Saturday, September 19, 2020

glow in the dark

Genre:fiksi

Judul:

Shei seorang wanita yang tengah mencari sumber kebahagiaannya dan senyumnya yang telah hilang selama bertahun-tahun.

  Shei ingin memiliki sebuah kehidupan yang bisa membuatnya bahagia seperti manusia pada umumnya namun takdir berkata lain.

  Sampai ia menemukan sumber kebahagiaannya sendiri dengan caranya sendiri

  1.awal kisah

 Agtha Sheila,gadis kecil yang harus menghadapi permasalahan keluarganya,yang melihat dan mendengar secara langsung perdebatan dan pertengkaran orang tuanya,tidak cukup hanya itu dia harus berpisah dengan sang kakak yang menjadi sumber kekuatannya selama ini

 2.pertemuan dan kehilangan

 Shei yang sudah cukup dewasa memilih untuk tinggal bersama sang ayah,dengan tujuan bertemu sang kakak,namun takdir memisahkannya dengan sosok yang menjadi alasannya untuk tinggal dengan sang ayah

  3.raja Abraham

  Di saat berada di titik paling bawah dalam hidupnya,tuhan mengirimkan sosok pelindung untuknya,mungkin ini imbalannya karna ia telah merelakan kepergian sang kakak

  4. Pohon kehidupan

 Shei menemukan kebahagiaannya,ia pergi untuk menemui sang kakak di sisi tuhannya

                     

1.awal kisah

Ini kisahku,aku tak tahu apa ini bisa di sebut dengan kisah atau bukan,tapi setidaknya ini layak untukku bagi dengan kalian,sebuah jeritan hati yang tidak seorangpun bisa mendengarnya,sebuah keinginan untuk menjadi lebih baik tapi tak ada yang mendukungnya,ini tentang seorang wanita yang hatinya telah di patahkan berkali kali,seorang wanita yang lupa dengan sebuah kata 'kebahagian' bahkan cara untuk tersenyum tanpa menyembunyikan apapapun ia tak tau,seseorang yang sangat pintar bermain peran, menyembunyikan semua rasa sakit dan kecewanya hanya dengan sebuah lengkungan atau bahkan gelak tawa yang nyaring,tapi apakah kalian menyadari apa yang sebenarnya terjadi?.

  Malam itu,suara teriakan bergema di seisi rumah,suara tangis bocah bocah kecil itu kian nyaring,tak ada yang bisa mereka lakukan selain mendengarkan secara langsung orang tuanya bertengkar dan saling mengeluarkan sumpah serapah tersebut.

   Tangan mungil itu memelukku seraya berkata "gapapa kok dek,mami sama papi cuman lagi ngobrol doang kok",ia berkata seakan akan memberi ketenangan pada adiknya yang sedang menangis,kata katanya memang menguatkan adiknya tapi lihat sorot matanya,ia benar benar ketakutan,tangannya bergetar hebat tapi dengan sisa tenaganya ia menguatkan sang adik.

   Suara keras itu akhirnya redup,entah pergi kemana.kedua anak itu mulai reda dari tangisnya."kak,mami sama papi pasti udah maafan,ayo samperin kak!"seru bocah perempuan itu sambil menarik tangan sang kakak,langkah kecil mereka semakin cepat seiring dengan anak tangga yang mereka naiki,tak peduli dengan keadaan sekitar yang benar benar berantakan.kaca kaca pecah berserakan di lantai tak menggentarkan mereka untuk tetap menemui kedua orang tuanya.hingga kedua bocah kecil itu menemukan pintu tujuannya,tangan kecil bocah perempuan itu akan menggapai daun pintu kamar kedua orang tuanya tapi tiba tiba sang kakak menariknya sambil berkata "tunggu dek,biar kakak aja yang buka" gerak tangannya menarik sang adik untuk mundur perlahan,ia tak mau jika orang tuanya ternyata masih berdebat di dalam sana dengan melempar lemparkan barang seperti yang sudah terjadi seblumnya lalu mengenai adik kesayangannya.

   Dibukanya pintu itu dengan perlahan,sorot matanya menyapu seluruh ruangan tersebut dan berhenti ketika menemukan sosok sang ibu yang tengah mengeluarkan semua pakaiannya dengan tergesa gesa.ia tak mengerti mengapa sang ibu mengeluarkan semua bajunya dari dalam lemarinya,lalu untuk apa tas besar itu?pikir bocah laki laki itu,sang adik yang melihat itu dari balik bahu kakaknyapun terheran heran "kak,mami ngapain ngeluarin baju bajunya?" Bisik sang adik tepat di dekat kuping sang kakak."mungkin baju yang mau di laundry dek" ucapnya,tapi ia berfikir apakah semua baju sang ibu akan di cuci nya? kenapa? Pikirnya.

Shean,nama anak laki laki itu,isi kepalanya sedang bertengkar hebat dengan isi hatinya,rasa penasaran kian menjadi saat tangan sang ibu kian cepat memasukan baju bajunya ke dalam tas besar di sampingnya,tanpa berniat melanjutkan langkahnya.anak itu masih menatap heran ke arah sang ibu yang tak menyadari keadaan dua bocah tersebut.lamunannya buyar ketika sang adik menepuk bahunya."kak,kok bajunya mami di laundry semuanya sih?nanti mami pake baju apa kalo bajunya di laundry semua".

  Isi kepalanya kian menjadi,dengan segenap keberanian yang ia miliki ia langkahkan kakinya ke depan,menelusuri kamar orang tuanya yang cukup luas namun keadaanya sangat berantakan.tak mau di tinggal oleh sang kakak,shei si adik kecil nya mulai mengikuti langkah kaki kakaknya dan mulai mensejajarkan langkahnya dengan sang kakak.

   Dengan suara yang bergetar shean melontarkan pertanyaannya kepada sang ibu,"mi,mami mau kemana kok bajunya di masukin semua?",lama tak mendengar jawaban sang ibu,shei si adik kecil menanyakan kembali hal yang sama kepada ibunya.

Wanita itu maria,wanita muda yang memiliki kulit putih,rahang tegas dan wajah yang sangat tenang,ia adalah ibu dari dua bocah kecil di hadapannya, perlahan lahan ia mulai mengangkat kepalanya,memberanikan diri menatap anak anaknya,matanya sembab,terlihat jelas wanita itu telah menangis,"mami harus pergi" hanya itu yang ia katakan namun mampu membuat air muka kedua bocah itu berubah seketika,"mami mau kemana?kita ikutkan mi?papi juga ikutkan mi?"tanya shei bertubi-tubi,"mami harus pulang ke rumah Oma kalian,shei kamu sekarang pergi ke kamar kamu,beresin semua barang barang kamu"perintah sang ibu,"kak shean ayo!" Seru shei yang tengah kegirangan karena perintah orang tuanya tersebut.

  Langkah kecil mereka baru saya di ayunkan beberapa pijakan,terdengar suaranya pintu terbuka.respek kedua bocah tersebut langsung melihat ke arah pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut,dari sana keluar sosok sang ayah yang tidak kalah berantakannya dari sang ibu,dengan rahang yang mengeras,tangannya yang mengepal kuat dan sorot mata yang tajam sang ayah menatap ke arah ibunya,seakan akan mengibarkan bendera peperangan kembali.

    Suara Maria memecahkan keheningan yang terjadi beberapa saat tersebut,"shei cepet beresin barang barang kamu" shei yang melihat perubahan wajah sang ibu yang jadi terlihat marah langsung menarik lengan kakak nya sambil berkata "ayo kak!","shean kamu berhenti di situ,kamu tetep tinggal sama papi biar shei yang ikut sama wanita murahan ini" ujar sang ayah sambil menatap ibu mereka dengan tatapan seakan akan ingin membunuhnya."tapi pih,kak shean juga harus ikut sama shei!"seru bocah itu dengan segala ke kukuhannya,ia tak mau berpisah dengan sang kakak yang bisa di sebut teman satu satunya.

  "Shean kamu pilih,kamu yang ikut papi atau shei yang ikut papi?" Tegas sang ayah,shean yang mendengar hal itu langsung membeku,tak tahu apa yang harus ia lakukan,bahkan untuk berkatapun ia tak tahu harus berkata apa,ia tak mau berpisah dengan sang adik.'tuhan bisa kah aku tidak memilih,aku ingin tetap bersama dengan adikku' jerit shean dalam hatinya,setelah hening beberapa saat akhirnya sang ayah memecahkan kembali keheningan tersebut "shei kamu yang ikut wanita murahan ini,setidaknya aku tidak usah melihat wajahmu yang mirip dengan wanita murahan itu"

   Shei yang mendengar sang ayah berbicara dengan suara yang sangat tinggi langsung menguatkan genggaman tangannya kepada sang kakak.kasian bocah kecil itu,dia tak mengerti ada permasalahan apa di antara kedua orang tuanya sampai sampai ia harus berpisah dengan sang kakak."cepet shei!" Teriak sang ibu,shei yang masih kekeuh dengan keinginannya untuk tidak berpisah dengan sang kakak langsung membantah perintah sang ibu "ga mau!shei ga mau pisah sama kak shean,kalo kak shean ga ikut shei juga ga mau ikut mami'.

Mendengar hal itu Bram sang ayah langsung menarik tangan mungil shei,menyeretnya tanpa belas kasih,membawanya ke arah pintu keluar.shean yang melihat adiknya diperlakukan seperti itu langsung berupaya mengejar langkah besar sang ayah sambil berteriak berharap sang ayah mau melepaskan cengkraman nya pada tangan sang adik.namun nihil,sang ayah sekan menutup telinganya rapat rapat,tak mengelak bahkan menggubris permintaan shean.

  Dengan penuh harap shean memutar kepalanya ke arah sang ibu,berharap sang ibu mau membantunya untuk memohon kepada sang ayah untuk melepaskan cengkraman tangannya dari tangan sang adik.seolah olah tak melihat apa apa sang ibu hanya memberikan tatapan kosongnya kepada shean."pih,shean mohon lepasin tangannya shei" ujarnya sambil terus mengejar langkah besar sang ayah,sampai tibalah di penghujung pintu,sang ayah memutarkan kepalanya,menatap shean dalam dalam,sambil berkata "mulai sekarang dia bukan mami mu lagi,dan anak ini bukan adikmu lagi" sambil menunjuk sang ibu dan sang adik bergantian.

   Tangis shei yang di sebabkan cengkraman sang ayah mulai keluar,ia yang sedari tadi mencoba untuk tidak menangis dan menahan rasa sakit akibat cengkraman sang ayah."pi,s-ssakit pi" ujarnya sambil berharap iba dari sang ayah.namun nihil,cengkraman sang ayah malah semakin menjadi,menyeretnya tanpa iba hingga berhenti tepat di depan pintu kayu.dibukanya dengan paksa pintu tersebut lalu didorong nya shei kedalam ruangan tersebut "kalo kamu lama beresin barang barang kamu papi ga segan segan buat berlaku kasar lebih dari tadi'".

Shean yang melihat perlakuan sang ayah yang tidak manusiawi langsung meneriaki ayahnya "papi jahat,shei ga masih kecil Pi,tapi papi malah nyakitin dia,papi jahat!" Serunya sambil memukuli sang ayah dengan membabi buta tanpa menghentikan tangisnya yang kian menjadi.Sang ayah yang di pukuli oleh lengan mungil shean hanya terdiam seolah olah tidak terjadi apa apa.dilihatnya ke dalam kamar si kecil shei yang masih menangis sesegukan dengan kaki yang di tekuk dan lengan yang memeluk lututnya membuat amarahnya kian memuncak.

Dipukul nya pintu kayu tersebut dengan kasar yang sontak membuat shei dan shean terkejut."papi bilang cepet beresin barang barang kamu.kamu denger ga apa yang papi omongin?dasar anak bodoh" makinya dengan lantang.

Dengan kaki yang gemetar shei mulai membuka pintu lemarinya,memasuka satu demi satu baju yang ia miliki kedalam sebuah koper yang terletak di pinggir lemarinya,tangis yang tak kunjung reda,dengan tangan yang memar akibat cengkraman sang ayah shei berusaha untuk tidak mengeluarkan desak tangisnya,ia berusaha terlihat tegar di depan sang kakak.shean yang merasa tak ingin sang adik pergi meninggalkannya mencoba untuk masuk ke dalam kamar sang adik untuk mencegah sang adik pergi namun nihil,badan gagah sang ayah menghalangin aksesnya untuk masuk ke dalam kamar sang adik,hanya tangis dan tatapan nanar yang bisa ia berikan kepada sang adik.setelah semua pakaiannya ia masukan sang ayah tak segan segan langsung menariknya laluenyeretnya menuruni anak tangga,langkahnya yang kecil tak dapat mengimbangi langkah sang ayah,alhasil badannya terseret oleh langkah sang ayah.

Shean yang mengikuti langkah cepat sang ayah dan mencoba memukul mukul punggung sang ayah berharap cengkraman sang ayah dapat lepas dari tangan mungil adik kecil nya itu.jeritan demi jeritan shean keluarkan agar sang ayah menggubris kata katanya tetap di abaikan oleh sang ayah

Hingga tiba di penghujung tangga shean menemukan sosok sang ibu dengan sebuah koper besar di sampingnya dan sebuah tas besar digenggamannya.wajah tenang sang ibu berubah menjadi tak berekspresi,menatap putri kecilnya yang menangis dalam diam.diraihnya lengan kecil sang putri yang dengan lembut,menarik nya dengan perlahan lalu menyembunyikannya di belakan badannya.tubuh kecil shei yang hanya setinggi paha sang ibu membuatnya tertutup oleh kaki jenjang sang ibu.

Maria menatap ke arah shean,mengusap rambutnya sambil berkata "kakak jangan nakal ya,mami sama shei pergi dulu" diiringi dengan lengkung senyum yang menghiasi wajah tenangnya itu,di raihnya tangan sang putri lalu berkata "ayo shei,pegang kopernya kita pergi" sambil menarik gandengan sang anak untuk pergi dari dalam rumah tersebut.

Shean yang melihat sang adik membalikan kepalanya dan menatapnya seolah meminta pertolongan pun berusaha untuk mengejarnya,namun lengannya di cekal oleh sang ayah "biarin dua wanita murahan itu pergi dari rumah ini,kita ga butuh mereka,mereka hanya sampah,dan mulai saat ini kamu tidak punya mami,anggap saja mamimu sudah meninggal",tangisnya kian menjadi mendengar kedua sosok wanita kesanga nya direndahkan seperti itu

Pandangan membenci di berikannya kepada sang ayah,dalam dirinya ia berjanji akan mencari kedua wanitanya yang hilang itu,ia bertekad akan untuk menemukan kedua wanitanya di manapun mereka berada.shean melepaskan cengkraman sang ayah dengan brutal,lalu segera berlari ke dalam kamar adik nya,mengunci dirinya di dalam kamar tersebut sambil terus berdoa agar sang adik dan sang ibu cepat kembali.

                              ..........                                      Di luar rumah matahari menyembunyikan sinarnya,membalut dirinya dengan awan.mungkin sebentar lagi akan turun hujan pikir shei,langkanya terus mengikuti langkah sang ibu sedari menuruni taxi tadi,ia tak tahu di mana ia sekarang,yang ia tahu ini adalah sebuah stasiun kereta api di kotanya, matanya yang sembab melirik ke kanan dan kiri berharap bisa mengetahui di mana keberadaannya sekarang.matanya menangkap sesosok anak kecil yang tengah memilin ujung baju yang ia kenakan, ingatannya kembali kepada shean sang kakak yang juga memiliki kebiasaan serupa,ah tapi sudahlah semuanya hanya membuatnya semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi kepada keluarga kecilnya.

Shei memutuskan untuk menundukkan wajahnya,lalu berusaha mencerna apa yang terjadi kepada keluarganya namun usianya yang baru menginjak 6 tahun tidak bisa mencerna apa apa,yang ia tau hanya ibu dan ayahnya yang bertengkar lalu memutuskan untuk memisahkannya dengan sang kakak dan notabenenya adalah satu satunya teman bermain untuknya.

Brukkk~

Shei menabrak kaki sang ibu yang berjalan di depannya,ia menggondakan kepalanya lalu menatap sang ibu sambil bertanya "kok berhenti mi?kita udah sampe di urah oma?".kerutan tercipta di dahi munggilnya,matanya yang sembab bertanya tanya kenapa ibu nya tak kunjung menjawab pertanyaannya?ada apa dengan ibunya?kenapa ibunya tiba tiba menjadi pendiam seperti ini?

Matanya menyapu seisis stasiun,keadaan yang ramai membuat badannya yang kecil membuatnya tersenggol oleh orang orang yang berlalu-lalang,dengan sisa tenaga yang ia punya shei memegang kuat kopernya yang tidak begitu besar,namun untuk ukurannya itu sangat besar dengan kuat agar tidak terjatuh atau tergeser oleh orang yang sedang berlalu-lalang.

"Mami pergi beli tiket,kamu diem di sini sebentar" ucap sang ibu sambil membalikan badan dan meninggalkannya bersama sebuah koper dan tas besar milik ibunya tersebut.matanya mungilnya memerhatikan orang orang yang tengah berjalan kesana kemari yang di balas anggukan kecil olehnya.Dari sebrang sana ia melihat seorang wanita tua yang sudah renta tengah memperhatikannya,lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum simpul ke arahnya.

Arah pandangannya langsung ia alihkan ke objek lain,sebab ia tak tahu harus membalasnya apa,biasanya jika ada seseorang yang menyapanya atau hanya menebarkan senyum sang kakak yang akan membalas sapaannya atau senyumannya itu,tapi sekarang ia harus berpisah dengan kakaknya,ntah sebabnya apa.mungkin jika ia sudah dewasa ia akan memahaminya pikirnya.

Kaki jenjang sang ibu kembali terlihat oleh ujung matanya,ia itu maminya sudah kembali dengan dua buah tiket di tangannya.lihat betapa cantiknya sang ibu berjalan bak model di atas catwalk,matanya terpena kepada wajah tenang sang ibu,hingga tiba tiba "shei pegang kopernya,pegang cardigan mami kuat kuat" perintah sang ibu,dengan segera ia menggerakkan tangan kirinya untuk memegang erat cardigan sang ibu dan tangan kanannya yang memegang kopernya.

Tak lama orang orang mulai berkumpul di sekelilingnya,mengerumuninya.tubuhnya yang kecil tak terlihat bagaikan sebuah kerikil yang di lemparkan ke dalam laut.shei makin menguatkan genggaman tangannya kepada sang ibu,tubuh mungilnya terhimpit oleh kaki kaki orang yang ada di sekitarnya.terdengan suara gemuruh rel yang tergesek sebuah besi,matanya menangkap sebuah kereta api yang tengah melaju ke arahnya dan memberhentikan sebuah gerbong di hadapannya,orang orang kian mendesak tubuhnya tapi karena langkah sang ibu yang otomatis menarik tangannya tersebut ia berhasil masuk ke dalam kereta.

Masih dengan genggamannya pada cardigan sang ibu,ia menelusuri lorong kereta tersebut.mungkin ibunya tengah mencari kursi untuk mereka duduk pikirnya,sampai pada kursi di ujung gerbong,ibunya masuk ke dalam kursi kursi tersebut,dengan sigap shei mengitu ibunya untuk masuk ke dalam celah yang ada akibat dua kursi tersebut,dia menarik kopernya tapi lengan sang ibu menahannya, menutup kebawah gagang kopernya lalu mengangkat nya dan memasukannya ke dalam celah yang ada di atas mereka,hal itu ia lakukan dengan kopernya dan juga tas besarnya.

Ibunya menariknya pelan dan mengisyaratkan nya untuk duduk di terlebih dahulu,shei memutuskan untuk duduk di dekat jendela,ia ingin melihat pemandangan dari dalam kereta pikirnya,namun hasilnya nihil,ia teringat kembali kepada sosok sang kakak yang berada di rumahnya,sekarang kakaknya ini pasti sedang menangisinya,sejak lahir mereka memang tak pernah di pisahkan lama,mungkin mereka berpisah ketika sang kakak pergi untuk sekolah saja.

Suara nyaring itu terdengar di telinga shei,ia bertanya tanya suara apa itu? seperti suara peluit yang dialunkan namun apakah benar itu suara peluit?.ia ingin sekali bertanya pada sang ibu,suara aneh apa itu, tapi melihat wajah sang ibu yang tengah tenggelam di dalam pikirannya ia mengundurkan niatnya.tak mau berpikir panjang ia beranggapan bahwa itu memang suara peluit yang mungkin di mainkan oleh seseorang di gerbong depan sana.

Tak lama terdengar suara berdecit nyaring,suara apa lagi itu pikirnya.diiringi dengan suara itu gerbong yang ia naiki melaju dengan perlahan.pikirannya kembali pada sang kakak,apakah benar kali ini ia akan meninggalkan sang kakak,tanyanya dalam hati.ia ingin melompat keluar dari dalam kereta ini namun melihat kondisi sang ibu ia mengurungkan niatnya.ibunya sedang bersedih,mungkin karna pertengkaran nya dengan sang ayah.apa yang harus ia lakukan agar ibunya kembali seperti semula? menghiburnya? ah bagaimana caranya?ia tak pandai menghibur,jika saja di sampingnya ada sang kakak ia sudah pasti akan meminta bantuan sang kakak untuk membangunnya menghibur sang ibu kembali.

Shei memutuskan untuk mengalihkan pandangannya ke jendela,hanya pepohonan dan yang dapat ia lihat sekarang,ia merebahkan punggung mungilnya di kursi kereta,berharap kantuknya segera datang.sambil terus menghayal bahwa saat ia sampai di rumah sang nenek kakak laki-laki nya itu ada di sana,berharap semua ini hanya tipu daya orang tuanya saja.Dua tangan munggil itu saling berpautan,seolah olah lengan kanan memberi sedikit kekuatan pada lengan kirinya yang sedikit lebam akibat cengkraman sang ayah yang amat kuat.

Ia benar benar bosan,apa yang harus ia lakukan sekarang,kenapa kantuknya tak kunjung datang?,badannya lelah,matanya yang sembab membutuhkan istirahat,tapi dengan menyebalkannya kantuknya tak datang datang.

Matanya menengok kembali pada sang ibu yang ternyata sudah terlelap dalam mimpinya.mungkin ini saatnya untuk dia memberikan istirahat walau hanya memejamkan matanya, perlahan-lahan mata kecil yang semmbab itu menutup,tapi sebenarnya ia tak tertidur, telinganya masih dengan jelas mendengar laju nya kereta yang ia naiki,tapi tak apa mungkin dengan lama lama ia menutup matanya ia akan tertidur.


No comments:

Post a Comment

Kotak Adhikari Asmara

  Bagian 1               “Halo? Apa ada orangkah di sini?”             Aku coba melangkah lebih dekat ke arah pohon itu. Pohon yang cu...