluarkan semua yang Ia telah tahan, semua api darinya Dia lancarkan. Semua jalan keluar seperti pintu dan jendela tertutupi. Floyd langsung menengok ke belakang.

"FLOYD..!" Kali ini kakaknya berani membentak.

"Ash apa apaan..?!!" Floyd membanting tangannya dalam kobaran api.

"Aku.. Aku tidak mau mengambil resiko.." Perkataan Ash mulai memelan lagi.

"Jelaskan..!" Bentak tegas Floyd.

"Jika Aku ikut dan gagal... Aku akan melihat ibu dalam bahaya.. Atau mungkin sampai kematian... Jika Kamu ikut... Aku akan kehilangan segalanya..." Ash menunduk dan berusaha menjelaskan isi hatinya.

"Tapi Ash..!!" Floyd membantah, Dia tetap ingin menolong ibunya

"DIAM..! Diam..." Tangan Ash mulai bergetar ketAkutan.

Floyd memandang Ash, Ia mengerti perasaannya. Namun Dia tetap bertindak seperti kata hati.

"Ash.. Maaf..." Floyd berlari secepatnya menembus tembok api buatan Ash.

Ash yang melihat Floyd pergi, langsung menghilangkan api dan mengejarnya dari belakang.

Ash melihat Floyd dengan luka bakar di seluruh tubuh, namun entah mengapa kemeja buatan ibunya tak terbakar sama sekali.

Floyd berhenti di hadapan sebuah gang yang sebelumnya. Namun semuanya sudah terlambat.

Floyd terpAku diam, para polisi sudah datang dan mengamankan sebuah mayat. Tanpa melihat mayat tersebut pun Floyd sudah tahu bahwa itu adalah ibunya.

Laki laki yang sebelumnya menginjak Helen pun sudah berada di tangan polisi.

Saat Ash sampai di dekat Floyd, Dirinya langsung terjatuh di atas lututnya.

Dia memukul aspal sekuat tenaga lalu berteriak, "AAAGGHHHH!!!". Ia kesal, Ia kecewa, "Mengapa Aku tidak bisa menyelamatkan Ibu..?" Tanya Ash dalam hati.

Hari tersebut menjadi hari yang paling tidak bisa mereka berdua lupakan, mereka pulang dengan tidak ada harapan. Mereka berduka dalam waktu yang sangat lama, disaat itu mereka harus benar benar hidup mandiri dengan mencari uang sendiri.

Semua hal buruk yang terjadi pada Floyd tidak hanya itu. Waktu berlalu sangat banyak kini Floyd telah berumur 17 tahun.

"Huaaggghhh" Floyd berjalan keluar kelas sepulang sekolah, melihat Amie yang sedang berjalan di hadapannya.

Floyd pura pura tidak melihatnya dan hanya berjalan melewati Amie. Namun Amie juga mengabaikannya.

Floyd agak kesal dan akhirnya berbicara kepada Amie yang kini di sebelahnya, "Kok diem..??".

Amie menoleh dan menjawab dengan wajah datar "Kamu juga diem kan?...".

"Iya sih.." Floyd memandangi bingung.

Amie yang melihat wajah Floyd sedang bingung, tertawa, "Iya iya deh.. Mau ngobrol apa..?"

Floyd tersenyum, mereka berdua berjalan pulang berdua. Di dalam perjalanan pulang, Ash juga berjalan melewati tempat yang sama.

"Aduhhh...!" Keluh Ash, Dia tampak sedang menggaruk kepalanya kesal.

"Ahhh..!! Floyd..!!" Ash yang menyadari keberadaan adiknya langsung memanggil. "Oii..!" Sautnya.

"Bukannya Kamu harus berjaga..?" Floyd menoleh ke arah Ash yang sedang menghampiri mereka. Floyd dan Amie tampak sedang saling menggenggam tangan walau keduanya tak sadar.

"Ah ngga kok.. Hari ini belum ada panggilan---", "ASH..!!!" Ash yang sedang mengobrol dengan Floyd, tiba tiba mendengar banyak jeritan perempuan yang berlari ke arahnya.

"A-ampun dah..." Ash menunduk kesal lalu mulai melarikan diri lagi, tanpa berpamitan dengan Floyd.

"Susah juga ya jadi pahlawan termuda.." Amie menoleh ke wajah Floyd.

"Iya Ash mempunyai terlalu banyak penggemar....." Floyd menunduk dan akhirnya menyadari bahwa Ia sedang menggenggam tangan Amie.

Setelah sadar Floyd langsung melepas tangan itu dan wajahnya mulai memerah.

Amie yang baru sadar juga, mulai memerah wajahnya namun tak semerah Floyd. Amie berpura pura tidak malu dan bertanya "Kenapa..?".

"H-hahh..? Ngga ngga..." Floyd mengipaskan tangannya.

Floyd kini tumbuh anak remaja yang sudah berpasangan dengan teman masa kecilnya Amie selama satu tahun. Di sisi lain Ash baru saja lulus dari sekolahnya, dan kini memasuki aliansi pahlawan dan menjadi pahlawan termuda yang sangat populer dikalangan remaja.

Beberapa minggu terlewati, Amie mengunjungi rumah Ash dan Floyd pada saat itu.

"Floyd.. mau teh ngga..?" Amie memanggil Floyd dari dapur rumahnya. Ash pada saat itu masih berpatroli keliling.

"Yaaaa mauu..!!" Floyd menjawab dari arah ruang tamu.

Setelah beberapa menit, Amie datang dari dapur membawa segelas teh untuk Floyd, Ia taruh teh tersebut di atas meja depan sofa.

Floyd mengambil secangkir teh tersebut lalu bangkit dari duduknya. "Mau diem di depan rumah ngga...?" Tanya Floyd.

"Hmm..? Hayu.." Amie melirik Floyd lalu berjalan duluan keluar rumah.

Floyd mengikutinya dari belakang. Pada saat itu jam 8 malam, bintang bintang sudah menyinari bumi.

Floyd langsung duduk di sebuah bangku depan rumah setelah melihat Amie yang duluan duduk.

Floyd menyesap tehnya yang masih panas sambil memandangi bintang. "Indah bukan..?" Tanya Floyd kepada Amie yang di sebelahnya.

"Floyd..." Amie tidak menjawab pertanyaan itu, Dia hanya memanggil namanya saja.

"Iya..?" Floyd melirik sedikit ke sebelahnya.

"Bolehkah Aku bertanya sesuatu..? Tapi maaf kalau ini sedikit menyinggung..." Amie yang biasanya suka bertindak cool tiba tiba berubah.

"Tentu saja...!" Jawab Floyd dengan senang hati.

"Kenapa Kamu bisa sebahagia ini? Setelah Kamu kehilangan ibu dan ayah mu..?" Amie memandang Floyd dengan merasa kasihan.

Floyd memandang wajah Amie sejenak lalu berkata, "Selain kehilangan kedua orang tuaku.. Aku juga kehilangan sahabat baik ku.. Namun Aku selalu berpikir, Aku masih mempunyai orang orang berharga yang lain... Lebih baik jika Aku memikirkan yang masih ada, dari pada bertindak putus asa kepada yang sudah tiada...". Floyd memandangi bintang bintang, di sisi lain Amie hanya bisa memandang wajah Floyd.

"Floyd, Aku mengenal Mu dari kelas 1 smp... Aku sudah menjadi pacar Mu selama 1 tahun.. Dan Aku tahu bahwa Kamu orang yang sangat luar biasa, itulah hal yang membuat Ku kagum kepada mu.." Amie tersenyum malu.

"Aku tahu... Aku juga mempunyai hal yang sama kepada mu.." Floyd tertawa sendiri.

"Tapi inget inget deh wajah Kamu pas nembak Aku.." Amie menutup mulutnya sambil tertawa.

"Berisik ah..!!!" Floyd menggaruk kepalanya kesal.

Jam Jam berlalu, pada akhirnya hari semakin larut malam, Amie memutuskan untuk pulang sebelum tengah malam.

"Anter Aku ya..." Amie berjalan ke depan gerbang rumah Floyd.

Floyd mengikuti Amie dari belakang setelah menutup nutup pintu dan gerbang rumahnya. Mereka berjalan menuju rumah Amie yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi mereka sekarang.

Setelah berjalan dan mengobrol sepanjang pernalanan yang sepi dan gelap, mereka melihat sebuah sosok yang menghalangi jalan.

Orang tersebut tinggi, memakai jubah dan topeng di wajahnya.

Sosok itu hanya diam menghalangi jalan, "Ayo lewatin aja.." Floyd memegang tangan Amie lalu menariknya perlahan sambil menggiringnya melewati sosok itu.

Sesaat mereka melewatinya, sosok misterius itu mengeluarkan pisau dan menebas ke arah Floyd.

Untungnya Floyd sadar, Ia langsung menarik Amie untuk menjauh dari orang itu, serangannya meleset.

"A-apa apaan...?! Kamu siapa!!" Bentak Floyd, kesal. Ia tAkut Amie bisa terluka.

Orang itu diam memandang Floyd tanpa menjawab apapun. "Sialan..!!" Floyd berdiri dan menghalangi Amie.

"Kamu diam di belakang..." Floyd melirik sedikit ke Amie yang berada di belakangnya.

Amie yang biasanya cool kini tampak tAkut. "H-hati hati..." Amie hanya bisa mendukungnya dari belakang.

"Ya.." Pandangan Floyd kembali ke arah sosok misterius itu.

Orang itu berlari menuju Floyd dengan cepat, mungkin melebihi kecepatan manusia biasa. Dia memukul Floyd tepat di perutnya dengan kencang sesaat sudah dekat.

"Akh..!" Floyd terpentalkan ke belakang, Amie untungnya berada sedikit di pinggir jadi tidak terkena tubuh Floyd.

"F-floyd..!!" Amie segera berlari ke arahnya dengan khawatir.

"Amie mundur...." Floyd berdiri secepatnya di depan, melindungi Amie yang berada di belakang.

"Apa maumu..?" Lanjut Floyd sesaat Ia berdiri.

Seperti sebelumnya, orang itu hanya diam memandang tanpa berbicara.

"Kami tidak melakukan apapun..!" Teriak Floyd dengan terbawa emosi.

Orang itu sekali lagi berlari ke arah Floyd secepatnya selagi Amie menunduk cemas. Sosok tersebut langsung memukul Floyd berkali kali.

Floyd berhasil menahan beberapa serangannya namun pada akhirnya Dia sudah tidak kuat, Ia mulai melemas dan melepas tangannya membuat pukulan pukulan itu sampai pada dadanya.

Dia menunduk kesakitan membuat sebuah lahan terbuka untuk semua serangan. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk mengakhirinya dengan pukulan kencang tetapi, pukulannya tiba tiba tertahan oleh lengan kanan Floyd dan tangan kirinya meninju perut orang itu disaat bersamaan.

Ia terpukul mundur kesakitan dan Floyd berdiri memandangnya dengan kecapean.

Namun rasa sakit itu terasa sebentar bagi manusia aneh itu, Dirinya lekas berdiri tegak dan mengeluarkan sebuah pistol dari balik jubahnya.

Menarik pelatuknya ke arah Floyd, untungnya Dia berhasil menghindar. Namun hal itu membuat Amie tak terlindungi sama sekali.

Manusia itu segera berlari menuju Amie, sebelum disadari Floyd. Dia menahan leher Amie dengan lengannya lalu pistol di kepalanya.

"AMIE..!!" Floyd berteriak dengan penuh amarah dan kecemasan.

Orang tersebut melambaikan tangannya yang satunya ke arah Floyd, menunjukan bahwa Dirinya harus mendekat.

"Lepaskan Dia..!!" Floyd membentak sekali lagi, namun manusia itu tetap melambaikan tangannya.

Floyd yang sadar langsung memberikan senyumaN terpaksa, "Ah... Jadi seperti itu..?" Ia berjalan mendekati Amie.

"Jangan Floyd....!" Bentak Amie, matanya mulai berkaca kaca. "Jangan...!!!!" Lanjut Amie.

Sosok tersebut menunjuk ke permukaan di hadapannya, lalu Floyd berhenti di sana. Dia mengarahkan pistolnya ke kepala Floyd tanpa ragu.

"Amie.. Terimakasih.." Floyd membukakan tangannya lebar lebar selagi tersenyum.

Namun sebelum pelatuk ditarik, Amie menggigit tangan yang menahannya. Tentu tahanannya langsung terbuka dan Amie langsung berlari ke hadapan Floyd menghalangi arahan pistol.

Namun sosok itu tetap saja menarik pelatuk dan akhirnya tidak mengenai Floyd melainkan Amie. Ia terjatuh, langsung menutup usia dengan sekejap karena mengenai kepalanya.

"A-AMIE..!!" Floyd berlari menuju Amie tanpa berpikir panjang.

"A-amie amie... Jawab Aku..." Floyd menahan kepala Amie sambil perlahan menunduk.

"Amie... Amiee..." Floyd meneteskan air matanya ke wajah Amie. Namun tiba tiba cabang cabang kayu mulai tumbuh dari dalam punggungnya, merambat ke seluruh tempat.

Orang tersebut tetap tidak bereaksi, memandang selagi masih mengarahkan pistolnya.

"AMIEE..!!!" Floyd dengan penuh amarah segera melajukan 3 cabang kayunya ke sosok tersebut. Satu mengenai perutnya, satu mengenai pundaknya dan satu meleset namun dapat memotong tali topengnya, menunjukan wajah asli sosok itu.

Floyd syok, Dirinya terpAku memandang wajah tersebut. "A-adam...?" Air matanya mulai bercucuran karena bingung.

"Ah.. Halo.. Floyd.. Maafkan.. Topeng bodoh ini mengendalikan ku.." Adam dengan kayu di perutnya memaksakan diri untuk berbicara.

"K-Kamu.. HARUSNYA Aku YANG MINTA MAAF..." Floyd membentak dengan emosi.

"Kalau aja... Aku membuka topeng Mu lebih awal..." Dia menarik bajunya sendiri kesal.

"Pokoknya.. Aku minta maaf... Tapi benerkan Kita tetap bertemu lagi..?" Adam tersenyum walau dari mulutnya meneteskan darah.

"Tidak TIDAK... Tolong setidaknya Kamu jangan mati.. ADAM HIDUP..." Floyd menangis lebih deras lagi.

Adam memberikan senyuman lagi "Maaf.. Aku tidak bisa melindungimu.." Matanya mulai lemas dan akhirnya tertutup, tidak akan terbuka lagi.

"A-adam..? ADAM.." Floyd menarik kayunya dari tubuh Adam lalu mendekati jasadnya perlahan, sambil menggendong Amie.

Memeluk mereka berdua erat erat di sampingnya selama air mata terus bercucuran.

"Ada apa ini..!" Aliansi pahlawan yang sedang berpatroli sontak melihat Floyd dengan kayu berlumuran darah dan 2 jasad di tangannya.

"F-floyd..." Ash yang sedang berpatroli juga terpAku diam, dalam hati Dia memanggil nama adiknya.

Floyd diam memandang mereka tanpa berkata kata, Ia tAkut, Ia tak tahu harus berbuat apa apa.

"WOI KAMU..." Orang orang aliansi langsung mengarahkan senjata mereka ke arah Floyd yang tak memiliki harapan.

Namun Floyd melihat wajah kakaknya yang perlahan berbicara tanpa suara.

"Apa?--" Floyd bertanya pada Dirinya sendiri.

"Larilah dari sini..." Ucapan bibir Ash terbaca olehnya. Dirinya sempat terkejut namun tetap saja melakukannya.

Floyd membaringkan Amie dan Adam di atas permukaan tanah. Berdiri lalu memandang Ash terakhir kalinya. Dia segera berlari dan melompat dari atap ke atap meninggalkan tempat itu dengan bantuan kayunya.

"TUNGGU..!" Para aliansi berusaha mengejarnya, namun tidak ada yang bisa.
Ada juga yang langsung menolong Amie dan Adam. Namun Ash hanya memandang adiknya pergi, berpikir apa mereka akan bertemu lagi.

Hari hari, minggu terlewati. Floyd tetap saja berjalan. Setelah banyak hal dilalui, akhirnya Dia sampai di sebuah kota jauh yang dipenuhi oleh puluhan bahkan ratusan kriminal dan juga orang orang buangan. Floyd mungkin berniat untuk tinggal disitu, tetap berjalan dan berjalan dengan lesu.

"Yo..! Bocah kayak Kamu ngapain disini..?!" Seorang pria dengan topi berbulu menyaut Floyd, selagi perlahan mendekati nya.

Floyd tidak menjawab, melainkan tetap berjalan mengabaikannya. 

"Woi woii..!! Jawab lah..!!" Pria tersebut tetap mengikuti Floyd dari belakang.

"Apa keperluan Mu hah..?!" Floyd menengok ke arah nya. Matanya melirik lalu menatapnnya dengan mata yang penuh dendam, walaupun pria tersebut tak melakukan apa apa.

"Mata itu... Mata yang sama dengan Ku ketika Aku kehilangan istriku..." Dia tersenyum. Floyd yang melihatnya berhenti sejenak.

Floyd terkejut "Maaf" Ucapnya. Dia melanjutkan perjalanannya, mengabaikan orang tersebut lebih lama lagi.

"Woiii..!! Tunggu lah di sini bahaya mening ikut sama Aku..!" Pria itu tetap saja mengikuti Floyd dari belakang, tanpa alasan yang pasti.

"Apa sihhh..!!" Floyd berhenti dengan kesal, menghentakan kakinya lalu melirik ke belakang.

"Nah gitu dong.. Mau ga Kita nongkrong dulu di bar..?"  Laki laki itu memegang pundak Floyd.

"Aku belum 21 tahun.." Floyd melepaskan tangan pria itu dari pundaknya.

"Sudah lah pesan lah soda atau apalah..!" Ia tertawa membalas perkataan Floyd.

Mereka berdua berjalan bersama menuju bar yang letaknya tak jauh dari lokasi mereka saat ini.

Mereka tiba dan segera memasuki bar tersebut, isinya hanya segerombolan orang dengan senjata dan tatoo.

"Kenapa anak muda sepertimu bisa ada di sini ha..?" Pria itu mengambil sebuah kursi dekat bartender.

"Aku membuat sebuah kesalahan.." Floyd menjawab, perlahan duduk di sebelah orang yang baru Dia temui itu.

"Semua orang membuat kesalahan..." Ia merespon, tangannya melambai lambai untuk memanggil bartender.

"Ini adalah sebuah kesalahan yang sangat besar.." Floyd menghela nafasnya besar besar.

"Pesen Broola 2.. Yah Kamu bisa memperbaikinya.." Perhatian pria itu sempat teralihkan dan akhirnya berbicara pada Floyd lagi setelah memesan minuman.

"Kesalahan Ku tak bisa diperbaiki... Dan apa itu Broola..?!" Floyd tampak murung, namun Dia tetap saja bisa menyelipkan sebuah pertanyaan.

"Ah itu Soda tenang... Ya sudah abaikan.. Apa yang telah Kamu lakukan..?" Ia menoleh kepada Floyd berusaha untuk menyimak dengan serius.

"Sahabat Ku membunuh pacar ku, lalu Aku membunuhnya.. Namun ternyata Dia hanya dikendalikan.. " Floyd memandang hampa meja di hadapannya.

"Dikenalikan...." Pria itu diam sejenak.

"Ada apa..?" Floyd menoleh ke arahnya, kebingungan.

"Ah maafkan... Aku juga seperti itu.. Istriku dibunuh oleh seorang pembunuh.." Laki laki itu memandang Floyd dengan pilu.

"Maaf..." Floyd memalingkan wajahnya dari pria itu.

"Ah sudah sudah..." Bartender meletakan dua gelas minuman tepat di hadapan mereka berdua.

"Oh ya.. Namaku Tim salam kenal..!" Tim mengangkat gelasnya, tersenyum.

"Aku Floyd.." Mereka membenturkan gelas bersamaan, mungkin biasa disebut cheers. Kemudian mereka langsung meminumnya bersama sama.

"Mm.. Enak.." Ucap Floyd perlahan lahan.

"Yakan..!" Tim menyenggol dengan senang.

Mereka berdua terus berbincang bincang sampai malam hari datang. Setelah berbicara, akhirnya Floyd memutuskan untuk tinggal dirumah Tim untuk sementara waktu.

"Oi Floyd tahukah Kamu..?" Tim bertanya kepada Floyd. Kini setengah tahun berlalu, mereka sudah sangat bersahabat. Mereka berdua baru saja pulang dari tempat magang.

"Hah..?" Floyd menengok ke arahnya bingung.

"Rumornya ada portal yang membuat Kita bertemu dengan pembut Kita lho..! Tapi sih belum ada kepastian..." Tim menunjukan jari telunjuknya.

"Wah.. Benarkah..? Aku ingin tahu seperti apa Dia.." Floyd menjawab dengan polosnya.

"Hah..? Kamu ga dendam gitu..?!!" Tim terkejut, berhenti sejenak dari langkahannya

"Hahh..?" Floyd yang sedang berjalan pun ikut berhenti.

"Bukannya pembuat Mu yang membuat Mu mempunyai hidup seperti ini..?!" Tim membentak Floyd seakan akan kesal kepadanya.

"Aku tak pernah memikirkan itu... Memang Aku sudah melewati banyak hal..." Floyd menunduk dan berpikir.

"Ya kalau begitu mari Kita serang mereka...!!" Tim tertawa sambil menunjuk Dirinya sendiri.

"Nanti akan Ku pikirkan lagi.." Floyd memalingkan diri dari hadapan Tim lalu kembali berjalan.

"Woii tunggu..!!" Tim mengejarnya dari belakang setelah sadar.

Informasi tentang portal tersebut telah dipikirkan oleh Floyd setiap saat sejak percakapan itu. Tanpa Tim sadari Dia telah mengumpulkan informasi lebih dalam lagi tentang portal tersebut.

"Tim.. Antar Aku.." Floyd yang baru saja pulang magang mengajak Tim.

"Mau apa..?" Tim bertanya kebingungan.

"Ikut dulu.." Floyd menuntun Tim menuju sisi kota kriminal itu. Floyd memasuki sebuah kedai yang aneh di pinggir jalan, bersama dengan Tim di belakangnya.

"Apa tempat ini..?" Tim masih saja bertanya kebingungan. Di dalamnya terdapat banyak alat alat sihir dan kertas kertas aneh.

"Ah ada tamu..." Ada orang yang keluar dari tirai ujung ruangan, Ia memakai jubah, rambutnya dipenuhi dengan rambut rambut putih. Namun wajahnya muda.

"Ya.. Saya mau mempelajari Legacy.." Floyd menunduk.

"Apa apaan Kamu ini..?! Mau belajat Legacy buat apa..??" Tim menoleh dengan keanehan, nada bicaranya naik.

"Hanya untuk berjaga jaga.." Balasnya.

"Ayo ulurkan tangan mu... Masalah pembayarannya bisa Kamu lakukan kapan saja.." Jawab pria di kedai tersebut.

Floyd mengulurkan tangan kepadanya. Tangannya itu mulai bersinar terang, ini adalah tahapan tahapan mudah tidak perlu memakan waktu yang lama sama sekali. Akhirnya semua itu selesai, Floyd melakukan pembayaran dan meninggalkan kedai itu dengan ilmu baru.

Pada akhirnya berbulan bulan berlalu mereka lewati tanpa disadari dan dirasa. Walau hanya berbulan bulan, Floyd kini sudah berumur 18.

"Yha perempuan yang tadi cantik juga..!!" Tim menyenggol Floyd dalam perjalanan pulang dari bar setelah magang.

"Halah apa sih isi pikiran Mu itu..?" Floyd melirik sedikit dengan kesal.

"Cewe.." Mereka berdua tertawa kencang, bahagia layaknya sahabat. Namun tahu tahu segerombolan pria bertubuh besar menghalangi jalan mereka. Anehnya seragam mereka semua terlihat familiar di mata Floyd.

"S-seragam itu.." Floyd berhenti sejenak dan menyisi.

"Kenapa emang..?" Tanya Tim, bingung.

"Seragam mereka terlihat familiar.." Lanjut Floyd, menatap segerombolan pria itu.

"Mereka adalah orang orang yang buruk.. Tentara utusan sebuah lab pemerintah.. Mereka sering menculik orang pintar, dan juga menjadikan orang sebagai tikus percobaan.." Tim juga bertatap kesal.

Floyd menyadari sesuatu, mengapa seragam itu terlihat sangat familiar. Seragam tersebut adalah seragam orang orang yang pernah menculik ayahnya pada saat itu. Pupil matanya mengecil, stress. Dia menghampiri mereka tanpa berpikir panjang sama sekali.

"T-tunggu bodoh apa yang Kamu lakukan..!!" Tim menyautnya dari belakang, meraihnya.

"Hei.. Apa yang Kalian telah Kalian lakukan kepada ayah ku..?" Floyd memegang salah satu pundak mereka dari belakang.

"Hah..? Apa apaan bocah..?!" Orang itu menoleh ke belakang.

"Oh..? Kamu..?" Lanjutnya, Ia ingat akan wajah Floyd.

"Jadi Kamu anaknya Ethan..?! Hahahaaha..!!" Dia tertawa sekencang kencangnya.

Floyd hanya bisa menatapnya dengan kesal. Di sisi lain salah satu tentara lain menghampiri mereka.

"Iyaa.. Kan topeng prototype buatan Ethan ditargetkan ke bocah ini oleh boss..!" Orang satunya lagi tertawa.

Floyd menatap lebih tajam lagi, dendam meluap luap dalam hatinya, tangannya Ia kepalkan keras keras sampai menyakiti Dirinya sendiri.

"Oh yang lebih aneh lagi orang yang dipasangkan topengnya itu kenalannya.. Waa Kamu selamat ya, beruntung..!" Mereka lanjut tertawa, tanpa menyadari keberadaan Floyd.

"Floyd..." Tim dari kejauhan memandang Floyd, Dia tahu hal ini akan berakhir buruk.

"Kamu.. Apa apaan.." Floyd memandang mata orang orang disitu dengan hampa. Dia teringat kembali semua hal yang telah dilaluinya.

Tanpa hesitasi, Floyd mengeluarkan kayu kayunya, melancarkannya kepada dada semua orang berpakaian tentara yang ada di sana. Floyd menarik kembali kayunya lalu menatap rendah mereka yang terjatuh.

"Tim... Aku akan pergi.." Floyd menunduk mendekati Tim

Tim menjawab kepadanya, "Ku tebak... Mencari portal..?".

Floyd yang memandangnya hanya mengangguk, selagi hujan perlahan turun dari atas mereka.

"Akan Ku wakilkan Kamu Tim..." Lanjut Floyd, meraih tangan Tim. 

Tim menjabat tangan temannya itu, "Ya.. Balaskan dendam pembuat mu.." Dia tersenyum.

Keesokan harinya Floyd mengemas semua barangnya yang berada di rumah Tim termasuk kemeja hijau kesayangannya.

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya yang telah berada di sisinya selama satu tahun. Dia segera melangkah dan meninggalkan kota tersebut di sore hari, kembali menuju kota dimana Ash berada.

Walau Floyd membutuhkan 1 minggu untuk sampai kota dimana Dia berada sekarang dari rumah Ash. Namun ternyata Ia berjalan dengan terbelat belit sehingga menempuh jalan yang jauh. Jalan yang sebenarnya hanya membutuhkan 1 hari.

Kebetulan Ash sedang menjalankan misi bersama teman pahlawannya di hutan yang berada dipinggir kota, saat Floyd berjalan.

Untuk sampai ke kampung halamannya, Floyd harus melewati hutan dimana kini Ash sedang menjalankan misi. Saat berjalan melewatinya Floyd melihat Ash sedang duduk di atas potongan kayu dekat api unggun sendirian.

Floyd yang sadar akan keberadaannya segera menghapirinya sedang beristirahat.

Suara semak semak terdengar oleh Ash, Ia menoleh ke arah sumber tersebut. "F-floyd..?!" Dia memandang wajah Floyd yang baru saja muncul. Terkejut dan segera menghampirinya.

"Apa yang Kamu lakukan disini..?!" Ash membentaknya perlahan.

"Tidak apa apa... Aku disini untuk menepati janjiku untuk melindungimu..." Floyd memberikan senyuman terpaksa, namun tulus.

"Aku tahu satu tahun sudah terlewati, tetapi Kamu telah menjadi buronan..! Jika Kamu terlihat oleh para pahlawan yang lainnya Kamu bisa saja ditangkap.....!" Ash rindu, namun kesal disaat yang bersamaan.

"Kenapa Kamu seperti mengusir ku..?" Floyd terpancing perkataan Ash, Dia mulai kesal juga.

"Haduh... Bukan seperti itu.. Aku ingin Kamu selamat..." Jawab Ash sesudah, menghela nafasnya.

Floyd menuruti perkataan kakaknya, Ia melangkah satu kaki ke kaki yang lainnya, keluar arena perkemahan tersebut.

"Ash.." Langkahan Floyd berhenti sejenak. "Tenanglah akan Ku bunuh Koraya dan Kita akan hidup bahagia.." Floyd melanjutkan perjalanannya tanpa menoleh ataupun berhenti.

"Apa.. Hah..! Tunggu..!!" Ash meraihnya, berjalan secepatnya tapi pada akhirnya para pahlawan lain datang memanggil Ash dari belakang sehingga tak sempat mengejar Floyd.

Setelah malam itu berakhir Floyd kembali berjalan. Karena urusan utamanya kembali ke kampung halaman untuk menemui Ash sudah terpenuhi, Ia langsung melewatinya dan pergi menuju sebuah gurun pasir yang berada di sebelah timur kampung halamannya.

Padang pasir dilewatinya, berhari hari terus berjalan. Dia sudah mempersiapkan hal ini secara matang matang sehingga bisa melewati gurun pasir tersebut dengan selamat.

Floyd berjalan jalan selama satu hari penuh di sebuah desa kecil di ujung gurun. Mencari sebuah artifak yang rumornya digunakan untuk membuka portal. Berdasarkan penelitian Floyd, lokasi artifak tersebut diketahui oleh rakyat desa itu.

Setelah bertanya tanya selama beberapa jam, akhirnya Dia mendapat informasi tentang sebuah piramida di tengah gurun yang konon memiliki artifak tersebut.

Ia kembali berjalan melewati gurun tersebut menuju dan menemui sebuah piramida, setelah 1 setengah hari berjalan.

Sesampainnya, Dia segera memasuki dan melewati labirin yang  diperlukan satu hari penuh hanya untuk melewatinya. Akhirnya Floyd berhasil mendapatkan artifak tersebut yang berada tepat di ruang atas piramida tersebut, anehnya tidak ada jebakan sama sekali.

Keluar dari piramida tersebut melalui pintu yang tiba tiba terbuka. Kembali melewati melewati gurun dan tiba sebuah hutan di bagian selatan kampung halamannya. Hutan tersebut adalah tempat yang konon portal dimensi berada. Seluruh cadangan minuman dan makanannya kini telah habis dipakainya, tubuhnya sudah kelelahan.

Setelah berjalan jalan tak lama, akhirnya Ia menemukannya. Memandangi sebuah portal bundar dari batu dengan tulisan tuisan kuno di sekelilingnya. Di tengahnya terdapat pilar dimana ada lubang di tengahnya yang mungkin berupa tempat ditaruhnya artifak.

"Ini untuk kalian...." Floyd berjalan mendekati pilar tersebut, tanpa berpikir panjang menaruh artifak diatasnya.

Artifak tersebut bersinar terang dan portal hampa itu mulai bercahaya biru dengan tekanan angin yang besar yang membuat Floyd hampir terpental saat detik detik pertama.

Floyd memandang portal itu sejenak, namun mendengar suara retakan dari atas portal yang hampir runtuh, Floyd terkejut dan bergegas memasuki portal tersebut tanpa ragu.

Tanpa disadarinya, Ash mengintip dari belakang pohon. Setelah mengetahui Floyd ingin menemui Koraya, Dia mencari informasi dan berkemah di dekat portal selama 2 hari.

Setelah Floyd memasuki portal, Ash mengejarnya dari belakang. memasuki portal dengan resiko meninggalkan semua hal yang Dia punya di belakang, statusnya, kepahlawanannya, dan lain lain, hanya untuk adiknya itu.

Saat mereka berdua telah masuk, portal tersebut runtuh menutup jalur antara dimensi Floyd dengan dimensi Koraya.

Saat Ash sampai, Floyd sudah tak ada di hadapannya, mungkin sudah pergi mencari Koraya terlebih dahulu. Ash langsung memfokuskan diri untuk mencari Koraya dan melindunginya sebisa mungkin. Di sana Dia mencari informasi sebisanya dan akhirnya menemukan asal sekolahnya.

Dari sana pertemuan Ash dan Koraya dimulai, pertarungan Ash dengan Floyd juga. Sampai sampai Koraya dan Ash pun mulai mengembalikan hatinya. Sampai pada akhirnya Floyd mempunyai keluarga di rumah barunya yang membuatnya mengetahui kembali siapa sebenarnya Floyd itu.

Semua memori kehidupan terlintas di kepala Ash, Ia merasa semua ingatan tersebut adalah miliknya sendiri. Ia merasa bahwa jiwanya dan jiwa Floyd telah menjadi satu kesatuan.

Tanpa disadarinya semua kilasan ingatan tersebut sudah ternanam dalam benaknya. Setelah menjalani kehidupan yang terlintas, Dia pun sampai di sebuah ruangan hampa berwarna putih yang sangatlah luas sampai tak terlihat ada ujungnya.

Ash yang baru saja tiba langsung melihat sosok adiknya yang seharusnya sekarang sedang berada di medan tempur. Kini Floyd memandang wajah Ash dengan hampa.

"F-floyd..!" Ash segera berlari ke arah adiknya, langsung memeluknya dari depan.

"Maafkan.. Maafkan Aku..!!" Ash meneteskan air matanya, tetes demi tetes.

"Hahaha.. Ash Kamu tahu saat Kita pertama kali bertemu Kamu memeluk Ku seperti ini..?" Senyum Floyd selagi melepaskan lengan Ash yang di sekitarnya.

"Nah Ash.." Floyd memegang kedua pundak Ash.

"Ku serahkan semuanya kepada Mu ok..?" Floyd tersenyum dengan tulusnya, terukir sekali di wajahnya banyak makna dari senyuman itu.

"T-tunggu apa apaan sih Kamu..! " Ash membantahnya, Menghapus air mata yang ada di pipinya.

"Jangan membohongi dirimu sendiri.. Kamu tahu ini kenyataan..." Jawab Floyd dengan pelannya, namun tegas.

"Tch..." Ash menunduk dan hampir mengeluarkan air mata lagi, tapi Floyd mengatakan sesuatu sebelum Ash dapat menangis.

"Seorang kakak tidak boleh menangis... Kata tersebut sering Kau ucapkan saat dulu.." Perkataan Floyd membuat, Ash yang asalnya menunduk mengangkat kepalanya dan kini memandang wajah adiknya.

"Flo..." Ash memanggil nama panggilan adiknya.

"Oh iya Ash.. Aku sudah melindungimu jadi janjiku sudah beres ya..!" Floyd tertawa.

Ash yang murung tiba tiba tersenyum "Ya..! Tinggal giliran Ku untuk melampauimu..!".

Floyd tertawa, memutarkan tubuh Ash ke arah yang berlawanan lalu mendorongnya.

"Kalau begitu sana lampaui Aku...!" Floyd tersenyum lebar dari bekakang.

"Tapi..!! Aku ingin menetap lebih lama..!" Ash menoleh ke belakang, menyaut dengan lantang.

"Pergilah.. Mereka masih bertarung diluar sana..!" Floyd menunjuk kakaknya.

Ash memandang Floyd untuk terakhir kalinya, matanya berkaca kaca, Ia tersenyum dengan paksa lalau berkata "Aku duluan Floyd..!".

"Ya..!!" Floyd tersenyum lalu Ash berlari menuju jalan tanpa ujung tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Red Aura saga

Part 6 : The conclusion

Mata Ash yang selama ini terpejam saat pertempuran terjadi, akhirnya terbuka.

Dia melihat Floyd yang sudah kehilangan nyawa tepat di hadapannya, dengan tangan Floyd yang Ash sedang genggam perlahan Ia taruh di atas dada adiknya.

"Terima kasih... Selamat tinggal.." Ash melepaskan tangan Floyd lalu berdiri, menghadapkan diri ke medan pertempuran.

Ia berdiri tepat depan Habiki yang sedang menunduk pilu, menggendong Ender yang tak sadaran diri hingga sekarang.

Di depannya Dia melihat Light yang sudah sangat babak belur dan juga Austin yang bertarung di belakangnya dengan lebih sedikit luka.

Di hadapan mereka ada Nicholas yang tertawa sinis kepada Ash dengan luka yang sangatlah minimum.

"Oh tampaknya sang pahlawan sudah mendapatkan banyak tidur.. " Nicholas melirik Ash setelah menyadari keberadaannya.

"Ash..! Kamu sudah bangun ayo Kita lawan Dia bersama..!!' Austin membuka bukunya sekali lagi.

Ash berjalan melewati Austin, menghalangi jalannya, dan mengangkat tangan memberi tanda bahwa Dia tak perlu ikut campur.

"Red Aura.. Akan kubuktikan pada Floyd bahwa Aku bisa melampauinya.... Dan akan Ku bunuh.. Kamu..." Ash menatap hampa Nicholas. Mengeluarkan kayu kayu dari setiap sudutnya lalu menyelimutinya dengan api tanpa membakarnya.

"Wah luar biasa..!!!" Nicholas tersenyum sinis, sambil menunjuk ke arah Ash yang sedang memandanginya dengan dendam.

"Jangan sok keren Ash---" Austin membanting tangannya. Namun, "Biarkan Aku melawannya sendirian..." Austin yang berusaha membantu ditolak mentah mentah oleh perkataan Ash.

Ash menunjuk Nicholas dengan tangan kanannya, terlihat jelas dari gerakan badannya Ia sedang dipenuhi dengan benci. Menjentikan jarinya lalu banyak serpihan kayu yang terbang dengan kencang ke arah Nicholas. Serpihan tersebut berasal dari kayu yang sudah tumbuh di punggung Ash.

Nicholas berhasil menangkis serangan serangan asalnya, tapi lama kelamaan serangan Ash menjadi lebih cepat lagi membuatnya mulai kesusahan dan menerima banyak serangan.

"Cepatnya--" Sebelum Dia sadar, Ash sudah berada tepat di hadapannya dengan kayu kayu yang diselimuti api mengarah ke wajahnya.

Kayu Ash menyerangnya tanpa ampun dengan kecepatan tinggi. Nicholas tak bisa kabur, Dia hanya bisa menangkis sebisanya dengan tentakelnya.

Tanpa sepengetahuan Nicholas untuk kedua kalinya, salah satu kayu Ash Ia kubur ke dalam tanah, menggali ke belakang untuk melancarkan serangan kejutan.

Kayu itu keluar disaat Nicholas menangkis kayu yang di hadapannya. Namun Dia tak tertipu. Ia sadar akan itu dan menangkis kayu tersebut dengan salah satu tentakel yang tidak digunakan.

Tapi ternyata itulah jebakan Ash yang sebenarnya. Konsentrasinya terpAku pada satu kayu di belakangnya. Ash menaikan kecepatan serangan kayunya yang menyerang dari depan, menjadikan Nicholas lengah dan menerima banyak serangan fatal kepada seluruh bagian tubuhnya.

Nicholas yang kesulitan, terpaksa menahan kayu Ash dengan cara melilitkan tentakelnya di sekeliling kayu. Lalu mendorongnya mundur untuk membuat sebuah jeda untuk istirahat di tengah pertarungan.

Nicholas terlihat sangat kelahan, Dia mendapat banyak luka fatal. Memegang lengan kirinya dengan lengan kanan, karena mendapat luka terbanyak adalah lengan kirinya. Tapi setelah semua itu Nicholas tetap tersenyum, layaknya seorang orang gila.

"Lah kenapa Kamu tidak beregenerasi..?" Tanya Ash, Memandang rendah Nicholas, matanya melirik ke wajahnya dengan hina.

"Apa mungkin jika Kamu beregenerasi kecepatan.. Kekuatan.. Dan ukuran tentakel Mu berkurang..?" Ash memotong sebuah serpihan  kayu dari punggungnya lalu melemparkannya ke arah Nicholas, kayu tersebut melayang kencang dan cepat.

Dia tinggal menggerakan sedikit tubuhnya untuk menghindari serpihan kecil itu, tetapi saat serpihan kayu tersebut menancap pada tanah, kayu itu meledak mengeluarkan api membara dalam jangkauan yang besar.

Light, Austin, dan Habiki menutup matanya karena terkejut. Ledakan tersebut membuat asap muncul, menutupi pandangan dimana Nicholas berada.

"HAHAHA...! Pengguna dua elemen mendadak memang luar biasa..!!!" Dia tertawa dari dalam kabut asap itu.

Perlahan asap memudar menunjukan Nicholas dengan setengah luka lukanya pulih dan tentakelnya yang kini kembali memendek, jauh lebih pendek dan kecil dari sebelumnya.

"Mari Kita mulai serius demi adik Mu itu..." Nicholas mengangkat rambutnya dengan senyuman.

Nicholas menjulurkan lengan kanannya ke arah Ash, disaat yang bersamaan semua tentakelnya menghilang ditarik kembali.

Ash sudah menyangka bahwa itu adalah jebakan, namun Dia tetap saja berlari ke arah Nicholas dengan api yang memenuhi tangannya dan kayu yang melindungi punggungnya.

Nicholas yang menyadari serangan Ash, mengeluarkan satu tentakel panjang dari telapak tangannya. Ia melompat mudur dan mengayunkan tangannya supaya tentakelnya menyerang seperti cambuk.

Ash gagal menyerangnya, melompat dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri terus menerus untuk menghindari serangan tentakel tersebut.

Setelah beberapa serangan, tentakelnya menyerang Ash dari arah yang merepotkan membuat Ash tak mempunyai waktu untuk menghindar. Dia mencoba menangkisnya dengan kayu yang dikeluarkan secara mendadak, khusus untuk menahan.

Tapi sayangnya usaha Ash gagal. Tentakelnya menembus kayu Ash, langsung menyerang wajah Ash dengan kencang, membuatnya terpental jauh.

"Akan kukalahkan Kamu sepertiku kalahkan adik mu..!" Nicholas tersenyum, perlahan Dia menghampiri Ash.

Ash yang terbaring kesakitan perlahan bangkit dengan sekuat tenaga, memaksakan diri. Ia membukakan kedua tangannya lebar lebar.

Kayu kayu pun menutupi kedua lengannya dan membuat sayap kayu seperti kekuatan tersembunyi Floyd sebelumnya. Tapi yang berbeda adalah keadaan telapak tangannya yang tak tutupi sama sekali. 

Ash menyelimuti kayu kayunya tersebut dengan api yang membara tanpa membakarnya.

Ash memasang kuda kuda lalu menatap musuhnya dengan sangat murka.

"Menarik..." Nicholas memberikan sebuah senyuman. Perlahan Dia menarik kembali tentakel panjang yang ada di telapak tangannya lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan tentakel sisa untuk membuat pertahanan yang kokoh.

Ash berlari menuju Nicholas dengan kecepatan tinggi. Mengayunkan sayap kayunya nengakibatkan sebuah dorongan, dan menyiapkan tangannya dengan dipenuhi api di depan tubuhnya.

"Cepatnya..!" Dia terkejut, walau begitu tetap saja meremehkan Ash. Melihat, menyadari ayunan lengan api Ash dari kanan saat baru saja tiba di hadapannya. Tanpa waktu berpikir Ia segera menahan dengan lengannya yang telah dilapisi tentakel.

Walaupun lengannya sudah diperkuat oleh tentakelnya tetap saja Nicholas kesulitan menahan tekanan dan kekuatan dari lengannya tersebut.

"Tch..!" Nicholas mendorong pedang Ash sekuat tenaga, setelah pedangnya terlepas Dia berusaha meninju wajah Ash. Namun Ash dapat menahannya tepat waktu dengan sayap kayunya yang membengkok ke depan.

Nicholas kehabisan tenaga, meneteskan keringat. Tetapi Ash tak memberinya waktu untuk beristirahat, terus menerus menebasnya dengan lengannya yang berapi, kiri menuju kanan, atas menuju bawah.

Nicholas yang belum sepenuhnya pulih dari serangan serangan sebelumnya mulai kesulitan menghindar, akhirnya mulai menahan. Tapi pada akhir akhir serangan, saat Nicholas menahan dengan sebelah lengan, Ash membuat lengannya lebih panjang dan tajam dengan api. Membuatnya langsung menembus tentakel, memotong lengan kanan Nicholas.

"H-HAh hahah...!" Nicholas perlahan melirik menuju lengannya yang terjatuh di hadapannya, lalu memandang Ash yang masih saja menatap dengan dendam.

"Haha.." Dia tertawa kecil namun dengan sedikit ragu. Dirinya melompat ke belakang dan terus melompat, menjauh dari medan pertarungan. Namun Ash tetap mengejarnya, terbang menggunakan sayapnya.

"Bodohnya Aku..." Nicholas mengeluh dalam hati. "Kalau saja Aku tak terluka oleh orang pengguna kayu sebelumnya pasti Aku bisa dengan mudahnya mengalahkannya.." Ia tertawa sedikit.

"Aku akan kalah dari kedua makhluk bodoh ini..." Nicholas memandang Ash yang sudah ada di depan matanya siap menebas dan membunuhnya. Di sisi lain Nicholas tak mempunyai celah untuk kabur ataupun menghindar.

"Tunggu balas dendam ku..." Dia Tertawa, akhirnya Ash menebas Nicholas secara menyilang di udara, dibantu oleh tekanan dari api apinya. "AAGH..!!" Ash berteriak mengeluarkan seluruh yang kekuatan Dia punya.

Ash mendarat, bersamaan dengan Nicholas yang terjatuh dengan tubuh terpisah.

Dia berdiri memandang ke langit langit aula dengan kelelahan sambil perlahan menghilangkan kayu dan api api dari tubuhnya.

"Kita menang..." Raut wajah Light tidak bisa dijelaskan, dari antara sedih ataupun gembira. Dia sedang menjaga dekat dekat Habiki dan yang lainnya di belakang.

"Aku.. Tidak ingin membunuh..." Tangan Ash bergetar ketAkutan, Dia terbawa emosi dan tak sengaja membunuh Nicholas hanya untuk dendamnya.

"Maaf.." Light menunduk dari belakang.

Ash perlahan berjalan kepada Floyd yang terbaring tak bernyawa, melewati Light yang di depannya, lalu duduk di sebelahnya. Ash menyerahkan PD kepada Austin yang di sisinya.

Austin menerimanya, Dia menyenderkan Floyd kepada Ash lalu berdiri, tanpa berkata sepatah kata pun kepada Ash maupun kepada yang lainnya.

Austin memasang portal yang sudah disetel itu, untungnya Ia mengetahui cara memakainya. Habiki yang menggendong Ender masuk terlebih dahulu disusul oleh Light dan Austin di belakangnya, mereka semua tidak berbicara apa apa wajahnya terlalu murung dan sedih. Selagi portal masih terbuka Ash menopang, lalu berbicara kepada Floyd.

"Floyd.. Kita menang.." Ash memaksakan senyuman. Ia mengangkat lalu menggendong Floyd memasuki portal yang masih ada itu.

"Ah kalian..!!" Di sisi lain Magenta dengan semangatnya menyambut kedatangan Ender yang masih selamat digendong oleh Habiki disertai senyuman dari Koraya memandang mereka.

Austin yang baru saja tiba bersama Light menunduk dan tidak mau menjawab, samanya dengan habiki.

"A-apa..?! Ada apa..?!" Koraya mulai kebingungan, Dia memaksakan diri untuk berdiri walau sakit.

Sedangkan Cade memerhatikan mereka dari ujung ruangan, terlihat sedikit kesal.

Akhirnya, Ash keluar dari portal tersebut selagi menggendong Floyd di atas kedua tangannya dalam keadaan tak bernyawa.

"Floyd mengorbankan Dirinya untuk kita..." Suara Light bergetar, Dia masih saja menunduk.

"M-maafkan Aku..." Ox membukakan matanya lebar lebar terkejut.

"Ash..." Koraya memanggil dengan lembut. Sedangkan Magenta menunduk tanpa kata kata.

"Ah tidak.. Aku yakin pasti ini kematian yang Dia inginkan.." Ash merelakan adiknya, menoleh dan memberi senyuman kepada Ox.

Hari kepergian Floyd berlalu, kini sudah 4 hari sejak kejadian itu. Koraya belum juga pergi ke sekolah, karena lukanya masih dalam pemulihan. Hari ini, hari rabu Koraya memutuskan untuk tidak sekolah satu hari lagi untuk latihan. 

"Ah sudah lahh Aku capeekkk...!!" Keluh Koraya yang perlahan berbaring di lantai tempat latihan yang berada di dalam markas.

"Yah payah..! Kamu bolos sekolah cuman buat malas malasan gini..?" Ucap Ender meledeknya, menodongkan pedang ke arah Koraya.

"Ya engga lah..! Lagi pula Kamu sendiri yang maksa Aku bolos..! Padahal niatnya hari ini Aku sekolah karena kemarin sudah bolos.." Jawab Koraya, dengan kesal bangkit kembali.

"Huhh salah sendiri kemaren kemaren ga sekolah..." Ender memasukan pedangnya ke tempatnya yang ada di pinggir pinggang.

"Ya kan kemaren Aku masih belom pulih..! Kamu juga samanya padahal luka Mu lebih parah kok Kamu bisa sembuh secepat itu..!" Koraya menunjuk nunjuk Ender dengan kesal.

"Efek kutukan Ku mungkin..." Jawab Ender dengan kebingungan.

"Enaknya.." Ujar Koraya dalam hati sambil perlahan kembali berbaring di lantai. "Lagipulakan senin pemakamannya Floyd... Jadi otomatis Aku takkan sekolah.." Lanjut Koraya.

"Ya benar...." Ender yang sedang berjalan jalan tiba tiba mendengar panggilan dari luar ruangan tersebut.

"Woii kesini dulu..!!" Teriak Ox dari luar ruangan kepada Ender dan Koraya.

Koraya bangkit dan mereka berdua pun keluar dari ruangan tersebut. "Ada apa..?" Tanya Koraya kepada Ox yang ternyata sedang duduk di atas sofa.

Dengan Ox terlihat ada Magenta, Light, dan Habiki sedang duduk berkumpul di sofa. "Aku ingin membicarakan sesuatu.." Panggil Ox sekali lagi.

"Sebelum itu dimana Austin dan Ash...?" Tanya Koraya sambil menengok ke sekeliling ruangan.

"Austin sudah pergi sejak tadi pagi tak tahu kemana..." Jawab Magenta dengan lembut seperti biasanya.

"Kalau Ash Dia bilang kepadaku akan mengunjungi makam Floyd lagi..." Jawab Light, menjelaskan dengan gerakan tangan.

"Oh Ox.. Bagaimana proses depan rumah ku..?" Koraya bertanya dari kejauhan.

"Tenang.. Robot Ku sebentar lagi menyelesaikannya, mungkin besok selesai..".

"Ngomongin rumah.. Ini markas gimana bisa cepet dibenerinnya..?" Ender menengok kebingungan kepada Ox.

"Huh.. Ini markas yang berbeda.. Barang barang Kalian otomatis ditransferkan menuju pocket dimension cadangan Ku yang ini.. Anggap ini markas kedua, markas yang kemaren sekarang sedang diperbaiki.." Jelas Ox.

"Kalau begi--" Ox yang ingin bicara terhenti setelah mendengar teriakan dari arah pintu masuk tenda.

"KORAYAAA..!!" Teriakan tersebut adalah teriakan dua orang, dari seorang laki laki dan seorang perempuan.

Pada akhirnya dua orang tersebut memasuki tenda, belari ke arah Koraya.

"L-lucy..? Shoko..?" Koraya terkejut melihat mereka berdua.

Semua orang di dalam ruangan ikut kaget saat melihat mereka berdua. Lucy yang asalnya berlari untuk memeluk Koraya tapi sudah terdahului oleh Shoko yang memeluk Koraya sampai terjatuh.

"Kamu kemana aja..?! 2 minggu yang lalu Lo ga sekolah sakit, minggu sekarang juga..? Gw belum sempet menjenguk Kamu karena ekskul Ku maaf..!" Ucap Shoko dengan lantangnya menggunakan nada dan ekspresi yang sangat berlebihan.

"Lepass..!!!' Koraya melepaskan tangan Shoko dengan paksa.

"Lho mereka siapa..?" Shoko menengok nengok kebingungan.

"Ehemm..!!" Ox membuat suara sambil menunjuk dan memandang Lucy memberi sebuah kode untuk segera pergi ke arahnya.

"Hah Aku..?" Lucy menunjuk Dirinya sendiri lalu akhirnya berjalan ke arah Ox.

"Kamu tahu kan bahwa Kita OC nya Koraya..? Tolong keluarkan Dia sekarang dan jaga rahasia ya..!" Ox tampak kesal, Dia terenyum terpaksa.

"H-hah ya..!!" Lucy pergi ke arah Shoko lalu menarik bagian belakang kerah bajunya. "Koraya nanti Kita ngobrol lagi ya dadahh..!!" Lucy tersenyum selagi berjalan keluar tenda dan menyeret shoko keluar. Shoko terseret melambai lambai tangannya ke arah Koraya.

"Dah..?" Koraya tersenyum kebingunan, perlahan bangkit dan mengambil tempat duduk, samanya dengan Ender.

"Ok ok.. Jadii---"

"Ahh..! Lelahnya..!" Perkataan Ox terpotong sekali lagi karena Austin yang datang sambil melakukan perenggangan tangan.

Ox terlihat kesal dan yang lainnya pun tersenyum dengan ragu.

"Hah ada apa..?" Tanya Austin dengan polosnya.

"Tidak tidak... Kamu dari mana saja..?" Tanya Ox dengan sedikit menahan rasa kesal.

"Cuman mencari udara segar.." Austin berjalan dan mengambil spot kosong di sofa untuk duduk.

"EHEm..!! Jadi begini--" 

"Oii Aku pulang..!" Ucap Ash dengan cerianya datang memasuki tenda. 

Ash kali ini memakai pakaian yang berbeda. Syal merahnya tetap dipakai, namun kini Dia tidak lagi menggunakan jaket birunya melainkan kemeja hijau Floyd.

"Ash..!! Kamu tampak bahagia.." Tanya Ender, tersenyum bahagia karena melihat Ash yang juga sedang senang.

"Iya..! Aku tahu Floyd ingin Ku menetap ceria seperti biasa... " Ash menoleh ke arah Ox, melihatnya tersenyum dengan aura yang sangat dingin.

Ash memberi senyum ragu, lalu berjalan perlahan untuk menduduki spot sofa terakhir.

"Ini yang terakhir..! Aku bersumpah kalau ada lagi yang masuk dari pintu itu akan Ku lempar pot ini..!" Ox mengambil pot yang ada di tengah meja.

"Jadi--"

"Oi maafin ga datang ngasih tau Kalian tapi Gw kehabisan stok makanan bisakah kalian----"

*PLETENG* 

Sekali lagi Ox yang sedang bicara diganggu oleh orang kali ini Cade yang datang menanyakan makanan. Ox pun langsung melemparkan pot bunga ke dinding di sebelah pintu masuk yang nyaris mengenai kepala Cade.

"ADA MASALAH Mu HAH..?!" Cade berteriak dengan kesal.

Ox yang masih kesal mencoba mendinginkan diri. "Ambil saja sana ke dapur..." Ox menunjuk ke dapur tanpa memandang wajah Cade dan Dia pun akhirnya masuk untuk mengambil makan.

"Nah sudah sudah.. Semua orang yang Kita kenal sudah masuk..." Ucap Ox setelah menghela nafas panjang.

"Jadi--"

"Terimakasih..!" Cade berjalan keluar dari tenda.

"SAMA SAMA..!" Jawab Ox dengan nada yang tinggi membuatnya terlihat sangat kesal. "Heee..." Semua orang tersenyum ragu.

"JADI BEGINI..! Ehem.. Semua anggota team sudah terkumpul dan bagaimana dengan nama team kita..?!" Tanya Ox kepada semua team Koraya yang sudah berkumpul

"Oh oh..! Bagaimana dengan Ash and gang..?!'  Ash berdiri semangat, dengan mata yang bersinar sinar.

"Ash and gang mata mu..!!" Jawab Ender dengan kesal.

"Hmmm.." Semuanya berpikir keras.

"Oh bagaimana dengan Dimension Shield..?! Kita akan melindungi dimensi kan? jadi ini saran ku." Saut Habiki memberi saran pertama yang serius.

"Bagus juga.. Ada yang lain..? Ok ya sudah..." Ox menutup kasus karena tak ada lagi yang menjawab, namanya sudah ditentukan.

"Ini adalah awal yang baru untuk Dimension Shield.." Senyum Ox.

"Sekarang apa..?" Tanya Ash, melirik ke arah Koraya.

Koraya melirik balik lalu berkata, "Kita hentikan.. Para anggota poison yang tersisa....".

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FIN?

 

 

Sneak Peak

“Ah.. Luar biasa... Baru pertama kali Aku melihat seorang anak yang mampu mengalahkan seorang monster bikinannya sendiri sebelum membangkitkan kekuatan mereka..." Seseorang tampak berbicara dengan suara pria, namun tanpa wujud.

"Lalu apa yang harus Kami lakukan...?" Tanya seorang pria dengan topeng bertuliskan A. Bersamanya adalah seorang pria yang memakai topeng yang serupa bertuliskan B.

"Pertama.. Aku akan suruh Dr Cooper mencari orang untuk menyerang mereka,... Kemudian Kalian akan membuat sebuah kerusuhan yang membuatnya bertemu dengan Ku..." Ia melanjutkan omongannya.

"Setelah itu Kalian berdua jangan dulu maju... Aku akan menyuruh Parasyte maju terlebih dahulu... Jika Dia gagal membangkitkan kekuatannya Kalian berdua akan maju untuk mengalihkan perhatiannya.." Dia terus berbicara. 

"Terakhir.. Akan Ku tes kemampuannya sendiri, Kita tes apa dia mempunyai kekuatan untuk melawan musuh Kita nanti...".

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bonus scene

*Tok tok* Suara ketukan pintu terdengar oleh Ox pada malam hari saat Dia sedang membuat lengan untuk Habiki di malam saat Floyd melawan Virus.

"Oi apa..?!" Tanya Ox saat membuka pintu kamarnya dan Dia pun melihat Light yang diam diam mengetuk pintunya.

"Gini gini.. Besok Aku ingin membuatkan sarapan untuk Kalian semua... Tempat masaknya dimana ya...?" Tanya Light perlahan.

Ox keluar dari kamarnya lalu menunjuk dapur "Nah di sana...".

"Ok terima kasih..!' Jawab Light.

Ox menutup pintunya lalu melanjutkan pekerjaannya. Tapi tak lama kemudian.

*Tok tok* .

Ox membukakan pintunya lagi "Apa lagii...?" Tanya Ox yang sangat mengantuk.

"Arangnya dimana ya..?" Tanya Light.

"Hah...." Seketika keadaan menjadi sunyi untuk beberapa detik.

"Oh iya Dia dari jaman kerajaan...." Sebut Ox dalam hati.

"Kita pake gas..." Jawab Ox.

"Ohhh..." Keadaan pun menjadi sunyi kembali untuk beberapa detik. 

"Apa itu gas..?" Tanya Light dengan polosnya.

"Haduhh.." Ox berjalan keluar ruangannya menuju dapur diikuti Light dari belakang...

"Jadi gini... Kamu tinggal mengambil panci.." Ox mengambil panci. "Lalu meletakannya di atas kompor..." Ia meletakannya di atas kompor.

"Sesudah itu untuk menyalakan api Kamu tinggal memutar tombol ini... Mengerti..?" Ucap Ox setelah menerangkannya kepada Light.

"Oh ya ya..!!" Jawab Light.

"Ya sudah Aku duluan..." Ox kembali pergi ke kamarnya untuk menyelesaikan lengan Habiki tetapi tak lama kemudian.

*Tok tok*

"Apa lagi sihh..?!" Ox membukakan pintunya dengan kesal.

"Apinya emang sebesar itu kah..?" Tanya Light kepada Ox sambil menunjuk kompor yang mengeluarkan api sangat besar sampai ke atap atap, membakar panci yang di atasnya juga.

"YA AMPUN..!!" Ox berlari mengambil air untuk memadamkan api tersebut.

"Selamat pagii..!!" Teriak Ash dengan semangat. Dia melihat ke langit langit dapur dan melihat sebuah tanda gosong besar berwarna hitam.

"Lho itu apa..?".


 

 

 

No comments:

Post a Comment

Kotak Adhikari Asmara

  Bagian 1               “Halo? Apa ada orangkah di sini?”             Aku coba melangkah lebih dekat ke arah pohon itu. Pohon yang cu...